EPISODE 13
EPISODE 13
Aku masuk ke rumah tante Dina setelah seharian menghape di kampus. Mobilnya sudah terparkir rapi di depan garasi, dan kubooking mobilmu—eh, mobilku—di sebelahnya. Sudah lama aku menganggap tante Dina sebagai mama angkatku sendiri. Dia memperlakukanku persis seperti anak kandungnya. Bedanya cuma satu: aku dapat bonus berupa seluruh badannya.
"Renddyyyyyyyyy!"
Sapaannya menyambutku dari dalam, wajahnya sumringah. Dia masih memakai pakaian kerjanya—kemeja putih ketat dan rok mini di atas lutut yang membuat betisnya terlihat semakin menggoda.
"Hellooo tanteee," sahutku sambil memeluknya dan menanam ciuman di lehernya yang wangi.
"Rend, buruan bersih-bersih, aku tunggu di kamar yaaa," ajaknya tanpa basa-basi.
"Wow wow woooow, tumben langsung galak, haha," candaku.
"Aku mau datang bulan nih. Biasanya libido naik," balasnya sambil menyeringai, dan kulihat matanya sudah berkilau penuh birahi.
Aku menaruh tasku di kamar yang sudah jadi milikku, lalu mampir ke kamar mandi—cuci muka, sikat gigi, sembur parfum. Persiapan yang tidak bisa kutinggalkan.
Saat kumasuki kamar tante Dina, dia sedang berdandan di depan kaca.
"Hai, tante," sapaku basa-basi.
Dia tidak menjawab. Malah langsung berdiri dan mengenakan high heels—sepatu yang membuat tubuhnya menjulang lebih tinggi, pantatnya terangkat membulat menggoda.
Bibir kami langsung bertautan.
"Smoochhh smooocchhh hmmm awww,"
"Smooocchhhh ahhmmm smooocchhhh,"
Tanganku turun meremas pantatnya yang kenyal itu.
"Awwwww, udah mulai nakal ya," godanya, sementara aku terus memburu leher wangi yang jadi sasaran empukku.
Dilihatnya seperti ini, aku gak kuat. Aku putar badannya menghadap kaca lemari, dan tante Dina langsung paham—dia menungging manja. Aku berlutut di belakangnya, mengangkat rok mininya perlahan, dan terlihatlah celana dalam merah yang sudah mulai ternoda basah. Aku geser pita celana dalamnya ke pinggir, membuka benteng terakhir yang menutupi memeknya, lalu mendekatkan lidahku.
"Schuppp schuuprrhhh smoochhh,"
"Creeekkk creeeekkk smooocchhh,"—suara lidahku beradu dengan bibir memeknya yang sudah banjir.
"Ahhh Rendddd ahhhh kamu semakin hebaaattt ahhhh,"
"Ahhhh ahhhh uhhhhh hmmmmm,"
Tante Dina menatap bayangannya sendiri di kaca dengan wajah yang sudah hancur oleh nikmat.
"Ahhh Rennddd ahhh ahhhhh puasin akuuuu Rendddd ahhhhhhh,"
"Puasin mama angkatmu reeenddddd ahhhh ahhhh,"
"Ahhhhh Renddddd, aku udah dekeeeet reeendddddd,"
"Aaaaauuuuuuuuuuuu sayaaaanggggg aku keluuuuuaaaaaaaaahhhhh!"
Erangannya memanjang, dan memeknya membanjir bagaikan danau yang meluap. Cairannya berleler di lidahku.
"Uhh uhh uhh uhhhh ahhh,"—dia mengejar napas, dadanya naik turun.
"Kok tumben cepet, Tante?" godaku sambil tertawa kecil.
"Iya nih, lagi on banget rasanya," jawabnya singkat, masih terengah.
Aku melepas kancing jeans dan menurunkannya. Kontolku yang sudah tegak sempurna langsung bebas menghadap pantatnya yang menggoda.
"Langsung masukin ya, Tante," ucapku.
BLEEESSSS!
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOK
"Aww aww aww aww aww aww awww,"
"Hmmm aahhh ohhhhh, rapet banget!"
"Awww awww awww pas-in ke G-spotnya sayanggg!"
"Awww iya situuu awww teruss awww awww!"
Pantatku maju mundur menghujam memek tante Dina dengan ritme yang makin ganas. Bagian atas badan kami masih rapi berkemeja putih, tapi bagian bawah sudah tak berbentuk sama sekali. Posisi berdiri memang enak—apalagi di depan kaca, jadi makin seksi karena kami bisa saling menatap lewat bayangan.
"Aahhhhh sayanggg lebih kenceng sayanggg udah dekeeeeet sayanggg!"
Kunaikkan tempo kentotanku.
"Ahhhhhhhh awwwwww Rendyyyyyyyy awwwwwww cabuut sayanggggg!"
Tante Dina mendorong pinggulku—kontolku tercabut dari vaginanya. Cairan putihnya menetes keluar dan menuruni pahanya yang mulus. Dia berpegangan pada handle lemari, badannya bergetar hebat, dan aku memeluknya erat agar dia tidak roboh.
"Ahhh bentar sayaaanggg... masih kedutan,"
"Iya, Tante," ucapku sambil terus menciumi lehernya yang basah oleh keringat.
Setelah beberapa saat, dia menoleh dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Ayo sayang, masukin lagi!"
BLEEESSS!
PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOKK PLOK PLOKK
"Ahh enak, Tante, enaaaakkkkk!"
"Awww awww awww awww!"
"Tante aku udah dekeeeet ahhhhh ahhh ahhhh!"
"Awwwwhhhh yeeeeesss awwwhhhhhhhhh keluaaarrrrrrr!"
CROOOT! CROOT! CRRROOOOTTT!
Aku memeluknya kencang, badanku bergetar hebat. Entah kenapa crot kali ini rasanya enak banget—dalem banget sampai ke pangkal.
"Capek, anakku?" candanya sambil menatapku lewat kaca.
"Hahaha iya, Mamahh," balasku sambil tersenyum dan mencium bibirnya.
Kucabut kontolku, dan spermarketan mengalir pelan dari memeknya yang masih bergerak. Aku tumbang ke kasur di belakang kami dan berbaring lemas.
"Ihh, sampai ke lante-lante parah ah," protesnya sambil mengambil tisu dan mengusap memeknya. Dia menurunkan roknya, melepas heelsnya, lalu berbaring di sebelahku. Tubuh kami masih sama-sama memancarkan hangat pasca klimaks.
"Tante, aku pengen nyoba anal seks," tanyaku iseng.
"Ihh, ogah! Sakit dan gak sehat buat ceweknya kali, Rend," jawabnya sambil menerangkan dengan wajah serius.
***
Hubunganku dengan Sandra berjalan seperti biasa, tapi bedanya sekarang tidak ada lagi ejekan atau ledekan setiap kami bertemu. Hanya senyum, sapa, dan basa-basi yang menyenangkan. Begitu juga teman-temannya yang lain. Entah apa yang Sandra katakan sampai semua temennya ikut berubah sikap padaku. Hanya Sandra dan teman-temannya yang tahu.
Setiap berhubungan dengan tante Dina, rata-rata aku crot dua kali—sampai kadang pangkal pahaku nyeri. Tapi tetap saja enak. Supaya hubungan kami tidak bosan, kami selalu pakai variasi. Kadang tante Dina pakai lingerie yang nakal, kadang pakai pakaian kerjanya. Kami pernah melakukannya di dalam mobil di garasi, di teras belakang rumah—inti segala cara supaya kami tidak pernah jenuh.
Tapi ada satu hal yang belum bisa kuwujudkan. Satu fantasi liar yang selalu terpendam: anal seks.
Tante Dina selalu menolak. Katanya sakit, dan kalau terlalu sering bisa membuat lubang pantatnya melar dan tidak bisa menahan lagi. Sebagai dokter, dia pasti tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. Tapi ya... kalau sudah nafsu, siapa yang bisa menolak.
"Rendy, bangun sayang. Udah jam 9 lho. Katanya mau ke kampus? Aku nanti ada jaga malam, jadi pulang malam," terang Tante Dina membangunkanku.
"Iya, nanti aku ngampus, Tante. Yaahh, sampai malam ya. Quicky dulu yuk, Tante, hihihi," mintaku sambil merangkulnya.
"Tadi pagi aku udah datang bulan, haha. Libur dulu beberapa hari ya sayang. Oh iya, karena nanti aku pulang malam, kalau kamu mau tidur di kos juga gapapa. Daripada kesepian di sini," terangnya lagi.
"Yuuk sarapan yuuk, aku udah masak."
Aku langsung bangun, mampir ke kamar mandi untuk pipis dan membasuh muka. Lalu kutempati kursi di meja makan, tepat di seberang Tante Dina.
"Noh, dari tadi hape kamu bunyi terus. Dicariin Sandra. Siapa Sandra?" tanyanya sambil terus makan.
"Temenku, Tante. Temen sekelas," jawabku agak panik. Apakah Tante Dina akan marah tahu aku punya hubungan dengan Sandra?
"Hmm, katanya kamu gak punya temen di kampus," ujarnya sambil mengangkat alis.
"Iya, Tante. Setelah kenal sama Tante Dina, aku dikit-dikit belajar cara ngobrol sama temen cewek gitu," balasku seadanya.
"Ya baguslah, haha. Kamu juga butuh berteman dengan seusiamu. Masa temenmu tante-tante terus. Kelihatannya dia ngajak jalan tuh. Kapan-kapan kenalin ke Tante dong," terangnya dengan nada bercanda.
"Iya, Tante, kapan-kapan ya. Tapi nanti kalau mereka tau tentang kita gimana?" balasku cemas.
"Bilang aja mama angkat," jawabnya santai sambil berdiri. "Udah ya, aku ke rumah sakit dulu. Nanti kabari ya kamu mau tidur di mana," terangnya memintaku mengabari.
"Oke, Tante, nanti aku kabari." Aku berdiri dan memberi ciuman salam sebelum dia berangkat ke kantor.
Setelah terdengar mobilnya meninggalkan rumah, aku bangun dari kursi dan mencari HP-ku untuk melihat chat masuk. Sandra......
[27/05 7.51AM] Sandra Santika: hay Rendy
[27/05 7.51AM] Sandra Santika: hari ini ngampus gak?
[27/05 7.51AM] Sandra Santika: abis ngampus jalan yuk..
[27/05 9.23AM] Rendy Surya: iya ngampus, boleh yuk, atau ke tempatmu aja hehe
[27/05 9.25AM] Sandra Santika: even better. Yay!
Supaya tidak lupa, aku mengambil beberapa kondom sebelum berangkat ke kampus.
***
Selesai perkuliahan - 13.20 PM
Aku menunggui Sandra yang masih asik ngobrol dengan teman-temannya di dekat area parkiran. Tidak kulihat mobil Sandra, mungkin dia naik taksi atau nebeng temannya.
"Yuuk!" tepuk Sandra tiba-tiba.
"Eh, udah, yuuk. Kamu naik apa tadi?"
"Aku nebeng Andita dan Helga tadi. Kita mau ke mana?"
"Ke apartment kamu aja yuk, ehehe. Nonton film atau ngapain gitu."
"Haha ngapain hayooo? Yuuk, aku kangen nih!"
"Yuk, cuss!"
Tanpa membuang waktu, kami langsung tancap gas menuju apartment Sandra. Begitu pintu tertutup, kami langsung saling berciuman, dan satu per satu pakaian kami terlepas ke lantai.
"Smoochhh smoochhh smoooochhhhh!"
"Rend, buat aku orgasme squirt lagi please," pinta Sandra sambil berjalan telanjang, menggandengku menuju kasurnya. Tanpa kata apa pun, aku menuruti keinginannya.
Kumasukkan jariku ke memeknya dan menggerakkannya maju mundur.
CREEK CREEK CREEK CREEK CREEK
CREEK CREEK CREEK
CREEK CREEK CREEK
Suara jariku mengobok-obok memeknya yang sudah basah kuyup itu menggema di kamar.
Kulihat Sandra mulai memanjat puncaknya. Erangannya makin meninggi.
"Ahh ahhhh AHHHH terus sayang teruuussss...... AAAHHHHHHHHHHHHH!"
Teriakan panjang meledak, disertai semburan cairan yang menyembur keluar dari vaginanya. Badannya bergetar tak terkendali.
"Ah ah ah hoah hoaaahh," napasnya datang dan pergi dengan cepat, sementara matanya menatapku dengan senyum cantik yang penuh arti.
Aku turun dari kasur, mencari celanaku untuk mengambil kondom yang kubawa.
"Nampaknya kamu udah prepare, sayangg. Bawa berapa?" tanya Sandra sambil tersenyum nakal.
"Bawa 6 nih. Cukup gak?" candaku.
"Kalau abis ya gak usah kondoman lah! Ayo sayang, cepetan!"
Aku mengocok kontolku agar segera berdiri. Tapi nampaknya butuh perjuangan—malam sebelumnya sudah dikuras habis oleh Tante Dina, dan pangkal pahaku masih terasa nyeri. Tapi worth it lah. Ada wanita cantik yang sudah melebarkan pahanya untukku.
Sandra berbaring terlentang, dan kumasukkan kontolku perlahan.
"Awww awww yesss awww ahhhhh!"
"Awww hmmm ahhhhhh awww awwwww!"
PLOK PLOK PLOK PLOK
Desahan demi desahan kami teriakkan tanpa malu-malu.
Giliranku yang berbaring terlentang, dan Sandra menaikkan badannya di atas tubuhku, menghadapku. Dia meraih kontolku yang masih setengah tegak dan memasukkannya sendiri ke dalam memeknya.
"Awww yesss awww awwwwww!"
"Awww yeess ahh yes enak banget sayangg Sandraaaaaa!"
"Awww aku mau keluar Sandraaaaaaa awww awwwwwwwwww!"
Aku meremas pinggangnya dan mengerang nikmat saat kontolku memuntahkan cairan putihku ke dalamnya.
"Awwwwwwww Sandraaaaaaaaaa!"
CROOT! CROOOT! CROOOOOOT!
Kami berpelukan dalam keadaan telanjang, disertai ciuman-ciuman kecil dalam keheningan. Sampai akhirnya Sandra memecah keheningan itu.
"Aku gak mau melepas pelukanku. Anget banget di dadamu." Ujarnya nampak tulus.
Aku diam dan hanya mencium keningnya.
"Eh, yang... Helga pengen kenalan sama kamu," tanya Sandra tiba-tiba.
"Kan udah kenal. Temen sekelas juga," jawabku santai.
"Bukan kenal yang gitu, sayang, culun. Tapi kenal yang... 'gini'." Jelas Sandra sambil memberi tanda kutip menggunakan jarinya.
"Wow... serius??" Aku terkaget.
Haahhh apa apaan ini. Aku baru saja mendengar Sandra bicara yang nampak tulus dan pakai hati—aku tak yakin sih, tapi kenapa dia malah menawarkan tubuhku ke temennya sendiri? Apa maksudnya? Apa dia ngetes hatiku? Pikirku bingung.
---BERSAMBUNG---