←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 07 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 07
Episode 7 "Cok... rezeki. Iki cok, iso kon ngloco," kata si pengamen sambil nyengir lebar. Aku langsung menutup kembali jendela mobil dan jalan perlahan kembali ke belakang, meninggalkan si pengamen yang masih terkikik puas. Pluk. Chat dari Ci Jeny masuk. "Kamu berani banget dan keterlaluannn.." Aku mengetik balas, tenang, sambil menyembunyikan senyum di balik wajah datarku. "Encik sebagai adeknya lebih tahu Cik Vero daripada saya. Kalau memang tindakannya lebih dari encik, saya siap bantu kasih pelajaran." "Maksudnya... Ci Vero jalan selingkuh??" balas Ci Jeny. Aku bisa membayangkan alisnya mengatup membaca chat itu. "Saya nggak bilang seperti itu. Tapi kalau memang iya, masa' encik doang yang kena hukuman atau peringatan?" Aku coba memprovokasi, menekan luka yang belum tentu ada — tapi luka begini rasanya selalu ada. "Karena kalau sudah selingkuh, pasti berlanjut dan merusak rumah tangga. Karena ada main cinta." Beberapa detik hening. Lalu, "Hmm... bener juga ya, Din. Ci Vero lebih parah." Aku mulai menggencarkan tekananku. "Apa mau dibiarkan saja? Sebagai adek, mau lihat keluarganya berantakan? Itu bom waktu, tinggal nunggu meledaknya." "Terus apa bedanya sama kamu? Ujungnya begitu juga kan.." balasnya. Cerdik juga, anak ini. "Beda. Sama saya tanpa cinta, tanpa perasaan. Itu jadi sok terapi. Encik ambil dari pengalaman encik sendiri... Apakah sekarang masih ada rasa berbohong sama Koh Ahan?" Lama jawabannya. Aku bisa melihat dari spion, gadis itu terdiam menatap layar ponselnya. "Hmm... bener juga. Aku sekarang keluar atau jalan jauh lebih nyaman, nggak ketakutan kayak sebelumnya... Tapi kamu dong yang menang banyak." "Nanti dibahas lagi," jawabku singkat. Hampir bersamaan, dari spion kulihat Cik Vero bergerak. Dia mulai bangun, matanya berkedip-kedip menyadari keadaannya. "Jen... aku tidur pulas sampai berantakan begini pakaianku..." Dia langsung merapikan roknya yang tergulung, sementara bh-nya masih menggantung tak karuan. "Wah... itu supir pasti matanya sudah jelalatan lihat semuanya." "Din... beneran lo tadi sempat lihat semuanya?" Ci Jeny menoleh ke arahku. "Maaf, Cik, saya nggak sengaja. Saya lihat ke belakang waktu dipanggil Cik Jeny. Cuma lihat sebentar," jawabku pura-pura malu. "Wah kurang ajar dia ini, Jen! Awas kalau sampai aku kasih kamu hukuman!" Cik Vero menunjuk-nunjuk ke arahku. Perjalanan berlanjut sampai akhirnya tujuan tiba di daerah Depok. Begitu mobil parkir dan kedua bosku siap turun, aku sengaja membukakan pintu untuk Ci Jeny dulu, baru Cik Vero. Dan itu... kesalahan besar. Begitu pintu terbuka, Cik Vero turun dan langsung melotot tajam di depanku. "Tolol amat kamu! Kalau mau bukain pintu, harusnya Cik-nya dulu baru Jen! Nah, ini hukuman buat kamu yang sudah menelanjangi aku dengan matamu—" PLAK! Sebuah gamparan mendarat keras di pipiku. Supir kurang ajar sama majikannya. Gila. Aku sampai kaget. Sakit sih, bukan masalah — tapi maluku adalah rasa malu, karena tempat parkir itu ramai orang. Beberapa kepala menoleh ke arah kami. Ci Jeny sampai kaget dan langsung menegur Cik-nya. "Cik, nggak begitu juga kali! Kan Dino nggak sengaja, sampai kasar begitu..." Ci Jeny mengeluarkan tisu dari tasnya, lalu mendekat kepadaku. "Sini, bibirmu berdarah..." Ia mengelap bibirku dengan lembut. Aku coba menepis tangannya, "Eh, nggak usah, Ci, nggak apa-apa kok..." Tapi tanganku malah ditahannya. "Sudah diam saja... emangnya enak bandel sih kamu," katanya berbisik, sementara senyum kecil terukir di bibirnya. Haduh... wajah cantiknya yang menusuk lebih dalam daripada sakit gamparan Cik Vero. Jantungku mendadak berdebar tak keruan. Melihat sikap Ci Jeny, Cik Vero jelas nggak suka. "Jen! Ngapain begitu, biarin aja! Sejak kapan kamu perhatian sama karyawan kamu sampai begitu..." Ci Jeny nggak menjawab. Dia cuma menunduk, lalu berjalan mengikuti Cik Vero masuk ke dalam restoran. Hemm... Tunggu saja, bos. Akan ada saatnya kamu bertekuk lutut di hadapanku, seperti adekmu sekarang. Akan aku balas kelakuanmu barusan. --- Hampir seharian aku nungguin di mobil, sambil terus memikirkan cara membalas sakit atas perlakuan Cik Vero tadi pagi. Pipiku masih terasa perih. Tapi entah kenapa, aku sempat tersenyum sendiri kalau ingat perlakuan Ci Jeny — sentuhan tisu di bibirku, bisikannya yang lembut. Hmm... kenapa aku jadi kasihan kalau mikirin mau memanfaatkan Ci Jeny jadi budak fantasi? Jam tujuh malam mereka baru keluar dari resto Korea. Dari jendela kulihat mereka terpingkal-pingkal, jalan sempoyongan. Hemm... bau alkohol sampai ke mobil. Pasti habis pesta minum-minuman. "Din! Neh, buat kamu, aku bawain. Aku tadi lupa kasih uang makan kamu, makanya aku bawain..." kata Ci Jeny sambil tersenyum — tapi jalannya terhuyung-huyung karena mabok parah. "Dasar baru minum segitu udah mabok! Pakai acara bawa makanan buat supir lagi!" caci Cik Vero sewot. Dan benar saja. Begitu mau masuk ke dalam mobil, kaki Ci Jeny terpeleset — kakinya belum pas waktu menginjeksi pelat. Dengan refleks aku langsung menangkap tubuhnya, merangkul pinggangnya yang mungil sebelum ia jatuh. "Awas, Ci! Hati-hati, hampir aja jatuh!" kataku. "Makasih ya, Din... muaaah... cup!" Satu ciuman mendarat di pipiku. Ciuman. Dari Ci Jeny. Wah... mabok parah anak ini, pikirku — tapi rasa hangatnya meninggalkan bekas di kulitku. "Jen! Haduh, parah lo... parah! Supir pakai lo cium begitu! Harus ke salon besok lo, biar nggak kena kuman!" Cik Vero mewekel dari belakang. Aku hampir tertawa mendengarnya. Bukannya marah — mimik wajah cantiknya malah kelihatan lucu banget, mencoba pura-pura jijik padahal matanya memperhatikan kami berdua. --- Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan balas dendamku. Hemm... susah juga. Dan dari spion kulihat mereka berdua sudah tertidur pulas — Ci Vero bersandar dengan mulut sedikit terbuka, Ci Jeny meringkuk lemas karena alkohol. Aku terus mengemudi sampai di satu tempat. Yea... ini sepertinya cocok buat kasih pelajaran buat Cik Vero. Di depan, kulihat sekitar empat orang anak punk sedang mengutak-atik motor gerobak Vespa modifikasi mereka. Lampu jalanan remang. Sepi. Rencanaku sederhana: aku akan bikin mobil seolah mogok di depan mereka — dan kedua bosku yang sedang tidur dengan pakaian nyaris lepas... jadi umpan. Mobil aku pinggirkan tepat di depan mereka. Kulihat Cik Vero dan Ci Jeny masih tertidur pulas, nafasnya terdengar berat, alkohol masih bekerja mengunci kesadaran mereka. Dengan sangat hati-hati dan perlahan, aku naikkan rok Cik Vero... pelan-pelan... sampai ke pangkal pahanya yang putih mulus. Jantungku berdebar hebat — setengah takut dia bangun, setengah gila dibakar rasa pengen ngerjain dia. Lalu kancing bajunya kubuka satu per satu, tiga kancing sekaligus kulepas, dan kusibak bajunya ke samping. Buah dadanya yang montok menonjol di balik bh-nya. Terlihat sangat menggiurkan di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Aku pindah ke Ci Jeny yang memakai celana panjang dan kaos. Kaosnya kunaikkan ke atas sampai ke buah dadanya yang masih tertutup bh. Pelan, hati-hati, kuturunkan cup bh-nya satu... dan gunung kembar itu terluncur keluar, putih, kenyal, dengan sembulnya yang mungil mengeras kena udara malam. Dijamin mata lelaki siapapun pasti terangsang dan nafsu melihat pemandangan ini — dua cewek cantik ketiduran dengan dada terbuka di dalam mobil. Apalagi jalan ini sepi. Aku turun dari mobil. Kaca jendela bagian supir kubuka lebar-lebar. Melihatku, mereka cuek saja, terus sibuk sama motor mereka. Aku berputar ke pintu bagian kiri... ...dan kubuka lebar-lebar. Bersambung
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 06
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal