←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 12 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 12
BAGIAN 12 SENANG, SEDIH DAN BAHAGIA Kepalaku berdenyut dan matanya berat sekali untuk dibuka... apa aku mabuk? Tapi aku tidak minum hari ini... Aku membuka mata perlahan... uhhh... perih sekali, seperti ada yang menekan kedua pelipisku dari dalam. Aku di mana ini? Kulihat Mba Amel di sebelahku dengan wajah penuh kekhawatiran, menggenggam tanganku erat. Di sampingnya berdiri Alan, mereka sedang mengobrol pelan. "Teh... mana teh..." ucapku lirih. "Kamu sudah sadar, Pur... syukurlah..." Mba Amel menoleh kepadaku, kaget mendengar aku bersuara. "Kamu sudah sadar juga, San. Kamu memang gila," kata Alan, senyum lega tercetak di wajahnya. "Ada teh...?" tanyaku pelan lagi. "Asssuuu, kau anak muda. Teh aja yang dipikirnya," celetuk Alan. Aku cuma tersenyum. "Kalau ditanya apa jawabannya..." Mba Amel mengambil teh kotak dan menyerahkannya padaku dengan tangan kanan — sementara tangan kirinya masih memegang tanganku. "Ya sadarlah aku. Masa aku ngomong sambil tidur. Eh, Mba..." Aku melirik Mba Amel yang masih menggenggam tanganku. Dia juga kaget melihat ekspresiku dan buru-buru melepaskan pegangannya. Aku jadi malu sendiri di depan Alan. Aku bangkit dan duduk di kasur, menyandarkan punggung ke dinding. Aku meneguk teh kotak itu perlahan... ahh, segar sekali. "Jangan banyak gerak dulu, Pur. Nanti kamu pingsan lagi," ucap Mba Amel khawatir. "Aku ga pa-pa, Mba. Serius. Cuma tadi agak pusing, sekarang sudah enakan. Teh ini menyelamatkanku," jawabku. "Asssuuuu..." Alan menyahut sambil geleng-geleng. "Tapi kamu harus istirahat dulu, San," kata Alan. "Dibilangin ga pa-pa, kok. Mau aku berdiri, buka baju, buka celana, buka daleman, telanjang bulat, terus nari striptis di depan kalian dulu, baru percaya?" Candaku yang dulu pernah kusampaikan ke Lia itu kuulangi lagi di depan mereka berdua. "Kurang ajar. Sempat-sempatnya kamu mesum dengan kondisi seperti ini," ucap Mba Amel sambil tersenyum. "Bisa ayan aku kalau lihat kamu nari striptis sambil telanjang. Apa ga ulat bulu kecil kamu itu goyang-goyang? Hahaha..." Alan tertawa lepas. Mba Amel refleks memukul pelan lengan Alan karena candaannya. "Bajingan! Siapa yang bilang aku ulat bulu? Asssuuu!" "Sabar, Go. Alan becanda aja itu." "Kurang ajar. Untung dia jantan. Kalau betina, sudah kuludahi mulutnya." "Aasssuuu..." "Cuukkk, dibilang ulat bulu. Belum lihat punyaku kan, Lan? Ya kan, Mba?" ucapku sambil melirik Mba Amel. "Iya..." jawab Mba Amel. "Eh, kok iya? Kamu pernah lihat punya Sandi ya, Mel?" Tanya Alan kaget. "Eh, enggak! Mana pernah aku lihat. Kenapa kamu nanya aku begitu, Pur?" jawab Mba Amel terkejut. "Ya kenapa juga bilang iya tadi, Mba? Hehehe..." jawabku. "Asssuuu, kirain beneran sudah lihat. Bisa kalah start aku. Punyaku aja belum pernah dilihat siapa-siapa! Hahahaha..." Alan tertawa kencang. "Ngomong apa kamu itu, Lan? Iiiiissshhh..." sahut Mba Amel sambil mencubit Alan. "Aaa... sakit... ampun, Mel... ampun... lepasin cubitanmu..." Alan memelas. "Cubit aja terus, Mba. Alan memang gitu. Hahahaha..." Aku tertawa. "Mas Alan dipanggil Mas Rendi." Tiba-tiba seseorang membuka pintu dan masuk ke ruangan. "Oh iya. Aku tinggal ya, San. Biar Amel aja yang nemenin kamu. Bay, Mel..." Mas Alan langsung keluar. *** Selepas Alan pergi... "Aku di mana ini, Mba?" "Di ruang kesehatan. Kamu pingsan siang tadi." "Loh, emang sekarang jam berapa?" "Jam delapan malam." "Ha? Lama juga aku pingsan..." "Lumayan enam jam lah," kata Mba Amel. Dia menatapku dalam, lalu bertanya pelan, "Kenapa kamu bisa begitu, Pur?" "Begitu gimana, Mba?" "Ya... memukul tiga orang panitia keamanan?" "Ohh... mereka terlalu kurang ajar, Mba. Mereka memukulku seperti memukul bintang... dan mereka menghina ibuku," ucapku kesal. "Mereka bertiga sekarang dibawa ke rumah sakit, Pur. Gila kamu. Kondisi mereka parah." Lalu Mba Amel bercerita panjang. Suaranya tenang, tapi setiap katanya menusuk kepala dan jantungku. "Tadi keadaan kacau sekali di sini. Setelah kamu memukul panitia dan kamu dipukul sampai pingsan oleh senior, maba yang di ruangan keamanan langsung berlari ke lapangan. Mereka berkumpul dengan yang lain dan menceritakan kejadian itu. Semua maba langsung panas dan bersiap menyerang panitia keamanan." "Panitia keamanan ditarik ke ruangan mereka. Mereka berkumpul dan tidak terima atas tindakanmu yang memukul temannya. Mereka juga tidak terima mendengar maba berkumpul mau menyerang mereka. Mereka mau turun menyerang ke bawah, tapi langsung ditahan Mas Raimond dan Mas Rendi." "Sedangkan maba digiring masuk ke aula utama, ditahan oleh seluruh panitia yang bukan keamanan." "Bina damping disuruh menenangkan kelompoknya masing-masing." "Sahabatmu yang tiga orang tampak emosi betul... tapi aku yang merayu dan menenangkan mereka." "Lia yang dengar kabar itu langsung bertanya padaku sambil menangis..." "Efek kejadian tadi luar biasa panasnya." "Maba akhirnya dipulangkan lebih awal dan besok disuruh kembali pagi tanpa diberi tugas. Mereka harus datang, karena besok upacara penutupan ospek." "Sedangkan di ruang keamanan, Mas Rendi mengamuk. Dia menantang semua panitia keamanan yang mau menyerang maba. Belum pernah Mas Rendi mengamuk seperti itu. Dia berteriak sambil menunjuk semua panitia keamanan satu per satu. Seandainya ada satu saja yang maju... mungkin habis dihajar Mas Rendi." "Akhirnya semua bisa dikendalikan dengan kerja sama berbagai pihak." Mba Amel diam sebentar, lalu menatapku tajam. "Apa cuma itu alasanmu menghajar panitia tadi, Pur?" Aku kaget mendengar cerita Mba Amel barusan. Aku tidak menyangka efeknya sebesar itu. "Aku sudah menahan emosi sejak hari pertama, Mba... Waktu Mas Danis dan Mas Akbar menghajarku..." ucapku pelan. "Kamu tahu ada kejadian apa pagi hari di hari pertama ospek?" tanya Mba Amel. "Ga tau, Mba. Emang ada apa?" "Waktu kamu ditampar Mas Danis, ada satu panitia yang berlari ikut menghajarmu. Mas Danis tidak terima dan memukul anak itu sampai pingsan. Anak itu bernama Ari, anak mesin. Setelah kejadian itu, seluruh panitia anak mesin berkumpul tanpa terkecuali. Mereka ingin mencari Mas Danis dan mau balas dendam. Saat itu Bung Toni turun. Dia langsung berdiri di depan anak-anak mesin, menunjuk mereka satu per satu, dan berkata: 'Kalau kalian mau balas dendam ke Danis, silakan. Tapi harus duel satu lawan satu. Tunjuk siapa yang paling kuat di antara kalian. Saya akan bawa dia ke Danis, biar mereka duel berdua. Tapi kalau kalian main keroyokan... aku sendiri yang akan menghabisi kalian satu per satu.'" "Anak mesin tidak ada yang bergerak. Karena mereka tahu, yang berbicara ini bajingannya anak mesin. Apa yang diucapkan pasti dilaksanakan." "Akhirnya setelah dipertemukan, Mas Danis dan Ari berdamai dan saling memaafkan." Mba Amel melanjutkan, suaranya makin pelan, "Kamu tahu, Pur... Mas Rendi memerintahkan anak-anak kos Pondok Merah untuk menjagamu selama ospek. Jadi kalau ada panitia lain yang mau menghukummu, langsung diambil alih oleh anak-anak kos Pondok Merah. Mereka yang memukulmu dulu — biar panitia lain pergi dan tidak jadi menghukummu." "Mas Rendi juga berpesan pada yang lain, supaya kamu jangan sampai masuk ke markas keamanan." "Tapi tadi siang mereka kecolongan pas kamu digeret Mas Udin ke markas. Mereka tidak memprediksi hal itu... sampai kejadian tak terduga itu terjadi..." ucap Mba Amel pelan sekali. Cuukkk... begitu kah sebenarnya kejadiannya? Assuuu... aku terlalu berpikiran jelek tentang semua teman kosku. Mereka memukulku... supaya aku tidak dihukum panitia lain dan tidak dibawa ke markas keamanan... Aku spontan menjambak rambutku sendiri dengan kedua tangan — asssu, aku lupa rambutku gundul. Kepalaku pusing lagi. "Aku tidak menyesal kejadian memukul tiga orang itu, Mba. Yang membuatku menyesal... aku sempat tidak percaya sama teman-teman kosku," jawabku pelan. "Sudahlah, Pur. Yang sudah terjadi biarkan terjadi. Sekarang kamu istirahat aja," kata Mba Amel. "Oh iya, kalau begitu, Mba, aku mau balik ke kosan. Aku ngantuk, mau tidur," jawabku. "Kamu sudah ga pa-pa? Mendingan kamu tidur di sini." "Ngga, Mba. Aku balik kos aja." "Kalau gitu kamu tidur di kosku aja, Pur." "Aku ga mau terjadi apa-apa sama kamu..." Aku kaget mendengar ajakan Mba Amel. "Bang! Serius nihh... kita mau diajak tidur di tempat sisemok?" sahut Jago di kepalaku. "Diam aja kamu, Jago." "Jangan ditolak, bang, please... jangan ditolak..." Jago memelas. "Jangan, Mba. Aku ga enak sama Lia... dan aku juga ga enak sama Alan," tolakku. "Bang..." panggil Jago. "Sabar, Go," jawabku. "Lia tidur di tempat temannya selama ospek. Pasti malam ini dia tidur di sana lagi. Kalau soal Alan... santai aja. Aku dan dia berteman aja," jawab Mba Amel santai. "Tapi Alan suka kamu, Mba..." "Dia belum pernah nembak aku dan kami belum jadian. Kamu santai aja," ucap Mba Amel. "Pur, ini sudah jam dua belas. Anak-anak kosku pasti sudah tidur. Ayo..." ajak Mba Amel. Tidak terasa, kami sudah mengobrol sampai larut malam. "Beneran ga pa-pa, Mba?" Aku bertanya sekali lagi. "Cepat, ga pake lama..." Mba Amel menarik tanganku. "ASYIIIKK! KITA PESTA!" teriak Jago di kepalaku. *** Kami keluar dari ruang kesehatan dan menuju parkiran untuk mengambil motor Mba Amel. Kampus terasa sepi — kelihatannya banyak panitia yang sudah pulang, sebagian lagi berkumpul di sekretariat masing-masing. Tiba di kos Mba Amel, suasana sunyi. Aku yang memasukkan motornya ke garasi, sementara Mba Amel mengunci pagar kos. Kami berjalan masuk dan naik ke lantai dua. Kulihat kamar Lia di sebelah kamar Mba Amel tertutup... kangen juga aku sama dia. Beberapa hari ini tidak pernah ngobrol lagi. Tiba di kamar Mba Amel... "Aku mandi dulu, Pur. Gerah. Kalau mau minum, ambil sendiri. Ada teh kotak di meja," ucap Mba Amel. Dia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Aku memperhatikan kamar Mba Amel — isinya kurang lebih mirip kamar Lia. Byyurrr... byyurr... terdengar suara air dari kamar mandi, Mba Amel sedang mandi. Aku mengambil teh kotak, duduk di kursi sambil menyandarkan kepala. Hari yang panjang dan melelahkan. Aku teringat kejadian siang tadi... siapa lagi kalau bukan Mas Pandu. Orang itu sangat kuat — kuat terhadap pukulan dan kuat juga memukul. Buktinya dia tidak roboh walaupun aku menyerang tiga kali... dan dia membalas satu kali saja. Satu pukulan itu sudah cukup membuatku pingsan. Aku meraba pelipisku... rupanya ada perban. Baru sadar aku. Tiba-tiba Mba Amel keluar dari kamar mandi. Aku begah. Dia cuma memakai handuk yang dililit di dadanya. Bagian atas dadanya menyembul tertahan handuk, dan handuk itu sangat pendek — memperlihatkan paha putih montoknya yang penuh pesona. "Bang... mingkem, bang... jangan melongo..." kata Jago. "Mandi dulu, Pur. Pasti kamu gerah juga..." Aku berjalan ke arahnya dan melewatinya... Hmmmm... aroma tubuhnya wangi sekali. Aku merasakan Jago langsung berdiri tegak di dalam celanaku. Aku buru-buru masuk ke kamar mandi. Tiba-tiba... TOK TOK TOK... Kamar mandi itu diketuk dari luar. Suara Mba Amel. "Jangan dikeluarin di kamar mandi ya, Pur... keluarkan di tempatnya aja... hihihi..." Suara itu membuat gairahku langsung meledak. Aku diam, tidak menjawab. "Bang... tanda-tanda itu, bang. Aku harap malam ini kamu jadi laki-laki yang bertanggung jawab terhadap 'kemaluannya', bang..." ucap Jago. "Oke... tapi kamu jangan berisik dan jangan ganggu konsentrasiku." "Deal, bang." Aku pun menggenggam batang Jago sebagai tanda persetujuan. *** Setelah keluar dari kamar mandi, kulihat Mba Amel sudah memakai daster sangat pendek, duduk manis di kasurnya. "Ternyata kamu masih mesum ya, Pur? Hihihi..." ucapnya sambil tersenyum nakal. "Kamu tidur di kasur aja bareng sama aku, ya, Pur." "Kita langsung tidur aja. Sudah malam. Besok kita harus bangun pagi untuk ke kampus lagi." Mba Amel naik ke kasur dan merebahkan badannya di ujung kasur. Aku pun naik dan rebahkan badanku di sebelahnya. Aku melirik ke samping — Mba Amel memunggungiku. Pundaknya putih bersih... pikiranku melayang ke mana-mana. TIK...TOK...TIK...TOK... 15 menit. TIK...TOK...TIK...TOK... 30 menit. TIK...TOK...TIK...TOK... Sudah 45 menit aku berbaring di sini dan aku tidak bisa tidur. Nafsuku jauh lebih besar dari rasa kantuk. Ingin sekali aku tarik Mba Amel dan langsung mencumbunya... tapi aku takut dia bangun, marah, dan mengusirku. Tiba-tiba Mba Amel membalik badannya menghadapku. Dari posisi ini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Cantik dan seksi. Bibirnya tipis dan merah. Buah dadanya tergencet seperti mau keluar dari dasternya — ada cetakan puting yang menonjol di sana. Mba Amel tidur tanpa bra. Dan di bawah sana... dasternya naik ke atas, hampir sampai pada batas kemaluannya. Tangannya tiba-tiba merangkul dadaku. Mba Amel menggeser badannya sedikit ke arahku — tapi matanya tetap terpejam. Begitu dekatnya posisi kami sekarang. Nafasnya yang pelan dan teratur terdengar jelas olehku. Tangan kirinya memelukku, dadanya menempel di lenganku, wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku sudah tidak kuat lagi menahan gejolak nafsuku. Aku pegang dagunya perlahan, hati-hati, takut dia bangun. Perlahan kudekatkan wajahku... "Mba... sudah tidurkah..." bisikku pelan, untuk memastikan. Tidak ada jawaban. Maka kudekatkan lagi wajahku... dan kukecup bibirnya. Pelan sekali... takut dia terbangun. Kulihat tidak ada reaksi. Kukecup lagi bibirnya... perlahan, bibirnya sedikit terbuka. Aku kecup lebih dalam... pelan tapi pasti, kucium bibirnya sambil memainkan lidahku di bibirnya. Lalu kulepas lagi untuk mengamati reaksinya — aku takut dia terbangun dan mukaku dicakar. Kudekatkan lagi bibirku, dan kucium pelan bibirnya lagi. Mungkin cuma ini yang berani kulakukan sampai detik ini... tapi nafsuku sudah naik sampai ke ujung kepala Jago. Aku menginginkan lebih. Tanganku mulai naik ke dadanya... kuremas perlahan dari luar dasternya. Lembut sekali... aku menikmati setiap remasanku. Dan saat aku hendak mencium bibirnya lagi... "Kurang dalam masuknya lidahmu, Pur..." Mba Amel tiba-tiba membuka mata dan menatapku lurus-lurus. Jancuuukkk... aku kegab! Mati aku! Assuuu... assu! "Mba Amel, su... sudah bangun..." aku gugup, bingung setengah mati. "Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu di sebelah gelisah terus? Belum lagi pas aku berbalik, kamu cium bibirku. Ini tanganmu aja masih di dadaku. Emang aku bisa tidur kalau dimesum seperti ini?" ucap Mba Amel. Aku kaget dan buru-buru mengangkat tanganku yang masih meremas buah dadanya. Iiiiaaaa... aasssuuu... "Ma... maaf, Mba... aku..." "Banyak omong kamu, Pur..." Mba Amel langsung naik ke atas tubuhku. Kedua tangannya memegang wajahku, lalu dia menciumku dengan ganas. Bibirku dilumat. Lidahnya masuk ke dalam mulutku, saling menjilat, saling menarik. Segera kupeluk Mba Amel. Aku meraba punggungnya dari atas sampai ke bawah, lalu kuremas bongkahan pantatnya yang semok itu. "Hemmm... ahh..." Mba Amel mendesah saat aku meremas pantatnya. Dia menatapku dengan mata sayu... lalu duduk tepat di atas Jago yang sudah berdiri tegak sempurna. Kemaluan kami menempel, terhalang celana kainku. Rupanya Mba Amel tidak memakai celana dalam — aku tahu, karena aku sempat melihat ke bawah: ada rambut-rambut tipis halus di sana. Tanganku diarahkannya ke dadanya. Kuremas perlahan, kuputar-play putingnya dari luar daster. Dia mendongak ke atas menikmati setiap remasanku, sambil menggesek-gesekkan memeknya di atas Jago yang tertutup kain celana... Dia meloloskan dasternya ke atas — cuukkk... putih bersih badannya. Nenennya lumayan besar dan putingnya kecil berwarna coklat kemerahan. Dia sudah telanjang bulat di atas tubuhku. "Curang kamu, Pur. Kamu masih pakai baju dan celana..." ucap Mba Amel. "Kalau aku itu gampang, Mba. Yang penting Mba puas dulu. Mba tidur aja dulu... diam, ya, Mba..." rayuku. Kurebahkan Mba Amel ke samping. Aku duduk di sampingnya. Kuremas pelan buah dadanya dengan tangan kiri, sementara tangan kananku mengelus perutnya. Aku memainkan puting dan pusarnya bersamaan — dia menggelinjang. Tangan kananku lalu turun perlahan, membelah bibir memeknya... basah sekali di bawah sana. Aku mengelus sampai ke klitoris, memainkannya naik-turun dengan jari tengahku. Tangan kiriku tetap bermain di putingnya. Bibirku menyusuri perutnya, menjilat naik ke atas, lidahku bermain di sekeliling buah dadanya. Pelan tapi pasti, jilatanku terus naik sampai ke ujung putingnya. Kujilat dan kukulum putingnya, kuhisap pelan, lalu kukulum lagi, kupermainkan putingnya di dalam mulutku dengan lidah. Tangan kananku tetap bermain di klitorisnya. Kurasakan nafas Mba Amel makin berat. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku menjilat lagi tubuhnya sampai ke perut, menjilat sekitar pusarnya... Tangan kiriku meremas dan memelintir pelan putingnya. Mba Amel menggelinjang hebat — putingnya mengeras, pinggulnya terangkat... dan jari tengahku masuk makin dalam ke dalam memeknya. Tangannya meremas selimut dengan keras... Sreeet.. sreett.. sreettt.. ah.. ah.. ah.. ah.. ah.. Mba Amel mencapai puncak kenikmatannya untuk yang kedua kalinya. Tubuhnya mengejang hebat, pinggulnya terangkat, dan cairan kenikmatan menyemburkan deras dari memeknya, membasahi kasur di bawahnya. "Aku pipis, Pur... ahhhhhh..." erangnya sambil menurunkan pinggulnya ke atas kasur. Kulepaskan tanganku dari memek dan putingnya, lalu kurebahkan diriku di sampingnya sambil menghadap ke arahnya. Matanya masih merenung ke langit-langit kamar, menikmati sisa-sisa squirt yang baru saja menghantam seluruh tubuhnya. Nafasnya terengah-engah naik turun tak beraturan. Wajahnya memerah padahal malam ini udara begitu dingin. Badannya basah oleh keringat. Kubiarakan dia mengatur nafasnya sejenak. "Gila... gila... barusan itu namanya apa ya...? Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini, Pur. Pertama kalinya aku menikmati ini. Kamu memang gila..." ujarnya sambil menoleh ke arahku, dadanya masih naik turun. "Kamu belum dapat ya, Pur?" tanya mba Amel lirih. "Yang penting mba menikmati. Kalau aku mah gampang," jawabku sambil mengecup pelan bibirnya yang masih basah. Setelah dia cukup tenang, aku naik ke atas tubuhnya dan bertumpu pada kedua lututku. Mba Amel menarik bajuku ke atas—dan dia terkejut. "Kenapa, Mba...? Ga suka dengan tattoku?" ucapku pelan. "Engga, Pur. Badanmu seksi dan kekar. Dan tattomu bagus sekali..." jawab mba Amel sambil menatap sosok tubuhku. Aku menatapnya dalam-dalam, lalu tanganku menangkap kedua buah dadanya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya—dan dia menyambar bibirku dengan ganas. Lidahnya bermain di bibir luarku, lalu menyelinap masuk ke dalam. Kami saling melumat, saling bertarung lidah, berciuman dengan air liur kami yang sudah menyatu jadi satu. Kulepas ciuman itu. Mba Amel menarik nafas panjang, lalu bibirku turun ke dadanya. Lidahku kembali bermain di puting kanannya, sementara tangan kananku meremas dan memilin puting kirinya. Bergantian kumainkan kedua teteknya sampai dia mengerang-erang kecil. Lalu aku turun ke bawah. Kuangkat pinggulnya, kuganjal dengan bantal, kakinya kuangkat dan kutaruh di pundakku. Di depanku terpampang jelas memek mba Amel, ditumbuhi rambut tipis yang rapi. Kubuka belahan memeknya—bersih dan merah merona. Aku jilat klitoritisnya, dan dia langsung menahan nikmat sampai pinggulnya terangkat dari kasur. Terus kujilat, lidahku menjilati seluruh belahan memeknya, lalu kumasukkan lebih dalam ke dalam memek mba Amel. Jilatanku turun sampai ke lubang pantatnya. Dia mengangkat kepalanya, meremas rambutku, mendesah panjang. Sambil kujilati lubang pantatnya, tanganku naik ke dadanya, memainkan kedua puting mba Amel secara bergantian. Kembali kujilati belahan memeknya. Tubuhnya mulai mengejang lagi. Memeknya berkedut-kedut. Kuangkat kepalaku, kusentuhkan jari tengahku pada memeknya, dan kumainkan klitoritisnya dengan cepat. Dia menjerit menahan nikmat... Sreeet.. sreett.. sreettt.. ah.. ah.. ah.. ah.. ah.. Dia squirt untuk kedua kalinya. Air memeknya memancar deras seiring tubuhnya yang bergetar hebat. Matanya melotot, menahan diri supaya tidak berteriak keras-keras. Aku mundur sebentar dan menatapnya. Memejamkan mata, keringat membasahi seluruh tubuhnya, nafasnya kembali tak beraturan. Aku berdiri, meninggalkan mba Amel yang masih terkapar terlentang. Dia menatapku, dadanya naik turun, belum sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Aku mengambil sisa teh kotakku dan kuminum habis—aku haus sekali. "Boleh rokok kan, Mba?" tanyaku pelan. Mba Amel mengangguk dari atas kasurnya. Kubuat rokok dan kuhisap pelan. Kulihat jam dinding—sudah pukul dua pagi. "Bang..." Jago memanggilku dari dalam celana. Kuelus pelan kepalanya dari balik kain. "Kita lanjutin di kamar mandi aja yo," ucapku kepada Jago. "Assuuu kamu, Bang! Kamu sudah dapat bibir, dapat nenen, sudah jilatin betinanya yang harusnya jadi bagianku! Masa giliran aku harus berhenti dan lanjut ke kamar mandi?! Bajingan kamu, Bang!" Jago mengamuk dari dalam celana. "Hehehe... engga, engga. Aku bercanda. Itu ucapan terima kasihku karena kamu dari tadi diam dan tidak berisik. Nanti kita selesaikan betina itu. Sekarang biarkan dia istirahat sebentar, setelah itu baru kita lanjutkan." "Nah, begitu dong, Bang!" Setelah rokokku habis, aku mendekati mba Amel yang masih terlentang dan duduk di sebelahnya. Dia memiringkan tubuhnya ke arahku. "Gila... baru lidah dan tanganmu saja aku sudah KO dua kali. Belum lagi ini yang main..." Mba Amel meremas Jago dari luar celanaku. "Auuu... auuu... mantaap!" Jago menggonggong seperti serigala. "Kalau kamu bicara dan berisik sekali lagi, aku hentikan permainan ini," ancamku pada Jago. "Eh iya, Bang, iya Bang. Lanjutlah, Bang." "Jadi diam dan nikmati saja," ucapku. "Aku buka ya..." kata mba Amel. Dia turun dari ranjang dan berjongkok di depanku. "Sekarang giliranku. Kamu diam dan nikmati," ujarnya sambil menatapku. Aku langsung berdiri. Dia membuka ikat pinggangku dan menurunkan celana panjangku, lalu mengelus pelan Jago dari luar celana dalamku. Setelah itu dia menariknya ke bawah—dan dia begitu kaget, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Apa... apa ini bisa masuk ke memekku, Pur?" ucap mba Amel seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di depan wajahnya, Jago berdiri penuh gagah, menebar pesona. Dia tersenyum dengan mesranya. "Mba Amel belum pernahkah?" ucapku sambil duduk kembali, kuangkat dagunya supaya dia memandangku. Sebenarnya aku tahu dia sudah tidak perawan—soalnya tadi jari tengahku masuk dengan bebas tanpa merobek selaput apa pun. Cuma aku memancingnya saja. "Sudah... tapi baru sekali. Dan ini terlalu besar dan berurat-urat. Aku takut..." ucapnya ragu. "Kalau gitu jangan, Mba. Aku ga mau memaksa," ucapku sambil tersenyum, lalu berdiri dan menarik celanaku ke atas. Tangannya menahanku. "Jangan dong... aku takut bukan berarti ga mau..." Dia menurunkan celanaku lagi. Kali ini benar-benar dilepaskannya dan dibuangnya ke kursi. Kini aku telanjang bulat di hadapannya. Jago dipegangnya dengan sedikit gemetar. Kulihat jarinya yang mungil—lingkar jarinya bahkan tidak cukup untuk memegang penuh batang Jago. Dia mendekatkan kepala Jago ke wajahnya. Dijilatnya perlahan, kepala kontolku masuk ke mulutnya. Mulutnya mengelembung besar karena kepala Jago di dalamnya. Dimasukkannya perlahan, naik turun... ahhhh, nikmat sekali. Sempit sekali lubang mulutnya—apalagi nanti lubang memeknya. Dikeluarkannya kepala Jago, dijilatnya lagi, lalu turut menjilati batangkontolku... uhhhh, nikmat sekali... sambil meremas Upin dan Ipin di bawah sana. "Duduk dong, Pur..." perintah mba Amel. Aku duduk di pinggir kasur, dan mba Amel berjongkok di bawah. Dikocoknya Jago naik turun, diludahinya kepala kontolku sampai licin, lalu dikocok lagi. Dia mengocok sambil menatap wajahku—tangan kanannya mengocok, tangan kirinya meremas Upin dan Ipin. Cuukkk... coba bayangkan dikocok sambil bertatapan mata... sensasinya luar biasa! Mba Amel melakukannya sambil tersenyum menggodaku. Kupegang kedua pipinya, kulumat bibirnya. Aku benar-benar nafsu setengah mati. Lalu mba Amel mendorong tubuhku sampai terbaring di kasur. Dia menundukkan kepalanya di bawah, mengulum Upin dan Ipin secara bergantian, tangannya tetap mengocok Jago. Cuukkk... ini handjob paling nikmat yang pernah kurasakan seumur hidup. Aku mengangkat pinggulku saking nikmatnya. Kelihatannya mba Amel ingin membalas dendam atas permainan lidah dan jariku di memeknya tadi. Dilepasnya kuluman pada Upin dan Ipin. Kali ini... dia menjilat lubang pantatku. Gilaaaaa... nikmat banget! Sensasinya luar biasa, cuukkk! Dia bahkan mencoba memasukkan lidahnya lebih dalam ke dalam lubang pantatku. Setelah puas, dia kembali mengulum Jago. Dimasukkannya ke dalam mulutnya, lebih dalam lagi, sampai separuh batang Jago hilang di antara bibirnya. Kulihat matanya sudah berkaca-kaca, tapi dia ingin menelan seluruh batang Jago. Aku sudah tidak tahan. Mba Amel tersedak—he cannot memasukkan seluruh batang Jago—dia hampir muntah. Aku sudah tidak tahan lagi. Kutarik tangannya supaya berdiri, kuhapus air matanya yang mengalir karena tersedak, lalu kukecup bibirnya. Kutidurkan dia di kasur, dan kini aku berdiri di antara kedua paha mba Amel. "Pelan-pelan ya, Pur..." pinta mba Amel. "Oke. Kalau ga kuat, ngomong ya. Aku akan hentikan," ucapku sambil memegang batang Jago. Kugesekkan perlahan Jago pada belahan memek mba Amel. Dia mendesah. Aku terus menggesek perlahan sampai cairan hangat mulai keluar dari memeknya. Lalu kumasukkan kepala Jago perlahan. Matanya melotot menahan badannya. Kubererhkan sebentar dengan posisi kepala Jago sudah masuk agak dalam di memeknya. "Gimana... lanjut?" tanyaku pada mba Amel. Dia mengangguk pelan. Sebelum kulanjut, kupegang batang Jago dan kugesekkan naik turun di lubang sempitnya. Mba Amel menggelinjang. Setelah itu kutekan perlahan sampai separuh batang Jago masuk. Sempit sekali di dalam sana—Jago benar-benar dijepit oleh dinding memek mba Amel. Remasannya sangat kuat, hangat, dan lembab. Kulihat nafas mba Amel tak beraturan, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Kubererhkan sebentar, biarkan memek mba Amel beradaptasi dengan ukuran Jago. Kuremas dengan lembut kedua buah dadanya. Aku melakukan permainan ini seperti sedang main dengan seorang perawan. Kubungkukkan badanku, kujilati putingnya dan kuremas teteknya bergantian. Aku ingin dia benar-benar terangsang sampai cairan di bawah sana keluar banyak—aku ga ingin dia merasakan sakit saat Jago masuk sepenuhnya. Setelah menjilat dan menghisap putingnya, kupegang pipinya dan kulumat bibirnya. Mba Amel mendesah di antara ciuman kami. "Aku masukkan semuanya ya..." "Perlahan ya, Pur... ini masih terasa sakit..." pinta mba Amel. "Tahan ya, Mba, sedikit lagi..." Kulumat bibirnya dan kutekan masuk sisa batang Jago ke dalam. Mba Amel memekik dan melepaskan bibir kami. "Aaaahhhhhhh... gila... sakit, Pur! Sepertinya memekku mau sobek..." dia berteriak sambil mencakar-cakar punggungku. Perih sekali—punggungku terasa perih, dan Jago juga seperti kehabisan napas di dalam karena terlalu sempit. Kubererhkan lagi di dalam, merangsang mba Amel dengan meremas dan memilin putingnya, mengecup bibirnya berkali-kali. Perlahan namun pasti, kutarik sedikit Jago ke atas—hanya sedikit—lalu kutekan lagi masuk. Kuangkat sedikit, kutekan lagi. Mba Amel perlahan mulai mendesah kenikmatan, wajahnya mulai santai. "Gimana, Mba, sudah enak?" tanyaku. "Enak banget, Pur... kamu boleh goyang. Tapi jangan kasar. Aku ingin menikmati ini dengan perlahan," ucap mba Amel. Kucium bibir mba Amel, dan dia menyambutnya dengan liar. Lidahku ditariknya ke dalam mulutnya, menari-nari di sana. Sementara di bawah sana, aku menarik Jago sampai tersisa separuh, lalu menekannya masuk lagi. Menarik sampai hanya kepala Jago yang tersisa di dalam, lalu menekan masuk lagi. Kuulangi terus-terus gerakan itu. Mba Amel semakin liar goyangannya, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, desahannya tak putus-putusnya. "Aku mau keluar lagi, Pur..." ucapnya, matanya merem melek. "Sabar ya, Mba, sedikit lagi... aku juga mau keluar..." Kugoyang terus naik turun sambil meremas tetek mba Amel. Kali ini agak cepat, karena memek mba Amel sudah sangat basah, licin oleh air kenikmatan kami berdua. Ah... ah... ah... ah... ah... Kami mendesah bersaut-sautan. "Aku keluar, Pur... aku keluaaar..." Ahhhhh... Sreeet.. sreett.. sreettt.. Cairan mba Amel kembali memancar di antara batang Jago yang terus keluar masuk. Aku menegang, dan kutekan dalam batang Jago sampai ke pangkal. Aahhhhhhh... Crot... crot... crot... Semua isi perut Jago kucurahkan di dalam memek mba Amel. Kami berpelukan dengan nafas yang tak beraturan. Kubiarakan Jago tetap di dalam. Mba Amel memelukku erat, kakinya menahan pantatku supaya tetap di posisi ini. Setelah sama-sama tenang, kucabut pelan Jago dari memek mba Amel. PLLOOOPP... Kulihat Jago sudah mulai lemas, tersenyum puas, dengan sisa cairan kami berdua masih menempel di bibir kepalanya. "Mantab, Bang... kamu memang abangku yang paling ganteng. Terima kasih, Bang..." kata Jago. Aku langsung merebahkan diri di samping mba Amel. Memiringkan badan ke arahnya, kuusap lembut pipinya. Dia tersenyum menatapku. Kami saling mengecup bibir pelan-pelan. Kubelai rambutnya perlahan, dan dia menatapku lagi. "Kenapa dibuang di dalam? Harusnya kamu tanya dulu—aku bersedia atau tidak dititipi calon-calan sandi Purnama Irawan junior di rahimku..." tanya mba Amel dengan suara pelan. Kubelai rambutnya dan kukecup bibirnya. "Berani berbuat, berani bertanggung jawab," ucapku singkat. Dia mendorongku perlahan. Aku terlentang, dan dia memelukku dari samping, kepalanya bersandar di dadaku, tangannya mengelus dadaku. "Aku suka jawabanmu, Pur. Tapi ingat, kita melakukan ini dengan sama-sama sadar. Tidak ada yang memaksa dan dipaksa..." ucap mba Amel sambil menatapku, lalu mengecup daguku. "Kita melakukan ini dari awal tanpa perasaan apa-apa, kan? Kita hanya bersenang-senang, Pur?" "Ya... tapi aku akan bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi," jawabku singkat. "Aman, Pur. Aku sedang aman kok. Aku yakin tidak akan jadi. Aku sudah menghitungnya masak-masak," ucapnya. "Terus... aku harus gimana?" tanyaku. "Jalani hari-hari seperti biasa. Untuk saat ini kita berteman, dan tidak lebih. Ga tahu dikemudian hari..." Dia berhenti sebentar. "Aku tidak pernah menyesal melakukannya denganmu, Pur. Ini pengalaman yang luar biasa. Dan ingat, aku ga mau besok-besok kamu terlalu membawa perasaan saat bersamaku. Kita cuma teman." Aku diam, tidak menjawab. Kukecup perlahan keningnya sambil terus membelai rambutnya. "Nanti kamu keluar jam setengah lima, sebelum penghuni yang lain bangun. Kamu bawa saja kunciku—aku ada kunci serep. Jangan membangunkanku. Besok aku ga mau telat ke kampus. Aku sudah setel alarm jam enam." "Purnama..." "Ya, Mba?" "Terima kasih atas malam yang indah ini, ya..." ucapnya sambil memelukku dari samping. Sebelum tidur, ditariknya selimut menutupi tubuh telanjang kami berdua. Dia tidur di dadaku sambil memelukku. Perlahan, kudengar dengkuran halus dari bibirnya. Kukecup rambutnya. "Selamat tidur, bidadari malamku..." Kulihat jam—sudah pukul 03.30. Kubuat memejamkan mata sebentar... dan saat membuka mata lagi: 04.15. Aku kaget. Gila, padahal aku cuma memejamkan mata sebentar! Untung aku tidak kebablasan tidurnya. Kugeser perlahan mba Amel ke samping dengan hati-hati, jangan sampai dia terbangun. Duduk sebentar di tepi kasur, lalu masuk ke kamar mandi. Mandi dulu sebelum keluar dari kos mba Amel. Setelah bersih, kukenakan pakaian ospek yang dari kemarin aku pakai—masih ada bercak darah bekas perkelahianku kemarin. Kulihat sekilas ke arah mba Amel yang tidur nyenyak. Kudekati dan kukecup keningnya. "Aku sayang kamu, Mba..." Lalu kubenarkan letak selimutnya. Keluar dari kamar kos mba Amel dengan perlahan-lahan, takut membangunkan mba Amel dan penghuni yang lain. "Anak baru..." Tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak asing memanggilku dari kamar sebelah. Aku kaget. "Jancoookkk..." Aku berjingkat—jantungku rasanya copot dan jatuh sampai bergabung dengan Ipin dan Upin di bawah Jago! Mba Mery... dia memang anak kos sini, jadi ngapain aku kaget, ya... Dia berdiri di depan pintu kamarnya, mengenakan daster biru muda. Kutenangkan pikiranku dan mendatanginya. "Ya, Mba..." jawabku santai. "Kamu mau balik...?" Tanyanya sambil menatapku tajam. "Iya, Mba. Baru bangun, Mba?" tanyaku. "Baru bangun? Aku malah belum tidur," jawabnya. "Kenapa? Kangen sama Mas Rendi, ya?" aku bertanya—soalnya mereka beberapa hari ini tidak bisa ketemu karena Mas Rendi sibuk di kampus. "Jangan sok tahu kamu," jawab mba Mery. "Gimana aku bisa tidur kalau suara desahan kalian bersahut-sahutan," ucap mba Mery santai. "Oh iya... maaf mengganggu ya, Mba..." ucapku sesantai mungkin. Padahal deg-degan juga. Tapi terlanjur ketahuan, mau diapain lagi! "Ternyata bajingan lendir juga kamu, anak baru..." ucap mba Mery sambil tersenyum. Cuukkk... bajingan lendir... asuuu... Aku membalas dengan senyum kecut. "Ya udah, Mba, aku balik dulu. Mau ke kampus. Mau ospek..." pamitku sambil membalikkan badan menuju tangga. Aku ga mau lama-lama di sini—bukannya takut ketahuan, tapi aku ga enak kalau mba Amel kena masalah karena aku. "Heey, anak baru..." Mba Mery memanggilku dan mendatangiku. Kenapa sih mba satu ini... ga ngerti apa aku terburu-buru? "Ya, Mba..." jawabku. "Mau ngomong sendiri atau aku omongin?" tanyanya. "Maksudnya, Mba...?" tanyaku agak kesal. "Ke Rendi. Kamu mau ngomong sendiri atau kubocorkan? Kamu kan adek kesayangannya. Setiap bersamaku, dia selalu ngomongin kamu saja," jawabnya. "Terserah mba aja. Aku sih nyantai..." ucapku sambil menuruni tangga dan meninggalkan kos-kosan itu. Cuukkk... aku meninggalkan kos ini dengan perasaan yang berkecamuk—antara senang, sedih, dan bahagia...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 11
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal