EPISODE 15
EPISODE 15
Sesampainya di apartemen Sandra, rasanya aku tidak mood melakukan apa-apa. Aku hanya duduk termenung sambil memperhatikan Sandra yang duduk di sebelahku menonton TV, diselingi main hape. Kadang kala dia meletakkan kepalanya menyender di pundak dan dadaku, dan aku turut mencium keningnya — layaknya seorang pacar yang ingin melindungi wanitanya.
"Tumben diem aja kamu, Rend? Ada apa?" tanya Sandra sambil bermain hape. Kalau berduaan begini biasanya aku selalu usil padanya, tapi kali ini aku membiarkan dia.
"Ah, enggak kok, gak ada apa-apa. Kenapa ya, tiba-tiba aku gak mood buat besok?" balasku.
"Ih, gimana sih kamu. Udah di-book semua kan sama si Helga, kasian tau," terangnya sambil duduk tegak menatapku.
"Aku takut kamu cemburu, atau sedih, atau gimana. Hehe, enggak ya?" kembaliku bertanya sambil nyengir.
"Ihh, Rend, apa apaan sih kamu. Aku emang kenapa? Aku mah santai aja kali, haha. Jangan dipikir karena aku sering jalan sama kamu atau ginian, terus aku ada apa-apa ya," terang dia.
*Sandra! Jujur lah. Aku tahu kamu sebenarnya ada rasa. Aku juga! Tapi aku takut mengungkapkan perasaanku jika salah. Ah, Sandra, aku cowok bodoh yang gak bisa maju duluan,* pikirku dalam hati.
"Oh, hehe, maaf deh kalau aku GR," ucapku dengan patah hati. Namun aku yakin dia menyimpan rahasia besar dalam hatinya.
"Udah ah, aku mau tidur. Yuuk," lantas dia menarik tanganku, dan aku menggapai remote TV dan mematikannya.
Dia berdiri di samping kasur dan melepas BH serta celananya, sehingga yang tersisa hanya tanktop dan celana dalam mininya itu. Aku turut melepas baju dan celanaku, tinggallah celana dalamku saja. Lantas kami membenamkan diri ke dalam selimut.
"Kamu besok jadi berangkat kan? Kalau kamu ingin menjaga perasaanku, maka berangkatlah, Rend," ucap dia.
"Baiklah, ya udah besok aku berangkat," ucapku. Sandra tersenyum mendengar jawabanku, lalu dia menciumku. Sandra mendekatkan pangkuannya ke arahku agar aku memeluk, dan aku memeluknya dengan erat. Kami pun terlelap.
Keesokan harinya, pukul 08.05 pagi.
Aku terbangun. Di sebelahku Sandra masih tidur pulas tertutup selimut. Aku bangun untuk mempersiapkan kepergianku bersama Helga. Rasanya berat meninggalkan orang yang kusayangi untuk bercinta dengan wanita lain — walau seijinnya.
Sandra ikut terbangun saat aku terbangun. Aku berjalan ke kamar mandi untuk mandi setelah Sandra, dan dia masuk ke arah dapur menyiapkan sarapan untuk kami berdua.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi — sudah saatnya berangkat ke bandara. Aku bersiap dan packing keperluan harian, sedangkan Sandra hanya melihatku dari sofa. Karena ini urusanku, aku memutuskan berangkat ke bandara naik taksi.
"Sayang, aku ke Lombok dulu sama Helga ya," ucapku sambil mencium Sandra.
"Oke, sayangg. Helga jangan diperkosa ya," canda Sandra.
***
POV Sandra
Setelah Rendy keluar dari apartemenku, dan kupastikan bahwa dia sudah jalan, tanpa kusadari air mata mengalir dari ujung mataku.
*Aku belum pernah merasakan sesakit ini. Apa ini yang rasanya jatuh cinta? Rendy sebenarnya tahu dengan apa yang aku rasakan, dia juga memiliki rasa yang sama denganku. Maafkan aku, Rendy. Hanya ini cara untuk menghapus namamu dari dalam hatiku. Aku menikmati hubungan denganmu, namun aku tak ingin lebih dalam dari ini,* pikirku dalam hati.
Aku kembali menjatuhkan diriku ke kasur. Bau parfum Rendy masih tersisa di ruangan ini. Aku membuka HP untuk melihat momen indah yang pernah kami abadikan bersama.
*Aku gak boleh terlihat lemah di depan Rendy, dan gak boleh menunjukkan kalau aku pakai hati. Aku gak ingin jatuh cinta lebih dalam. Semoga yang aku lakukan ini akan menghilangkan rasa ini, dan aku bisa menganggap dia sebagai teman biasa,* aku berpikir.
Lantas aku berdiri dan mandi untuk menghapus rasa galau dalam diriku. Aku sangat yakin, setelah dia kembali, dia juga akan menganggapku sebagai teman biasa.
***
POV Rendy
Sesampainya di bandara, kucari Helga. Sesuai yang dijanjikan, kami akan bertemu di depan pintu keberangkatan.
Tiba-tiba ada yang menepukku dari samping. "Hayyyy!" sapa Helga.
Saat kuperhatikan, wow — Helga memakai hotpants yang menurutku sangat pendek dan seksi. Namun dengan banyak orang di bandara, kurang pantas rasanya dipakai di sini.
"Eh, hello Helgaa," sapaku sambil memberi pelukan.
"Eh, Helga, sebelum kita masuk, maaf nih... itu celanamu gak kependekan ya, haha," protesku.
"Belum apa-apa, yang dilihat udah bagian bawah," jawab Helga.
"Bukan gitu, ini kan masih di tempat umum. Kalau nanti udah di kamar mah gak usah pakai apa-apa pun aku gak akan protes," candaku.
"Baik bos, aku ganti di kamar kecil, biar surprise yaa," balas Helga.
Lalu dia menuju kamar kecil, dan tas besarnya dititipkan kepadaku.
"Kalau gini bagaimanaa?" tunjuk Helga setelah dia kembali.
Dia menutupi pahanya yang terekspose menggunakan rok pantai panjang.
"Nah, gitu dong. Yuk, check in," ajakku.
"Yuuk," sambil Helga menggandeng tanganku.
Setelah check in dan menunggu waktu boarding di ruang tunggu, aku belum pernah merasakan terintimidasi seperti ini. Selama jalan dengan tante Dina maupun Sandra, belum pernah aku menyaksikan begitu banyak pasang mata memandang pasanganku seperti ini. Dan rasanya semua orang berpikir: ini si cowok anak raja minyak, apa gimana bisa ngajak liburan cewek seseksi dan secantik Helga.
Tak kupungkiri, Helga jauh lebih seksi dan cantik daripada Sandra. Namun binalnya sungguh luar biasa, daya tarik seksnya gila. Bagaimanapun, aku enggan menukar Sandra dengan Helga. Binal dan seksi memang enak dibawa ke kamar, tapi untuk diajak rumah tangga... entahlah.
"GA451 tujuan Pulau Lombok, silakan masuk ke pesawat melewati pintu nomor dua!" teriak petugas bandara. Kami pun berdiri dan berjalan memasuki pesawat.
"Udah pernah ke sini sebelumnya?" tanya Helga.
"Belum pernah. Kamu sudah?" tanyaku kembali.
"Sudah sih, dulu dengan keluarga. Bagus kok, lebih bagus dari Bali menurutku," terang dia.
Penerbangan selama satu jam lebih ini sungguh nyaman, tanpa turbulensi sedikit pun. Aku lebih sering menghabiskan waktu perjalanan menonton tayangan di layarku.
"Flight attendant, prepare for landing," suara berat khas penerbang dari ruang kokpit.
Aku membayangkan, apakah para pilot ini biasa meniduri para pramugari selama overnight stay? Kalau memang begitu, betapa bahagianya hidup para pilot — maka sudah jelas mengapa dulu keluarga besarku melarangku masuk ke dunia penerbangan. Tapi tak apalah, aku juga bahagia menjadi mahasiswa yang rutin dapat servis dari para wanitaku. Memang benar-benar life changing experience jika kita handal dalam urusan ranjang.
Pesawat mendarat dengan mulus dan kami turun. Setelah mengambil barang bawaan, kami keluar bandara, dan panasnya bukan main di sini.
"Panas banget ya ternyata, hmm," ucapku.
"Emang, di sini enaknya gak pakai baju," balas Helga, sudah mulai obrolan binalnya.
"Anjir," balasku singkat sambil tertawa.
Belum terlalu banyak wisatawan asing ke sini, tapi menurutku lambat laun akan ramai seperti pulau sebelah. Memasuki gerbang penginapan pilihan Helga, terpampang jelas nama lokasi ini: Cliff Side Ocean View Villa. Baiklah, dari namanya nampaknya ini bukan villa murahan. Helga berjalan menuju receptionist, sedangkan aku masih melihat-lihat sekeliling villa.
"Terima kasih Bapak dan Ibu telah memilih villa kami untuk liburan Bapak dan Ibu. Kamar Bapak dan Ibu di kamar 1110, selamat beristirahat," sapa resepsionis.
Kami pun melangkah menuju villa kami. Setelah pintu ruang villa dibuka, wow — villa ini berbentuk studio. Begitu pintu masuk terbuka, ruangan ini cukup besar; antara ruang duduk dan kamar dibatasi separator ornament tradisional. Kasurnya besar, dan terdapat pintu kaca besar yang viewnya langsung menuju lautan, karena lokasi villa ini berada di atas tebing. Saat kubuka pintu kaca itu, ternyata masih ada kolam renang.
Saat melihat-lihat, tanpa kusadari aku merasa horny membayangkan apa yang akan aku dan Helga lakukan di sini. Aku berharap fantasiku bisa terwujud. Tanpa kusadari, Helga langsung memelukku dari belakang. Tanpa berlama-lama aku berbalik badan dan memeluknya.
"Udah gak sabar ya, haha?" tanyaku padanya.
"Haha, lumayan. Udah lama juga gak begituan aku. Kamu mah paling, lagi tadi malem," ujar dia.
"Yee, apaan, tadi malem langsung tidur aku," balasku.
Tanpa kuminta, dia langsung melahap bibirku.
"Sscchhhh cchhhh smooccchchhhhh" — bibir kami bersentuhan.
"Ahhhh ahahhhhh csshhhhhh" — ciumanku turun ke lehernya, kujilat lehernya yang putih.
"Ahhh ahhh ahhhhhhhh" — suara desahan Helga.
Tanganku semakin nakal menelusuri tubuh Helga. Kuperas-peras pantatnya yang tebal, membuat desahannya semakin tidak jelas. "Ahhh Rendy, please, ahhhh, you are so good, ahhhh Rendy ahhhhhh..."
Kumasukkan tanganku ke dalam celananya untuk menyentuh memeknya. "Ahhh Rendy, geli, ahhhhhhhhhh... terus Rendyyyyyy..."
Disaat dia sedang keenakan, kuhentikan semua yang kulakukan — agar dialah yang gentian memburuku.
"Rend, kok berhenti? Ayo sini," rancu Helga yang sedang keenakan.
Aku mendekat kembali ke tubuh Helga, kuciumi lagi leher dan bibirnya. Kontolku sudah sangat tegang, lalu Helga mengarahkan tangannya ke dalam celanaku. Dia berlutut di depanku dan memandangiku dari bawah sembari tersenyum.
Dia membuka kancing celanaku dan melepasnya. Terbebaslah kontolku yang sudah berdiri tegang. Kulihat wajahnya yang ingin segera melahap.
"Emmmmm hmmmm ahhhhh hmmmm" — suara Helga mengulum kontolku.
Aku hanya menahan nikmat sembari memandang ke arah lautan luas. Aku tak ingin keluar di sesi blowjob ini, tapi kuluman Helga sungguh luar biasa — mungkin dia sudah terbiasa...
CREEK CREEK CREEK CREEK
CREEK CREEK CREEK
CREEK CREEK
Suara kontol dan bibir bersentuhan dengan tempo yang cukup cepat.
"Ahhhh hmm, Helga, enak banget," desahku sembari mengelus-elus rambut halusnya. Aku tak ingin berakhir di sini.
"Uuh huu uhh uhhh" — nafasku berburu, berusaha sekuat tenaga menahan nikmatnya kuluman Helga.
"Helga, gentian, kamu sini," ajakku — rasanya pejuhku sudah hampir keluar. Kubimbing tubuh Helga ke kasur dan melepas rok serta celananya.
"Oh my God, indah banget, Helga," pujiku pada memeknya, lalu mulai kujilat.
"Cruurppp sruuurppp sruuuruuuppp" — suaraku menjilati lubang surgawi Helga. Dia berbaring di kasur, tangannya meremas-remas toketnya sendiri.
"Ahhh ahhh ahhh hmmmmm ammmm ahh" — desah Helga saat aku berada di antara kakinya.
"AH AH AHHH YESSS! Lebih cepet, Rend, cepeeet!" Helga memintaku lebih cepat — dia akan segera orgasme. Namun aku malah berhenti.
"Rendy, kok malah berhenti! Aku hampir sampaaaiii... pleaseeee, lanjutin, nanggung banget, please!" teriak Helga.
Lantas kumasukkan kontolku ke lubang surgawinya. "Ahhhh, Helga..."
BLEESSSS
"Ahh ahhh haaaa hhhh ahhh ahhh ahhh..."
"Ahhh ahh ohhhh Helga ahhhh..."
"Yess Rendy yeeeesss..."
Sodokanku maju mundur. Helga terus berbaring dengan badannya bergoyang maju mundur di atas kasur itu. Wajahnya sudah super sange, menikmati tiap senti kontolku.
Hanya beberapa sodokan, akhirnya dia keluuuuar... "Ahhhhhh RENDYYY AHHHHHHHH!" Nafas Helga semakin berburu saat orgasme. Badannya bergetar, otot-otot vaginanya makin kencang meremas kontolku karena keenakan.
"Awwwwww RENdyyyyyy awwwwwwww ahhhhh enaaaak bangeeettt ahhhhwwwww..."
"Uhhh hmm awwwww yeeess awww uhhhh..." — suaranya perlahan semakin terkontrol.
Kulihat dia melemas. Saat dia sudah sedikit bertenaga, kembali aku memompanya sembari menciumi bibirnya, dan kaki Helga melingkar pada tubuhku.
PLOK PLOK PLOK
PLOK PLOK
PLOK
Aku tak kuat dengan cengraman memeknya yang menurutku sangat sempit sekali. "Ahhh aku mau keluar, Helgaaaa..."
"Jangan di dalam, sayangggg," perintah Helga.
Kucabut kontolku dan kuletakkan di perutnya, "AHHHHH HELGAAAAHHHHHHHHHHHH!" Semburan demi semburan keluar dari kontolku, bahkan mengenai rambut Helga.
"AWWWW YEEEEESSSSSSSSSSSS!" teriakku sambil mengocok kontolku, mengeluarkan semua pejuh yang ada dalam tubuhku. Badanku terasa sangat lemas.
Lantas aku berbaring di sampingnya dan mencium bibirnya.
"Gilaaa, intens banget tadi, haha. Padahal hanya bentar ya, tapi rasanya semua tersalurkan, haha. Pantes Sandra seneng," kata dia dengan wajah bahagia.
"Haha, enak banget juga kamu. Badanmu bikin aku super horny," balasku dengan rona berbunga-bunga.
Ohh, Sandra... maafkan aku......... tapi ini enak......... ucapku dalam hati.
---BERSAMBUNG---