EPISODE 14
BAGIAN 14 — DATANG DISAAT..
Hari ini awal kuliahku. Setelah empat hari ospek yang menguras emosi, akhirnya aku berdiri di ambang babak baru hidupku sebagai mahasiswa. Aku berpakaian rapi — celana levis, kemeja lengan seperempat, sepatu, dan tas punggung di punggungku. Sebelum masuk gerbang kampus, aku sempat singgah membeli rokok dan teh kotak, lalu melangkah masuk sambil menyeruput teh itu pelan-pelan.
Kampus ramai sekali hari ini. Wajar — hari pertama kuliah buat mahasiswa baru, dan mahasiswa lama yang baru selesai liburan semester juga mulai memenuhi koridor-korpor gedung.
"Sandiii!" teriak Surya dari arah gedung teknik sipil. Dia bersama Yuda dan Aldo.
"Sudah di sini to kalian. Tidur di kampus kah?" jawabku sambil mengangkat tangan.
"Asssuuu... dikira kita security apa, tidur di kampus," sahut Yuda.
"Ayo nang kantin, aku luwe..." (Ayo ke kantin, aku lapar) ajak Aldo.
"Woiii... gitu ya, aku ditinggal," Lia memanggil dari depan gedung.
"Ehhh... ada non Lia. Sini sayang sama babang ganteng," jawab Yuda mantap.
"Babang ganteng... gantengan kunci ta?" sahut Surya.
"Assu, diam aja kamu Sur, nggak usah iri," Yuda membalas.
"Berisik loh kamu berdua ini. Ayo Do, Pur, kita ke kantin. Biar mereka berdua gandengan tangan sendiri," kata Lia sambil menggandeng lenganku dan lengan Aldo.
"Sadis kamu ya. Emang kami berdua pasangan hom-hom," protes Yuda.
Kami berlima pun melangkah ke kantin dan duduk di meja pojok. Hampir semua meja penuh, kantin sedang ramai-ramainya. Kami sarapan dulu sebelum kuliah pertama. Tapi di tengah santapanku, tiba-tiba ada yang menyenggol tanganku dengan sengaja — sendokku terlempar dan makanannya tumpah ke celanaku. Aku mendongak. Orang itu menatapku menyeringai.
"Kenapa, nggak terima kah?" katanya sambil melirik tajam.
Aku hendak berdiri, tapi tangan Lia menahanku.
"Pur, jangan buat masalah ya. Ini hari pertama kita kuliah loh," bisik Lia sambil menarik tanganku duduk kembali, lalu mengelus-elusknya untuk menenangkan. Huufffttt... assuuu...
"Nggak mas, maaf," jawabku, lalu langsung membuang muka.
Orang itu pergi bersama teman-temannya. Kelihatan jelas dia senior di atasku.
"Tai laso memang orang itu," gumamku. Lia cuma melirik.
"Tai laso iku opo, San?" tanya Surya polos. (Tai laso itu apa, San?)
"Tai hidung," jawabku asal.
"Huk... uhuk..." Lia tersedak mendengar jawabanku.
"Hahahaha... TAI LASOOO!" teriak Surya. Beberapa orang menoleh ke arah kami, ada yang tersenyum, ada yang menatap tajam.
Orang yang tadi menyenggolku mendengar teriakan Surya dan berbalik, menghampiri meja kami.
"Kamu ngolok aku?" katanya melotot.
"Nggak mas, aku cuma bilang tai laso," jawab Surya, berdiri sambil menatap lurus.
"Maksudnya apa tai laso itu?"
"Tai laso itu tai hidung. Tai hidungmu tuh loh, keluar. Bersihin dulu," jawab Surya setengah nggak peduli.
Aku dan Lia cuma menunduk sambil geleng-geleng, menahan tawa. Dan orang itu — reflek memegang hidungnya dengan jari telunjuk dan jempol, membersihkannya, lalu pergi begitu saja.
"Hahahahaha..." aku meledak setelah dia menjauh. Ekspresi dia waktu membersihkan hidung... polos banget.
"Kenapa kamu ketawa San? Bener to yang kuomongin?" tanya Surya.
"Hahaha... kamu tanya Lia aja, Sur. Hahaha..." Aku nggak kuat melihat raut polosnya.
"Kamu Pur... kalau ngajarin nggak bener lagi, ku hajar kamu," ancam Lia.
"Kamu juga Sur. Mau aja dibohongi sama Purnama," sambungnya.
"Kamu tau artinya tai laso ya?" tanya Surya. Lia pun menjelaskan arti kata itu dengan jelas kepada teman-temanku.
"Hahahaha..." semua tertawa setelah penjelasan Lia.
"Assu kamu San! Berarti aku kamu bohongi dong," keluh Surya sambil menyeruput kopinya.
"Hati-hati, tai lasomu keluar dari hidungmu Sur... hahahaha..." ejek Yuda.
"Hahahha..." aku dan Aldo ikut tertawa.
"Lasoku di sini... bukan di sini," jawab Surya sambil menunjuk 'peliharaannya' dan hidungnya bergantian.
"Untung dia nggak tau juga artinya. Kalau tau, pasti aku dipukul sama dia. Kalau aku sampe dipukul, kuselesaikan di tempat dia. Gimana, Yud?"
"Yo, yoiii Sur. Kubantu kamu. Kusikat lasonya anak itu... hahaha," jawab Yuda. Aku dan Aldo cuma mengangguk sambil tersenyum.
"Dia nggak tau apa, kalau kantong kemihku lagi kosong, aku gampang emosian," kata Surya.
"Assuuuu... hahahahaha..." kami bertiga pecah tertawa, kecuali Lia yang melotot melihat kami.
"Kalau kalian berempat berani buat masalah di depanku, kupindahin tititmu satu-satu ke jidatmu. Paham?" Lia menatap kami satu per satu.
Cuukkkk... kami berempat reflek, langsung memegang 'burung' masing-masing.
"Sadisnya ya," ucap Aldo.
"Lah, kalau dipindah di jidat, gimana kalau pake sempak ya?" tanya Surya dengan muka paling polos.
"Assuuu... ya kepalamu nutupin sempak, terus selangkanganmu dibiarkan terbuka!" celuk Yuda.
"Cok... kalau 'main', berarti kepalanya dong yang maju-mundur..." ucap Surya sambil mempraktekkan kepala maju-mundur dengan wajah lugu.
"Bajingan. Diam kamu Sur. Jijik aku lihat kamu gitu," jawab Aldo.
"Hahaha..." kami tertawa bersama.
"Assuuu... assuu..."
"Sudah, nggak usah dibahas," potong Lia. Seketika kami terdiam mendengar suara sisek ini.
"San, kamu kos di mana sih? Kok dari kemarin bilang cuma di dalam gang?" tanya Yuda mencari topik lain. Aku menoleh ke Lia dan Lia mengangguk.
"Di dalam gang. Di kos Pondok Merah," jawabku santai.
"Cok, makanya kamu kok nggak mau ngajak kita ke sana?" jawab Aldo sambil membakar rokoknya.
"Emang kenapa?" tanya Yuda dan Surya bareng.
"Kamu tau kos Pondok Merah, Do?" Lia melirikku.
"Siapa bajingan kota ini yang nggak tau kos Pondok Merah? Pondok Merah bukan cuma terkenal di lingkungan mahasiswa — bajingan kota ini juga tau. Kos-kosan brutal yang isinya bajingan-bajingan kampus ini," jelas Aldo.
"Terus apa hubungannya kita nggak diajak sama Sandi ke sana?" tanya Surya.
"Mau setor nyawa kamu ke sana, Sur? Walaupun kamu kenal penghuninya, kalau nggak diundang nggak bisa masuk. Bisa-bisa jadi perkedel tititmu," jawab Aldo.
"Assuuu... dari tadi kok yang dibahas penyiksaan titit terus. Pedofilia kalian semua ini," ujar Surya.
"Cuukk... apa hubungannya sama pedofilia, oon," kata Aldo.
Kami semua cuma geleng-geleng. Aku bersyukur akhirnya predikat oonku diambil Surya.
"Kamu tau dari mana soal kosku, Do?" tanyaku.
"Mas ku kan anggota situ, San. Mas Bendu," jawabnya.
"Loh, kamu adiknya Mas Bendu, Do?" tanyaku lagi.
"Iyalah. Makanya aku tau semua soal kosmu. Hebat juga kamu bisa kos di situ. Makanya aku heran waktu kamu hajar panitia kemarin — kok Mas ku dan teman-temannya dari Pondok Merah nggak ada yang berdiri. Biasanya mereka maju duluan bela panitia," jelas Aldo.
"Wooo... ngeri juga kosmu, anak muda," ucap Surya.
"Sudah ah. Ayo kuliah, sudah waktunya ini," ajak Lia.
Setelah membayar masing-masing, kami menuju gedung kuliah dan bertemu teman-teman lain. Kami saling berkenalan lagi, walaupun sudah berkenalan waktu ospek. Setelah kuliah, teman-temanku mengajak main bilyard, tapi aku menolak — aku nggak suka main bola yang disodok itu. Aku memilih jalan-jalan ke mall di alun-alun kota.
---
Di mall alun-alun kota...
Aku berkeliling sambil mencuci mata, siapa tau ada barang keperluan kuliah atau kos yang menarik untuk kubeli.
Di depanku ada seorang wanita berjalan terburu-buru sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Tiba-tiba dompetnya jatuh dan isinya tercecer. Dia nggak menyadarinya dan terus melangkah. Aku mengambil dan mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Kulihat KTP-nya — cantik juga wanita ini.
Aku mengejarnya.
"Mba..." kupanggil, dan dia menoleh.
"Ada apa ya, Mas?" Dia menatapku, memperhatikanku dari kepala sampai kaki.
"Ini, dompetnya jatuh," ucapku sambil menyerahkan dompet itu.
Dia mengambil dompetnya dan membukanya.
"Periksa aja, Mba. Siapa tau ada yang hilang," jawabku.
"Nggak, Mas. Aman kok. Terima kasih ya. Ini..." jawabnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang padaku.
"Apa ini, Mba?" ucapku agak jengkel.
"Ini Mas, sebagai ucapan terima kasih. Maaf ya, buru-buru. Diambil ya, Mas," paksa dia.
"Kalau tau gini, mending tadi kukasihkan ke security aja dompetnya," ucapku, lalu langsung pergi meninggalkan wanita itu.
"Mas... Mas... Mas..." dia memanggilku.
Aku nggak menghiraukannya dan melanjutkan keliling mall. Bikin bad mood aja nih orang. Aku tuh paling nggak suka segala sesuatu diselesaikan dengan uang — nggak semua masalah harus dengan uang. Bisa diselesaikan dengan tukar nomor telepon salah satunya... hehehe. Mengharap banget sih.
Setelah hampir dua jam berkeliling, aku lapar dan mencari food court. Sesampainya di sana, aku memesan makanan dan mencari meja. Sambil menunggu pesanan, aku membakar rokok. Tiba-tiba...
"Boleh gabung nggak, Mas?" ucap seorang wanita. Kulihat — ternyata orang yang kutemukan dompetnya tadi.
"Duduk aja, Mba. Lagian ini kursi umum, bukan kursi saya," jawabku cuek sambil menghisap rokok.
"Makasih ya. Oh ya, maaf soal yang tadi. Aku nggak bermaksud apa-apa, Mas. Cuma sebagai ucapan makasih aja. Mohon maaf kalau Mas tersinggung."
"Santai aja, Mba," jawabku sambil melihat sekeliling.
"Namaku Gaby." Dia mengulurkan tangan.
"Sandi." Kubalas.
"Kamu kerja atau kuliah di sini?"
"Baru masuk kuliah, Mba."
"Oooo..."
"Jadi ini ya laki-laki yang bikin kamu mutusin hubungan kita, Gab?" Tiba-tiba seorang laki-laki datang sambil marah-marah menatap kami berdua. Cuukkk, apalagi ini?
"Kamu ngomong apa sih, Ted? Ini teman baruku. Aku baru ketemu di sini. Dia tadi yang nemuin dompetku," jawab Gaby.
"Alasan aja kamu, Gab. Hey! Kamu anak mana? Berani-beraninya kamu rebut pacarku!" dia bertanya padaku dengan nada meninggi.
"Kamu itu kenapa sih? Ini salah satu alasan yang bikin aku mutusin kamu. Kamu nggak pernah percaya sama aku," jawab Gaby emosi. Tapi laki-laki ini tetap cuek.
"Kamu nggak punya mulut ya? Aku nanya kamu!" Laki-laki itu memandangku tajam.
"Kayaknya tadi sudah dijelasin siapa aku sama Mba ini," jawabku santai sambil merokok.
Cuukkk... kenapa aku ke sini tadi. Tau gitu aku ikut anak-anak main bilyard. Di sini malah didamprat orang, dikira selingkuhin mantan pacarnya.
"Bangsat kamu ya! Kamu nantang aku!" Dia mendekat ke arah dudukku.
"Ted, kamu kenapa sih? Mending kamu pergi deh. Kita sudah nggak ada apa-apa lagi, jadi terserah aku mau duduk dengan siapa," Gaby berdiri dan menarik tangan laki-laki itu.
"Lepasin aku! Dasar per*ke... urusanku belum beres sama anak ini!" Dia melepas genggaman Gaby dan mendorongnya ke belakang. Gaby jatuh.
Aku langsung berdiri dan menarik tangan Gaby supaya dia berdiri. Walaupun aku agak jengkel sama Mba ini, aku nggak suka lihat perempuan dikasarin. Jiwa power ranger-ku keluar untuk membela yang lemah.
"Kalau laki-laki berani main kasar sama wanita, biasanya bijinya lebih besar daripada otaknya. Atau jangan-jangan malah mikirnya pake biji, otaknya dipake produksi sperma," ucapku santai sambil merokok.
Gaby memandangku seperti menahan tawa.
"Bajingan! Maksudmu apa? Kamu menghina aku?" Orang itu marah dan bersiap memukulku.
"Jangan emosi, Bos... makanya kalau sama perempuan jangan kasar. Baik-baiklah kalau bersikap... nanti kalau kubuat mimisan di hidungmu, ntar dikira sulap lagi," ucapku sambil menatapnya.
"Bangsat kamu!" Dia marah dan —
TAAPP...
Dia memukulku. Tapi kutangkap tangannya, kuputar ke belakang, dan dia terputar juga sampai menghadap dinding. Setelah itu kuangkat dan kupelintir sedikit langannya.
"ADDUUUHH... ADDDUUUHHH... SAKIT BANGSAT! Lepasin tanganku!"
"Kalau kamu nggak cepat pergi dari sini, kubuat bener-bener mimisan hidungmu," bisikku di kupingnya. Lalu kulepas cengkeraman itu. Dia berbalik ke arahku sambil meringis kesakitan.
"Kamu salah orang kalau cari masalah sama aku. Aku anak kampus teknik. Kucari kamu nanti," ucapnya, lalu pergi meninggalkan kami.
"Okey, Bos. Kalau perlu jangan cari aku — biar aku yang cari kamu," ucapku padanya. Tapi dia nggak menoleh.
"Kamu nggak pa-pa, Mba?" ucapku.
"Nggak pa-pa. Cuman aku agak syok aja. Terima kasih ya, Mas. Maaf loh ya, lagi-lagi bikin masalah buat kamu," ucap Gaby.
"Sandi aja, Mba. Nggak usah pake Mas," ucapku.
"Kita jalan aja yo, San. Aku malu di sini, banyak yang ngelihatin." Gaby menarik tanganku ke arah parkiran mobil.
"Kamu naik apa, San?" tanyanya.
"Naik angkot, Mba."
"Ya udah, kebetulan aku naik mobil. Kamu ikut aku aja. Kamu bisa bawa mobil?"
Aku diam aja. Sebenarnya bisa... cuman aku nggak terlalu hafal daerah sini. Takutnya malah kelamaan kalau aku yang nyetir.
---
Di dalam mobil, setelah melewati sebuah kuburan...
"Hahahahaha... gila kamu, San!" Tiba-tiba Gaby tertawa sambil memukuliku.
"Kenapa kamu, Mba? Kesambet apa di kuburan tadi?" tanyaku kaget.
"Kurang ajar. Emang ada setan berani ngerasukin aku?" tanyanya.
"Ya enggak sih. Mana ada setan mau ngerasukin kamu... baru dekatin kamu aja mungkin setannya sudah sange," jawabku asal.
"Kurang ajar kamu, San. Emang wajahku nafsuin?" tanyanya.
("Banget. Pengen kuemut aja itu nenenmu, Gab. Dari luar gitu aja kelihatan montok. Apa lagi kalau dibuka... hemm, cuuukkk..." ucapku dalam hati.)
("Siapa mau diemut, Bang? Tunggu dulu kamu sama betina ya, Bang. Aroma betina ini kok menggairahkan sekali, Bang?" ucap si jago yang perlahan mulai bangun.)
("Diam kamu, Go," kataku.)
("Oke... kabarin ya, Bang, ntar perkembangannya. Hehehe... selalu siap sedia aku, Bang," kata si jago.)
("Assuuu...")
("Hahahaha...")
"Nggak, Mba. Nggak salah lagi... hehehe." Aku meliriknya dengan wajah yang kubuat senjoy mungkin.
"Hahahaha... wajahmu itu mesum banget, San," kata Gaby.
Cuukk, sudah kubuat senjoy mungkin malah masih kelihatan mesum. Kami pun diam sesaat.
"Maaf loh ya, San..."
"Kenapa lagi-ng lagi ngomong maaf. Kalau gitu turunin aja aku di depan, Mba," ucapku sewot.
"Iya... nggak... nggak... kita ke mana ya enaknya... tapi jangan ke kosmu, mending ke kosku aja dulu," ucapnya.
"Hehe... siapa yang nanya, siapa yang jawab, Mba." Aku tersenyum.
"Hehehehe..." Gaby tersenyum manis. Assu, wajahnya gemesin banget.
"Kamu hati-hati sama Tedi. Dia anak kampus teknik," ucap Gaby.
"Heeemmm..." jawabku singkat.
"Kamu kuliah di mana, San?"
"Kampus teknik, Mba. Mahasiswa baru."
"Nah, apalagi kamu mahasiswa baru di kampus teknik. Hati-hati ya." Dia fokus menyetir.
"Emang Mas Tedi makanannya apa, Mba?" tanyaku.
"Maksudnya... makanannya sama kayak kita lah. Ada-ada aja pertanyaanmu, San." Gaby menggelengkan kepala.
"Kirain makan kemenyan, Mba. Kok sampai aku disuruh hati-hati sama dia," ucapku santai.
"Busyet ya kamu. Biar dia begitu, dia mantan aku. Masa aku pacaran sama demit? Hahaha..." Gaby tertawa mendengar jawabanku.
"Ya, kirain Mba suka sama yang anunya keramat gitu," candaku.
"Kurang ajar... hahahaha." Gaby tertawa lagi.
Setelah perjalanan setengah jam, kami sampai di sebuah kos-kosan megah. Di depannya ada tulisan "Kos Alexis".
"Kita sudah sampai. Ayo turun, San," ajak Gaby.
"Cowok boleh masuk, Mba?"
"Ya kalau ada penghuni yang ngajak bolehlah. Kalau kamu masuk sendiri, bisa-bisa dimutilasi tititmu... hahahha," jawab Gaby sambil tertawa.
"Cuukkk... sadis amat kosanmu, Mba?" ucapku sambil reflek menutup si jago.
"Hahaha... ayo turun, San." Gaby membuka pintu mobilnya.
Aku mengikuti Gaby dari belakang.
"Kok sepi, Mba?"
"Ya iyalah. Ini jam tiga sore, San. Siapa yang mau ngapel jam segini," ucap Gaby sambil berjalan menaiki tangga. Wuiihhh... bodinya ternyata mantap. Semok abis.
("Bang, apa yang semok? Bisa dibuka resletingmu dikit kah? Aku mau lihat, Bang," ucap si jago yang mulai agak bangun lagi.)
("Udah tenang aja dulu kamu, Go. Kalau ada enak-enak, ntar kubangunin kamu.")
("Asyyiiiikkkk... begitu dong, Bang. Kita libas semua betina di sini!")
Tiba di kamarnya, Gaby membuka pintunya.
"Masuk, San. Anggap aja kamarmu," ucap Gaby sambil tersenyum.
"Ya iyalah kamarmu, Mba. Mas... kamarnya Sandi," ucapku.
"Hehehe... kamu mau minum apa, San?"
"Teh, Mba."
"Teh kotak aja ya. Tuh, ada di kulkas," ucap Gaby.
"Asyyiikk... tambah cantik aja, Mba, kalau ngasih aku teh kotak... hehehe," rayuku.
"Emang aku cantik dari dulu. Baru tau ya?"
"Ya kan kita baru ketemu, Mba."
"Iya... ya... hehehe. Aku mandi dulu ya, San. Gerah badanku..."
"Mau ditemanin, Mba?" candaku.
"Ayo. Kelihatannya enak kalau mandi bareng sore-sore gini," ucap Gaby santai.
("Apa... mandi bareng? Mau dong, Bang! Kan sudah lama jago nggak dimandiin sama betina, Bang!")
"Canda kali, Mba," ucapku.
("Candamu kayak bisul, Bang. Kecil tapi nyakitin.")
"Tapi aku serius loh, San." Ucap Gaby. "Aku cukup sekali loh ngajaknya. Kalau kamu nggak mau, ya nggak pa-pa." Dia mengambil perlengkapan mandinya dan masuk ke kamar mandi.
("Susul, Bang... susul...")
Serius nggak nih tawarannya? Ntar kalau ditolak kan aku malu...
Aku pun melangkah ke kamar mandinya dan berhenti di depan pintunya.
"Ketuk... nggak... ketuk... nggak... ketuk... nggak..." Aku menggaruk kepalaku bingung.
("KETTTUUUUKKKK... BIADAB...." SI JAGO BERTERIAK.)
TOK... TOK... TOK...
Pintunya terbuka. Gaby berdiri di depan pintu dengan kimono merah muda.
"Ternyata memang bener-bener mesum juga ya kamu... hehehe." Gaby tersenyum manis.
"Jadi becanda aja nih ngajaknya..." Aku pun berbalik badan, tapi tanganku ditarik Gaby.
"Kamu tuh tipe cowo yang bikin penasaran ya, San..." Tanganku ditarik masuk ke kamar mandi dan dibawa mendekat ke tubuhnya. Wajahnya mendekat ke wajahku.
"Nggak juga, Mba. Biasa aja kali..." jawabku sambil mendekatkan bibirku.
"Gaby. Gaby aja, nggak usah pake Mba." Lalu tiba-tiba —
CUUPPPPP
Dia mengecup pelan bibirku. Kubalas dengan lembut. Lalu kami sama-sama bermain lidah. Kelihatannya Gaby lebih berpengalaman daripada Mba Amel — dia menciumku sangat dalam. Tangannya merangkul leherku, dan kubalas merangkul lehernya.
("PESTA... PESTA... PESTA...")
(Aku menampar pelan si jago sambil berciuman dengan Gaby.)
("Maaf, Bang... maaf...")
"Lumayan juga untuk sekelas mahasiswa baru. Rupanya kamu berpengalaman juga," ucap Gaby sambil melepaskan ciumannya, melepas kancing kemejaku satu per satu, dan menyibak kaosku ke atas.
"HAA..." Gaby kaget melihat tatoku. Dia orang kedua yang melihat tattoku di kota ini. Dan kedua orang itu perempuan.
"Kenapa, Gab? Risih ya dengan tattoku? Kalau risih, aku keluar aja," ucapku.
"Jangan. Nggak tau kenapa, semenjak pertama kita bertemu, aku merasa kamu spesial deh. Sampai di sini pun kamu tetap spesial," ucap Gaby sambil memegang pipiku dan menciumku lagi.
Aku nggak mau kalah. Tanganku mulai naik ke dadanya, kuremas-remas pelan dari luar kimononya. Kenyal dan besar. Dia makin agresif setelah kuremas buah dadanya — lidahnya dimasukkan lebih dalam ke mulutku, dan kusambut dengan hisapan di lidahnya.
Kutarik pelan tali kimononya, dan kubuka sampai terlepas dari tubuhnya. Kudorong perlahan sampai Gaby duduk di bak mandinya. Setelah berciuman panjang, kupandangi Gaby yang duduk bersandar di bak mandi — dia sudah telanjang bulat. Nafasnya berat, naik-turun. Tubuhnya putih mulus, buah dadanya besar.
Kupegang kedua buah dadanya dan kuhisap putingnya bergantian, kanan kiri, yang kecil dan berwarna coklat. Dia mendesah akibat hisapanku. Setelah kuhisap, kuraba pelan buah dadanya yang kanan, terus turun ke perutnya yang ramping. Kubuat main sebentar di sana, kuousap seluruh perutnya sambil menjilat lehernya, tangan kiriku bermain di puting kanannya sambil meremas perlahan buah dadanya.
"San... San... aku nggak kuat... ahh... ahh... ahh..." Gaby mendesah sambil memegang kepalaku dan meremas rambutku.
Jilatanku makin liar — dari leher naik ke telinganya. Gaby gelisah sekali sampai mendesah-desah. Aku menjilat sampai ke dalam telinganya, tangan kiriku masih bermain dengan puting kanannya, dan tangan kananku merambat turun sampai ke belahan memek Gaby. Gundul... nggak ada rambut sehelai pun di memek Gaby. Dan ternyata sudah basah sekali di sana. Kugosok perlahan di atasnya, lalu turun ke bawah — sampai ke klitorisnya. Kupermainkan jari tengahku naik-turun, sesekali masuk ke dalam. Tubuh Gaby sampai gemetar menerima permainanku. Dia mendesah, lalu memegang wajahku, menciumku, lalu menggigit bibir bawahku. Kulepas ciumannya dan aku berjongkok di selangkangannya. Kubuka memeknya.
"Cukup, San... aku nggak kuat... pliss... buka celanamu... pliss..." Aku mengabaikannya, kudekatkan wajahku dan kujilat memeknya, jari tengahku masuk ke dalam mengocok. Tangan kiriku naik ke atas, meremas bergantian buah dadanya dan memelintir putingnya. Gaby pun mendesah.
"Aaaaahhhh... aahhhhh... aku mau keluar... aku keluar, San..." teriak Gaby. Memeknya berkedut. Kulepas jilatanku dan kutarik tangan kananku.
Sreeet... sreeet... sreettt... ah... ah... ah... ah... ah...
"Aku squirt, San... ahhhhh... ahhhhh..." Kulihat wajahnya memerah. Tangannya bersandar ke belakang bak mandi, tubuhnya mengejang. Air kenikmatannya menyembur keluar dengan deras. Kakinya bergetar.
"Ahhh... ahhh... ahhh... ahhh..." Nafasnya naik-turun. Dia memandangku sayu. Kubiarkan sejenak dia menarik nafas.
"Gila... gila kamu, San. Padahal kamu belum melepas celanamu, aku sudah kamu buat begini..." Nafasnya tidak teratur.
"Jadi udahan ini ya?" ucapku.
"Kamu meremehkan aku ya? Kalau kamu keluar kamar mandi sekarang, kupotong tititmu!" ancam Gaby.
"Cuukkk... sadis amat... asli. Berapa orang cewek yang sudah aku kenal di sini, dan semua sadis... tapi cantik-cantik sih," ucapku dalam hati. (Nggak boleh iri yo, cuukkk...)
Setelah beberapa menit, Gaby mulai tenang. Dia pun berjongkok dan meraih ikat pinggangku. Dibukanya celanaku dan diturunkan CD-ku. Seketika si jago langsung keluar dengan gagahnya — berdiri tegak dengan sikap semurna, dan nggak lupa menebar pesona.
"Besar juga punyamu, San," ucap Gaby. Kulepas pegangannya, kuambil celanaku dan kugantung, lalu aku mendatangi Gaby yang masih jongkok. Diraihnya si jago dan dimasukkan ke mulutnya. Gila... pengalaman mulai berbicara. Dia naik-turunkan mulutnya... dia menghisap sampai ke dalam tenggorokan. Si jago benar-benar masuk ke mulutnya sampai seluruh batangnya. Huuuu... ueennaakkk cuukkk... Matanya sampai melotot menelan si jago. Sempit dan basah — nikmat sekali blowjob dari Gaby ini.
Kupegang rambutnya... kutarik dan kumasukkan si jago lebih dalam ke mulutnya. Setelah beberapa saat, kutarik Gaby berdiri, lalu kubalik badannya hingga agak menungging — tangannya berpegang pada bak mandi.
Kubuka belahan memeknya, lalu kumasukkan si jago ke dalamnya. Kutusuk perlahan. Dia agak menjerit.
"Auuu... pelan-pelan, San... bisa robek mekiku..." Kutusuk perlahan sampai si jago masuk seutuhnya di dalam sana. Setelah masuk, kudiamkan sejenak. Gaby kupeluk dari belakang sambil kuremas buah dadanya. Lalu kugoyang perlahan — naik dan turun...
"Ahh... ahh... ahh... gila... enak banget kontolmu, San... ahh... ahh..." Gaby mulai meracau nggak karuan. Sempit sekali, kurasa, memek Gaby. Dia menggelengkan kepalanya tanda menikmati sodokanku, dan mendongakkan kepalanya ke atas. Aku genjot terus dia.
Lalu kuputar badannya ke arahku. Kusandarkan lagi ke tepi bak mandi, lalu kusodok lagi memeknya. Aku menggenjot sambil menatap mata sayunya. Diraihnya lagi wajahku dan dilumatnya bibirku.
"Aku mau keluar lagi, San... ahhh... ahh... ahhh..." bisik Gaby.
"Aku juga. Sabar ya... tahan sebentar," ucapku sambil menggenjot memeknya.
"Ahh... ahh... ahhhhhhhh... aku keluar, San..." teriak Gaby.
Sreeet... sreeet... sreettt... ah... ah... ah... ah... ah...
Setelah dia keluar, kusodok dalam lagi si jago... dan
Crottt... crottt... crottt...
Kusemburkan semua isi si jago ke dalam memeknya.
Dan kubiarkan si jago sebentar di dalam.
"Ahhh... ahhh... ahhh... gila enak banget, San... enak..." Dia mengecupku pelan, dan mengecup lagi.
Kulihat wajahnya tersenyum dengan nafas yang tak karuan.
Setelah beberapa saat, kulepas si jago dari dalam memeknya.
Ploopp...
Si jago keluar dari memek Gaby. Gaby meringis, berdiri, lalu merangkulku.
CUUPPP...
"Makasih ya. Sudah lama aku nggak sepuas ini," kata Gaby.
"Ntar main lagi ya, San," ucap Gaby.
"Oke. Aku juga makasih udah diijinin bertamu di sini," ucapku sambil mengelus pelan memek Gaby.
"Auuu... nakal... mandi yok," ucap Gaby dengan centilnya.
Lalu kami mandi bersama, saling menggosok tubuh kami... dan kami ulangi satu ronde lagi yang membuat Gaby kelojotan sampai squirt. Setelah itu Gaby keluar duluan mengenakan piyama, dan aku membersihkan tubuhku lagi.
TOK... TOK... TOK...
Aku mendengar pintu kamar Gaby diketuk, lalu dia berbicara dengan seseorang. Waktu kubuka pintu kamar mandi, aku cuma memakai handuk menutupi selangkanganku. Tiba-tiba...
"Anak baru. Ngapain kamu di sini?" Mba Mery berdiri tepat di depanku.
Cuukkk... kenapa dia selalu muncul waktu aku lagi enak-enak sama perempuan ya? Dua kali aku sudah kepergok dia. Dan aku bengong berdiri di depannya.
"Ditanya malah bengong..."
"Kamu kenal Sandi, Mer?" tanya Gaby.
"Iyalah kenal. Dia kan adek kesayangannya Rendi, Gab," ucap Mba Mery.
"Ehh... jawab pertanyaanku. Kok malah diam."
"Aku tadi ketemu di jalan sama Gaby, Mba. Terus aku main ke sini," ucapku sesantai mungkin.
"Gila ya kamu. Baru kenal sudah main tanduk aja. Dasar bajingan lendir," ucap Mba Mery.
"Cuukkk... aku pake baju dulu ya." Aku masuk lagi ke kamar mandi dengan perasaan jengkel.
("Kenapa sih dia selalu datang saat-saat gini? Gagal lagi nih, padahal mau nambah..." ucapku dalam hati sambil mengenakan pakaianku, lalu keluar kamar mandi.)
("Kenapa, Bang? Kita nggak main lagi sama Gaby kah? Wah, nggak bener ini. Mery kita ajak main bareng aja, Bang. Three-some, Bang... three-some...")
("Aasssuuu... ini nggak segampang yang kamu kira, Go. Udah diam aja kamu...")
("Nggak asyiik kamu, Bang...")
Setelah berpakaian, aku keluar dari kamar mandi dan masih mendengar Mba Mery ngomel sama Gaby.
"Kamu juga Gaby, mau-maunya diajak main sama anak baru ini. Atau malah kamu yang ngajak? Nggak bener kamu ngajarin anak baru kayak gini," ucap Mba Mery.
"Ngajarin gimana? Sudah pro juga kali anak yang kamu bilang baru ini. Sampe aku dibuat tiga kali squirt di kamar mandi," cecocos Gaby.
"Cuukkkk... jujur banget kamu, Mba," ucapku dalam hati.
"Gila kamu, Gab. Jujur banget sih," kata Mba Mery.
"Ya kalau enak diomongin lah. Kalau nggak enak ya dikasih meong... hihihi," ucap Gaby santai.
"Kamu itu ya... ihhhh," jawab Mba Mery.
"Kamu kan lagi pacaran sama Tedi, Gab. Kok malah tidur sama anak ini? Tega kamu, Gab?" sambung Mba Mery.
"Aku tuh baru putus sama Tedi siang tadi, sayang. Kamu jangan marah dong, say," ucap Gaby santai. Mba Mery nggak menghiraukan ucapan Gaby barusan.
"Anak baru. Ayo pulang," perintah Mba Mery.
Aku diam, sambil melihat Gaby lalu menatap Mba Mery.
"Kenapa lihat aku kayak gitu? Ayo pulang," ucap Mba Mery melotot.
"Mer... biar aku yang ngomong sama Sandi ya," ucap Gaby.
"Diam kamu, Gab. Aku lagi ngomong sama anak ini," ucap Mba Mery ke Gaby.
"Mau pulang bareng aku, atau dijemput Rendi ke sini?" ancam Mba Mery.
Aku diam aja sambil terus menatap Mba Mery...
"Kenapa sih cewek satu ini? Sampai segitunya sama aku. Terserah akulah mau tidur di mana, tidur dengan siapa. Kenapa dia mencampuri urusanku?" ucapku dalam hati.
Gaby berdiri dan mendatangiku.
"Lebih baik kamu pulang aja, San. Aku tau kalau sikap Mery sudah begini nggak bisa ditolak. Besok-besok aja kita ketemu lagi," bisik Gaby.
"Huuufffttt... nggak pa-pa nih kalau aku pulang sekarang. Kamu gimana? Kok dia marah gini sih?" ucapku pelan.
"Udah nggak pa-pa. Dia kalau marah sama aku paling juga sehari aja. Besok juga pasti cari aku lagi. Nah, kalau marahnya ke kamu... bisa dipotong tititmu. Dah, pulang sana," ucap Gaby sambil bercanda.
"Sandi... ayo,oooo..." ajak Mba Mery. Baru kali ini aku dipanggil nama sama Mba Mery — biasanya juga cuma dipanggil anak baru.
"Okelah kalau gitu. Maaf ya... aku pulang dulu, Gab," ucapku ke Gaby.
"Hati-hati ya," ucap Gaby.
Aku cuma tersenyum... lalu pergi bersama Mba Mery...
Cuukkk... kenapa dia selalu datang disaat seperti ini ya...