EPISODE 16
EPISODE 16
Setelah adegan ranjang tadi, kami membersihkan diri di kamar mandi. Aku merebahkan diri di kursi malas di pinggir kolam renang, memandangi lautan yang mulai gelap sambil mendengarkan ombak pasang yang bergemuruh menjelang malam. Helga mengenakan celana dalam motif renda dan tanktop ketat yang membuat bentuk tubuhnya semakin menggoda. Dia mendatangiku sambil membawa dua gelas jus jeruk yang ia ambil dari kulkas hotel.
"Ini minum jus jeruk, Rend. Biar seger," katanya sambil mengulurkan gelas kepadaku, lalu menurunkan pantatnya yang lebar ke kursi malas di sebelahku, dipisahkan meja bundar kecil untuk menaruh gelas.
"Makasih." Aku meminumnya sekali teguk.
"Gila, sempit banget sih, Hel. Memekmu," godaku sambil tertawa.
"Enak banget kah?" tanyanya menggoda.
"Banget."
"Iyalah. Tiap bulan aku perawatan vagina di salon, kok. Makanya singset, pink, dan wangi," jawabnya manja.
"Serius?" Aku jadi penasaran.
"Iya. Sama seperti memperawani cewek, ya?" ledeknya.
"Belum pernah memperawani cewek, aku, hahaha," jawabku santai.
"Seriuuus?" tanyanya serius kali ini.
"Iyaa, gilaak. Bikin penasaran rasanya, haha," balasku sambil tertawa.
"Eh Rend, aku boleh tanya sesuatu, tak?" tanyanya.
"Hmmm, boleeeh. Apaan?" balasku sambil menyesap jus.
"Haha, kamu kan culun. Katanya temen-temen yang lain bilang kamu jomblo seumur hidup. Tapi kok kamu bisa bikin cewek klejotan gak jelas begini? Emang latihan di mana??" tanyanya, dan jujur, aku kaget setengah mati.
"Anjir, jomblo seumur hidup? Haha, latihan dari coli," jawabku berbohong.
"Gak mungkin lah. Aku taulah bedanya cowok yang lihai dan pemula," terangnya yakin.
"Anjir, kamu ngamatin cowok pas ngentotin kamu ya," candaanku.
"Bukan gitu. Ya taulah, gampang banget. Biasanya yang hobi coli paling mah 15 detik udah keluar semua," terangnya.
"Hmmm... kalau aku jujur, kamu mau gak jaga rahasiaku?" Aku menatapnya serius.
"Janji, bos. Aku cuma penasaran kok kamu bisa lihai banget," balasnya.
"Aku diajarin sama tante-tante kenalanku. Dulu ya, baru nancep terus mancur semua, hehe. Terus diajarin deh, jadi bisa gini. Tolong jaga rahasiaku ya. Sandra aja belum tau," pintaku.
"Haaaaa! Sudah kutebak! Aku pernah kenal cowok juga yang jadi simpenan tante-tante, bikin kaki gemeter. Ternyata kamuuuuu!" jawabnya sambil menatapku lekat. "Wait. Tadi kamu bilang Sandra belum tau? Wait, wait... kalau kamu gak ada apa-apa, seharusnya kamu santai dong kalau dia tau. Pasti kamu diem-diem suka Sandra," tuduhnya.
"Ya gak ada apa-apa, yakin suer. Tapi jagalah. Gak enak juga sama yang lain kalau tau si anak culun punya tante," balasku singkat.
"Ngomong-ngomong doi siapa sih? Penasaran aku, haha," lanjutnya, ngebut ingin mengupas tuntas diriku.
"Dia dokter gitu. Janda. Kesepian doi, makanya butuh guweeeh," jawabku songong.
"Iya, iya, boooosssss," balasnya sambil tertawa lepas.
Lalu Helga berdiri mengambilkan jus jeruk lagi. Saat kembali, dia membawa HP-nya dan melakukan selfie snapgram dengan view lautan luas. Untunglah yang kelihatan cuma bagian atasnya — karena dari pinggul ke bawah, dia cuma pakai celana dalam.
"Haha, eh Helga, ngomong-ngomong kamu punya fantasi dalam bercinta yang belum terwujud gak?" tanyaku saat dia kembali duduk.
"Haha, adaaa," jawabnya lantang.
"Yuuk, aku wujudkan," ajakku.
"Aku cuma pengen bisa squirt, hehe," jawabnya malu-malu.
"Hmm, boleh tuh aku wujudin, haha. Pasti diceritain ke Sandra, hmm," ejekku sambil ngakak.
"Iyalah, gilak! Makanya aku ajak kesini juga, hehehe," balasnya dengan wajah memerah.
"Hmm, bisalah aku bantu wujudin," jawabku santai — soalnya ini memang keahlianku.
"Kalau fantasimu apaan, Rend?" tanyanya balik.
"Haha, aku pengen anal seks," balasku singkat.
"Njir, kentot pantat?" tanyanya meyakinkan.
"Iyaa."
"Hmm... kalau kamu bisa bikin aku squirt, ntar fantasimu aku wujudin deh," ucapnya menggoda.
"Deal." Aku mengulurkan tangan.
"Oke, bakal aku bikin kamu ketagihan ntar, haha," ajakku.
"Deal," balas Helga singkat sambil main HP.
Hari semakin malam. Suara debur ombak semakin kencang saat menghantam dinding tebing. Aku kembali horny. Aku ingin mencoba membuat Helga squirt. Aku berdiri menatap horizon lautan yang tak terlihat, angin berhembus kencang. Aku penasaran bagaimana Helga masih nyantai dengan celana dalamnya saja tanpa kedinginan. Aku melirik jam dinding di dalam kamar — pukul 19.34. Tidak ada rasa lapar yang menyerang perutku. Yang ada, rasa lapar untuk melahap vagina Helga untuk kedua kalinya hari ini.
Aku berdiri di depannya, tanganku masuk ke dalam celanaku. Dia menatapku sambil tersenyum nakal. Aku membungkukkan diri dan mencium lehernya.
"Ahhhhh, Rendyyyyyy!" desahnya, dan tangannya langsung menyusup ke celanaku, memegangi kontolku yang sudah tegang membuang-buang energi.
Aku turun ke pusarnya, menciumi daerah di antara pusar dan vaginanya. Dengan gigi, ku tarik perlahan celana dalamnya sampai lepas. Lagi-lagi kujilati vagina indahnya itu.
"Ahhh Rendyyyy, enak bangeeet!"
"Uwwww yeesss uwww yeeesss!"
"Hmmm ohhhhhh Rendy, kamu enak banget, ahhh! Lidahmu luar biasaaaaa!"
Bulan terang menyinari bumi, menyaksikan dua manusia yang tengah tenggelam dalam kenikmatan. Aku berada di antara paha Helga, dan dia intens menikmati setiap serbuan lidahku ke memeknya.
"Awwww Rend, awwww, gila enak bangeeet, awwww!"
"Hhhh yesss awww uhhhh hmmm, gilaaa, ini rasanya sampai ubun-ubun!"
Kaki-kakinya melalang melintang di punggungku, berusaha menahan gelombang nikmat dari lidahku. Wajahnya sudah sange tak karuan.
"Helga, aku masukin jariku ke memekmu, ya," tanyaku. Dia mengangguk pelan. "Tapi kamu kudu pasrah dan dinikmatin aja."
"Masuk ke kamar aja, Rend. Jangan di sini," ajaknya. Dia berdiri dan menarik tanganku masuk ke kamar. Gila, dia seksi banget berjalan berjinjit tanpa celana dalam, hanya berselimut tanktop.
"Benar kata Sandra, cowok mana tahan dengan Helga," pikirku.
Dia berbaring di ujung kasur, membuka kakinya lebar-lebar, memperlihatkan lubang surgawinya. Aku bertlutut di lantai, bersiap menghujam memeknya dengan jariku.
Kumasukkan kedua jariku ke dalam vaginanya.
"Ahhh... pelan-pelan, Rendy... sakit... ahh!"
BLESSSS!
Aku goyangkan jariku masuk keluar.
CHEK CHEK CHEEK CHEEEKKK — suara becek memek Helga menggelora. Helga hanya mendesah dan mencengkeram sprei, rambutnya acak-acakan, tanktopnya sudah tak berbentuk. Tangannya sendiri memainkan teteknya.
"Ehmmm ahhhh mmmmm, Rendyyy sayanggg, hmmm!"
"Awww awww awww awwwww!"
"Uhhhh uhhhh wwwwaaaaa yeeeee!"
"Hmmm, aku gak tahaaan, awwwwww yeeeeaaaaaa!"
"Hmmm enak banget, awwwww!"
Setelah sekian lama, pegal mulai terasa di jariku. Kuraba dinding rahimnya yang mulai membengkak, dan kutekan dalam-dalam titik itu.
"Ahhhhh RENDDYYYY AHHHH, AKU KELUAAAAAAAAAAAAAHHHHHH!"
"AHHHHHHHHH ENAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!"
Pahanya bergetar, perutnya kembang kempis. Kakinya berusaha menutup, tapi kutahan. Aku terus mengobok memeknya, dan...
CREEET CREEEEEEET CREEEETTTTT, CREEEETTTT!
Semburan squirt meledak dari vagina Helga, membanjiri kepala dan dadaku.
Kutatap matanya. Dia merem-melek seperti orang kerasukan — kerasukan yang enaknya luar biasa.
"Ahhh ohhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhhh, gilaaaaaaaaa! Enaaak banget! Aku belum pernah merasakan yang seperti iniiii!" ucapnya sambil mengejar napas.
Setelah dia mendapat sedikit tenaga, kuposisikan Helga doggy style.
"Giliranku ya, sayangg," ucapku.
Kuarahkan kontolku yang sudah ngaceng dari tadi, menunggu giliran menembus sarangnya.
BLEEESSSSSSS!
PLOK PLOK PLOK! Suara pantat dan paha kami beradu porak poranda.
"AH AH AH AH AH AH AH AH!" Desahan kami tiada henti. Tetek Helga menggantung indah, bergoyang mengikuti irama. Lututnya semakin lemas, posisi kami makin merendah tiap menit. Teteknya kuremas terus, pantatnya kutabok PLAK PLAK PLAK.
"Awww yesss, awww, tabokin terus pantatkuuu, awwww!"
"Ahhhh Helga, enak banget memekmu, awwww yesssss!"
"Iyaaa, enaaak yaaa! Terus pompa terussss, awww awww awwww!"
Aku berhenti sejenak, menahan aliran pejuh yang sudah mendesak keluar. Aku ingin bertahan selama mungkin dalam ritual ini.
Kami berganti posisi — Helga di atasku. AH AH HMM EHH HMMM. Dia naik turun keenakan, menggoyangkan pinggulnya, memegangi teteknya sendiri sambil mendesah nikmat.
"Awww yeaahhh hmmm awww yesshhh!"
"Ahhh enak banget, awwwwhhhh!"
"Helga, aku mau sampai... keluarin di mana?" tanyaku, merasakan pejuhku hendak meledak.
Lantas dia mencabut kontolku dari memeknya dan memasukkannya ke dalam mulutnya sambil mengocoknya pelan-pelan.
"AHHHHHHHHHHH HMMMMMMMM AHHH!"
CROOOT! CROOOOOR! CROOOT!
Semburan demi semburan pejuhku muncrat di dalam mulutnya — dan dia menelannya semua.
"Hmmm, gurih, hahaha," tawa Helga. "Enak banget tadi orgasmenya, hahahaha." Kami berpelukan.
Lalu kami menghidupkan TV yang menempel di dinding berseberangan dengan kasur, ngobrol ringan sambil beristirahat.
"Gila sih, tadi haha. Dua hal baru yang aku rasakan ML sama kamu hari ini," ujar dia.
"Apaan?" tanyaku penasaran.
"ML tidak berkondom... dan squirt," jawabnya.
"Haaaa? Masa belum pernah ML gak pakai kondom?" tanyaku tak percaya.
"Beneran! Gini-gini juga njaga kali gueee. Eh, tapi sekali pernah gak berkondom — pas nglepas perawan, haha," jawabnya tanpa beban.
"Haha, kamu pernah perawan tah?" ledekku sambil memeluknya.
"Pernahlah, gilaaakkk," jawabnya sambil tertawa.
"Ceritain lah, dulu pertama ML gimana, haha," ujarku.
"Haha, panjang nih ceritanya, dan complicated banget, haha," balasnya.
"Gapapa lah. Kan kita masih lama di sini," jawabku.
"Baiklah," balasnya, memulai ceritanya. "Aku udah kenal orgasme pas kelas 3 SMP. Pertama orgasme enak banget — dengan masturbasi sih. Nah, aku ketagihan lah, biasa. Tapi belum berani ngentot atau masukin jari. Terus waktu kelas 1 atau 2 — aku lupa — kami piknik sepupu-sepupu ke Bali, kira-kira seminggu. Kami ber-6an. Adikku cewek waktu itu masih SMP, dan sepupuku cowok yang hampir seumuran denganku tinggal bersama kami. Kami bertiga tidur sekamar plus extra bed untuk sepupuku itu.
Malam pertama, nothing wrong. Malam kedua, aku dan sepupuku dugem, sedangkan adikku gak ikut — dia pilih piknik dengan sepupu yang lain. Di dugeman kami mabuk, saling peluk dan raba. Aku merasa horny, dan aku bisa merasakan kontol dia ngaceng. Setelah dari dugeman kita balik ke kamar, dan di kamar adikku gak ada. Kubuka HP-ku mencari adikku — ternyata dia pilih tidur di kamar sepupuku yang lain.
Yauda..."
"Yauda gimana nih? Tanggung," mintaku.
"Haha, anjiirrr... Yauda, kami masih on banget. Kami ciuman. Salah emang, saudara kok begituan — tapi adrenalinnya gilak. Terus kami bikin batasan buat gak sampai ML. Tapi ya namanya horny, mau gimana. Dia ngeluarin kontolnya, dan aku bantuin kocokin dan ngemut. Itu pertama kali aku pegang kontol. Malam selanjutnya kami petting — telanjang, saling memuaskan, tapi gak ML. Gitu terus beberapa hari, sampai akhirnya kami khilaf, dan perawanku diambil oleh sepupuku sendiri — yang selama ini aku anggep seperti adikku sendiri," ceritanya.
"Hmmm... kamu kecewa atau gimana kah?" tanyaku.
"Hmmm, awalnya sih, hihi. Terus ya, udah terlanjur, mau gimana lagi. Kami melakukan itu selama di Bali. Sesampaianya pulang dari liburan, bukannya berhenti — kami malah ketagihan. Kadang ML di rumah kalau ada kesempatan, tapi biasanya kami diem-diem sewa apartment biar aman. Terus kami pakai kondom terus. Hubungan itu berlangsung sampai kami lulus SMA. Sekarang dia lanjut sekolah di Sydney, dan kami gak ketemu lagi," lanjutnya.
"Hmmm," jawabku singkat.
"Tapi ya, incest emang gila, dan emang bener-bener ada. Aku juga punya temen yang malah ML sama kakak kandung, adik kandung lah, gila emang. Tapi birahinya emang berkali-kali lipat," jelasnya dengan semangat.
"Wow, benarkah... menarik tuh, hahahaha," balasku singkat, sambil berpikir.
"Kakak Novita........" pikirku jorok.
"Yauda yuk, cari makan yuk. Laper nih," ajaknya, membuyarkan pikiran jorokku.
---BERSAMBUNG---