EPISODE 15
BAGIAN 15
OLAH RAGA MALAM
Di depan kos Alexis...
"Nih kuncinya..." Mbak Mery menyerahkan kunci mobil kepadaku.
"Ga bisa bawa mobil aku..." jawabku sambil membakar rokok lalu menghisapnya.
"Ga usah bohong. Ini..." katanya memaksa.
Ini cewek kenapa sih? Kok segitunya banget maksanya? Dia ga tau apa kalau aku lagi kesel gara-gara dia maksa aku balik? Katanya perasaan wanita itu peka, kok ga bisa ngerasain apa yang kurasa sekarang? Hiuuufffttt...
"Kalau aku yang bawa, cuman dua tujuan kita. Rumah sakit atau kuburan..." jawabku jengkel.
"Terserah." Dia langsung membuka pintu samping kiri mobil dan duduk di depan bagian samping sopir.
Cuukkk... bener-bener aneh wanita satu ini. Oke, kalau itu maumu. Sebenarnya aku bisa aja bawa mobil, tapi... caranya dia yang maksa aku pulang itu loh yang bikin jengkel. Terus sekarang malah maksa aku nyopirin. Cuukkk banget ga? Sekarang kita lihat aja siapa yang kuat bertahan. Kamu yang nyetirin atau aku?
Aku masih berdiri di samping mobil, membakar rokokku dan menghisapnya.
TIK..TOK..TIK..TOK..
Sepuluh menit. Dua batang rokok.
TIK..TOK..TIK..TOK..
Dua puluh menit. Tiga batang rokok.
TIK..TOK..TIK..TOK..
Tiga puluh menit. Enam batang rokok.
Aku ambil lagi rokokku. Cuukk... habis lagi rokokku. Kulihat kanan kiri, ga ada warung. Tenggorokan kering, kepala pusing, belum minum teh. Bajingan. Lengkap memang sudah penderitaanku.
Kulihat dia masih anteng aja di dalam mobil. Memang kalau main bertahan beginian sama perempuan, sampai Indonesia masuk piala dunia ga akan ada selesainya. Cuukkk... Akhirnya aku berjalan mendekati pintu mobil sebelah kanan, membuka pintu sopir lalu duduk.
Aku pasang safety belt, setelah itu aku starter mobilnya. Cuukkk... kalah telak aku. Sudah diajak pulang aku nurut, disuruh nyetirin akhirnya aku terima. Bajingan.
Mobil berjalan pelan membelah jalan yang sudah mulai gelap ini. Aku sempat melirik ke samping. Mbak Mery lagi melihat spion kiri mobil sambil menutup mulutnya. Bajingan. Dia lagi nahan ketawa. Asuu... asuu...
"Hahahahaha..." Dia sudah ga kuat menahan tawanya.
"Puas kamu, Mba..." kataku jengkel.
"Hahahahaha..." Dia terus tertawa.
"Aku turun di sini aja ya..." kataku langsung mengurangi kecepatan mobil dan menyalakan lampu sein kiri.
"Iya.. iya.. sudah, aku ga ketawa lagi. Jangan ngambek lah, anak baru..." kata Mbak Mery.
"Oh iya, Gaby itu satu jurusan dan satu angkatan sama aku. Kami satu kelas juga..." kata Mbak Mery.
"He'em..." jawabku singkat. Emang apa urusanku? Mau satu jurusan, satu angkatan, satu kamar, satu persusuan... ga ada urusan sama aku. Yang jelas, kamu sudah merusak rencana pesta malam ini.
"Tadi aku tuh rencananya mau ambil buku, eh ga taunya ada kamu di situ..." katanya lagi.
"He'em..." Mau ambil buku, ambil tas, ambil baju, ambil sempak, terserah kamu. Kok ga ngerasa betul sih kalau aku lagi bete.
Gila cewek satu ini. Tadi marah-marah, sekarang malah ngajak ngobrol seperti ga ada dosa aja...
"Nih..." Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memasang sedotannya.
"Kenapa ga dari tadi? Pusing kepalaku ini, Mba..." Aku langsung mengambil teh kotak dari tangannya dan meminumnya. Wahhh... segarnya... Terima kasih Tuhan... atas nikmat yang Kau berikan... Seketika kepalaku langsung adem dan kejengkelanku langsung larut di dalam teh yang masuk lewat tenggorokan.
"Bukannya terima kasih, malah ngomel-ngomel..." kata Mbak Mery.
"Oh iya, Mba. Terima kasih ya, hehehehe..." kataku sambil tersenyum.
"Ternyata dengan teh sekotak sudah bisa menghilangkan betemu ya..." kata Mbak Mery santai.
"He'em... ga usah dibahas ya..." ucapku datar.
"Iya. Eh, ngomong-ngomong, sangar juga tattomu, anak baru..."
"Ooo itu... biasa aja kali, Mba. Mba orang ketiga yang ngelihat tattoku di kota ini..." jawabku santai.
"Yang pertama Amel, kedua Gaby, dan ketiga aku. Gila... semua wanita ya. Dan sudah kamu tiduri semua kecuali aku..." ucap Mbak Mery.
"Iya. Dan yang terakhir ga mungkin aku tiduri..." jawabku santai sambil menyetir dan meminum teh kotak.
"Kenapa? Aku ga cantik kayak dua orang yang kamu tiduri sebelumnya?" tanya Mbak Mery.
"Cantik itu relatif, Mba. Tapi ada hal yang lain yang buat aku ga mau niduri, Mba..." jawabku.
"Rendi..." jawabnya.
"Mungkin salah satunya itu..." ucapku sambil menikmati tehku.
"Berarti ada hal lain..." kembali dia bertanya.
Aku cuman tersenyum sambil menghabiskan tehku.
Setelah perjalanan kira-kira dua puluh menit, kami turun di depan kampus dan memarkirkan mobil di pinggir jalan. Semua mata melihat kami, ada yang menegur Mbak Mery sambil melihatku tajam.
"Loh, Bule mana, Mba? Kok jalan sama anak ini?" tanya seseorang.
"Di kosan. Ini adinya Bule..." jawab Mbak Mery cuek.
"Ohhhh..." Orang itu langsung pergi dan tersenyum padaku.
"Emang kalau Mba jalan sama cowo lain ditanyain begitu ya, Mba?"
"Iya. Kalau kubilang kamu cowoku, mungkin kamu dihajar rame-rame di sini..." jawab Mbak Mery.
"Wiiihhh... enak ya pacaran sama preman kampus, banyak yang jaga... hehehe..." ucapku.
"Biasa aja. Justru aku risih kalau banyak yang perhatiin aku..." jawab Mbak Mery.
"Oooo. Eh, ntar ya Mba, aku ke toko dulu..." ucapku.
"Tur, biasa..." ucapku ke Guntur penjaga toko.
"Siap, bos. Ini..." Guntur menyerahkan rokok dan teh kotak.
"Mba mau teh?" tawarku ke Mbak Mery.
"Engga haus aku. Kalau haus sudah kuminum tadi teh kotak yang kukasih ke kamu..." jawab Mbak Mery.
Kami pun berjalan masuk ke gang, sambil membakar rokok dan menghisapnya, lalu meminum teh kotak yang baru kubeli.
Tiba di depan pintu kos...
"Mba, jangan cerita ke Mas Rendi ya tentang aku di kos Gaby..." ucapku.
"Ya lihat nanti aja lah..." ucapnya sambil membuka pintu kos.
Semua orang melihat ke pintu. Kulihat di ruang tengah penghuni kosku sedang berkumpul dan seperti biasa lagi pesta. Dan aku terkejut. Semua orang di dalam kos tidak ada yang memakai baju, mereka hanya memakai celana panjang. Hampir semua yang di dalam kos badan mereka bertatto, tapi tidak sebanyak tattoku sih.
Bung Toni yang hari ini menjadi bandar minuman.
"Eh, Ay... kok sama Sandi datangnya?" tanya Mas Rendi.
"Ga pa-pa, beb. Tadi nemu di jalan orang ini. Ehh... kok pada porno semua sih? Kenapa buka baju?" tanya Mbak Mery.
"Oooo... ngga. Ini karena ada Mas Adam sama Mas Arief. Biasakan kalau mereka minum pasti pada buka baju..." ucap Mas Rendi.
"Halo Mas Adam, Mas Arief. Gimana kabar?" tanya Mbak Mery.
"Baik. Tambah cantik aja kamu, Mer. Kelihatan Rendi bagus ngerawatnya... hahhaha..." ucap Mas Adam.
"Bisa aja Mas Adam ini..." jawab Mas Rendi.
"Woiii... Sandi! Gue kangen sama loe nih... hahahaha..." teriak Mas Wawan seperti biasa.
"Ko, duduk di sini, gabung. Torang pesta lagi malam ini..." ajak Bung Toni.
Sedang yang lain tersenyum padaku. Aku membalasnya dan aku juga tersenyum pada dua orang yang tadi disebut Mas Rendi.
"Ntar mas ya, aku taruh tasku dulu di kamar..." pamitku pada Mas Wawan dan Bung Toni.
Setelah itu aku balik dan duduk bareng dengan teman-teman kosku.
"Ko, minum dulu..." Bung Toni menyerahkan gelas kepadaku.
"Oh iya, Bung. Terima kasih. Aku minum dulu ya, semua..." ucapku sambil mengangkat gelas dan meminumnya.
"Woii... pujangga bajingan yang galau! Dari mana seharian kok datangnya bareng sama Mery?" panggil Mas Rendi. Cuukk... Mas Rendi manggil pujangga bajingan ke aku.
"Ketemu di jalan, Mas..." ucapku berbohong.
"Oh gitu ya. Oh iya, San, kenalin. Ini Mas Arief dan yang ini Mas Adam, mereka yang di kamar atas. Dan yang satu lagi yang mukul kamu sampe pingsan itu Mas Pandu, dia ga datang. Dia lagi ada panggilan keluar daerah mendadak semalam..." ucap Mas Rendi.
Aku menunduk dan tersenyum sambil menyalami mereka berdua.
"Aku dengar dari dalam tadi ada yang bilang ketemu kamu di jalan ya..." kata Mbak Mery.
"Lah, terus ketemu di mana, Ay?" tanya Mas Rendi.
"Di kos Alexis..." jawab Mbak Mery.
Cuukkk... jujur banget kamu, Mba. Kenapa ngomong... Aku langsung tunduk pura-pura bakar rokok.
"Assu... jauhnya loe main ke kos Alexis. Gila, kos-kosan elit tuh..." kata Mas Wawan heran.
"Gendeng, wingi nang Barbara, saiki Alexis. Suuaangar koen, San..." *(Gila, kemarin dari Barbara, sekarang dari Alexis. Sangar kamu, San...)* ucap Mas Bendu tersenyum mengejek.
Dan yang lain cuman bengong seakan ga percaya aku melanglang buana sampai ke sana.
"Kok bisa kamu ketemu dia di Alexis ketemu Sandi, Ay? Dia datangin siapa di sana?" tanya Mas Rendi.
"Kumohon, Mba... kumohon... kali ini jangan jujur... habis aku dibully nanti..." ucapku dalam hati sambil melirik Mbak Mery.
"Jadi gini, beb. Tadi waktu aku ke kamar Gaby, aku ketuk lama sekali dia keluar. Sekali keluar, Gaby pake kimono habis mandi. Aku nyelonong aja masuk, kan biasa gitu di kamar Gaby. Pas aku masuk... eh, ini anak baru keluar dari kamar mandi cuman pakai handuk aja. Gila ga?" cerocos Mbak Mery tanpa merasa dosa dan bersalah.
Cuukkk... mati aku... matiii...
"Apaaaaa... cukimai ko Sandi..." teriak Bung Toni.
"Jancok..."
"Asu..."
"Bajingan lendir..."
"Bajingan selangkangan..."
"Weduss..."
"Tai laso..."
"Kimaknya..."
Semua makian diarahkan padaku dan semua mengeleng-gelengkan kepala. Sedang aku cuman santai pura-pura tuli aja.
"Pujangga bajingan memang kamu, San. Belum satu bulan di sini kamu sudah menjajah Barbara dan Alexis. Gila kamu, San... hahaha..." ucap Mas Akbar sambil geleng-geleng.
"Lah, dia malah santai mas, pura-pura ga dengar... hahaha..." ucap Alan.
"Hahahaha, asu... asu..." Mas Bendu menatapku sambil tertawa.
"Luar biasa berarti dia, Ren. Kamu aja nunggu satu tahun baru main ke Barbara... hahaha..." kata Mas Arief ikutan ngomong.
"Hahahahaha..." Yang lain tertawa, sedang Mas Rendi dan Mbak Mery tertunduk malu.
"Terus besok-besok ke mana lagi kamu, San?" Mas Rudi sambil tersenyum.
Aku masih pura-pura tidak mendengar dan ga mau jawab, daripada salah ngomong...
"Aku kemari aja deh, malas di sini pada porno semua, pada buka baju. Iiii..." kata Mbak Mery langsung masuk kamar Mas Rendi.
Oh iya, baru aku sadar ternyata aku aja yang masih pake baju. Mas Rendi pun melirik ke aku.
"Kita buka baju untuk menghormati Mas Adam dan Mas Arief, San. Itu alasannya kenapa kami semua lepas baju. Biar ga ada terlihat perbedaan angkatan. Semua wajib buka baju, kecuali kamu. Kami ga akan memaksamu membuka baju... daripada kami semua kamu hajar seperti Udin..." Mas Rendi berkata sambil tersenyum, dan kulihat yang lain tersenyum kecut.
Aku merasa tidak enak disindir Mas Rendi. Memang salah satu alasanku kemarin emosi di ruang keamanan — selain karena dia menghina ibuku, dia juga memaksaku buka baju di depan panitia. Aku tidak enak kalau kemarin mereka melihat tattoku.
Aku cuman bisa tertunduk malam ini dan...
"Mohon maaf mas ya..." aku berkata sambil berdiri.
Kulihat mereka semua menatapku dan mungkin mau marah karena dikira aku mau keluar. Perlahan kubuka kancing kemejaku. Selanjutnya kubuka kaosku. Selanjutnya aku membalikkan badan untuk menaruh pakaianku di kursi belakang.
Mereka kaget melihat tattoku di depan dan belakang tubuhku.
"Anjing... sangar tattomu, San..." ucap Mas Wawan.
"Nggak, mas. Ini cuman tanda lahir..." jawabku mencoba bercanda.
"Suwek loe! Masa malaikat yang ngelukis badan loe waktu di dalam kandungan?" balas Mas Wawan, dan yang lain tertawa mendengar omongan Mas Wawan.
"Gila kamu, San. Baru lihat aku tattomu..." kata Alan.
"Makanya kamu kemarin ga mau buka baju waktu disuruh Udin. Ini to alasannya..." kata Mas Danis, dan aku mengangguk.
"Kamu memang penuh kejutan, San..." kata Mas Rendi.
"Kejutan apasih, Mas... hehehe..." kataku.
"Sudahlah, ga usah dibahas..." kata Mas Rendi.
"Loh, Mas Raimond ga kelihatan, ke mana mas?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Dia ada undangan pertandingan persahabatan sesama anak plano dari anak-anak kampus teknik Kuru..."
"Ooo... sering emang gitu ya, mas?"
"Sering aja pertandingan persahabatan. Tapi hasil akhirnya kebanyakan ga bersahabat — pasti tawuran... hehehe..." kata Mas Rendi.
Tiba-tiba pintu kos terbuka dan Mas Raimond masuk ke dalam. Cuukkk... kenapa Mas Raimond ya? Kok babak belur gini kondisinya?
"Ko, kenapa, Mon...?" tanya Bung Toni sedikit emosi.
"Lapo rek...?" (Kenapa...?)
"Kamu ga pa-pakah, Mon..."
"Siapa yang berani ngeroyok kamu..."
"Bangsat! Ayo kita cari, yo..."
Satu-persatu teman-temanku bertanya dengan emosi ke Mas Raimond. Mas Raimond langsung duduk dan mengelap wajahnya yang banyak lebamnya. Setelah itu dia membuka bajunya tanpa ada yang meminta — mungkin dia paham karena melihat kami telanjang dada semua. Badannya lumayan kekar dan bertatto di lengan kanan bergambar om Bob Marley ngisap ganja... Tampak beberapa lebam juga di dada dan punggung Mas Raimond.
"Bung, minuman dulu. Haus aku ini..." kata Mas Raimond ke Bung Toni.
"Oh iyo. Habis itu ko cerita ya..." kata Bung Toni lalu memberikan minuman ke Mas Raimond. Mas Raimond langsung meminum lalu mengambil rokok mild di meja dan menghisapnya dalam-dalam.
"Tadi kami main bola di lapangan Kuru lawan plano kampus teknik Kuru. Kami berjumlah sekitar seratus oranglah ke sana, mereka lebih banyak dua kali lipat dari kami. Pada saat main, pertengahan babak pertama mulai ada gesekan, tapi bisa dikendalikan karena yang ribut cuman di dalam lapangan. Kejadian itu terus-menerus sampai babak pertama selesai..."
"Puncaknya babak kedua. Pada saat ada gesekan di lapangan terjadi, penonton ikut masuk dan mengejar pemain kami. Kami yang di pinggir berlari ketengah membanjiri teman-teman pemain. Kami bisa melawan dan bisa mengimbangi walaupun kalah jumlah. Justru bisa dibilang kami hampir menang lah..."
"Tapi ga lama datang anak-anak sipil kampus Kuru, dia ikut bantu anak plano sana. Kami terdesak, tapi masih melawan. Sampai waktu anak-anak mesin Kuru datang membantu, kami sudah kalah jumlah, kalah tenaga. Semua terkapar, tinggal aku sendiri yang melawan..." kata Mas Raimond sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Loh, bukannya anak mesin sudah janji kalau ada perkelahian jurusan antar kampus Kuru dan kampus kita mereka ga ikut-ikut? Galih sendiri yang hadir dan menyetujui itu..." ucap Mas Adam. *(Galih itu salah satu dedengkot mesin anak Kuru angkatan Mas Adam.)*
"Justru aku tumbangnya sama Galih, mas..." kata Mas Raimond.
"Wah, ge bener ini. Kelihatannya kita harus ke Black House untuk silaturahmi ini..." kata Mas Arief.
"Betul juga, mas. Lama sudah kita ga olahraga malam... hehehe..." kata Mas Adam menyahut.
"Gimana menurut loe, Bule?" tanya Mas Wawan ke Mas Rendi yang dari tadi diam sambil menghisap rokoknya. Kelihatannya Mas Rendi emosi tapi ditahan. Matanya merah dan menatap tajam ke depan, wajahnya pun ga secerah tadi.
"Ayo siap-siap..." kata Mas Rendi singkat dan padat lalu berdiri.
"SIAP..." Semua penghuni berdiri lalu masuk ke kamar masing-masing.
Aku bingung, lalu mengikuti Alan yang kamarnya di sebelah kamarku.
"Kakanda Bima... ada apa gerangan? Kenapa kita disuruh bersiap-siap?"
"Duryodana telah melakukan kesalahan besar, adinda. Dia mencari masalah dengan kita. Dia telah mengganggu Nakula dan Sadewa. Jadi kita harus bersiap-siap untuk menyerang kerajaan Kuru bersama..."
"Apakah ini maksudnya perang Baratayuda, Kanda?"
"Bukan, adinda Arjuna. Perang besar itu belum akan terjadi sebelum engkau menemukan Drupadi dan kau jadikan istri..."
"Aku belum siap untuk menikah, Kanda. Tapi aku telah menyebar benih... dan aku telah melakukannya di dua kerajaan besar di sini..."
"Bajingan, kau pendekar lendir! Ternyata kau telah melakukannya tanpa seijin Kakanda Yudistira..."
"Itu terlalu niat, Kanda Bima. Aku terlalu terbuai dengan kenikmatan duniawi, jadi aku belum ijin dengan Kakanda Bima dan Kakanda Yudistira. Maafkan aku, Kakanda..."
"Assu, sekali kau, adinda..."
"Hahahahaha..." Kami pun tertawa dengan percakapan yang tidak berguna ini.
"Terus gimana ini, Lan?"
"Ya, kita ganti pakaian, terus kita uji beton..."
"Apa itu uji beton, Lan?"
"Uji beton itu uji kekuatan beton yang kita lakukan di lab sipil. Garis besarnya gini: biasanya kita membuat adukan campuran semen, terus kita akan membuat beberapa sampel dan akan mengeraskannya. Sampel itu terdiri dari 3 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Kita akan menguji kekuatan beton itu sesuai dengan hari yang tercantum pada sampel. Biasanya pada hari ke-28 beton akan mengalami pengerasan yang sempurna..." jelas Alan.
"Lah, terus hubungannya sama malam ini apa?" tanyaku sambil menggaruk kepala.
"Kalau uji beton malam ini maksudnya gini..." kata Alan sambil mengepalkan tangan ke wajahku.
"Ohhh... kita mau tawuran! Jancuukkk, tinggal ngomong tawuran aja pake jelasin praktikum uji beton segala. Bajingan... hahahaha..." kataku sambil tertawa.
"Biar keren. Kita anak sipil, jadi tawuran juga pake istilah sipil: uji beton... hahahaha..." Alan menjelaskan sambil tertawa.
"Pakai kaos merah kalau ada, San. Sama celana levis hitam, terus bersepatu..." kata Alan.
"Siap. Kayaknya pestanya meriah ini, kok kita harus rapi... hahahaha..."
Setelah berganti pakaian, kamipun berkumpul di ruangan tengah. Semua kaosnya sama warna merah dan ada tulisan "Red Castle" berwarna hitam yang mengalir seperti darah. Sangar, cuukkk... Aku aja yang warna merahnya beda sendiri bentuknya.
"San, pakai ini..." Tiba-tiba Mas Rendi memberikan sebuah kaos. Setelah kubuka, kaosnya sama seperti mereka. Cuukkk... resmi aku. Cuukkk... jadi penghuni kos Pondok Merah.
Kami menghabiskan minuman, lalu berjalan keluar bersama-sama menuju mobil Mas Adam dan Mas Arief. Selama berjalan keluar kami berjalan beriringan sambil memasukkan tangan ke kantong. Semua mata memandang kami, tapi tidak lama mereka memandangnya karena mereka takut kalau dikira menantang.
Kamipun berangkat terbagi menjadi dua mobil. Perjalanan kami kira-kira tiga puluh menit dari kos Pondok Merah ke Black House di dekat kampus Kuru. Lokasi kos-kosannya ada di belakang kampus Kuru, dan kami telah berhenti di depannya. Sebuah bangunan berwarna hitam dan berlantai dua. Dari depan terlihat gelap dan menyeramkan. Kami pun turun dari mobil. Di depan berjalan duluan Mas Arief, Mas Adam, dan Mas Rendi. Kami mengikuti dari belakang.
Setelah masuk ke dalam, rupanya bentuk kos-kosannya kurang lebih seperti kos Pondok Merah, tapi ini lebih luas dan banyak kamar. Mungkin ada lima puluh kamar di dua lantai, dan ruang tengahnya sangat luas.
Tampak mereka semua ada di ruang tengah, lagi berpesta minuman, dan di tengah mereka ada lima orang berkepala gundul yang jongkok dikelilingi penghuni kos ini.
Pada saat kami masuk, mereka semua menoleh ke arah kami. Mereka menatap tajam kami.
"Halooo, Adam! Lama tak jumpa. Selamat datang di Black House... hehehe... Gimana kabar singa tua?"
"Baik, Lih. Kelihatannya lagi pesta ini..." kata Mas Adam sambil membakar rokok.
"Ngga juga. Cuma memberi pelajaran sedikit sama calon penghuni kos-kosan baru ini. Biar ga kurang ajar sama senior..." kata Galih sambil melihat lima orang berkepala gundul yang lagi jongkok.
"Oh iya, Dam. Aku dengar katanya ada anak baru kampus teknik swasta yang mukul tiga orang panitia keamanan waktu ospek sampai dibawa ke rumah sakit ya..." Galih bertanya, tapi Mas Adam cuman tersenyum sinis aja.
"Wah... berarti Pondok Merah sudah ga ada tajinya ya. Sampai ada maba yang berani sama senior..." kata Galih.
Assu... dia nyindir aku kah?
"Eh, sampai aku lupa tanya. Ada perlu apa ini, kok semua penghuni Pondok Merah bertamu dadakan di kos kami?"
"Kamu pasti pahamlah, ga usah kujelaskan..." kata Mas Adam datar.
Cuukkk... lama sekali ini duelnya. Terlalu banyak omong orang-orang ini...
"Jadi gimana ini? Mau dimulai satu-persatu, atau kita langsung maju semua?" kata Mas Adam.
"Santai aja, Dam. Kita pemanasan aja dulu. Itu yang satu kelihatannya anak baru ya dari Pondok Merah. Gimana kalau kita adu aja dulu, anak itu sama salah satu anak baru kosanku..." kata Galih sambil menunjukku lalu menunjuk salah satu anggotanya yang berkepala gundul.
"Woiii... kamu berlima berdiri! Itu yang badan besar maju. Duel sama anak baru kosan Pondok Merah ini..." kata Galih sambil menunjukku.
"Kamu siap maju, San?" kata Mas Rendi.
"Dari tadi, mas..." Sebelum diperintahkan duel, aku langsung lari ke depan.
Aku berlari menuju anak yang ditunjuk berduel denganku. Aku lalu melompat sambil mengarahkan pukulan straight tepat di wajahnya.
BUMMMMMM...
Pukulanku tepat mengenai wajahnya dan dia roboh ke belakang dengan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya. Semua penghuni Black House terkejut aku memulai duluan dan kaget melihat anggota mereka roboh bersimbah darah. Teman-teman Pondok Merah pun cuman geleng-geleng lihat aku langsung memulai perkelahian ini.
Aku mendatangi empat orang berkepala gundul. Dua orang mencoba menyerangku bersama. Satu memukul ke kepalaku, aku tunduk, dan aku uppercut di dagunya.
BUHHGGGG...
Dia langsung terjengkang ke belakang. Satu lagi coba menendangku, aku blok dengan tangan kiri. Aku langsung memukul pas di tengah dadanya dengan sangat keras.
BUUHHGGGG...
Dia termundur ke belakang dengan mata yang melotot dan napas yang sesak. Aku langsung meloncat dan menghadiahkan sebuah tendangan pas di rahang kirinya.
BUUMMMMM...
Diapun roboh menghantam lantai. Tinggal dua orang lagi yang maju bersama. Aku meloncat sambil memegang kedua kepala orang itu dan membenturkannya satu sama lain...
BUUHGGGG...
Mereka berduapun goyang karena pusing. Aku lalu mendekati dua orang tersebut. Satu orang kuhajar pas di pelipisnya, dan satu lagi tendangan tepat di wajahnya, secara bersamaan.
BUMMM...
Dua orang roboh bersamaan.
"SERANGG..." kata Galih memberi komando teman-teman kosnya. Semua langsung berlari ke arahku. Tendangan dan pukulan banyak orang ga bisa aku hindari. Kepala, badan, dada, dan kaki semua diserang secara bersama-sama. Cuukk, aku dikeroyok banyak orang. Dalam kondisi seperti ini aku harus dapat satu orang yang harus kubuat hancur. Biar aku parah, paling ngga ada salah satu mereka yang hancur juga.
BUUHHGGG
BUUHHGGG
Bunyi pukulan yang kuarahkan dan pukulan yang aku terima di tubuhku.
Aku langsung menarik satu orang dan memeteng lehernya. Kuhajar bertubi-tubi wajahnya — hidung, mulut, dan matanya jadi sasaran pukulanku yang keras.
Teman-teman kosku pun berlari ketengah menuju ke arahku.
BUUHHGGG
BUMMMMMM
BUUHHGGG
Mereka menghajar satu-persatu dengan brutalnya. Orang-orang Black House berlarian ke pinggir. Setelah itu, teman-teman Pondok Merah melingkar di sekelilingku dengan memasang kuda-kuda, lalu mengepalkan kedua tangan ke depan seperti petinju. Aku yang di tengah dengan kondisi yang lumayan parah dan berdarah tetap berdiri dengan satu orang yang aku peteng tadi. Aku baru sadar ternyata dia sudah tidak bergerak lagi, dan mukanya penuh darah. Aku langsung melepaskannya dan dia terungkur di sampingku, tidak bergerak.
"SERANGG..." Giliran Mas Rendi yang berteriak. Teman-temanku yang melingkar lalu memencar mencari lawan sendiri-sendiri. Aku yang di tengah tidak mau ketinggalan. Sambil menyapu luka di pelipis, aku berlari mencari mangsa.
BUUUHHHGGGG
Satu orang roboh setelah dadanya aku adu dengan lututku dengan keras. Aku menghantamnya dengan keras sekali, sampai dia roboh ke belakang dan sesak napas. Ketika jatuh ke lantai, aku injak sekali wajahnya.
BUUHHGGG
Darah langsung keluar dari mulut dan hidungnya. Dia tergeletak tidak bergerak.
Aku melihat sekeliling, suasananya sangat seru sekali. Kami satu kos Pondok Merah harus menghadapi dua sampai lima orang karena jumlah mereka yang banyak.
Mas Arief yang kalem merobohkan tiga orang dengan tinju mautnya. Mas Adam menghajar Galih dan menginjak wajahnya sampai pingsan. Mas Rendi dengan pukulan bertubi-tubi yang sangat keras merobohkan empat orang sekaligus. Mas Bendu asyik dengan dua orang yang dibenturkan ke dinding. Bung Toni mengadu kepalanya dengan kepala seseorang yang membuat orang itu langsung pingsan — kepalan tangan Bung Toni pun menjatuhkan tiga orang. Sedang Mas Wawan menerjang dengan tendangan mautnya yang mengenai wajah musuhnya.
Mas Raimond yang mau balas dendam karena tadi dikeroyok, menghajar membabi buta setiap orang yang dilihatnya. Mas Akbar, Mas Danis, Mas Bobby, dan Mas Rudi pun tidak kalah gila — mereka mengamuk sampai mengejar ke dalam kamar anak-anak kos Black House, lalu menyeretnya keluar dan menginjak kepala orang-orang itu. Kakanda Alan tidak kalah gila, dia memutar tendangan mautnya sampai merobohkan dua orang.
Hari ini aku baru tau keganasan dan kebrutalan kos Pondok Merah. Mereka tidak pandang bulu dan tidak ada belas kasihan dalam menghajar orang-orang yang berani menyakiti anggotanya. Apalagi kalau sudah menyangkut nama kampus... mereka menggila segila-gilanya. Mengerikan sekali pokoknya.
Setelah semua musuh dilumpuhkan, Mas Adam mendatangi Galih yang telah sadar dan terkapar bersimbah darah. Mas Adam lalu jongkok dekat wajah Galih.
"Jangan main-main sama anak kampus teknik kita ya. Apa lagi sama anak kos Pondok Merah. Kalau kamu menyakiti salah satu anggotaku lagi, kubuat kamu ga bernyawa, terus kubuang ke laut selatan. Paham kamu..."
"Satu lagi — maba anak teknik yang kamu bilang menghajar tiga panitia keamanan itu anak Pondok Merah. Makanya kita ga bertindak. Itu anaknya yang merobohkan lima jagoanmu..." kata Mas Adam sambil menunjukku.
"Terima kasih atas jamuanmu malam ini. Kami puas..." Mas Adam langsung berdiri dan berjalan ke arah kami.
"Ayo pulang. Lumayan juga ya. Biasanya aku bisa merobohkan sepuluh orang, tadi paling cuman lima. Kayaknya harus sering olahraga malam ini... hehehe..." kata Mas Adam. Kami pun membakar rokok masing-masing dan melangkah keluar bersama-sama. Tampak wajah sumringah dari teman-teman kosku, berbeda pada saat tadi datang yang kelihatan seram. Kami meninggalkan Black House dengan kemenangan yang sangat telak.
Assuuu... keren ga, cuukkk... hahahaha...
cuukkk asyik juga ikut olahraga malam ini...