←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 09 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 09
BAGIAN 9 KOK JADI TEGANG YA.. Sore itu aku dan Lia datang ke kampus — bukan untuk mulai kuliah, tapi untuk melihat pengumuman pembagian kelompok ospek. Semua jurusan diacak lalu disebar ke beberapa kelompok, jadi dalam satu kelompok pasti tercampur anak-anak jurusan lain, walau ada juga yang masih senasib seangkatan. Lia sempat kesal setengah mati karena hasil pengundian itu tidak mempertemukannya denganku dalam satu kelompok. "Kenapa kita nggak satu kelompok, Pur? Padahal nomor pendaftaran kita kan berdekatan..." ujar Lia kesal. "Ya' udah, nggak pa-pa. Cuma empat hari kok. Setelah itu kan kita satu kelas pas kuliah," jawabku mencoba menghiburnya. "Tetap aja pas ospek kita nggak barengan. Padahal kata Kak Amel nanti banyak tugas yang harus dibawa saat ospek. Ada yang dibawa per kelompok, ada yang dibawa seluruh maba. Kalau kita satu kelompok kan bisa cari barengan," ujar Lia yang masih belum menerima kenyataan pahit itu. "Sudahlah, Ya'. Jalanin aja. Nanti aku bantu tugasmu. Sudah, pergi sana ke kelompokmu. Sebentar lagi pembagian tugas, lho," ucapku kepadanya. "Beneran ya, nanti kamu bantu aku, Pur?" "Iya. Pergi sana, udah," jawabku sambil melambai. Aku pun berjalan menuju kelompokku. Di kelompokku ada tujuh puluh lima orang, dan di antaranya ada lima orang yang sejurusan denganku. Kami disuruh berkenalan satu per satu sebelum mencatat tugas-tugas yang harus dibawa besok. Setiap kelompok didampingi seorang senior yang bertugas sebagai binadamping — dan yang jadi binadampingku tak lain adalah Mbak Amel. Iya, Mbak Amel si semok itu, kakak sepupu Lia. Dengan santainya Mbak Amel merekomendasikan aku jadi ketua kelompok, dan teman-teman langsung menyetujui tanpa perlu voting. Awalnya aku menolak, tapi di bawah tatapan tajam sang semok, di bawah ancaman senyum sinisnya, aku tak bisa berbuat apa-apa. "Hei, sayang, kita ketemu lagi," bisiknya padaku saat teman-teman sibuk mencatat tugas yang ditempel di mading kampus. "Mbak... tolong jangan panggil aku gitu di sini," ucapku memohon. "Kenapa? Siapa yang berani protes?" ucapnya sambil mengangkat alis. "Ya memang nggak ada yang berani, Mbak. Cuman aku kan nggak enak sama teman-teman." "Tolong ya, Mbak..." "Oke. Tapi besok-besok, setelah ospek selesai, kamu traktir aku ya," ucap Mbak Amel sambil berlalu meninggalkanku. Cuukkk banget deh. Lagi-lagi aku ditindas sama cewek cantik di kota ini. Aku pun mendekati tiga orang teman kelompokku yang berdiri di depan mading dan ikut mencatat tugas-tugas itu: Pakaian yang harus dikenakan kemeja putih, celana hitam, dan memakai almamater. (tugas yang wajar...) Sepatu hitam dan kaos kaki putih. *(malam ini harus beli, karena sepatuku hitam-putih dan aku nggak punya kaos kaki putih.)* Membawa perlengkapan alat tulis berupa buku dan pulpen. (ini mah tinggal tutup mata, sudah ada di tasku.) Membuat papan nama sesuai ukuran yang ada di gambar, digantungkan di leher memakai tali rapiah warna merah. *(ini tugas apaan? Emang kita mau dijadikan tahanan yang mau difoto?)* Yang perempuan rambutnya dikepang dua ke atas memakai tali rapiah warna biru, dan yang laki-laki cukuran rambut harus gundul plus membuat topi kerucut dari koran. *(buajingaaannn... kenapa rambut harus gundul? Apa hubungan rambut sama ospek? Emang kita mau pendidikan militer? Asssu banget...)* Membawa mie goreng yang mereknya harus Indomie — tidak boleh yang lain — lauknya dua butir telur ceplok yang digoreng terpisah; yang satu kuning telurnya harus ke kanan dan yang satu kuning telurnya harus ke kiri. *(ini emang dia bisa bedain rasa Indomie, Sarimi, Supermie, dan sepupu-sepupunya yang lain? Terus kuning telur disuruh toleh-tolehan. Bedebah banget yang bikin tugas.)* Membawa satu buah apel yang harus dengan tangkainya dan ada satu lembar daunnya. *(bajingan... aku harus nyuri di mana apel yang masih ada tangkainya dan daunnya?)* Semua tugas dan bawaan harus dimasukkan ke karung beras 25 kilo dan diikat memakai tali rapiah warna hijau. *(ini yang paling manjacukkan. Kita mau kuliah, bukan cari barang rongsokan. Cuukkk banget deh...)* Semua peserta harus sudah berkumpul di kampus jam 5 pagi. Tidak boleh telat. "Janco..." "Assuuu..." "Kimaknya..." "Kuntilanak beranak..." Kami berempat, tanpa dikomando, memaki bersamaan. Lalu kami berempat saling berpandangan — slow motion, seperti adegan film-film sana. Sayup-sayup aku mendengar suara... *"Neng... neng... neng... neng... neng... neng... neng... neng..."* — anggap saja ini backsound film Highlander ketika Duncan MacLeod bertemu dengan makhluk sejenisnya. Kami saling menatap. "Aku akan mengadakan sebuah sayembara, kisanak..." ucapku sambil menatap mereka satu per satu. "Sayembara apa itu, Begawan?" sahut salah satu dari mereka. "Cari tahu siapa pembuat tugas ospek brengsek ini. Kalau dia perempuan, akan kujadikan selirku. Kalau dia laki-laki, kuserahkan kepada kalian bertiga. Bagaimana?" "Kamu itu sungguh menggatelkan, Begawan." "Bukan menggatelkan, kisanak. Dia cuma menjamputkan." "Stop, stop! Aku nggak ngerti kalian ngomongin apa. Bisa nggak pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, biar aku bisa ikut dalam drama yang memuakkan ini?" "Hahahahaha..." Kami berempat pun bersalaman. "Stop, cukup salaman aja ya. Nggak usah pelukan. Aku bukan hom-hom," ucapku. "Cuukkk. Lha kon kiro aku nafsu ndelok raimu iku ta?" (cuukkk... ya kamu kira aku nafsu lihat wajahmu itu kah?) "Ya mungkin kamu nggak nafsu kalau sekarang. Tapi siapa tau nanti di rumah kamu jadikan aku bahan coli." "Assuuuu..." "Hahahaha..." Kami tertawa bareng. "Aldo. Aku asli kota ini. Teknik Sipil." "Yuda. Aku dari propinsi seberang. Teknik Sipil juga." "Surya. Aku dari kota sebelah. Juga Teknik Sipil." "Alessandro Del Piero. Aku ditransfer dari kota Turin untuk membantu timnas negara ini supaya juara Piala Tiger nanti. Aku ditransfer karena pemain negara ini bikin malu dan mengemparkan dunia khayangan waktu Piala Tiger digelar lawan Thailand — main bola kok mbobol gawang sendiri. Bikin malu. Kalau di negeriku, sudah dipotong tititnya semua satu tim." "Jancooookkk..." Mereka bertiga reflek langsung memegang titit masing-masing. "Assu. Kamu baru kenal langsung bahas penyiksaan titit. Cuukkk..." kata Surya. "Hahahaha, becanda kok. Namaku Sandi. Aku dari pulau seberang. Teknik Sipil juga... BERARTI KITAAAA—" "POWER RANGER! HAAAA..." ucap kami serempak sambil tos, membentuk lingkaran, diakhiri hentakan tangan kiri yang menyatu ke bawah, ditutup teriakan. "Keren cuukkk. Moso iyo awakmu iso ngene..." (keren cuukkk... masa iya kalian bisa gini...) ucapku dalam hati. "Keren ndasmu. Nggilani cuukkk." (keren kepalamu. Jijik cuukkk.) Sahut seseorang yang selalu mengganggu kesenanganku. "Assu'i. Ngomong ae koen? Iri ambe perkumpulan iki?" (anjing... ngomong aja kamu? Iri sama perkumpulan ini?) "Perkumpulan guuaatell..." ucapnya jengkel. "Assuuu..." balasku. "Sek talah cukkk. Power Ranger iku wonge limo. Lah iki areke mepet papat. Sijine sopo cukkk?" ucap Surya sambil garuk-garuk selangkangan. "Iyo yo... sopo kiro-kiro Ranger ping iku, San?" tanya Aldo, si Ranger biru. "Stop, stop! Bisa nggak dikasih translate di bawahnya? Aku nggak ngerti kalian ngomong apa," kata Yuda, si Ranger hitam, sambil tangannya menunjuk ke bawah. "Sudahlah, Yud. Kamu iya-iya aja. Soalnya yang kami omongin ini bahasa Jawa yang baik dan benar, menurut kromo inggil," kata Surya. "Ya tetap aja aku nggak ngerti. Nggak asik, ah," kata Yuda merajuk. "Walah. Kamu jangan ngambek dong, Da. Kelihatannya kamu kurang ngopi. Atau ngopimu kurang jauh, jadi ngambekan," kata Aldo santai. "Nanti kita ajak ngopi aja terus biar dia cepat bersatu dengan kita. Supaya cepat juga dapat tugas dari Zordon untuk memulihkan negara ini dari krisis moneter kemarin. Makin sering kita berkumpul, kamu akan cepat memahami bahasa leluhur kami, Da. Gimana, Ranger merah?" kata Surya, si Ranger kuning, sambil melirik ke arahku. "Ini aku harus jawab yang mana dulu..." ucapku sambil garuk-garuk kepala. "Asssuuu..." ucap mereka bertiga kompak. "Hahahaha... Jangan emosi," ucapku sambil membuka lebar mataku dan memiringkan kepala. (ojo ditiru, Om. Engko teyengen... hahahaha.) "Oke, jadi gini. Kalau masalah Ranger ping, aku sudah punya calon. Anak Sipil juga. Otaknya sih belum geser... nggak kayak kalian ini. Tapi aku yakin, tiga hari aja dia kumpul sama kita, otaknya bukan cuma geser — tapi tumpah berserakan," ucapku sambil memainkan alis ke atas. "Raimu nggateli cuukkk. Moso kene diarani otake geser?" *(wajahmu jengkelin cuukkk... masa kita dibilang otaknya geser...)* kata Surya. "Paling sing geser otakmu aja, Sur. Aku nggak," kata Aldo. "Aku juga nggak geser," kata Yuda. "Assuuuu..." kata Surya. "Hahahahaha..." Kami pun tertawa bareng. "Oke, itu terserah kamu aja, San. Siapa yang jadi Ranger ping. Yang penting cantik, putih, montok, dan binal dikit — biar bisa ngimbangin dikit wajah Surya ini. Aku pusing lama-lama kalau lihat dia. Nggak nafsu makan aku jadinya. Nanti soal doktrin otaknya, serahkan padaku," ucap Yuda. "Matamu cukkk... hahahahaha..." kata Surya. "Hahahaha..." Sekali lagi kami tertawa bareng. "Stop. Masa kita bahas masalah Power Ranger terus. Gimana soal tugas ospek kampus besok?" kataku. "Nah itu dia. Soalnya kalau kita nggak ngumpulin tugas, hukumannya berat banget katanya. Kata temanku yang sudah kuliah di sini," kata Yuda. "Apa hukumannya, Yud?" tanya Surya. "Kalau laki-laki, disuruh telanjang, terus bijinya dijilat satu-satu sama semua panitia keamanan," kata Yuda santai. "Jancooookkkk..." Kami semua reflek memegang biji masing-masing — kecuali Yuda yang anteng sambil tersenyum. "Bajingan. Matane akik. Kok mau seng dibahas kok masalah penyiksaan sekitaran selangkangan cukkk. Asssuu..." *(bajingan... matanya batu akik... kok dari tadi yang dibahas penyiksaan sekitaran selangkangan terus... anjing...)* kata Surya sambil bergidik. "Hahahaha... asu... asuu..." Kami semua tertawa bahagia di tengah ketegangan. "Jadi gimana ini?" kata Aldo. "Kita cari bareng aja setelah ini. Terus kita tidur bareng di kos yang paling dekat kampus di antara kita," kata Yuda. "Setuju," kata Surya dan Aldo barengan. "Nggak ah. Aku males tidur bareng sama kalian. Nanti aku digangbang sama kalian... hahahaha," kataku. "Assuuuu..." "Kosmu di mana, San?" kata Aldo. "Di depan kampus, dalam gang," kataku — tapi sengaja tidak menyebut nama kosnya. Aku nggak enak sama teman-teman sekos yang lain. Soalnya aku dengar cerita dari Lia kemarin, teman-teman sekosku paling anti kalau ada tamu tak diundang, tanpa kompromi dulu. Aku nggak mau cari masalah dengan mereka. Bukan takut sih... tapi sungkan. "Wah bagus itu. Ayo tidur di tempatmu aja, San," kata Surya. "Jangan, Sur. Bapak kosku itu orangnya hom-hom. Dia nikah sama Ibu Kos itu cuman buat pelengkap aja," kataku menakut-nakuti Surya. "Serius kamu, San?" kata Surya kaget. "Iya. Apa lagi model-model kayak kamu gini, Sur... gurih bilangnya," kataku sambil menahan tawa. "Asssuuuuu... Nggak usah ke tempatmu! Kita cari tempat lain aja. Nanti kalau dikikuk-kikukin gimana? Kan ngeri-iiiii..." kata Surya sambil mempraktekkan gerakan memaju-mundurkan pinggulnya. "Hahahaha..." "Udah, gini aja. Kita sekarang bareng aja cari bahan buat tugasnya. Nanti kita kerjakan di kos masing-masing. Tapi kalau kalian mau ngerjain bareng, nggak pa-pa kok. Santai wae. Aku nggak enak sama Ibu kosku kalau aku tidur di luar. Siapa lagi yang memberikan kenikmatan buat dia kalau bukan aku? Suaminya kan hom-hom..." kataku. "Buuaaajjjingan kau... hahahaha..." kata Yuda. "Iya sudah, ayo kita cari bareng," kata Aldo. Kami berempat pun meninggalkan kampus untuk mencari bahan tugas, dan mencukur gundul rambut kami dengan sangat terpaksa... Itulah teman-temanku yang baru di kelompok ospek. Koplak-koplak sih mereka... kecuali aku. Aku nggak. Hehehehe. Surya berasal dari kota sebelah. Anaknya lucu dan suka menyeletuk, responnya lambat — jadi aku bersyukur akhirnya predikat oonku jatuh kepadanya. Tapi diam-diam dia punya potensi yang menakutkan di dunia perbajingan. Yuda berasal dari propinsi seberang. Dia senang menanggapi banyolan Surya, mereka sering ribut berdua — ribut bercanda sih — tapi mereka satu hati, saling melengkapi. Apalagi kalau ada mangsa untuk dibully. Aldo, anak kota ini. Dia lebih santai, cuman sesekali ikut menanggapi banyolan konyol dari Surya dan Yuda. Dia punya jaringan yang luas terkait dunia malam di kota ini. Dan merekalah, teman-teman dekatku saat kuliah nanti. Ditambah satu — siapa lagi kalau bukan Lia, ratu tega yang sadis. --- Malam di Kos-kosan Malam ini Alan banyak ngobrol denganku sebelum dia berangkat ke kampus untuk tidur di sana. Dia salah satu panitia ospek bagian keamanan. Dia berbicara dengan sangat serius, jadi aku sungkan mengajaknya bercanda. "San, ikutin aja ospek besok sesuai peraturan panitia. Kalau diperintah, ikutin aja. Jangan melawan panitia. Dan jangan tunjukin kalau kamu itu kos di Pondok Merah. Kamu harus jadi dirimu sendiri, tanpa perlu menunjukkan kelompokmu," kata Alan padaku. "Iya, Lan. Emangnya panitianya kejam-kejam ya? Kok kamu ngomongnya gitu?" tanyaku. "Kejam sih nggak. Tapi pasti ada kontak fisik. Namanya juga kampus teknik. Kalau kamu misalnya melawan dan berkelahi dengan panitia, pasti nggak ada yang bela, di kos ini pun. Karena itu sudah jadi janji yang tidak tertulis. Tapi dalam batas yang wajar. Kalau maba sudah diperlakukan kelewatan, baru ada yang bertindak." "Beh, sadis juga ya... hehehe. Tujuannya apa dilakukan kontak fisik?" tanyaku. "Kamu kan tau, di sini banyak banget kampus terkenal. Khusus teknik aja ada tiga yang terkenal: kampus teknik negeri, kampus teknik swasta Kuru, dan kampus teknik swasta kita. Belum lagi kampus umum negeri, kampus agama negeri, kampus pendidikan guru negeri, dan banyak lagi kampus umum swasta lainnya." "Sekarang kita bahas yang khusus teknik. Kita bahas berdasarkan peringkat." "Peringkat paling berandalan: pertama, kampus teknik swasta Kuru. Kedua, kampus teknik negeri. Ketiga, kampus teknik kita." "Kalau peringkat berandalannya yang diakui: pertama jelas kampus kita. Kedua, kampus teknik swasta Kuru. Ketiga, kampus teknik negeri. Kalau kita lengah, bisa dihajar sama anak Kuru yang jumlahnya lebih besar dari kita." "Peringkat lulusan terbaik yang paling dicari: kita bersaing ketat dengan kampus teknik negeri. Biar berandalan dan lulusnya lama, kampus kita ini menghasilkan orang-orang terbaik yang bisa bersaing dan dicari perusahaan di luar sana. Setelah itu baru kampus teknik swasta Kuru." "Terbayang kan gimana kerasnya persaingan gengsi antar kampus di kota ini?" "Makanya setiap ospek, panitianya pasti keras. Supaya kalian tidak lemah di luar sana. Karena begitu keluar, orang tidak melihat pribadimu lagi — tapi melihat almamater kampusmu. Paham?" Alan membakar rokoknya dan mengisap dalam-dalam. Kali ini dia serius banget. Matanya tajam kalau menatap. Aku cuma mengangguk. Hemm... ngeri juga kau, kisanak. "Kembali ke ospek. Panitia ospek terbagi dua: panitia resmi dan panitia bayangan. Aku, Raimond, Akbar, Danis, Bobby, dan Rudi masuk di panitia resmi — jadi kami yang tampil di depan. Kami semua masuk bagian keamanan, dan masih banyak bajingan lain yang jadi panitia keamanan. Total keamanan 150 orang yang resmi. Yang berhak jadi panitia resmi keamanan itu semester 5 dan 7. Kalau panitia resmi bidang lain, anak semester 3 boleh masuk." "Sedangkan Mas Rendi, Mas Bendu, Mas Wawan, dan Bung Toni masuk di panitia bayangan, soalnya mereka sudah nggak masuk syarat panitia resmi — mereka sudah semester 9. Banyak angkatan mereka, dan yang di atas mereka akan datang dalam acara ospek besok. Atau malah malam ini mereka sudah kumpul di kampus. Mereka nggak terlibat langsung; mereka hanya berkumpul di markas panitia keamanan. Mereka akan turun kalau ada pihak luar yang mengacaukan ospek. Mereka juga mencegah supaya nggak ada gesekan antar jurusan di kampus kita. Kabarnya, tiga singa tua dari kos Pondok Merah juga akan hadir." "Tiga singa tua dari kos kita? Siapa, Lan?" ucapku agak kaget. "Mas Pandu, Mas Arif, dan Mas Adam. Itu yang kamar di atas. Mereka itu bajingan kampus pada masanya — dan sampai sekarang juga sih, soalnya kan belum lulus. Mereka dan anggota kos Pondok Merah mengendalikan bajingan-bajingan kampus pada angkatan mereka. Tapi sekarang mereka nggak mau lagi mencampuri urusan kampus. Sudah diserahkan ke kita yang dikomandoi Mas Rendi. Mereka cuma memantau." "Jadi kedatangan mereka buat apa?" tanyaku. "Reoni... mengenang masa muda mereka. Mereka akan datang bersama angkatan-angkatan mereka yang sudah lulus. Biasanya mereka minum dan pesta narkoba di markas keamanan, bergabung dengan panitia resmi. Itu tugas Mas Rendi yang meng-handle angkatan tua. Sedangkan aku dan yang lain membantu Mas Raimond yang jadi koordinator panitia keamanan resmi." "Ada pesta minuman dan narkoba di acara ospek? Nggak ada yang larang atau razia gitu?" tanyaku kaget. Wah, makin keren kampusku ini. "Kamu terlalu polos, San. Besok-besok aku ceritakan lebih jauh soal kehidupan perbajingan di kampus kita." "Para singa tua kapan datang, Lan?" "Mungkin mereka sekarang sudah ada di kampus." "Beberapa hari ini mungkin kamu tidur sendiri, San, karena kami semua fokus di kampus." "Sekarang aku pergi dulu, mau pesta buat persiapan besok. Kalau kamu sudah selesai ngerjain tugas, lebih baik tidur. Besok akan jadi hari yang panjang dan keras buat maba," ucap Alan. "Oh iya, Lan... makasih ya infonya." "Wokey, San." Dan dia pun berangkat menuju kampus. Malam ini aku sendirian di kos-kosan. Sepiiii banget. Nggak seperti malam-malam biasa yang selalu ramai teman-teman pesta. Aku ngantuk, mau tidur. Dingin sekali malam ini, sampai ke tulang rasanya. Apa mungkin tiap malam begini? Aku memakai baju dua lapis plus jaket, celana training, dan kaos kaki — baru agak terasa hangat. Baru malam ini aku tidur dalam keadaan sadar, dan tidak mabuk. --- #cuukkk... sepertinya besok jadi hari yang menengangkan...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 08
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal