←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 21 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 21
Aku lihat Ci Jeny sedang duduk main HP, begitu melihat aku datang sama Ci Vero, terlihat senyumnya yang semakin membuatnya cantik. "Eh, gimana... bereskan..." tanya Ci Jeny. "Beres... Gila, Rini masih perawan, Jen, dan waktu begitu jeritannya kenceng banget. Gw aja sampai kaget..." kata Ci Vero. "Wah.. kamu tambah awet muda saja, Din..." kata Ci Jeny. "Lahh.. memangnya saya sudah tua?" jawabku sambil ketawa. "Tapi awas ya, Din, kalau sampai kamu main lagi sama Rini. Ingat itu tadi sebagai cara buat supaya dia bungkam mulut," katanya sambil mendekat dan duduk di sampingku. "Iya Ci.. tenang saja, kan saya sudah ada 4, masa mau nambah lagi," kataku sambil tertawa. "Apa hah..." kata Ci Jeny sambil menarik aku untuk tidur di pangkuannya. "Terus lo lanjut ga tadi Ci, sama Dino di sana?" tanya Ci Jeny ke Ci Vero. "Sampai 3x gw klimaks, di-bikin sama Dino lemes.." jawab Ci Vero sambil meledek Ci Jeny. "Din.. terus aku kapan? Nanti malam kamu kan mau antar Hilda..." tanya Ci Jeny manja. "Kalau saya terserah enci saja, tapi jangan sekarang saja, soalnya kalau saya kecapekan takut ga bisa bikin enci puas.." kataku sambil mencubit dagunya. "Ya sudah kalau kamu cape tiduran aja, tar biar ga mondar-mandir kamu antar aku pulang sekalian nungguin Hilda saja, Din.." kata Ci Jeny. Setelah pulang dari kantor kita makan dulu bertiga, dan tepat pukul 8 malam sampai ke rumahnya bos. "Din, ayo kamu tunggu di dalam saja," kata Ci Jeny. "Sudah, saya di sini saja. Perhatian banget ya.." kataku sambil mengoda. "Ihhh.. ngeselin ya kamu. Awas nanti aku bales!" "Jiahh.. pakai nanti, kenapa ga sekarang saja? Takut ya.." kataku. "Dino... awas kamu, neh, rasain!" kata Ci Jeny, langsung menarik tanganku dan digigit... "Rasain sekarang!" "Aduhh... beneran ah becandanya.." kataku sambil melihat tangan yang bekas digigit Ci Jeny. "Kalian ini.. masih saja bercanda. Ya sudah, Din, biar aku kasih tau Hilda. Tolong ya Din, kamu pasti bisa.." kata Ci Vero. Ci Vero sama Ci Jeny segera masuk ke dalam rumah. Setelah hampir 15 menit aku lihat Hilda keluar dari rumah. Hemm.. luar biasa cantiknya. Hilda memakai rok pendek di atas lutut berwarna biru, atasannya memakai kaos polos putih dibalut dengan jaket jeans. "Kenapa A.. ada yang aneh sama aku?" tanya Hilda. "Ohh.. ga, terlihat cantik. Emangnya mau ke mana?" tanyaku. "Temenku ada ulang tahun. Nanti aku kasih tau.." katanya sambil tersenyum sinis. Anehnya Hilda, walaupun omongannya tidak ketus atau judes, tetapi cara melihatku sepertinya merendahkan. Malam ini akan jadi malam yang menakutkan dalam hidupmu, yang terlalu manja dan banyak dimanfaatin teman kamu. Aku sudah rencanakan. Jam 9 lewat aku baru keluar dari rumah bos. Mobil menyusuri jalanan yang cukup lenggang. Hampir 30 menit aku lewat di Jalan Kunir, kota yang cukup sepi dan agak gelap.. "Hilda, maaf, saya kebelet pipis sebentar.." kataku, memarkir mobil di deretan agak pojok di bawah pohon, dan saat itu cuma ada 2 mobil yang parkir di situ. Aku turunkan kaca cendela sedikit. "Ya sudah, sana, jangan jauh-jauh dan lama A. Ini sudah di-chat terus.." katanya. Aku turun dari mobil dan aku lihat ada 4 orang, entah tukang parkir atau preman situ. "Bang, nitip sebentar, sudah kebelet. Jagain ya, ada cewek saya di dalam.." kataku sengaja. Ini cara yang hampir sama aku lakukan terhadap Ci Vero. Aku segera menjauh dan cari tempat sembunyi tapi masih bisa memantau. Belum juga 5 menit.. terdengar jeritan Hilda sesaat dan berhenti. Yes.. usahaku berhasil. Aku akan muncul di saat nanti sudah final. Aku lihat Hilda di-pegangin dan disuruh jalan sambil ditempelkan pisau di perutnya. Aku segera mengikuti mereka. Oh, ternyata di belakang gedung tempat aku parkir mobil ada pintu yang rusak untuk masuk ke dalam gedung itu. Rupanya gedung tua yang sudah tidak terpakai menjadi tempat mereka. Setelah masuk ke dalam, Hilda didorong hingga terjatuh di tumpukan kardus yang menjadi alas tidur mereka. "A, Dino.. Tolong.. tolong... lepaskan, bangsat.. kalian manusia bejat.." teriak Hilda sambil meronta ketika tangannya dipegang salah satu dari mereka. "Percuma lo teriak, cowok lo sudah gw tusuk tadi di sana.." katanya, yang membuat Hilda semakin ketakutan. "Tolong lepaskan aku. Kalian boleh ambil HP atau apa saja, tapi lepaskan aku.." kata Hilda sambil berusaha mundur karena posisinya sekarang masih setengah rebahan setelah habis jatuh didorong mereka tadi. "Ini mah.. macan amoy. Kita nikmati dulu, baru kita ambil semuanya.." kata salah satunya. "Hahahaha, betul... kasih minum dulu biar enak nanti kita pakainya..." jawab yang satu lagi. Seseorang dari mereka segera mengambil minuman dan dituangkan di gelas plastik. "Ingat ya.. wajah lo yang cantik mulus itu. Ga mau kan gw sayat pakai pisau ini," katanya sambil menempelkan pisau di wajah Hilda. "Jangan... jangan lakukan itu... kasihanilah aku.." kata Hilda setengah memohon, dan terdengar tangisannya. "Sekarang lo ga usah nangis.. cepet minum ini dan setelah itu ikuti perintah gw." Hilda awalnya ragu.. tetapi segera diminum gelas yang disodorkan itu. "Sekarang, lepaskan pakaian lo semuanya.. atau gw perkosa, setelah itu gw sayat muka lo ini." Hilda cuma diam dan terlihat sangat ketakutan. Aku sebenarnya kasihan melihatnya, tetapi ini masih belum saatnya. Aku masih mengintip dari celah pintu. "Bro.. amoy kita malu, sudah kita lepasin saja.." kata yang satunya. Disaat jaketnya dilepas, Hilda mencoba melawan. Plak.. satu tamparan mendarat di pipinya yang putih. "Aduhh.. sakit.. ampun, jangan lakukan ini.." katanya, yang akhirnya pasrah karena lehernya sekarang yang ditempelin pisau. Satu per satu pakaianya dilepaskan hingga tersisa bh dan celana dalamnya berwarna merah. "Sekarang kamu berdiri, cepetan.." kata yang memegang pisau. "Wow.. rezeki anak sholeh bro..." kata mereka. Dan tiba-tiba bh dan celana dalamnya ditarik dengan kasarnya, sampai Hilda sempat terhuyung ke belakang. Luar biasa tubuh Hilda.. wajahnya yang cantik itu terlihat ketakutan dan matanya terlihat memerah karena pengaruh minuman tadi. Lehernya yang sangat jenjang, buah dadanya masih bulat kencang, dengan dataran perut dihiasi pusarnya, semakin turun ke bawah, nambah vaginanya yang dihiasi bulu-bulu tipis dengan pahanya yang putih mulus. Aku lihat Hilda menggigil karena sangat ketakutan, apa lagi disaat dari belakang tiba-tiba buah dadanya diremas dan yang di depannya sudah mengambil posisi jongkok segera mencium vagina. Disaat sudah kritis begini, saatnya aku masuk. Segera aku dobrak pintunya. "Brakk!! Bajingan, kalian sudah melecehkan cewek gw.." Teriakanku membuat mereka kaget, dan aku juga ga mau berlama-lama. Segera dalam 2x gebrakan aku buat mereka terkapar, dengan tangannya ada yang patah. "Aa..." kata Hilda dan berlari memelukku.. sambil menangis... Aku belai rambutnya yang halus.. "Sudah, sekarang kamu aman. Lihat mereka, aku buat patah tangannya yang sudah kurang ajar sama kamu." "Aku masih belum puas sama yang mau merusak muka aku tadi, yang itu.." katanya sambil menunjuk. "Ya sudah, kamu maunya pukul dia apa tendang dia.. Tetapi lepaskan pelukannya dan kamu pakai pakaian kamu, masa telanjang begini.." kataku yang menyadarkan dia. Aku ambilkan pakaianya dan segera dipakai, tetapi bh sama celana dalamnya tetap aku ambil biar tidak bisa dipakai lagi. "Neh, pukul dia pakai ini," kataku sambil memberikan sepotong kayu. "Ga apa-apa kan A?" katanya ragu. "Sini, aku bantu. Kamu pegang begini, terus pukul.." kataku. Aku lihat Hilda memukul tangan orang itu, tetapi pelan. "Yang kencang, ga berasa itu.." kataku sambil tersenyum. "Itu sudah sekuat tenaga aku, A.." katanya sambil cemberut. "Ya sudah.. aku yang gantiin kamu, karena dia sudah mengancam kamu, kan?" kataku. "Iya, dia tadi mau cacatin muka aku. Aku benci banget.." katanya. Aku segera dekatin orang itu dan krak!! Tangannya aku bikin patah, tetapi disaat itu juga Hilda teriak mendengar tangan orang itu patah. Aku perhatikan Hilda sudah mulai sempoyongan, mungkin karena mabuk minuman yang diberikan tadi. "Ayo, kita segera pergi dari sini.." kataku. Baru mau jalan keluar.. Hilda sudah muntah sambil jongkok. "Ya sudah, sini kamu naik di punggungku, aku gendong ke mobil.." kataku. Baru tau kamu sekarang bagaimana aku membuat kamu biar paham bagaimana kerasnya hidup yang sebenarnya. Jujur saja aku pun sempat terangsang, mana ada laki-laki yang tidak nafsu melihat kecantikan Hilda dalam keadaan telanjang bulat. Setelah sampai mobil, aku perhatikan Hilda sudah terlihat agak mendingan, mungkin karena sudah muntah tadi. "Jadi sekarang ke tempat ulang tahunnya?" tanyaku. "Ga lahh.. bawa aku ke hotel, tapi yang bintang 5. Aku mau mandi, jijik aku.." katanya. Aku sengaja Hilda aku suruh duduk di depan, agar aku bisa lihat responnya dia seperti apa. "Hilda, maaf ya gara-gara aku, kamu hampir saja diperkosa.." kataku. "Aku yang harusnya berterima kasih. Coba kalau ga ada kamu, pasti aku sudah di-gilir sama mereka. Tetapi aku puas walaupun sedikit ngeri mendengar dan melihat kamu tadi patahin tangan mereka.." jawab Hilda. "Iya, coba kalau aku ga kebelet pipis.. kan ga ada kejadian itu.." kataku memancing dia. "Terus kamu pipis di celana? Mereka saja yang kurang ajar dan bejat.. Sudah lah, ga usah dibahas. Ehh.. aku ga apa-apa kan panggil nama, atau kamu saja? Agak canggung kalau pakai Aa," kata Hilda. "Kalau itu terserah kamu saja. Di sini kamu bos, dan aku tugasnya jagain kamu.." kataku. "Pantesan mamih sama Ii sama kamu terlihat akrab, apa lagi Ii malah terlihat manja. Karena kamu orangnya sopan dan tanggung jawab dalam hal kerjaan.." kata Hilda tersenyum. Aku lihat kali ini senyumnya polos, bukan seperti sebelumnya. Sesampainya di hotel Hilda segera check-in dan mengajak aku masuk. "Nah, sekarang kamu kan sudah aman di sini. Habis mandi kita pulang, atau aku yang pulang kasih tau mamih kamu?" kataku. "Baru tadi aku bilang tanggung jawab, malah sekarang mau ninggalin yang dikawal.." katanya manja. "Ohh.. jadi gimana, aku tetap di sini jagain kamu. Ya sudah. Aku telepon Ci Vero.." kataku. "Sudah, kamu duduk saja. Kalau mau mesen makan, pesen saja. Urusan mamih nanti aku yang urus. Sekarang aku mau mandi.." kata Hilda. "Oh iya, ingatin besok pagi-pagi aku mau beli pakaian sama dalemannya. Aku jijik makai baju ini, sudah itu kena muntahan lagi.." katanya sambil berjalan menuju kamar mandi. Mudah-mudahan saja dengan kejadian ini Hilda bisa berubah sikapnya ke aku, jadi tinggal aku arahkan dia. Tanpa sepengetahuan Hilda, aku tetap chat Ci Vero kalau Hilda males pulang dan nginap di hotel. Hampir satu jam Hilda mandi dan baru keluar dari kamar mandi menggunakan baju tidur yang disediakan hotel. Bagian bawahnya terlihat pendek, hampir di atas pangkal paha, sedangkan bagian atasnya terbuka lebar sehingga belahan buah dadanya terlihat putih menyembul. Tetapi aku lihat di cuek saja, bahkan disaat aku perhatikan tadi, Hilda pun tahu. "Din, kamu sudah mesen makan belum? Aku mulai laper neh.." kata Hilda sambil duduk di sofa depan aku... katanya, dan langsung memesan makanan. Kacau neh.. dia duduknya santai banget, pahanya yang mulus terlihat jelas di depanku. Yang paling mengganggu adalah Hilda tidak memakai celana dalam, otomatis dengan pakaian seperti itu dan cara duduknya terlihat jelas. "Kenapa sih kamu gelisah begitu, diajak ngomong malah lihatnya ke mana.." kata Hilda. "Sorry, Hil... nanti kamu punya pikiran aku kurang ajar. Biar bagaimanapun aku cowok, aku takut ga kuat saja.." kataku sambil tersenyum. "Biasa aja kali... aku saja cuek.." katanya. Ga lama terdengar bel berbunyi, yang antar makan datang. Sambil makan aku masih ngobrol sama Hilda. "Ya sudah, yuk kita ngobrol sambil tiduran, badanku sakit semua..." kata Hilda. Aku masih bingung ngadepin Hilda, benar-benar susah ditebak. Dengan santainya berhadapan sama aku dengan pakaian yang seperti itu, coba kalau bukan anaknya Ci Vero, pasti sudah aku lumat bibirnya.. kataku dalam hati. "Din.. ayo, malah bengong aja. Pasti kamu takut aku bilang mamih, ya.." katanya sambil tersenyum. Hilda menarik tanganku dan kita menuju ke tempat tidur. Hilda langsung merebahkan tubuhnya, dan disaat di itu pakaian dalamnya tersingkap ke atas, otomatis pahanya yang putih mulus dan vaginanya terlihat jelas. "Din.. aku tau yang dipikirkan kamu. Tetapi karena kamu sudah menyelamatkan aku dari perkosaan, aku bebas jadi milik kamu malam ini. Dan aku perhatikan beberapa kali kamu melihat tubuhku.." kata Hilda sambil bangun dan melepaskan pakaianya. Gila, Hilda telanjang bulat di depanku. Sekarang dia tiduran sambil menghadap ke arahku. "Hilda.. kamu ini macam-macam saja," kataku, mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya. "Kamu ini aneh.. tadi cari kesempatan buat lihat tubuhku, giliran disuruh lihat aku sudah telanjang malah kamu selimuti. Kamu cowok yang unik.." katanya. "Din, aku orangnya bebas. Selama sama-sama mau, no problem, paham kan. Jadi kalau kamu memang nafsu dan pengen sama aku, ga usah takut mamih.." katanya. Ini cewek nyrocos saja, aku sudah nahan-nahan malah terus memancing-mancing.. Tapi tidak untuk kali ini. Entah kapan, mungkin aku bisa menikmati kamu, Hilda. "Ya sudah, sini tiduran. Emang kamu ga cape, habis gebukin orang..." kata Hilda. "Ya sudah.. santai saja.." jawabku, yang akhirnya aku rebahkan badanku di samping Hilda. "Din, jujur baru kali ini cowok yang lihat aku telanjang tetapi ga nafsu sama aku.." kata Hilda sambil melihat ke arahku. "Bukannya ga nafsu. Kalau ada cowok lihat tubuh kamu yang indah dan wajah kamu yang cantik begini dalam keadaan telanjang, berarti cowok itu ga normal... Cuma aku berupaya profesional saja. Ga tau nanti di lain kesempatan," kataku gemes sambil aku cubit pipinya. "Aduhhh.. kamu malah KDRT sihh.." katanya sambil manyun. "Hahaha, KDRT.. berarti kita suami istri dong.." kataku. "Lah, kamu tadi bilang kalau aku cewek kamu.. Ihhhh, ngaku-ngaku tetapi tidak berani.." kata Hilda, dilanjut tertawa. Ternyata anak ini enak juga, aku terlihat jadi akrab sama dia. "Karena kamu sebagai cowoknya ga berani, aku ceweknya yang harus berani.." kata Hilda, langsung bangun dan mencium bibirku. Mendapatkan perlakuan seperti itu, aku tak bisa menolak, akupun membalas ciumannya. Kita saling menikmati untuk beberapa saat. Hilda menarik tanganku dan diarahkan ke buah dadanya yang terasa sudah mengeras. "Hemm.. Hilda, aku menghargai kamu. Next time aku janji, kalau memang ini tulus kemauan kamu, aku akan layani kamu. Tapi tidak untuk sekarang ya.. Sudah, kamu tidur, aku peluk saja.." kataku sambil melepaskan tanganku dari buah dada Hilda. Terlihat Hilda sedikit tersinggung... dia tidak bicara apa-apa, cuma tanganku ditariknya untuk memeluk. Akhirnya akupun tertidur di samping Hilda dengan bermacam-macam pikiran. Typo Hilda Aku ga ngerti dengan cowok ini. Awalnya aku memang ga suka, karena aku yakin kalau Dino disuruh mamih buat ngawasin aku. Dino bukan seperti supir atau karyawan lainnya. Aku lihat mamih dekat dengan Dino, apa lagi Ii... Aku pikir mamih bohong kalau Dino pernah nolongin dan jago beladiri. Setelah aku tes kemarin di kampus, ternyata memang pintar beladiri. Tetapi aku masih tetap ga suka saja. Entah kenapa setelah kejadian tadi, betapa marahnya dia sama yang coba memperkosa aku dan dia melindungi aku, aku jadi mulai tertarik. Dan sekarang sesudah di hotel, awalnya aku mau ngetes saja, apakah dia sama saja seperti cowok-cowok brengsek yang gila uangku sama tubuhku.. Bahkan aku sampai rela karena kemauanku sendiri, entah sebagai rasa balas budi atau bagaimana. Dino tetap menghormati dan menghargai aku. Dengan sopannya dia menolak, sehingga aku tidak merasa direndahkan. Bahkan ketika aku suruh meluk, dia memelukku tetapi di luar selimut yang menutupi tubuhku yang telanjang. Selama ini yang aku kenal cuma cowok-cowok yang brengsek, tetapi kali ini Dino lain. Bahkan disaat aku pura-pura tidur, dia mengelus-elus rambutku dan mencium keningku.. hal yang tak pernah aku rasakan, seperti belain dengan penuh kasih sayang. Aku jadi pengen mengenal lebih jauh seperti apa Dino ini. Typo Dino Seperti biasanya aku bangun kisaran jam 7 pagi. Aku lihat Hilda sudah bangun, sedang duduk di sofa sambil minum kopi. "Pagi Hilda.. gimana badannya, sudah enakan belum?" kataku. "Pagi jagoanku.. udah segar dan aku tidurnya pulas banget. Aku seperti ada yang belai dan elus rambutku dan cium keningku, makanya aku bisa tidur pulas, sudah itu aku dipeluk. Coba, gimana ga aman dan nyaman.." jawabnya sambil tersenyum. "Iya, maaf, itu semalam aku yang lakukan. Entah kenapa aku jadi pengen aja," kataku. Aku berjalan dan duduk di samping dia.. "Aroma kopinya enak juga neh.." kataku sambil memperhatikan wajahnya dari samping, dan disaat itu Hilda menoleh ke arahku. "Heh.. mau, minum aja, kalau males bikinnya.." katanya agak grogi sambil mengalihkan pandangannya. "Din.. kok aku jadi grogi dilihatin kamu, ihhh. Sudah dibilang jangan cari kesempatan begitu, giliran disuruh lihat malah ga mau.." katanya sambil cemberut. "Bangun tidur.. cium aroma kopi dan ada gadis yang cantik polos di depan mataku. Apa salah dan ga boleh kalau aku melihat penuh kagum.." kataku. "Kamu muji apa ngledek aku? Belum mandi, masih kucel begini juga.." katanya manja. "Di sini lah yang aku bilang tadi. Aku lebih senang melihat wanita polos, kalaupun dandan ga terlalu menor, kalau memang dasarnya cantik seperti kamu. Lagi ngapain juga cantik.." kataku sedikit menggoda. "Kamu ini cowok yang aneh.." Kata Hilda, tiba-tiba langsung bangun dan duduk di pangkuan ku dan langsung mencium bibirku. Aku tak kuasa menolaknya.. Aku lihat Hilda membuka ikatan baju tidurnya dan langsung melepaskannya. Sekarang tubuhnya sudah telanjang bulat. Dengan sangat agresif Hilda mencium bibirku dan sekarang pipi dan leherku. Gila, aku dibikin ga berdaya menghadapi gadis ini. Hilda sedikit mengangkat tubuhnya sehingga buah dadanya yang putih, sangat menggairahkan, sudah tepat di antara wajahku. Aku kali ini tak bisa menolak. Aku pegang buah dada itu, aku cium dan aku lumat putingnya, aku mainkan sambil aku remas. "Din.. ohss, ayo lakukan yang lebih.." terdengar desahannya. Aku berikan ciuman yang panjang di bagian pinggir buah dadanya yang meninggalkan tanda memerah. Aku harus menyudahinya, karena aku sudah janji sama Ci Vero untuk berupaya menjaga dan melindunginya, dan kalaupun harus terjadi mungkin tidak sekarang. Ini terlalu cepat, malah nanti aku dibilang manfaatkan situasi. Aku harus profesional. "Hilda.." bisikku ke telinganya.. "Iya Din.. ayo lanjutkan.." katanya memohon. "Kamu sangat cantik dan menggairahkan. Dari setiap jengkal tubuhmu tidak ada yang tidak membuat aku nafsu melihatnya. Kamu wanita yang sempurna.." kataku sambil aku tatap kedua matanya. "Jangan sekarang. Pasti nanti aku akan layani kamu semaksimal mungkin.." kataku. Tiba-tiba Hilda bangun dan berdiri sambil melihatku. "Kamu cowok yang pengecut.. Aku kecewa sama kamu. Sekarang aku tidak mau lihat kamu, jadi kamu pergi saja. Besok baru jemput seperti biasa." Katanya datar, dan dari sorot matanya timbul kemarahan dan kekecewaan. "Ok, kalau kamu maunya seperti itu.. Ini kunci mobilnya. Aku pamit. Maaf, bukan aku tidak menghargai kamu, tetapi justru aku menghormati kamu, Hilda.." kataku. "Sudah ga usah banyak alesan... Aku sudah tidak butuh kamu saat ini, silahkan tinggalkan aku.." katanya setengah berteriak dan sepertinya mau menangis.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 20
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal