←18+
← Life Changing Experience

Episode 06 — Life Changing Experience

EPISODE 06
EPISODE 6 Malam itu tidak berhenti di satu ronde. Setelah napas kami teratur kembali dan badan masing-masing bersih, kami malah sambil nonton TV berduaan, sengaja menunggu tenaga terkumpul lagi. Dan ketika tatapan mata kami sudah mulai saling menyala lagi, tak perlu ada yang bicara—ronde kedua pun dimulai. Kali ini Tante Dina yang turun lebih dulu. Perlahan dia merangkak ke bawah, menuju selangkanganku yang masih setengah tegang, lalu bibirnya menyambar kontolku dan mulai mengulumnya. "Slurp… slurp… ahhh… hmmmmm…" Kulihat kepala Tante Dina bergerak naik turun dengan begitu fasih. Ujung kaki dan kakiku mengejang-kejang menahan nikmat, kupegang kuat agar aku tidak cepat selesai. "Hmm… ahhh… ahhhh…" Sluuurrrpppp… sluuurrrppp… smooochhhh… ahhh… ahhh… ahhhhhh… ahhh… hmmmmm… Sluuuppppprrrr… sluuuuurrrpppppp… Mataku merem melek tak bisa berhenti. Mulut Tante Dina itu luar biasa—sungguh enak, susah dijelaskan dengan kata-kata. Setiap sedotannya terasa seperti disedot masuk ke dalam kerongkongan yang hangat dan basah, membuat seluruh urat sarafku berdenyut-denyut nikmat. Setelah cukup lama, Tante Dina berhenti. Dia menatapku, tersenyum nakal, lalu berdiri jongkok di atas tubuhku. Tangannya meraih kontolku, memampukkannya, lalu perlahan mengarahkan ujungnya ke lubang memeknya yang sudah basah kuyup. BLEEESSSS… "Ahhhhhhhhh…" Kami mendesah bersamaan ketika kontolku masuk sampai ke dasar memeknya. "Hmmm… ahhhhh… ahhhhh… ahhhhhh…" Tante Dina memulai gerakannya pelan-pelan, menikmati setiap sentimeter kontolku yang keluar-masuk dari liang birahinya. "Ahhh yes Tante… ahhhh… ahhhh… hmmmmmm…" "Ahhhhh Rendyyyyyy… ahhhh… hmmmm… ahhhhhhhh… oooohhhhhh…" Aku hanya berbaring, menikmati setiap gerakannya sementara kedua tanganku memegangi pinggulnya yang tebal dan montok itu. Perlahan tapi pasti, Tante Dina mempercepat gerakannya. PLOK… PLOK… PLOK… PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK… Kakinya naik turun dengan semangatnya seperti anak SD yang dihukum jongkong berdiri oleh gurunya. Kontolku masuk keluar dari memeknya dengan cepat, menghasilkan suara tepukan daging yang memicu birahi keduanya. PLOK… PLOK… PLOK… PLOK PLOK PLOKK… "AHH… AHHH… HMMM…" "AHHHH… AHHHHH… AHHHHHH… AHHHHH…" Kuperhatikan wajah Tante Dina mulai merem melek, menatap ke langit-langit, tenggelam dalam kenikmatannya sendiri. "HMMMM… HMMMM… AHHHHH…" Gerakannya semakin cepat. PINGGUL NAIK-TURUN. KENCANG. MASUK-KELUAR. PLOK PLOK PLOOOK PLOOOKKKK… "YESSS… AHHHHHHH… UUUHHHHHHH…" Dan akhirnya, Tante Dina mendesah sangat kencang—wajahnya semakin seksi, dadanya yang montok mengencang, dan memeknya mulai memijat-mijat kontolku dari dalam. Dia orgasm. Derasnya pijatan-pijatan memek Tante Dina membuatku tak mampu bertahan lebih lama. Desakan cairan kental dari kepala kontolku sudah tak tertahankan lagi. "AHHHHHHHHH TANTEEEEEE… AHHHHHHHHHHH… AKU KELUUUAAAHHHHH…" CROOOT… CROOOOOTTTTT… CROOOOTTTTT… Rasanya pedas manis sekaligus. Kontolku berkedut-kedut enak, memuntahkan beberapa tetesan sperma sampai ke dalam memeknya. Rasanya agak nyeri, tapi nikmat yang tak terkira. Tante Dina menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, tersandar lemas, menatapku dengan penuh senyuman puas. Mataku tertuju pada jam di dinding… lumayan, aku bisa bertahan 5 menit. Dan tak lama kemudian, kami pun tertidur pulas dalam posisi bertelekan. *** Mentari pagi menembus gorden kamar. Kulihat di sebelahku, Tante Dina masih tertidur pulas dengan tubuh yang sama sekali tak tertutup pakaian. Di sekitar kasur, pakaian-pakaian kami berserakan dimana-mana—saksi bisur malam yang gila itu. Kucium kening Tante Dina lembut. Ternyata itu membuatnya terbangun. Dia tersenyum manis kepadaku, meregangkan otot-ototnya yang kaku, lalu melirik jam di meja. "Masih jam 7, Rend…" Aku berusaha menciumi leher Tante Dina, tapi dia menolaknya. "Bentar dong… badanku lemes banget, sayangg…" dorong Tante Dina padaku sambil tertawa kecil. "Maaf ya Tante, kalau tadi malem aku belum bisa puasin Tante…" "Apaan sih kamu? Aku kan udah sampai mendesah-desah gitu. Kamu pikir aku belum puas?" Tante Dina menyentuh pipiku lembut. "Tapi aku suka kok, sama caramu yang buat aku puas duluan. Nanti lama-lama kamu pasti bisa bertahan lebih lama deh…" "Berarti masih ada kejadian kayak gini lagi dong, Tante?" tanyaku dengan semangat. Tante Dina cuma menatapku, mengedipkan sebelah matanya sambil mulai mengambil pakaiannya. Masih dalam posisi telanjang, dia memelukku dan berbisik pelan, "Kamu tau kapan terakhir aku melakukan ini?" Aku menggeleng. "Malam sebelum aku dan mantan suamiku resmi bercerai…" "Wow… itu lama banget, Tante. Pantesan tadi malem rasanya… rapet banget." "Emang kamu tau bedanya rapet sama yang enggak?" balas Tante Dina sambil berjalan masuk ke kamar mandi—seperti mempertegas bahwa aksi tadi malam adalah yang terakhir untuk saat ini. *** Perjalanan pulang menuju kota sudah memasuki tol utama. Kira-kira kurang dari satu jam lagi kami akan tiba di masing-masing tempat. Tante Dina sibuk memainkan HP-nya di kursi penumpang. Aku tidak tahu dia bertukar pesan dengan siapa—dan jujur saja, aku juga tidak ingin tahu. "Kamu mau balik kost atau ke rumahku aja, Rend?" "Aku balik kost-an aja deh, Tante…" "Ke rumahku aja lah dulu. Lagian udah jam segini, kuliahmu paling udah kelar semua." Kulihat jam… pukul 12.37. Memang, semua jadwal kuliahku sudah kelewat. "Baiklah, Tante…" *** Arah perjalanan berbelok, langsung menuju rumah Tante Dina. Mobil berjalan perlahan memasuki sebuah komplek perumahan mewah. Pantai Indah Pesona—nama yang unik untuk perumahan di pinggir pantai ini. Terlihat pagar tinggi berwarna hitam, sehingga rumah-rumah di dalamnya hanya tampak samar-samar dari luar. Tante Dina turun dari mobil untuk membuka pagarnya sendiri. Rumahnya cukup besar—ku perkirakan luas 400 meter persegi, dengan desain minimalis satu lantai. Aku turun dari mobil dan mengambil tasku yang tadi kubawa. "Silakan, Rend. Anggap aja rumah sendiri." Aku masih sibuk melihat-lihat. Begitu memasuki pintu utama, langsung terlihat ruang tamu yang luas. Kulanjutkan langkahku menuju ruang utama, sementara Tante Dina langsung masuk lewat pintu di sebelah kanan rumah. Sedetik kemudian, pintu itu sedikit terbuka lagi, dan samar-samar kudengar suara Tante Dina berbicara di telepon. "Iya, oke, baiklah… aku segera meluncur ke sana…" "Rend, aku ada panggilan ke rumah sakit. Kamu di sini dulu ya. Kamar di sebelah sana boleh kamu pakai untuk istirahat. Aku gak lama kok," katanya sambil menunjukkan letak kamar yang bisa kugunakan. Tante Dina berjalan sedikit bungkuk, mengambil jas dokternya, dan tak lama kemudian suara mobil di hidupkan—hanya terdengar samar-samar. Aku bergegas mengejarnya dan menutupkan pagar untuknya. Kembali ke rumah besar Tante Dina. Di dinding, tergantung foto dia bersama anak-anaknya. "Hmm… anaknya cantik juga. Kayaknya seusia Rahma deh." Memasuki bagian belakang rumah, ternyata ada kolam renang. Kembali ke ruang tengah, ada TV yang besar—kasian kalau nggak pernah dihidupkan. Aku juga menemukan garasi, dan saat kuintip ke dalamnya… ternyata masih ada satu lagi mobil hatchback Jerman keluaran beberapa tahun belakangan. Tetap ganteng kalau dibawa ke kampus. Aku berjalan menuju kamar yang boleh kugunakan. "Bersih juga… padahal nggak ada yang memakainya." Tapi alih-alih tidur, aku memutuskan bersantai di pinggir kolam renang sampai akhirnya terkantuk-kantuk. "Hoah… aku ketiduran di sini ternyata. Udah jam 15.16. Tante Dina belum pulang juga ya…" Kubergegas masuk ke rumah untuk ke toilet. Setelah menyelesaikan urusanku, mataku tak sengaja melirik ke arah kamar utama Tante Dina dari ruang tengah. Dan entah kenapa… kakiku menyelinap masuk ke kamar itu. Dan sungguh… aku tidak percaya apa yang kulihat di dalam sana. "Gilaaakk… ini kan toys seks! Dan banyak banget… gede-gede pula… plus ada DVD porno di atas TV kamar Tante Dina…" Kulihat sebuah dildo berukuran sedang, dan beberapa alat vibrator tergeletak di atas kasurnya. "Mungkin ini pemuas nafsu Tante Dina selama ini…" gumamku dalam hati. Aku memutuskan keluar tanpa mengubah posisi toys itu. Kembali duduk di pinggir kolam, pura-pura tidak melihat apa-apa. "Rendyyyyyyyyy…" "Iya, Tante…" "Nih, aku bawain makanan. Maaf ya sayang, tadi ada pasien yang mau ngelahirin. Tadi ngapain aja?" "Cuma nyantai di sini, Tante… sampai ketiduran." Jawabanku tidak dibalas. Tante Dina langsung memasuki kamarnya, dan tak lama kemudian terdengar suara gemercik air masuk ke bak mandi. "Seger nih abis mandi… kok aku nggak diajak?" ledekku, maksudku biar diajak mandi bareng. "Salah sendiri nggak minta," balas Tante Dina dari balik pintu. Beberapa saat kemudian, Tante Dina keluar dan mendekatiku yang sejak tadi masih di pinggir kolam. Kali ini dia memakai tanktop putih dan hotpants hitam yang membuat kakinya terlihat jenjang dan montok. Kubetulkan itu—kubetulkan pantatnya yang montok itu. Kubelai lembut, lalu kupeluk dari belakang, menghisap lehernya pelan. "Ahhhhh…" desah Tante Dina. Kubisik pelan di telinganya, "Aku mau lagi, Tante…" Tante Dina menjauhkan ciumanku dan menoleh, membalas bisikanku sambil tersenyum, "Tadi malam kan udah. Biar spermanya ngisi dulu dulu, sayang." Aku menghargainya. Kucium keningnya pelan, dan akhirnya kami menyerah pada keadaan. *** Aku dan Tante Dina duduk berpelukan di kursi santai ruang tengah sambil mengobrol ringan. Tanpa kusadari, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. "Tante Dina, aku balik kost ya…" "Gak nginep di sini aja?" "Besok aku ada kelas, Tante. Kemarin dan hari ini kan udah bolos…" "Hmm… ya udah deh. Kamu rajin juga ya, nggak lupa sama kewajibanmu. Kamu pakai mobilku yang di garasi aja ya. Jadi kalau ada perlu, aku nggak perlu jemput kamu…" "Boleh, Tante?" "Daripada nganggur…" Kunci mobil itu diberikan padaku beserta suratnya. Aku memanaskan mesin mobil itu cukup lama karena sepertinya sudah jarang dipakai. Setelah berpamitan, aku mengarahkan mobil keluar dari garasi rumahnya. Perjalanan ke kost cukup dekat—hanya 15 menit. Sesampainya di garasi kost, baru kupergi melirik HP-ku. Ada pesan masuk. [03/03 8.49PM] Dina Indirawati: kabari kalau sudah sampai ya. [03/03 8.49PM] Dina Indirawati: besok-besok, kalau aku butuh kamu, segera merapat ya. Istirahat yang cukup. Kuliah yang rajin. Pesan itu kubaca kata demi kata. Apa maksudnya Tante Dina dengan "butuh aku"? Aku bisa apa? Maksudnya apa? Apa… seks denganku? Tapi kan masih banyak laki-laki lain yang lebih kekar, lebih jago dalam urusan ranjang. Bahkan waktu terlamaku berhubungan pun cuma 5 menit… Hmmmm… hanya Tante Dina yang tahu jawabannya… ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 05
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal