←18+
← Life Changing Experience

Episode 09 — Life Changing Experience

EPISODE 09
EPISODE 9 Sudah dua hari aku tidak menginjakan kaki ke rumah tante Dina. Jadwalnya padat, kerap pulang hampir larut malam. Lagipula dia sedang datang bulan, dan aku sendiri sedang dilanda gunjingan ujian dan kuis bertubi-tubi. Tante Dina pun memintaku untuk fokus ke kuliah dulu, dan jujur, aku suka cara dia memperlakukanku. Dia bukan cuma menginginkan spermakeu — dia juga peduli dengan cita-citaku. Selesai presentasi dan kelas siang, aku melangkah keluar ruangan dan langsung disambut Sandra beserta gerombolannya yang membolos mata kuliah ekonometrika pagi itu. "Heh culun, brengsek kamu! WA-ku gak dibalas!" bentak Sandra sambil melirik marah. "Aku males. Ngomong aja gak bisa sopan dikit?" jawabku jutek. "Sand, kita ke kantin dulu ya. Sana indehoy sama culun bego-mu itu, hahaha." Andita, salah satu geng hedon Sandra, tertawa sambil menarik yang lain pergi. Sandra tidak menjawab. Dia hanya membuat wajah khusus — semacam isyarat untuk mengusir teman-temannya. "Iyaaa, culuuun, gimana tugasnya? Kita dapet kelompok pertamaaa, minggu depan presentasi, helloooooow!" ujar Sandra dengan gaya yang agak hiperbola. "Ya dikerjain dong. Itu aja kok repot." "Lha gimanaaa, mulai dari manaaaa?" "Hmm, ya udah. Aku udah ada bayangan mau gimana, tapi butuh beberapa referensi. Aku mau ke perpus pusat. Kalau mau kerja bareng, ayo. Kalau gak mau, namamu gak aku tulis. Terpaksa." Jawabku datar. Perpus pusat lebih lengkap koleksi textbooknya, dan tata letaknya lebih nyaman untuk kerja. Sandra sedikit berpikir, gelisah memilih antara ikut denganku atau dengan teman-temannya. "Mmm... ya udah deh. Tapi aku belum pernah ke perpus, aku gak tau jalannya." Njir, anak ini. Hampir setahun di kampus tapi belum tahu jalan ke perpus pusat. Aku cuma bisa terheran-heran. "Bareng aku aja kalau mau." Kulihat Sandra sibuk dengan HP-nya. Mungkin memberi kabar ke teman-temannya bahwa dia akan ikut denganku. "Hmm ya oke. Awas lu macem-macem sama aku!" geramnya dengan gaya insekyur. Aku terus melangkah ke parkiran mobil. Sehari-hari aku memakai mobil hatchback milik tante Dina. "Ini mobilmu? Ganteng juga mobilmu. Tapi sayang, orangnya culun." Kubiarkan dia cerewet. "Kenapa gak ikut temanmu ke kantin?" "Ya kalau aku ikut, mampus. Namaku gak kamu tulis." "Hahaha." Kupikir-pikir, cantik juga Sandra ini. Kakinya indah, badannya proporsional — dia pandai merawat tubuh. Hari ini dia memakai jeans ketat dan kemeja yang sama ketatnya, ditambah sepatu wedges yang membuat pantatnya terangkat manis. *** Waktu menunjukkan 23/05, 3.30 PM. Sehari sebelum laporan mingguan tugas riset. [23/05 3.30PM] Rendy Surya: Sand, gimana besok? Udah siap? [23/05 3.33PM] Sandra Santika: udah sih, tp ada beberapa yang kurang paham [23/05 3.33PM] Rendy Surya: lha gimana, yang mana? Mau aku jelasin via telpon? [23/05 3.35PM] Sandra Santika: aku deg-degan nih. Kamu ke tempatku sini gimana? Sekalian bagian yang belum kelar bisa kita kerjain bareng. Mau gak? [23/05 3.41PM] Rendy Surya: yauda. Mana alamatmu? [23/05 3.42PM] Sandra Santika: aku share location. Setelah sedikit mengenal Sandra, sebenarnya dia orang yang sweet. Hanya saja dia agak pemalas, dan pergaulannya kurang baik pengaruhnya. Jadi dengan senang hati aku mau membantunya, asalkan dia juga bersikap baik padaku. Aku bersiap memacu mobil menuju alamat yang dikirim Sandra. Di dalam hati, jujur saja, aku gugup. Ini pertama kalinya aku main ke rumah seorang cewek. [23/05 4.13PM] Rendy Surya: Sandra, bener apartment tower Kenanga? Kamar berapa? Cara masuknya gimana? [23/05 4.13PM] Sandra Santika: oke, aku bilang satpam biar dikasih kartu pass ke kamar 1106. Kamu parkir aja. [23/05 4.15PM] Rendy Surya: oke. Setelah urusan satpam beres, aku naik lift dan mengetuk pintu 1106. Sandra membukakan pintu dan kumasuk ke ruangannya — apartemen tipe studio. Dia menyambutku mengenakan hotpants dan baju ketat berwarna kuning yang memeluk tubuhnya sempurna. Sudah kurang lebih lima hari aku tidak bercinta. Tante Dina sedang banyak acara, dan baru akhir pekan ini aku berencana ke rumahnya. Jadi sangat wajar jika gejolak birahiku mulai menggeliat. Tapi aku tidak punya niatan mengentot Sandra. "Sand, kamu gak takut apa-apa? Aku dateng ke tempatmu... gimana kalau pacarmu tau?" tanyaku gugup. "Gak lah, jomblo woe. Emang kenapa?" "Kan kamu kelihatannya gak suka sama aku." "Biasa aja kali." Dia cemberut. "Eh, mbok kamu itu dikit belajar cara berpakaian. Biar gak culun-culun amat." Pembicaraan kami melayang ke mana-mana, hingga akhirnya Sandra mencurahkan isi hatinya soal kuliahnya — soal bagaimana dia dimarahi habis-habisan orang tuanya saat pulang ke Kalimantan liburan kemarin. Aku pun sudah tidak duduk di kursi, melainkan di lantai, bersebelahan dengan Sandra yang sedang putus asa itu. "Aku sebenernya sedih, Lun (culun). IPK-ku semester satu gak nyampe 3.0. Aku bingung harus gimana. Makanya aku berharap banget bisa berubah." Ujarnya jujur, tubuhnya melemas. "Ya kamu harus mau belajar, Sand. Apapun konsekuensinya." Jawabku tenang sambil perlahan mendekatkan badanku ke tubuhnya. "Iya, Rend. Aku juga pengen berubah. Katanya papahku, kalau kuliah gak niat, mau dijodohin sama anaknya temennya papah. Aku kemarin nangis waktu papah bilang gitu." Ceritanya dengan nada melas. "Ya gak papa toh. Toh kamu juga cantik, pasti banyak yang mau sampai ngantri-ngantri." Jawabku bercanda. "Yeee, dikira aku toko sembako apa." Balasnya sambil tertawa. "Kamu enak ya, Rend. Pinter, bisa nyambung kalau dijelasin dosen atau pas ada tugas." Sambungnya. Karena Sandra bercerita soal kehidupan pribadinya, tanpa sengaja aku pun ikut curhat soal kegrogianku saat berhadapan dengan wanita. Meski aku sudah biasa bercinta dengan tante Dina, untuk urusan wanita yang penuh teka-teki, aku masih sangat takut. "Ya gak juga sih, Sand. Aku juga punya masalah yang kamu gak tau." Ujarku datar. "Apaan? Boleh lho kalau mau curhat." Jawab Sandra. "Hmm... kamu kan tau, aku gak punya temen yang bener-bener jadi temen. Disaat yang lain punya sahabat, aku gak punya. Sejak kecil aku susah bergaul, dan mungkin ini pertama kalinya aku main ke rumah cewek dan bisa ngobrol begini. Tapi jujur, ada rasa grogi sedikit sih aku ini, terutama tadi pas mau berangkat ke sini. Deg-degan banget, hehehe." Ceritaku pada Sandra. "Laaah? Lha ini kamu ngobrolnya santai-santai aja lho, Rend. Tapi aku mohon maaf juga ya, kadang perkataanku parah banget dan bisa bikin kamu makin takut dan grogi sama cewek." Ujar Sandra menenangkanku. "Hehe, apaansih, Sand? Gpp kok. Iya kalau udah mulai, hehe. Tapi waktu mau mulai itu deg-degan setengah mati, keringetan." Ujarku. "Yaudah, ntar kalau pas longgar bisa lah kita banyakin ngobrol. Kalau gak, kamu ikut aja tuh nongkrong sama anak-anak kelas di kantin atau di parkiran." Ajak Sandra. "Hehe, makasih, Sandra. Ya, ntar gampang. Tapi apa kamu gak gentian diejek temen-temenmu gara-gara ngobrol-ngobrol sama aku?" Tanyaku. "Aku sih santai aja, Rend. Lagipula kami ngejek juga gak beneran, cuma sekadar bercanda. Dan bukan kamu doang yang kena, hahaha." Jawab Sandra, menerangkan kelakuan gengnya. Kami mengobrol santai. Kulihat duduknya yang bersila membuat celananya semakin naik, sampai-sampai seperti celana dalam. Kutatap pahanya yang sangat putih dan menggoda. Dadaku mulai tidak karuan. "Ntar lama-lama kamu juga bakal terbiasa sama cewek, Rend. Dimulai dengan hari ini, hahaha." Terang Sandra. "Haha, kamu juga noh. Dirajin yang belajar biar gak nikah muda." Ledekku. "Cieee, udah berani ngledek, haha. Groginya udah ilang, bos? Aku sih nikah muda mau yee. Tapi sama pilihan aku lah." Balas Sandra. "Masih grogi." Balasku datar. "Haha, sini, aku peluk. Biar kamu ngerasain gimana rasanya dipeluk cewek. Belum pernah kan?" Ajak Sandra. "Haahh... serius?" Tanyaku memastikan. "Haha, gapapa. Kamu kan udah bantuin aku dengan tugas. Dan aku akan bantu ngilangin grogimu sama cewek." Terangnya. Aku mendekatkan tubuhku ke tubuh Sandra, tanganku melingkar di badannya. Saat pelukan itu terjadi, perlahan kontolku bergerak di dalam celanaku, ingin menunjukkan tenaganya. Tanpa kusadari, aku mencium lehernya — namun tampaknya Sandra tidak menyadarinya. Kubuat gerakan lebih berani lagi, mencium ujung bibir dan pipinya. "RENDY! Kok udah mau macem-macem!" Tegasnya. Aku buru-buru berhenti. Aku takut dia membentak dengan tidak berkenan. "Maaf, Sandra." Kami berdua salting, tapi saling memandangi. AC semakin dingin, malam semakin larut, badan semakin panas. Kami saling menatap mata masing-masing. ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 08
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal