EPISODE 17
EPISODE 17
Kami terbangun dibuyarkan oleh deburan ombak dan sinar matahari yang menusuk tajam menembus french door kaca yang lupa kututup gordennya tadi malam.
"Aaaouuuhhhhh," Helga bangun sambil meregangkan tubuhnya sampai semua persendian berbunyi.
"Jam berapa ini?" tanyanya dengan mata masih setengah terpejam.
"Jam delapan kok, masih pagi banget," balasku yang sudah berdiri di depan pintu, menikmati hamparan biru lautan yang berkilauan kena matahari.
"Yuk keluar, sarapan dulu. Mumpung masih pagi, makanannya pasti masih banyak," ajaknya sambil mengucek matanya.
"Yuk, boleh. Nanti mau di sini aja atau jalan-jalan ke mana gitu?"
"Udah nyampe sini rugi dong kalau nggak jalan-jalan," ucap Helga.
Lantas dia terbangun dan berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Mataku justru terpaku pada pantatnya yang lebar itu — setiap langkahnya membuat dua buah daging itu bergoyang kiri-kanan di balik piyamanya, dan seketika penasaranku membara. Aku ingin sekali segera tahu bagaimana rasanya membenamkan kontolku sampai ke akar di antara belahan pantatnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Helga memakai rok panjang dan baju berlengan. Mungkin dia nggak mau terlihat seperti cewek yang suka pamer tubuh di depan umum.
"Yuk," ajaknya, dan kami pun melangkah keluar menuju restoran resor ini.
"Hmm... makanannya banyak banget pilihannya, dan penghuni hotel ini rata-rata bule semua," pikirku sambil mataku berkeliaran memilih lauk.
"Nanti ke mana nih?" tanyaku pada Helga.
"Jalan-jalan di sekitar sini, banyak tempat unik kok, dan kulinerannya unyu-unyu," jawab dia.
"Baiklah, aku ngikutin kamu aja haha," balasku sambil fokus menyerang piringku.
Setelah urusan makan selesai, kami kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap berkeliling sekitaran resor yang menurut Helga penuh tempat menarik.
Aku masuk kamar mandi duluan, sementara Helga masih asyik pegangan gadget, entah apa yang dia lakukan.
Di saat enak-enaknya kuhirupkan uap air panas yang membasuh seluruh tubuhku—
"Heeeellloooooo, aku ikutan yaaaa!" Suara Helga datang bersamaan dengan bukaan pintu kamar mandi, kepalanya mengintip dari baliknya sambil senyum-senyum.
"Hahahaha wooeee parah sih loe!" balasku sambil nyemburin air ke arahnya.
"Ahahahahaha!" Helga terpingik sambil melangkah masuk.
Dia menanggalkan pakaiannya satu per satu tanpa malu-malu, lalu masuk ke bilik shower bersamaku. Langsung aja kupeluk badannya yang gempal itu, kulitnya licin basah oleh air dan sabun.
"Anjiirrr, seksi banget sih loe ini," ucapku sambil memandanginya dari atas ke bawah.
Tapi ternyata mandi berdua nggak se-romantis bayangan kami semalam. Bukan seperti di bokep-bokep yang dua orang saling mengusap dan berciuman di bawah air. Di kenyataannya kami malah rebutan sabun dan rebutan air hangat yang kadang mendadak dingin.
"Ih minggir, Rend! Dingin gini badanku, aku pengennya di bawah air!" suruh dia.
"Bentar, bentar, sabunnya masih numpuk di muka gue ini lho!" balasku merem sambil gosok muka.
"Hahahahaha!" Helga terbahak kencang sampai bahunya gemetar.
Adegan mandi tadi berantakan total dari rencana. Akhirnya aku menyelesaikan mandiku duluan karena bilik shower itu memang cuma cukup untuk satu orang. Kami pun bersiap jalan-jalan ke sekitaran resor.
Sejauh mata memandang, mayoritas pengunjung di sini bule semua, dan mereka berpakaian mini-mini. Cewek-cewek bule banyak yang cuma pakai hotpants dan tanktop, putih-putih kulitnya memantul kena matahari. Helga sendiri tadi sudah ganti jadi hotpants dan baju berlengan. Kami memilih menikmati suasana pantai di tepi cottage sambil menyeruput kelapa muda dan makan siang. Ternyata wisata pantai ini memang didesain untuk santai dan nikmat-nikmatan, bukan untuk belanja kaya pulau sebelah.
"Serasa honeymoon nih," ucapku singkat.
"Lha ini kan emang honeymoon," balasnya sambil menyenderkan kepalanya di pundakku, rambutnya helai-helai menutupi pandanganku dan harumnya menguar masuk ke hidungku.
Setelah kelapa mudanya habis, aku mendatangi penjualnya untuk membayar, sementara dari jauh kulihat Helga asyik selfie sendirian dengan berbagai gaya.
"Semuanya tujuh belas ribu, Mas... istrinya cantik banget, Mas..." kata penjual kelapa itu, ibu-ibu yang usianya mungkin mendekati lima puluh.
"Iya, Bu, terima kasih," jawabku sambil mengulurkan uang.
"Yaaah... wajah gue masih kemarin sore disuruh nikah," pikirku sambil senyum-senyum dalam hati.
Kami pun menyusuri kafe-kafe di pinggir pantai itu yang rata-rata menjual minuman beralkohol — minuman yang rasanya pahit dan tidak pernah kubisa.
"Eh, mampir minimarket yuk, cari roti buat kalau tengah malem laper," kata dia genit sambil narik ujung baju handukku.
Menyusuri lorong demi lorong minimarket itu, akhirnya aku menemukan yang kucari: rak kondom. Tanpa pikir panjang kupilih yang satu boks isi dua belas. Siapa tahu nanti Helga benar-benar mau mewujudkan fantasiku.
"Hmm... sudah kuduga dari tadi hahaha," ucap Helga singkat saat aku memasukkan boks kondom ke keranjang belanjaan, dadanya kena senggolanku.
Sekembali ke resor, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Badanku capek untuk bercinta, jadi kuputuskan tiduran di kasur dulu. Helga sibuk di sebelahku, membuka kopernya, lalu berjalan masuk ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun kepadaku.
Beberapa saat kemudian dia keluar. Alamak. Bidadari ini memang dibuat untuk membuat pria ngaceng terus setiap kali ada di dekatnya. Dia mengenakan bikini berwarna pelangi yang merekat di toketnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang gempal itu. Aku langsung ngaceng.
"Anjiiirrrrr," ucapku dalam hati, tekakku serasa tercekat.
"Aku renang dulu ya. Yuk, renang yuk!" ajak dia.
"Oke, ntar aku nyusul," ucapku sambil memandang pantatnya naik-turun mengikuti langkah kakinya menuju kolam renang di dalam villa kami.
Aku masih rebahan di kasur sambil nonton TV. Tanganku diam-diam masuk ke dalam celana pendekku, menggenggam kontolku yang sudah tegak ngaceng itu. Kukocok pelan-pelan sambil menyaksikan Helga yang sedang asyik berenang, badan mangap-mangap di air, toketnya kadang-kadang nyembul ke permukaan.
"Ahhhh enaaaak banget... udah lama nggak ngocok," ucapku sambil mendesah.
Kugerakkan genggamanku naik-turun di kontolku, makin lama makin basah oleh lendirku sendiri. Aku merem-melek menikmati kocokanku sendiri. Walau akhir-akhir ini sering kentot, kadang rasa kangen sama enaknya coli masih datang juga.
"Awww hmmm awwwww... gilaaa... enak bangeeet," desahku makin kencang.
"Heeeeh, malah coli!" teriak Helga dari luar ruangan, kaget mendapati aku nongol begitu saja.
"Haha iya nih, ngaceng gara-gara liatin kamu," balasku nggak malu-malu.
"Haha, sini aku bantuin deh, kasian banget sih," ucap dia sambil mengeringkan badannya dengan handuk.
"Gak usah, aku lagi pengen ngocok nih hahahaha," balasku tetap mempertahankan ritme tanganku.
"Haha dasar," Helga tetap melangkah mendekat ke arahku.
Lalu Helga menaruh tangannya di atas tanganku yang sedang memegangi kontolku. Sentuhan tangannya yang lembut membuat tubuhku merinding.
"Pindah kursi situ, beb," suruh Helga.
Aku berpindah duduk mengikuti arahannya, tanganku tetap asyik mengocok kontolku. Helga berdiri di depanku, lalu dia mulai goyang-goyangkan tubuhnya. Seksi dance dan striptease privat, spesial buat aku.
"Kocok terus... sampe keluar ya, beb," ujar dia sambil melekuk-lekukkan tubuh gempalnya, tangan melorot ke pinggang lalu merangkak naik ke toketnya yang terbungkus bikini pelangi.
"Awww awww hmmm awww yesss," desahku makin liar.
"Awww yesss aaaaaaa..."
"Awww hmmm..."
Helga melekukkan tubuhnya bagaikan penari perut profesional, lalu dia memutar badan, menempelkan pantatnya yang berkilat itu tepat di selakanganku. Tangan kiriku memegangi pinggulnya, tangan kananku tetap mengocok kontolku sendiri. Setiap goyangan pantatnya menggesek kontolku yang basah, membuat seluruh ototku menegang.
"Awww aku... aku mau keluar... aku mau keluaaaar," desahku nggak karuan.
"Sini, beb, sini... keluarin," Helga berlutut di depanku, wajah cantiknya terangkat, dan langsung kuarahkan kontolku ke arah wajahnya.
"Awwww yeeeeeeaaaaaah... awwwww—" desah panjangku pecah, seluruh tubuhku kaku.
CROOOOOT... CROOOOTTT... CROOOOTTT!
Peju yang cukup banyak itu menyembur membasahi wajahnya, memercik di pipi, hidung, dan dagunya. Aku lemas total di kursi itu, napasku ngos-ngosan, sambil memandangi Helga menjulurkan lidahnya, menjilat-njilat peju yang menempel di sekitar mulutnya dengan selera.
"Hahaha... wajahmu ganteng kalau pas orgasme, beb," ucap dia sambil bangkit dan berjalan santai ke kamar mandi mencuci muka.
Aku terlalu lelah untuk bergerak dan cuma terduduk di kursi itu untuk waktu yang cukup lama.
Sore menjelang malam, kami memesan room service untuk makan malam. Aku memesan mi Aceh, sedangkan Helga cuma pesan sandwich — seperti wanita pada umumnya, makan malamnya segitu aja karena takut gemuk. Setelah makan malam selesai, piring-piring kami taruh di luar kamar supaya diambil petugas hotel.
"Rend... sesuai janji kita kemarin, malam ini giliran aku yang mewujudkan fantasimu," tanya Helga memecah keheningan, matanya menatapku serius.
"Yakiiin? Kamu boleh mempertimbangkannya lagi lho, Hel," jawabku. Aku tahu betul anal itu katanya menyakitkan, dan aku nggak mau memaksanya.
Namun Helga hanya terdiam, menunduk memandangi kedua tangannya sendiri.
"Kalau kamu nggak yakin, nggak usah gapapa, Helga," ucapku menenangkan.
"Aku mau," jawab Helga tegas, matanya menatap lurus ke mataku.
Lantas kami bersalaman seperti dua orang yang menutup bisnis — sebagai tanda sepakat.
"Sebelum mulai, lebih baik kita cari tahu dulu deh gimana-gimananya haha," ujar Helga sambil ketawa gugup.
Lalu kutunjukkan forum Semprot yang membahas anal seks di lounge sub forum. Dia ambil HP-ku dan membaca dengan seksama, menelusuri satu per satu thread-nya, termasuk komen-komen dari para suhu senior semprot yang borongan kasih tips.
"Hmm... interesting. Dan katanya orgasmenya dasyat banget nih. Yuuuk! Nampaknya biar makin hot, kita lakuin di depan kaca kamar mandi aja yang gede," ajaknya, lantas menarik tanganku menuju kamar mandi.
"Aku deg-degan, Rend haha. Kondommu udah siap? Terus durex pelicinnya?" tanya Helga sambil menyiapkan mental.
"Udah semua," jawabku santai.
Kulepas hotpants Helga, dan pantatnya yang bulat membulat itu terpampang jelas di depanku. Ku posisikan tubuhnya menungging. Biar posisinya lebih tinggi dan pantatnya terangkat sempurna, kusuruh dia pakai sepatu wedges-nya yang lumayan tinggi. Wajahnya menempel di wastafel, memandangi aku lewat cermin besar.
Kumainkan vaginanya dengan jariku supaya dia cepat turn on, sambil kuciumi tubuhnya dari belakang. Cairan yang mengalir deras dari vaginanya kuarahkan ke lubang pantatnya, kubasahi dengan jari. Lubang pantatnya ternyata pink juga — apa perawatan vaginanya termasuk lubang pantatnya sekalian? Aku sudah menegang dan nggak sabar merasakan sensasinya. Akhirnya kupasang kondomku.
"Hel, aku udah pakai kondom dan udah kubasahi pelicin. Kamu ready ya?" tanyaku.
Helga mengangguk pelan tanda persetujuan.
Kuarahkan kontolku ke lubang pantatnya yang kecil dan sempit itu. Baru lihat aja dari dekat, langsung kutarik kesimpulan pesimis: "Hmmm... ini bisa masuk gak yaa?"
"MMMM... HMMM... OHHHHH..." Helga mengerang saat ujung kontolku menyentuh lubang analnya. Kudorong-dorong pelan. Betapa susah dan sempitnya. Semakin kudorong, semakin kencang erangannya, dan mimik wajahnya lewat cerkin makin menunjukkan kesakitan.
"OHHHH... MMM... AHHHH... SAKITTTTT!" Helga menggelengkan kepala, dan aku berhenti sesaat.
"Susah banget, Hel... gimana mau lanjut?" tanyaku ragu.
"Iyaa... tapi pelan-pelan ajaaaa," jawabnya pelan, napasnya tak beraturan.
"Pasrahin aja ya," sahutku menenangkan. Helga mengangguk lagi.
Kulebarkan pantatnya dengan kedua tanganku, dan perlahan demi perlahan lubang itu mulai terbuka. Kepala kontolku berhasil masuk sedikit.
"HMMM... AHHHHHH... HMMM... HOOOAAHHH... HMMM..." erangan Helga berantakan. Dia begitu kesakitan sampai memejamkan matanya rapat-rapat, kuku menancap di tepi wastafel.
"Ahhh Rendy... udah masuk dikit itu... ayo dorong... ahhhhhh," minta Helga.
Aku menambahkan tenaga, menekan perlahan tapi dalam. "Ahhh... HELGAAA..." Dan sedikit demi sedikit kontolku menghilang masuk ke dalam tubuh Helga. Dia hanya terdiam, menggigit bibirnya, menahan rasa yang belum pernah dia alami.
"Ah... hmm... ah... ah... ah... hooahhh... bentar, Rend haha... udah masuk ya?" tanya Helga.
"Iyaa, udah masuk nih... tapi masih helemnya doang," jawabku jujur.
"Haa? Masih helem aja? Gila... rasanya penuh banget. Bentar ya, cari napas dulu. Btw, rasanya mayan nih," ucap Helga setelah napasnya agak teratur.
Setelah beberapa saat istirahat, aku mulai memompanya dengan tempo yang sangat pelan dan intim. Tanganku memegangi pinggul dan toketnya yang gede itu, meremas-remas dari belakang.
PLOK... PLOK... PLOK... PLOK — suara pantat dan paha beradu menggema di kamar mandi kami.
"Ah... ah... ah... ah... hm... ah... aha... oh... oh... oh..." suara desahan kami bersahutan. Rasanya sangat kencang dan sempit sekali, beda jauh dengan vaginanya.
"Awww Helga... kontolku rasanya diremas-remas," desahku.
Di dalam lubang pantat itu, kontolku terasa diremas-remas otot anusnya, kadang terasa nyeri juga karena gerakannya terhambat. Gerakanku nggak bisa cepat-cepat karena takut menyakiti Helga. Sesekali kutambahkan pelicin di kontolku agar gesekan kami tetap licin dan terlubrikasi.
Wajah sange bercampur sakit terpampang jelas di wajah Helga lewat cermin. Kalau kupandangi lebih dalam, terlihat seperti ada air mata di pinggir matanya. Tapi desahannya berkata sebaliknya — kenikmatan.
"Terus... terus... yes yes yes... aku mau orgasme nampaknya, Rend... yes yes... cepet, Rend..." desah Helga makin liar. Akupun mempercepat gerakanku.
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK!
Wajah Helga semakin sange. Semakin kutambahkan dorongan ke tubuhnya, semakin dia bergetar. Tangannya berpegangan erat di pinggiran wastafel, sendinya putih karena kepaluan.
"Hmmm... AHHHH... HHHHH... HMMMM... AHHHH... AHHHHH!" teriakan Helga makin kencang. Kakinya jiggling, jari-jari kakinya bergetar tak terkendali. Aku terus memegangi tubuhnya sembari memompanya dari belakang. Dia berteriak seperti orang kesurupan.
"Ahhh... ahhh... ahhhhhh... hmmmmm... ayyyyy... haaa... hmmmm..." aku terus memegangi tubuhnya yang makin liat.
"Stop, Rend... stopppp!" dia memintaku berhenti.
Kupandangi wajahnya lewat cermin. Matanya masih terpejam erat, kakinya masih bergetar, dan badannya tampak lemas hampir jatuh. Ini dia — orgasme anal pertamanya, dan rasanya sekalinya datang, datang dengan segala-galanya.
"Rend, hihi... orgasmenya gila... rasanya seperti terbang," ucap Helga girang, napasnya masih ngos-ngosan.
"Enakan mana sama squirt?"
"Enak ini, gilaaa... tapi nyeri banget pantatku. Aku nggak sanggup kalau dilanjutin di pantat lagi."
"Oke deh haha. Yang penting loe dapet enak, Hel."
Lalu kuajak Helga pindah ke kasur untuk menyelesaikan urusanku. Kulepas kondomku dari kontol, kubaringkan Helga telentang di atas kasur, dan langsung kutancapkan kontolku ke vaginanya yang sudah basah kuyup.
"Hhh... ah... ah... ah... ah... ah..." desahan kami beradu. Setelah melihat dia orgasme tadi plus merasakan sempitnya pantatnya, aku nggak bisa bertahan lama. Beberapa hujaman saja—
"AHHH... AKU KELUAAR... HELGA, SAYANGGG!" Semburan demi semburan peju ku keluarkan di dalam vaginanya. Badanku menegang, semua energiku mengalir keluar lewat kontolku. Helga memeluk tubuhku dan memandangiku sambil tersenyum di sisa ke-enakannya.
"Hmm... anget banget... dan selamat, Anda berhasil memperawani pantat Helga Hapsari," ucap Helga sembari memberiku senyum paling manis yang pernah kulihat.
**
POV Sandra
Malam ini sungguh sepi. Suara TV nggak mampu menggantikan kesepian di ruangan apartemenku. Membayangkan apa yang sedang dilakukan dua manusia itu di pulau mereka, membuatku sedikit horny — tapi juga senang. Sedikit demi sedikit aku bisa mengikis rasa sukuku pada Rendy. Bahkan tadi pagi Helga mengirimi aku pesan, dan anehnya nggak ada rasa marah sedikit pun kepadanya. Justru aku berterima kasih. Semoga dengan hubungan barunya itu, Rendy bisa benar-benar melupakanku.
"Ahh... gila... pasti mereka sekarang lagi merem-melek enak nih," ucapku dalam hati, rebahan di atas kasur.
Tanpa kusadari, tanganku sudah masuk ke dalam celanaku. Vaginaku sudah sedikit basah. Sudah cukup lama aku nggak bermain dengan diriku sendiri. Kubuka laci di samping kasurku dan kuambil vibratorku yang sudah lama nggak kupakai. Kuhidupkan dildo vibrator itu yang sebelumnya kuk lap dengan baby tissue.
Treeeeeeet... treeeeeet... treeeeeeeeeet.
"Awwww... enak bangeeet," desahku begitu vibrator itu menyentuh vaginaku.
"Aww yes... awww hmmm... awwww..." Kumasukkan dildoku pelan-pelan ke vaginaku dan biarkan ia bergetar di dalam tubuhku.
"Awww hmmm... enak banget, Yaampuuun... awww..."
"Awww auuuhh... awwwhh... awwwhhh..."
Kugerakkan maju-mundur, menirukan kontol pria yang sedang menghujam vaginaku. Aku terus menggeliat-geliat keenakan saat kontol buatan yang jumbo ini mengobok-obok vaginaku yang kecil ini.
"Awww hmmm... yeeeessss... yeeessss..."
Kupercepat gerakan dildo itu dan tubuhku bergetar hebat, punggungku melengkung dari kasur.
"Awwwwww YEEEESSSS... YESSS... YESSSSS... YEEE... AHHHH... AHHHH—" Desah panjangku pecah sementara vaginaku berkedut-kedut, membasahi dildo dan membuat pulau cairan buatan di spreiku.
Aku tetap memainkan vibratorku walau sudah orgasme — berulang kali, sampai tanpa kusadari aku tertidur dengan dildo masih tercenkung di dalam vaginaku...
---BERSAMBUNG---