EPISODE 01
Namaku Rendy Surya. Delapan belas tahun, kelahiran kota kecil di Jawa, anak kedua dari tiga bersaudara — kakak dan adikku sama-sama perempuan. Sekarang aku mahasiswa tingkat satu di salah satu universitas ternama di kota besar, dengan wajah polos dan penampilan yang — jujur saja — culun. Penampilan lugu itu selalu bikin aku kalah bersaing kalau urusan mendekati cewek. Padahal, kalau soal fantasi, jeroanku tidak semurni itu. Satu-satunya pengalaman yang pernah ku(ras)akan hanyalah kegiatan soliter yang selalu kuselamatkan di kamar kos: FAP, forever alone pleasure. Untung tubuhku lumayan — 175 cm, 70 kg, proporsional — walau tidak pernah ada yang sempat menikmatinya selain cermin kamar mandi.
---
EPISODE 1
Kringggggggg!
Alarm HP-ku menjerit nyaring menandai pukul enam pagi. Ku kejang Samsung Note kesayanganku dan kupadamkan suara bising itu. Jendela ku buka lebar-lebar, membiarkan udara segar pagi menggantikan sisa napas panjangku semalaman.
"Randyyyyyy!" — suara nyaring nan keras itu pasti hanya satu: ibuku. "Kamu nanti ke bandara jam berapa?! Ini sudah pagi, buruan sarapan terus siap-siap!"
"Iyaaa, Maaahh! Pesawatnya jam dua belas kok. Aku berangkat jam setengah sebelas. Ini udah bangun," balasku sambil menguap.
Ya, aku tinggal bersama papah, mamah, kakak, dan adik cewekku. Kakakku berusia dua puluh dua, adikku enam belas.
Aku keluar kamar dengan wajah masih menyimpan setengah kantuk dunia. "Barang bawaanmu sudah lengkap, Ren? Jangan ada yang ketinggalan ya," kata ayah. "Sudah, Pah. Tinggal berangkat," jawabku malas-malasan.
Tak terasa jarum jam sudah menunjuk pukul 10.15. Aku bergegas membereskan diri. Tiba-tiba HP-ku bergetar.
Wah, SMS siapa ini? Tumben, pikirku.
[26/02 10.17 AM] Novita Septiana: *HEH JELEK, hati-hati ya. Kabar-kabar kalau udah di sana. Jangan lupa cari pacar.*
Kubaca satu per satu kata-kata perhatiannya. "Yaah, dari kakakku ternyata. Hmph, kukira siapa," gunjingku sendirian. Novita tidak mungkin mengantarku ke bandara — dia sedang sibuk menekuni skripsinya di semester enam kuliahnya di kota ujung timur Jawa.
Novita, dua puluh dua tahun. Dari fisiknya, mungkin tingginya sekitar 168 cm dengan berat 52 kg. Tubuhnya jenjang, dan… jujur saja, toketnya sekitar 34A — tapi bentuk tubuhnya justru membuatnya terlihat tinggi dan seksi. Dan aku harus mengaku meski dia kakak kandungku sendiri, aku sering berfantasi sex dengan perempuan yang bertubuh seperti dia. Fantasi itu tabu, tapi birahi tidak pernah kenal silsilah keluarga.
Liburan semester sudah habis. Saatnya kembali ke rutinitas perkuliahan. "Maah, Paah, Rendy pamit ya. Aku janji baik-baik aja di sana. Bahagia juga," kataku pamit.
"Iya, anak mamah yang paling ganteng, baik-baik di sana ya," jawab mamah, suaranya sedikit berat karena harus melepas anaknya merantau.
Taksi datang membawaku ke bandara.
---
Sesampainya di sana, aku langsung menuju konter check-in. "Tujuan kota J, Mbak. Koper ini masuk bagasi ya, Mbak," kataku datar — hatiku setengah-enggan kembali ke kota itu.
"Iya, Mas. Ini boarding pass-nya. Masuk Gate B, kursi 27A. Boarding jam 11.10," jawab petugas itu. Dari name tag di dadaku terbaca namanya: Andien.
*Hm, aneh. Bandara nggak seramai biasanya. Apa karena liburanku lebih telat dari libur anak sekolahan,* gumamku dalam hati.
Aku menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi penjaja oleh-oleh. "Bakpia, Mas? Bakpia, buat sanak sodara…" Bandara yang biasanya sesak seperti terminal antar kota kini lenggang kangkung. Kubokong saja diriku di kursi dekat Gate B, sambil melirik kanan-kiri — siapa tahu ada kenalan, atau sekadar cewek cantik yang menguntungkan mata. Nggak ada. Sial.
Yah, kembali ke rutinitas: Let's Get Rich di Samsung-ku. Hampir seluruh papan monopoli sudah jadi landmark-ku; tinggal menunggu waktu sampai musuh menyerah.
Tiba-tiba ada wangi parfum menyeruak — tafsirku mahal harganya. Aku melirik sedikit ke arah sumber wanginya, pura-pura tetap konsentrasi ke game.
Siapa tuh? Gila, wangi banget.
Perempuan itu berdiri mantap menghadap jendela besar ruang tunggu, menonton pesawat landing — pesawatku, entah kenapa aku yakin. High heels. Jeans yang melilit pantatnya dengan sempurna. Rambut panjang sedikit bergelombang. Menurut hitunganku, dia berusia di atas tiga puluh, tinggi sekitar 165 cm. Aku penasaran setengah mati apakah dia satu pesawat denganku. Aku masukkan HP ke tas karena boarding hampir. Mataku masih memandanginya, membayangkan tubuh itu…
Dan tepat saat itu, dia memutar badan. Menatap lurus ke arahku.
Aku langsung pura-pura sibuk. Dem-dem, ketahuan. Bodoh banget sih kau, Rendy.
"GA 233 tujuan J, GA 233, Gate B. Mohon jangan meninggalkan barang bawaan anda."
Suara nyaring Andien memecah kosongnya kepala yang tertangkap basah sedang curi pandang. Aku buru-buru memeriksa boarding pass dan barang bawaanku.
Antrean berjalan cepat. Aku kembali bersinggungan dengan Andien. "Nomor 27A ya, Mas. Have a nice flight," katanya sambil tersenyum.
Senyumnya masih manis juga… walau dadanya rata, pikirku nakal.
Satu per satu penumpang melewati pemeriksaan dan berjalan masuk pesawat, disambut senyum khas para pramugari. "Selamat siang."
"Hmm, 27A… ini dia." Tas ku selipkan ke bagasi kabin, lalu aku berontak di kursiku — berdoa jangan sampai aku duduk berdampingan dengan orang gendut.
Tak lama, datanglah dia. Perempuan berparfum mahal itu. Dia berusaha memasukkan koper kecilnya ke bagasi kabin, tapi posturnya yang tidak terlalu tinggi membuatnya kepayahan. Jantungku berdegup cepat. Haruskah kubantu? Soalnya aku baru saja ketahuan basah mencuri pandang dia. Tapi rasa manusiawiku menang.
Aku bangkit dan mengangkat kopernya ke tempatnya. Dia menoleh, tersenyum. "Terima kasih ya, Mas. Walau kecil bawaan saya, tapi berat. Kamu duduk 27A? Aku di 27C."
Suaranya menyejukkan. Senyumnya indah. Dan tubuhnya — pantatnya, persisnya — seksi sekali dari sudut ini.
"I-iya, Tante. Saya di sini, hehe," jawabku grogi, keringatan.
Tante itu tersenyum, lalu berbisik pelan ke telingaku, "Lain kali kalau curi-curi pandang, jangan ketahuan ya. Tadi ngelirik apa lama banget?"
Senyumnya berubah datar, nyaris jutek. "Maaf, Tante. Maaf," bisikku, muka memerah, keringat makin deras.
"Ladies and gentlemen, this is your captain speaking…"
Suara kapten memecah keheningan. Eh, 27B kosong? Ya sudahlah, pintunya sudah ditutup, batinmu— eh, batinku.
Sepanjang pesawat menuju runway, aku diam memandang jendela, sambil mengingat-ingat betapa bodohnya aku tadi. Pesawat melesat ke langit. Cuaca cerah, cuma sedikit turbulensi. Pramugari mulai meluncurkan kereta makanan.
"Mau minum apa, Mbak?" tanya pramugari pada perempuan di kursi 27C.
"Jus tomat aja, Mbak."
"Mas, mau minum apa?"
"Air putih aja, Mbak," jawabku tanpa menoleh ke arah 27C. Aku takut. Jujur.
"Nggak doyan jus ya, kamu?" tanyanya datar.
"Baru pengen air putih, Tante," jawabku sopan, mata tetap terkunci ke jendela.
Tak terasa penerbangan hampir berakhir. Roda landing keluar dengan bunyi khas, pesawat mendarat mulus dan bergerak menuju apron. Pramugari mengizinkan kami beranjak, tapi si tante 27C tidak buru-buru — barangnya berat, mungkin. Dia baru berdiri saat kabin mulai sepi. Dan lagi-lagi aku membantunya menurunkan koper itu. Tak ada ucapan terima kasih. Hanya sebuah senyuman.
Aku bergegas ke ruang pengambilan bagasi. *Ah, mamah ini, sukanya bikin bekel banyak-banyak. Jadinya harus masuk bagasi deh.* Tak lama, tasku muncul di belt. Kuambil, kupamerkan tanda kepemilikan ke petugas.
Mendekati pintu keluar, suara itu menyusulku lagi. "Hey! Kamu naik apa? Sudah ada yang jemput? Bawaanmu besar sekali," tanya si tante — yang sampai detik ini aku belum tahu namanya.
"Iya Tante, aku naik taksi aja," jawabku polos.
"Bareng aku aja. Mau ke daerah mana?"
Aku grogi setengah mati. "Daerah kampus xxxx, Tante. Apa Tante juga ke arah sana?"
"Iyaaa. Udah, bareng aja. Sekalian nemenin ngobrol di jalan — pasti macet hari Minggu gini," ajaknya.
Kami berjalan menuju area parkir. Dia mengeluarkan kunci, dan sebuah Pajero hitam berbunyi klik membuka central lock-nya. "Yuk! Maaf ya, mobilnya kotor, dalemnya berantakan," katanya sambil tertawa. Setelah barangku masuk bagasi — yang isinya penuh sepatu dan pakaian dalam plastik dan kardus — kami pun masuk ke dalam mobil.
"Namaku Dina. Kamu siapa?" Si tante mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan.
"Aku Rendy," balasku dengan grogi khas anak kampung yang baru pertama kali digandeng nasib — dan mungkin, digandeng perempuan lain.
---BERSAMBUNG---