EPISODE 05
Episode 5 — Bonus
"Maaf Ci Jeny, bos yang terhormat. Saya cuma kacung Anda," kataku sambil merapikan pakaian, siap melangkah keluar dari kamar hotel itu.
"Dan Anda adalah wanita terhormat yang mencoba selingkuh. Semoga besok kita viral bersamaan. Terima kasih, Ci Jeny, bosku yang terhormat."
Belum juga tanganku menyentuh gagang pintu, tiba-tiba tangannya mencengkeram lenganku, lalu memelukku dari belakang.
"Kamu mau ke mana? Setelah dapat semua yang kamu mau, kamu tinggalkan aku sendirian di sini?" suara Ci Jeny bergetar, aku bisa merasakan tubuhnya gemetar menempel di punggungku.
"Loh, bukannya tadi encik yang datang sendiri ke sini, bawa mobil pula. Maaf ya, nggak pantas kan seorang nyonya bos terhormat bareng sama bajingan kacungnya sendiri," jawabku pura-pura dingin.
Sebenarnya dari tadi aku cuma menggertak. Aku tahu betul, Ci Jeny tidak akan pernah berani menanggung aib kalau video tadi beredar. Kartu as itu tetap di tanganku—eh, di tanganku.
"Din... maafkan aku. Aku kesal karena kamu menganggapku perempuan murahan, sampai kamu bisa memberikan tubuhku untuk orang lain..." ujarnya lirih.
"Oke. Sekarang saya berjanji akan menjaga semua ini, termasuk yang encik lakukan kemarin. Tapi ada syaratnya," kataku tegas.
"Aku harus melayani kamu setiap saat kamu mau?" tebaknya.
"Bukan melayani. Kita melakukan. Biar tidak terkesan murahan. Dan encik harus mengikuti semua yang saya mau, semua yang saya perintahkan."
Ci Jeny menarik wajahku sampai mata kami bertemu. Di sepasang matanya ada campuran amarah dan kepasrahan yang aneh.
"Aku benci kamu... tapi aku butuh kamu. Baik. Aku ikuti, sampai kamu puas."
Mendengar jawaban itu, melihat wajahnya yang memerah, kucium bibirnya perlahan. Lembut. Dan dia membalasnya. Lidah kami bertemu, saling menjilat, saling menelan erangan kecil di sela ciuman.
Akhirnya kami meninggalkan hotel menuju parkiran.
Sebelum mobil kukendarai, kulirik dia.
"Sekarang di sini tidak ada bos dan anak buah. Kecuali di kantor—di situ saya tetap jaga wibawa encik. Dan satu lagi, pindah duduk di depan. Maaf, saya bukan supir pribadi."
Dengan wajah bingung, Ci Jeny pindah ke kursi depan.
"Sekarang saya minta encik buka celana panjangnya. Dan celana dalamnya juga."
Wajah Ci Jeny langsung memerah. Semerah itu. Campuran marah dan malu menyatu di sana.
"Kamu ini kelewatan! Gila! Nanti semua orang melihat aku!" sergahnya.
"Coba dipikir, dari luar kelihatan apa nggak?" tanyaku santai.
"Biar nggak kelihatan dari luar, Din, tapi rasanya aneh! Aku pasti merasa telanjang di tempat umum!"
"Nah, bagaimana kalau sampai viral main film begituan sama saya?" sahutku sambil pura-pura mengancam lagi.
"Terserah kamu lah..." katanya sambil menurunkan ritsleting celana panjangnya. "Ngapain kamu lihatin..."
"Lah, tadi malah saya jilatin."
"Lain suasana, aku malu, Din..." katanya sambil menurunkan celana dalamnya sampai ke pergelangan kaki, lalu melepasnya sama sekali.
Yes. Sedikit demi sedikit aku berhasil membuatnya binal, batinuku senang.
Mobil melaju ke jalan raya. Terlihat jelas duduknya gelisah. Aku bahkan melarangnya menutupi wajah, apalagi bagian bawah yang kini telanjang bulat. Pahanya yang putih dan mulus terbuka lebar, memantul kena cahaya matahari yang masuk lewat kaca mobil.
Ketika berhenti di lampu merah, kulihat wajah cantiknya dengan mata sipit itu sudah pucat.
"Lama banget hijaunya lampu merah ini..." gumamnya gelisah.
Yes, giliran aku kerjain lagi. Lampu sudah kuning, tapi jalanan macet, mobil bergerak sendat-sendat. Tangan teritoro-terontok kesel menutupi pahanya yang montok itu.
"Aduh Din, jangan..." erangnya tertahan.
Kubuka kaca jendela. Seorang bajing laut berdiri di samping mobil.
"Bang, permen dong," panggilku.
Si bang jalan malah bengong, matanya menatap ke dalam mobil. Jelas-jelas melihat paha putih mulus Ci Jeny sampai ke bokongnya yang bohai itu.
"Bang... malah bengong. Emangnya lihat apaan?" protesku.
"Oh... iya, Pak. Ini... ini," jawabnya panik, sambil matanya masih melirik ke dalam mobil.
Aku bayar permennya, tutup kaca jendela, dan mobil melaju.
Awalnya Ci Jeny mau melarang, tapi sudah terlambat. Dia cuma memalingkan muka ke arah lain, malunya memuncak.
"Din... kamu brengsek ya! Mau mempermalukan aku..." katanya sambil memukul-mukul pundakku, seperti mau menangis.
"Maaf, Ci... tadi saya lupa, kaca kebuka duluan. Gimana?" jawabku nggak tau malu.
Sesampai di dekat kantor, dia memohon.
"Din, kamu jangan gila-gilaan lagi ya... Berhenti dulu di tempat yang agak jauh, biar aku bisa pakai celananya."
"Tenang saja, Ci, kita masuk lewat pojok parkiran. Aman," jawabku. Mobil terus melaju masuk ke area kantor.
Wajah cantik Ci Jeny pucat dan berkeringat, padahal AC mobil menyala kencang.
Mobil kuparkir di pojok parkiran yang sepi.
"Ci, rebahkan bangkunya! Cepat! Security datang ke mari!" kataku pura-pura panik. Padahal tidak ada siapa-siapa yang datang. Dengan sigap dia merebahkan sandaran bangkunya, telanjang bulat di bawahnya.
"Mana? Mana security-nya, kamu ini..." tanyanya panik.
Aku pura-pura melihat ke belakang. "Coba saya lihat dari spion dulu..."
Dan tepat di posisi itu, wajahku berada persis di atas vaginanya yang tembem dengan bulu kemaluan lebat. Tanpa pikir panjang, kuhirup aromanya, lalu kujilat sebentar bibir bawahnya yang gurih itu.
"Aihhh... Din! Kamu memang sudah gila!" erangnya kaget, tapi terdengar ada nada nikmat di sana. Dia buru-buru memakai celananya sampai lupa celana dalamnya yang masih kugenggam.
Sebelum dia keluar dari mobil, Ci Jeny mencubit lenganku kencang.
"Awas kamu ya..." katanya. "Nanti masuk ke ruanganku."
Hahaha... hari ini adalah hari yang spesial buatku. Hari yang indah. Aku segera memasukkan celana dalam Ci Jeny itu ke dalam tasku, lalu keluar mobil.
Begitu masuk kantor, aku nyelonong begitu saja ke arah ruangan encik.
"Eh, Din! Mau ngapain? Encik lagi ada tamu," bentak staf yang paling aku nggak suka itu.
"Lah... emangnya kok bisa, Mbak? Nanti kalau saya kena marah, saya traktir makan sore deh, semua," jawabku santai.
Kulihat mereka saling berbisik. Aku langsung melangkah masuk.
Ada dua orang tamu yang duduk di depan meja Ci Jeny, sehingga posisi duduknya membelakangi aku di depan pintu ruangan.
"Kenapa, Din?" tanyanya dengan suara datar. Hmm... baru kali ini aku tidak dibentak.
"Tadi katanya saya disuruh menghadap," jawabku sopan.
"Iya, nanti saja. Masih ada tamu," katanya sambil menyuruhku keluar.
Pelannya kuletakkan tasku, lalu kueluarkan celana dalamnya. Kutunjukkan itu tinggi-tinggi di depannya, tepat di depan wajahnya, hanya beberapa meter dari dua tamunya.
Wajah Ci Jeny langsung merah padam. Untung saja kedua tamu itu sedang sibuk menulis, jadi tidak melihat perubahan ekspresi nyonya bos mereka.
"Kamu bawa ke ruangan dalam, Din! Tasnya!" bentaknya sambil melotot, monyongin bibirnya.
Aku balas dengan mengedipkan satu mata dan senyum lebar.
Bersambung...