←18+
← Life Changing Experience

Episode 02 — Life Changing Experience

EPISODE 02
EPISODE 2 Aku duduk di kursi depan, sisi penumpang. Memang seharusnya lelaki duduk di belakang kemudi, tapi mobil ini bukan milikku dan bukan pula wewenangku yang menentukan. Mobil SUV-nya cukup besar untuk ukuran seorang wanita. Jujur saja, ada rasa takut berdesakan dalam satu kabin dengan wanita ini. Dia cantik, seksi — bagaimana nanti kalau suaminya atau orang-orang di sekitarnya melihat kami berdua? Dan sejak duduk di kursi ini, mataku diam-diam terus menyapu pahanya. Gemuk, mantap, selangkangannya penuh sehingga membentuk pantat yang begitu seksi di atas jok mobil. Otakku sudah melayang jauh — ingin cepat sampai kost dan berfantasi dengannya. Aaah... pasti nikmat sekali rasanya. "Kamu kuliah? Kerja? Atau apa, Rend?" Suara lembut Tante Dina memecah keheningan perjalanan — walau radio tak berhenti mengalunkan lagu dan klakson kendaraan di jalan terus mengaum. "Iya, Tante. Ini baru semester dua, masih mahasiswa baru. Tante sendiri habis dari kota S, ngapain?" tanyaku balik, sekadar biar terkesan ramah. "Kamu kok pengin tahu sih kegiatan Tante," jawabnya bercanda. Justru jawaban itu membuatku makin segan untuk bertanya. "Enggak, Rend, bercanda, haha. Aku abis ada seminar." Hm, seminar ya. Apa dia seorang akademisi, atau apa? Tidak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan. Memang bakatku bukan pembuka obrolan — susah bagiku memulai atau mengulas pembicaraan jadi menarik. Tapi ya beginilah aku: ada wanita cantik di sebelahku, yang sebenarnya bisa jadi tempat latihan ngegombal, tapi tubuhku tetap tidak berkutik. Sudah empat puluh lima menit perjalanan ketika kami akhirnya memasuki daerah kosku — memang agak jauh dari kampus, tapi begitulah yang diinginkan orang tuaku, agar aku fokus belajar dan tak terganggu hingar-bingar kehidupan mahasiswa. Penghuni kos ini rata-rata para pekerja, ada pula beberapa pasangan suami istri. "Lho, daerah ini kan lumayan jauh dari kampus kamu. Kenapa cari di sini?" Tante Dina bertanya penasaran. "Biar nggak terlalu ramai, jadi nggak banyak orang gosip dan mainan, Tante," jawabku datar. "Maaf Tante, belok kiri, masuk jalan itu. Nah, itu kos-ku yang bertingkat," tunjukku sambil mengarahkan jalannya. Mobil berhenti. Jantungku berdegup kencang — sadar bahwa setelah ini mungkin kami tak akan pernah bertemu lagi. Tapi di sisi lain, lama-lama aku tak merasa canggung dan malah pengin mengobrol lebih banyak, siapa tahu bisa mengurangi grogi ini di depan wanita. Ah, aku harus berani minta nomor hapenya, pikirku. "Terima kasih ya, Tante Dina. Maaf ya, Tante, udah merepotin, sampai nganterin aku ke depan kost. Maaf juga, Tante... boleh nggak aku minta nomor hape Tante, kalau berkenan? Siapa tahu nanti masih pengin ngobrol-ngobrol lagi... kalau Tante berkenan," ujarku mengucap terima kasih, sambil memperhatikan wajah Tante yang terlihat serius — tapi justru semakin cantik. "Iya, Rendy, sama-sama. Oh iya, boleh. Nanti lewat SMS atau WA saja ya, nomornya sama kok. Kuliah yang rajin ya," ucup wanita cantik ini sambil memberitahu nomor hapenya. Kami bersalaman, lalu aku turun dari mobil gagah itu. Tante Dina menurunkan jendela dan memberiku senyuman — senyuman yang akan kubawa ke kamar sebagai bahan coliku. Mobil SUV hitam itu langsung tancap gas setelahnya. Barang bawaanku yang lumayan banyak tidak terlalu merepotkan — di zaman modern ini segala hal diciptakan serba mudah. Kusapa satpam kos bernama Pak Supar. "Siang, Pak Supar." "Siang juga, Mas. Abis dari kampung ya?" tanyanya. "Iya, Pak," jawabku singkat sambil menaiki tangga. "Hmm, kamar ini masih bersih aja walau udah dua minggu nggak ada yang masuk," pikirku dalam hati. "Mumpung masih anget, coba ah, aku WA Tante Dina." [26/02 16.07] Rendy Surya: Hay Tante Dina, ini nomorku, Rendy. Hati-hati di jalan ya. "Semoga aja segera dibalas setelah dia sampai," bisikku dalam hati. Segera kuganti pakaian yang sudah seharian kupakai, lalu kucuci muka di kamar mandi dalam. Aku langsung rebahan di kasur, menyalakan AC pada delapan belas derajat. Kubuka-buka hape, tapi WA-ku masih belum dibalas — sudah sepuluh menit sejak aku mengirim pesan tadi. "Gilaa... DP Tante Dina boleh juga nih. Fix, aku harus coli nih," bisikku pada diriku sendiri. Di foto profilnya, Tante Dina sedang berpose di depan kaca — mungkin saat sedang fitness — memamerkan lekuk tubuh yang sintal. Tak sadar, kontolku sudah keluar dari sarangnya dengan posisi setengah tegang. Kontolku nggak besar-besar amat, cuma empat belas sentimeter saat tegang. Ya, standar orang Indonesia lah. Kukocok pelan-pelan, penuh perasaan, mata terpejam rapat. Kubayangkan bercinta dengan Tante Dina... atau dia yang menyibak tubuhnya dan memberiku blowjob dengan mulutnya yang ranum... Cukup delapan menit saja, dan— "Ahhhhhhh... uwwwwww..." crooot... croooott... crooot! Kontolku menyemburkan sperma lima kali berturut-turut ke perut dan dadaku sendiri. Badanku melemas... tapi puas. Kuraih tisu di samping kasur, kubersihkan sisa-sisa perjuanganku. "Banyak juga yang keluar. Padahal aku rutin seminggu tiga kali onani," gumamku sambil menyeka sperma. "Huaaammm... ngantuuuk..." Tepat saat aku hendak terlelap... suara cling terdengar dari hapeku. Tapi aku sudah tak kuat, terlalu lemas. Aku tertidur... [26/02 16.49] Dina Indirawati: hay Rendy.... Dina Indirawati sedang menulis... ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode berikutnya sudah tayang — lanjut baca di bawah ya.
← Ep. 01Ep. 03 →
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal