←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 13 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 13
BAGIAN 13 HATI YANG GA BISA DITEBAK Aku sudah sampai di dekat kampus. Sepertinya masih sepi — kulihat jam di ponsel, pukul 05.05, belum ada kegiatan apa pun. Hanya beberapa maba yang nongkrong di depan gerbang, menunggu perintah selanjutnya dari panitia. Panitianya sendiri juga belum banyak terlihat, mereka baru mulai berdatangan di dalam kampus. Aku masuk lewat gang kecil menuju kos. Pengen istirahat sebentar dulu di kamar. Kubuka pintu kamarku, kulepas sepatuku, dan aku rebahan di kasur. Badanku masih terasa lemas — bekas kejadian kemarin di kampus, plus "pertempuran" semalam di kos bersama mba Amel. “Mba Amel… *Kenapa tiba-tiba terbayang di kepalaku? Bukan tubuhnya yang polos semalam yang terbayang-bayang… tapi senyumnya. Senyum yang membuat mataku susah terpejam.* *Tiba-tiba dia menari-nari di kepalaku, menjamah seluruh isinya, merasuk ke dalam kalbu yang sudah lama berdebu. Resah, gelisah, dan gundah aku di sini… apakah ini rindu? Entahlah. Tapi yang kumau sekarang cuma kamu…”* Assuuu… sok puitis cuukkk… ga isin ambe tattomu ta… Aku memejamkan mata. Kubuka mataku lagi — jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.45. Aku langsung bangkit, memakai sepatu, dan mampir ke kamar mandi untuk cuci muka. Setelah itu aku berangkat ke kampus. Wah, sudah ramai. Banyak maba berjalan masuk ke dalam kampus. Syukurlahhh aku ga telat… Hari ini ospek terakhir. Maba yang datang tidak ada yang dibentak atau disuruh berlari — mereka hanya diarahkan berkumpul di lapangan. Panitia keamanan pun hanya berjaga di gerbang kampus, sisanya menyebar ke arah lapangan. Beda jauh dengan kemarin, saat mereka sampai berpatroli keluar kampus dengan radius 300 meter. Aku melangkah masuk lewat gerbang dengan santai. Para panitia keamanan memandangku tajam, satu per satu. Aku berjalan sambil mengangguk dan tersenyum pada setiap panitia yang berpapasan denganku — tapi tidak ada satu pun yang membalas senyumku. Mereka cuma menatap. Kulihat mereka tersebar di beberapa titik, begitu juga teman-teman kosku yang menyebar di antara mereka. Di lapangan utama sudah berdiri panggung megah. Sepertinya disiapkan panitia untuk pesta penutupan bagi panitia dan maba setelah upacara nanti. Aku melanjutkan melangkah ke lapangan di gedung sebelahnya. Di sana, maba sudah banyak yang berkumpul. Aku berjalan menuju kelompokku — mereka membentuk lingkaran kecil dengan mba Amel di tengahnya. “Pagi, semua…” sapaku sambil tersenyum. “Asuuu… sudah sehat kamu, San!” Surya langsung berdiri, diikuti yang lain, dan langsung memelukku. “Masih hidup kamu, San? Hahaha!” Yuda datang sambil meninju pelan dadaku. Sedangkan Aldo, seperti biasa, cuma tersenyum dan mengacungkan jempol. “Kalau aku bisa jalan berarti sudah sehat dan masih hidup,” jawabku santai. “Maaf ya kejadian kemarin… aku bikin kemenangan kalian terasa hambar dengan kekalahanku. Antiklimaks ya.” “Cuukkk… koen kalah karo arek mesin tapi koen ngajar panitia keamanan cuukkk…” kata Aldo. *(Cuukkk, kamu kalah sama anak mesin tapi kamu menghajar panitia keamanan, cuukkk…)* “Telu maneh seng koen ajar, cuukkk… asssu… siji maneh koen ajar ento mba Amel seng semok, bonuse cuukkk…” *(Tiga lagi yang kamu hajar, cuukkk… anj*ng… satu lagi kamu hajar, dapat mba Amel yang semok sebagai bonusnya, cuukkk…)* “Assuuuu… hahahahahaha…” “Sudah kumabil bonusnya semalam, cuukkk…” ucapku dalam hati. “Awakmu ga ndelok reaksi waja’e arek mesin seng duel ambe awakmu, cookkk… wingi arek’e ndek jejerku pas ndek ruang keamanan… nggededer arekke, cook… paling mikir arekke… piye lek awakmu bales dendam… hahahaha…” kata Surya. *(Kamu ga lihat reaksi wajah anak mesin yang duel sama kamu, cookkk… kemarin dia di sebelahku waktu di ruang keamanan… gemetaran anaknya, cook… paling dia mikir… gimana kalau kamu balas dendam… hahahaha…)* “Kalau istilah pertarungan kemarin itu bener-bener klimaks yang paling nikmat, cuukkk… semprotannya bisa sampai ke lobang pantat rasanya…” sahut Yuda. “Cuukkk… hubunganane duel ambe ngentu, opo, cuukkk…” kata Surya sambil geleng-geleng. *(Hubungan duel sama ng*ntot apa, cuukkk…)* “Hahahahaha…” Kamipun tertawa bareng lagi. Aku menoleh ke teman-teman kelompokku dan tersenyum pada mereka. Mereka pun membalas senyumku semua. “Woooiii… kok pada kumpul di situ?! Cepat kesini, buat lingkaran lagi!” ucap mba Amel sambil berkacak pinggang. Tambah cantik aja aku lihat kalau begitu ekspresinya. “Iya, yunda… ayo kumpul lagi,” ajakku pada teman-temanku. “Kamu kok baru datang, Pur? Dari mana aja? Ini semua sudah kumpul dari tadi!” ucap mba Amel jengkel. “Saya ketiduran, yunda…” jawabku. “Sekarang kamu kesini… berdiri dekat aku,” perintahnya. Aku berjalan mendekatinya. Wangi sekali aroma sampo yang tercium ketika aku berdiri dekat mba Amel. “Kita absen dulu, setelah itu menunggu arahan dari panitia kegiatan,” ucap mba Amel. Aku memandangnya dari samping. Menatap wajahnya. Aku seakan tidak percaya — wanita di sebelahku ini semalam beradu kenikmatan denganku. Wajahnya pagi ini pun terlihat berbeda… senyumnya mengembang, menambah aura kecantikan di wajahnya. Ada perasaan yang ga bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Aku cuma bisa memandangnya… dan aku bahagia. Aku akui, di dalam hatiku timbul rasa sayang terhadapnya. Bukan karena tadi malam habis tidur dengannya — tapi aku baru sadar, ketika dekat dengannya, aku merasa seperti menemukan sisi hatiku yang telah hilang. Ya… ada yang hilang semenjak aku putus dengan mantanku. Tapi aku ga mau terlalu berharap pada mba Amel, karena semalam dia sudah menegaskan bahwa pergumulan kami hanya untuk senang-senang saja, dan kami hanya berteman. “Jangan melihat aku seperti itu, Pur… jangan menggunakan perasaan. Kita sudah bicarakan tadi malam,” ucapnya berbisik. Kulihat teman-teman sibuk mengobrol satu sama lain sambil menunggu arahan selanjutnya, dan aku masih berdiri dekat mba Amel. “Siapa yang memakai perasaan… biasa aja kali, mba. Aku cuman fokus mendengarkan mba berbicara tadi,” aku mengelak, berbisik. “Kamu kira aku bodoh? Aku wanita, Pur… perasaanku lebih peka,” ucapnya. “Katanya ga boleh pake perasaan…” jawabku santai. Dia menoleh kepadaku sambil tersenyum kecut. Saat kami masih mengobrol, tiba-tiba datang segerombolan maba ke arah kami. Di papan nama mereka, kulihat tulisan jurusannya sama denganku — Teknik Sipil. Mereka berhenti di depanku. Satu orang maju dan menatapku. “Kami semua telah mendengar kejadian kemarin di markas keamanan. Kami semua sepakat berada di belakangmu… apa pun yang terjadi setelah ini,” ucapnya, lalu pergi. Gerombolan di belakangnya pun membubarkan diri. Aku menoleh ke tiga sahabatku. “Kelihatannya seru juga ya teman-teman Teknik Sipil angkatan kita… aku ga sabar untuk kuliah besok,” ucapku. Mereka tersenyum dan mengepalkan tangan ke atas. “Go… go… Power Rangers!” ucap mereka berbarengan. “Pur… kamu mau berkelahi lagi ya…?” ucap mba Amel. Wajahnya terlihat khawatir. “Nggak, mba… aku cuman mau kamu…” jawabku sambil menatap wajahnya. “Asuuuu…” celetuk Surya. “Monyong…” Yuda ikut-ikutan bersuara. “Jancok…” Aldo memakiku. “Dasar bajingan lendir…” Mba Amel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan kami. “Hahahaha…” teman-temanku tertawa mendengar jawaban mba Amel. “Pur… kamu ga pa-pa kan? Kamu sudah sehat…?” ucap Lia yang tiba-tiba muncul dari samping. “Kamu lihatnya gimana ya’, apa aku lemah, letih, lesu, kurang bergairah, dan ejakulasi dini…?” jawabku asal. “Bajingan…” “Biadab…” “Juancoookk…” Ketiga temanku lagi-lagi memakiku. “Kurang ajar! Orang serius nanya kok jawabmu ngelantur ke ejakulasi dini! Otakmu memang isinya selangkangan aja, kah…?” ucap Lia kesal. “HAHAHAAHA…” ketiga sahabatku tertawa mendengar ucapan Lia. “Jangan merajuk, ya’… aku bercanda kok. Aku ga pa-pa, seperti yang kamu lihat. Kalau kamu ga percaya… aku nari striptis di sini, kah…?” ucapku cuek. “Asssuu…” mereka berempat memakiku. “Cuukkk… kamu sudah bisa memaki, ya’…” kataku. “Kalau gabung sama kalian, otakku rasanya hilang separuh…” kata Lia. “Hahahahaha…” kamipun tertawa bersama. *“Kepada maba, harap berkumpul kembali di tengah lapangan sesuai dengan kelompoknya. Setelah ini ada arahan dari panitia kegiatan…”* Kami berkumpul dan mendengarkan arahan panitia. Setiap kelompok disuruh menyiapkan satu pertunjukan yang akan ditampilkan pada malam keakraban nanti, setelah upacara penutupan. Pertunjukannya bebas — mau tari, puisi, musik, drama, atau yang lainnya, pokoknya terserah kata panitia. Setelah mendengarkan arahan, kami berkumpul membentuk lingkaran di pinggir lapangan. Kelompok-kelompok lain pun melakukan hal yang sama. Ga lama kemudian, kulihat mba Amel mendatangi kami dengan mata yang sedikit sembab. “Kenapa, yunda? Habis nangis ya…?” Tanya Surya. “Nggak… habis kelilipan batu bata tadi di depan…” ucap mba Amel sambil tersenyum dipaksakan. “Wahhh… kelilipan batu bata aja masih kelihatan cantik… gimana kalau kelilipan hatiku, ya?” celetuk Surya yang membuat teman-teman tertawa. “Jangan hatinya Surya, yunda… sudah ga ada. Habis dioseng-oseng semalam, terus dikasihkan guk… guk… yang lewat depan kos… itu yang tinggal cuman ampelnya aja. Mending hatiku aja… masih utuh dan hanya buat kamu. Iya, kamu… yang telah membuat aku rindu…” Yuda pun tak mau ketinggalan merayu mba Amel, membuat teman-temanku tertawa puas. Dan mba Amel pun tertawa. “Assuuu… dibilang aku ga punya hati! Terkutuk kau, anak muda!” sahut Surya kepada Yuda. Aku dan Aldo cuma tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Sudah-sudah, ayo duduk semua… kita bahas rencana pertunjukan nanti sore,” ucapku, melangkah ke tengah di antara teman-teman yang mulai duduk satu per satu. Mba Amel pun berdiri di sebelahku. Kali ini aku ga melihat wajahnya. “Ada usulan dari kalian…?” ucap mba Amel singkat dan datar kepada teman-temanku. Membuatku canggung di sebelahnya. “Kenapa ga kemarin-kemarin sih disuruh bahas ini… jadikan kita bisa latihan di luar,” kata Yuda. “Iya… kalau gini kan kesannya mendadak banget. Mau menampilkan apa kita juga bingung,” jawab Surya. “Kalian sekarang sudah jadi mahasiswa… kreatif sedikit dong mikirnya,” ucap mba Amel datar. “Gimana kalau main musik atau nge-band…?” kata Ratih dengan suara merdunya. “Terus siapa yang main band…?” Tanya Surya. “Kalian berempatlah… kayak cerita di forum sebelah. Kan keren tuh,” kata Ratih lagi. “Cuukkk… kamu juga ngikutin cerita bersambung di forum semprot, Tih…?” Tanya Yuda. Ratih lalu menunduk malu. “Aasssuuu… keren kamu, Ratih! Joss… begitu dong, biar kekikinian!” “Hahahahahaha…” “Jadi gimana…? Siapa aja yang main band…?” Tanya mba Amel. “Aku ga bisa main musik, yunda… bisanya mainkan perasaanku kepadamu. Itu aja,” kata Yuda, yang membuat mba Amel geleng-geleng. “Aassuuu… serius dikit, cuuukkk…” kata Surya. “Aldo gimana…?” Tanya mba Amel. “Kalau menabuh drum ga bisa, aku, yunda… kalau menabuh hatimu… aku coba deh,” kata Aldo sambil menunduk. Mba Amel cuma melotot mendengar teman-temannya bercanda aja dari tadi. “Janncoookk… ketularan gendeng koen, cook… mangkane ojo jejer karo Yuda, iso gendeng permanen koen… assssu…” *(Jancok… ketularan gila kamu, cook… makanya jangan dekat-dekat Yuda, bisa gila beneran kamu… anj*ng…)* kata Surya. “Bisa serius ga, ini…?” kata mba Amel mulai kesal. “Ya udah… aku aja yang tampil nanti,” jawabku santai. “Wiiihhh… ketua kelompok idaman, kamu San…” kata Ratih. “Aaauuuu… auuuuu…” suara teman-teman kompak, membuat Ratih kembali tertunduk dan malu. “Mau tampil apa kamu, San…?” Tanya Yuda. “Aku mau nari striptis di depan panggung,” jawabku cuek. “Assu… bajingan… munyuk… kurang ajar… biadab… jancok… jaran…” teman-temanku memaki bergantian. Dan mba Amel melirikku sambil tersenyum kecut. “Ga lucu,” ucapnya singkat. “Nggak… aku bercanda kok. Aku mau nyanyi… ya, itupun kalau kalian setuju,” kataku. “Kenapa kamu mau nyanyi sendiri, ga melibatkan teman-teman…?” Tanya mba Amel. “Aku mau menghibur teman-teman… sekalian permohonan maafku kepada panitia soal kejadian kemarin,” ucapku. “Serius…? Kalau serius, aku setuju,” kata Aldo. Aku mengangguk. “Setuju,” jawab yang lain. Setelah beberapa saat, kamipun berkumpul kembali di tengah lapangan — persiapan upacara penutupan ospek. Setelah melakukan persiapan dan gladi resik, kami semua istirahat sebentar di pinggir lapangan. Mba Amel mendekati aku dan mengajakku ke belakang. “Nih…” Dia memberiku sebuah teh kotak. Aku mengambilnya dan meminumnya. Aku heran — kenapa sejak hari pertama sampai hari terakhir, mba Amel selalu memberiku teh kotak. Tau darimana dia kalau aku suka teh kotak? “Pasti kamu bingung, kenapa aku selalu kasih kamu teh kotak,” ucapnya seolah tau apa yang kupikirkan. Aku diam sambil menikmati teh kotak. “Alan yang kasih tau kebiasaanmu minum teh… katanya kamu bisa gila kalau ga minum teh. Makanya aku bawa terus buat kamu.” Aku masih diam dan ga menjawab. Aku tetap diam. Aku ga bisa berucap apa-apa sekarang… karena di dalam kepalaku ini isinya cuma dia. Dia yang ada di sampingku… yang menganggapku sebagai teman biasa. Asss… sudahlah… “Kenapa mba nangis tadi…?” tanyaku datar. “Hem… kamu kok tau…?” jawabnya sambil melihatku. *(“Ya taulah… matamu loh tadi sembab. Untung di kampus… kalau di luar, sudah kusosor bibirmu…” ucapku dalam hati.)* “Aku laki-laki, mba… perasaanku juga peka,” aku membalikkan kata-katanya. Dia menoleh sambil tersenyum. “Alan baru aja nembak aku…” ucap mba Amel pelan sambil menatapku dari samping. “Bagus dong… jadi mba dan Alan ga jomblo lagi,” jawabku sambil tersenyum. Berbanding terbalik dengan di hatiku… rasanya seperti hatiku dirampas oleh semua panitia keamanan, terus diinjak-injak dan disayat-sayat. Sakit banget… tapi ga berdarah. “Tapi aku belum terima dia, Pur… ada hal yang mengganjal di hatiku,” ucapnya agak ragu. “Kenapa? Mau cari yang lebih baik…?” ucapku kepadanya, kubuat secuek mungkin. “Kesannya, seperti aku cewek matre dan pemilih ya…?” Dia pun berdiri, dan meninggalkan aku yang bingung dengan jawabannya. Kenapa dia ga membantahnya…? Sudahlah… mungkin aja dia lagi bimbang. --- Suasana di lapangan utama pada saat upacara penutupan… *“Selamat datang, mahasiswa baru angkatan 19xx… selamat bergabung dengan kampus teknik tercinta kita.”* Pak Rektor menutup sambutannya, disambut tepuk tangan meriah. “HIDUP MAHASISWA!” “HIDUP MAHASISWA!” “HIDUP MAHASISWA!” Teriak semua orang di lapangan sambil mengepalkan tangan kiri ke udara. Berakhir sudah acara ospek kampus… dan sore ini dimulai acara malam keakraban. Semua kelompok menampilkan pertunjukan di depan panggung megah yang telah disiapkan panitia. Satu per satu kelompok telah tampil… giliran kelompokku disebut. Aku pun naik ke panggung, teman-temanku berteriak memberiku semangat. Kuambil gitar akustik yang telah disediakan. Aku berdiri sambil memandang sekeliling. Semua maba dalam kondisi duduk dan melihat ke panggung. Aku juga kulihat mba Amel berdiri di sudut gedung bersama Alan. Huffft… “Selamat sore buat kanda dan yunda…” *“Selamat sore buat teman-teman angkatan 19xx kampus teknik tercinta…”* “Selamat sore buat kamu… yang membuat aku rindu.” (Copas kata-kata Yuda…) Kulihat Yuda memakiku. Cuukkk… Lagu pertama — “Jangan Tutup Dirimu” — Stinky Kupetik gitar, dan… Dari hati yang paling dalam… terucap kata cinta untukmu… Yang telah lama ingin kukatakan… sungguh takkan kuingkari… *Hari demi hari telah terlewati… tapi dirimu selalu di hatiku…* Kau pujaanku, kau bidadariku… jangan tutup dirimu… Sebelum aku datang… Aku meresapi lagu ini sambil kadang-kadang memejamkan mata. Sempat kulihat mba Amel memandangku dengan wajah yang agak sedih… Biarkan 'ku mencoba menjadi milikmu… jangan tutup dirimu… Salahkah diri ini yang mencintaimu… jangan tutup dirimu… Tak banyak yang dapat kulakukan… untuk membuktikan cintaku… Tapi kata hati yang tulus dan suci… sungguh, aku cinta kamu… Kulihat teman-teman di depan mulai ikut bernyanyi sambil mengangkat kedua tangan ke atas, digoyangkan ke kanan dan ke kiri — dimulai dari kelompokku, lalu diikuti seluruh maba yang ada di lapangan. *Hari demi hari telah terlewati… tapi dirimu selalu di hatiku…* Kau pujaanku, kau bidadariku… jangan tutup dirimu… Sebelum aku datang… Biarkan 'ku mencoba menjadi milikmu… jangan tutup dirimu… Salahkah diri ini yang mencintaimu… jangan tutup dirimu… Tiba-tiba Lia maju dan membawa sebuah bunga yang dibagikan panitia kepada peserta cewek. Dia memberikan bunga itu kepadaku. Aku mengambilnya, dan dia kembali ke tempatnya. *Hari demi hari telah terlewati… tapi dirimu selalu di hatiku…* Kau pujaanku, kau bidadariku… jangan tutup dirimu… Sebelum aku datang… Biarkan 'ku mencoba menjadi milikmu… jangan tutup dirimu… Salahkah diri ini yang mencintaimu… jangan tutup dirimu… Dan memang kuakui… aku mencintai dirimu… Jangan tutup dirimu… Prookkk… prookkk… prookkk… Semua maba bertepuk tangan. Lagi… lagi… lagi! Mereka berteriak bersama. Mba Amel tertunduk setelah aku menyelesaikan lagu pertama… Lagu kedua. *“Nyatakan saja apa yang terasa, walau pahit biasanya. Jangan dipendam, memerdekakan jiwa…”* ucapku mengutip Bang Iwan Fals. Prookkk… prookkk… prookkk… Kupetik gitar ku lagi… Nyatakan saja apa yang terasa… walau pahit biasanya… Jangan disimpan, jangan dipendam… merdekakan jiwa… Wwwoooo… Prookkk… prookkk… prookkk… Bersuaralah kawan… bagai ombak di lautan… Pasti lega hatimu… jangan lagi ragu… Kembali teman-teman mengangkat kedua tangan dan menggoyangkan ke kanan dan ke kiri. Bersuaralah kawan… bagai ombak di lautan… Pasti lega hatimu… jangan lagi ragu… Kali ini Ratih yang mendatangiku dengan membawa bunga. Aku mengambilnya… dan menyelipkannya di kantong depan almamater yang kugunakan, kusandingkan dengan bunga dari Lia. Walau diam adalah emas… yang jelas, diam adalah diam… *Diamlah, diam, kalau kau suka… tetapi kenyataan harus dinyatakan…* Katakan saja… apa yang terasa… Jangan disimpan… jangan dipendam… Katakan saja… semua yang terasa… Wwwoooo… Prookkk… prookkk… prookkk… Teman-teman bertepuk tangan sangat meriah setelah aku mengakhiri laguku. Kulihat mba Amel masih berdiri di tempat yang sama, sendirian… ga kulihat lagi Alan bersamanya. Aku mengakhiri lagu ini dengan menundukkan kepala dan tubuhku ke teman-teman, lalu menegakkan tubuhku kembali. *“Cinta itu perasaan yang dikendalikan oleh hati… walaupun pikiran memberontak, ia tak akan sanggup menghancurkan cinta tersebut.”* Ucapku mengutip sebuah tulisan yang terinspirasi dari lagu Bang Iwan Fals. Aku pun langsung turun panggung, dan kembali kudengar tepuk tangan yang meriah dari teman-teman kepadaku. Lega sekali rasanya turun dari panggung… setelah mengeluarkan apa yang ada di pikiranku lewat lagu Bang Iwan dan Stinky tadi. Aku berjalan mendekati teman-teman kelompokku. “Assu…” satu kata yang menyambutku dari Surya. Dia langsung memelukku. “Cuukkk… kamu pake acara meluk lagi… nanti kita dikira pasangan hom-hom lagi, hahaha!” ucapku yang membalas pelukan sahabatku ini. “Biadab! Bayar royalty! Kamu pake kata-kataku tadi!” tiba-tiba Yuda memelukku bergantian dengan Surya. “Ntar ambil di kantin… sebut namaku tiga kali di sana,” jawabku pada Yuda. “Bajingan, kau pujangga…” kata pertama yang keluar dari Aldo yang ikut-ikutan memelukku. “Hahaha…” kamipun tertawa bersama. Aku pun bergabung dengan teman-temanku. “Ratih… terima kasih ya, bunganya… bunganya cantik, sama kayak yang kasih,” ucapku menggombal Ratih. Dia pun tersipu malu. “Terus bunga yang satu lagi…?” ucapnya kepadaku. “Ya… cantik juga… kaya yang ngasih…” jawabku sambil melihat bunga yang diberikan Lia dan Ratih. “Dasar pujangga bajingan…” ucap Ratih sambil tersenyum kecut. Aldo cuma menggeleng — kata-katanya dipakai Ratih. Tiba-tiba mba Amel mendatangiku… dan dia mengajakku agak menjauh ke belakang panggung, ke tempat yang agak sepi. “aku terima Alan…” Dia membuka omongan dengan wajah yang datar. “Selamat ya…” ucapku singkat. Ga sesingkat perasaanku yang tiba-tiba seperti tertimpa barisan abu wedus gembel dari puncak Merapi, yang menggulung siapa aja yang ada di depannya… tapi tetap kuperlihatkan wajah cuek dan santai. “Kenapa, Sandi… kenapa…?” Tiba-tiba dia memanggilku Sandi. Biasanya kan cuma Pur aja… “Kenapa apanya, mba…?” jawabku sekenanya. “Aku tau, lagu tadi kamu tujukan buat aku… iya, kan…?” dia bertanya kepadaku. “Nggak, mba… emang di sini mba aja yang perempuan…” ucapku. Aku sengaja menegaskan kata perempuan-nya… dan menoleh ke tempat lain. “Memang bajingan kamu, San! Kalau ngomong, lihat mataku, jangan yang lain!” ucapnya tegas. “Emang cuma ini aja ya yang mau diomongin…?” kataku, yang membuatnya tambah jengkel. “Bukan cuma ini aja… tapi ada lagi. Kamu jawab dulu pertanyaanku — lagu itu buat aku, kan…? Dan kata-kata penutupnya juga buat aku, kan…?” Tanya mba Amel tegas. “Sudahlah, mba… ga usah dibahas. Kita ke lapangan, yo…” ucapku kepadanya. Aku pun berbalik — sebelum aku melangkah, mba Amel menahan tanganku. “Kita ga akan pergi ke mana-mana sebelum semuanya jelas dan selesai… lihat aku, San…” ucap mba Amel. Aku pun berbalik dan melihat matanya yang sudah mulai berair. *Assuuu… kalau sudah begini, aku pasti ga bisa menolak. Aku paling ga bisa lihat perempuan menangis — apalagi karena aku nangisnya. Dan yang menangis ini perempuan yang aku sayangi. Bajingan…* “Ya Tuhan… tolong aku… keluarkan aku dari masalah ini…” “Bedebah… lagi-lagi, kalau ada masalah, kau panggil Tuhan…” ucap seseorang yang selalu ikut campur kalau aku menyebut nama Tuhan. *“Kalau kamu cuman nambah rumit masalahku… pergi aja sebelum aku cari kamu terus kukencingi kamu…”* *“Bajingan kamu… ga ada sopan santunnya kalau ngomong. Selesaikan masalahmu tanpa membuat masalah bagi orang lain…”* ucap orang itu. Aku ingat kata-kata ini… kan yang disampaikan ayah pada Bowo waktu ayahku menghabisi ayahnya. Tapi yang jelas, sekarang bukan ayahku yang ngomong. Siapa, sih, dia… “Woi… siapa, sih, kamu…” Namun ga ada jawaban lagi… “Mba… mba Amel kan sudah jadian sama Alan… lebih baik mba fokus dengan Alan. Dia sayang banget, loh, sama mba…” “Kalau masalah ini ga selesai sekarang, aku akan putuskan Alan setelah ini,” ancam mba Amel. “Mba ini maunya apa, sih…?” Aku menatap matanya tajam dan agak mengeraskan suaraku. “Aku mau kamu jujur jawab pertanyaanku tadi. Aku wanita, San… dan perasaanku itu peka,” jawabnya. “Katanya ga boleh pake perasaan… gimana, sih, mba ini…” ucapku jengkel. “Justru kamu yang memulai memakai perasaan… mulai dari cara memandangmu, sikapmu, lagu-lagu yang kamu nyanyikan buat aku, dan kata-kata penutupnya tadi… walaupun kamu ga mengakuinya. Jujurlah, San… aku mohon. Aku mau semua ini selesai dan kita berteman… tapi kamu harus jujur dulu,” ucap mba Amel sambil berurai air mata. *Bajingannn… kenapa tambah rumit begini, sih…? Kalau memang sudah jadian sama Alan, ya sudah… ga usah lagi dekatin aku untuk minta penegasan perasaanku… pake acara nangis lagi…* “Oke… oke… kalau itu maumu, Mel…” Aku pun memanggil namanya tanpa embel-embel mba — yang membuat dia terkejut. “Aku sayang kamu, Amelia Putri… dan rasa sayangku ga butuh pengakuanmu.” “Biarkan aku sendiri dengan perasaanku… jalani hubunganmu dengan Alan… karena kamu sudah menerima dan memilih dia. Jangan mainkan perasaannya.” “Aku telah memilih menyayangimu… dan aku siap dengan segala resikonya… termasuk kehilangan kamu.” “Jalani pilihan kita masing-masing… karena apa yang telah kita pilih, itulah yang dipertanggungjawabkan.” “Setelah ini, kamu mau berteman atau ga denganku… T-E-R-S-E-R-A-H. Aku ga mau maksa kamu, dan aku ga mau kamu paksa,” ucapku pelan dan tegas. Tiba-tiba dia memelukku dan menangis. *Cuukkk… ini momen yang paling bikin aku jengkel. Kalau dia pacarku, sih, aku senang… lah ini… dia baru jadian sama teman seperguruanku di Gunung Semeru. Bangsat… bangsat…* “Mel… pliss, jangan begini…” Terus terang, aku bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba memelukku dan menangis. “Tolong, jangan paksa aku lepas pelukanku, San… aku cuman pengen memelukmu untuk yang terakhir kalinya…” Dia berbicara sambil sesenggukan, masih memelukku. *Cuukk… aku bingung dengan semua ini. Aku ga tau harus berbuat apa dengan wanita yang memelukku sambil menangis ini…* Akhirnya aku pun hanya membalas pelukannya… walaupun perih yang kurasakan. Hiuufffttt… Dia pun mengeratkan pelukannya. “Jangan pernah tinggalin aku, San… walaupun aku sudah pacaran dengan Alan…” *Cuukkk… bajingan… enak sekali dia bilang seperti ini. Emang enak lihat orang yang kita sayangi pacaran dengan orang lain…? Tai kucing lah dengan semua itu. Terus kalau ada yang ngomong, “yang penting kamu bahagia, aku juga pasti bahagia, walaupun kita tak bersama”… sini dekat sama aku ngomongnya, kukencingin mukanya…* “Sudahlah, Mel… kamu pasti bahagia dengan Alan. Kalau kamu bahagia, akupun ikut bahagia,” ucapku menenangkannya, sambil memeluk dan mengelus rambutnya. *(“Asssuuu… sini, kukencingin mukamu, bang…” tiba-tiba Jago menyahut dari balik sempak…)* (“Aku kan ngomong gitu supaya dia tenang aja, Go…”) *(“Sama aja… bilang aja kamu itu masih berharap sama dia. Biar teman tapi bisa enak-enak sama dia, ya kan, bang…? Bajingan kamu, bang…”)* (“Assu, kamu, Go…”) Aku pun mengecup pelan kening mba Amel dan melepaskan pelukannya. “Terima kasih ya, San…” ucap mba Amel. Kulihat diraut wajahnya sudah agak tenang, ga setegang tadi. “Santai aja, Mel…” balasku. “Mel… mel… mal… mel… aku tuh lebih tua dari kamu…” mba Amel mulai bercanda denganku. “Iya… santai aja, bu…” jawabku asal. “Ba… bu… ba… bu…?! Aku tuh seniormu!” ucapnya melotot. *Sumpah… kalau sudah begini ekspresinya, cantiknya nambah. Aku ga bohong… serius. Tapi percuma juga… walaupun cantik, dia bukan milikku…* “Iya… iya… mba… ke lapangan, yo… ga enak sama yang lain. Kita sudah lama, loh, di sini…” ajakku ke mba Amel. Mba Amel pun mendekatkan wajahnya… Cuupppp… Dia mengecupku tepat di bibirku… lalu berbalik dan berjalan mendahuluiku. Tiba-tiba dia berbalik lagi… “Kalau aku pengen senang-senang… maukan kamu main lagi sama aku? Kelihatannya… aku kangen jagomu…” ucapnya… dan berjalan meninggalkanku yang bengong. Jago berdiri dengan sombong dan berkata: *“Jago ini… jago… jago dilawan… jago bukan pipit… besar, berurat, dan tahan lama!”* cuukkk hati yang ga bisa ditebak Tambahan sedikit… *“Kisanak, tolong catat dengan tulisan yang tebal, perkataan mba Amel yang kangen sama aku…”* “Emang kenapa, sih, Go…?” *“Terlalu banyak orang yang meremehkan kekuatanku di sini… kamu juga gitu. Aku kan masih bisa 2, 3, 4, atau 5 ronde dalam semalam… kenapa dibuat satu ronde aja?! Kamu senang kalau harga diriku diinjak-injak…?”* “Assuu, kamu, Go… hahahahaha…”
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 12
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal