EPISODE 18
EPISODE 18
POV Sandra
Aku terbangun dengan kepala masih berat dan napas yang belum benar-benar tenang. Celanaku entah kemana sudahnya. Di sampingku, dildoku yang berwarna pink itu tergeletak begitu saja, saksi bisu liarnya malam kemarin. Badanku terasa remuk dan lemas total setelah kupaksa tubuhku ini mencapai puncak tiga kali.
Tiga kali. Sungguh tak biasanya. Paling banter dua kali, dan itu pun sudah membuatku menguap seharian. Namun tadi malam... entah kenapa birahiku mendidih begitu luar biasa hanya karena membayangkan apa yang dilakukan Helga dan Rendy di villa itu.
"Uhhhh... aawhhhhh... gilak, badanku nyeri semua rasanya..."
Aku meregangkan seluruh ototku sampai sendi-sendiku berbunyi pelan. Mataku masih merenyai mencari celanaku yang entah terlempar kemana.
Celana ku kemana nih... batinku sambil menyeret kaki ke arah kamar mandi untuk pipis dan cuci muka. Dan benar saja, saat kubuka sedikit pintu lemari pakaian, celanaku ternyata berserakan di bawah kasur.
*Udah kayak habis ML aja ini. Pakaianku hingga berserakan kemana-mana...*
Begitu sampai di kamar mandi, aku memutuskan untuk langsung mandi dan keramas—membasuh habis sisa keringat dan bau birahiku semalaman. Kulepas satu per satu pakaian di tubuhku, sampai akhirnya aku berdiri bugil tanpa sehelai benang pun.
Aku memandangi diriku sendiri di depan cermin. Tubuh yang proporsional, dengan ukuran toket yang memang tidak besar—32A—tapi aku tidak pernah malu. Aku bangga dengan tubuhku sendiri. Memekku yang selalu kujaga kebersihannya, tanpa sehelai bulu pun, karena setiap malam sebelum tidur aku selalu mencukurnya rapi. Dan meskipun aku sudah berkali-kali bercinta dengan Rendy dan mantanku dulu, bibir memekku masih rapi, hanya seperti garis vertikal yang sempurna ke bawah.
Aku melangkah masuk ke dalam shower, dan air hangat itu membasahi seluruh tubuhku...
Sungguh, sungguh segar sekali.
---
POV Rendy
Aku terbangun dari tidurku setelah pengalaman yang luar biasa semalaman. Helga masih tertidur pulas di sampingku, wajahnya damai dengan bibir yang sedikit terbuka. Aku masih membayangkan apa yang terjadi tadi malam. Fantasi terlarangku akhirnya terwujud, dan rasanya... sungguh nikmat di luar batas. Namun entah bagaimana perasaan Helga. Mungkin berbeda. Mungkin justru menyakitkan untuknya.
Kulangkahkan kakiku ke arah jendela yang menghadap kolam renang. Deburan ombak besar terlihat dari kejauhan. Betapa enaknya hidup jika setiap bangun tidur kamu disambut pemandangan seperti ini.
"Awwwwwwhhhhhhh..."
Suara Helga melengkah panjang dari arah kasur, meregangkan otot-otot tubuhnya yang pastinya sama pegalnya dengan lintasan renang. Aku mendekati dia.
"Udah bangun, beb?"
"Heeh..." jawabnya datar, lantas langsung berjalan masuk kamar mandi.
Cukup lama, lebih dari sepuluh menit dia di dalam. Saat akhirnya keluar, wajahnya mengadu padaku.
"Pantatku sakit, Rend. Rasanya nyeri perih gimana gitu..."
"Laaah... maaf deh kalau tadi malam aku terlalu bernafsu," balasku setengah terbahak.
"Enggak, haha, gapapa. Mungkin belum terbiasa aja jadinya perih. Namanya juga baru pertama kali dicoblos," ujarnya sambil mencoba menenangkanku.
"Hmm, iya. Paling ntar juga udah gak kenapa-kenapa."
"Eh, tadi malam aku keluar di dalem... gapapa yah?" tanyaku tiba-tiba teringat adegan maut kemarin malam.
"Yaaa kalau hamil kamu tanggung jawab dong, haha!" balasnya sambil melirik genit, matanya berbinar menggoda.
Gila. Diem aja gitu gayanya bikin gemas. Aku langsung menyambar tubuhnya dan menjatuhkannya ke kasur—seperti om-om yang hendak memperkosa daun mudanya sendiri.
"Awwww Rendyyyyy! Ampun-ampuuuun, haha!" dia tertawa sambil melawan dengan tangannya yang kecil.
"Aku perkosa kamu!" balasku, langsung menghujam leher putihnya itu.
"Awww... Rendddddd..." desahnya panjang.
Aku melahap lehernya tanpa ampun. Helga terus mendesah tiada henti, dan lidahku perlahan menuruni lembah tubuhnya. Aku menjilati bagian dadanya yang hanya tertutup tanktop abu-abu tipis itu.
"Awwww... awwwww... yesss Renddddd... memekku langsung basaahhh..."
Kuperhatikan tangannya sendiri sudah menyelap di dalam celana dalamnya, menggosok-gosok memeknya sendiri. Wajahnya sudah berubah total—super sange dan horny. Aku naik kembali ke bibirnya dan kami berciuman liar.
Smooocchhhh... smooocchhh... smooocchhh...
Smooocchhh... awww... smooch... awwww... ahhh...
Aku berdiri, menarik celana dalamnya hingga terlepas dari kakinya. Terbukalah memeknya yang sudah basah kuyup menanti. Aku menurunkan celanaku—kontolku sudah berdiri tegak keras, siap masuk ke dalam sangkarnya. Malam ini aku ingin memberi pelajaran pada Helga. Akan kubuat dia muncrat berkali-kali, orgasme yang akan dia ingat terus dan bikin ketagihan.
BLEEESSSSSS...
Kontolku menghujam masuk sampai pangkal ke dalam sangkarnya.
"Awww... awww... awww... awww... awwww..."
"Awwww... awwww... awww... ahhhh... auuuhhh... ayeesssss... yeeesss..."
"Oohhh... ohhhh... awwwhhh..."
Teriakan dan erangan keluar bersahut-sahutan dari mulut kami. Kuarahkan ujung kontolku menemukan titik lemahnya—satu posisi yang cocok untuk itu: wanitanya berbaring di bawah, lelakinya berdiri di pinggir tempat tidur, sehingga arah kontol naik dan terus menggesek dinding atas memeknya.
Wajah Helga super sange. Dia menikmati setiap sodokan yang kuterimakan ke tubuhnya.
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK...
PLOK PLOK PLOK PLOK...
PLOK PLOK PLOK...
"Awww... rasanya enak banget siiihhh... awwww!"
"Awww yesssssss... aaahhhh... enak banget banget!"
"Hmmmmm... ooohhhhhh..."
Aku terus memompanya dengan ritme yang membuat seluruh tubuhnya bergoyang maju mundur di atas kasur, kakinya melingkar kencang di pinggulku. Lagi-lagi kami tidak pakai kondom. Semoga tidak terjadi apa-apa...
"Yessshhh... yeeessshhh... yessshhh... ayooo Rend... ayoooo... deket lagiii..."
"Aooohhhhhhhhh... Rendyyyyy... ayooo... dikit lagiiiiiiiii..."
Aku merasakan dinding memeknya meremat-remat kontolku. Ada tonjolan di dalam sana yang kutekan terus dengan ujung kontolku...
"Rendddyyyyy... akuuuuu... udahhhh... dekeeetttt... minggiiiiirrrrrr!"
Teriakannya dahsyat. Tapi aku tidak mencabut kontolku—justru kupercepat pompanya.
Mata Helga sudah sayu total, bicaranya mulai merancu tak jelas.
"Awwwwwwwwwwww... yeeessshhhhhh... RENDYYYYY... AHHHHHHH!"
Setengah berdiri, dia mendorong tubuhku agar kontolku terlepas dari tubuhnya. Dia sudah kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
CREETT... CREEETTTT... CREEEETTTT...
"AWWWWWHHHHHH... AWWWHHHHHHHHH!"
Helga teriak kencang sekali. Cairan surgawinya menyembur deras dari dalam memeknya, membasahi kasur. Badannya bergulat di atas ranjang seperti ular yang kena garam, tangannya meremas-remas memeknya sendiri yang basah kuyup itu.
"Awwwwww... hihi... enaaaaak bangeeeeeeet," kata dia dengan kepala tertutup bantal—malu sendiri karena keasyikan.
Tanpa memberi jeda, kubenamkan kembali kontolku ke dalam tubuhnya. Menghujam posisi yang sama, memaksanya squirt sekali lagi.
"Awww... yessss... Rendyyy... ahhhhh... awww..."
PLOK PLOK PLOK PLOK...
PLOK PLOK PLOK...
Kupompa dia dengan ritme cepat dan stabil. Helga cuma mampu bertahan dua menit sebelum tubuhnya kembali bergetar hebat.
"YESSSS RENDYYYYY... AKU DATENG LAGIIIII... AWWWWWW!"
Kucabut kontolku dan sekali lagi cairan surgawinya menyembur deras. Kali ini jumlahnya tidak seb yang pertama, tapi tubuhnya bergetar jauh lebih hebat.
"Renddddd... aku gak mampu kalau lanjut lagiiiiiii... memekku nyeri bangeeeeet..." pintanya dengan wajah bahagia namun lelah total.
"Bantuin keluarin kalau gitu," mintaku sambil mengocok kontolku sendiri.
Aku bertumpu pada lututku di atas kasur. Helga merangkak mendekat, kepalanya menjulur ke selangkanganku, lalu lidahnya menjulur menjilati kontolku yang sedikit berotot ini—tanpa peduli kontolku masih berlumuran cairan memeknya sendiri.
Sluurrrpppp... sluuurrrppp... slurrrrppppp...
Kepalanya bergerak maju mundur, lidahnya memainkan batang kontolku di dalam mulutnya dengan lihainya.
"Awwhhh... hmm... enak bangeeeeet..."
Sluuurrrppp... sluuurrrpppp... sluuuuurrrrpppp...
Sluuuurrrpppp... creek... creeeeeek... creeeeekkkk...
"Awwwhhhhhh... yeaaaahhh... aaaaawwwhhhhhhhh!"
Kugerakkan pinggulku maju mundur menemusukan ritmenya, mempercepat keluarnya cairan yang sudah menumpuk dari ujung kontolku. Rasanya sungguh terlalu nikmat untuk ditunda lebih lama lagi. Helga... wanita ini berada di level yang berbeda dalam urusan ranjang. Super binal dan enak banget.
"Helga, aku keluarin yaaa!" tanyaku. Dia membalas dengan menggaguk pelan, mulutnya tak lepas dari kontolku.
"Awwhhh... yess... yesss... yesss... ayo Helga... ayooooo..." desahku, aliran pejuhku semakin dekat ke ujung.
CREEK CREEEK CREEEEK...
CREEEEK CREEEK CREEEEK...
Gerakan Helga semakin cepat, lidahnya mempermainkan kontolku semakin lihai.
"AWWWHHHH... AWWWWHHHHHH... YEEEESSSSSSSS!"
Teriakku pecah tak terbendung, merasakan desakan putih hangat yang akan meledak dari ujung kontolku.
CROOOOT... CROOOOT... CROOOOOOOOTTTTT!
Kontolku masih terbenam di dalam mulut Helga. Dia diam saja, merasakan setiap semburan pejuhku yang memenuhi mulutnya.
"Aaahhh..." desahnya, lalu menjulurkan lidahnya—bersih tanpa sisa. Spermaku ditelannya bulat-bulat.
"Hahaha, muncrat di dalem kayak kelepon, haha," godanya nakal.
"Hahaha... iya... enaaaak banget..." balasku singkat, lalu rebahan lagi di kasur dengan napas masih memburu.
---
POV Tante Dina
"Kamu gak bisa gini terus, Din. Kamu harus move on dan mempersilakan orang lain untuk menjagamu hingga tua nanti. Dr. Erwin juga sama seperti kamu, tapi dia udah ingin memulai lagi merangkai kehidupannya, untuk berumah tangga," ujar Cyntia yang sedang memojokku di kursi ruanganku, berceramh dan menyodorkan calon jodoh seorang dr. Erwin.
"Ntarlah, Cyn. Aku pikir-pikir dulu. Aku males aja kalau endingnya kayak kemarin—buang-buang waktu," balasku jutek.
---BERSAMBUNG---