←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 06 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 06
Part 6 Aku langsung masuk ke ruangan Ci Jeny yang ada di bagian dalam. Tak lama, dia menyusulku dan menutup pintu. "Makanya jangan buru-buru, masa sih kurungan ditinggalkan begitu saja," ujarnya sambil mencium celana dalam yang kupegang itu. "Idihh.. kamu ini memang kelainan. Jorok, Dino. Katanya mau merebut celana itu." Saat dia hendak merebutnya, aku menarik tubuhnya dan mencium bibirnya. Sekali lagi, Ci Jeny tidak berusaha menolak, apalagi berontak. Malah kurasakan ada perlawanan kecil dari bibirnya—perlawanan yang justru memeluk lidahku lebih dalam. "Sudah, ya. Aku masih ada tamu," kata Ci Jeny melepaskan diri dan kembali ke depan. Gila. Benar-benar mimpi jadi kenyataan. Aku bisa mencium Ci Jeny—bos yang paling judes dan galak di kantor ini. Sebenarnya aku kasihan, ga tega juga. Tapi entah kenapa, aku justru menikmatinya. Setelah tamunya pergi dan Ci Jeny mengantar sampai depan, aku menyusul masuk. "Ci, maaf tadi. Saya sudah melarang Dino masuk, tapi malah nyelonong saja," kata staf yang senang cari muka itu. "Memangnya kenapa dilarang? Apa saya suruh kamu melarang Dino masuk?" jawab Ci Jeny sambil masuk ke dalam ruangannya. "Hahaha... susah ya kalau mau dapat duren, yang didapat malah kulitnya.. bonyok," godekku sambil menyusulnya. "Tutup pintunya," perintah Ci Jeny begitu aku masuk. "Kenapa lagi? Mau isengin saya?" tanyanya sambil menatapku dalam-dalam. "Ihh, takut saya dilihat begitu," jawabku sambil tersenyum. "Hari ini kamu sudah mengubah hidupku. Walau dibilang gila dan nekat sampai jantungku rasanya mau berhenti bernapas.. tapi aku senang. Pikiranku tidak stres kerjaan terus. Terima kasih, Din.." "Kamu mau minum apa? Biar Rini yang antar kemari," katanya. "Ga usah. Ga enak kalau minumnya di sini," jawabku. "Apaan seh, Din. Aku tahu maksud kamu ini kan," katanya sambil menunjuk buah dadanya. Aku tertawa, diikuti dia. "Jangan, Ci. Saya tetap jaga wibawa encik. Jangan sampai nanti yang lain jadi curiga," kataku. "Hemm.. kadang kamu benar juga. Tapi kebanyakan gilanya," sahutnya sambil tertawa. "Besok pagi kamu ambil motor yang tadi ditinggal di sana. Terus ke rumah, antar aku sama Ci Vero, ya. Awas jangan molor. Kamu tahu kan orangnya Ci Vero gimana," katanya. "Siap, bosku yang....." kataku sengaja menggantung kalimat. "Yang apa? Terusin kalau ga aku marah nih.." "Lah, biasanya kalau di sini.. saya sudah ga kaget dimarahin," balasku sambil tersenyum. "Jawab ga, Din!" Katanya menghampiriku dan memelukku yang sedang duduk di bangku. "Yang cantik.. dan baik." Bibirku mencium pipinya. "Makasih, Din. Kamu telah memberikan pelajaran baru dalam hidupku," katanya, dan kali ini bibirnya melumat bibirku untuk sesaat. "Ya sudah, saya pamit ya, Cik," kataku. "Sebentar." Dia mengambil uang dari dompetnya—one juta—dan menyerahkannya padaku. "Tambahin 50rb lagi dong, Ci," kataku. Begitu dia menambahkan 50rb, uang sejuta itu kubalikkan. "Ini saja, buat beli bensin sama bayar parkir besok," kataku. Ci Jeny tersenyum senang. "Memangnya kenapa ga mau ambil? Aku serius, ga dipotong bulan depan," katanya setengah bercanda. "Kalau saya ambil uangnya, nanti saya dikira jasa layanan atau gigolo dong," kataku. Tawa kami beradu. --- Aku sampai di rumah bos jam 10 pagi. Molor 30 menit dari yang diminta. Siap, dua-duanya kena semprot, pikirku. Benar saja. Baru saja aku memarkir motor, Ci Vero sudah menyambungku. "Tiap kamu yang jemput pasti telat. Lelet kayak keong! Masih mau kerja ga??" katanya sewot. Tadinya aku mau menjawab, tapi Ci Jeny yang ada di belakang Ci Vero memberi kode—menutup mulutnya dengan jari dua tangannya. Hem.. sama-sama cantik. Tapi Ci Vero buah dadanya lebih montok. Saat Ci Vero masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas, Ci Jeny menyambungku. "Din.. awas, mata kamu jangan jelalatan begitu. Tar bisa kena gampar sama cicik. Dari tadi nunggu sudah ngomel terus," kata Ci Jeny. Saat kami sedang mengobrol, Ci Vero keluar dari rumah. "Ngapain dia? Mau kasbon?" tanyanya ke Ci Jeny. "Ga.. Dino nanya mau ke mana, kira-kira pulang jam berapa," jawab Ci Jeny. "Pakai nanya pulangnya.. kan kalau itu juga dibayar lemburan," sahut Ci Vero. "Sudah, jalan!" --- Di dalam perjalanan, aku sering melihat ke belakang melalui kaca spion tengah. Beberapa kali kepergok Ci Jeny, tapi dia diam saja. Ci Vero terlihat sudah tertidur, sedangkan Ci Jeny masih main HP. Aku mau menguji sampai di mana Ci Jeny tunduk padaku. Kucambil HP dan ku-chat dia. "Cik," kataku. "Awas bawa mobil, jangan main HP," balasannya. "Ciciknya yang judes galak kasih sedikit pelajaran.. buka 2 kancing kemejanya," kataku. "Hah!! Kamu mulai gila. Gimana nanti kalau Ci Vero bangun??" "Yah, namanya juga tertidur. Ga mungkin punya pikiran. Pasti aku yang buka," balasku sambil mengirim imot love. "Hemm.. belajar genit ya.." Aku ga bales. Cuma menunggu reaksinya saja. Perlahan, sesekali kupandangi pantulan di spion. Kancing kemeja bagian dalam mulai terbuka. Dan ada bonusnya—Ci Vero kakinya sedikit diluruskan, rok yang dipakainya terangkat naik ke atas. Wow.. Terlihat buah dadanya menonjol putih dengan bra hitamnya, dan pahanya yang mulus. Hemm.. "Makasih ya, bosku," chatku ke Ci Jeny. "Puas sekarang? Pasti nanti minta lebih.." balasnya. Sekarang giliran aku yang mau isengin Ci Vero yang sedang tertidur puas.. Lagi-lagi lampu merah. Kuperhatikan ada dua pengamen yang berjalan menuju mobil. Setelah setelan mendekat, kujatuhkan jendela bagian Ci Jeny. "Cik, tolong kasih saja 2rb, daripada nanti mobilnya digores..." Dua orang pengamen itu berhenti diam, melotot melihat posisi Ci Vero yang tertidur. Buah dadanya terlihat jelas walau tidak penuh. Begitu pula pahanya yang menggoda. Bersambung...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 05
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal