←18+
← Life Changing Experience

Episode 10 — Life Changing Experience

EPISODE 10
EPISODE 10 Aku terdiam, takut. Kuburat matamata ke arahnya—Sandra hanya menatap kosong, entah memikirkan apa. Mungkin memikirkan aku, orang yang selama ini ia benci, yang baru saja berani mencuri cium darinya. Orang yang mungkin selanjutnya akan berani mencoba menidurinya. "Sandra, aku pamit dulu aja. Aku gak seharusnya ngelakuin yang tadi. Maafin aku, ya," ujarku lirih, menyembunyikan wajah penuh rasa bersalah. Aku kecewa sama diriku sendiri, marah pada diriku sendiri. "Iya, Rend. Lagian udah malem juga," jawabnya pelan. Lembut, tapi pandangannya masih kosong, jauh entah ke mana. Aku bangkit dari dudukku di lantai, mengambil tasku, lalu berjalan ke pintu depan dengan langkah lesu. Kepalaku tertunduk. Sesak. "Hati-hati, ya, Rend," ujarnya saat aku berpamit. Aku menoleh. Wajahnya sungguh cantik malam itu—dan jantungku berdegup tak keruan. "Iya, makasih. Maaf ya... tadi," pintalku. Sandra hanya membalas dengan anggukan kecil, lalu menutup pintunya. BRAAKK! Aku menapaki lorong apartment yang remang-remang itu sementara kejadian tadi terus berputar di kepalaku. Sampai di kamar kos, aku menghamburkan diri ke kasur dan memilih tidur—melupakan semuanya, setidaknya sampai besok pagi. *** POV Sandra Setelah Rendy keluar, aku duduk termenung di sofa. Bayangan kejadian barusan masih menempel di bibirku. Tapi aneh—rasanya beda. Bukan jijik, bukan marah. Justru jantungku berdegup kencang, dan entah kenapa aku... terpesona pada orang itu. "Ya ampun. Apa aku jatuh cinta sama dia? Enggak-enggak, gak boleh!" batin kesal. Tapi siapa yang bisa bohong pada hatinya sendiri? Banyak orang malah jatuh cinta pada orang yang paling mereka benci. "Gak boleh. Ini cuma deg-degan karena dia keterlaluan!" ucapku dalam hati, mengumpat pada diriku sendiri. Aku bangkit ke kamar mandi, menatap diriku sendiri di kaca, lalu membasahi wajah dengan air wastafel. Setelah itu aku merosot ke kasur, berharap esok pagi semuanya bisa kulupakan. *** POV Sandra Keesokan harinya, aku berdiri di depan kelas bersama teman-temanku. "Cieeee, yang abis ngedate di perpus sama si culun kemarin," ledek Amanda. "Gaiss, gimana rasanya? Pasti ancur banget ya, bau badannya, haha," sambung Helga. "Eh kalian ngapain sih? Cuma ngerjain tugas bareng doang. Duduknya aja gak deketan, mana bisa kebawa bau. Lagian... kok kamu tau banget kalau bau ancur? Udah pernah deket-deket ya?" balasku sambil canda, mendorong Helga pelan. "Udah, udah, ayo masuk. Jamnya udah. Kan Sandra mau presentasi," potong Andita, meredakan perang canda kami. Masuk ke kelas, kulihat Rendy sudah ada di dekat komputer, sibuk menyiapkan materi. Ada rasa marah dan kasihan bercampur di dadaku saat memandang wajahnya yang takut dan polos itu. Aku mendekat. "Gimana, udah siap semua?" "Iya, kok. Udah siap semua. Tinggal nunggu yang lain masuk." Aku kembali ke bangkuku bersama geng hedonku. Dari jauh, mataku terus memandangi Rendy—dan sekali lagi kejadian tadi malam menyusup ke kepala, membuat perasaanku tak jelas. Presentasi berjalan lancar. Aku bahkan cukup senang karena dosen memberi feedback bahwa aku banyak improve. *** Setelah kuliah selesai— "Kita nongkrong gak nih? Udah siang banget," ajak Amanda. "Gak ah, aku langsung pulang," jawab Callisa. "Ya udah, pulang semua aja deh. Bye bye, gaiss!" Helga melambai sambil jalan ke parkiran. Aku juga memutuskan pulang. Suasana hari ini awkward banget. Perasaanku campur aduk. Aku masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan menunggunya hangat. "Ih, kenapa sih anak itu. Tadi sok-sokan polos padahal. Kalau semalem dia gak aneh-aneh, ya aku juga biasa aja. Tapi di satu sisi... kasihan juga sih, kalau aku jutekin dia makin takut sama cewek. Serba salah banget," batin gerutu. Aku memacu mobil menuju apartmentku. *** POV Rendy Di kelas tadi, berkali-kali kupandangi Sandra. Tapi dia selalu mengalihkan wajah dari diriku. "Brengsek lu, Rend," umpatku pada diriku sendiri. Jujur, aku gak enak sama dia. Aku cuma mau berteman, tapi malah kebablasan. "Ya udah. Aku harus ke apartmentnya dan minta maaf. Aku cowok. Kudu jantan, kudu berani. Gak boleh minderan lagi!" semangatku pada diriku sendiri. Matahari sudah mulai turun saat aku bergegas berangkat ke apartment Sandra. Aku gambling—gak kasih kabar dulu. Kalau dia gak ada, yaudah, gak apa-apa. Yang penting aku sudah berjuang. "Sebaiknya mampir beli bunga sama roti dulu ah. Masa dateng gak bawa apa-apa? Lucu banget kan," batin sambil mencari kios bunga. "Mari, mas. Silakan. Mau bunga yang mana?" sapa penjualnya. "Yang mawar merah ini aja, mbak. Tujuh tangkai. Sekalian dirangkai ya." "Oke, mas. Totalnya enam puluh ribu ya." Aku membayar, menyimpan rangkaian itu di mobil, lalu segera memacu ke apartment Sandra. Di basement parkiran— "Yes! Mobilnya ada. Berarti dia di rumah," batin senang. Tapi di sisi lain, deg-degan menyergap. Apapun bisa terjadi. Bisa kena tampar juga kali ini. Lift bergerak membawaku naik. Di depan pintu kamarnya, aku berdiri mematung. Bimbang. Ragu. Takut. "Jadi gak ya... jadi gak ya..." "Ah, udah nyampe masa gak jadi! Kudu jadi!" KNOK KNOK KNOK! "Iyaaaa, siapaaa?" suaranya terdengar dari dalam. Pintu terbuka. Bahkan sebelum aku sempat menjawab— "Ngapain kamu kesiiin?!" bentaknya, sambil membukakan pintu selebar itu. Dan Allah. Aku telanjang matamu. Sandra mengenakan hot pants dan kaos oblong putih kebesaran—dan celah kainnya memperlihatkan samar-samar BH pink yang menempel di dadanya. Nafasku nyaris tercekat. "Maaf, Sand... maaf banget kalau kamu gak berkenan. Aku cuma mau minta maaf yang kemarin, terus mau ngasih ini..." ujarku grogi, jari-jariku dingin keringat. "Udah, yang kemarin lupain aja, haha. Mana bawa ginian buat apa? Buat nyuapin aku ya?" candanya sambil menerima rangkaian mawar itu. "Ya udah, sini masuk." Mamamu, keberanianmu, Rendy. "Aku beneran gak enak sama kamu, Sand. Aku udah bisa santai ngobrol sama kamu, eh malah kebablasan," ucapku menyalahkan diri sendiri. "Makanya, pelan-pelan. Jangan langsung nyosor aja," jawabnya santai sambil terkikik. Aku duduk di sofa depan TV. Sandra membuka roti buatanku dan menyajikannya di mejamu, di hadapanku. "Yuk, dimakan barengan," ajaknya. Lalu dia menatapku, "Eh, makasih ya. Aku dapet feedback bagus dari dosen hari ini. Makasih banyak." "Haha gpp lah. Saling bantu, Sand. Aku juga makasih udah ngijinin aku masuk," jawabku. "Kalau masuk rumah sih silahkan, haha. Kalau masuk hati... hmmm, kagak," godanya sambil juling. Kalau masukin kontolku ke tubuhmu boleh gak? batin salah tingkah. Haha, mana berani aku bilang gitu padanya—padahal kontolku sudah pingin memberontak di dalam celana. Waktu berjalan begitu saja. Obrolan kami panjang, seru, penuh tawa. Perkara kemarin akhirnya benar-benar kita lupakan. Intinya kami sama-sama ingin jadi teman—teman yang biasa, tanpa rasa sentimental. "Ya udah, Sand, aku pamit dulu ya. Udah malem nih," ujarku setelah melihat jam dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh. "Oke, Rend. Makasih banyak ya. Haha, kamu tuh bisa lho sweet gini. Tinggal dicoba sama cewek yang kamu suka aja. Lama-lama juga gak grogi kok," jawabnya sambil memandangku lekat. Dan aku melihatnya. Benar-benar memandanginya. Cantik. Terlalu cantik. Akal sehatku hengat dari kepalaku. Tanpa pikir panjang, wajahku mendekat, mengejar bibirnya... Smoochhh... Bibir kami bersentuhan. Kedua mata kami terpejam. Ciuman itu singkat, tapi kami menikmatinya dalam keheningan. Aku membuka mata dan menatap matanya yang perlahan terbuka pula. Jidat kami saling bersandar. Dan kulihat—Sandra tersenyum manis. Jantungku berdegup sangat kencang. Lebih kencang dari saat tante Dina merebut perjakaku dulu. Apakah aku jatuh cinta padanya? Apakah... ini rasanya jatuh cinta? ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 09
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal