EPISODE 04
Part 4
"Ci... mau dilanjutkan di sini atau di kamar?" tanyaku.
"Kamu maunya?" Ci Jeny balik bertanya.
"Aku maunya...."
Tanpa melanjutkan kata-kataku, aku langsung membonceng tubuh Ci Jeny ke ranjang. Aku terlentang di sampingnya, matanya tak berkedip memandangi tubuhnya yang entah kenapa tak pernah bosan untuk dikagumi.
Tubuh yang seksi... montok. Buah dadanya yang putih bersih bagai salju, perut yang masih datar dan kencang meski sudah pernah melahirkan.
"Hei... ngapain lihatin aku kayak gitu? Malu, tau!" kata Ci Jeny.
"Itu tandanya saya mengagumi dan terpesona sama encik. Bosku yang cantik, bosku yang sexy dan hot, montok. Bosku yang baik dan..."
"...dan yang bawel, yang suka ngomel-ngomel dan judes, kan?" Ci Jeny menyambung omonganku yang terputus.
"Lah, saya kan nggak ngomong begitu, encik sendiri yang bilang. Tapi yang saya bilang barusan itu benar semua," balasku.
"Dasar tukang ngegombalin cewek, ya kamu," katanya sambil manyun. "Sekarang masih bengong aja. Bukannya ini yang kamu impikan selama ini? Suka curi pandang lihatin tetekku segala. Dasar mata mesum!"
Aku tak menjawab lagi. Aku langsung menindih tubuhnya, melumat bibirnya yang tipis dan sensual... Hmm, Ci Jeny malah membalas. Lidahnya bermain liar di dalam mulutku beberapa saat.
Setelah itu, aku angkat kedua tangannya ke atas. Sempurna. Keteknya yang putih bersih kucium dan kujilat.
"Hemmm... Sss... Dinnn... geli tau... ahh sss..." desahnya.
Sementara tanganku meremas pelan payudaranya.
"Ohh kk ss... Din... jorok kamu, jilatin itu," katanya sambil protes.
"Tubuh dengan perawatan mahal, putih bersih, wangi parfum mahal begini... nggak pakai parfum pun saya akan ciumin dan jilatin semua tanpa tersisa," kataku. "Kenapa saya harus geli?"
"Dah mulai gombal lagi..." katanya, yang kini mulai menggoyang-goyang pinggulnya, membuat batang penisku bergesekan dengan bibir vaginanya.
Kuciumi buah dadanya dengan penuh perasaan. Kuremas pelan dan kumainkan puntung teteknya yang berwarna merah muda.
"Ohhh ssstt... Din... kamu pintar banget bikin aku cepat terangsang."
Sambil kugesekkan penisku ke bibir vaginanya, beberapa saat kemudian tangan Ci Jeny malah memegang batang penisku dan mengarahkannya ke lubang vaginanya.
"Hemm sssttt... tekan pelan, Din... Ohh ssstt..." terdengar rintihannya.
Pelan tapi pasti, akhirnya batang penisku amblas seluruhnya ke dalam vagina Ci Jeny yang terasa masih rapat.
Kugoyangkan pelan, kukocok perlahan. Kini kedua kakinya sudah melingkar di tubuhku, dan hentakanku mulai kubuat. Hampir sepuluh menit, kurasakan tubuhnya mulai melengkuh disertai erangan.
"Dino... ohhaaa... ohh sss... aku mau keluar lagi, Dinn... terus, Din... akhh sss..." teriaknya hingga napasnya terengah-engah.
Tanpa kuberi kesempatan lebih lama, aku segera balikkan tubuhnya ke atas, tanpa mencabut batang penisku.
Kini di atas tubuhku, aku semakin menyadari betapa cantiknya Ci Jeny. Buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi padat dan bersih.
"Dinnn... jangan lihatin aku kayak gitu," katanya yang sudah mulai menggoyang pinggulnya.
"Tapi beneran, encik sangat cantik dan mempesona," kataku, membuat wajahnya memerah malu dan menoleh ke samping.
"Ahh ss... kamu ini... ohh kk ss... enak, Din... punya kamu rasanya mentok... penuh banget di dalam punyaku..." Ia mulai mempercepat goyangannya, maju-mundur, membuat buah dadanya bergoyang mengikuti irama napas dan desahannya.
"Din, tanganmu pegang tetekku... ahh ss... ya, begitu... lebih kencang lagi, Dinnn... ohh kk ss..."
Kubantu Ci Jeny mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Saat ia memajukan dan menurunkan pantatnya ke bawah, kuhujamkan batang penisku dengan keras, mengangkat pinggulku tinggi.
"Ouwh hh... akhh ss... Din... ssttt..." erangan dan rintihan Ci Jeny semakin sering terdengar.
Beberapa saat kemudian, saat kuremas pantatnya dan kugoyangkan pinggulku...
"Dino... Dinnn... aku keluar lagiii... akhh ss... kamu luar biasa!"
Akhirnya tubuh Ci Jeny ambruk, masih di atas perutku.
"Din... kuat banget kamu. Minum obat apa?" katanya.
"Saya alami, Ci. Nggak pernah minum gituan," jawabku.
"Din, kamu masih lama nggak keluarnya? Soalnya aku ada janji sama tamu yang mau beli unit," kata Ci Jeny.
"Oh, ya sudah, nggak apa-apa. Nggak bisa sekarang, besok kan masih bisa," kataku.
"Besok? Oh no... no... no... ini yang pertama dan juga terakhir. Walaupun aku sangat menikmati dan jujur puas sama kamu," katanya.
Tapi aku sudah mengantisipasi sikap Ci Jeny seperti ini.
"Ok, kalau begitu... besok kita viral, Ci," kataku sambil mengambil hidden cam yang kusimpan di bawah TV.
"Nih, yang akan membuat kita viral. Kalau aku bangga bisa begitu sama bosku yang cantik, kalau encik maunya hukuman sosial — bukan hanya encik, tapi semua keluarga dan saudara Ci Jeny yang akan merasakannya," kataku.
"Ingat, tubuh ini sekarang aku yang menentukan, dan siapa yang berhak menikmatinya," kataku sambil memakai pakaianku.
"Bajingan kamu, Dino!" Plak! Plak! Ci Jeny menampar wajahku.
Aku tak membalas, tak berkata apa-apa. Aku langsung berjalan menuju pintu untuk keluar.
"Dino... Din... benar kamu akan sebarkan apa yang sudah kita lakukan?" katanya sambil menangis.
Bersambung