←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 11 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 11
BAGIAN 11 KEKUATAN YANG ADA BATASNYA Hari ketiga ospek. Kami berbaris di lapangan untuk absen, mata masih ngantuk, badan masih pegal. Subuh tadi berlalu tanpa insiden berarti bagiku — untunglah. Pasalnya, dua hari sebelumnya sudah cukup jadi kenangan pahit. Hari pertama aku dihajar Mas Danis dan Mas Akbar, hari kedua giliran Mas Bobby dan Mas Rudi. Sebabnya? Sama memalukannya: aku tersenyum ke Lia yang ada di kelompok lain. Berdasar itu saja aku dipanggil panitia keamanan. Masih mau dihukum, Mas Bobby lewat, dan tanpa babibu wajah dan perutku jadi sasaran empuk pukulannya. Setelah itu aku disuruh masuk aula menyusul teman-teman mengikuti materi. Tengah materi, aku kabur ke kamar mandi. Di jalan pulangnya, tanpa sengaja aku melihat seorang maba sedang dihukum. Mata panitia keamanan menangkapku. Aku dipanggil. Tempelengan melayang ke pipiku dengan alasan keluyuran saat jam materi. Mas Rudi kebetulan ada di situ — dan melihatku ditempeleng, dia bangkit dari tempatnya, berjalan mendekat, mencengkeram kerah bajuku, tinju kanannya bersarang di rahangku. Cuukk. Aku berdiri memegang rahang yang berdenyut sakit. Ada apa dengan teman-teman kosku ini? Apakah mereka sengaja menguji kesabaranku? Setelah dihajar Mas Rudi, aku disuruh ke lapangan menyusul kelompokku. Jengkel — pastinya. Kenapa teman-teman kosku melakukan ini padaku? Kalau memang ingin menghajarku, jangan di depan umum. Bawa ke belakang gedung atau ke mana pun. Di situ saja, aku pasti lebih terima. --- Pagi ini, setelah absen, kami masih dipertahankan di lapangan. Aku sudah bisa menebak: panitia keamanan akan masuk dan marah-marah lagi seperti dua hari kemarin. Tidak salah duga. Beberapa saat kemudian Mas Raimond datang mengambil mikrofon, dan dia mengamuk. Hampir sebagian maba tidak mengerjakan tugas — dan tidak mungkin semuanya dibawa ke markas keamanan; ruangannya pasti tidak muat. Kemarahannya dilampiaskan di lapangan. Kami semua dimaki-maki. Anggotanya bergerak, menyeret siapa pun yang berada di depan mereka, lalu menghajarnya di tempat. Aku? Aku mencoba tenang. Tidak membuat satu gerakan pun yang salah di mata mereka. Cukup sudah dua hari berturut-turut aku jadi karung tinju — apalagi oleh teman-teman kosku sendiri. Setelah drama memuakan itu selesai, aku lega. Akhirnya bebas dari masalah — untuk saat ini. --- Setelah sarapan, kami diberi waktu istirahat, tapi tidak bisa santai. Kami diwajibkan mengumpulkan tanda tangan panitia minimal seratus orang. Asssuuu. Siapa yang mau dimintain tanda tangan? Serasa artis aja. Aku paling anti minta tanda tangan. Kecuali Alex Delpierro benar-benar datang ke sini, baru aku mau tanda tangan dan foto bareng — walaupun taruhannya nyawa. Dan seluruh maba pun melebur jadi satu, berkejar-kejaran mencari panitia untuk dimintai tanda tangan. Sedangkan aku dan tiga Power Ranger sahabatku duduk santai di bawah pohon, menonton pertunjukan kebodohan maba yang bingung lari kesana-kemari. Cuuukk... ada yang menempeleng kepala dari belakang. "Emang kamu bukan maba? Kok bilangin maba lain bodoh?" Lagi-lagi dia datang. "Ya aku memang maba, tapi kan tidak bodoh seperti mereka. Yang manut aja disuruh kesana kemari," jawabku datar. "Tapi kenapa kau mau hadir di acara ini? Disuruh gundul, mau. Disuruh bawa tugas, mau. Disuruh jalan jongkok, mau. Dihajar panitia, mau?" "Yang mau dihajar panitia siapa?" "Lah, buktinya kamu dihajar diam aja. Kalau diam kan berarti mau..." "Asssuuuu..." "Maba bodoh." "Biadab. Pergi kau. Asssuuu..." --- "Yud... kantong zakarku kering'e..." kata Surya sambil menyender di pohon dan menggaruk buah zakarnya. "Asssu... terus mau kumasukin selang tuh kepala cacingmu? Terus kuisi air, biar penuh?" balas Yuda. "Bajingan. Kamu bilang dedeku cacing? Ular sawah ini... besar dan melilit." "Melilit bulu jembutmu? Asssuu... kamu bilang besar? Punyamu kelihatan nyetak di celana itu bukan karena besar — tapi bulu jembutmu aja yang lebat. Sampai tukang pijet STW mau lihat pun harus menyibak bulu jembutmu seperti nyari kutu." "Biadab kau, Yud..." "Hahahaha... asssuuu!" Aku dan Aldo cuma tertawa sambil geleng-geleng mendengar percakapan terg*uatel yang pernah kami dengar. "Eh... Sur, Sur... ada cewek cantik. Putih. Montok. Kesini, Sur! Wahhh..." Yuda menganga, air liurnya nyaris menetes. "Iya, Yud. Uaaassssu... sunat di mana ini bapaknya, kok anaknya bisa cantik gini? Bajingan. Bagianku ini... jangan ada yang ikut, anak muda. Biarkan orang ganteng ini berkarya." "Aku aja. Kencingmu belum lurus. Jadi buat aku aja nih harim." Yuda tidak mau kalah. "Aku, cuukk!" Dan cewek itu sekarang berdiri di depan kami, menatap ketiga temanku yang bengong dan melongo. "Kenapa teman-temanmu wajahnya mesum semua, kayak kamu, Pur?" Dia. Lia. Anggota Power Ranger yang belum kuperkenalkan pada teman-teman koplakku ini. "Bukan mesum ya. Wajah mereka memang gitu. Plonga-plongo kayak orang blo'on gitu," jawabku cuek. "Hahahaha, pantes aja. Kelihatannya sebagian otak mereka tumpah di depan kampus waktu disuruh lari-lari subuh tadi ya," Lia bercanda. "Uuaaasssuuu!" "Jiiiaaammpppuuttt!" "Bajingannn!" Satu per satu temanku memaki kami berdua. "Woyyy! Daripada kalian memaki — itu dosa — mending kalian ke depan kampus sana, cariin otak kalian yang tercecer di jalan. Siapa tahu masih ada. Atau jangan-jangan sudah dimakan tikus? Kalau sudah dimakan tikus, cariin tikusnya, potong kepalanya, balas dendamlah padanya. Ambil otaknya, goreng, terus makan. Impas kan?" Lia melotot, kesal dimaki. "Cuuukk, ayu-ayu lambene suwek, uuaaasuuu—" Surya memajukan kepalanya, menawarkan bibirnya. "Gak suek gak iso mangan, cuukk—" Aldo membalas sambil menatap Surya. "Kamu kenal cewek sadis ini, San?" tanya Yuda. "Ya kenalah. Kenalkan, ini Ranger Ping. Dia salah satu anggota kita." "Haaa... ini anggota kita yang kamu bilang otaknya tidak geser itu?" Yuda terkejut. "Kalau ini tidak geser lagi, San... berserakan pasti otaknya. Asssuu, assuuu," timpal Surya. "Maksudnya apa sih bilang aku Ranger Ping, terus aku anggota kalian? Anggota apa?" Lia agak bingung. "Tenang ya, sabar. Teman-teman ini anak sipil semua. Kami ini Power Ranger yang rela menolong, baik hati, dan suka menabung di kampus kita. Nah, kami kurang satu anggota: Ranger Ping. Maukan kamu gabung jadi anggota kami?" ucapku. "Ya Tuhan... Purnama... kenapa kamu masukkan aku di kelompok orang yang otaknya kurang semua ini... hikss... hikss... hikss... aku seperti perawan di tengah para penyamun..." Lia berakting menangis. "Sembarangan kau, Esmeralda. Kami ini bukan penyamun... tapi penyabun," kata Surya. "Kami? Kamu aja kali, sama cacingmu, Sur. Hahahaha!" Yuda tertawa lepas. "Iya, setuju sama kamu, Yud," kata Aldo. "Asssuuu! Hahahahaha!" "Jadi gimana, ya?" aku menoleh ke Lia. "Heemmmm..." Lia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Asssuuu... bikin ngaceng aja kamu kalau gitu. "Berarti yang jaga aku ada empat orang o'on ya sekarang..." kata Lia dengan malu-malu kucing. "Biadab!" Kami berempat memaki Lia bersamaan. "Hahahaha!" Lia tertawa renyah. "Adalia Adriana Agatha. Dipanggil Lia. Aku dari pulau seberang. Teknik sipil." "Aldo. Aku asli kota ini. Teknik sipil." "Yuda. Dari propinsi seberang. Teknik sipil juga." "Surya. Dari kota sebelah. Juga teknik sipil." "Aku Sandi. Dari pulau seberang. Teknik sipil juga. BERARTI KITAAAA..." "POWER RANGERRR! HAAAA!" Kami mengulangi ritual waktu berkumpul kemarin, melakukan tos bersama membentuk lingkaran, diakhiri hentakan tangan kiri yang menyatu ke bawah dan teriakan serempak. Perkumpulan kami kini lengkap. Siap mendapat tugas dari Zordon. "Haii, pasukan guuateelll! Baguslah kalian sudah berkumpul hari ini. Setelah acara berakhir, kalian harus segera ke markas. Kalian akan mendapat pembekalan untuk menyelidiki kenapa masyarakat Timor Timur meminta referendum..." Suara Zordon sayup-sayup terdengar dari atas langit. "Kira-kira kau kasih tugas dong... kami aja belum pernah merasakan kuliah disuruh ngurus masalah intelijen negara. Ga ada otak kau," sahutku. "Mulutmu ga berpendidikan, anak muda. Kusuruh kencingi Alpha baru tau rasa kau!" Zordon jengkel. "Asssu... emang Alpha punya titit? Hahahaha!" "Asssuuu kau ya! Ayayayayayaya!" kata Alpha. "Hahahaha!" --- Maka hari ini, tepat di hari ketiga ospek, kami resmi berlima menjadi Power Ranger. Siap berpetualang, mengarungi kerasnya hidup di kampus tercinta ini. "Aku balik dulu, Pur. Mau ke kelompokku," Lia pamit. "Hati-hati, Non. Kalau ada yang ganggu dirimu, sebut nama abang ganteng ini," Surya memukul dadanya. "Ganteng? Gantengan kunci apa gantengan baju?" "Gantengan hidupmu di masa depan." Surya mangut-manggut. "Uuaaasssyyiikkkk!" Lia tersenyum manis. "Kalau cuma modal cacing, mending kamu mundur aja, Sur. Cukup kamu mancing di kali aja," timpal Yuda. "Asssuuu!" Hahahaha... kami berlima tertawa bersama, lalu Lia pergi bergabung dengan kelompoknya di sebelah kami. Kami berempat pun balik ke kelompok masing-masing. "Empat orang blo'on yang lewat dan seolah-olah jadi Power Ranger. Hahahaha." Seseorang bicara sambil menyindir. Dia sedang berkumpul berenam dengan teman-temannya. "Maksudmu apa, cok, bilangin kami blo'on?" Surya maju mau menghampiri mereka. "Sur, ga usah cari masalah. Kita pergi aja," aku menenangkan dia. Aku tidak mau memperpanjang masalah. Aku tidak mau lagi berurusan dengan panitia keamanan. "Maksudnya apa, San? Mereka loh yang ngatain kita duluan! Asssuuu!" Surya menatap mereka satu per satu. "Kamu ga terima? Ayo selesaikan secara jantan. Duel, yo!" Anak itu berdiri, teman-temannya mengikuti. Mereka berdiri di depan kami. Kulihat papan nama mereka: Teknik Mesin, tertulis jelas di papan yang tergantung di leher mereka. Cuukk. Kalau ribut, masalah bisa panjang ini. Bukan aku takut — tapi sekali lagi, aku tidak mau berurusan dengan panitia keamanan. Lain kali aja, kalau ada kesempatan. "Nggak, Mas. Kita mau balik ke kelompok kami. Maaf ya." Aku berjalan, mencoba melewati barisan mereka. Kelompok kami ada di belakang mereka, sih. Buuukkkk. Dadaku didorong keras oleh salah satu dari mereka — anak bernama Azis. Aku terdorong ke belakang; Aldo langsung menahan punggungku. Surya dan Yuda siap maju menyerang, tapi kutahan dengan kedua tanganku. "Jangan jadi pengecut kalian. Kita anak teknik. Selesaikan masalah, baru kita bisa pergi," kata yang bernama Dedi. Badannya gempal, tingginya hampir sama denganku. Dilihat-lihat, sepertinya dialah yang paling menonjol di antara teman-temannya. Tiba-tiba Roni — orang pertama yang menghina kami — melompat dan mencoba memukul kepalaku. Gerak-geriknya sudah kubaca mencurigakan; cepatnya aku menundukkan kepala ke arah kiri, menghindar tanpa menggeser tubuh. Tangan kananku menepis lengannya, refleks kiri mendorong pundaknya hingga jatuh. Cuukk. Kenapa bisa begini... assuuu... Ketika Dedi hendak memukulku— "Woooiiii! Bajingan!" Empat orang panitia keamanan datang mendekat. Cuukk. Masalah besar sudah ini. "Baris kalian semua! Bajingan ini!" Kami dibariskan berjejar. Aku hanya pasrah menunggu apa yang akan terjadi. "Bangsat! Mau jadi jagoan kah kalian semua?" PLAK! PLAKK! PLAKK! PLAKK! Satu orang berlari dari ujung ke ujung barisan sambil menampar kami. Panas dan terbakar pipiku. Lalu panitia di belakangnya berjalan pelan. BUUKK! BUKKK! BUKK! BUKK! Dia berjalan sambil menendang perut kami satu per satu. Teman-teman mundur ke belakang tapi tak ada yang jatuh. Tendangan manusia satu ini masih kalah keras dengan tendangan Mas Danis kemarin lusa. "Ada apa ini?" Tiba-tiba Alan datang bersama Bowo dan teman-teman lainnya — mungkin sekitar sepuluh orang. "Ini, Lan. Mereka mau berkelahi semua," kata orang yang menampar kami tadi. Alan mendekat, menatap kami satu per satu... lalu memegang pundakku. Asssuuu. Kamu juga mau memukul aku, kisanak? Kamu lupa kamu pernah kubeliin rokok dari puncak Gunung Tidar waktu itu? Dia meremas pundakku pelan. "Kelihatannya ini masalah dua jurusan, Lan. Jurusanmu dan jurusanku," kata seseorang. "Iya, Ndra. Betul juga," jawab Alan. "Kalian semua minggir. Ini urusan anak mesin dan anak sipil." Dia menunjuk empat panitia keamanan yang menghukum kami tadi. "Jadi gimana ini, Lan?" lanjut orang itu. "Kita selesaikan aja di belakang gedung, Ndra. Cukup kita aja yang tau, jangan sampai panitia bayangan tau. Bisa-bisa selesai kita semua," kata Alan. "Betul juga. Kita main-main sedikit di belakang," sahut salah satu panitia mesin. "Kamu yang berempat, anggap aja ga lihat hal ini. Jangan kasih tau siapa-siapa." Alan mengusir keempat panitia keamanan tadi. "Kamu semua bersepuluh, ikut kami ke belakang gedung." Bajingan. Apalagi ini? Kenapa kami harus dibuat mainan? Assu sekali orang-orang ini. Kami pun mengikuti Alan, Bowo, Indra, dan yang lain yang berjalan di depan. "Gimana ini, San?" Surya berbisik. Aku diam, tak menjawab. "Kalau disuruh duel, kita selesaikan mereka," kata Aldo. "Sepakat," Yuda dan Surya serempak. "Gimana kamu, San?" Aldo menoleh. "Nggak. Aku ga mau berkelahi," jawabku. "Terus gimana?" Yuda menatapku. "Ya aku ga mau berkelahi, titik." Ucapku agak keras, menatap tajam ke arahnya. Suaraku rupanya terdengar oleh anak-anak mesin di depan. Mereka menoleh sambil tersenyum mengejek. Aldo menggeleng mendengar jawabanku, melihat ekspresiku yang masih menatap tajam Yuda. Yuda langsung ditarik Surya untuk terus berjalan bersama Aldo. Aku mengikuti mereka dari belakang. --- Di belakang gedung, kami dipisahkan menjadi dua kelompok dan saling berhadapan. "Sekarang silahkan pilih lawan masing-masing. Dan jangan main keroyokan," kata Mas Indra, anak mesin. Kami diam, saling menatap. Mereka berenam, kami berempat. Aku malas ikut perkelahian ini. Ga ada gunanya. Aku kesini mau kuliah, bukan jadi petinju. Kalau mau jadi petinju, aku akan berangkat ke salah satu sasana di ibu kota, bukan ke kota ini — atau latihan dengan ayahku aja di sana, dari pada jauh-jauh keluar kota. Ini salah satu situasi paling menjengkelkan menurutku. "Wooiii! Kamu anak mesin! Kalau ga ada yang maju, satu orang kubantai sampai mampus semua, sekarang juga!" Mas Indra menunjuk maba anak mesin. Maju anak bernama Roni. Dia melepas topi kerucutnya, meletakkan papan nama dan tas karungnya, berjalan ke tengah, menatap kami. "Anak sipil ga ada yang maju?" Alan bertanya sambil merokok. Surya pun berjalan ke tengah setelah meletakkan peralatan ospeknya. Dua orang kini berhadapan. Tangan Roni mengepal, menatap buas ke arah Surya. Surya merenggangkan tangannya — menyatukan jari kanan dan kirinya, lalu membunyikannya ke bawah. Jancuukk. Sangar juga temanku ini. Kretekk... kretek... bunyi jari-jari Surya yang direnggangkan. Dia memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri. Roni tanpa komando langsung menerjang sambil melompat, mengarahkan lututnya ke wajah Surya. Surya yang masih merenggangkan kepalanya kaget, tak sempat menghindar. BUUMMMM! Lutut Roni mengenai wajah Surya. Kepala belakangnya dipegang Roni, jadi tak bisa menghindar. Surya terlempar ke belakang dan roboh. Darah keluar dari hidungnya. Cuukk. Pasti sakit sekali itu. Nekat benar sih Surya ini. Kalau ga mampu, mending ga usah maju... "Wooooo... prok... prok... prok..." Tepuk tangan anak-anak mesin. "Tumbang anak buahmu satu, Lan," kata Mas Indra tersenyum. Alan cuma tersenyum sambil merokok. "Kamu mundur. Gantian temanmu lagi. Ayo, siapa lagi yang maju?" kata Mas Indra bangga. Kulihat Bowo diam saja dari tadi, tidak berkomentar. Dia menatapku dengan tatapan datar. Roni tampak bangga, tersenyum mengejek sambil mengangguk-angguk di depan kami. Dia berbalik, melangkah ke barisannya. "Woi bajingan! Kamu kebanyakan coli ya? Kelihatannya lututmu kosong itu. Bukti: aku ga pa-pa!" Surya berdiri sambil mengelap darah dari hidungnya. Bangsat. Kuat juga manusia satu ini. "Wah, darah ya? Aku tadi tuh habis ketemu cewek cantik. Nah, kalau habis ketemu yang cantik, pasti mimisan hidungku. Jadi jangan ge-er, kau tukang coli. Lututmu ga sekeras yang kau kira." Surya tersenyum meremehkan. Aldo dan Yuda menahan tawa. Bisa aja dia ngeles. Bajingan. Hahaha. Roni berbalik, terkejut melihat Surya berdiri tegak, cuma tersenyum sambil membersihkan darah dari hidung. Dia langsung emosi mendengar ocehan Surya. Dia berlari sambil melompat, mengarahkan pukulannya ke wajah Surya— BUUUGGGGHHHHH! Tendangan kaki kanan Surya mendarat tepat di dada Roni. Mata Roni melotot menahan sakit — dengan posisi masih melayang, belum menyentuh tanah. Roni terdorong ke belakang. Dan ketika badannya melayang itu, Surya melompat — menghantamkan tinju kanan dan kirinya ke wajah Roni, ditutup tendangan tumit yang sangat keras. BUUUMMMMMMM! Badan Roni terhempas ke bawah dengan keras. Dia melotot, memuntahkan darah dari mulut dan hidungnya. Terlentang. Tidak bergerak lagi. Cuukk. Sakit itu. Sakiiit. Sakti sekali kau, Ranger Kuning. Semua panitia mesin di situ terkejut, tak berkedip melihat kejadian itu. Alan cuma tersenyum santai menghisap rokoknya. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Bajingan kau, kisanak. "Bajingan! Bikin malu aja kau! Seret dia ke ruang kesehatan!" Mas Indra murka. Dua panitia menggotong Roni ke ruang kesehatan. "Siapa lagi yang maju?" Mas Indra memandang maba anak mesin. Maju anak kedua, bernama Azis. Dia meletakkan perangkatnya, berjalan ke tengah. "Kamu maju, San?" tanya Aldo padaku. "Nggak. Aku malas berkelahi," ucapku sambil menggeleng. Yuda langsung maju — sebelum maju dia tos dengan Surya, seperti pergantian pemain. Wehh. Nekat juga anak ini, kataku. Dia berdiri di tengah, bersiap-siap. Azis menyerang duluan — mungkin mau balas dendam karena temannya terkapar. Dia memukul Yuda tanpa henti, kanan kiri bergantian. Yuda menahan setiap pukulan dengan kedua tangannya sambil melindungi kepala. Azis terus maju mengepung, tanpa memberi kesempatan Yuda melawan. Kalau begini terus, Yuda bisa kalah. Seberapa kuat dia bertahan dari pukulan Azis yang membabi buta? Setelah terpojok di dinding, Yuda mengangkat kaki kanannya dan menendang perut Azis dengan keras. Buggghhh... Azis terdorong ke belakang — tapi tidak jatuh. Wuuu. Ngeri juga Azis ini. Dia masih berdiri tegap. Lalu menyerang lagi. Tapi dengan sigap Yuda menghindar, dan kali ini pukulannya mengarah ke pipi kanan Azis. Bugghhh! Pipi kanan Azis kena. Bughhhh! Pelipis kirinya kena juga. Tapi lagi-lagi dia tetap berdiri. Azis membalas — pukulannya mengarah ke rahang Yuda. Buggh. Yuda sempat oleng, tapi bangkit lagi dan menyerang Azis lagi. Jual-beli pukulan terjadi di depan kami. Suaranya menyayat telinga. Mereka berdua sudah sama-sama berdarah. Keadaan sangat imbang — jatuh bangun, saring menyarang, tak ada yang menghentikan sampai satu tumbang. Sampai satu pukulan Yuda menghantam rahang Azis dengan sangat keras— BUUUMMMMMM! Azis oleng ke samping. Belum sempat berdiri, satu huk kiri yang jadi andalan Yuda menghantam rahang kanannya. BUUUMMMM... Azis roboh, bersimbah darah. "Bangsaattt!" teriak Mas Indra bersamaan dengan jatuhnya Azis. Yuda berdiri, mengatur napas, membersihkan darah yang mengalir dari mulutnya, lalu berbalik ke arah kami. Dia berjalan menghampiri sambil memegang pipinya yang mulai bengkak. "Lama sekali kau, anak muda. Kurangkah ilmu yang ku turunkan," kata Surya sambil tersenyum. "Dia terlalu tangguh, Guru. Tidak seperti yang ku bayangkan. Mohon bimbingannya, Guru." Yuda mengepalkan kedua tangannya ke depan, sedikit membungkuk — seolah memberi hormat pada Surya. "Hahaha... assuu..." Mereka berjabat tangan. "Siapa lagi anak mesin yang maju? Jangan bikin malu lagi ya!" Mas Indra mulai emosi. Dua adek tingkatnya sudah tumbang di depan matanya. Satu orang maju. Namanya Akmal. Dia berjalan ke tengah, berdiri menanti lawannya, lalu berpemanasan bergaya petinju — melompat tinggi, ke kanan dan ke kiri, tangannya mengepal ke depan, jab kanan jab kiri. Wajahnya bengis. Ada beberapa bekas luka di wajahnya. Kelihatannya anak ini sering tawuran. "Hajar dia, Mal!" "Selesaikan dia!" "Buat di tobat, Mal!" Teman-temannya menyemangati. Akmal semakin melepas gerakan-gerakan menakutkan. Kepalanya bergoyang kanan kiri, menunduk, bermain hook kanan dan hook kiri. "San, mau maju?" tanya Aldo lagi. Aku cuma menggeleng tanpa menoleh. Aldo pun melangkah ke depan, disambut tos kanan-kiri oleh Yuda dan Surya. Aldo berjalan santai menatap Akmal. Akmal tetap memutar gerakan-gerakannya. Aldo tampak santai saja. Kulihat ke atas gedung lantai dua — empat serangkai kos Pondok Merah menonton dan menikmati pertarungan dari tadi: Mas Rendi, Bung Toni, Mas Wawan, dan Mas Bendu. Kembali ke tengah arena. Mereka berhadapan, saling menatap. Napas Akmal naik-turun menahan emosi. Dia maju, mengarahkan pukulannya ke kepala Aldo— BUUMMMMMM! Akmal tegeletak, menggelepar ke lantai — satu uppercut Aldo mendarat pas di dagunya. Haa... selesai. Iya, selesai. Ternyata Akmal cuma menang pemanasan aja. Aldo berdiri merentangkan tangan ke samping, mendongakkan kepala ke atas. Cuukk. Kuat sekali pukulan temanku ini. "Bajingan! Kamu ngeledek kami!" Mas Indra dan anak-anak mesin berdiri, mau mendatangi Aldo. "Diam aja di tempat, Ndra. Ga usah ikut campur. Kalau cuma kamu sama teman-temanmu ini, cukup aku sendiri aja yang bantai," kata Alan santai sambil duduk menghisap rokoknya. Aldo berbalik, jalan santai sambil menggaruk kepala. "Wuuuu... gila kau, anak muda. Mantap kali uppercutmu! Hahahaha!" kata Surya. Aldo cuma tersenyum, lalu mendekatiku. "Sekarang, mau ga mau giliranmu, San," kata Aldo sambil melirikku dari samping. Aku tetap diam, tidak maju. "Woiii! Kamu sekarang sama aku!" Teriak Dedi sambil maju ke tengah. Dia menunjukku. Aku tetap diam di tempat, tak bergerak sedikit pun. Aldo, Surya, dan Yuda menatapku, seolah menyuruhku maju. "Kalau kamu ga maju, aku yang akan menyeretmu kemari!" Lagi-lagi aku tidak menanggapi. Alan hanya melirikku sambil merokok. "Bajingan ini! Ku hitung sampai tiga. Kalau ga maju, aku yang maju." "Satuuu..." "Dua..." "Tiga..." Dedi langsung berlari ke arahku, melayangkan pukulan ke rahang kananku. Aku mengelak — rupanya itu gerakan tipuan. Pukulan keduanya mendarat telak di rahang kiriku. Aku oleng ke kanan, tapi sempat menahan tubuh dengan kaki kananku. Cuukk, sakit sekali pukulannya. Belum sempat aku tarik napas, tendangan kaki kiri Dedi mendarat mulus di pelipis kananku. Aku oleng ke kiri, roboh ke belakang — tertahan dinding di belakangku. Dedi mendatangi, memukulku secara brutal. Aku hanya bisa melindungi kepala yang mulai berdarah di pelipis. Lututnya naik ke perutku. Bugggghh. Asssuuu... sakit sekali perutku. Aku tertunduk menahan sakit sambil memegang perut. Kesempatan itu ia pakai untuk menendang kepalaku— Buuugghhhh! Aku roboh ke samping, tergeletak di lantai. Darah makin deras mengalir dari pelipisku, menutupi mata, memburamkan pandanganku. Dedi menarik jas almamaterku, lalu menyeretku ke tengah. "Wooiiii! Berhenti! Ini sudah kelewatan!" Aldo berteriak. "Dia ga melawan! Menang sudah kamu! Ngapain kamu seret dia!" Yuda emosi. "Lepas, woi! Bajingan!" teriak Surya. "Biasa aja kalian. Kalian bertiga diam aja di sana — seperti kami menonton pertarungan kalian tadi," kata Mas Indra. Ketiga sahabatku terdiam. Aku juga tidak mendengar suara Alan. Sesampainya di tengah, aku didudukkan. Dedi memegang kepalaku, lalu memukul tepat di hidungku. Buuuuhggggggg! Aku roboh ke belakang, darah mengalir dari hidungku. Aku berbalik tengkurap, memegang hidung yang sakit sekali. Mungkin patah sudah hidungku ini. Aku mencoba berdiri — berlutut, kedua tangan menahan tubuh. Posisiku seperti orang merangkak. "Lemah sekali kau jadi anak teknik. Ga pantas kau di sini," kata Dedi. Dari posisi merangkak ini, aku bisa melihat darah dari pelipis, hidung, dan mulutku menetes ke lantai. Ini sudah kelewatan. Aku yang tidak melawan dari tadi... masih juga dihajar. Bajingan. Perlahan emosiku mulai naik. Tanganku mengepal. Napasku naik-turun. Lalu aku memejamkan mata... *"Nak, janji sama Ibu ya. Jangan berkelahi lagi. Kamu ga pengen Ibu menangis dan bersedih sampai masuk rumah sakit seperti kemarin kan? Hikss... hikss..."* Ibuku memelukku sambil menangis, membelai kepala belakangku. Aku hanya terdiam dalam pelukannya. Tatapan dan pikiranku kosong. Aku ga kuat mendengar ibuku menangis seperti ini dalam pelukanku. *"Waktu berkunjung telah selesai. Silahkan tahanan kembali ke sel masing-masing."* Suara petugas jaga. Aku yang teringat janji pada ibu langsung lemas, mencoba duduk bersimpuh di kedua kakiku. Tiba-tiba— BUUGGGHHHHH! Sebuah tendangan mendarat tepat di pelipis kananku, membuatku roboh. Aku terdiam. Tidak bergerak. Dedi pergi meninggalkanku, disambut tepuk tangan teman-temannya. Aldo, Yuda, dan Surya menggerubungiku, mendudukkan aku. Kutepis tangan mereka. Aku membersihkan darah di wajahku dengan tangan. "Kenapa kamu ga melawan, San?" tanya Yuda. Aku diam, tak menjawab. "San... awakmu ga po-po ta?" tanya Surya. Aku tetap diam, lalu berdiri. Mereka mencoba membantu — lagi-lagi kutepis tangan mereka. Aku tidak ingin dikasihani teman-temanku sendiri. Aku berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, kulepas almamater dan kemejaku. Kubasuh mukaku, kubersihkan hidungku. Perih sekali ketika air menyentuh luka di bibir dan pelipisku. Tapi kutahan. Kubasahi juga kepalaku yang gundul. Almamaterku penuh bercak darah. Kucoba membersihkannya seadanya, lalu kupakai kembali kemeja dan almamaterku, dan keluar dari kamar mandi. "Kamu ke ruang kesehatan aja dulu, San. Bersihkan lukamu," kata Alan. Aku diam dan melewatinya. "San... bersihkan dulu lukamu," Aldo mencoba lagi. Tetap diam. Aku mengambil peralatanku — karung, memasukkan semua perlengkapan ospek ke dalamnya, lalu berjalan meninggalkan teman-temanku yang bingung melihat sikapku. Sebenarnya aku juga ga enak pada mereka. Kemenangan mereka harusnya dirayakan dengan bahagia. Tapi ini — aku mencorengnya dengan kekalahan telak karena aku sama sekali tidak melawan. Akhir pertempuran yang antiklimaks... bagi sahabatku. Aku berjalan menuju lapangan tempat kelompokku berkumpul. Melewati panitia keamanan yang berjaga di sekitar lapangan. Mereka menatapku heran melihat kondisiku—almamater tanpa papan nama dan topi kerucut, luka di wajah yang masih mengeluarkan darah meski tidak sebanyak tadi, bercak darah di dada dan kerah kemejaku. Tapi aku berjalan santai saja, seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu kenapa, Pur..?" tanya Mba Amel yang melihat kondisiku seperti ini. Aku menjawab sambil berbohong, tidak berani menatap wajah cantiknya. "Nggak apa, Yunda.. aku jatuh dekat kamar mandi tadi.." "Jangan bohong-bohong kamu, ya.. habis berkelahi dengan siapa kamu? Jawab..? Tatap wajahku kalau aku bertanya.." nada Mba Amel agak meninggi. "Aku nggak pa-pa.." kataku sambil menatap matanya. Tiba-tiba kulihat matanya berkaca-kaca. Mungkin karena aku menjawabnya agak keras. Kudengar dari arah belakang, teman-temanku baru datang dan berbaris di sampingku. "Jadi kalian tadi habis berkelahi, ya..?" kata Mba Amel melihat teman-temanku yang baru datang. Dia berjalan meninggalkanku menuju Yuda yang wajahnya agak parah luka lebamnya. "Kamu habis berkelahi dengan siapa, Yud..?" kata Mba Amel. Belum sempat Yuda menjawab, tiba-tiba tiga orang panitia keamanan datang menghampiri kami. "Udin.. ini anak tadi yang kubilang. Kelihatannya habis berkelahi sama maba anak Mesin yang sudah dibawa ke ruang keamanan.." kata seorang panitia. Panitia yang dipanggil Udin itu menghampiriku, mengangkat kerah kemejaku, lalu menatap mataku tajam. "Kamu tadi habis berkelahi sama maba anak Mesin, ya..?" "Mas, tolong lepasin ade binaan saya.." kata Mba Amel dari belakangnya. "Diam kamu, Mel! Ini urusan panitia keamanan.." sahut temannya. "Tapi dia di kelompokku, aku yang bertanggung jawab.." kata Mba Amel tegas. "Kalau sudah ada yang berkelahi begini, itu urusan panitia keamanan. Bina damping, diam! Kamu nggak tahu peraturannya, kah..?" Udin bicara sambil menoleh ke belakang, menatap tajam Mba Amel. Mba Amel pun terdiam. "Jawab pertanyaanku! Kamu habis berkelahi sama anak maba Mesin, ya..?" dia mengulangi pertanyaannya. Aku diam saja dan membalas tatapan matanya. Aku sudah capek dengan keadaan ini. Mending aku diam—kalau aku bicara, urusannya bisa tambah panjang. Lebih baik diam saja. Udin melepaskan tangannya dari kerah kemejaku. "Bajingan kau, ya.. ditanya malah melotot. Kamu nantang aku?!" PLAKKK.. PLAKKK.. PLAKKK.. Aku ditamparnya tiga kali. Teman-teman kelompokku sampai kaget—terutama tiga sahabatku: Yuda, Surya, dan Aldo. Mereka memandangku dengan rasa tidak terima. Tapi aku diam saja, menatap tajam kematanya. Mba Amel yang ada di belakangnya pun sepertinya tidak terima. "Kenapa kamu lihat aku seperti itu.. kamu nggak terima? Mau berkelahi? Ayo, ikut aku ke markas keamanan.." dia marah sambil menarik kerah bajuku. Aku diseret paksa olehnya. "Bawa juga tiga temannya itu.." perintah Udin pada kedua temannya. Mereka lalu menarik ketiga temanku untuk mengikuti di belakang Udin. Aku ditariknya naik ke lantai tiga gedung Fakultas Industri. Ketika pintu dibuka, aku berdiri di pintu, melihat sekeliling ruangan ini. Ruangan ini semacam aula yang lumayan luas, tapi tidak seluas aula utama di bawah. Kulihat ada sekitar tiga puluh maba berdiri di depan, dan ada juga anak Mesin yang berkelahi dengan kami berdiri di situ. Mereka hanya memandang kami lalu tunduk kembali. Di sekitar kanan-kiri ruangan, panitia keamanan berdiri mengawasi maba yang ada di depan. Di bagian belakang kulihat Mas Rendi dan penghuni kosku yang lain, minus Mas Raimond yang sibuk di lapangan. Kulihat Alan duduk di sebelah Mas Rendi, kelihatannya baru selesai mengobrol sesuatu—mungkin tentang kejadian tadi. Mereka menatap ke arahku. Aku pun menunduk, pura-pura tidak melihat mereka. "Woi! Kamu yang di depan pintu, ngapain berdiri di situ?! Cepat masuk dan gabung sama temanmu di sini!" perintah seorang panitia keamanan. Aku melangkah masuk, diikuti ketiga temanku. Gila.. akhirnya, setelah hari ketiga, aku masuk juga ke ruangan keamanan yang jadi momok bagi para maba ini. Aura di dalam ruangan ini memang menakutkan, membuat merinding bagi yang akan terkena hukuman. Botol-botol bekas minuman berserakan di mana-mana, puntung rokok bertebaran. Aku bergabung dengan maba yang lain. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Mas Rendi dan yang lainnya lebih jelas. Di antara teman-teman kos, kulihat ada tiga orang asing yang duduk bersama mereka. Mungkin inilah yang namanya tiga singa tua. Pandangan mereka ke arahku tajam—sama seperti saat Mas Rendi menatapku waktu pertama kali masuk kos dulu. Tidak lama berselang, kulihat Mas Raimond masuk membawa beberapa orang maba yang bermasalah. Mereka disuruh gabung dengan kami. Mas Raimond sempat melirikku, tapi diam saja, lalu bergabung dengan Mas Rendi. Lengkap sudah—penghuni kos Pondok Merah ada di ruangan ini, termasuk aku dan tiga singa tua. Mas Rendi membuka botol, menuang ke gelas, dan memutar botolnya ke sekeliling, termasuk ke panitia lain yang bukan dari kos kami. Seandainya ini di kos-kosan, pasti aku disuruh gabung dan ikut pesta dengan mereka. Tapi kondisi sekarang berbeda—aku berdiri di depan mereka seperti pesakitan saja. Kulihat giliran Alan yang mengangkat gelas. Dia mengangkat gelas sambil melihatku, tapi tatapannya datar. "Ini tadi yang habis berkelahi dengan mereka, ya.." kata seorang panitia keamanan sambil menunjuk ke anak-anak Mesin. "Mau jadi preman, nih, kelihatannya.." sahut seseorang dari arah samping. Tidak ada reaksi apa pun dari teman-teman kosku. Mereka hanya menatapku. Tidak lama berselang, tiga orang panitia keamanan maju ke depan kami. "Izin, abang-abang, dan izin coordinator keamanan.. kami mau memberikan sedikit pelajaran buat para bajingan-bajingan baru ini.." Yang bicara adalah Udin—orang yang menyeretku ke sini tadi. Tidak ada jawaban dari semua orang. Mereka hanya diam. Tiba-tiba— PLAK.. PLAK.. PLAK.. PLAK.. Mereka bertiga menampar kami semua secara bergantian. Kulihat Mas Rendi menghentikan minumnya. Dia melihat ke arah kami yang di depan. "TUNDUK KALIAN SEMUA! BAJINGAN! BARU JADI MAHASISWA SUDAH MEMBUAT MASALAH! BRENGSEK KALIAN!" PAKKK.. BUGHHH.. PAKK.. BUGHH.. Dia berlari sambil memukul kami, diikuti dua orang temannya. PAKKK.. BUGHHH.. PAKK.. BUGHH.. Mereka terus memukul kami, para maba yang ada di depan, secara brutal. Semua maba jatuh tersungkur dan kesakitan, termasuk anak-anak Mesin dan ketiga sahabatku—kecuali aku yang tetap berdiri. Tiba-tiba dia berdiri di depanku. "Kamu mau jadi preman di sini, ya.." PAKKK.. BUUGHHH.. PAAKK.. BUGHHH.. Dia memukul wajahku dan menendang dadaku. Aku diam, tidak melawan. Kulihat teman-teman kosku sudah mulai gelisah dan menatapku tajam. Darah kembali mengalir dari pelipisku. "Ayo! Lawan aku!" PAKKK.. BUUGHHH.. PAAKK.. BUGHHH.. Kali ini dia menerjangku dan memukulku membabi buta. Aku hanya bisa mundur, menghindar, dan sedikit melindungi wajahku dari pukulannya. Kulihat Alan berdiri—mungkin tidak terima dengan perlakuan orang itu padaku yang sudah kelewatan—tapi ditahan oleh salah satu singa tua. Alan disuruh duduk lagi. Kenapa baru sekarang kamu berdiri, Lan? Kenapa di bawah tadi kamu nggak melerai? Atau memang sudah jadi tradisi—kalau ada duel, tidak boleh ada yang ikut campur? Asuuu, dahlah. Yang jelas kondisiku sekarang makin kelihatan terhina. Aku tidak roboh dengan segala bentuk pukulannya. Dan aku merasa adrenalin perlahan mulai naik. Tapi aku tetap sabar dan menerima segala serangan dari Udin. Dia berhenti dan mundur—mungkin capek memukulku dari tadi. Lalu dia berteriak: "BERDIRI KALIAN SEMUA! BAJINGAN! LEMAH SEKALI KALIAN! GITU MAU JADI ANAK TEKNIK?!" Dia berteriak kepada semua maba yang tergeletak. Dan semua anak yang tergeletak bangun mendengar perintah Udin sambil menahan sakit. "SEKARANG.. BUKA BAJU KALIAN SEMUA! ATAU AKU INJAK-INJAK MUKAMU SATU PERSATU! CEPAT, BUKA!" Kulihat teman-teman kosku sudah mulai emosi tapi ditahan oleh tiga singa tua. Berbeda dengan Mas Rendi—dia diam saja dan menatapku. Kali ini aku tidak tahu arti tatapannya, karena datar begitu saja. Akhirnya semua maba di ruangan ini membuka almamater dan kemeja putihnya. Mereka semua bertelanjang dada. Sedangkan aku tetap berdiri dengan pakaian lengkap, bercak darah habis perkelahian tadi. Udin tidak terima dengan sikapku. BUGHHH— Dia memukulku sekali lagi di rahangku. Aku tetap berdiri tegap, hanya sempat oleng sedikit. Perlahan kurasakan ada darah mengalir lagi di bibirku. "Kenapa kamu nggak buka pakaianmu..?" tanyanya sambil menatap mataku. "Hem...." Aku hanya tersenyum kecil sambil membalas tatapannya. "Kenapa kamu senyum?! Bajingan kamu! Buka pakaianmu sekarang! BUUKAAAA!" dia berteriak di wajahku. Bau alkohol dari mulutnya keluar, seolah mengejekku. Aku tetap diam dan tetap menatap matanya. "Mau kusobek-sobek pakaianmu..?" Dia menarik kerah almamaterku sampai wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku tetap tidak mau, tetap menatap matanya tanpa berkedip. "Kamu benar-benar nantang aku, ya.." Dia menarik almamaterku dengan keras dan menyeretku. "Ayo! Lawan aku! Lawan!" Aku diam saja. "WOIII ANAK TOLOL! LAWAN AKU! BISA-BISANYA ADA PEREMPUAN YANG MELAHIRKAN BANCI KAYAK KAMU!" dia berteriak di mukaku. Jancokkk.. Bangsattt.. Dia boleh memukiku. Dia boleh menghajarku. Dia boleh menginjak-injak aku. Aku akan tetap sabar. Tapi jangan bawa-bawa ibuku. Assuuu.. Adrenalin yang tadinya perlahan naik akhirnya cepat disambar emosiku, lalu terbakar. Bangsat. Aku paling benci kalau ibuku dihina. Aku mengeratkan gigiku. Mengepalkan tanganku. Menatap matanya penuh kemarahan. Mataku berkaca-kaca. Kututup perlahan mataku. "Maaf, Bu.. aku melanggar janjiku.. aku sudah nggak kuat lagi.. boleh mereka menghajarku.. tapi aku nggak terima Ibu dihina.." Lalu kubuka mataku. Perlahan air mataku menetes, mengingat wajah ibu. Kulihat dia akan memukulku. BUUGGGHHHHH— Dia roboh ke belakang, kepala bagian belakangnya membentur lantai dengan keras. Dia kejang-kejang sambil memegang dadanya. Perlahan dari mulutnya keluar darah. Dia terkapar, berguling ke kanan dan ke kiri, matanya melotot menahan sakit—setelah aku menendang dadanya memakai tumitku dengan sekuat tenaga. Kutatap satu per satu orang di ruangan ini. Semua kaget melihat apa yang barusan terjadi, dan mungkin kaget juga melihat ekspresiku sekarang. Termasuk tiga teman kelompokku, anak Mesin yang berkelahi denganku, dan teman-teman kosku. Hari ini aku mencapai titik emosi yang terlalu tinggi. Nafasku berat dan aku melihat sekelilingku dengan tajam. Aku sudah terlalu bersabar dengan tingkah orang-orang ini. Aku dihajar hari pertama, hari kedua, dan hari ini aku dihajar habis-habisan oleh Dedi anak Mesin. Sekarang, di ruangan ini, Udin dan dua temannya memukuliku seperti binatang—aku juga tetap sabar. Tapi dia terlalu kurang ajar sampai memakiku sambil membawa-bawa ibuku. Itulah yang membuatku tak kuasa menahan gejolak emosi ini. Kulihat dua temannya ingin menyerangku. Aku menunduk menghindari pukulan salah satunya, dan mendapat celah untuk membalas. BUUMMMMMM— Uppercutku tepat mengenai rahangnya. Dia tumbang sambil menyemburkan darah dari mulutnya. Roboh, dan pingsan. Satu temannya lagi menerjangku dari depan. Aku menghindar ke samping, dan dia kini berada di belakangku. Aku cepat berbalik, dan— BUUMMMMMM— Tendangan balikku tepat di wajahnya. Hidungnya patah dan mengeluarkan banyak darah. Dia pun roboh juga. Aku berteriak meluapkan emosi. "AAAAAAAAAAAAAAAARRRGGGGHHHHHHHHHHH!" Semua orang terdiam. Tidak ada suara. "Aku nggak pernah cari masalah! Aku sudah terlalu sabar dengan semua ini! Tapi dia telah menghina ibuku! Kalau ada yang membelanya—siapa pun orangnya—dia akan aku lawan! Persetan dengan semua acara ini!" Aku berjalan menuju pintu keluar sambil membersihkan darah yang menetes di kening dan bibirku. PROOKK.. PROOKK.. PROOOKK— Aku berbalik. Kulihat salah satu singa tua berdiri sambil bertepuk tangan. "Mantap sekali semangatmu.. tapi kamu tidak boleh keluar dari ruangan ini.." ucapnya santai. "Aku nggak peduli denganmu atau dengan yang lain. Kalau ada yang menghalangi, kuselesaikan sekarang juga!" ucapku penuh emosi. "Wahhh.. hebat sekali kamu.." ucapnya sambil tersenyum santai dan menatapku tajam. "Oke, begini aja. Nggak usah buang waktu. Ayo kita adu pukul. Kamu pukul saya tiga kali duluan—terserah pukulan atau tendangan. Kalau salah satu seranganmu membuat aku roboh, silakan berbuat semaumu. Tapi kalau aku belum roboh, aku akan memukulmu satu kali saja. Bagaimana?" Bangsat. Dia meremehkanku. Tanpa basa-basi lagi aku berlari menuju orang itu dan— BUUGGGHHHHH— Aku memukul tepat di rahangnya. Dia tidak bergerak sama sekali. Dia menerima pukulanku, tetap berdiri santai, tidak roboh—hanya sempat goyang sedikit. Bangsat. Aku mundur perlahan, menatapnya penuh emosi. Lalu aku bersiap lagi dan langsung melonjat ke arahnya, kuarahkan lututku ke dadanya. BUUGGGHHHHH— Dia mundur beberapa langkah, tapi tetap dalam posisi berdiri—dan lagi-lagi tidak roboh. Gila, kuat sekali singa tua satu ini. Tidak ada tanda-tanda mau roboh. Aku masih punya satu kesempatan lagi. Aku harus memanfaatkannya. Aku mundur lagi, lalu dengan kuda-kuda yang kuat aku berlari ke arahnya dan menendang tepat di kepalanya sambil berteriak— "AAAAAAAAAAAAAAAARRRGGGGHHHHHHHHHHH!" BUUGGGHHHHH— Dia hanya oleng sedikit. Tapi sekali lagi, dia tidak roboh. Assuuu.. luar biasa manusia satu ini. Baru kali ini aku melihat orang yang bertahan dan tetap berdiri setelah menerima tiga seranganku. Biasanya semua lawanku roboh dengan satu serangan saja. Ini tiga kali! Gilaaa.. Tiga kali dan dia tetap kokoh berdiri. Tiba-tiba, sebelum kaget dan kekagumanku padanya hilang— BUUMMMMMM— gelapppp --- POV RENDI Kami berempat duduk di ruang tengah kos-kosan sambil meminum air kenikmatan. Aku, Wawan, Bendu, dan Bung Toni. Sebelumnya ada perdebatan kecil dengan Wawan, sahabatku, tentang aku yang mengizinkan seorang anak calon mahasiswa baru untuk kos di sini. Memang aneh—aku sendiri agak bingung dengan keputusanku menerima Sandi untuk kos di sini. Padahal banyak mahasiswa lama yang terobsesi ingin kos di Pondok Merah, tempat kami. Karena suatu kebanggaan bisa kos di sini—di sini tempat berkumpulnya bajingan-bajingan kampus di tempat kami kuliah. Sementara sore itu, akulah yang mengizinkan anak baru itu kos di sini. Entah dia dari mana, dan aku tidak tahu kemampuannya bagaimana—apakah dia bisa mengimbangi kami. Aku juga tidak tahu. Tapi kalau kulihat sorot matanya saat masuk kos waktu itu, ada jiwa bajingan yang terlihat di dalamnya. Semoga feelingku tepat. Kesan pertama.. lumayan. Dia bisa minum dua botol langsung topi miring tanpa tumbang dan pingsan di depan kami. Kesan kedua, anaknya royal—bukti dia membeli minuman banyak sekali untuk perkenalan diri kepada kami. Kesan ketiga, dia bisa masuk ke kamar kos Barbara—berarti dia bisa jadi bajingan selangkangan juga. Beberapa hari aku terus mengawasi anak ini. Aku belum melihat kekuatan dari anak ini. Dia tipe anak yang tidak suka mencari masalah—mungkin karena masih baru. Hari pertama ospek, aku melihat Sandi dihajar oleh Danis dan Akbar. Dia tidak roboh, seperti teman-temannya. Kuat juga fisiknya. Tapi aku belum bisa melihat kekuatan sebenarnya dari Sandi, karena dia tidak melawan. Hari kedua ospek, kulihat lagi dia dihajar Bobby dan Rudi. Dia tidak melawan juga. Tapi yang kulihat, dia tetap berdiri santai dan tegap. Sengaja aku berpesan kepada anak-anak kos, kalau Sandi dihukum sama panitia lain, segera ambil alih—jangan sampai dia dibawa ke markas keamanan. Bagaimanapun juga Sandi satu kos denganku. Bukannya aku mau pilih kasih, tapi nggak enak aja kalau ada anggota kosku yang diseret panitia lain, apalagi sampai dibawa ke ruang keamanan. Pasti aku tidak terima. Tapi kalau anak kosku sendiri yang ambil alih menghukum Sandi atau membawanya ke ruang keamanan, aku lebih terima. Hari ini hari ketiga. Aku melihat Alan dan segerombolan anak panitia keamanan membawa beberapa orang maba—termasuk Sandi di dalamnya—yang rata-rata anak Mesin dan anak Sipil, ke gedung belakang. Wah.. kelihatannya ada kejadian menarik, nih. Aku lalu mengajak Bung Toni, Wawan, dan Bendu ke lantai dua gedung belakang. Bener saja dugaanku. Di belakang ini anak-anak maba dibagi dua, saling berhadapan. Anak maba Sipil berempat termasuk Sandi, dan anak maba Mesin berjumlah enam orang. Duel pertama dimenangkan anak Sipil. Begitu juga duel kedua dan ketiga. Untuk yang ketiga ini agak menarik—itu kan Aldo, adiknya Bendu. Dia menghajar sekali saja lawannya tepat di dagunya, langsung tumbang. Hebat juga adiknya Bendu ini. Aku menengok Bendu—dia tersenyum bangga sambil menepuk dadanya. Duel keempat inilah yang kutunggu, karena anak Sipil tinggal Sandi yang belum berduel. Anak Mesin maju ke tengah, tapi Sandi tidak maju. Dia tetap di posisinya. Sampai anak Mesin itu mendatangi dan menghajarnya berkali-kali sampai dia tumbang—dia tidak melawan. Ada apa ini? Dia diseret ke tengah dengan pasrah, lalu didudukkan. Setelah itu dihajar hidungnya sampai rebah ke belakang. Dia pun tidak melawan. Kulihat darah mengalir dari pelipis, hidung, dan bibirnya. Aneh, ini anak. Dan satu tendangan membuat Sandi terkapar dan tidak bangun lagi. Aku pun meninggalkan ruangan lantai dua gedung ini dengan emosi, diikuti teman-temanku. Aku nggak mau lihat kondisi Sandi yang babak belur karena tidak melawan. Kamu nggak punya nyali, kah, San..? Nggak mungkinlah. Pasti ada yang kamu sembunyikan dan tidak kamu keluarkan. Aku hanya menggeleng. Aku masuk ke dalam ruang keamanan, dan Alan masuk menghampiriku, bercerita tentang kejadian duel tadi. Aku diam dan mendengarkan. Alan mengira aku tidak melihat kejadian itu. Tidak berapa lama, kulihat Sandi masuk ke dalam ruang keamanan. Kelihatannya pelipisnya masih berdarah dan hidungnya merah, sedangkan di bibirnya sudah kelihatan bersih dari darah. Kenapa dia sampai dibawa ke sini? Harusnya setelah duel dia diamankan. Kurang ajar. Kami kecolongan. Saat Raimond sibuk sebagai coordinator, anggota kosku yang lain di sini tidak ada satu pun yang mengawasi di luar. Tapi ya sudahlah—kulihat aja nanti apa yang terjadi. Siang ini ada Mas Pandu, Mas Arief, Mas Adam. Mereka adalah senior kami di kampus dan di kos. Mereka berjuluk singa tua karena sudah belasan tahun kuliah tapi belum lulus. Mereka adalah bajingan di jamannya. Dan juga ada beberapa angkatan Mas Pandu yang sudah lulus hadir di ruangan ini untuk sekadar berkumpul dan minum bareng. Di depan ruangan, anak-anak maba dikumpulkan. Tiba-tiba Udin dan dua orang kaki tangannya maju dan meminta izin kepada kami untuk memberi pelajaran kepada para maba yang bermasalah di depan. Udin dan kedua temannya ini satu angkatan denganku. Mereka berambisi ingin menguasai kampus, sempat membuat ribut dengan menantang serta mengalahkan beberapa bajingan di kampus. Mereka pernah datang ke kosku dan menantang kami semua. Aku yang ingin maju ditahan oleh Bung Toni—katanya biar dia yang urus bajingan ini. Bung Toni, Wawan, dan Bendu maju menghadapi mereka bertiga. Pertarungan lumayan sengit. Mereka duel satu lawan satu di tengah ruangan yang biasa jadi tempat kami berkumpul di kosan. Bung Toni, Wawan, dan Bendu sempat agak kewalahan dengan lawan masing-masing, tapi mereka bisa menjatuhkan dan membuat pingsan Udin dan teman-temannya. Mulai saat itu, mereka sudah tidak berani lagi membuat ribut di kampus. Dan hari ini mereka sepertinya ingin menunjukkan kekuatannya lagi di depan mahasiswa baru. Mereka menghajar satu per satu mahasiswa baru di depan kami membabi buta. Aku diam memperhatikannya, dan menghentikan acara pesta kami. Dia menghajar semua maba sampai roboh—kecuali satu: Sandi. Walaupun tadi dia sempat duel di bawah dengan anak Mesin dan berdarah-darah, dia tetap berdiri dan tidak roboh. Benar-benar gila fisik anak ini. Aku makin penasaran sama dia. Kenapa dia bisa sesabar itu tanpa melawan orang yang sudah menghajarnya? Kulihat teman-teman sudah mulai emosi melihat Sandi dihajar dan tidak melawan. Alan berdiri dan mau maju tapi ditahan oleh Mas Pandu. Teman-teman yang lain juga ditahan oleh Mas Arief dan Mas Adam. Kulihat ke depan, Udin terus menghajar Sandi. Dia tidak melawan—hanya mundur, menghindar, dan sedikit melindungi wajahnya dari pukulan Udin. Darah mengalir dari pelipis dan mulut Sandi. "Lawan, San.. lawan.. masa kamu diam aja dihajar begitu.." ucapku dalam hati. Setelah memukul Sandi, Udin mundur dan berteriak agar semua maba membuka pakaiannya. Semua maba mengikuti perintahnya—kecuali satu orang. Lagi-lagi Sandi yang membuat Udin marah. Dia mendekati Sandi dan memaksanya membuka pakaian. Sandi tetap diam dan sempat tersenyum mengejek Udin. Bajingan, memang, anak satu ini. Mulutnya berdarah tapi masih sempat tersenyum. Udin memegang kerah baju Sandi dan menariknya. Tapi Sandi tetap tidak mau membuka pakaiannya. Udin pun sampai kehilangan akal. Dia marah lagi, dan selanjutnya— Udin memukul rahang Sandi. Kulihat tambah banyak darah mengalir di bibir Sandi. Lalu Udin menyeret kerah baju Sandi, memutarnya ke kanan dan ke kiri. Gila, Sandi tetap diam. Dia menantang dan berteriak ke wajah Sandi. Sampai pada saat Udin berkata: "WOIII ANAK TOLOL! LAWAN AKU! BISA-BISANYA ADA PEREMPUAN YANG MELAHIRKAN BANCI KAYAK KAMU!" Kulihat wajah Sandi langsung berubah. Kelihatannya dia tidak terima dengan perkataan Udin yang memakinya sambil membawa nama ibunya. Wajahnya berubah menjadi menakutkan. Matanya merah. Giginya mengerat. Tangannya mengepal. Emosi sudah menguasai dirinya. Dia sempat memejamkan mata. Setelah itu dia membuka matanya dan meneteskan air mata. Bangsat—kenapa dia menangis? Atau jangan-jangan itu ekspresi emosinya yang memuncak? Aku menatap tajam sambil menunggu apa yang terjadi kemudian. Pada saat Udin akan memukul lagi— BUUGGGHHHHH— Udin roboh ke belakang dan kejang-kejang menyentuh lantai. Dia memegang dadanya sambil berguling-guling. Darah segar keluar dari mulutnya. Gila. Ini gila. Orang yang sempat berkelahi dan merepotkan Bung Toni dalam duel satu lawan satu, roboh dengan satu tendangan ke dada. Padahal Bung Toni punya pukulan dan tendangan yang cukup mematikan, dan Udin bisa bertahan. Tapi dengan Sandi—satu tendangan saja sudah roboh. Gila. Jiwa bajingannya benar-benar keluar dari tubuhnya. Kenapa dari bawah tadi kamu nggak hajar lawanmu, San? Aku sempat berpikir bahwa kamu nggak punya nyali. Tapi sekarang—kamu membuktikan keraguanku tadi. Dua orang teman Udin maju menyerang Sandi. Satu uppercut tepat mengenai rahang—roboh, berdarah, dan pingsan. Satu lagi ditendang balik di wajah—roboh juga, dengan hidung patah dan berdarah. Kami semua kaget melihat kejadian barusan. Teman-teman kos Pondok Merah saling pandang. Aku tahu mereka juga kaget dan heran melihat perubahan Sandi—yang awalnya santai, langsung berubah menjadi penuh aura menyeramkan di wajahnya. Ternyata Sandi bukan anak biasa yang lugu, yang mudah tersenyum dan sopan seperti yang biasa terlihat. Sandi benar-benar emosi. Dia sempat berteriak dan berkata muak dengan acara ospek ini. Dia berjalan hendak keluar ruangan. Mas Pandu berdiri dan memberi tepuk tangan, lalu langsung menahan Sandi dengan menantang adu pukul—Sandi tiga pukulan, dan Mas Pandu cukup satu pukulan. "Jangan, San.. jangan kamu terima tantangan Mas Pandu.. dia orang gila.." ucapku dalam hati. Teman-teman juga khawatir Sandi menerima tantangan Mas Pandu. Mas Pandu ini orang gila. Fisiknya kuat, tahan pukul, dan pukulannya sangat mematikan. Aku dulu sempat merasakannya. Sebelum masuk ke kosan Pondok Merah, aku sempat berkelahi dengan Mas Pandu. Aku diundang ke kos merah, dan ditantang duel oleh Mas Pandu. Karena jiwa mudaku yang masih gampang terbawa emosi, aku terima tantangannya dan berduel satu lawan satu. Aku memukul Mas Pandu dan menendang sekuat tenagaku—dia tidak roboh, dia tetap berdiri. Dia membalas satu kali saja pukulan di rahangku. Aku roboh dan pingsan. Aku sempat dirawat satu minggu akibat pukulan itu. Pernah juga aku dengar kabar dari pendahuluku: Mas Pandu pernah dikeroyok kumpulan preman-preman kota ini. Dia dikeroyok dua puluh orang—dan dia berhasil mengalahkan semua, membuat musuhnya tersungkur dan terkapar. Kembali ke Sandi. Dia merasa diremehkan dengan tantangan Mas Pandu, dan dia menerima tantangannya. Tanpa banyak kata— BUUGGGHHHHH— Sandi memukul Mas Pandu di rahang. BUUGGGHHHHH— Sandi menghajar Mas Pandu menggunakan lututnya, tepat di dada. Mas Pandu tetap santai dan berdiri. Tidak berkurang sama sekali ketahanan tubuh Mas Pandu dari dulu. Dia kuat sekali—padahal dia sudah lama tidak bertarung. Sandi yang sudah emosi mencoba memanfaatkan sisa satu kesempatan dengan berlari sambil menendang kepala Mas Pandu: BUUGGGHHHHH— Mas Pandu sempat goyang sedikit, tapi berdiri tegap lagi dan menatap sambil tersenyum ke Sandi. Sandi kaget—tiga serangannya tidak membuat Mas Pandu roboh. Belum sempat dia siap dengan serangan Mas Pandu— BUUMMMMMM— Sandi langsung roboh dan pingsan. Mulutnya kembali mengeluarkan darah. Mas Pandu memukul rahang kiri Sandi dengan kuat dan tepat. Kami semua sudah menduga akan begini akhirnya. Mas Pandu lalu memanggil panitia keamanan untuk membawa Sandi dan tiga orang yang dirobohkan Sandi ke ruang kesehatan. Mas Pandu memanggilku dan menyuruh mengumpulkan anak kos Pondok Merah di ruang belakang. Kami berjalan ke ruang belakang dengan perasaan yang masih bertanya-tanya—bagaimana Sandi yang tadinya tidak mau melawan saat duel di bawah sekarang malah bisa merobohkan tiga bajingan kampus yang lumayan kuat dengan serangan yang mematikan? Dan aku juga bingung bagaimana kondisi Sandi sekarang, yang roboh dihajar Mas Pandu. Kami semua anak kos telah berkumpul di ruang belakang—kecuali Sandi yang dibawa ke ruang kesehatan. Mas Pandu kelihatan pucat. Aku menduga mungkin pengaruh minuman dan kurang istirahat. "Sudah berkumpul semua, ya.." ucap Mas Pandu sambil menarik napas dalam-dalam. "Iya, Mas.. sudah berkumpul. Sampean kurang istirahat, ya, Mas? Sampean kelihatan pucat, Mas.." ucapku kepada Mas Pandu. Dia hanya mengangkat tangannya padaku tanpa menjawab pertanyaanku, seolah menyuruhku diam. "Instingmu memang benar tentang Sandi.. dia anak yang kuat.. nggak salah kamu izinkan dia jadi bagian keluarga besar kita.." ucap Mas Pandu agak gemetar. Tiba-tiba— Uuuweeekkkkk— Mas Pandu muntah darah! Gila.. apa ini pengaruh serangan Sandi tadi? Kami mencoba menahan Mas Pandu, tapi dia tetap menyuruh kami untuk diam di tempat. "Padahal tadi aku main-main saja menantangnya.. tapi mungkin dia terlanjur emosi dengan kejadian sebelumnya.. pukulan dan tendangannya sangat keras.. belum pernah aku mendapat serangan seperti tadi.. sebenarnya aku mau roboh.. tapi aku malu di depan seluruh panitia keamanan.. kalau di depan kalian saja nggak pa-pa.." "Efek serangannya bukan hanya pada saat di dalam ruangan tadi, tapi pada saat aku berjalan ke sini dan duduk di sini.." ucapnya pelan. Darah terus mengalir dari mulut Mas Pandu. "Rendi, tugasmu mengontrol emosi Sandi. Sebenarnya kalau dia tidak emosi berlebihan, dia tidak mungkin pingsan. Dia pasti kuat menahan pukulanku. Fisik anak itu kuat.." Mas Pandu menarik napas dalam-dalam. Tiba-tiba Mas Pandu tersungkur ke depan. Kami semua panik melihat Mas Pandu pingsan. "Adam, cepat ambil mobilmu ke sini! Kita bawa Mas Pandu ke rumah sakit! Rendi, kondisikan senior-senior semua, jangan sampai ada balasan ke Sandi dan kema-hasiswa baru! Raimond, kamu kondisikan mahasiswa baru! Aku khawatir ada pergerakan dari mereka setelah tahu kejadian tadi! Jangan ada yang tahu kondisi Mas Pandu! Biar aku sama Adam yang mengurusnya! Nanti kita saling beri kabar! Oke.. sekarang bubar!" kata Mas Arief. cuukkk... sekuat itukah Sandi Purnama Irawan..
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 10
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal