←18+
← Life Changing Experience

Episode 07 — Life Changing Experience

EPISODE 07
EPISODE 7 Beberapa minggu berlalu sejak aku terjebak — entah beruntung atau tersesat, aku tak peduli — dalam dunia tante Dina. Hidupku berubah total. Aku pria lain sekarang. Lebih percaya diri, dompetku aman, plus mobil pinjamanannya — Eropa, keren seperti nama cabang olahraga — membuatku tampak gagah setiap kali melaju di jalanan. Prestasiku di kampus pun stabil, bahkan naik, karena tante Dina tak pernah berhenti memarahiku kalau aku melupakan buku. Hubungan kami tetap sama: aku pemuas birahinya, dan sebagai bayarannya dia mendidikku bagaimana memuaskan seorang wanita. Dulu aku cuma mampu bertahan sebentar dan selesai seperti bocah. Sekarang? Aku bisa membuatnya orgasme hanya dengan kontolku menembus ke dalam memeknya. Aku makin sering menginap di rumahnya. Satpam komplek sudah mengenaliku sebagai keponakan tante Dina dari kampung, jadi tak ada yang mencurigai kedatangan cowok kampung masuk-keluar rumah dokter cantik itu. Di komplek elite ini tetangga saling acuh tak acuh — kau tak ganggu gue, gue tak urus kau. Begitulah adanya. [14/05 1.03PM] Dina Indirawati: Rend, aku nanti sorean udah dirumah. [14/05 1.24PM] Rendy Surya: oke, ini aku udah selesai kuliah, aku langsung aja kerumah. [14/05 1.28PM] Dina Indirawati: oke. Tante Dina memang sering pulang menjelang magrib. Dia ogah membuka praktek di rumah, katanya mengganggu waktu istirahatnya. Siang itu, selesai kuliah, aku langsung menyelinap masuk lewat pagar. Tante memberiku kunci pagar dan rumah, jadi aku bebas keluar-masuk seperti penghuni asli. Hanya kamar utamanya yang sering dikunci — aku hanya boleh masuk saat dia di rumah. Soal mainan seks yang dulu kutemukan itu, tante mengaku dengan jujur: itulah pemuas kesunyiannya selama bertahun-tahun tanpa pasangan. Aku rebahan sebentar di kamarku sambil menunggunya pulang. "Rendyyyyyy!" sahut suara tante Dina dari bawah. "Uuhhh yaaa..." gumamku setengah sadar. "Tidur teruuusss..." dia bergurau, langkahnya masuk ke kamarnya sendiri. Aku bangun. Jam sudah menunjukkan lewat pukul empat sore. Seperti biasanya, kalau dia pulang cepat dan langit mendukung, satu jam atau lebih pasti dicurahkan untuk berenang. Tidak lama, pintu kamar utama terbuka. Tante Dina keluar memakai bikini pink dengan handuk melilit dari pinggang ke bawah. "Renang yuuk, Rend!" ajaknya sambil menggoyangkan pinggul. Ah, kolam itu sudah jadi saksi bisu cumbuan kami berkali-kali. Sangat privat, tak terlihat mata tetangga sebelah. Cerdik benar developernya — penghuninya punya privasi total. Entot di halaman belakang pun tak akan ada yang tahu. "Aku masih ngantuk, tante. Aku di pinggir aja." "Yaaahhh gak asik!" "Iya deh iya, aku ikut. Tapi aku cuci muka dulu." "Oke sayang, cepet ya!" Air dingin menyegarkan wajahku. Aku menyelam masuk ke kolam, dan tak butuh waktu lama tante Dina merapat, tubuh basahnya melengket ke tubuhku. Cuuupphhh... cuuuuppppphh... cuuphhh... Bibir dan lidah kami saling berebut, saling menjilat, saling melahap. Tangan nakalku menyelam ke dalam bikininya, jari-jariku menjelajah ke memek gundulnya yang mulai membasah oleh selain air kolam. "Hmmm ahhhh Rennd... ahhhhhh ohhhhh..." desahnya pecah saat jariku memutar-mutar klitorisnya sambil terus kucumbu leher dan telinganya. "Hmmm ohhh ahhhhh... uuhhhhhh terus sayangggg..." Tante Dina tak tinggal diam. Tangannya meraih kontolku yang sudah tegang kaku di dalam air, lalu mengocoknya pelan-pelan. CREEKK... CREEKK... CREEKKK... Suara kulit kontolku digenjot di tengah gemericik air. "Ohh ohhhh ahhh uhhhh hmmmm..." Aku mengerang menahan nikmat yang bikin lututku lemas di dasar kolam. Satu jam berlalu penuh cumbu tanpa kepuasan. Akhirnya tante yang menghentikan olahraga air kami. "Udah yuk, hampir jam enam, mulai gelap." "Yuk, tante." Aku menggandeng tangannya ke tepi, dan begitu kakinya naik ke tangga kolam, dari belakang kuremas pantatnya yang montok. "Hmmm, gak sabaran banget. Udah main remes aja. Aku mau mandi," jawabnya sambil bergoyang masuk rumah. "Ikuut!" "Ogah!" sahutnya bercanda, lalu pintu kamarnya dikunci dari dalam. Aku pun mandi, shalat, dan kami makan malam sederhana. Setelahnya kami bersantai di depan TV sampai jam sembilan lebih. Tante memakai celana panjang longgar dan kaos ketat yang kontur toketnya menonjol jelas — godaan mati yang tidak dia sadari. Atau mungkin dia sadari. "Sayangg... mau gak aku ajari sesuatu?" Tanya tante Dina tiba-tiba. "Apaan, tante?" "Ini cuma bisa dilatih di kamar. Ku jamin kamu bisa. Dan tiap wanita pasti berharap menemukan cowok yang bisa bikin dia puas... puas... puas banget." "Apaan sih, tante?" Aku penasaran setengah mati. Tanpa jawaban, dia mematikan TV dan menarik tanganku ke kamar. Di ambang pintu kamar utama itu, kurangkul tubuhnya dari belakang, bibirku menjelajahi tengkuk dan lehernya. Tante merebahkan diri di atas kasur, dan kususulkan tubuhku di atasnya, menciumi bibirnya, lehernya, turun ke tulang selangkanya. "Bikin aku basah dulu sayanggg..." tatapnya penuh nafsu, dan aku langsung menerkamnya, memburu lehernya dengan lidah dan bibir. "Ahhh hmmm ahhhh..." erangannya mengalir tanpa henti. Aku menjilat dan mencium bibirnya sementara tangan kananku menyelam ke dalam celananya, jariku menggodai lubang surgawinya. "Udah cukup basah, sayang. Lepas semua baju dan celanaku. Lepas bajumu juga... tapi celanamu jangan," hardiknya. Aku mengikuti semua perintahnya tanpa tanya-tanya. Jujur, aku bingung — disuruh apaan sih ini? Tante Dina telentang, membuaakan kakinya lebar-lebar, bertumpu pada siku. "Sayang, masukin kedua jarimu sampai dua ruas, terus sentuh bagian atas dalam memekku dengan ritme sedang. Lakukan terus sampai nanti ada yang menonjol di dalam sana. Kalau udah muncul, tekan pelan-pelan bagian yang menonjol itu. Makan waktu lama, tapi aku yakin kamu bisa. Ya sayang?" "Iya tante, aku akan bikin tante puas." Wajah tante sudah merah oleh birahi. Kumasukkan kedua jariku persis seperti perintahnya. Crok crok crok crok crokk... Kedua jariku menari maju-mundur di dalam memeknya yang basah. Banjir. Bagaikan banjir tahunan ibu kota, memeknya meluap-luap. Crook crook crook crook... Aku memperhatikan wajah tante Dina yang makin pasrah, menggigit-gigit bibir bawahnya — dan pemandangan itu malah membuatnya makin seksi. "Ahh ahhh terus sayangg..." ... "Ya sayangg, disitu!" ... "Terus sayanggg..." Jariku mulai pegal, nyeri, dan capek. Tapi demi tante, akan kulakukan apapun. Tak terasa hampir tiga puluh menit jariku bekerja tanpa henti di dalam liangnya. Lalu aku merasakannya — ada yang menonjol di bagian dalam dinding memeknya. "Sayangggg iya sayanggg terus sayanggg lebih cepeteeeet!" Pelan-pelan kuk热 tekan tonjolan itu... salah — pelan-pelan kutekan tonjolan itu, dan kulihat tante Dina makin kehilangan kendali, makin lepas, makin tenggelam dalam nikmat. "Iyaaa tekan sayangggg aahhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhhhhh..." Tubuh tante Dina mulai kejang-kejang. Kakinya bergetar hebat, kepalanya terangkat mendongak ke belakang, punggungnya melengkung naik. "Jangan berhenti teruuuus..." Suaranya lirih, remuk, memohon. "Ahhhhhhhhhh AHHHHH UHHHWWW WHHHHH AHHHHHH—" CROOOT! CROOOOT! SEEEERRR... SEEEERRR... Erangan panjangnya meledak, disusul semburan air bening dari memeknya yang menyembur deras, cukup banyak hingga membasahi wajah dan dadaku. Tante Dina benar-benar kehilangan kendali atas dirinya, dadanya naik-turun, napasnya berburu liar. "Ahhh ahhhhhh oh myyyyyy ahhhhhh..." Pelan-pelan napasnya menenun. Aku basah kuyup oleh cairan tadi — dan jumlahnya luar biasa banyak. "Ahhh udah sayanggg... wooow... hahhaa..." "Apa itu tadi, tante?" "Itu squirt, sayangggg. Kamu bisaaa! Ah, aku makin sayang sama kamu, Rend," Tante Dina berbicara dengan wajah girang, mata berbinar excitement. "Dasyhat banget ya kayaknya, tante." "Banget. Banget! Dan gak semua cowok bisa ngelakuin itu. Banyak wanita juga gak sabaran, makanya gak semua bisa ngerasain. Padahal kalo bisa... hidup kita bahagia banget." "Semua cewek bisa, Tan?" "Bisa sih sebenernya. Tergantung wanitanya mau pasrah dan sabar apa nggak. Yang penting kamu udah bisa. Nanti tinggal nger polled tekniknya... eh, tinggal kamu pertajam tekniknya aja." Dia tersenyum nakal. "Kamu mau aku puasin gak?" "Mau, tanteee!" ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 06
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal