←18+
← Life Changing Experience

Episode 11 — Life Changing Experience

EPISODE 11
EPISODE 11 Ciuman kami makin dalam dan makin rakus. "Smoocchhh... smoochhhh... cuuupphhh..." Lidah kami saling menjilat, saling menari, saling berebut dominasi. Mata kami terpejam rapat, tenggelam dalam sensasi yang membuat seluruh kulit kami terbakar. Tanganku makin tak bisa diatur. Ku remas pantatnya yang kenyal itu, lalu tanganku merayap masuk ke dalam celananya. Kami terus berciuman dengan intens. Bibirku kemudian berpindah, menjelajahi leher jenjangnya. Sandra mendongak, memberikan akses penuh ke lekuk lehernya, sambil terus mendesah. "Ahhhhhhhhh... ahhhh..." Tanganku berani masuk lebih dalam, ke bagian depan celananya. Tapi tangan Sandra menangkalnya. Dia lalu bangkit berdiri, menarik tanganku, mengajakku mengikutinya menuju kamar yang disekat ornamen bambu itu. Sandra menarikku jatuh ke kasurnya. Dia berbaring sambil menarik tanganku, sehingga aku ikut rebah di sampingnya. Ciuman kami tak putus-putus. "Smoochhhh... smoochhhh..." Rambut Sandra yang tadi tertata rapi kini kusut total karena ganasnya ciuman kami. Dari bibirnya, bibirku merambat turun ke dadanya. Kuciumi dadanya yang berukuran 32A itu dari balik bajunya, terasa gunjalan toketnya yang menggeliat setiap kali bibirku menyentuhnya. Turun lagi ke pusar, lalu ke selangkangannya. Sandra mendesah tanpa henti. "Ahhh... ahhh... oowwhh... ahhh..." "Uhhhh... hmmmmm... ahhhh... uhhhh..." Suaranya berubah jadi serak basah yang bikin birahiku meledak-ledak. Kubuka kancing celananya. Sandra menatapku dengan tatapan penuh nafsu. Perlahan ku lepas celananya, dan tampaklah celana dalamnya yang sudah basah kuyup. Katanya orang Cina emang lebih gampang basah kalau lagi horny—dan ternyata benar. Kulepas juga celana dalamnya. "Wow... indah banget, Sand. Gak ada bulunya, warnanya pink pula." Sandra cuma mengangguk pelan, malu-malu. Lalu kujulurkan lidahku, menjilati klitorisnya yang mengeras. Sandra mendesah tak berhenti. "Ahhh Rend... ahhhh yeees... ahhh enak bangeeet ahhhh..." "Uuhhhh yeeesss ahhhh iya disitu terus ahhhh..." Kepalaku terperosok di selangkangannya, rambutku dikepal dan diremas-remas olehnya saat lidahku makin ganas menggoebel memeknya. Pahanya mencengkeram kepalaku makin kuat. "Ahhhhhhhh... cepet... bentar lagi... lebih cepeeet aaaaaawwwhhhhhh..." Dari kepaksaan lidahku, Sandra pun meledak orgasme pertamanya. Cairan hangat mengalir deras dari memeknya, dan aku terus menjilatinya hingga dia klejotan tak jelas. "Culuuun ahhh... culuun terus iyaaa... aaa... culuuuunnn... stoppp pleaseeee aaaahhh... ahh... ahhhh... ahhhhh..." Desahnya memekak saat aku masih memburu memeknya yang sudah sangat sensitif pasca orgasme. Aku teringat pesan tante Dina—bahwa setiap wanita bisa di-squirt. Dan malam ini aku berniat membuktikannya pada Sandra. Tapi sebelumnya, aku ingin tahu dulu apakah dia masih perawan atau bukan. Kulepas celanaku, lalu baju dan BH-nya juga. Sandra tampak pasrah saat aku melepas pakaiannya satu per satu. Kubaringkan dia di kasur sambil terus menciumi bibirnya. "Smoochhh... ahh Rendy... smoochhhh..." "Enak banget Sand, aku napsu banget sama kamu... boleh gak aku ngentotin kamu?" Walau kami sama-sama sudah telanjang bulat, aku masih sempat-sempatnya nanya. Basa-basi doang sih. Dia mengangguk pelan, tanda persetujuan. Kuarahkan kontolku ke arah memeknya. Sandra siap menerima kontolku dengan tubuh yang sudah gemetar birahi. "Mmmmmmmmhh..." Desahan ringan keluar dari bibirnya, diiringi nafas panjang, saat kontolku perlahan masuk. Memek Sandra sangat basah tapi kecil banget, jadi terasa sempit menghimpit kontolku. Kubuat gerakan maju-mundur perlahan. Sandra memeluk tubuhku erat, kakinya melingkar di pinggangku. "Ahh... ahh... ahhhh auuuww... enak culun..." "Ahhh yes ahhh terus culun..." "Ahh enak banget Sandraaa..." "Ahhh terus culuuuun ahh ahhh ahhh hmmmm..." Saat dia merem melek tenggelam dalam kenikmatan—dan dari rasa di kontolku, dia akan cepat orgasme lagi—aku mencabut kontolku. "Kok berhenti sih culun, aku udah dekat!" pintanya kecewa. Kuhiraukan. Kubunuh ciuman di seluruh badannya, lalu turun lagi ke memeknya. "Ahhh ayo masukin lagi kontolmu culun..." desahnya makin liar. Alih-alih kontol, kumasukkan dua jariku ke lubang memeknya. Sandra mengerang kaget, agak kesakitan. "Ahhhh... kamu mau ngapain? Aku belum pernah diginiin kayak gini... masukin kontolmu aja!" "Nikmatin aja Sand, nanti kamu bakal keenakan. Yakin deh." Kulihat memeknya, lendir-lendir nikmat mengalir deras dari lubang surgawinya. Kugerakkan jariku persis seperti yang pernah kulakukan pada tante Dina—mencari-cari titik yang bisa bikin dia meledak. Dan benar saja, Sandra mengerang nikmat. "Aw... enak banget culun... terus... jangan berhenti..." Sandra memposisikan tubuhnya setengah duduk karena penasaran pengen lihat apa yang kulakukan. Tapi kuminta dia pasrah saja. "Pasrahin aja Sand..." "Iyaa ohhh... aku pasrahhhhh... enak banget sumpaaaaaa..." "Ahhh enak banget... aku belum pernah diginiin kayak gini... ahhhw... ahhhw... ahhhw... yeeesss..." CROK CROK CROK CROK... CROK CROK CROK... CROK CROK... "Hmmmm... awwwww yesss ahhhhh awwwww..." Desahan Sandra makin menggila. Jari-jariku sudah pegal semua, tapi aku tak peduli. Misi utamaku cuma satu: bikin Sandra klejotan. Beberapa saat kemudian, jariku merasakan ada tonjolan di dinding atas memeknya. Aku mendongak, menatap mata Sandra yang sudah kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri. Kakinya mencengkeram kasur, badannya mulai bergetar tak keruan. Kutekan tonjolan itu dengan paksa. "AhhhhhhhhhhhhhhHHHHHHH!" "AWWWWWW AHHHHHHH AWWWHHHHHHH HUUUAAAHHHH!" CROOOT! CROOOOT! CROOOOTTTT! Teriakan yang sangat keras pecah dari mulutnya, badannya bergetar hebat, dan semburan air bening memancut deras dari lubang surgawinya—membasahi tanganku dan seisi kasur. Aku terus menggoebel memeknya, dan squirt itu nggak ada habisnya, terus memancut keluar. Sandra melenguh-geleng tak berdaya, memburu nafas dengan desahan yang makin keras. "Huuhh... ahhhuuu... huuaahhh... huuuuuhh... hmmmm..." "Ahhhhh oooowhhhh my gaddddd ahhhhhh..." "Oohhhhh ahhhhhh ahhhhhh..." Semburan itu akhirnya mereda. Sandra mulai bisa menguasai tubuhnya lagi, tapi dia terlihat lemas total. Dia menarik kepalaku mendekat, memelukku dengan lemas, sambil memberikan ciuman-ciuman ringan yang begitu intim. "Enak banget... aku belum pernah orgasme sampe kayak gini," bisiknya di telingaku. Aku cuma memandanginya dan tersenyum bangga. Lalu aku beranjak dari kasur mencari dompetku—ada kondom di dalamnya. Ya, aku selalu nyedia dua bungkus kondom buat jaga-jaga. Aku berdiri di pinggir kasur dan membuka bungkusan pelindung itu. Tapi Sandra merebutnya dari tanganku, dan dengan lihai dia sendiri yang memasangkannya ke kontolku... pakai mulutnya. "Ahh... oohh..." Aku mengajaknya ke kamar mandinya—aku tahu di dalamnya ada kaca besar. Aku pengen bersetubuh sambil melihat badan kami berdua bercermin. Kuposisikan dia menungging sedikit di depan kaca itu, aku di belakangnya, lalu kuhujam memeknya dengan kontolku dalam sekali dorongan. BLEEESSSSS! "Aw... aw... aw... aw... aw..." PLOK PLOK PLOK PLOK... "Ahh ahhh ahhhh ahhh..." Desahan kami saling bersahutan, berecho di kamar mandi. Kami melakukan doggy berdiri di depan cermin. Aku pengen bertahan selama mungkin—ingat, ini cewek tercantik di fakultasku menurutku. "Awwww yeeeesss ahhh hmmmm ahhhhhh..." Sandra cuma pasrah, merem melek menikmati setiap centimeter kontolku yang menggoebel memek indahnya. "Hmmmm ahhh... aku gak kuat kalo lebih lama lagiiihhhh... ahhh ahhhhhhhh..." "Culun aku mau keluar... aku gak kuaaaaaat culun..." pintanya dengan keras. Kubuat gerakanku makin cepat, makin brutal. Badannya bergetar kencang. "Ooooooooooooohhhhhhhhhhhh..." Teriakan nikmat pecah dari mulutnya, memeknya mencengkeram erat kontolku. "Bentar culun, aku istirahat bentar... tapi jangan kamu cabut ya... kamu masih jauh?" Dia minta berhenti sejenak. "Teriakanmu kenceng banget, nanti tetangga denger lho," godaku khawatir. "Abis enak banget culun," jawabnya sambil cemberut manja. Aku nggak sadar ternyata dia bawa HP-nya masuk kamar mandi. Saat aku masih memeluknya dari belakang, dia mengarahkan HP-nya ke kaca... dan dia pengen selfie. "Culun, selfie yuk!" "Serius kamu? Nanti kalo kesebar gimana?!" "Enggak lah... sini, peluk aku yang kenceng." Dia berpose secantik mungkin—dalam keadaan lelah dan bugil total. Aku memeluknya mesra dari belakang. "Ckreeek!" Suara HP memotret keadaan kami yang menggairahkan itu. Aku kembali menggoyangkan kontolku di dalam memeknya. "Bikin aku keluar, Sandraaa..." Dia bergerak maju-mundur mengimbangi hentakan aku, sesekali sempat-sempatnya mengangkat HP untuk memotret momen liar kami. Beberapa saat kemudian, desakan sperma di pangkal pahaku sudah tak tertahan. Kugerakkan pinggulku makin cepat, makin menggila. "Aku mau keluar, Sandraaa..." Sandra malah menggerakkan tubuhnya makin kencang, menggoyang pinggulnya liar. "Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh..." Desah panjangku pecah. Spermaku memancut deras keluar, tertampung rapi di ujung kondom. Badanku langsung lemas total, bersandar pada punggung Sandra. "Hihi... keenakan ya culun?" "Heeh... enak banget..." Aku mencabut kontolku. Sperma yang tertampung lumayan banyak menurutku. "Banyak banget spermamu... kalo nyembur di dalem pasti anget banget ya... gendooong dong culun, kakiku lemes banget nih." Aku menggendong dia, mengantarnya ke kasurnya. Lalu aku duduk di pinggir kasur sambil memandanginya yang masih terkapar lemas. "Kasurku basah culun... gara-gara kamu nih," keluhnya manja. "Kan keluarnya dari memekmu sendiri." "Yang bikin keluar kan kamu!" Sandra menurunkan badannya dari kasur—saksi bisu hubungan badan yang baru saja kami lakukan. Tubuhnya yang masih lunglai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya pelan-pelan. Dia cuma memakai baju dan celana dalam saja. "Culun... peluuukkk..." pintanya sambil merangsek memelukku. "Iya Sand... eh iya, biar nanti nggak dikira ada apa-apa sama temen-temenmu, kamu boleh kok berkata-kata kayak kemarin. Yang penting aku udah tau Sandra yang aslinya bagaimana." Aku membungkuk dan memeluknya. Dan entah kenapa, aku merasakan pelukan ini bukan sekadar pelukan nafsu... tapi pelukan yang lahir dari hati. Dia membalas memelukku erat. Aku terkaget saat melihat jam—tau-tau udah hampir jam 11 malam! Dan aku masih telanjang bulat tanpa sehelai benang pun di badan. "Sandra, aku pulang ya... ini udah malem ternyata," ucapku sembari bangkit dari pelukannya. "Nginep di sini aja gapapa culun... nemenin aku ya ya yaaa..." mintanya sambil merenggek-rengek menggantung. Aku diam sebentar, mikir. "Emang gapapa ya?" "Gapapa lah... ini kan apartemen, bebas, residennya boleh ngapain aja." "Yauda kalau gitu... cari makan yuuk! Mandi dulu tapi." "Mandi bareng yuk hihi," canda Sandra sambil kedip nakal. Malam itu, aku bersama Sandra keluar mencari makan—mengganti energi yang habis total berkat sesi ngentot yang dahsyat tadi. ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 10
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal