EPISODE 01
BAGIAN 1
PENGGANGGU
"Kita ketemunya dua lima, loh..." kata seorang wanita yang duduk di hadapanku — wanita yang baru beberapa hari ini resmi jadi kekasihku.
"Hah? Maksudnya...?" jawabku bingung sambil menyalakan rokok Marlboro merah, kebiasaan buruk yang tak pernah bisa kutinggalkan.
"Menurut hitungan Jawa, kalau tanggal lahirmu dan tanggal lahirmu dijumlahkan, hasilnya ketemu dua lima," jelasnya pelan.
"Hah? Terus hubungannya apa dengan kita?" Kali ini kupandangi wajah manisnya dengan serius, sambil mengisap dalam-dalam rokok putihan nikmat ini.
"Uhuk... uhuk... rokokmu itu, Mas. Aku tidak enak betul bau asapnya. Kurangi-kurangilah merokoknya," omelnya, kena semburan asap di wajahnya.
"Hehehe... iya, iya. Lanjut ceritanya, deh," ucapku supaya dia berhenti mengomel soal kebiasaan merokokku.
"Iya kulanjut. Tapi kalau nyundhut lagi satu batang, aku pulang," ancamnya sambil memanyunkan bibir.
Aku cuma mengangguk, daripada panjang urusan.
"Jadi begini. Kalau ketemu dua lima itu artinya... ketemu mati," ucapnya serius sekali.
"Hah? Apa sih maksudnya?" Kuerutkan dahiku sambil menatap tajam kedua matanya.
"Ha ho ae ket mau... kok iso yo aku pacaran karo sampean sing plonga-plongo ngene, Mas?" *(ha ho aja dari tadi... kok bisa ya aku pacaran sama kamu yang gampang bingung gini, Mas?)* jawab pacarku sambil geregetan.
"Cuuuk... plonga-plongo jare..." *(cuk itu plesetan dari 'cok' yang artinya sayang, berasal dari daerah timuran Jawa — itu sih menurutku ya. Karena kata 'cok' itu artinya tergantung situasi kita mengucapkannya, beda situasi, beda pula maknanya... hehe.)* Kugaruk-garuk kepalaku sambil berpikir. Mana tidak bingung — tiba-tiba dia cerita soal angka dua puluh lima, terus nyambung ke tanggal lahir, terus nyambung ke hitungan Jawa, terus... ketemu mati. Memangnya aku tidak plonga-plongo apa?
"Lanjutkan ceritanya, deh," pujukku.
"Ketemu mati itu artinya, kalau kita melanjutkan hubungan ke tahap selanjutnya — yaitu pernikahan — maka dalam satu tahun, salah satu di antara kita akan meninggal. Kalau bukan kita berdua, ya orang tua atau saudara kandung kita. Atau bisa juga mati rezeki. Jadi hidup kita berdua ke depannya akan benar-benar dihantui banyak musibah. Secara garis besar begitu yang kudengar dari keluargaku." Jawabnya sambil sedikit menundukkan wajah.
Kulihat raut wajahnya berubah — sedih dan kecewa, jauh berbeda dari saat kedatangannya tadi yang berbunga-bunga, dengan senyum manis di bibir tipisnya. Mendengar angka dua puluh lima yang diceritakan keluarganya itu, kelihatannya dia mulai ragu untuk melanjutkan hubungan ini.
"Eleh... opo ae seh?" (apa-apaan sih?) "Gitu aja dipercaya. Kita jalanin aja dulu, lah. Hidup dan rezeki bukan manusia yang ngatur. Yang penting itu yakin. Kalau sudah yakin, masalah apa pun di depan pasti bisa dihadapi. Yakin Tuhan akan bantu, yakin kita bisa lewati. Yang penting yakin, loh ya. Kalau ragu, ya sudah — kita pasti akan dihajar oleh ketakutan-ketakutan kita sendiri." Ucapku sambil mematikan rokok yang sudah tinggal sedikit kena filternya.
Kuambil tangan kirinya, kuangkat sedikit dagunya sambil kuelus lembut pipinya. "Aku sayang kamu, dan aku yakin bisa melewati semuanya bersamamu. Asalkan..." Kukecup pelan keningnya.
"Asalkan apa?" Dia menatapku lembut.
"Asalkan kamu yakin," jawabku.
"Gimana deh?"
"Iya, Mas. Aku juga sayang kamu, dan aku yakin. Semoga ini cuma mitos aja, ya..." jawabnya — walaupun masih ada sisa keraguan tipis di wajahnya.
Kudekatkan wajahku, kukecup lembut bibirnya. Perlahan namun pasti, dia membuka sedikit bibirnya, membiarkan ciumanku menusuk lebih dalam. Bibirku yang semula kering kini basah oleh pertukaran liur kami. Kubelai pipinya, lalu kutariknya perlahan agar tubuhnya semakin menempel padaku, memeluknya erat sambil mengelus punggungnya. Sengaja kularang lidahku masuk — aku takut dia belum menyukainya. Ini ciuman keduaku untuknya setelah jadian. Pertama kalinya menciumnya sih waktu jadian dulu. Dan itu adalah ciuman pertamanya — atau istilah kerennya, first kiss. Sedangkan aku? Entah yang keberapa kali, hehehe.
"Bau rokok..." Dia melepaskan ciuman dan memundurkan kepalanya.
"Sambil ngemut permen yuk ciumannya... nanti nggak bau rokok lagi, kok," rayuku sambil memasang muka mesum.
"Emoohhhh..." (nggak mauuu...) jawabnya sambil memeletkan lidahnya.
"Emoh temenan ta iki?" (nggak mau beneran nih?)
"Emang nggak bau lagi kalau sambil ngemut permen?"
"Iya. Nggak bau, malah lebih enak ciumannya."
"Beneran...?"
"Ciyussss..."
Langsung kuambil permen dari kantong celanaku. Kubuka bungkusnya, kuemut, lalu kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya...
TOK! TOK! TOK!
Pintu kamar kosku digedor.
"SANDI! SANDI! NGGAK KULIAH TA, COK?!"
Cuk... ganggu aja manusia satu ini.