EPISODE 20
"Ngapain sih cuma lihatin aja, sudah tua ya setelah jalan sama anaknya.." kata Ci Vero.
"Justru sebaliknya, Ci... Semakin hari malah semakin cantik dan menggairahkan, ga bosenin dilihatnya.." kataku.
"Keluar lagi deh gombalnya kamu.." kata Ci Vero sambil menarikku.
Aku peluk Ci Vero dan aku lumat bibirnya yang merah. Ci Vero terlihat sangat nafsu, tangannya melepaskan pakaianku. Tanganku pun segera melepaskan bra yang dikenakan sehingga buah dadanya yang putih padat itu terlihat dengan sempurna.
Aku ajak Ci Vero menuju ke sofa, setelah itu ciumanku segera turun ke lehernya yang jenjang.
"Ohh.. Din.. Remas yang kenceng, Din.." kata Ci Vero sambil menuntun tanganku ke buah dadanya.
Aku sempat perhatikan Ci Jeny beberapa kali melihat ke arahku. Kenapa ga keruangan depan saja, tetapi malah sengaja masih di dalam, dan dari cara duduknya sepertinya Ci Jeny juga sudah mulai terangsang.
Karena waktu yang pendek, aku segera melepaskan celana dalamnya Ci Vero dan aku minta Ci Vero untuk menunggingkan pantatnya yang bulat putih itu. Aku lihat belahan vaginanya sudah merekah merah.
"Dinn.. Cepetan masukin.." kata Ci Vero.
"Sekarang, Ci.. Godaku.."
"Besok aja, Din.. Sudah tahu Ci Vero sudah blingsatan ga tahan.." sahut Ci Jeny sambil tertawa.
"Blesss.. Akhssss.. Hemmm..." desah Ci Vero ketika aku sudah memasukkan batang penisku.
Aku segera mengocok dengan perlahan. Aku lihat Ci Jeny semakin gelisah, aku kasihnya melihatnya. Tepat di saat Ci Jeny melihatku, aku minta Ci Jeny untuk bergabung.
Ci Jeny segera aku lumat bibirnya. Dengan nafsunya dia melumat bibirku dan memainkan lidahnya.
"Dinn.. Ohhh.. Ohh... Akhssss.. Ada yang ga kuat nahan, Din..." kata Ci Vero sambil ikut menggoyang pinggulnya.
Aku mulai melepaskan kancing baju Ci Jeny satu per satu. Tapi tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Rini sudah masuk.
"Ohhh.. Maaf.. Maafkan saya.." kata Rini yang langsung jongkok sambil menutup mukanya.
Kacau.. Lagi-lagi dia bikin masalah. Kalau sekarang ini fatal, harus cari cara supaya dia tidak ngoceh, karena kalaupun dipecat pasti dia akan menyebarkan apa yang dilihatnya. Kedua bos perempuannya sedang berhubungan badan bersamaan dengan karyawannya sendiri.
Ci Jeny yang masih memakai bajunya lengkap langsung menghampiri Rini.
"Berdiri kamu... Plak.. Plak.. Kamu sudah ga sopan dan kurang ajar!"
"Ci.. Sudah, kemari sebentar, saya ada mau diomongin.." kataku yang menyudahi dengan Ci Vero.
Aku minta Ci Vero tenang saja karena aku lihat dia sudah mau nyamperin Rini.
"Maaf, Ci, ada orang pajak mau ketemu, makanya saya buru-buru mau kasih tahu.." katanya coba membela diri.
"Gobloknya kamu, mau siapa kek yang cari, sudah dikasih tahu ketok dulu dan permisi. Sekarang kamu diam di situ!"
"Din, gimana ini? Aku yakin dia pasti akan ngoceh di mana-mana, apa lagi kalau sampai dipecat.." kata Ci Jeny.
"Apa aku kasih duwit saja buat tutup mulut.." kata Ci Vero.
"Kurang tepat, Ci.. Saya kenal dia seperti apa. Sekarang harus kita buat dia bungkam mulutnya.." kataku.
"Caranya, Din.." tanya Ci Vero.
"Ci Jeny kan mau nemuin orang pajak.. Biar saya jalan sama Ci Vero. Kita bawa ke hotel, biar nanti saya kerjain dia dan Ci Vero rekam. Tujuannya supaya buat intimidasi dia, kalau sampai ngoceh videonya bakal saya sebarkan. Lagi pula kalau kita kan ga ada buktinya.." kataku pelan.
"Hemm.. Pintar juga kamu, Din, tapi aku ga rela kalau kamu harus begitu sama Rini.." kata Ci Jeny.
"Jen, masalahnya ini gawat.. Jangan pakai perasaan dulu lah.." kata Ci Vero.
"Iya sudah.. Intinya Dino menang banyak.." kata Ci Jeny sambil melihatku dan langsung mencium bibirku.
"Rini, kamu ikut Ci Vero sekarang.." kata Ci Jeny.
Aku segera meluncur ke hotel bersama Ci Vero dan Rini. Aku lihat Rini masih menangis dan terlihat pucat.
"Rini.. Kamu masih mau kerja ga sebenarnya?" tanya Ci Vero sambil menahan amarah.
"Masih, Ci... Apa lagi sebentar lagi saya mau menikah. Kalau di kampung saya, perempuan paling banyak mengeluarkan biayanya.." kata Rini sambil menundukan kepala.
"Ok.. Kalau kamu masih mau kerja, nanti aku kasih bantuan buat tambahan nikahan kamu. Tapi kamu harus ikutin semuanya. Itu sebagai konsekuensinya kelancangan kamu tadi."
"Baik, Ci.. Saya ikutin apapun itu, yang penting jangan pecat saya..." kata Rini.
Hemm, jawaban Rini sedikit membuat aku lega.
Mobil memasuki pelataran hotel, aku lihat Rini sedikit kaget.
"Kamu rapikan rambut kamu dan lap air mata kamu pakai tisu. Ayo sekarang ikutin aku.." kata Ci Vero.
Aku segera check-in kamar yang VIP di lantai 3.
Setelah masuk ke dalam kamar, sesuai rencana Ci Vero langsung menuju ruangan depan dan aku ditinggalkan berdua sama Rini.
"Rin, kamu tahu ga maksud kemari..." tanyaku.
"Saya ga tahu, Pak.." katanya sambil ketakutan.
"Setelah tadi kita berunding, Ci Jeny sama Ci Vero punya 3 pilihan.. Terserah kamu mau pilih yang mana. Cuma kamu sekarang berurusan sama bos besar yang kaya banyak uang, dan kamu tahu kan sifat mereka. Kalau punya niat jahat bisa saja suruh orang buat culik kamu atau nyelakain kamu.." kataku sedikit memberikan intimidasi.
Aku tahu sifat Rini yang kepala batu dan tidak bisa jaga rahasia.
"Iya, saya tahu dan paham, makanya saya sangat takut, Pak.." kata Rini.
"Kamu ingat ga kasusnya si Ajat supir yang kurang ajar sama Ci Jeny.. Gimana nasibnya? Bos nyuruh orang nyari dan setelah ketemu habiskan mukanya sampai ga berbentuk.." kataku.
"Iya, Pak.. Saya jujur minta tolong sama Pak Dino juga buat nolongin saya."
"Ini ada uang 10 juta buat kamu kalau kamu memilih opsi yang tepat.
1. Karena kamu sudah melihat Ci Vero lagi begitu sama aku, Ci Vero juga pengen gantian lihat kamu begitu sama aku."
"Tapi, Pak..." kata Rini memotong omonganku.
"Kamu dengerin dulu, jangan kamu potong kalau orang lagi ngomong, belajar sopan.." kataku geram.
"2. Kamu menolak, tidak mau opsi pertama, kamu mengundurkan diri.
3. Kamu menolaknya dan tidak mau mengundurkan diri, kamu akan dipecat tanpa pesangon.. Dan bos sudah tahu pembukuan kamu amburadul dan kamu pakai uang perusahaan..." kataku, yang sebenarnya belum yakin benar.
Tetapi melihat respon Rini yang semakin ketakutan dan memegang tanganku sambil menangis.. Hemm, berarti yang diomongin anak-anak di kantor benar.
Satu poin yang pasti membuat Rini semakin takut.
"Kamu bisa dilaporkan dengan tuduhan penggelapan dan ancaman hukuman 4 tahun penjara. Nah, sekarang terserah kamu. Nasib kamu, kamu sendiri yang menentukan. Aku kasih waktu kamu buat berpikir.." kataku sambil beranjak menuju ke depan di mana Ci Vero berada.
"Gimana, Din... Bisa kan.." tanya Ci Vero.
"Sepertinya bisa, Ci.. Kita tunggu saja beberapa saat. Nanti kalau sudah ok baru enci masuk ke dalam.." kataku.
"Kamu memang jagonya, Din.. Aku semakin salut sama kamu.." kata Ci Vero.
"Ya sudah, saya mau ke dalam dulu. Tadi uangnya juga sudah saya kasih tahu.." kataku.
"Iya, sana.. Semoga saja bisa."
Aku masuk ke dalam. Aku perhatikan Rini masih duduk terdiam. Rini terbilang gadis yang manis, usianya sekarang 21 tahun, tubuhnya lumayan montok dengan kulitnya kuning langsat dan rambutnya panjang se punggungnya.
"Gimana, sudah ambil keputusan.." tanyaku sambil duduk di samping dia.
"Pilihan yang berat semuanya, Pak... Kalaupun saya tidak pilih yang pertama, nasib saya pastinya akan lebih parah. Saya kasihan orang tua saya dan pasti rencana pernikahan saya kandas. Hemmm.." kata Rini sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kalaupun saya pilih pertama, saya akan mengorbankan keprawanan saya yang tadinya untuk suami saya nantinya, dan saya bingung harus alasan bagaimana nanti di malam pertama.." katanya.
"Begini, Rin... Orang kalau mau menikah harus bisa menerima kekurangan masing-masing, karena menikah itu bukan mencari yang sempurna. Kamu bisa bilang kalau kamu dulu pernah terjatuh atau apalah. Ingat, selaput prawan itu bisa sobek tanpa harus berhubungan badan.." kataku sambil memegang tangannya.
Gila, Rini masih perawan.. Aku sebenarnya tidak tega, tetapi cuma ini jalan yang bisa membuat dia bungkam.
"Pak.. Jujur, saya sama pacar saya tidak lebih dari ciuman bibir.. Jadi saya takut dan malu.." katanya sambil sedikit terisak suara tangisan.
"Aku tahu kamu takut nanti hamil kan? Aku sudah siapkan pil KB.." kataku.
"Iya, saya juga malu sama Ci Vero.." katanya.
"Gampang, nanti Ci Vero bisa lihat dari depan ini, kan tidak di sini.. Ya sudah, sana kamu cuci muka dulu biar fresh mukanya. Aku kasih tahu Ci Vero."
"Iya, Pak.. Bantu saya ya, biar saya bisa jalannya.." kata Rini.
Aku segera meninggalkan dia, menuju ke Ci Vero. Begitu melihat aku, Ci Vero sudah memelukku.
"Kamu hebat, Din... Tapi bener kata Jeny, kamu menang banyak. Punyamu ini dapat mangsa baru," katanya sambil meremas batang penisku.
"Sakit, Ci, jangan pakai tangan dong jepitnya, tapi pakai ini," kataku gantian meremas buah dadanya.
"Gila ya.. Punya kamu sudah tegang begini.." kata Ci Vero.
"Enci, nanti masuknya kalau sudah pertengahan saja, soalnya Rini malu. Dia belum pernah, Ci, katanya masih perawan."
"Wah.. Rezeki nomplok buat kamu, Din.. Ya sudah, sana, itu Rini sudah keluar dari kamar mandi."
Sebelum aku balik ke Rini, aku cium bibirnya, Ci Vero.
"Gimana, Rin... Sudah yakin kan pilihan kamu, dan ingat ini tidak ada paksaan ya.." kataku sambil duduk di samping Rini sambil aku peluk dari samping.
"Iya, Pak.. Maaf, pil KB-nya mana, Pak, biar saya minum dulu.." kata Rini.
"Oh iya, aku lupa, itu di meja. Sana kamu minum dulu, sekalian uangnya kamu masukkan ke dalam tas kamu.." kataku melepaskan pelukan.
Setelah aku lihat Rini minum pil KB-nya, aku segera menghampiri. "Ini uangnya, kamu masukkan tas, bisa buat nambah kebutuhan kamu.." kataku dan aku peluk Rini dari belakang, supaya tidak canggung kalau dari depan.
Aku cium bagian tengkuk lehernya dan tanganku yang satunya meremas buah dadanya dari luar pakaiannya.
Rini masih terlihat kaku. Aku coba lepaskan kancing bajunya dari belakang.
"Dibuka semuanya ya, kita lanjut di tempat tidur saja, kamu buat nyaman saja.." kataku.
Aku pun segera melepaskan semua pakaianku sampai telanjang bulat dan kini Rini hanya tinggal memakai bra dan celana dalamnya.
"Sini, ga usah dibuka dulu kalau masih canggung," kataku sambil menarik tubuhnya ke tempat tidur. Aku rebahkan tubuhnya dan aku tindih.
Aku cium pipinya dengan lembut dan berpindah ke bibirnya. Awalnya tidak ada perlawanan, tapi setelah aku menggesek-gesekkan batang penisku beberapa saat, nampak nafasnya mulai memburu dan Rini sudah membalas lumatan, lidahnya sudah mulai bermain di dalam mulutku.
Ciumanku terus menurun, dari mulai lehernya sampai berhenti di buah dadanya. Aku cium dan aku jilatin buah dada yang ranum itu. Ketika aku lepaskan branya, terlihat buah dada Rini sudah kencang mengeras dengan puntingnya yang mungil berwarna merah.
"Ohhassa... Pak Dino... Geli, Pak... Ahkssss..." mulai terdengar suara rintihan Rini.
"Kamu nikmatin saja, tanganmu pegang punya aku.." kataku sambil mengarahkan tangannya untuk memegang batang penisku.
Rini bener-bener cewek yang polos dan masih hijau dalam sex. Ketika aku melepaskan celana dalamnya dan tanganku menjelejah di bibir vaginanya, sudah terlihat basah.
Di saat aku masih mencumbu Rini, aku lihat Ci Vero sudah masuk dan merekam apa yang aku lakukan.
"Auhhwwohhsss.. Pak.. Ahkss.... Akhss....." jeritan Rini kencang. Aku sampai heran, baru dicumbu buah dadanya. Buah dada ukurannya yang sedang itu aku elus pelan dan puntingnya aku jilatin dan aku sedot.
Terlihat Rini menggelinjang menggeliat, kedua matanya merem melek. Setelah puas dengan buah dadanya, ciumanku turun ke arah perutnya yang masih kencang datar. Aku mainkan lidahku di situ dan pahanya yang mulus aku elus-elus bagian dalam.
"Pak.. Ohssshhh.. Badannya saya jadi panas dingin.." desahan Rini.
Aku rentangkan pahanya lebar sambil aku tekuk lututnya. Di situ terlihat jelas vaginanya terlihat mungil, lobangnya masih terlihat sempit berwarna merah muda. Ketika lidahku menciumi sepurane vaginanya dan aku sapukan di bibir luarnya,
"Pak Dino... Ampun.. Ahhsss.. Saya ga tahan mau pipis..." kata Rini, langsung bangun dan berlarian ke kamar mandi.
Aku lihat Ci Vero sampai tertawa. Melihat itu, begitu juga aku.
"Hemm... Kayak ada yang ingat muka aku di pipisin.." kataku sambil melihat Ci Vero.
"Ihh, kamu ya, kalau ingat itu aku jadi malu.." sahut Ci Vero yang langsung memelukku dan mencium bibirku.
Gila, Ci Vero langsung jongkok di depanku dan menciumi, dilanjut mengoral batang penisku.
"Enci kepengen juga... Nanti sehabis sama Rini.." kataku.
Karena aku lihat Rini sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju tempat tidur sambil melihat apa yang dilakukan Ci Vero.
Ci Vero melepaskan batang penisku dan berdiri.
"Rin, kamu ga usah malu-malu, kamu nikmatin saja. Gimana, enak ga punya kamu dijilatin sama Dino?" kata Ci Vero.
"Iya, Ci... Geli campur enak. Untung saja saya ga pipis duluan tadi.." katanya masih malu-malu.
Setelah Rini terlentang di tempat tidur, aku tindih tubuhnya. Tadinya aku mau suruh dioral punyaku, tetapi aku urungkan. Takut malah dia ga mau dan merusak suasananya yang sudah aku dapatkan, karena ini hal pertama buat Rini.
Kembali aku cumbu, aku cium, aku jilat, dan buah dadanya aku jadikan sasaran utama. Tidak sampai lima menit, Rini sudah kembali terangsang. Bahkan kedua pahanya sudah dibuka lebar, dan di saat aku menggesekkan batang penisku di bibir vaginanya sudah sangat basah.
"Rin, kita coba sekarang ya.." kataku, mengarahkan batang penisku ke dalam lobang kemaluannya. Aku gesek-gesekkan dengan tangan pelan-pelan.
Terlihat Rini menggeliat. Sedikit demi sedikit aku tekan pelan dan kepala penisku sudah mulai bisa menembus ke lobang kemaluannya yang sempit.
"Ohhsss.. Akhss.. Pelan, Pak.. Sudah mulai perih..." katanya, berusaha menahan pinggulku dengan tangannya.
Aku hentikan doronganku, aku harus kasih cumbuan lagi. Aku naikan kedua tangannya lurus ke atas. Aku sapukan lidahku ke bagian luar buah dadanya dan berhenti di ketiaknya yang bersih tanpa bulu, sambil aku remas pelan pantatnya.
"Pakk Dino... Ohhsss... Ohssshhh... Ahkss.. Ahkss.." Rini sangat menikmati, hingga tanpa merasakan sakit batang penisku sudah berhasil menembus ke lobang kemaluannya. Aku diamkan sesaat sambil aku putar pelan.
Gila, punya Rini sangat berasa menyedot penisku.. Aku tarik pelan dan aku benamkan lagi. Aku sempat lihat ada darah membasahi batang penisku.
"Pak.. Ohhsss... Nikmat, Pak..." kata Rini pelan sambil memelukku erat.
Aku sekarang akan lakukan lebih intensif dengan gerakan yang agak cepat.
"Ouww.. Ohkss.. Pak Dino.. Pak.. Akhss... Akhss..." teriakan Rini kembali kencang.
Gila, sensasi yang aku dapatkan dari Rini sungguh luar biasa. Sudah seperti pemain saja yang sengaja dibuat-buat. Tetapi ini real, wanita yang masih polos dengan teriakannya seperti itu.
"Enakan, Rin.. Apa sakit? Soalnya kamu kencang banget teriakannya.." kataku.
"Ga tahu, Pak, saya ga bisa tahan.. Nikmat, Pak.. Owhhh... Pak..." tiba-tiba Rini menggigit pundaku sambil memeluk erat dan tubuhnya mengerang.
"Pakkk... Saya ga tahan pakkksss.... Ohssshhh..." teriak Rini sesaat... dan tubuhnya terkulai lemas.
"Hemm.. Kamu sudah klimaks itu, Rin.." kata Ci Vero.
"Iya mungkin, Ci.. Rasanya ngilu geli campur gimana gitu.." kata Rini sambil tersenyum malu.
"Kalau enci mau sama Pak Dino, silakan, Ci, biar saya nunggu di depan.." kata Rini.
Aku lihat dari sorot mata Ci Vero memang menginginkan, karena tadi tertunda waktu di kantor gara-gara Rini masuk.
"Kamu di sini saja, aku bisa kok memuasin Ci Vero sama kamu barengan.." kataku.
"Ga ah, Pak.. Saya malu sama Ci Vero.." kata Rini.
"Santai saja, Rin... Kalau di sini kita sama-sama jadi pemuas nafsu dan dipuasin Dino... Jadi jangan sungkan. Beda kalau di luar." Kata Ci Vero mulai melepaskan pakaiannya.
-- Rini --
Aku tidak menyangka akan terjebak dalam situasi yang teramat sulit dalam hidupku. Memang aku akui kalau sifatku itu selalu pengen tahu kehidupan orang lain dan aku suka nyebarin gosip setelah ngepoin seseorang.
Dari awal aku sudah ada perasaan curiga hubungan Pak Dino dengan kedua bosku ini. Tetapi mana aku berani macam-macam, cuman ada rasa ngiri sama Pak Dino. Karyawan yang dulu sering diomelin, dibentak sama bos, bisa jadi baik, bahkan dapat inventaris mobil.
Dan semua kecurigaanku terbukti, melihat Ci Vero sedang berhubungan badan dengan Pak Dino, bahkan Ci Jeny pun sudah mulai ikutan berciuman.
Aku kaget dan jantungku seperti mau copot, tubuhku lemas seketika. Tamat, pasti riwayatku. Tetapi ini bukan salahku, mungkin aku bisa jadikan buat bikin bosku jadi nurut sama aku.
Tetapi setelah aku dibawa ke hotel dan mendengarkan apa yang dikatakan Pak Dino, aku kembali menjadi lemas. Aku memang telah banyak memakai uang perusahaan. Aku membayangkan bila sampai itu terbongkar dan aku dilaporkan ke polisi.
Untung saja Pak Dino dan bos masih memberi pilihan. Berat memang, karena apa yang aku pertahankan selama ini sekarang sudah hilang, kesucianku.. Tapi benar kata Pak Dino, kalau memang calon suamiku memang mencintaiku, pasti akan menerima apa adanya tanpa mengusik masa laluku.
Cuma ini pilihan yang harus aku ambil. Dengan sabar Pak Dino menuntun aku, dan hebatnya aku bisa menikmati merasakan seperti tanpa ada paksaan dan beban batin, bahkan aku lihat bosku sendiri bisa secara bersamaan kita berhubungan badan dengan Pak Dino....
Kini aku lihat Ci Vero sudah mulai berciuman dan bercumbu dengan Pak Dino. Bosku yang cantik, sudah seperti artis saja, bisa menikmati dengan Pak Dino, sampai aku merasakan ada dorongan lagi pengen ikut bercumbu dengan Pak Dino.
-- Dino --
"Rini.. Sini deketan, malah bengong saja kamu.." kataku sambil menarik Rini mendekat, sambil aku mengocokkan batang penisku ke lobang Ci Vero yang sudah mendesah. Aku lumat bibir Rini dan buah dadanya bergantian.
"Pak, ahkss.. Ohssshhh..." kembali jeritan Rini terdengar ketika lobang vaginanya aku mainkan dengan jari-jariku dan clitorisnya aku tekan dan gesek.
Hampir 1,5 jam kita melakukan hubungan 3some yang menghantarkan Ci Vero mencapai klimaks lebih dari 3 kali, dan Rini sampai pada puncaknya. Aku harus keluarkan air maniku ke dalam kemaluannya Rini dan membuat kita terkulai lemas.
Dari situ aku juga jelaskan kepada Rini untuk menjadikan ini rahasia yang harus dijaga, dan kalau sampai bocor, dampaknya dia yang akan paling merasakan.
Setelah itu kita kembali ke kantor karena aku lihat masih jam 3 sore.