←18+
← Life Changing Experience

Episode 25 — Life Changing Experience

EPISODE 25
Aku keluar kamar mandi dengan rasa sedikit lega karena kontolku sudah kupuaskan keinginannya walau hanya dengan tangan kanan. Rasa lemas dan segar menyelimuti diriku yang baru saja terkena air panas shower. Letak kamar mandi ini berada di dalam kamar kakakku, sembari jalan keluar kamar kupandangi isi kamarnya dan baunya. Seperti kamar wanita pada umumnya, yaitu banyak sekali make up dan baunya wangi parfum. Tak ada benda mencurigakan yang lupa disembunyikan seperti vibrator atau toy seks ataupun kondom. Mungkin kakakku ini orangnya lurus-lurus saja, pikirku positif, walau bodinya mengundang untuk dinaiki. Kulangkahkan kaki keluar kamar dan terlihat jelas kakakku yang sedang duduk di lantai dengan lutut kakinya ditekuk ke atas sehingga terekspose paha bagian atasnya karena menggunakan hotpants. Dia tidak merasa risih dengan kehadiranku dan tetap saja cuek membuka pahanya seperti itu dan tetap bermain dengan HP-nya. Aku menaruhkan badanku duduk di sofa di atasnya. "Udahan yang mandi? Seger kan?", tanyanya padaku tanpa menatapku dan terus bermain dengan HP-nya. "Yoi, mayanlah segar, tadi bangun tidur lemes banget. Buruan mandi sana, udah jam segini", suruhku berusaha peduli. "Okeeee, kalau mau bikin teh atau kopi bikin sendiri ya, ntar aku masakin makan malam", ujarnya sembari berdiri dan berjalan ke dalam kamar mandi. Aku hanya berharap kakakku tidak mengetahui bahwa celana dalamnya habis aku pejuhin. Setelah dia masuk, baru beberapa saat kemudian suara shower itu terdengar. Mungkin pada saat jeda itu dia melepas seluruh pakaiannya, dan aku membayangkan seperti apa dalamnya, pasti indah sekali. Aku duduk sambil nonton TV sangat tidak fokus, rasanya seperti aku yang ditonton TV. "Oh maafkan aku, seharusnya aku sebagai adik cowok tidak memandang kakakku seperti itu, aku tak boleh memandang kakakku dengan nafsu", pikirku dalam hati berusaha positif. Untuk meluruskan pikiranku, aku SMS ibuku menanyakan kabar di Belitung, bagaimana dan kapan kiranya sampai kampung sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan, dan entah kakak Novita ingin ikut bersamaku atau tidak. Beberapa saat kemudian, keluarlah sosok wanita dari dalam kamar mandi itu, dengan mengenakan pakaian yang tadi, dengan asumsiku pakaiannya masih bersih. Dia menutup pintu kamarnya dan mungkin berganti pakaian atau berdandan tanpa ingin aku melihatnya. Aku duduk termenung berpikiran positif terhadap kakakku sendiri. Setelah selesai dengan kegiatannya di dalam kamar, lantas dia keluar. "Rend, udah jadi buat minum?", tanya dia yang tampaknya tidak terjadi apa-apa. "Oh iya lupa haha, belum, ini mau buat". Aku terlupa karena berusaha menahan nafsu yang terus menggerogoti tubuhku. Aku beranjak dan berjalan ke dapur diiringi dengan kakakku yang juga berjalan ke dapur. "Mau makan apa?", tanya dia padaku. "Terserah, aku ngikut aja", balasku singkat. "Buat mi goreng aja ya, gampang", balasnya sambil membuka kulkas. "Mau bantuin gak?", tanyaku kembali. "Gak usah", balasnya kembali. Lantas aku kembali duduk sambil membawa minuman hangatku tadi. Kakakku sibuk di dapur membuatkanku makan. Sudah seperti biasa, di mana jika ada tamu, tuan rumah pasti sibuk menyiapkan minum bahkan makan. "Kak, tadi aku WA dengan ibu, tanya kapan kira-kira mau ke kampung?", tanyaku memecah keheningan saat kami berdua makan di meja makan. "Terserah. Kamu mau jalan-jalan di sini dulu gak? Sampai kapan kamu free?", tanyanya sambil bermain HP dan makan. "Aku libur sebulan, ya mau lah jalan-jalan di sini dulu", balasku. "Hmm, berarti ka nunggu bapak ibu pulang dulu, lantas setelah itu kita cari tiket", terangnya. Sedangkan Rahma di rumah sendiri, namun di rumah sekarang ada dua pembantu rumah tangga yang tinggal di rumah, jadi Rahma gak benar-benar sendirian di rumah. Makanan aku selesaikan tanpa sisa satu helai mi pun di piringku. Kakakku memberesi meja makan, termasuk piringku. Lantas aku kembali duduk di sofa depan TV. Malam ini kami belum merencanakan ke mana pun karena aku masih ingin santai dulu dan ngobrol yang banyak dengan kakakku setelah banyak waktu yang kami lewatkan. Tak terasa waktu sudah terlewati cukup panjang. Aku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.07 malam. Walau aku baru saja bangun, namun ritual di kamar mandi tadi membuat badan kembali lelah dan ingin tidur. Mungkin malam ini aku akan tidur di sofa ini. Sofa ini cukup nyaman dan besar untuk diriku seorang. "Woh, udah jam segini, aku ngamar ya", kata kakakku, lantas dia beranjak dari tempat duduknya di lantai. "Kamu tidur sini gapapa, atau di kamar dengan aku?", lanjutnya. "Di sini aja kak, pas kok ini", balasku tidak ingin memperkeruh suasana. "Oke", balasnya singkat sambil berjalan ke kamar dan kembali dengan membawakanku selimut. Ditinggalku sendirian di ruangan ini. Suasana apartment atau hotel memang mengundang nafsu. Kontolku naik dengan sendirinya tanpa aku suruh saat membayangkan kembali momen bersama Sandra, Helga, Amanda, maupun tante Dina, suasana yang sungguh mencekam. Lampu ruanganku kusetting menjadi remang dan suara TV aku kecilkan agar aku bisa menghayati momen pada waktu itu. Tangan kananku masuk ke dalam celanaku, kakiku kuluruskan, mataku terpejam, selimutku hanya sebatas paha agar tanganku leluasa bermain di bawah celana. "Eh Rend, awwwhh hmmmm kalau.....", suara kakakku memecah keheningan saat tanganku berada di dalam celana, dan aku terkaget salah tingkah. "Ehhhh", aku langsung menarik tanganku keluar. "Ngapain itu tangan?", tanyanya dengan tegas. "Enggak kok, hanya gatel aja", balasku salting. "Hmmm, gatel kok itu keras gitu?", tanyanya membentak. Justru ditanyain itu membuat kontolku semakin keras dan tak terkontrol. Aku berusaha keras untuk menidurkannya dengan membayangkan yang lain. "Lhaa, garuk-garuknya pas hehehehe", balasku salting. "Hmmmm, pasti yang ngotorin celanaku di kamar mandi ulahmu ya?! Aku bilangin ibu kalau kamu berani macem-macem, jujur aja!!", kata kakakku yang membentak dan marah. Aku tak berani memandangi dia, hanya tertunduk tak menjawab. "Kamu sadar gak sih aku kakakmu", dia kembali bertanya padaku yang lagi-lagi aku hanya terdiam. "Kenapa kamu melakukan itu?", tanyanya dengan tegas. "Maaf kak Nov, aku kesini gak ada maksud apa-apa atau maksud yang gak jelas, tapi maap kak, jangan bilangin ibu", balasku memelas. "Lha terus kenapa melakukan itu?", dia semakin marah dan dia mendekatiku dan memberiku tamparan. Aku hanya terdiam dan membisu. "Anu kak, hmmm anu, kakak berpakaiannya gitu, wajar kak kalau aku nafsu", balasku dengan lirih. Kakakku seolah-olah tak percaya dengan jawabanku yang sebenarnya yang mengundang itu dirinya sendiri. Lantas dia duduk di sebelahku dan nampak lelah habis memarahiku. Diapun terdiam tidak berkata apa-apa. Aku bingung harus ngapain untuk membalikkan keadaan menjadi rukun kembali. "Maaf kak, besok aku pulang ke kampung aja kalau di sini membuat suasana keruh. Memang aku salah. Sejak dulu aku diem-diem sering mengagumimu, karena aku melihat kakak sebagai wanita yang sempurna. Selain itu kakak, wanita yang bisa membuatku nyaman ngobrol tanpa ada rasa grogi dan takut. Lambat laun dari mengagumi berubah jadi entah kok begini. Itu kak, udah aku ungkapin semua biar gak ada rasa yang kupendam. Maafin adikmu", ceritaku padanya dan dia menatapku mendengarkan. "Udah, yauda", balas dia dan memberiku pelukan ringan. "Dasar anak cupu. Eh, emang masih cupu, udah tinggal di kota besar lama?", tanya dia. "Masih kak, buktinya masih jomblo", balasku. "Hahaha tapi kontolnya udah gak mau diatur ya", balas dia yang membuatku kaget, kok kakakku menggunakan bahasa seperti itu. "Ih, kontol-kontolan hahaha", balasku dengan tawa canda. "Haha sini coba lihat", kata kakakku yang membuatku kaget. "Ihh apaan sih kak, ogah", balasku enggan membuat ini menjadi lebih buruk. "Ih, beraninya cuma diem-diem, coba di depanku berani gak", tantang kakakku dengan wajah menggoda. Jujur saja aku ingin sekali terjadi, tapi aku juga takut kalau ini hanya jebakan. "Ayo, mana", lanjutnya. Lantas aku menurunkan celanaku dan terlihatlah kontolku yang sudah lumayan tegak, dan kakakku hanya tersenyum ke arahku. "Deg-degan gak nunjukin kontolmu di depan kakakmu yang sedari dulu hanya kamu bayangkan?", tanyanya sambil menurunkan badannya di antara kakiku. "Iya kak, kamu mau ngapain?", tanyaku padanya yang jelas dia akan memberiku blowjob. Tanpa dia menjawab dan menatapku, lantas dia memasukkan kontolku yang sudah 80% tegak ke dalam mulutnya yang seksi itu. "AWWWWWWHHHHH", saat merasakan ujung kepala kontolku menyentuh bibirnya, aku mendesah panjang dan kencang serta memegangi kepala dia. "Sluurrrp sluurrrp sluuurrppp slurrrrp", suara kontolku bersentuhan dengan mulutnya. Kakakku menggerakkan kepalanya naik turun serta memainkan lidahnya di dalam mulutnya. "Awwhhh yeees awwwhhhh", desahku sambil memegangi kepalanya, kadang pula aku merapikan rambutnya. Dia terus nyepongin kontolku tanpa henti. Kadang dia mengeluarkan kontolku dan memberikan kocokan sambil menjilati kedua telur puyuhku, membuat rasanya terbang melayang. "Ahh, enak banget disitu kak, ahhhh", desahku saat dia menjilati kedua telurku sambil mengocoknya. Crook crook crook croook~ dia mengocok kontolku sambil memandangiku, sedangkan aku tak mampu membuka mataku karena rasanya yang sungguh enak hingga ubun-ubun. Kakakku melepas celanaku dan membuka kakiku lebar-lebar, dan dia berlutut di antara kontolku dengan beralaskan bantal di lututnya. Dia menjilati helm kontolku yang membuatku merasa sangat ngilu. "Aku gak yakin kamu masih perjaka", ujar dia di sela-sela nyepongin kontolku. Aku tak menjawabnya, dan aku pun yakin dia juga sudah gak perawan, bisa dilihat dari mahirnya dia nyepongin kontolku. "Awwhhh hmmmm yeeess awwhhh enaaakkk", desahku menikmati tiap sodokan di dalam mulutnya. Mataku terus merem melek dan memegangi kepalanya. Lantas dia melepas kontolku sambil nafasnya seperti kelelahan. "Gila, enak banget kak", kataku sambil sedikit tertawa. "Haha, ngomongnya cupu tapi udah gak perjaka", katanya menyimpulkan sendiri. "Lha kok menyimpulkan sendiri, kamu juga ahli banget", kataku dengan tertawa. "Shhhhh, udah gak usah kenceng-kenceng, ntar yang lain kedengeran", kata dia dengan tawa. "Dasar, nakal juga ternyata", balasku dengan diiringi tawa dan kakakku memelukku, seakan-akan melupakan apa yang barusan terjadi saat dia marah denganku. "Kak, ini gak dilanjutin....", mintaku setelah kami tertawa menertawakan bahwa ternyata kita cukup nakal juga di perantauan. "Hmmm, enggak ah. Kamu bohongin aku, katanya cupu, kubantuin biar cepet keluar, eh malah lama. Aku capek ah", balas dia diiringi dengan berdiri dan berjalan ke arah kamar tidurnya. "Kaaaak, kentaaaangg", teriakku dengan kontol masih mengacung tinggi. Ahh, rasanya seperti apa yang terjadi dengan tante Bella, jika masih ingat. Meninggalkanku saat aku sedikit lagi mencapai puncak. Kakakku lantas membalikkan badannya dan senyum diiringi dengan tawa saat melihatku kentang dan kontolku mengacung tinggi dan tegak. "Haha, kasian itu lho, diselesain sendiri ya, tapi jangan pakai selimutku untuk membersihkannya", kata dia diiringi dengan tawa. "Ahhhhh yaudaaaa", balasku dengan jengkel. "Haha, kasian amat sih. Janji ya, ini rahasia kita berdua", ujar dia kembali berjalan ke arahku dengan posisiku menutupi bagian atas kedua kakiku dengan bantal. "Iya lah kak, gila masa gini mau dicerita-ceritain", balasku. Tanpa berkata-kata lagi, lantas kakakku kembali berlutut di depanku dan aku membuka bantal yang untuk menutupi kontolku. Dia memegang kontolku dengan tangannya yang lembut dan mengocoknya pelan-pelan. Lantas kepala dia didekatkan dengan kepalaku. Aku membelai bagian leher dan pipinya, bibir kami semakin dekat. Rasanya seperti orang jatuh cinta. Bibir kami bersentuhan. "Smooochhhhh", ciuman panjang, dan mata kami saling terpejam menikmati ciuman ini. Kontolku semakin keras. "Smoocch smoooocchhh cuuuccchhh", bibir kami terbuka, ciuman semakin panas. Tanganku terus membelai pipi kakakku dan tak ingin melepas ciuman ini. "Smoocchhh smoooccchh amooooccchh amooocccsshh smooocchhh", lidah kami bertemu, ciuman semakin sensual dan passionate. "Hmmmm awwwhhhh hhhmmmm", desah kakakku saat kami saling bertarung lidah. Nafas dia semakin kencang. Saat sedang asyik berciuman, tangan kiriku menyusuri tubuhnya dan meremas payudara sebelah kanan. "Awwwhh Rendyyy awwhhhh hmmmmm", desah kakakku saat aku remas. Kocokan tangan kanan kakakku terhadap kontolku masih terus dia lakukan, membuat pening di kepalaku dan ingin terus menikmati momen ini. Kami saling melepas ciuman itu dan kami saling pandang. Kakakku wajahnya sudah cukup sange dan aku masih keenakan dengan kocokan kakakku. Dia melepas cengkraman yang berada di kontolku dan dia meraih leherku dan mendekatkan pada bibirnya, kami saling berciuman lagi. Kami sudah tak peduli bahwa kami memiliki hubungan darah yang ada rasa keinginan untuk saling mencinta. "Smoooccchhhhh smoooccchhhh smoooccchhh", suara bibir kami saling bersentuhan. Kedua tanganku berada di pinggulnya, kedua tanganku menyusuri ke bawah bagian pantat dan aku remas berkali-kali. Tidak ada reaksi apa-apa dari dia, terus berciuman. "Smoochhh smoocchh smoocchhh awwwhh awwaahhhhh", desah dan ciuman kami saling bersahutan. Kumasukkan jariku di dalam hotpantsnya, dan aku menariknya ke bawah beserta dengan celana dalamnya. "Awwhh, kamu nakal banget sih", dia melepas ciuman kami dan berlutut tegak, celana itu hanya terbuka sedikit tepat di atas vaginanya. "Kak, aku pengen banget kak", kataku sudah sangat horny dan merancu sambil berusaha meraih celananya. Lantas kakakku mendekatkan lagi padaku sehingga celana itu bisa kuraih dengan mudah dan aku menurunkannya hingga sebatas paha. Lantas terlihatlah vagina indah milik saudara kandungku. Kak Novita berdiri dan melepas celana itu, sehingga hanya pada bagian atasnya masih tertutup tangtopnya. Vaginanya sungguh indah dengan bulu halusnya terlihat walau warnanya sedikit gelap karena memang kulit kakakku sawo matang. Dia kembali meraih kontolku dan dia kembali mengocoknya. Dia berjalan ke arahku dan menaiki kontolku dengan menghadapku. Kontolku menyentuh bibir vaginanya yang sudah sangat basah ternyata. Kuperhatikan dia merem melek merasakan barang asing yang akan masuk ke dalam tubuhnya. Aku duduk di sofa dan kakakku berada di atasku menghadapku, sungguh pemandangan yang indah. "Awwwwwwhhhhhhhhhhhhhhhh", desah panjang saat akhirnya dia memasukkan kontolku ke dalam tubuhnya. "Awwwhh, enak banget", desahku lirih dan kakakku masih membenamkan kontolku di dalam tanpa bergerak. Kontolku rasanya seperti diremat-remat hangat. Dia mendekat padaku dan kami berciuman kembali. "Smooochhhh smooocchh smooocchh", kami melakukan french kiss yang cukup panjang, membiarkan kontolku diam di dalam tubuhnya. "Smooochhh smooccchhhh" Sedikit demi sedikit kakakku menggerakkan pantatnya dan mulai mendesah. Aku turut merasakan enak dan merem melek pada proses ini. "Awwh awh awwhh awhh awhhh" "Hmmm aooohh ooohhh whhhh", kak Novita melingkarkan kedua lengannya pada leherku dan memandangiku saat dia bergerak. "Awwhh yeees enak bangeeet awwhhh", pantat kenyalnya bertumpu pada pahaku terus bergerak perlahan untuk kami saling nikmati. Aku memegangi pinggangnya, desah kami saling bersahutan tanpa pernah berhenti. Kakakku mengubah gerakannya menjadi seperti jongkok-berdiri, dari ujung kontol dan terbenam lagi, sehingga rasanya jauh lebih nikmat dan menggairahkan. Badan kami sudah berkeringat, padahal belum ada 5 menit tapi rasanya sudah seperti satu jam. "Plok plok plok plok plok" "Plok plok plok plok" "Plok plok plok", suara daging kami bertabrakan. "Awwhh yeees awwhh yeees awwhhhh" "Hmmm ohhh adikku, terus kentotin kakakmu ahhhww awwhhh" "Awwhh nakal banget sih kakak awwwhh yeees adikmu keenakan kak" "Awwhhh awwhhh awhhh", kami terus mendesah dengan posisi seperti tadi di mana kakakku seperti jongkok-berdiri. Biang keringat di badan sudah keluar, nafas semakin cepat. Kontolku semakin kencang dan tak terasa desakan pejuhku sudah ingin keluar. Mungkin ini sensasi yang berbeda sehingga rasanya segera ingin muncrat, sedangkan nampaknya kakakku belum apa-apa. "Aduuh kak, rasanya udah deket, aku gak kuaat", desahku. "Jangan di dalam awwhh, udah deket banget ya", tanya kakakku sedikit memelankan tempo kentotan. Tanpa aku jawab, aku hanya mengangguk dan dia mencabut kontolnya. Lantas dia kembali berlutut dan memasukkan kontolku ke dalam mulutnya dan nyepong dengan tempo cepat, sehingga aku hanya terdiam dan merem melek. "Awwwwhhhhh awwwwwwwhhhhhhhhhhhhhh kaakaaaaaakkkkkkk", aku mengerang panjang dan badanku menegang. Kakakku bergerak lebih cepat dan cairan putih kental dan berbau itu sudah tak tertahankan ingin segera keluar. "Croooot crooooot crooooot", pejuhku keluar di dalam mulut kak Novita yang tak melepas kontolku. "Enak ya, sampe keringetan gitu", kakakku bertanya padaku di antara pahaku. "Kamu telen kak?", tanyaku penasaran. "Iyaaa hahaha, kamu keenakan ya?", tanyanya kembali. "Heeh, enak banget kak", jawabku singkat dan aku mendekat pada kak Novita dan bibirnya aku cium tanpa jijik, karena setelah menelan spermaku. "Kak, belum klimaks ya?", tanyaku kasihan. "Haha, belum", balasnya singkat sambil duduk di sampingku tanpa mengenakan celana dan aku mengelus pahanya. "Sini aku jilatin memekmu", balasku menawarkan. "Emang kamu doyan?", tanyanya kembali. "Doyanlah, kan punya kakak sendiri", ujarku genit. "Haha baiklah, tapi aku bersihin dulu", lantas dia beranjak dan berjalan ke kamar mandi. Aku masih duduk di sofa untuk mengatur nafasku yang baru saja kena klimaks. Setelah beberapa saat, keluarlah dia dari dalam kamar mandi, dan dia menarikku dari sofa untuk diajak ke kamarnya. Lantas dia berbaring di punggungnya. Aku menarik badannya sehingga dia berada di ujung kasur. Aku langsung membenamkan wajahku di antara pahanya. Kubuka memeknya dengan jariku dan terlihatlah klitorisnya. Langsung aku serang dengan lidahku tanpa ampun. "Awwhhh yeesss awwhhhh" "Auuuu hmmm auuuuuhhh hmmmm" "Awwhhh adikku di antara pahakuuuua wwwuuuuuu" "Terus adiik teruuuus" "Bikin kakakmu puas awwwahhhhh" "Adik kamu nakal sekali awwhhh" Desahnya tiada henti. Aku diamkan, aku fokus pada klitoris ini. Dia sudah pada level enak dan sudah gak peduli lagi. Tanpa aku bertanya, aku masukkan dua jariku ke dalam vaginanya. "Awwhhh pake jari Rend?", dia bertanya, tapi aku diamkan saja. "Awwhh yeess enak banget siii" "Awwhhh" Aku menggerakkan jariku ke atas. Aku ingin memberikan squirt padanya, aku ingin kakakku ketagihan denganku, aku ingin bercinta sebanyak-banyaknya denganku. "Awwhh Rend, ini enak banget, aku belum pernah seperti ini awwhhh" "Awwhh yeees enaak" "Awwhh awwhhh awhhhhhhhhhh" Aku terus menggobel memeknya hingga tonjolan itu terasa, dan aku menekan pelan-pelan bagian itu, dan pasti beberapa saat lagi dia akan orgasme seperti yang belum pernah dia rasakan. "AWWWHH REND AWWHH APA INI AWWHHHH", dia terus merancu. "Awhhh iya disitu teruuuss awwwhhhhhhhhhhh", badan dia semakin mengencang, matanya merem melek, dia sudah bagaikan ular yang kena garam. Posisi badannya sudah gak karuan tapi jariku masih terus terbenam di dalam memeknya. "AHHHHHHHHHHHHHHH AAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH", dia mendesah panjang diiringi dengan cairan bening keluar dari memeknya. "CREET CREEET CREEEEEEET CREEEEET", sebanyak 4 semburan keluar dari memeknya dan jatuh ke lantai kamar. "Awwhh haha whhh, enak bengeeeeeeet ngeeet, sampe aku pipis ya", kakakku tertawa. "Bukan kak, tadi squirt", balasku yang ikut berbaring telentang di sampingnya. "Iyaa, aku pernah lihat di bokep. Bangke, malah dapetnya sama adik sendiri", kata dia sambil melihat air semburannya sendiri yang berada di lantai. Aku ikut bangun memeluknya dari belakang dan kuciumi lehernya. Lantas dia ikut membalikkan badan dan kami berciuman singkat. Setelah ciuman itu dia merapikan tempat tidurnya dan berjalan keluar untuk mengambil sisa pakaiannya yang di luar. Dia kembali mengenakan celana dalamnya warna pink dan mengambilkan pakaianku. "Kamu tidur dalem sini ya", ujar dia. "Mau banget kak", balasku girang. "Dasar", balasnya sambil tertawa. Lantas aku mengenakan kembali celana dalamku. Malam itu aku hanya mengenakan celana dalam tanpa baju dan kakakku menggunakan tangtop dan celana dalam. Kami bersembunyi dalam selimut, saling berpelukan dan bahagia. Akhirnya kami tertidur.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 24
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal