EPISODE 08
Episode 8
"Permisi Bang... ada tempat tambal ban terdekat di sini nggak?" tanyaku pada segerombolan pemuda yang sedang mengobrol santai di pinggir jalan.
"Wah, nggak tau, mas. Saya bukan orang sini," jawab salah satu dari mereka, tapi matanya tak lepas menatap ke dalam mobil.
Aku menghela napas pura-pura panik. "Waduh... kacau nih. Mobil ban kempes, bawa cewek-cewek cantik lagi, bawaannya pada mabok semua..." ucapku pelan, sengaja kutaburkan sebagai umpan.
Umpanku berhasil. Sempat berbisik-bisik dulu, dua orang di antara mereka menghampiri mobilku.
"Rusak apanya, mas?" katanya sok-sok mau nolong. Tapi temannya berjalan menyusur ke samping kaca, dan otomatis pandangannya jatuh pada ci Vero dan ci jeny — dua sosok yang malam itu memang punya daya tarik yang luar biasa, rok seragam kerja terungkap, dada membulat naik-turun ditarik napas mabok.
"MACAN COY!!! Nggak cuma buat bacol... kita eksekusi aja yok!!" teriak yang tadi menyusur ke samping.
"Wuihh... wuihh... mahal punya nih punya lo bro!" seru mereka, dan aku bahkan nggak paham mereka lagi ngomong apa.
"Lo! Naik, buka pintu belakang! Terus ikutin perintah gue kalau nggak mau mati!" Ancam salah satunya sambil menempelkan pisau di perutku.
Waduh. Ini malah nggak sesuai harapan. Bisa lebih parah, batin aku, sementara kakiku terpaksa melangkah membuka pintu belakang. Tiga orang langsung lolos masuk ke kursi belakang, dan satu duduk di sebelahku di depan, pisau tetap terancam di sisiku.
Bahkan tanpa komando, begitu pintu tertutup dua orang langsung menyosor menciumi leher dan buah dada ci jeny, sementara yang dua — tunggu, empat orang? Tidak, yang satunya menciumi ci jeny — sepasang tangan yang lain meremas buah dada ci Vero, lalu bibirnya turun menjilati paha mulusnya yang tak tertutup rok.
"Belok situ, terus ke pojokan sana!" perintah yang di depan.
Mobil akhirnya berhenti di pelataran gudang tua yang tak terpakai. Cahaya hanya datang dari satu lampu redup. Aku buru-buru membuka pintu, dan mereka memaksa kami semua turun.
"Hai! Siapa kalian, bajingan!" ci Vero berteriak-teriak.
"Diam! Atau pisau ini yang kucocol ke lubang memek lo!" ancam si bergaya preman yang paling dekat dengan ci Vero.
"Din... siapa mereka... akhh..." ci jeny mendorong kepala yang tadi menjilati dadanya, wajahnya panik.
"Turun semua!" bentak mereka. Kami bertiga akhirnya berdiri di pelataran itu.
Aku mengamati mereka. Berkumpul, berdiskusi pelan, walau satu dari mereka terus melirik ke arahku dan bosku.
"Dino, siapa mereka? Kita di mana? Aku takut, Din... pasti... pasti mereka mau memperkosa aku dan ci Vero..." bisik ci jeny, tangannya menggenggam lenganku erat.
Aku melirik ci Vero. Dia sudah menangis ketakutan. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar.
"Din... serius... aku mendingan sama kamu seperti kemarin. Bisa puas, bisa menikmati... daripada diperkosa rame-rame sama mereka..." kata ci jeny lirih — dan kalimat itu membuat ci Vero menoleh kaget.
"Lo main gila sama dia?!" seru ci Vero.
"Dari pada diperkosa sama mereka, pasti milih dan enakan sama Dino, ci," jawab ci jeny, yang masih kelihatan terbawa efek minuman.
"Iya juga sih... nasib kita sudah kacau, tinggal nunggu waktunya aja. Kalau bisa milih... aku juga mau seperti lo..." jawab ci Vero, masih gemetar tapi suaranya mulai mantap.
Dalam hati aku bagaikan mendapat angin segar di tengah gurun.
"Serius, ci Vero? Bener milih saya... kalau sampai ada jalan keluar untuk kita sekarang?" ujarku memastikan.
"Yah, terpaksa juga. Tapi pasti milih yang nggak diperkosa rame-rame," katanya singkat.
"Din... kamu dengarkan. Cici akan pilih kamu... dan tentunya cici akan tunduk sama kamu... terus melayani kamu... hueek..." kata ci jeny sambil menahan muntah.
"Ci Vero, janji ya yang diucapkan tadi," desakku.
"Iya! Cepetan cari pertolongan, itu mereka udah kemari!" serunya panik.
"Baik, ci. Pertolongannya sudah ada di sini. Saya akan berusaha melumpuhkan mereka semua. Tapi saya minta tolong — kalau sudah ada yang jatuh, encik berdua pukul dia pakai apa pun yang ada di sini."
"Kamu yakin bisa?" tanya mereka berdua hampir bersamaan.
Aku tak menjawab. Aku langsung bangkit berdiri. Percuma saja — aku menyandang ilmu dari salah satu perguruan silat di Jawa Timur.
"Bang... yang kalian lakukan ini kejahatan. Kalian bisa dilaporkan, bisa masuk penjara," ujarku, mencoba jalan damai dulu.
"Eh, sopir, nggak usah ikut campur! Kalau lo ikut-ikutan, nanti gw kasih lobang pantatnya aja. Barang bagus kayak gitu mah pasti joss!" jawab mereka diiringi tawa norak.
"Nggak usah nunggu kalian bagi. Mereka sudah menjadi milik saya. Dan yang jelas, saya nggak akan membagikan sejengkal pun tubuh mereka buat kalian."
Mereka terbahak, lengah sesaat — dan detik itulah kucuri. Satu tarikan ke pergelangan tangan si terdekat, tubuhnya terhuyung, dan lututku mendarat menghajar perutnya. BUG! Satu pukulan saja — dia tersungkur memegang perutnya. Melihat ada yang jatuh, ci jeny dan ci Vero entah dari mana mendapat kayu, langsung mengeroyok dan menghajarnya tanpa ampun.
Satu di antara mereka menerjang ke depan, pisau terhunus. SET! SET! Dua serangan datang dari kanan dan kiri.
"Awas, Dino!!" teriak ci jeny, suaranya penuh kecemasan.
Kini aku berhadapan dengan tiga orang, semuanya bergigih dengan pisau. Aku memusatkan tenaga... dan saat celah terbuka, satu tendangan rendah kuhantarkan ke kaki bagian bawah. GUBRAKK! Tersungkur dia ke tanah.
Tersisa dua orang. Aku sempat melirik ke arah si jatuh pertama — sudah jadi mangsa amukan tamu ci jeny dan ci Vero yang memukuli dengan kayu. Tapi lirikan itu membuatku lengah —
BRET! PLAK! BUG!
Satu sabetan pisau mengarah ke perutku. Walaupun aku sempat berkelit, sabetan itu masih kena — tipis, tapi kena. Langsung kutangkis, dan pisaunya menggores tanganku. Darah mulai mengucur. Tapi serangan itu membuka celah: satu pukulan keras mendarat di wajahnya, disusul tendangan ke perut yang membuatnya terpental jauh.
Melihat tiga rekannya terkapar, yang terakhir langsung memakai jurus kaki seribu — kabur, meninggalkan teman-temannya.
Darah masih menetes dari tanganku ketika ci jeny menghampiri berlari.
"Dino... kamu nggak apa-apa?!" Tangannya memegang lenganku, gemetar.
"Nggak apa-apa, cuma sobek sedikit," jawabku ringan.
"Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit!" Katanya membantuku bangkit.
"Nggak usah ke rumah sakit. Cari hotel saja... nanti biar saya obatin sendiri," ujarku sambil tersenyum.
"Kamu ini, luka malah minta ke hotel. Dasar! Ya sudah, aku yang bawa mobilnya."
"Wah, bisa masuk rumah sakit beneran kalau encik yang nyetir. Jalan aja masih kelihatan mabok," godaku, dan untuk pertama kalinya malam itu ci jeny tersenyum tipis.
Aku masuk ke kursi depan, ci Vero masuk ke belakang — tapi ci jeny justru ikut duduk di depan, di sebelahku. Sepanjang perjalanan dari gudang sampai hotel, ci Vero diam total, tanpa sepatah kata pun. Wajahnya sudah tak lagi pucat ketakutan — kini raut itu lain, datar, tak terbaca.
Kami bertiga masuk ke kamar hotel yang lumayan luas dan mewah.
"Din, ini aku sudah minta obat luka sama petugas hotel tadi," kata ci jeny. "Sini bajunya dibuka aja, biar nggak kena darah," sambungnya, dan tangannya sendiri yang membantumu melepaskan bajuku, perlahan, jarinya menyentuh kulitku.
Baru beberapa hari perubahan drastis terjadi pada ci jeny. Jangankan marah atau membentakku — kini dia justru perhatian dan menghawatirkan aku. Batin aku terkekeh sendiri melihat sejauh mana cengkeramanku sudah menguat.
"Tadi... bagaimana awal kejadiannya itu?" tanya ci Vero tiba-tiba, suaranya datar, tatapannya menembus ke arahku.
Hmm. Aku harus berbohong lagi. Kalau tidak, semua yang sudah hampir berhasil ini bisa berbalik kacau, pikirku.
"Itu, ci... mereka tiba-tiba menyeberang sambil dorong motor, begitu mobil berhenti langsung nyerang saya dan masuk ke dalam mobil," jawabku polos.
"Sialan!! Tetekku diremas, diciumi... siapa dia, berani-beraninya begitu sama aku?!" bentaknya, nadanya tinggi. "Terus kita di sini mau ngapain? Obatin luka kamu kan bisa di rumah sakit!"
Malam itu masih panjang. Dan ci Vero belum tahu, bahwa jalan keluar yang dia pilih... sudah berada sedetik saja dari tanganku.
Bersambung...