←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 19 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 19
Setelah mobil berjalan meninggalkan kampusnya, Hilda minta diantar ke Mal. Katanya pengen makan siang dan mau nyari baju. "Hilda, mulai besok kamu kalau ke kampus atau kemana-mana biar diantar sama Dino, sekalian jagain kamu. Anak mamih kan cantik, takut nanti ada yang jahatin kamu," kata Ci Vero. "Terserah mamih saja. Alex juga sudah jagain aku dan dia jago karate, Mih. Aku lebih nyaman kalau jalan bareng dia. Memang supir mamih bisa berantem?" jawabnya sambil melihat ke arahku dari spion tengah dan di saat bersamaan aku lagi melihatnya. Hmm... aku rasa ini tugas yang sangat sulit, tanpa bantuan dari Ci Vero. Kataku dalam hati. Setelah sampai di parkiran aku pikir mereka saja yang masuk dan aku menunggu di mobil. Tetapi Ci Jeny memintaku untuk ikut ke dalam. Pada saat jalan ke dalam, Ci Jeny sempat menggandeng tanganku. "Sejak kapan Ii punya supir istimewa, sampai segitunya?" kata Hilda sambil melihat ke arahku dan Ci Jeny. "Itu dia sayang. Mamih sama Ii percayakan Dino buat jagain kamu, karena sudah tiga kali Dino selamatkan kita dari preman, bahkan hampir memperkosa kita. Makanya mamih sama Ii sangat dekat sama Dino," sahut Ci Vero. "Ohhh..." jawab Hilda singkat sambil melihat ke arahku. Aku sebenarnya merasa ga enak dan berusaha melepaskannya, tetapi Ci Jeny malahan menggenggam erat sambil bilang ke aku, "Biarin saja, Din. Kamu ga mau aku gandeng, takut ketemu cewek kamu?" sambil melotot dan cemberut. "Hemm... mulai lagi ya," kataku pelan sambil tersenyum ke arah Ci Jeny. Begitu sampai di restoran aku sengaja ambil meja sendiri, tidak gabung dengan mereka, untuk menjaga jarak supaya tidak menimbulkan rasa curiga Hilda. Tetapi ada sesuatu yang bikin aku, Ci Vero, maupun Ci Jeny kaget, karena tiba-tiba Hilda nyamperin aku. "A Dino, ayolah jangan duduk disitu sendiri, gabung disana biar seru," katanya sambil tersenyum. Tetapi aku lihat dari sorot matanya ada sesuatu yang dipaksakan dan sesuatu yang disembunyikan. Hmm, boleh juga kalau Hilda mau coba bermain, aku akan ikutin sampai di mana. "Ohh iya Non, ga enak saya makan semeja sama nyonya bos juga non Hilda," kataku. Aku sengaja duduk di samping Hilda dan Ci Jeny. Sambil makan kita membicarakan rencana nanti ke Malang. Di sinilah awal Hilda mulai mau isengin aku. Saat dia berdiri, dengan gerakan sengaja Hilda menyenggol gelas yang berisi minumannya supaya tumpah ke arahku. Dengan gerakan sedikit menggeser bangku yang aku duduki, minuman yang tumpah dapat aku hindari. "Ups, sory," katanya sambil melihat ke arahku. "Ga apa-apa non, kan ga kena saya," kataku sambil duduk lagi. "Kamu ga kena kan, Din?" tanya Ci Vero. "Ga ko, Ci. Untung aja gelasnya naikin jatuhnya," kataku sambil tersenyum sambil melihat ke Hilda. "Neh Din, pakai tisu kalau kena cipratan," kata Ci Jeny sambil menyodorkan tisu. Aku lihat Hilda ga ada reksi apa-apa, cuma dia sedikit bingung melihat perhatian Ci Jeny dan mamihnya sama aku. Setelah selesai makan aku ikutin mereka untuk nemenin Hilda belanja. "Din, kamu harus sabar ngadepin Hilda. Aku lihat tadi disengaja, untung saja kamu cepat menghindar," kata Ci Jeny. "Iya, siap bosku yang cantik," kataku menggoda. "Awas ya, nanti kedengaran Hilda," katanya sambil mencubit. "Besok kan kamu pagi antar Hilda. Kalau sudah beres kasih tau aku ya, Din. Aku mau ajak kamu jalan," kata Ci Jeny. "Kemana, Ci?" tanyaku. "Pakai nanya, antar saja ga usah bawel," katanya dibikin-bikin marah dan akhirnya malah tertawa. "Hahaha, sekarang ga pantas marah sama saya, karena besaran rasa...nya daripada marahnya," jawabku. "Apaan itu...nya ko ga disebutkan. Ayo kasih tau, ga?" kata Ci Jeny. "Pertanyaan saya itu cuma enci yang tau jawabannya," kataku. "Iya, iya, aku sekarang ga bisa marah sama kamu, karena ga tau aku merasakan butuh kamu. Pastinya aku semakin sayang sama kamu, Din," katanya sambil mencoba menyenderkan kepalanya di lenganku. Aku segera kasih kode ke enci karena dari dalam toko Hilda sedang melihat ke arahku. "Aduhh, aku sampai kebawa perasaan kan. Untung kamu ingatkan, Din," kata Ci Jeny. Setelah yang dicari didapatkan, aku antar Hilda pulang kerumah sama Ci Vero dan aku balik ke kantor berdua sama Ci Jeny. "Gimana menurut kamu Din, si Hilda?" tanya Ci Jeny. "Hemm, cantik, energik," jawabku singkat. "Bukan itu maksudnya Dino. Awas ya kalau kamu macem-macem sama dia," kata Ci Jeny sembari cemberut. "Hahaha, ada yang cemburu," kataku menggoda. "Ihh kamu ngeselin ya. Awas, aku kasih ini biar kamu ga genit," kata Ci Jeny langsung mencubit perutku. "Aduhh, sakit Ci, ampunn," teriakku karena cubitannya terasa sakit. "Sepertinya Hilda mau tes saya dan wataknya susah ditebak. Tentunya harus didukung dari Ci Vero. Nanti waktu ke Malang saya minta dikasih banyak waktu sama Hilda," kataku serius. "Nah begitu dong," kata Ci Jeny sambil menyenderkan kepalanya di lenganku. Besoknya aku sampai dirumah Ci Vero jam 9 pagi dan ga lama Hilda sudah keluar menuju mobil. Luar biasa cantiknya. Tubuhnya yang padat seksi, rambutnya terurai sepunggung menambah keanggunan, terlihat pancaran gadis yang kaya. "Pagi, Non," kataku menyapa setelah dia masuk kedalam mobil. "Sejak kapan namaku noni, atau nona?" katanya datar. "Ohh, maaf, saya kan menghormati," kataku. "Aku ga gila hormat ya, Pak," katanya. Waduh, aku dipanggilnya Pak. Padahal aku belum tua. Hem, benar-benar ini cewek. Suasana diam dan aku konsentrasi mengemudikan mobil. "Ga enakan aku panggil Pak. Makanya panggil nama saja, ga usah pakai Non segala," katanya. "Iya siap, kalau memang begitu," kataku sambil tersenyum. "A... aku perhatiin Ii sama mamih deket banget ya, terutama Ii. Soalnya setau aku mereka sama karyawan ga ada yang seperti kemarin aku lihat," kata Hilda penuh selidik. Hemm... Hilda memang gadis yang cerdas. Aku harus hati-hati jangan sampai terjebak. "Seperti yang saya bilang sama Ci Jeny kemarin, aku tiga kali bisa nolongin Ci Jeny sama mamih kamu. Mungkin karena kehormatannya bisa aku tolong, itulah yang membuat aku seperti pengawal pribadi Ci Jeny juga mamih kamu," kataku. "Ohhh, jadi tugas A Dino sekarang ngawal aku dan siap bantu aku kalau ada yang mau jahat sama aku?" kata Hilda. "Iya, begitulah," jawabku. "Ok, nanti aku mau A Dino gebukin cowok yang sudah kurang ajar sama aku," katanya yang membuat aku terkejut. Hemm, aku pasti mau dikerjain lagi. Aku harus bisa atasi gadis ini. Kataku dalam hati. "Ok, nanti kalau dia berani kurang ajar lagi sama kamu, aku kasih pelajaran," jawabku singkat. "Sip, semoga kamu ga babak belur. Soalnya mereka main keroyok dan jago berkelahi. Dikampus ditakutin. Aku cuma sebentar, jadi tungguin saja diparkiran," kata Hilda. Setelah sampai kampusnya aku nunggu di mobil sampai sekitar jam 1. Aku lihat Hilda terlihat jalan ke arah mobil. Ga lama terlihat ada empat orang cowok yang berusaha mengejar Hilda, dan setelah sampai ada satu orang yang meremas pantatnya Hilda dari belakang. "Hai, sialan! Lo kurang ajar banget!" kata Hilda berusaha memukul. Aku sempat perhatikan tingkah laku mereka, tetapi aku lihat ada kejanggalan, karena di saat cowok itu berlari sambil melihat Hilda sambil tersenyum, Hilda malah membalas senyumnya. Ga salah lagi, pasti ini sudah diatur. Ok, aku akan ikutin kemauannya. "A kejar mereka, aku tau tempat dia nongkrong. Lihat kan tadi dia kurang ajar sama aku," katanya seperti marah. "Ok, Hilda kasih tau saja tempatnya," kataku. Aku coba ikutin mobil mereka sampai keluar dari kampus dan aku lihat mereka berhenti di depan sebuah warung yang biasa jadi tongkrongan anak kampus. Aku turun mengikuti Hilda. Begitu sampai di depan mereka: "Hai, lo tadi sudah kurang ajar sama gw. Sekarang gw bawa pengawal gw buat gebukin lo semua," kata Hilda sambil nunjuk ke mereka. "Ohh... ohh... ini pengawalnya? Takut ah gw," kata salah satu dari mereka disambut tawa yang lain. "Lihat kan, mereka ga ada takutnya, A. Sekarang bales kekurang ajaran mereka," kata Hilda. Sekarang saatnya aku sedikit action di depan Hilda, biar ga nyepelein aku. Aku turun dari mobil dan aku samperin mereka. "Bro, sory, bukan gw mau ikut campur urusan atau sandiwara lo, tetapi gw ga akan diam lihat cowok yang sudah melecehkan perempuan. Apa lagi Hilda," kataku mantap dengan tenang. "Terus lo mau apa? Mau pukul gw? Ihhh, takut," katanya sambil tertawa. "Sudah sikat aja kacung kayak begitu," kata yang satunya. Aku sengaja menunggu mereka menyerang duluan, dan benar saja yang pertama ngomong sama aku langsung memukul ke arah muka. "Setan lo! Neh, makan!" katanya sambil memukul. Aku menghindar ke samping dan aku tarik tangannya dengan cepat. "Kenapa cuma satu orang? Biar cepet, sekalian aja semuanya," kataku sambil mendorong menggunakan sedikit tenaga dan membuatnya langsung ambruk ke tanah. Melihat temannya jatuh tersungkur membuat yang lainnya sudah mulai menerjang ke arahku. Aku semakin semangat untuk menunjukkan ke Hilda kemampuanku. Aku lihat salah satu dari mereka mengeluarkan pisau belati. Disaat mereka secara bersamaan menerjang aku dari empat sudut, aku sengaja tidak menghindari. Aku akan pergunakan tenaga dalam untuk melindungi tubuhku. "Mampusss lo monyet!" katanya. Bug... bug... terdengar suara beruntun pukulan mereka dan tusukan pisau ke arah perutku. Tetapi semuanya terpental dan mereka seakan tak percaya dengan kenyataan. Aku lihat Hilda melongo sambil terpaku diam melihat kejadian. Di saat mereka masih terpaku diam, aku gunakan kesempatan itu supaya mempercepat biar tidak menjadi ramai. Yang mencoba menusuk aku, aku tarik tangannya dan aku berikan tendangan dengan lututku dibagian perutnya. Aku sengaja tidak membuat mereka cidera parah, karena apa yang mereka lakukan rencananya juga dari Hilda. Satu per satu aku buat mereka terjerembab ke tanah dengan menahan sakit. "Mana yang katanya jagoan kampus? Ga ada yang berani. Cuma segini kemampuan lo semua. Gw ingatin, jangan sekali lagi lo kurang ajar sama Hilda, baik itu sandiwara apa lagi beneran," kataku sambil menarik tangan Hilda kembali ke mobil dan terus meninggalkan lokasi. Untuk sementara aku coba diam sambil menunggu reaksi Hilda. Dari spion tengah aku beberapa kali lihat Hilda seperti sedang berfikir dan sesekali tersenyum. "Kalau bukan demi menjaga gadis secantik kamu yang sudah mendapatkan perlakuan kurang ajar, mungkin aku kabur takut menghadapi mereka," kataku sambil melihatnya dari spion tengah. Dan di saat yang bersamaan Hilda melihat aku, untuk beberapa saat kita saling bertatap mata yang akhirnya dia mengalihkan pandangannya. Mata yang bening dengan bulu matanya yang lentik dan sorot matanya yang energik. "A Dino, keren. Bisa bikin mereka ga berkutik tanpa menunggu lama. Dan tadi waktu ditusuk pisau kok ga kenapa-napa, A?" kata Hilda masih seperti ga percaya. "Itu karena aku tulus buat nolongin kamu, makanya aku masih dilindungi," kataku. "Terus tadi beberapa kali aku denger kata sandiwara, itu maksudnya apa? A Dino nuduh aku," katanya dengan nada yang kurang suka. "Ohhh itu, mana ada seh gadis sandiwara supaya dirinya dilecehkan cowok. Itu aku bilang buat mereka, sandiwara bersekongkol buat ngeroyok aku. Kalau aku jadi cowok kamu, sudah aku patahkan tangannya yang meremas pantat kamu tadi," kataku. "Woww... hebat," jawab Hilda singkat. "Sekarang kita mau pulang atau kemana dulu?" "Antar aku pulang. Nanti malam jam 8 jemput aku dirumah, aku pengen kerumah temen," kata Hilda. Aku segera antar pulang Hilda kerumah karena setelah ini aku diminta Ci Jeny untuk nemenin dia. Setelah sampai rumah, sebelum turun mobil Hilda memberi aku uang kisaran 300rb. "A, ini buat beli rokok," katanya sembari menyodorkan uangnya. "Ga usah, aku sudah digaji buat tugas ini," kataku. "Terima ga? Aku ga mau berhutang budi tanpa ada imbalan dari aku," tangannya berusaha menaruh uangnya dikantong kemejaku. Aku segera tarik tangannya dan aku genggam tangannya yang halus dengan jari-jarinya yang lentik. "Dan aku juga tidak biasa menerima uang tanda terima kasih, nona cantik, karena aku tulus buat melindungi kamu," kataku sambil menatap wajahnya. Setelah beberapa saat kita bertatapan mata, aku masih melihat ada sesuatu yang akan direncanakan. Sebelum kamu semakin nakal mempermainkan peranan kamu, nanti malam akan aku berikan yang real, yang akan membuat kamu sangat membutuhkan aku. Pelajaran yang paling berharga dalam hidupmu. Aku melepaskan tangannya dan dia berlalu masuk kedalam rumah tanpa ada omongan apa-apa lagi. Setelah di jalan aku coba hubungi Ci Jeny dan ternyata tidak jadi karena akan ada tamu yang harus ketemu dengan dia. Jadi aku disuruh balik ke kantor. Aku langsung masuk keruangan bos. Aku lihat Ci Jeny dan Ci Vero lagi ngobrol diruangan dalam. "Gimana Din, hari pertama jalan sama Hilda?" tanya Ci Vero. "Haduh, cici, baru juga sampai belum duduk sudah diinterogasi," kata Ci Jeny sambil membawakan juice jeruk. "Diminum dulu biar adem dan enak mulutnya," kata Ci Jeny. Aku segera meminumnya karena memang kebetulan sangat haus. "Makasih Ci, jadi seger," kataku. "Sudah segar kan mulutnya? Supaya lebih segar lagi..." tiba-tiba Ci Jeny memelukku dan mencium bibirku yang membuat kita saling melumat beberapa saat. "Sudah gila lo ya, Jen? Tadi bilang baru nyampai, lo protes gw tanyain Dino, sekarang lo malah nyosor. Hemmm, gw tahu pasti tadi rencana lo mau jalankan?" kata Ci Vero. Aku melepaskan pelukan Ci Jeny dan duduk disofa yang panjang. Lagi-lagi Ci Jeny sudah merebahkan tubuhnya dan kepalanya dipahaku. "Tau aja lo Ci. Semalam gw lagi kepengen ngajakin, ahan malah dia bilang capek," jawab Ci Jeny. Setelah beberapa saat baru aku menceritakan kejadian waktu aku antar Hilda tadi. "Hemm, bener dugaan gw Jen, anak gw sudah salah bergaul. Tapi kamu ga kenapa-napa kan, Din?" kata Ci Vero. "Ga apa-apa Ci," jawabku. "Pokoknya aku percaya sama kamu Din. Terserah bagaimana caranya, yang penting Hilda harus bisa lepas dari lingkaran cowok brengseknya itu dan buat mereka putus," kata Ci Vero berapi-api. "Terus mau dikasih bonus apa buat Dino?" kata Ci Jeny, bicaranya seakan menyindir Ci Vero. "Lo tau sendiri, Dino tadi dikasih uang sama Hilda saja ga mau. Jadi nanti malam kamu batasin, jam 12 harus sudah sampai rumah ya Din," kata Ci Vero. "Jen, yang mau datang masih lama ga seh?" tanya Ci Vero. "Yah sekitar satu-dua jam lagi. Makannya mau keluar, nanggung banget." Tiba-tiba aku lihat Ci Vero melepaskan pakaian atasnya dan dilanjutkan pakaian bawahnya. Waduh, sekarang tinggal bh sama celana dalamnya yang menutupi tubuhnya yang sangat proporsional sebagai wanita, apalagi ditambah kulitnya yang putih mulus. "Cici mau ngapain? Lo lebih gila lagi ini," kata Ci Jeny melihat Ci Vero. "Gw mau kasih bonus Dino. Sini Din," kata Ci Vero sambil duduk dimeja yang terbuat dari kayu jati berukuran besar. "Wah, wah, kacau lo Ci. Gw yang mau malah lo serobot," kata Ci Jeny sambil bangun. "Din, hajar tuh bos kamu. Yang katanya mau kasih bonus, padahal kepengen saja," kata Ci Jeny yang duduk dimeja kerja sambil melihat ke laptop. Luar biasa Ci Vero sama Ci Jeny, mereka sudah benar-benar bisa saling memahami masing-masing. "Ci, maaf sebelumnya, apakah Ci Vero sama Ci Jeny seperti bisa santai dengan urusan sex?" kataku sambil melihat ke arah Ci Jeny. "Haduhh Dino, kamu lihat sendiri, tiap hari aku sama Ci Vero urusan cuma kerjaan. Masalah sex juga sudah hambar dan aku pasti malu kalau harus telanjang di depan Ci Vero, apa lagi sampai berbuat begitu," jawab Ci Jeny. "Bener Din. Kadang aku berfikir kenapa aku sama Jeny jadi bisa begini, bisa lepas, enjoy dan menikmati tanpa ada tekanan batin. Kamu memang gila Din, bisa bikin macan jadi kelinci percobaan kamu," kata Ci Vero sambil tertawa. Aku segera menghampiri Ci Vero. Aku perhatikan terlihat semakin cantik dan menggairahkan, dan ini sensasi yang luar biasa karena berada didalam ruangan kantor, dimana diluar sana banyak karyawan yang sedang bekerja.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 18
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal