←18+
← Life Changing Experience

Episode 14 — Life Changing Experience

EPISODE 14
EPISODE 14 Aku hanya duduk termenung, mencoba membaca apa yang berputar di kepala Sandra. Rasanya berbanding terbalik dengan apa yang baru saja kurasakan—tapi mungkin, dia juga sedang bergulat dengan perasaan yang sama. Di satu sisi, aku enggan menerima tawarannya untuk berkenalan dengan Helga. Aku ingin menjaga perasaanku terhadap Sandra, ingin menjaga apa yang mulai tumbuh di antara kami. Tapi di sisi lain... Helga itu badannya semok sekali. Kulitnya, lekuk pinggangnya, buah dada yang tampak tidak mau diam di balik bajunya. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana rasanya membenamkan kontolku jauh ke dalam tubuhnya. "Atas dasar apa dia pengen kenalan denganku, Sandra?" tanyaku. "Jadi awalnya, gak sengaja dia lihat foto kita waktu ML kemarin itu. Terus dia pengen kenalan deh," jelas Sandra. "Haha, jadi atas dasar itu..." ulangku dengan mimik bingung. "Kalau kamu mau, dia mau ngajak kamu liburan besok rabu, mumpung libur. Besok aku kenalin ya sayang. Mau ya sayang?" pinta Sandra. "Kok kamu yang semangat, haha? Nanti kamu cemburu dong," godaku. "Enggaklah! Ih, emang kita ada apaan kok pakai cemburu-cemburuan, weee," terang Sandra. Tapi aku bisa melihat, jelas, ada ketidakrelaan yang tertahan di tatapannya. "Hmm, aku gak tau, Sandra. Aku pengennya hanya sama kamu. Gimana dong?" balasku, sengaja memancingnya untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia tidak menjawab. Dia hanya berdiri, memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu masuk ke kamar mandi. Aku turut memakai pakaianku. Rasa hatiku campur aduk—yang jelas, saat bersama Sandra, hatiku juga ikut berbicara. Aku duduk di pinggir kasur sembari membuka Instagram, menunggu Sandra yang agak lama di kamar mandi. "Hmm... semok juga ini Helga," pikirku dalam hati, jemariku bergerak menggulir profil wanita itu. Lalu tiba-tiba Sandra membuka pintu kamar mandi cukup kencang—aku kaget, hampir saja HP-ku terjatuh. Yang jelas, aku tak ingin Sandra tahu bahwa aku sedang mengintip media sosial milik Helga. "Ya tapi kamu harus buat keputusan juga. Kan rabu-nya udah mau diajak holiday," terang Sandra. "Ya udah, oke. Lantas kita gimana?" tanyaku. Aku tak ingin hubungan ini berakhir cuma karena satu wanita lain. "Ya kita masih seperti ini lah, jika kamu masih mau... dan jika kamu gak ketagihan sama Helga, haha," canda Sandra sambil mendekat dan duduk di pangkuanku. Aku mencium bibirnya, menahan hangatnya. "Aku gak pengen kita renggang gegara ini, Sandra. Aku pastikan... hanya ini saja," ungkapku, mencoba menenangkannya. "Ah, gak percaya. Cowok mana tahan sama Helga," goda dia, sengikar di ujung nada bicaranya. Lalu kami kembali bercumbu, dan aku menggendong tubuh mungilnya ke kasur, lalu tertidur—ingat-ingat ini sudah cukup malam. *** Keesokan harinya, 9.49 AM Sandra sudah membuat janji dengan Helga untuk meet up di salah satu mall terbesar di kota ini. Menurutku, Helga adalah sosok wanita yang galak di ranjang dan gampang bernafsu. Hanya lihat foto saja, dia udah minta diperkenalkan. Waktu mandi tadi pagi, kontolku ingin berontak, berdiri tegak seolah sudah ingin dimasukkan ke badan Helga. "Sabar ya, Tol... Kontol... tunggu nanti ya gimana. Kalau jadi, kamu harus tunjukkan kemampuanmu. Kalau gagal, ya kita hajar Sandra aja," ucapku pada kontolku sembari mengelusnya pelan. Saat aku keluar dari kamar mandi, Sandra sedang berdandan. Dia sungguh cantik—dengan make up maupun tanpa make up—sehingga membuatku bimbang, apakah aku masih jadi ingin menemui Helga. Tapi Sandra sudah keburu membuat janji, jadi kami harus berangkat. Kami melangkahkan kaki ke salah satu café terkenal di pusat perbelanjaan itu. Kulihat sekelilingku—banyak wanita cantik yang berpotensi menjadi rumah bagi kontolku, tapi aku sadar, kemampuan flirtingku sangat kurang. "Hai cantikkkk!" celetuk Helga begitu kami duduk. "Udah lama kah?" tanya Sandra. "Kagak, barusan juga. Haiiii Rendy," sapa Helga, malu-malu. "Langsung aja cepet kalau ada cowok," ledek Sandra. "Elu bisa santé. Kan semalem udah puas, beb," jawab Helga. Obrolan kami mengalir ke mana-mana, tapi belum menyentuh soal liburan bersama Helga. Masih berputar di sekitar malamku bersama Sandra dan basa-basi pencair suasana. "Jadi gimana besok? Mau liburan ke mana sih?" tanya Sandra kepada Helga. "Haha, aku sih manut si jantan ini dong," Helga menunjukku. "Kok aku..." aku bingung harus bagaimana. "Jadi gini. Rencana aku mau ngajak liburan ke Lombok, mumpung besok, kamis, jumat libur. Rencananya pulang minggu," jelas Helga padaku. "Hmm... boleh. Siapa aja nih?" tanyaku basa-basi, agar tak kelihatan girang. Lagipula tante Dina sedang libur, Sandra juga sudah mengijinkan... dan aku masih bimbang! "Hanya kita berdua. Gimana?" tanya Helga, matanya menatapku tajam dan manis. "Boleh," jawabku singkat, sembari mencuri pandang ke arah Sandra. "Yeeee, asik honeymoon nih!" ledek Sandra. "Pinjem dulu ya beb, nanti aku kasih foto atau videonya, ihihih," ledek Helga. Bagiku sangat awkward mendengar percakapan mereka. Mereka mulai membahas hal-hal yang biasa—masalah cinta sampai masalah ranjang—dengan begitu terbuka. "Udah yuuk, mau persiapan untuk besok nih, hihi," ujar Helga. "Oh iya, besok jam berapa pesawatnya?" tanyaku. "Nanti malem aku kabari ya. Tapi yang jelas penerbangan siang kok, biar malam ini kalian bisa indehoy dulu, haha," ujar Helga meledek. "Lho, gak mulai malam ini sekalian to, mulainya?" jawab Sandra. "Gak lah, first impression besok aja di Lombok, hehe," goda Helga. Kami pun berpamitan dan menuju mobilku. Aku masih takut Sandra merasa tersingkirkan karena aku akan memulai hubungan baru dengan Helga. "Sayang, gapapa kan besok aku dengan Helga?" tanyaku, memastikan dia baik-baik saja. Lalu dia mendekatkan tubuhnya ke aku dan mencium bibirku. "Gimana, masih kurang jelas? Haha. Gapapa sayang, santé aja lah. Geng kita mah biasa gini-gini," terangnya. "Haaa... seriusss??" aku semakin penasaran. "Haha, biasanya yang sering tukeran mah Helga sama Andita. Kalau aku mah kagak. Baru ini aku ML tanpa ikatan, bisa gini ya," terang Sandra. Aku semakin yakin jika Sandra ini beda dengan yang lainnya—yang doyan gonta-ganti cowok. Menurut cerita Sandra, aku adalah orang kedua yang menidurinya. "Hmm, ya udah, kalau kamu gapapa, hehe. Sayang, mampir ke kosanku bentar ya, ambil pakaian untuk besok," mintaku. Aku pun mengarahkan mobil ke arah kosanku. Kosanku cukup private. Kami tidak saling kenal dengan tetangga—cukup tahu saja. Kosan ini menurutku bebas, banyak yang membawa wanita masuk ke kamar. Tapi kita semua gak peduli, yang penting saling menjaga. Kuambil pakaianku seadanya, yang penting cukup selama di sana. Saat aku asyik menata pakaian dan Sandra berbaring di kasur memainkan hapenya, aku mendapat pesan dari Helga. [28/05 4.43 PM] Helga Hapsari: besok pesawatnya jam 12.45 ya Rendy, sampai ketemu di bandara jam 11an ya. [28/05 4.44 PM] Rendy Surya: oke siaaap! Saat Sandra tiduran dan tak memperhatikanku yang sibuk beres-beres untuk besok, diam-diam aku langsung menarik celananya. "Eh Rendy, gilak kamu mau ngapain," ujar Sandra sambil memegangi celananya. "Ayooo lah, aku belum pernah nih di kosan," pintaku. "Aman gak disini? Kok aku gak yakin ya, haha," ujarnya khawatir. "Aman banget lah," jelasku menenangkan Sandra. Lalu Sandra melepas cengkramannya. Aku naik, mendekatkan wajahku pada wajahnya, dan kami berciuman seperti pasangan di malam pertama. Smooocchhhh smoooccchhhhh—suara bibir kami bersahutan. Smooocchhhh... hmmm... ahhh Rendyyyy... ahhhh... smoochhhhh, rancu Sandra saat lidahku menjelajahi leherputihnya turun ke bawah. "Ayo Rend, langsung aja. Aku gak yakin disini aman. Biasa aja, jangan bikin aku squirt ntar sekosan dengar, hihi," canda Sandra sambil membuka kancing celana jeansku. Kontolku langsung mengeluarkan kekuatannya begitu dikeluarkan dari sangkarnya, tegang mengintimidasi udara. Sementara tanganku sibuk berusaha melepas kancing celana Sandra. "Kok tumben kamu ngelepasnya susah, haha? Udah gak focus sama aku ya," ujar Sandra. "Kagak lah. Kamu first love aku, selalu focus dong," balasku sembari menarik seluruh celana Sandra hingga lepas. "Aku aja yang di atas, sayang," minta dia. Aku berbaring, menyenderkan kepalaku di headrest kasurku. Dia menaiki tubuhku, dan tanganku langsung memegangi pinggulnya dari luar baju yang tidak dilepasnya. BLEEESSSSSSS "Ahhhhw... ahhh... ahhhhwwww... ahhhh," Sandra bergerak naik turun, kontolku terbenam utuh di dalam memeknya yang hangat dan basah. Rasanya seperti aku berada di surga. "Ahhh... ahhh... enak banget, Sandraaaaa... awwwww..." "Ahhh Rendy... ahhh Rendykuuu... sayangggg..." dia melingkarkan lengannya di leherku. Smooochhhh... ahhh... smoochhhhh... ahhh—bibir kami bersahutan sambil Sandra terus bergerak naik turun. PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK "Ahhh Rendyyy... ahhh... ahhhh... ahhhhhhh... yesssss," Sandra semakin merancu tak jelas, pinggulnya menggoyang makin liar. "Awwwhhh Rendyy... aku hampir sampeeeee..." dia menggerakkan tubuhnya semakin cepat, memeknya mencengkeram kontolku erat. "Ayooo Sandraaa sayanggg... keluarin semuaaaaaaaa," ujarku, memperhatikan Sandra yang sedang sangat sange di atas tubuhku. "AWWWHHHHH YEEESSSS AHHHHHHHHHHHH HMMMM!" teriak dia, yang mulutnya ditutupi tangannya sendiri agar tak terdengar oleh tetangga kos. "Bentar Rend... uhhh... hmmm... ahhh... uhhh... jangan dikeluarin di dalem ya kamu," ujar dia mengingatkanku bahwa aku tak menggunakan kondom. "Iyaa, tenang aja, aman kok," terangku. "Awww... awww... awww... awww... yes... awww," rancu kami, melanjutkan persetubuhan yang semakin panas. PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK "Sandraaa sayanggg... aku udah deket, sayaanggggggg..." rancuku tak jelas, nafasku makin tercekat. "Ihh, jangan di dalem," ujar Sandra khawatir. Aku lantas membaringkan Sandra, membalik posisi agar aku mengontrol gerakan tubuhnya. Aku menggenjotnya dari atas, kontolku menghantam memeknya dengan ritme yang makin cepat. "Awww... awww... awww... yes yes yes yes... im coming, Sandraaa... im coming," desahku. Aku mencabut kontolku dan ngocok di atas perut Sandra. Dia berbaring sembari menyaksikanku keenakan, matanya memandangiku penuh. CROOOT... CROOOT... CROOOTT—pejuhku muncrat deras mengenai baju Sandra, menghiasi perutnya dengan cairan hangatku. "Awwwwww... hmmm... ahhh... huuuu... lemes aku," ucapku sembari tersenyum ke arah Sandra, lalu ambruk ke dada Sandra—tak peduli perutku terkena pejuhku sendiri. "Kamu ganteng banget pas orgasme," puji Sandra. "Kamu selalu cantik," pujiku, membuat pipi Sandra memerah. Aku mendekatkan bibirku dan mencium pipinya. "I love you," ujar Sandra pelan dan tak jelas. *Wait, what? Apa... aku seperti mendengar kata 'I love you' dari bibir Sandra? Apa aku salah dengar? Wait... ahhh... serius? Apa hanya nafsu sesaat?* pikirku, masih berada di atas tubuhnya. "Sandra?" ucapku, mencoba meyakinkan diri. "Ya? Ih, minggir ah, berat dan lengket. Rendy ganteng! Bajuku kena spermanya kamu, iyuuuhhh," ucap dia sambil meminggirkanku. Setelah kami bersih-bersih, aku membawa tas berisi pakaian untuk ku bawa ke rumah Sandra, agar besok aku berangkat dari sana. Selama di mobil, tangan Sandra berada di pahaku—seperti isyarat bahwa dia tak ingin jauh dariku. Dan aku sangat yakin, dia barusan mengucapkan 'I love you'. Sepanjang perjalanan, kebimbangan menyelimuti kepalaku. *Apa perjalanananku sama Helga aku cancel yah, demi menjaga Sandra?* pikirku. Yaaaaa... sepertinya begitu. ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 13
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal