←18+
← Life Changing Experience

Episode 03 — Life Changing Experience

EPISODE 03
EPISODE 3 "ASTAGAAA, udah jam 7 malam?!" Aku menatap layar ponsel dengan mata masih belum sepenuhnya terbuka, susah percaya kalau tubuhku bisa tertidur selama itu. Seperti kebiasaan kebanyakan orang, refleks pertamaku setelah bangun adalah meraih hape. "Wahhh, ada 3 pesan baru dari WA!" Aku buru-buru membukanya, sambil senyum-senyum sendiri seperti orang yang baru jatuh cinta. Tapi tunggu—jatuh cinta pada siapa? Wanita yang jauh lebih tua, yang kemungkinan besar sudah bersuami dan punya anak. Mana mungkin wanita secantik itu masih melamun tanpa pelukan setiap malam. [26/02 16.49] Dina Indirawati: hay Rendy…. [26/02 16.49] Dina Indirawati: makasih ya udah nememin selama perjalanan [26/02 16.49] Dina Indirawati: tapi berasa nganter patung. "Wah brengsek, aku dikatain patung." Aku mencibir diri sendiri, tapi ya iya sih—sepanjang perjalanan itu aku cuma diem seperti arca. [26/02 19.02] Rendy Surya: aku yg makasih tante, maaf abisnya aku bingung mau ngomong apa, takut salah juga. [26/02 19.16] Dina Indirawati: haha baru balas, km tidur ya? apa yg km takutkan? haha curi-curi pandang aja berani, masa ngobrol gak berani. Dua kali ini aku ketahuan. Namanya juga pemula dalam urusan wanita—finger inkognitonya belum turun. Aku berpikir keras, menimbang kata demi kata sebelum berani mengetik balasan untuk wanita tiga puluhan itu. [26/02 19.29] Rendy Surya: maaf tante aku gak bermaksud untuk itu, sekali lg mohon maaf. [26/02 19.29] Rendy Surya: aku hanya mengagumi tante, tp gak bermaksud untuk lebih jauh. Jujur, saat menulis pesan itu tanganku gemetar. Selain bingung harus bilang apa, ada kekhawatiran lain yang merayap di kepalaku: bagaimana kalau suaminya tahu soal aku? Ya sudah, matilah aku. "GOBLOK LU REND, GOBLOK!" umpatku dalam hati, lalu kulempar hape ke ujung kasur. Menunggu balasan rasanya seperti menunggu hujan di bulan kemarau. *** Waktu menunjukkan pukul 26/02 21.46 — di kamar kost Dari bangun sampai detik ini, kuhabiskan waktu untuk nonton TV dan membuka buku kuliah demi materi esok hari. Saat mau tidur, aku masih sempat mengecek hape—siapa tahu ada SMS kampus soal kelas libur, atau kabar dari kampung. "Hmmm, SMS-nya doang dari provider, sialan. WA masuk juga nggak ada. Pesanku cuma dibaca sama Tante Dina, yaudalah." Penyesalan selalu datang terlambat, dan malam itu penyesalan itu duduk manis di sisiku sampai mataku terpejam. Waktu menunjukkan pukul 27/02 9.15 — di dalam kelas dan kampus "Mata kuliah ekonomi blab la bla…." Suara dosen ekonomi manajerialku mengalun entah ke mana. Aku duduk di kelas, tapi jiwaku entah sedang melayang di dunia mana. Autopilot total. Bahkan aku nggak menangkap satu kata pun dari penjelasannya. "Sekian materi pertama kita, blab la bla." Dosen menutup sesi. Dan aku? Masih autopilot. "Heeeh culun! Pulang! Minggir! Lu nutupin jalan!" Seorang cewek keturunan itu menyuruhku minggir dengan nada kasar. "Ini kelas woe bukan tempat tidur, bego lu." Dia Sandra Santika. Keturunan Tionghoa, badannya proporsional kayak model, kulit putih bersih. Aku cuma mengenalnya sebagai teman satu kelas, nggak lebih—dan nggak tertarik lebih. Mungkin karena aku pribumi, minderan, dan biasa-biasa aja. "Iya iya, sabar to! Nglompatin kakiku kan juga biasa!" balasku sambil meluapkan kekesalan. Aku berdiri, keluar dari ruangan kelas itu. Materi hari ini tentang apa? Entahlah. Kosong. *** Waktu menunjukkan pukul 01/03 21.15 — di dalam kamar kost Tiga hari sudah berlalu sejak pertukaran pesan itu. Tidak ada balasan. Harapanku mulai layu, dan aku sudah memutuskan untuk nggak peduli—dianggap atau tidak, sama saja. Tapi tiba-tiba, di tengah asyiknya kubaca buku…. Cliiinggg [01/03 21.15] Dina Indirawati: hello, sibuk apaan nih? Kubaca pesannya dari notification box. Jantungku mendadak loncat. "Aku bingung harus jawab apa. Ini beneran Tante Dina sendiri yang nulis, atau siapa? Harus balas gimana ya… ah, balas aja dengan jawaban biasa-biasa aja." [01/03 21.18] Rendy Surya: hello tante, enggak sibuk apa2 nih, cuma baca buku aja. Tante gimana kabarnya? [01/03 21.19] Dina Indirawati: aku ya gini ini haha, maaf ya kemarin aku capek dan lupa balas pesanmu. [01/03 21.19] Dina Indirawati: oh iya, besok acaramu apaan? Aku mau ngerepotin kamu lagi boleh gak? [01/03 21.21] Rendy Surya: hmm besok hanya ngampus sih [01/03 21.21] Rendy Surya: tapi gapapa tante, aku bisa bantu apa? [01/03 21.26] Dina Indirawati: beneran nih? Jadi besok aku ada sosialisasi di desa, kira-kira perjalanan 3 jam-an lah dari sini. Km bisa bantu nemenin aku atau nyopirin aku, gituuu… [01/03 21.26] Rendy Surya: siap tante! Aku bisa! Besok aku sopirin biar tante fresh sampe sana. Besok jam berapa? [01/03 21.27] Dina Indirawati: jam 7 pagi aku sampai kost-mu. Kamu pakai baju rapi dan sopan ya. Dan jangan kelihatan seperti ajudan bahkan sopir. [01/03 21.28] Rendy Surya: oke tante, noted! [01/03 21.31] Dina Indirawati: yauda, tidur sana. See you tomorrow. [01/03 21.31] Rendy Surya: bye tante! Hape kuletakkan di samping bantalku, tapi senyum di wajahku nggak mau padam. Besok, aku akan menghabiskan tiga jam di mobil yang sama dengan dia lagi. ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode berikutnya sudah tayang — lanjut baca di bawah ya.
← Ep. 02Ep. 04 →
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal