EPISODE 12
EPISODE 12
POV Sandra
Keesokan harinya, pukul 10.15
Malam tadi dengan Randy... eh, Rendy, rasanya seperti perjalanan panjang yang belum selesai. Aku masih tergeletak di tempat tidur, selimut melilit kaki, sambil menatap layar HP yang menampilkan foto-foto kami berdua tadi malam. Rendy sudah lebih dulu pulang ke kosnya, katanya mau istirahat sebelum lanjut ke kampus.
Yang aneh, bercinta dengan Rendy tadi malam hatiku ikut berbicara. Bukan cuma nafsu yang bicara, tapi sesuatu yang lebih dalam. Padahal ini cuma sex tanpa ikatan—sesuatu yang belum pernah aku lakukan seumur hidup. Setelah pernikahan dulu... eh, setelah hubungan terakhirku dengan mantan yang merampas perawanaku di malam kelulusan SMA, aku pernah bersumpah semua cowok itu sama saja. Hanya memandang wanita sebagai tempat mencurahkan sperma.
Tapi Rendy... kenapa rasanya beda?
"hihi... foto yang ini imut juga. Udah dihajar habis-habisan sama doi, tapi lihat wajahku... bahagia banget. Selama ini tiap selesai kentot ujung-ujungnya nyesel. Tapi yang ini beda," gumamku sambil memelototi layar.
"apa juga yang aku pikirkan tadi malem? Orang yang paling aku benci, tau-tau jadi orang yang aku kangeni. Ahh bego ahh. Intinya aku gak boleh pakai hati. Dengerin kata hatimu, San... dudul!" batin Sandra sambil bergeliat tidak nyaman di atas kasur.
Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa hari sudah siang. Aku harus buru-buru ke kampus—ada kuliah yang nggak boleh aku bolos lagi, soalnya absenku sudah nyaris tiga kali.
***
"Tumben lu paham dan aktif di perkuliahan? Biasanya cuma bengong bego, haha," ledek Helga begitu melihat aku ikut aktif sesi tanya jawab di kelas.
"haha iya dong, masa bego dipupuk," sahutku santai.
"Eh, gimana kalau kita nongki-nongki cantik sekalian makan siang?" tanya Helga pada seisi geng kami.
"Hmmm aku gak bisa ya, Hel. Ada janji sama cowokku, hihihi," jawab Callisa dengan senyum menyiratkan.
"Njiir... siang-siang mau kentot nih?" ejekku.
"Kagak gilak! Siang gini mau mandi keringat apa, haha," bantah Callisa seraya melempar bantalan.
Bagi kami lima, obrolan berbau sex adalah makanan sehari-hari. Kami terlalu terbuka soal pengalaman ranjang masing-masing. Dari kami berlima, cuma Amanda yang belum pernah mencicipi nikmatnya bercinta.
"Ih, kalian ngomongin apaan sih! Masih siang, woeee!" protes Amanda, ingin menghentikan obrolan yang makin mesum.
"Hahaha makanya cari cowok! Nggak main dengan jari mulu... kasian noh, dibohongin terus libidonya," ledek Andita, disambut tawa keras Helga, Callisa, dan aku. Amanda sendiri ikut tertawa meski kedua pipinya memerah.
"Terlalu lama pilih-pilih emangnya... Ngomong-ngomong, jadi nongki gak nih?" tanyaku lagi.
Callisa, Amanda, dan Andita menggeleng serempak. Sinyal jelas: mereka nggak bisa ikut.
"Yaaahh... yaudah cancel aja kalau gitu. Aku nebeng kamu ya, Sand. Sampai rumah?" pinta Helga.
"Yuuk. Yauda yaaaa, byeeee, sampai ketemu besok!"
Aku berjalan bersama Helga menuju parkiran, ke arah mobilku.
"Eh, beb, pinjem hapemu dong. Minta foto yang tadi kita selfie," pinta Helga.
Tanpa pikir panjang, tanpa rasa janggal sedikit pun, aku serahkan HP-ku. Aku duduk di kursi setir, menyalakan mesin, bersiap memulai perjalanan.
Satu per satu Helga memilih dan mengirim foto ke HP-nya lewat aplikasi chat. Dia cuma mengambil foto yang dia rasa dirinya cantik, nggak peduli apakah aku kelihatan buruk di situ atau nggak. Khasnya dia memang begitu.
Perjalanan berlalu dengan sedikit obrolan. Helga terdiam—terlalu lama terdiam. Dia masih memegang HP-ku, dan jari jarinya bergerak di layar.
Aku nggak sadar apa-apa.
Helga sedang melihat sesuatu di galeriku. Foto-foto aku dan Rendy. Foto-foto kami bercumbu, bercinta—jumlahnya lumayan banyak. Dan dia melihat semuanya diam-diam, wajahnya dibuat seolah biasa saja.
Dari setiap ekspresi yang terjepit dalam foto itu, jelas terlihat dua manusia yang saling menikmati. Nggak ada paksaan, nggak ada desakan. Hanya keikhlasan di setiap sodokan kontol Rendy yang masuk sampai ke ujung rahimku.
Setelah puas mengintip, mungkin karena rasa penasarannya sudah mencapai puncak, Helga mulai memancing.
"Beb, haha, kok kamu tumben ikutan aktif di kelas? Diapain sih sama Rendy kamu?" tanyanya, matanya melirik penuh arti.
Aku menepis. Sekali lagi, aku menutupi hubungan spesial itu.
"Apaan! Gak ada apa-apa lah. Gila, cowok kayak gitu juga?" balasku santai.
"Hmm iya sih... bisa ya dia hidup cuma buat belajar gitu. Bosen ya pasti," Helga terus memancing.
"Iya, orang gitu biasanya mati muda, haha. Kasian ya, jadi loser."
"Heem," balas Helga singkat.
Dia tahu segalanya. Dan aku masih kegyptians... eh, masih keplyer seperti biasa.
Perjalanan berakhir di depan rumah Helga. "Beb, hati-hati ya. Kabari kalau udah sampai rumah," pinta Helga sembari mengembalikan HP-ku.
"Oke beb, salam buat mamahmu ya!" balasku dengan riang.
Mobil baru melaju beberapa ratus meter dari rumahnya, tiba-tiba otakku seperti disambar petir.
*Oh my God! Tadi selama perjalanan Helga mainin HP-ku! Dia lihat gak ya? Tapi dia kan buka-buka galeri! Aduh... mampus! Aku harus segera telpon dia, jelaskan semuanya!*
Aku terdiam di balik kemudi mobil. Ingin menangis. Bingung harus dijelaskan ke Helga atau tidak. Tapi kenapa ya... pertanyaan Helga sepanjang perjalanan tadi juga terdengar mencurigakan...
***
Dalam keadaan tidak nyaman, aku ingin segera menjelaskan semuanya ke Helga supaya dia tutup mulut soal foto yang dia lihat dari HP-ku. Bukan apa-apa... karena aku kan yang paling kencang meledek Rendy, tapi justru aku yang menikmati sex darinya. Gimana nggak malu.
[21/05 5.14PM] Sandra Santika: beb, malam ini ada acara gak? Aku kudu ketemu elu, please please please.
[21/05 5.18PM] Helga Hapsari: haha oke beb, jemput lagi ya. Ke Buks aja yuk.
[21/05 5.18PM] Sandra Santika: oke siap beb.
Begitu chat terakhir terkirim, aku langsung mandi dan bersiap menjemput Helga.
[21/05 6.46PM] Sandra Santika: beb, udah didepan rumah, buruan keluar.
"Haayyy bebi sayangggg! Hahahahaha! Anjir, ada apaan nih? Tau-tau ajak keluar malam, haha," Helga naik ke mobil sambil menandaskan tawa.
"Udah, buruan masuk sini. Hmm," bentakku.
Sepanjang perjalanan kami cuma bercanda ringan. Sampailah kami di tempat nongkrong langganan, dan kami memilih pojokan supaya obrolan dewasa kami nggak kedengaran oleh pengunjung di sebelahnya.
"Beb, kamu udah lihat semuanya kan?" ujarku cemas. "Beeb, mohon ya, plis jangan cerita itu ke siapa-siapa. Sumpah, aku blunder," sambungku lirih.
"Haha tapi wajah lu keenakan banget, beb! Gede juga ya," goda Helga sambil terkikik.
Dalam hati, aku justru cemburu. Cemburu ada cewek lain—yang nggak lain sahabatku sendiri—yang sudah melihat dongkrak Rendy. Walau cuma lewat foto.
"Hehe... tapi jangan diceritakan ke cewek-cewek lain ya."
"Lah, kenapa beb? Kita kan terbuka. Bahkan aku juga santai cerita ke kalian bahwa aku pernah ML dengan dua cowok sekaligus waktu di Bali. Callisa juga dengan bangganya nunjukin video sex-nya. Andita juga santai kalau cerita soal sex-nya dengan cowok yang beda-beda. Amanda yang masih tingting aja terbuka cerita soal masturbasinya dan keinginan mau ngelepas perawan. Nah, elu kenapa sewot? Santé aja lah!"
"Iya sih... tapi kan ini Rendy. Gue selalu ngeledek dia, eh malah gue keenakan sama doi."
"Ya gapapa lah, beb. Manusiawi. Aku pikir temen-temen juga maklum."
"Hmmm... baiklah, beb. Thank you."
"Ngomong-ngomong gimana, beb? Hehe... enak gak?" Helga mendekatkan wajahnya, penasaran setengah mati.
"Hehe... gimana yaaaaaaa... Gue pipis enak, beb. Dan orgasme berkali-kali."
"Serius elu squirt, beb? Doi bisa bikin elu squirt?! Njiiiir! Gue udah berkali-kali ML sama beberapa cowok, nggak ada satu pun yang bisa bikin gue squirt!"
"Yang jelas... nagih, beb, hehe. Lupakanlah dia cupu atau apa lah. Urusan ranjang, juara!"
Aku bercerita dengan hebohnya ke Helga. Dan aku sadar, ceritaku membuat Helga makin gelisah di kursinya. Birahinya terpancing. Dia ingin ikut mencicipi.
"Beb... gue pengen nyoba," ujar Helga, serius, matanya menatap lurus ke arahku.
Otakku berputar kencang. *Duh anjir, gila ini. Kalau aku menolak, Helga pasti berasumsi aku main pakai hati sama Rendy. Dan... ya iya sih, bener juga, aku pakai hati. Tapi kalau aku mengiyakan... anjir, aku bisa nangis sekarang juga karena cemburu. Tapi... ini salah satu cara buat ngilangin rasa ini. Ya, aku harus ngilangin rasa ini dari hatiku.*
"Helga woe, apaan sih?" sahutku seketat mungkin.
"Serius, beb! Gilak! Terakhir ML sama temenku, gue nggak dapet apa-apa. Doi yang dapet enak, gue kentang. Sampe rumah gue masturbasi gilaaakkk!"
Hmmm... coba ya, aku rayu Rendy. Mau nggak ya dia, gumamku dalam hati yang mulai perih oleh rasa cemburu itu.
"Kalau... kalau dia mau. Ya udah. Minggu depan aku ajak dia holiday ya, beb. Mumpung kuliah hari Rabu dan Kamis libur."
"Haha anjir! Langsung honeymoon ya, beb? Tapi kalau doi mau sih, yaa gas!"
Malam itu aku terus bercerita ke Helga bagaimana aku dan Rendy bisa berakhir di ranjang yang sama, dan mengulang setiap detail malam itu. Kutelan semua rasa yang tersisa. Dengan cara inilah aku bisa menghapus rasa ini dari hati—aku nggak boleh jatuh cinta sama Rendy.
Aku nggak boleh.
Tapi... akankah Rendy mau bercinta dengan Helga?
---BERSAMBUNG---