←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 02 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 02
EPISODE 2 BAGIAN 2 16 JAM Namaku Sandi Purnama Irawan, usiaku sembilan belas tahun. Aku sebenarnya asli dari pulau ini, tapi sejak usiaku empat tahun aku dan keluargaku merantau ke pulau seberang. Usaha ayahku lumayan sukses di sana—beliau seorang kontraktor yang cukup besar, dan beliau menginginkan aku untuk meneruskan usahanya kelak. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan urusan melanjutkan usaha ayahku. Aku lebih tertarik pada mesin otomotif. Jadi waktu masuk STM dulu, aku mendaftar jurusan mesin sebagai pilihan pertama dan gambar bangunan sebagai pilihan kedua. Tapi mungkin takdir keluarga ibuku yang rata-rata berkecimpung di bidang kontraktor bangunan membuatku diterima di jurusan gambar bangunan, sedangkan jurusan mesin cuma jadi mimpi. Semua saudara ibuku usahanya di bidang konstruksi bangunan—adiknya, kakaknya, sepupu, paman, om, pokoknya rata-rata begitu. Sedangkan dari pihak ayahku, semua keluarganya bergelut di bidang otot dan nyali. Karena itulah ayahku merantau, ingin merubah hidupnya. Ayah dan ibuku merantau tanpa ada satu pun saudara di pulau seberang—semua saudaranya ada di pulau ini. Dan ayahku memulai usahanya dari nol sampai jadi sebesar sekarang. Sebagai anak laki-laki, ke pundakku pula harapan besar ayahku tersimpan. Dan sekarang aku disuruh ayahku melanjutkan kuliah di kota ini—kota pendidikan dengan cuaca dingin sehari-harinya. Dan di sinilah kisahku bermula. Berbekal informasi dari temanku tentang kota ini, aku berangkat sendiri sampai di kota ini. "Stop di depan, Pak," ucapku pada sopir angkot. Aku turun di perempatan jalan. Di seberang jalan kulihat bangunan yang sangat besar dan luas. Oh, ini ya kampus swasta yang terkenal itu... megah sekali. Dan ke arah kiri, kulihat kos-kosan dan rumah makan berjejer rapi. Aku berjalan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak sekali warnet dan wartel—di zaman ini tempat begini primadona sekali, karena sedikit sekali orang yang punya HP. HP itu barang yang sangat istimewa. Walaupun jumlah wartelnya banyak, tidak ada yang sepi. Selalu saja ada yang mengantre di setiap bilik untuk menelepon. Sebelum melanjutkan jalan, aku singgah ke toko untuk membeli beberapa buah teh kotak dan beberapa bungkus rokok. Aku duduk sebentar di depan gang sambil minum teh kotak. Kebiasaanku dari dulu, kalau tidak minum teh, kepalaku rasanya mau pecah. Minimal sehari tiga kali aku harus minum teh. Tidak tahu kenapa bisa begitu, sejak kecil aku sudah terbiasa. Kubakar sebatang rokokku, kunikmati perlahan. Segar rasanya—setelah minum teh disambung rokok, seperti ada udara segar masuk ke kepalaku. Setelah rokok habis, kulanjutkan perjalanan sambil menyesap teh kotakku sedikit demi sedikit. Tujuan pertamaku adalah mencari kos-kosan. Kulihat di depan ada gang kecil. Aku berjalan menyusuri gang itu. "Permisi, Mas..." Setiap melihat orang di depan kos-kosan, aku menundukkan kepala sambil tersenyum. Di ujung jalan kulihat bangunan dua lantai berwarna merah. Sepertinya aku tertarik dengan tempat ini. Hati kecilku seolah menuntunku ke bangunan ini. "Permisi, Mas. Saya mau tanya—ada kamar kosong nggak?" ucapku pada seseorang yang duduk di atas sepeda motor yang parkir di depan kamar kos. "Kamu tanya ke dalam aja." Matanya tajam menatapku. Penampilannya lumayan seram—rambut gondrong, celana levis sobek di lutut, dan matanya merah. "Oh iya, Mas. Terima kasih," jawabku sesopan mungkin. Aku masuk ke dalam sambil menundukkan kepala dan tersenyum padanya. Dia cuma diam saja, tetap menatapku tajam. Kos-kosan ini berbentuk segi empat, kamar-kamarnya mengelilingi ruang tengah yang terdapat sebuah meja lumayan besar, beberapa kursi panjang, dan ada TV di atas sebuah lemari. Ruang tengah ini lumayan luas dan bagian atasnya tidak berlantai, sehingga kamar-kamar di lantai dua terlihat dari bawah. Kelihatannya ruang tengah ini jadi tempat nongkrong sekaligus parkiran sepeda motor. Di tengah, kulihat empat orang duduk mengelilingi meja sambil menuangkan botol ke dalam gelas. Kelihatannya lagi pesta nih orang. "Permisi, Mas. Saya calon mahasiswa baru, mau mendaftar di kampus depan. Di kos-kosan ini ada kamar kosong nggak ya?" Semua menoleh dan menatapku tajam. Ada apa sih ini, kok orang-orang di sini kelihatan tidak bersahabat? Penampilan mereka pun rata-rata sama—rambut gondrong, kaos oblong, celana levis sobek-sobek, dan satu lagi: matanya merah semua. Apa mahasiswa itu penampilannya begini semua ya? ucapku dalam hati. "Ada. Kalau kamu bisa habiskan dua botol minuman ini sendirian, kamu boleh tinggal di sini. Itu ada kamar kosong satu—penghuninya baru pulang kampung, sudah wisuda bulan kemarin," jawab seseorang di depanku. Wajahnya lumayan ganteng, agak mirip bule. Rambut gondrong, hidung mancung, bertindik di kupingnya. Tatapannya tajam dan memiliki aura yang sangat kuat. Dia mengambil botol minuman di bawah meja, membukanya, lalu menyodorkan dua botol dan sebuah gelas kepadaku. "Eh, Bule. Serius loe mau kasih kesempatan anak baru ini kos di sini?" Tanya temannya dengan logat ibukota. Dia tidak menjawab, hanya menatap temannya dengan tatapan tajam. "Terserah loe deh," gumam temannya. "Aku nggak suka mengulang perkataan. Jadi gimana? Kalau sanggup, duduk. Kalau nggak, cari aja kos-kosan yang lain." Dia menatapku lagi dengan tatapan tajamnya. Cuukk... ini nih momen yang bikin aku rada grogi. Tapi entah kenapa aku yakin bakal tinggal di tempat ini. "Permisi, Mas..." Aku langsung duduk di samping mereka, menaruh tas di sampingku dan teh kotak di meja. Kuanbot botol minuman yang bertuliskan topi miring itu. "Aku minum ya, Mas..." Kuangkat botol itu dan meminumnya perlahan. Buseeet... tenggorokanku rasanya panas seperti terbakar. Kuteguk terus sampai setengah botol dan aku berhenti sejenak. Untungnya tadi di terminal sempat minum jus alpukat, jadi perutku tidak kosong. Kutaruh botol itu di meja, mengambil air mineral di samping tasku dan meneguknya sedikit, lalu kususap wajahku yang mulai terasa agak tebal. Apa pengaruh minuman ini ya? Aku mengambil rokok dan menghisapnya. Setelah lima belas menit, kulanjutkan lagi minum topi miring yang sisa setengah itu. Buset dah... nendang banget ini minuman. Mana masih ada satu botol lagi. Kutarik napas perlahan. "Istirahat sebentar ya, Mas..." aku minta izin pada mereka. Tidak ada jawaban. Kelihatannya mereka asyik dengan dunianya masing-masing—hanya Mas Bule yang menatapku. Kuhisap rokokku lagi. Kuambil botol kedua dan kembali menyesapnya perlahan. Aaahhh... pahit betul minuman ini. Sisa setengah botol terakhir aku istirahatkan lagi. Betul-betul terasa tenggorokan ini mau kebakar. Kuhisap dalam-dalam rokokku lalu kukeluarkan asapnya perlahan. Kuulangi beberapa isapan lagi. Setelah agak tenang, kutarik napas perlahan dan kuminum sisa setengah botol itu sampai tetes terakhir. Fiuhhh... belum pernah aku rasakan minuman seperti ini di kotaku. Setelah minuman habis, perlahan-lahan alkohol mulai menembus sampai ke pembuluh darah dan kepalaku mulai pusing. Mataku berkunang-kunang, sedikit kugoyangkan kepalaku supaya tetap sadar. Aku tidak boleh pingsan—malu dong sama julukanku di sana, "Si Gentong". Aku harus kuat, jangan sampai roboh... Memang ini pengalaman pertamaku minum topi miring. Biasanya di sana aku cuma minum bir campur anggur—BCA, begitu orang di sana menyebutnya. Dan biasanya kuminum sambil makan ikan bakar sebagai sandingannya. Aku diam sebentar. "Ya udah. Kamu minta kunci kamar dan bilang sama Rudi—itu yang duduk di depan, di atas sepeda motor. Bilangin dia, Bule mengijinkan kamu tinggal di kos ini." Mas Bule bicara tanpa menoleh ke arahku. Dia asyik menghisap rokok putihan yang sama dengan rokokku. "Oh ya, Mas. Namaku Sandi. Aku dari pulau seberang," aku memperkenalkan diri, mengangkat tanganku agak gemetar karena pengaruh alkohol yang mulai terasa. "Rendi. Tapi orang biasa manggil Bule," jawabnya sambil menjabat tanganku. "Wawan..." orang di sebelahnya yang berlogat ibukota. "Toni..." orang yang di seberangnya. Kalau kulihat dari kulitnya yang agak gelap dan rambut keriting panjang yang dimodel rasta, sepertinya dia dari pulau timur sana. "Bendu..." orang di sebelah Mas Toni yang juga menyapaiku. Kelihatannya dia orang kota ini—terlihat dari kaos biru bertuliskan nama klub sepakbola yang terkenal di negeri ini yang ia pakai. "Oh iya. Saya permisi dulu, mau ke Mas Rudi untuk ambil kunci kamar," pamitku. Aku mau cepat-cepat masuk kamar, takut pingsan di sini. Perlahan aku mulai berdiri dan berjalan agak sempoyongan sih, tapi tetap kubuat sekuat mungkin biar nggak kelihatan terlalu goyang. "Permisi, Mas Rudi. Saya disuruh Mas Rendi ambil kunci kamar," ucapku padanya. "Oh... jadi kamu diijinkan kos di sini? Sudah siap kos di sini?" "Maksudnya, Mas..." Ah, kepalaku sudah pusing, pandanganku mulai kabur, tapi nih orang masih tanya-tanya saja. Belum lagi tas baju yang kubawa ini kok lama-lama berat di pundak. "Ah, sudahlah. Nanti kamu tahu sendiri," jawabnya sambil masuk ke kamar. Tidak lama dia keluar sambil menyerahkan kunci. Kulihat dia menyipitkan mata, mungkin melihat aku sudah agak goyang berdiri. "Harga kamar 1,5 juta per tahun. Tambahan kalau bawa komputer, dua puluh ribu untuk listriknya per bulan. Besok aja kamu serahkan uangnya. Itu kamar kamu, di pojok dekat kamar mandi," dia menunjuk ke arah kamarku. "Oh iya, Mas. Terima kasih ya. Saya ke kamar dulu," pamitku. Asli kepalaku mulai berat, rasanya seperti dipukul balok waktu tawuran STM dulu. Aku berjalan pelan supaya tidak jatuh. Pandanganku mulai berbayang. Aku harus kuat sampai kamar. Padahal jaraknya dekat banget, tapi kok terasa jauh ya... Ini kamarku nih. Kubuka kuncinya dan masuk. Tanpa membuka sepatu, kututup pintu dan kuletakkan tas di sampingku. Langsung kurebahkan kepalaku ke kasur. Cuukkk... bumi ini kok kayaknya bergoyang ya? Atau ini gempa? Kulihat jam di tanganku—agak kabur. Kudekatkan jamnya ke wajahku. Oh... jam tiga sore. --- ***POV WAWAN*** Kampus kami adalah kampus teknik yang berisi para bajingan dari kota ini dan kota-kota lain di sekitar provinsi, bahkan dari provinsi lain. Salah satu tujuan adanya kos-kosan kami adalah mengendalikan kehidupan di dalam kampus supaya tidak ada gesekan antar sesama jurusan. Walaupun sebenarnya gesekan tetap ada, tapi itu hanya dalam jurusan masing-masing—ego senioritas masih kuat di dalamnya. Kalau sudah masalah di dalam jurusan, kami tidak ikut campur. Kami serahkan semuanya pada salah satu anggota kos kami yang berasal dari jurusan itu. Pondok Merah, itu nama kosku. Tempat berkumpulnya bajingan dan berandalan kampus swasta yang berada di depan, dalam gang depan kampus. Penghuni kos-kosan ini rata-rata adalah penguasa di jurusannya masing-masing. Banyak bajingan yang mau masuk ke kos ini, dan kami sangat selektif memilih orang yang tepat untuk menghuni di sini. Itu semua dilakukan turun-temurun sampai ke generasi kami. Dan hari ini, ada kejadian yang tidak kami duga. Hari ini seperti biasa, aku dan teman-teman sedang pesta. Tapi hari ini cuma empat orang saja—aku, Bule, Bung Toni, dan Bendu. Anak-anak yang lain tidak tahu ke mana. Sebenarnya tadi Rudi, keponakan ibu kos, ikut minum juga, tapi dia tidak enak badan jadi dia cuma ikut sebentar. Lagi asyik minum, tiba-tiba pintu kos terbuka. Ada seorang anak berdiri di depan pintu, membawa tas besar yang digendong sambil menyesap teh kotak. Dia berbicara sebentar dengan Rudi yang duduk di atas motornya. Aku dan teman-teman kaget—ada orang yang berani buka pintu kos, dan lebih gilanya, dia berani masuk ke dalam. Dia berjalan pelan mendatangi aku dan teman-teman yang sedang minum. Kurang ajar nih bocah... Rudi juga kenapa sih mengijinkan anak ini masuk... Aku mau berdiri, mau kuhajar nih anak, tapi ditahan Bule. "Duduk. Mungkin dia anak baru yang mau kuliah, makanya dia nggak tahu kalau dia masuk ke kandang singa. Lihat aja dulu mau apa. Kalau macam-macam, aku sendiri yang selesaikan anak ini," jawab Bule. Bule menatap mata anak itu dengan tajam. Tapi selang beberapa saat, tatapan Bule berubah—tidak seperti biasanya yang garang seperti singa hendak menerkam mangsanya. Bule menatap sambil menghisap rokok, dan sepertinya dia terhipnotis oleh tatapan mata anak baru ini. Dia seperti melihat ada yang spesial dari anak ini. Anak ini sudah sampai di depan kami. Dia tersenyum kepada kami, lalu bertanya ada kamar kosong atau tidak. Aku lihat matanya—seperti tidak ada ketakutan melihat kami berempat yang duduk, padahal kami menatap tajam ke matanya. Dia santai, seperti tidak ada apa-apa. Padahal anak-anak di kampus, kalau sudah melihat kami datang dari kejauhan saja, tidak ada yang berani menatap kami. Tapi anak ini malah datang dan menatap mata kami satu per satu. Seperti ada aura menakutkan yang tersembunyi di balik senyum sopannya. Ketika dia bertanya ada kamar kosong, Bule mengiyakan tapi dengan syarat: anak ini harus minum dua botol topi miring sendirian. Kalau sanggup, silakan kos di sini. Kalau tidak, silakan pergi. Wah, bisa modar nih anak. Minuman topi miring di kota ini tidak sama dengan topi miring di kota lain. Minuman ini diproduksi di kota ini, rasanya lebih pahit dan lebih memabukkan. Pernah ada tamu dari kampus kota lain yang main ke kampusku. Kami suguhkan topi miring dua botol, mereka minum bersepuluh—mereka langsung mabuk tanpa karuan. Aku sempat protes ke Bule soal anak ini, tapi dia tidak menjawab, justru menatapku tajam seolah menyuruhku diam. Kulihat Bung Toni dan Bendu pun menangguk padaku. Akhirnya aku diam dan mengikuti permainan si Bule. Gila nih Bule. Asal tahu saja, banyak berandalan kampus yang mau kos di sini tapi tidak diijinkan Bule. Kalau ada yang mau kos di sini, biasanya Bule minta pendapat kami dan kami membahasnya bersama—walaupun sebenarnya keputusan mutlak ada di tangan Bule, karena Bule diberi amanah oleh Mas Pandu, orang yang kami tuakan di sini, untuk memutuskan siapa yang berhak tinggal di sini. Ibu kos tidak mau campur urusan di dalam kos ini—yang penting baginya kos-kosan penuh terisi dan dia mendapat bayaran. Kembali ke anak ini. Dia menyanggupi meminum dua botol topi miring sendirian, penuh percaya diri. Gila... nekat nih bocah. Kalau ada apa-apa sama bocah ini, siapa yang tanggung jawab? (Apa dibuang ke daerah dekat pegunungan yang sepi aja ya kalau sampai mabuk parah...) Dia langsung duduk. Kulihat sekali lagi ke matanya—tidak ada ketakutan dan keraguan sama sekali. Aku melihat tatapan anak ini seperti melihat Bule waktu pertama kali kuliah di kota ini. Diambilnya botol pertama dan diminum setengahnya langsung dari botol. Aku dan teman-teman kaget. Yang menyuruh dia minum langsung dari botol siapa? Kan ada gelas di sampingnya. Kenapa tidak pakai gelas? Gila... gila... Setelah setengah botol habis, dia istirahat sebentar. Kulihat mukanya sudah merah padam. Aku mau tertawa tapi kutahan. Kulihat reaksi teman-teman pun sama sepertiku—pura-pura cuek dan pura-pura tidak melihat. Kecuali Bule. Dia diam dan tetap menatap anak ini. Setelah istirahat sebentar, dilanjutkan lagi meminum sisa setengahnya. Dia minum sampai botol pertama habis. Gila. Itu saja yang bisa kuucapkan dalam hati. Sebelum melanjutkan botol kedua, dia minum air mineral yang dia bawa. Setelah istirahat sambil merokok, minumnya dilanjutkan lagi. Gila, kuat bener nih anak. Mungkin latihannya minum alkohol buat melupakan luka kali ya. Botol terakhir dihabiskan dengan istirahat cuma sekali, sama seperti botol pertama. Kalau orang lain minum setengahnya saja sudah enek dan mual. Setelah menghabiskan dua botol, dia istirahat sebentar. Kulihat dia menggoyangkan kepalanya. Matanya merah dan tatapannya tajam. Ngeri juga kulihat. Karena berhasil memenuhi syarat dari Bule, Bule langsung menyuruhnya mengambil kunci ke Rudi. Anak ini tidak menjawab, malah memperkenalkan diri. Sandi. Itu nama bocahnya. Dia baru mau mendaftar di kampusku. Gila... mungkin dia anak pertama yang kos di sini belum menyandang status mahasiswa. Setelah memperkenalkan diri, dia pamit untuk mengambil kunci kamar ke Rudi. Kulihat dia berjalan tegap walau sedikit goyang. "Bule, loe yakin?" Pertanyaan pertamaku ke Bule setelah Sandi masuk ke kamarnya. "Santai aja, Wan. Lihat aja beberapa hari ini. Instingku mengatakan ada jiwa 'bajingan' di dirinya. Aku merasakan dari tatapan matanya—dingin dan tajam. Walaupun dia tersenyum dan menunjukkan sikap yang sopan, aura 'bajingannya' tetap terlihat. Gimana, Bung Toni? Bendu?" Tanya Bule pada keduanya. "Saya setuju saja," jawab Bung Toni. "Lek aku opo jare wes," jawab Bendu dengan santainya. "Gimana, Wan?" Tanya Bule padaku. "Ya elah, Le. Gue pastinya setuju aja sama loe. Gue nanya gitu cuman buat meyakinkan loe aja. Beneran nggak... hehehe," jawabku ke Bule. Bener-bener nekat nih Bule menerima anak ini. Semoga keputusannya tepat. Memang harus kuakui, insting Bule sangat kuat. Dia bisa membaca seseorang hanya dari tatapan matanya saja. --- ***POV SANDI*** KRING... KRING... KRING... Aku membuka mata perlahan. Kepalaku rasanya berat banget. KRING... KRING... KRING... Bunyi HP Siemens C35-ku. "Halo..." "Assalamualaikum..." Suara wanita dari seberang sana. "Waalaikumsalam," jawabku. "Masih tidur jam segini? Ini sudah jam delapan loh. Berarti di sana sudah jam tujuh pagi kan? Tadi subuhan nggak?" "Sudah dapat kos? Berapa biayanya? Cukup nggak uangnya? Kapan daftar kuliahnya?" "Katanya mau ngabarin kalau sudah sampai di sana..." "Dari semalam ditelepon nggak diangkat..." Suara di seberang sana bertanya tanpa henti sambil mengomel. Waduh, suara ibu ini. Aku tadi tidak sempat melihat layar HP—aku main angkat aja langsung, jadi tidak tahu kalau ini ibu menelepon. Tiba-tiba mataku langsung terang dan aku langsung duduk. "Iya, Bu. Saya sudah dapat kos. Ini lagi tiduran di kamar. Maaf semalam ketiduran, capek banget," jawabku. "Baru dua hari ninggalin rumah sudah nggak ada kabar." "Awas ya, nggak Ibu kirim uang bulanan kalau begini terus," lanjut omelannya. "Iya, iya, Bu. Bisanya juga di sana saya jarang pulang. Di sini baru dua hari aja ditelepon terus..." Aduh, kenapa aku ngomong gitu? Tambah panjang ini kisahnya... "Kalau di sini nggak pulang, Ibu tahu mau cari ke mana. Kalau di sana? Ibu cari ke mana?" "Dikasih tahu orang tua kok dibantah aja. Kebiasaan..." Benarkan tambah panjang kisahnya... "Iya, Bu, maaf. Nanti saya tiap hari kasih kabar kok. Kosnya di sini berapa ya? Lupa, Bu, hehehe... Kemarin sudah dikasih tahu tapi karena ngantuk jadi nggak konsen. Ntar saya kabari lagi dah, Bu. Uang masih lebih dari cukup, masih ada di ATM, belum ada saya ambil." "Iya sudah. Cepat mandi terus ke kampus cari informasi," perintah ibuku. "Hati-hati di sana. Kurangi rokokmu. Jangan suka berkelahi lagi. Awas kalau mabuk-mabukan di sana ya, Ibu tarik ke sini lagi." Emang dealer motor main tarik-tarik aja... "Iya, iya, Bu. Salam buat Ayah sama Adek ya." "Iya sudah. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, Bu." Kulihat jam di tanganku—jam tujuh. Cuukkk... aku tidur enam belas jam.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 01
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal