EPISODE 10
BAGIAN 10
UJIAN KESABARAN
Jam empat subuh aku sudah bangun, mempersiapkan segala kebutuhan ospek. Mulai memasak mie dan menggoreng telur — oh iya, dikosku ada dapur bersama yang biasa dipakai teman-teman untuk memasak, letaknya dekat ruang tengah sebelah TV. Aku mengecek sekali lagi peralatan yang kucatat kemarin: apel yang kuberi tangkai dan daun jambu yang kupetik dari pohon seberang kos, mie goreng, dua telur ceplok yang saling menoleh, alat tulis, topi kerucut, papan nama, sepatu, pakaian, dan karung. Lengkap semua. Aku mengenakan seluruh perlengkapan itu dan sisanya kusimpan dalam karung.
Kuberdiri di depan cermin, memandangi penampilan baruku. Dari ujung rambut sampai ujung kaki — eh, bukan ujung rambut. Kepalaku kan sudah kugundul semalam. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cuukk, kayak pentol korek. Assuuu. Kutempelkan topi kerucut ke kepala, lalu aku keluar kamar. Sebelum berangkat aku meneguk satu teh kotak dan membakar sebatang rokok. Kunikmati perlahan. Di acara ospek, maba dilarang membawa rokok — pasti kecut sudah seharian ini. Yang lebih sadis lagi, aku tidak bisa membawa teh kotak. Soalnya barang yang boleh dibawa hanya yang tercantum di catatan. Biadab sekali.
Jam 4.45 aku keluar kos. Suasana masih gelap dan dingin menusuk. Di depan kos kulihat beberapa anak maba berlari menuju kampus, tapi aku berjalan santai sambil merokok. Di ujung gang ada seseorang berdiri memakai pakaian hitam bertuliskan panitia ospek di punggungnya. Tiba-tiba orang itu berbalik. Mas Danis. Melihatku berjalan santai sambil merokok dari dalam gang, dia berlari menghampiriku.
"Matikan rokokmu sekarang. Di depan banyak panitia. Sampai depan gang kamu harus berlari masuk kampus. Ikuti semua perintah panitia dan jangan melawan. Setiap pelanggaran akan dikenai hukuman berat — panitia keamanan yang mengambil alih hukumannya."
Kulihat samar-samar matanya merah, tanda mabuk dan belum tidur semalaman. Bau alkohol tercium dari mulutnya. Malam ini aku melihat sisi lain Mas Danis — tatapannya tajam, wajahnya memancarkan aura yang menakutkan.
"Iya, Mas. Terima kasih infonya." Aku mematikan rokokku.
Dia berbalik menuju ujung gang. Begitu sampai, dia menoleh ke arah dalam gang dan berteriak, "Yang di dalam gang keluar cepat! Lari! Jangan lelet! Bajingan kamu semua — anak teknik tapi lamban! CEPAT LARI KESINI!"
Aku kaget. Cepat-cepat kulari ke ujung gang, dan rupanya di belakangku banyak juga yang berlarian menuju jalan depan kampus. Tapi begitu kami mau masuk gerbang kampus, kami diteriaki lagi.
"Siapa yang suruh masuk ke dalam! Baris di sini! Kalian terlambat — sekarang jam 04.55!" Mas Danis melotot, wajahnya merah.
Cuukkk... masih kurang lima menit, kok bisa terlambat... gumamku dalam hati.
Kami berbaris di depan Mas Danis — mungkin sepuluh orang. Sementara di depan kampus kulihat beragam hukuman bermekaran: ada maba yang berjalan jongkok, push-up, yang bawa motor dituntun, yang bawa sepeda onthel dipanggul, yang bawa mobil didorong bersama-sama.
"Kalian belum apa-apa sudah terlambat. Gitu mau jadi anak teknik? Bajingan kamu semua! Taruh karung kalian di samping masing-masing!" Mas Danis berjalan pelan ke arah kami sambil menatap garang.
PLAK. PLAK. PLAK.
Kami ditampar satu per satu. Iya, ditampar. Pipiku panas menyengat. Tapi aku tetap berdiri santai, sedangkan di sebelahku terdengar gemetar.
"Ada yang tidak terima? Ayo maju ke depan! Kita duel satu lawan satu!"
Kami semua berdiri mematung, tak ada yang bergerak.
BUHG. BUHG. BUHG.
Mas Danis menendang kami satu per satu. Semua roboh. Tinggal aku saja yang berdiri. Aku sempat menunduk memegangi perut karena sakit, tapi bangkit lagi berdiri. Yang lain sudah tertelungkup sambil memegangi perutnya. Kenapa Mas Danis main fisik ke aku juga? Kuat sekali tendangannya. Aku kan teman kosnya. Apa dia ada dendam padaku? Atau tidak suka padaku selama di kosan? Ah, sudahlah — semua yang dianggap terlambat kena hukuman, masa aku tidak.
BUGHH...
Tiba-tiba satu panitia berlari ke arahku dan memukul wajahku. Aku limbung ke belakang, tapi kuhentikan tubuhku dengan kaki kanan — posisiku seperti memasang kuda-kuda — lalu kembali berdiri tegap. Topi kerucutku jatuh ke tanah.
Kulihat Mas Danis marah besar. Matanya melotot seperti mau keluar, tangannya mengepal sampai bibirnya bergetar.
"Bangsat kamu! Beraninya kamu mengambil alih maba yang aku hukum!" Sambil melayangkan sebuah pukulan —
BUMMMMPPP.
Panitia itu tumbang dengan satu pukulan telak di rahangnya. Tergeletak. Pingsan. Mas Danis memerintahkan panitia kesehatan mengangkatnya. Kami yang menyaksikan tercengang. Ngeri juga pukulan Mas Danis.
"Kalian semua yang tertidur, cepat bangun dan berbaris lagi, atau kuinjak leher kalian satu per satu!" bentak Mas Danis penuh emosi. Mereka pun bangkit sambil memegangi perut, lalu berbaris kembali di sampingku. Aku merasakan rasa asin di tepi bibirku. Bangsat. Ini darah. Orang tadi memukulku sampai berdarah. Bajingan...
"Sekarang kalian jalan jongkok masuk ke dalam kampus! Ikuti petunjuk panitia di depan! Pakai perlengkapan kalian lagi! CEPAT!" Mas Danis berjalan di depan meninggalkan kami. Kubungkus lagi topi kerucutku ke kepala.
Cuukkk. Baru hari pertama ospek, belum juga masuk gerbang kampus, aku sudah mengantongi satu tamparan, satu tendangan di perut, dan satu pukulan di wajah. Kalau di dalam, apa lagi? Gila ini, mau kuliah atau mau jadi tahanan? Bajingan.
Aku berjalan jongkok bergabung dengan seratusan orang yang dibilang terlambat — padahal tadi kami semua yakin masih kurang lima menit dari batas waktu. Kami meluncur jongkok menuju lapangan.
Di lapangan, maba sudah berkumpul semua. Kalau dihitung dari pengumuman jumlah mahasiswa yang diterima kemarin, ada sekitar 2000 orang. Gila, banyak banget.
"Itu yang terlambat! Berdiri dan gabung dengan teman-temannya di lapangan! CEPAT LARI!" teriak Mas Raimond lewat speaker dari tengah lapangan.
"Kalian di sini bukan untuk bersenang-senang! Kalian datang untuk mengenal kehidupan kampus seperti apa! Ikuti perintah panitia dan laksanakan! Kalau sampai ada yang berbuat kesalahan — bentuk apapun — kalian akan berhadapan dengan saya dan anggota keamanan lainnya! PAHAM!"
"PAHAM, KANDA!" sahut maba serempak.
Oh iya, untuk panggilan kepanitia, kami wajib memanggil kanda untuk yang cowo dan yunda untuk yang cewek. Sedangkan kami dipanggil tole untuk cowo dan nduk untuk cewek.
"Panitia keamanan masuk semua ke lapangan! Cek semua perlengkapan tole dan nduk! Kalau ada yang membawa selain yang ditugaskan, seret ke depan! Kalau ada yang kurang, seret juga ke depan! Selesaikan kalau ada yang melawan!" perintah Mas Raimond selaku koordinator keamanan.
Anggota keamanan menyerbu ke lapangan memeriksa perlengkapan kami sambil berteriak:
"WOIII TUNDUK KALIAN SEMUAA! BAJINGAN KAMU SEMUA!"
"BUKA PERLENGKAPANNYA MASING-MASING!"
"APA KAMU LIHAT-LIHAT PANITIA? NANTANG YA?!"
BUGGGGHHHH.
Satu maba jatuh dihajar panitia karena dianggap menantang. Teriakan panitia keamanan menggema ke segala arah. Sambil menunduk, aku sempat melirik ke depan — beberapa maba sudah tumbang akibat pukulan dan tendangan. Bau alkohol menyembur dari mulut para panitia keamanan, mata mereka merah semua. Mereka menyebar memeriksa perlengkapan maba satu per satu. Dan kulihat ada Bowo di sana.
*"Wahh, Bowo jadi panitia keamanan. Berarti bajingan juga dia..."* gumamku dalam hati. Dia melihatku tapi cuma berjalan melewatiku — dia ke arah Lia di kelompok sebelah, memeriksa kelengkapannya.
"Sempat-sempatnya kamu pacaran, wo. Assu..."
"Jomblo ga boleh iri, bang," sahut Jago sambil rebahan santai.
"Assuu... sempat-sempatnya kamu komentar, Go. Tidur sana." Kubekuk pelan kepalanya, menyamar membersihkan celana, biar tidak ada panitia yang curiga.
"Aduhhh... jahat bener kamu, bang. Iya, aku tidur," jawab Jago.
"Ngapain kamu bersih-bersih celana?" Seorang panitia tiba-tiba mengagetkanku.
"Ngga pa-pa, Kanda. Cuman ada pasir sedikit," jawabku.
"Ambil karungmu, maju ke depan," perintahnya.
"Aku salah apa, Kanda? Perlengkapanku lengkap. Kenapa aku disuruh maju?" jawabku kesal.
"Kamu nantang panitia, ya?" Dia mengangkat kerah depan bajuku dengan dua tangan — posturnya tinggi, jadi tubuhku terangkat ke udara. Dia menatapku tajam. Aku tak mau kalah; kutatap matanya dengan tajam dan rahang yang kugeretak. Kami saling berpandangan.
"Bangsat nih orang," gumamku dalam hati. Tanganku terkepal. Kalau bukan karena janjiku pada ibuku, sudah kuhajar rahangnya.
"Turunkan dia. Biar aku urus berandalan satu ini." Kulihat Mas Akbar berdiri di belakangnya. Si tinggi langsung menurunkanku dan pergi.
BUGGGHHHH...
Tiba-tiba Mas Akbar menghantam perutku keras sekali.
"Cuukkk... sakitnya perutku..." aku bergumam pelan sambil tertunduk memegangi perut. Aku yakin Mas Akbar mendengarnya. Bajingan. Belum terisi makanan, sudah dua kali kena hajaran di perut pagi ini.
Dia mengangkat kerahku lagi, menatap mataku tajam. "Kalau kamu sekali lagi berurusan dengan panitia keamanan... kubantai kamu." Lalu dia menurunkan tangannya, berbalik, pergi. Dua orang kosku sudah yang memukulku pagi ini. Punya dendam apa mereka sih? Assuuu.
Pemeriksaan akhirnya selesai. Panitia keamanan keluar dari barisan, menyeret maba-maba yang bermasalah ke satu titik. Punyaku kok tidak ada yang periksa? Tahu gitu, aku tidak usah susah-susah masak mie dan goreng telur tadi pagi. Tidak perlu manjat pohon jambu tengah malam demi tangkai dan daun.
"Yang melakukan kesalahan, bawa ke markas keamanan!" perintah Mas Raimond.
"Cukup sekian perkenalan pagi ini dari kami, panitia keamanan. Ingat sekali lagi — kami ada di mana-mana, mengawasi gerak-gerik kalian sampai ospek selesai. Jadi jangan macam-macam kalau tidak mau berurusan dengan kami. SELAMAT PAGI." Mas Raimond meninggalkan lapangan dengan suara lantang.
Sebagian panitia keamanan menggiring maba bermasalah ke arah markas. Sebagian lagi berdiri tersebar di pinggir lapangan sambil mengawasi kami.
"Selamat pagi tole-tole dan nduk-nduk..." Pembawa acara bersuara lembut. Ya, dialah — wanita cantik yang pertama kali kutemui di kos Barbara, waktu itu sedang berpacaran dengan "penjaganya" di depan teras. Manis sekali senyumnya pagi ini.
"Setelah ini kalian istirahat sebentar. Silakan membentuk lingkaran sesuai kelompok masing-masing. Ayo Kanda dan Yunda bina damping, arahkan kelompoknya masing-masing."
Aku mengambil karungku dan berbaur dengan kelompok. Mba Amel terlihat mendekatiku, mengenakan pakaian hitam yang sama dengan Mas Danis — oh rupanya semua panitia memakai seragam yang sama. Baru nyadar aku.
"Kenapa kamu telat barusan? Kamu ketua kelompok. Kamu bertanggung jawab terhadap kelompokmu," ujarnya sambil menatapku tajam. Wajahnya berubah drastis — jauh dari kemarin yang centil dan murah senyum. Sekarang dia terlihat serius dan tegas.
"Aku dihukum di depan, Yunda. Aku dianggap terlambat, padahal aku datang kurang lima menit dari jadwal yang ditetapkan panitia," jawabku membela diri.
"Jadi menurutmu panitia salah? Kuberi tahu ya — ada dua pasal tentang panitia. Pasal pertama: panitia tidak pernah salah. Pasal kedua: kalau panitia salah, kembali ke pasal pertama. Paham?"
"Iya, Yunda." Aku mengangguk.
*"Peraturan apa ini... seenaknya aja dibuat. Bajingan panitia ini,"* gerutuku dalam hati, jengkel setengah mati.
"Itu kenapa bibirmu berdarah? Kena pukul Mas Akbar barusan?" Tanya Mba Amel. Dari tatapannya, aku yakin dia khawatir padaku.
"Ga pa-pa, Yunda. Tadi aku terjatuh waktu berangkat ke sini. Kurang hati-hati," jawabku berbohong.
"Kamu itu... cepat bersihkan." Dia tampak tidak puas, menyodorkan sapu tangannya.
"Ga usah, Yunda. Aku bisa bersihkan sendiri." Kubersihkan dengan jempolku.
"Pakai ini! Lihat, masih ada darahnya. Cepat." Dia memaksaku. Daripada memancing perdebatan dan menghadirkan panitia keamanan, akhirnya kuambil dan kubersihkan darahku dengan sapu tangannya, lalu kuserahkan kembali.
"Terima kasih dan mohon maaf, Yunda, sapu tangannya kotor." Diambilnya sapu tangan itu dan dimasukkan ke kantong.
"Sekarang balik ke barisan kelompok," perintahnya.
Sebelum kembali, aku sempat melirik ke atas — Mas Danis dan Mas Akbar berdiri di lantai dua gedung, mengawasiku sambil memantau situasi lapangan.
Kelompok kami dibagi dua dan berhadapan dalam posisi duduk. Aku berhadapan dengan Ratih — cewek berjilbab, cantik dan manis. Jurusan industri. Bagaimana aku tahu? Kubaca dari papan nama yang tergantung di lehernya. Oh, ini rupanya gunanya papan nama. Kami saling bertatapan, dan dia tersenyum padaku. Ya, minimal senyuman Ratih ini mengobati kekesalanku setelah dihajar panitia keamanan.
"Bang—"
"Sekali lagi kamu bersuara, takeplak ndasmu," ancamku ke Jago.
"Iya iya, bang. Baperan banget sih."
"Oke, sekarang yang laki-laki buka topi kerucutnya dulu. Setelah itu silakan buka karung masing-masing. Mie, telur, dan apelnya dikeluarkan," ucap Mba Amel.
Kami membuka topi kerucut. Aku sempat melirik Yuda dan Surya di sampingku — baru kusadari sekarang, semalam kami memang gundul bareng, dan ternyata yang mirip pentol korek bukan cuma aku tapi teman-temanku juga. Hahaha. Assuuu. Dibarisan ini tidak ada Aldo. Ke mana ya manusia satu itu?
"Sandi, silakan pimpin berdoa. Setelah itu kalian makan saling suap-suapan dengan pasangan masing-masing," ucap Mba Amel.
Akupun memimpin doa.
"Ya Tuhan, terima kasih atas nikmat yang Kau berikan pada kami pagi ini. Walaupun kami yang laki-laki kondisinya seperti pentol korek dan yang perempuan seperti ondel-ondel, kami menikmatinya dengan ikhlas dan bersyukur karena masih diberi nikmat sarapan. Semoga setelah sarapan kami tetap diberi kekuatan, keikhlasan, dan kesabaran..."
"AMIIINNN!" sahut teman-temanku.
Mereka semua menahan tawa mendengar doaku. Loh, emang ada yang salah dengan doaku? Aku kan lagi bersyukur kepada Penciptaku. Mba Amel kelihatan melotot, tapi dia juga menahan tawa sambil melirik sekeliling — takut panitia keamanan mendengar doaku. Bisa tambah panjang urusannya.
Aku duduk berhadapan dengan Ratih. Kami saling memandang. Samar-samar terdengar alunan musik, dan kami pun bernyanyi lewat tatapan sendu.
(suara Sandi)
Pandangan pertama, awal aku berjumpa...
Pandangan pertama, awal aku berjumpa...
Seolah-olah hanya impian yang berlalu,
Sungguh tak kusangka, dan rasa tak percaya...
(suara Ratih)
Cowok setampan dia, datang menghampiriku,
Hampir-hampir aku tak sadar dibuatnya...
Jeng jeng jeng jeng...
"AAASSSUUU... BEDEBAH! Sempat-sempatnya kau bernyanyi anak muda!" Si makhluk itu datang lagi.
"Untung aku nyanyi aja. Kalau aku nari di sini, apa ga tambah gempar dunia khayangan?" jawabku cuek.
"BAAJINGAN KAU! Hahahahaha!"
Cuukkk. Aku menyuapi Ratih yang cantik ini, dan dia menyuapiku dengan tangan tanpa sendok. Ini nih yang aku suka. Coba isi ospeknya kayak gini terus, bahagia banget aku.
Di sampingku, Yuda dan Surya berhadapan — pasangan saling suap. *Nikmatin tuh suap-suapan sesama pentol korek. Hahaha. Assuuu.*
Cuukkk... waktu kusuapin Ratih, sempat tersentuh bibirnya. Lembut banget, cuukkk. Dan waktu dia menyuapiku, tangannya menyentuh bibirku. Assuuu... tangannya putih, bibirnya lembut seperti agar-agar kelapa muda. Hmm... tangan dan bibirnya aja segitu, apalagi dalemannya ya...
"Kita cek ke kah malam ini, bang?" usul Jago.
Kutampar kepala Jago — sekali lagi menyamar membersihkan celana, supaya Ratih tidak curiga.
"Aduh... sakit, bang. Kenapa ditepes kepalaku..."
Kutampar sekali lagi.
"Iya aku diam. Tapi awas kalau kamu mikir mesum lagi, bang."
Emangnya kenapa juga aku berpikiran mesum. Kasihan Jago yang kena imbasnya.
"Maaf ya, Jago."
"Biadab kamu, bang."
Aku menyupai Ratih sambil melirik ke arah Yuda dan Surya. Waktu menyuapi, sengaja tangan kiriku memegang dagu Ratih, tangan kananku menyuap perlahan seperti di TV, dan kubuat mataku merem-melek seolah-olah Ratih sedang mengisap jari telunjukku. Yuda dan Surya yang melihat adegan itu menatap sambil melotot dan ngedumel. Kalau kuterawang lewat ilmu yang diajarkan Kijoko, terlihat dari bibir mereka mengucapkan satu kalimat pujangga: "Asssuuuu..." Hahahaha.
Waktu giliranku disuapi Ratih, aku menerima suapannya lalu membuat gerakan memajukan bibir seolah-olah sedang ngemut putting Ratih, ditambah lidah yang keluar sedikit seperti menjilat. Yuda dan Surya makin emosi. Kulihat Yuda jengkel dan menggigit telunjuk Surya — asssu! Surya balas menepes kepala Yuda dengan tangan kiri. Hahahahaha.
Setelah makan, kami dilanjutkan minum segelas aqua yang dibagikan panitia — satu gelas berdua. Ratih minum dulu, lalu aku menghabiskan sisanya, tepat di bekas bibir Ratih. Terasa seperti mengulum bibirnya. Sekali lagi kulihat Yuda dan Surya yang memperhatikanku dari tadi. Kuputar gelas sampai seluruh permukaannya, lalu kujilat. Mereka cuma meneguk liur dan melotot. Apa mungkin mereka mau berubah jadi Ranger Hitam dan Ranger Kuning ya? Hahahaha.
"Ayo semua berdiri, kita baris lagi! Bersiap untuk upacara pembukaan!" perintah Mba Amel.
Waktu berdiri, aku menyapa Yuda dan Surya. "Enak ya makannya hari ini. Spesial banget rasanya. Seperti ada mainis-manisnya gitu," ucapku dengan tampang paling tidak berdosa.
"ASSSUUUU!" jawab mereka berdua kompak.
"Jangan marah dong ke aku. Kan memang sudah ditakdirkan, orang ganteng pasangannya cantik. Kalau hom-hom ya pasangannya hom-hom. Hahahahaha."
"Enak kamu dapat perempuan cantik, San. Lah aku dapat pasangan kayak opletnya Sidoel — tua dan berkarat. Bisa keracunan aku disuapin dia," kata Surya.
"Assuuu... ngomongmu aja keracunan, tapi kenyataannya kamu malah jilatin tanganku pake nafsu gitu," balas Yuda.
"JUANCOOOKK... BEDENGGEK! Bisa kesurupan aku jilat tanganmu! Assuuu!"
Hahahaha. Kami bertiga tertawa bersama.
"Loh, Aldo ke mana? Kok ga kelihatan?" tanyaku.
"Aldo dibawa ke markas keamanan. Tadi topi kerucutnya hilang waktu perjalanan ke kampus," ucap Yuda.
"Kasihan juga ya," ucapku. Surya mengangguk pelan.
"Itu Aldo," kata Surya, menunjuk sosok yang berjalan ke arah kami. Jalannya agak aneh, pincang, mukanya kusut.
"Kenapa kamu, Do? Habis sarapan apa di sana?" tanya Yuda.
"Sarapan kaki sapi," kata Aldo.
"Wah, enak dong. Kami di sini aja cuma makan mie sama telor terus makan apel," kata Yuda.
"Enak kepalamu! Kaki sapi itu kakinya panitia keamanan! Waktu aku disuruh squat jump, pas loncat pahaku diinjak dari samping. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh!" katanya jengkel.
"Bangsat, enak betul ya panitia keamanan itu," gerutu Yuda yang ikut kesal.
"Waktunya kita berubah, teman-teman! Pasukan Rita Repulsa sudah mulai bertingkah!" kata Surya sambil melihat kami.
"WOOIII pasukan guatel! Jangan bertindak tanpa perintahku ya!" Samar-samar suara Zordon terdengar dari langit.
"AYYAYAYAYA..." sahut Alpha.
Aku, Yuda, dan Surya saling berpandangan. Cuma geleng-geleng dengar cerita sahabat yang satu ini.
Acara hari pertama diisi upacara pembukaan, materi dari pihak rektorat, nyanyi-nyanyi, istirahat, dan ibadah. Kepalaku pusing siang ini — bukan karena efek pukulan panitia keamanan, tapi karena aku tidak minum teh. Mau gila aku rasanya.
"Pur... sini sebentar," Mba Amel memanggilku.
"Kenapa, Yunda?" jawabku.
"Ikut aku sebentar ke belakang." Aku mengikutinya.
Tiba-tiba Mba Amel mengeluarkan sesuatu yang membuatku bahagia sekali.
Dua teh kotak.
"Terima kasih, Yunda... terima kasih... Terima kasih, Tuhan, Kau telah mengutusku seorang malaikat cantik di sini..." Kubuka satu dan kuteguk air kehidupanku itu.
Mba Amel tersenyum mendengarnya, lalu keliatan aneh melihat ekspresiku meminum teh pemberiannya.
Aku menikmati setetes demi tetes cairan teh yang masuk ke tenggorokan lalu mengalir ke seluruh pori-pori tubuhku. Kutikmati sambil merem-melek dan mendesah.
"Kok kamu kayak ngemut nenen gitu sih, ekspresimu minum teh..." kata Mba Amel.
"Yunda mau diemut kah nennnya?" jawabku refleks. Langsung kututup mulut lancang ini. Cuuukkk, keceplosan. Kutampar pelan bibirku.
"APAAA...?" Mba Amel melotot.
"Ngga, Yunda! Maaf... aku terlalu menikmati minum teh sampai ga sadar ngomong apa. Maaf ya, Yunda. Maaf sekali." Kutunduk dalam-dalam. Cuukkk, kenapa aku keceplosan...
"Kurang ajar... memang betul-betul mesum tingkat tinggi kamu, Sur... wuuuu..." Dia menempeleng pelan pipiku. Bukan menempeleng sih, yang kurasakan lebih seperti belaian mesra. Aku langsung sange aja bawaannya kalau dekat Mba Amel kayak gini. Tangannya lembut banget, cuukkk. Itu kalau sempat dipegang Jago — paling baru dibelai sekali langsung crotttt sijago...
"Assuuu... aku ga selemah yang kau pikirkan, bang! Ayo kita buktikan sekarang!" Jago tidak terima.
"Ngga lah, Go. Cuman bercanda aja aku itu."
"Candaanmu menghina harga diriku, bang! Mau ditaruh di mana mukaku ini? Gimana omongan pembaca forum kalau mereka menerima mentah-mentah omonganmu? Biadab sekali kamu, bang!"
"Slow, Go. Slow aja. Baper amat..."
"ASSUUUU..."
"Maaf, Yunda... maaf... dari tadi pikiranku tegang terus," kataku membela diri.
"Hemm... ya udah. Oh ya, ga usah panggil yunda kalau berdua."
"Kalau teh kotak aku bisa kasih. Tapi kalau rokok, minta ke keamanan sana," ucap Mba Amel.
"Cari mati aku, Mbak, kalau minta rokok ke keamanan. Dapat teh kotak aja aku dah bersyukur banget."
"Nih, satu kotak lagi. Habiskan."
"Loh, bukannya buat Mbak yang satu?"
"Aku itu gampang. Kamu aja minum."
"Terima kasih, mbak cantik... terima kasih..." ucapku menggombal sambil menenggak teh kotak kedua. Untung di kampus. Kalau di luar, langsung kupeluk sama kusosor bibirmu, Mbak. Heeemmm... gemes aku.
"Kalau dah habis, cepat balik ke barisan ya. Aku duluan. Ga enak kalau ada yang lihat," ucap Mba Amel, lalu pergi meninggalkanku sendiri.
Aku memandangi Mba Amel berjalan dari belakang. Bokongnya lenggak-lenggok seperti penari yang mengundang kami untuk datang dan menyawer. Gesekan antara bokong kanan dan bokong kiri itu pasti merdu kalau didengarkan sambil menempelkan telinga pas di tengahnya. Hahahaha. Assuu... mikir apasih aku ini. Dikasih teh kotak malah mikir mesum lewat otak kotor Jago.
"Bajingan kamu, bang! Otakmu yang rusak dan mesum, malah aku yang dibawa-bawa!" Jago tak terima.
"Terima kasih sekali lagi, Mbak..." ucapku.
Dia berbalik dan menoleh padaku. "Ini ga gratis. Nanti aku tagih gantinya," ucapnya sambil mengerlingkan mata sebelah kiri, lalu langsung pergi.
"Cuukkk... ini betina yang menggoda kita di kamar kos Barbara yang waktu itu, ya bang?"
"Iya, Go," kataku sambil mengelus pelan kepala makhluk kesayanganku ini.
"Main kesana lagi yo, bang. Siapa tau dapat rezeki."
"Kita lihat nanti, Go. Aku mau fokus ospek dulu."
"Siap. Kapan pun abang kesana, Jago akan mengawal dengan sepenuh hawa nafsu! Hahaha..."
"Assuu... hahaha..."
Kegiatan hari ini dilanjutkan dengan materi, nyanyi-nyanyi, diplonco, materi lagi — begitu terus sampai harga dolar Indonesia balik ke dua ribu rupiah. Capek dan menguras energi. Belum lagi pas sesi materi, ada yang mengantuk biasanya dipanggil keamanan, diseret ke lapangan, dan dihukum.
Acara hari ini selesai jam 9 malam. Kami dikasih tugas lagi untuk dilaksanakan besok pagi, dan besok disuruh datang jam 5 pagi lagi.
cuukkk... hari ini kesabaranku benar-benar diuji...