←18+
← Life Changing Experience

Episode 08 — Life Changing Experience

EPISODE 08
EPISODE 8 Wajah dan dadaku basah kuyup disiram cairan surgawi dari kewanitaan tante Dina. Aku melepas celanaku, kontolku sudah berdiri tegak membanggakan. Perlahan kudekatkan kontolku ke arah mulutnya yang terbuka lebar. Aku berdiri di pinggir kasur, sementara tante Dina menungging di atasnya, matanya berkaca-kaca menatap kontolku yang ngaceng keras bagaikan tiang listrik. "hmmm ahhh" "ughh hhhhmm ahhh oogghhh," aku mendesah tak kuasa menahan nikmatnya sepongan dari mulut tante Dina. Lidahnya lihai bermain, menjilati sekeliling batangku sebelum mengulumku dalam-dalam. Setiap gerakan mulutnya yang maju mundur membuat kontolku ngilu luar biasa, peju mulai menekan dari dasar kerongkongan menuju ujung kontol. "ahh tante ngilu ahhh ouuughhhh hmmmm," aku menggigit bibir, berusaha bertahan agar tidak cepat keluar. "haha enak ya sayang, wajahmu sampai begitu," goda tante Dina genit sambil tersenyum nakal. Lantas dia mengubah posisi, berbaring telentang sambil menunggingkan pinggulnya. "langsung masukin sayang," bisiknya pelan namun membuat bulu kudukku berdiri. Aku menggenggam pinggangnya, menariknya ke ujung kasur supaya lebih leluasa memasukkan kontolku ke dalam tubuhnya. Kuarahkan ujung kontolku ke lubang memeknya yang masih basah, aku menindih tubuhnya, mendorong masuk perlahan sambil menciumi bibirnya yang lembut. Tante Dina memang sudah lelah, tubuhnya pasrah menyerahkan diri sepenuhnya padaku. Pinggulku terus menggerak-gerakkan, mencari posisi yang bisa membuatnya orgasme lagi — aku ingin bertahan selama mungkin, menikmati kehangatan memeknya sedalam ini. Perlahan gerakan pinggulku semakin cepat. PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP "ahh terus sayanggg, ohh enak bangeeet," erang tante Dina merem melek, kontolku terus berkunjung bolak-balik di dalam memeknya. "yess yess yessss, yesss pleaseee" "ugghhh hmm ahhh ahhh ahhhh" Aku menunduk, menghisap teteknya yang penuh, menjilat putingnya yang mengeras, tak lupa kubekik leher dan sekitar putingnya hingga muncul bekas merah. "shhhhhruuupppp Shrruuuppppp cuuuppppppppppppp" "ahhhhh yanggg nanti mbekas lhooo cupangannya," protesnya di antara erangan. "ahhh terus yanggg cupangi aku teruus enak banget ahhhhhh" Desahan dan erangan kita bertalu-talu tanpa henti. Aku membalik tubuhnya, memposisikannya menungging — doggy style favoritku. Kuhujam memeknya dari belakang dengan kontolku yang sudah makin keras, memandang nikmat gerakan pantatnya yang beradu dengan perutku setiap hentakan. "ah sayangg aku mau keluar lagi," erangnya mulai tak terbendung. "ahhhh uuuuuuuuuuuuuwwwwwwwwwwwwwww," desah panjangnya menggapai puncak. "aku juga tante, ayo barengan," ajakku sambil menahan napas. Otot memeknya semakin erat mencengkeram kontolku, seolah tak mau melepas. Aku konsentrasi penuh, mempercepat hentakan terakhir. "ahhhhhhh oohhhhhhhhhhhhhh aku keluar sayanggggg!" "akkkkhhhhhhhhhhhhhh!" Semburan peju kuku keluar bersamaan dengan cengkraman memek tante Dina yang berkedut hebat, pertanda dia juga tengah mencapai klimaks yang luar biasa. CROOOTTT CRUUUTTT CRUUUUTT "haaahh haaaahhh hooohhhh hhhhuuuhhh ahhhhhhh haaahhhh" Napaskita berburu oksigen, badan lemas total. Keringat dan lendir kelamin menempel lekat di tubuh kami berdua. Aku ambruk menimpa punggung tante Dina yang masih tengkurap di bawahku. Kontolku masih terendam di dalam memeknya, perlahan mengecil di dalam kehangatan itu. "berat sayanggggg," rengeknya pelan. Aku menggulingkan tubuhku ke samping, lalu memeluknya mesra. "besok kalo ngentot bikin aku squirt ya sayang, jangan hanya sekali, itu bisa keluar terus kok, nanti aku semakin kehilangan kontrol, semakin enak," pintanya sambil menaruh kepala di dadaku. "wiii, oke tante," jawabku senang. "tidur yuuk." Kurengkuh tubuhnya lebih erat, seolah dia milikku dan aku tak ingin melepaskannya. Tidur telanjang selain membuat bergairah, ternyata juga membuat hati makin romantis. *** Beberapa hari setelahnya. Aku berada di kampus, bersiap menjalani ujian mid semester. Aku cukup yakin dengan penguasaan materiku — memang malam-malamku banyak tercurah untuk adegan ranjang, tapi aku tak pernah meninggalkan buku. Menunggu dosen masuk selalu terasa membosankan sekaligus mendebarkan. Banyak teman yang mendatangiku untuk belajar bersama, walau hanya sebentar. "eh Rend, yang ini gimana kemarin?" tanya Akbar. "ajarin dong yang ini," sambung Vera. "bro, ntar gue duduk di sebelah loe ya, mau nyontek aja males belajar," pinta Rembo. "Rend, ntar lu duduk tengah aja, jawabannya didistribusikan ke kita-kita," pinta teman-teman yang lain. Ya, walau aku cupu, culun, dan biasa-biasa saja, teman-temanku merasa dekat denganku hanya saat menjelang ujian. Ada yang sungkan belajar denganku, ada pula yang memandangku sinis. "ih si culun tuh dirubung," sindir Sandra sambil melirik tajam ke arahku, sambil bercakap-cakap dengan Helga, Amanda, Callisa, dan Andita. Ya, geng wanita hedon dan kaya ini memang tidak suka — bahkan menjijikkan — kaum sepertiku. Tapi kuakui, mereka cukup cantik dan seksi... kalau saja tutur kata mereka lebih dijaga. "hahaha aku mending ngulang matkul ini daripada belajar sama kaum kotor macem dia," cetus Callisa. Dosen pun datang. Kami berebut mencari tempat duduk paling strategis. "Oke, ujian mid ini, jangan pada contek yaaa," ujar professor di bidang marketing riset itu. Ujian pun dimulai. Seperti biasa, kudistribusikan jawabanku ke teman-teman — tak luput juga untuk geng hedon milik Sandra. Walau sok gengsi, mereka tetap menerima contekanku juga. Saat waktu ujian berakhir, sang dosen berdiri. "Saudara-saudara, terima kasih atas partisipasinya. Mulai minggu depan hingga akhir semester akan ada tugas terus, tugas tiap minggu yang ada progresnya, macam mini report ya. Nanti satu kelompok dua orang. Nama-nama kelompoknya sudah saya buat dan sudah saya tempel di lorong bagian utara. Silakan dicek." Di pagi yang masih ramai itu, mahasiswa lalu-lalang memasuki ruang kelas atau sekadar nongkrong. Aku berjalan melewati lorong demi lorong menuju papan pengumuman berisi pembagian kelompok kelasku. Papan itu sudah riuh dirubung teman-teman sekelasku. Dengan tinggi badanku, melihat kertas di situ saja susah setengah mati. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku bisa mencari namaku. "hmmm, mana ini namaku," gumamku pada diri sendiri. "hee Rend, ini namamu ada di sini," sahut Indro, teman sekelasku, sambil menunjuk kertas itu. "Tadi aku lihat di sini... eee, lha ini nih namamu," lanjutnya. "eh iya... lhah ya ampun, aku sekelompok sama Sandra," ucapku lemas, kecewa dengan hasil undian ini. "iya e bro, kerja sendiri nih kamu bro... tapi ya sama cewek seksi brooo," seru Indro girang. Memang dia agak-agak mata keranjang. "yaudah lah, kujalani aja laahhh. Kamu sama siapa, Ndro?" jawabku pasrah. "Aku sama Taufik, bro." Samar-samar dari kejauhan kudengar geng hedon itu sedang berjalan ke arah mari. Sementara aku bergegas menuju kantin bareng Indro. Rasanya lemas memikirkan tugas satu semester ini akan kugarap sendirian — Sandra pasti ogah diajak kerja bareng denganku. Di kantin aku duduk bersama Indro dan kawan-kawan lain. Pagi-pagi begini gorengan masih hangat. "heeeh culun, aku sekelompok sama kamu!" bentak Sandra tiba-tiba. "ya, aku udah tahu," jawabku datar. Dia terus berjalan mendekati mami kantin. "ealah, ini dia mahasiswi paling cantik se-kampus," sapa mami kantin ramah. "ahh, mami bisa aja," jawab Sandra sambil tersenyum manis — manisnya yang hanya muncul untuk orang-orang "setaraf" dia. Aku memutuskan pulang ke kost. Masih pukul dua belas siang, tante Dina pasti masih di kantor. Aku bingung harus bagaimana mengerjakan tugas riset itu. "ah, aku kerjakan sendiri ajalah kalau memang terpaksa. Nanti aku bilang ke dosen kalau Sandra nggak ikut ngerjain," batinku geram. *** Waktu menunjukkan 20/05, 09.06 PM — seminggu setelah ujian mid semester. Aku sedang asyik menonton TV sambil menyambi membaca artikel untuk menyiapkan materi presentasi besok pagi. [20/05 9.08 PM] Sandra Santika: heh culun! Aku hanya membaca pesannya. Jujur saja, aku enggan berurusan dengan wanita satu ini. Aku memilih tidur — presentasiku besok lebih penting daripada urusan cewek sombong ini. [20/05 9.15 PM] Sandra Santika: heh brengsek di read doang pula! ---BERSAMBUNG---
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 07
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal