EPISODE 16
BAGIAN 16
SEDIKIT RAHASIA
Disuatu tempat...
Telepon genggam di telingaku menyala. Di seberang sana, suara berat dan akrab itu terdengar.
"Halo, masss..." sapaku.
"Halo juga, ade sepupu, hehehe... Gimana kemarin?"
"Lumayan, mas. Aku disuruh istirahat di rumah sakit beberapa hari."
"Kan sudah kubilang anak itu pukulannya lumayan. Malah kamu tantang."
"Aku kan cuma main-main, mas. Wong Ampean yang nyuruh nantang. Eh, sekali-sekali tantangan langsung disambar."
"Hahahaha... Iya wes. Kapan kamu ke sini? Ini ada proyek buat kamu."
"Aku sih pengen secepatnya ke sana, mas. Tapi aku selesaikan dulu kuliahku. Malu, sudah lama kuliah nggak selesai-selesai."
"Iya wes, selesaikan kuliahmu cepat. Sekalian jaga keponakanmu di sana ya."
"Siap. Salam buat Mbayu, mas."
"Oke."
Sambungan terputus.
---
Amelia Putri
Hari yang cerah... untuk jiwa yang sedang gundah gulana. Beberapa hari lalu aku sempat menghilangkan stres sebentar lewat "olahraga malam". Hari ini aku berniat jalan-jalan keluar, cuci mata, sekalian mencari buku untuk keperluan kuliah. Tujuan utamaku sederhana: cari toko buku, baca-baca sedikit. Masa otak terus saja yang diasah—otak juga harus diasah sekali-kali.
Dan nggak sengaja, aku bertemu dengan Mba Amel tepat di lorong toko buku.
"Loh, mba... sendirian? Mana Alan?"
"Iya, Pur. Lagi pengen sendiri aja. Alan ada di kos. Aku sudah izin tadi sama dia."
"Oh. Kalau gitu aku pergi dulu ya." Aku pamit.
"Loh kok gitu? Kenapa pergi?"
"Katanya pengen sendiri. Ya udah aku pergi, dong."
"Kalau kamu pergi, kutelpon Alan sekarang. Kubilang kamu di sini godain aku, terus ngajak jalan berdua."
Ancam Mba Amel dengan wajah datar.
Cuukkk... sadis amat. Dia yang bilang pengen sendiri, giliran ditinggal malah ngancam. Cuukkk banget. Nggak bisa ditebak memang pikiran wanita ini.
"Bah... kok gitu sih, mba. Iya, iya, aku temani." Aku mengalah.
Kami pun mencari buku bersama. Setelah dapat buku masing-masing, kami nyeberang ke sebuah café untuk minum.
"Gimana kabar kamu, Pur?" Mba Amel menyesap es coklatnya.
"Baik, mba. Mba sendiri gimana? Sama Alan lancar-lancar aja kan?"
"Seperti yang kamu lihat, baik juga. Kalau sama Alan... ya biasalah, lagi menikmati masa-masa pacaran. Lagi berbunga-bunga lah, istilahnya."
Cuukkk... singkat sih kata-katanya, tapi dalam dan menusuk sampai ke jantungku.
*(Biasa aja kali, nggak usah lebay. Kalau kukencingi mukamu...)* Tiba-tiba suara makhluk asing itu muncul lagi di kepala.
*(Cuukkk... siapa sih kamu? Datang-datang pasti bikin jengkel.)* bantahku.
*(Hahaha... kalau jomblo memang emosian ya. Apalagi kalau sayang sama orang, terus orang yang kita sayangi malah sayang sama teman sendiri. Tingkat emosinya tinggi, selevel dewa matahari. Isinya panas dan pengen membakar apa aja yang ada di depannya. Hahaha...)*
*(Assuuu... kalau kamu ngolok terus, kucari kamu. Kupotong tititmu biar nggak bisa kencing lagi.)* ancamku.
*(Memang biadab kau anak muda. Nggak punya sopan santun. Aku pergi dulu. Mau cari toilet. Ngomong sama kamu perutku langsung sakit. Pengen ngenge.)*
(Cuukkk... pergi kau!)
"Baguslah. Semoga mba langgeng sama Alan ya, hehehe." Aku berusaha santai, menutupi rasa cemburuku.
"Kok nggak pernah main ke kosan sih, mba?" tanyaku sambil mengisap rokok.
"Nggak... eh... nanti... eh... belum sih... ehh... elehhh... belum siap aja, lah, intinya." Jawabnya terbata-bata.
"Emang kenapa? Nyantai aja kali ke kosan. Cewek boleh masuk kok."
"Kalau itu aku tahu. Aku pernah sekali ke sana. Serem-serem di dalam orangnya." Ada yang ditutupinya, kurasakan.
"Kenapa takut? Makanya banyakin ibadah biar nggak takut menghadapin yang serem-serem."
"Kurang ajar, malah ngajarin aku lagi." Mba Amel melotot. Cuukk... kalau begini tambah manis aja kelihatannya. Hiufft... cobaan apalagi ini.
Sebenarnya aku sudah mulai melupakan rasa sayangku ke Mba Amel. Nggak mungkin kan aku memaksa dia menerima perasaanku? Lagi pula dia lebih memilih jadian dengan kakandaku tersayang—kakanda Alan Bima Hastinapura. Cuuk, enak banget kasih nama orang. Hahaha.
Tapi hari ini dia duduk di depanku, menatapku... dan rasa itu mulai bergairah lagi. Cuukkk... lupakan. Lupakan. Ingat, dia pacar temanmu sendiri.
"Maaf ya, Pur... kalau aku ngecewain kamu."
"Santai aja, mba. Nggak ada yang dikecewain di sini. Jadi nggak usah dipikirin." Aku menyesap es teh pesananku, lalu mengambil sebatang rokok lagi, membakarnya, menghisapnya perlahan.
"Mba... jujur ya. Aku pernah memaksa Tuhan untuk menjadikanmu kekasihku, karena besarnya rasa sayangku ke kamu. Sampai pada suatu waktu aku sadar... bahwa bahagiamu bukan untukku. Dan saat itu juga aku sadar, aku sudah egois. Aku jadi orang yang memaksa garis takdir ciptaan-Nya. Aku ikhlas dengan semua ini. Dan aku yakin, Tuhan akan memberikan hadiah yang terindah dalam hidupku... yang tidak pernah aku kira." Aku mengucapkannya sambil menatap mata Mba Amel.
(Assuuu... dapat kata-kata darimana kau anak muda?)
(Loh, katanya mau ngenge. Kok ada di sini?)
*(Sudah, aku sudah ngenge di sana tadi. Jawab dulu pertanyaanku.)*
(Sudah bayar belum tolietnya?) tanyaku.
*(Biadab. Ya sudahlah. Kubayar dengan do'a. Jawab pertanyaanku tadi, kok malah tanya balik.)*
(Sudah bersih belum nyiramnya?)
*(Jahanam. Sudah, lah. Emangnya aku jorok kayak kamu? JAWAB DULU PERTANYAANKU!)*
(Tadi ceboknya pakai sabun nggak?)
*(JANCOOKKK! BAJINGAN! TERKUTUK KAU ANAK MUDA! MBULET AE! Jawabnya! Aku pergi aja. Daripada aku jantungan di sini!)*
(HAHAHAHAHA...) Aku tertawa puas dalam hati.
"Ternyata selain mesum, kamu juga dewasa dalam menghadapi masalah ya, Pur. Makasih ya. Aku jadi lega dengar semua yang kamu omongin."
"Apasih. Biasa aja kali, nggak usah lebay. Ayo pulang, yo." Aku mengajak Mba Amel. Aku nggak mau terlalu lama di sini—takut perasaan itu datang dan tumbuh lagi tanpa bisa dipadamkan.
"Ntar dulu, Pur. Boleh aku tanya sesuatu?" Dia menatapku.
"Kalau bisa kujawab, pasti kujawab." Aku membalas tatapannya.
"Jangan marah ya."
"Iya."
"Janji."
"Cuukkk... cerewet mba ini, loh." Aku mulai jengkel.
"Hehehe." Dia tersenyum manis.
"Ini tentang tato mu. Sejak kapan kamu punya tato?"
"Hemmm..." Aku menarik napas dalam-dalam, mengeluarkannya perlahan.
"Katanya nggak marah..." Mba Amel menyelidik.
"Hemmm... kalau tato di depan, ini tato keluarga, mba. Waktu aku kelas tiga STM."
"Emang bisa gitu, tatotan waktu sekolah?"
"Sudahlah, mba. Kalau itu nggak perlu dijelaskan. Buktimya aku bisa kuliah sekarang."
"Terus kalau yang di belakang?"
"Kalau yang di belakang ini... kudapat waktu aku pendidikan di dalam."
"Pendidikan di dalam? Maksudnya?" Mba Amel mengerutkan kedua alisnya.
"Ujian nasional kurang tiga bulan, aku dipenjara, mba."
"Haa... kasus apa? Berapa lama kamu dipenjara?" Matanya menatapku tajam.
"Penganiayaan yang menyebabkan korban lumpuh. Dan pengerusakan rumahnya. Saat kejadian umurku tujuh belas tahun lebih beberapa minggu, jadi kena pasal orang dewasa. Tapi berkat pengaruh ayahku, aku cuma kena dua tahun. Itupun nggak penuh dua tahun aku jalani."
"Haaaa... se... se... serius? Kamu..." Mba Amel kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Hemm. Kenapa? Tadi katanya disuruh jujur. Sekarang mba sudah tahu sisi kelamku. Masih mau bersahabat denganku?"
"Kenapa bisa kamu lakuin itu?"
"Saudara angkatku di masa kecil di kota tengah. Dia dituduh mencuri sepeda motor. Padahal dia cuma mendorong sepeda motornya sendiri yang kehabisan bensin. Rahmat namanya. Dia mabuk waktu mendorong motornya itu."
"Tanpa banyak tanya, salah seorang preman di situ langsung menghajarnya dan menyeretnya ke tengah jalan. Sambil meneriaki maling, dia menginjak-injak Rahmat. Orang-orang yang lihat langsung ikut mengeroyok Rahmat yang tergeletak di jalan."
"Lalu preman itu mengambil bensin... dan membakar Rahmat hidup-hidup." Tak terasa tangan dan kakiku bergetar. Air mataku mulai mengalir mengingat kejadian itu.
Mba Amel menggenggam tanganku yang mengepal menahan emosi. Dia mengelus pelan, menenangkanku.
"Rahmat menjerit kesakitan, mba. Dia dibakar hidup-hidup sama orang biadab itu. Orang-orang di sekitar cuma tertawa, mba."
"Aku yang dengar kejadian itu langsung ambil belatiku. Aku sangat emosi waktu itu dan aku nggak akan lihat jenazah Rahmat sebelum nyawa dibalas nyawa. Aku pergi ke kota tengah sendirian. Aku datangi pos tempat berkumpulnya preman itu. Di situ ada beberapa orang yang lagi kumpul. Setelah tahu orang pertama yang memukul Rahmat, aku langsung menghajar orang itu. Teman-temannya mau ikut membantu, mau mengeroyok aku. Aku habisi satu per satu dengan tinju dan tendanganku. Seorang anak STM kelas tiga menyerang kawanan preman sendirian dengan membabi buta. Gila ya, mba."
"Belatiku belum aku keluarkan. Itu hanya mau kugunakan buat merobek perut bajingan itu. Saat aku dikeroyok, dia sempat lari masuk ke gang. Setelah menghabisi teman-temannya, aku kejar orang itu ke dalam gang. Dia masuk ke sebuah rumah. Aku kejar sampai ke kamar, lalu menghajar dan menyeretnya keluar, mba. Aku injak-injak sampai mukanya penuh darah. Ketika dia mau berdiri, aku cabut belatiku dan kutikamkan ke perut dan dadanya. Dia roboh dan mengejang. Setelah lihat dia pingsan, aku lari keluar cari bensin untuk membakar manusia biadab itu. Waktu aku balik lagi, dia nggak ada di situ. Nggak tahu siapa yang bawa pergi. Aku yang sudah emosi menyiramkan bensin ke rumahnya, lalu kubakar."
"Setelah itu aku pergi ke rumah Rahmat dengan kondisi baju penuh darah dan belati di tangan. Ibunya Rahmat yang lihat kondisiku begitu langsung memelukku dan menangis histeris. Aku peluk sebentar, lalu aku duduk di depan jenazah Rahmat yang sudah dibungkus kain kafan. Walau jenazahnya gosong, aku lihat Rahmat seperti tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tunduk dan menangis sejadi-jadinya. Lalu kuangkat belatiku ke atas, aku membungkuk dan berbisik padanya..."
"*Tidur yang tenang ya, saudaraku. Damailah dengan cinta dan cintamu di sana...*"
"Tiba-tiba suara sirene mobil polisi memasuki jalan dekat rumah Rahmat. Mereka menangkapku dan membawaku ke kantor polisi."
"Aku menjalani ujian akhir di dalam penjara, mba." Aku menghisap rokok dalam-dalam.
"Jadi itu salah satu yang bikin kamu bisa berkelahi?" tanya Mba Amel.
"Mungkin, mba. 'Bakatku' mungkin terasah di sana. Soalnya kalau kita nggak makan, kita yang dimakan. Keras, mba, di dalam sana."
"Terus bagaimana fisikmu bisa kuat?"
"Selain turunan dari keluarga, ada faktor kuat lainnya. Kita ini hidup di pulau seberang, mba. Selain laut yang luas, hutan juga membentang sejauh mata memandang. Dalam seminggu tiga atau empat kali aku dan teman-temanku bercanda dengan laut dan pantai. Mendayung perahu, memancing, menjala, berenang melawan kerasnya ombak. Kami juga tahu betapa kerasnya belantara hutan di pulau seberang. Sering main dan bercanda di dalam sana, mba. Itu semua otomatis membentuk otot dan ketahanan tubuh. Alam kita yang kaya raya mengajarkan bagaimana kita harus bertahan hidup, mba."
"Luar biasa kamu, San. Disaat kami remaja di pulau seberang bermanja-manja dengan uang orang tua, main di pusat pertokoan, lihat orang dingdongan, main bom-bom car, ke bioskop dan lain-lain... kamu malah asyik bercanda dengan alam." Mba Amel mengelus tanganku. Mba Amel ini satu pulau denganku, tapi dia tinggal di kota sebelah.
"Kamu memang sahabat yang baik, San. Dan kamu penuh kejutan." Mba Amel memegang erat tanganku.
"Hemm..." Aku tersenyum ke Mba Amel. Walau itu senyum yang dipaksakan.
"Tetap jadi Sandi yang kukenal ya. Yang oon dan mesum. Hehehe..."
Cuukkk... manis senyummu, mba. Manis. Lama-lama bisa nggak kuat aku kalau begini.
(Bang...) panggil Jago.
(Kenapa.)
(Nggak, cuma nyapa aja.)
(Terus ngapain?)
(Banyak yang kangen sama aku, bang.)
(Assuuu... terus kenapa kalau banyak yang kangen.)
*(Bisa ini kita main gesek-gesekan sedikit sama betina ini...)*
*(Cuukkk... alasanmu aja bilang banyak yang kangen. Padahal kamu sendiri yang pengen nanduk, kan?)*
*(Hehehehe... tahu aja kamu, bang. Emang kamu nggak pengen enak-enak sama sisemok ini?)*
(Enggak.)
(Jawabanmu singkat, jelas, padat, dan ngegateli, bang.)
(Assuuu, kamu, go. Tidur sana. Pagi-pagi bikin emosi.)
*(Aku bangun soalnya. Kan kamu juga yang bikin bangun. Dasar ngacengan.)*
(Assuuu...)
"Hemmm... ayo pulang, yo, mba. Dah sore."
"Yuk, lah. Tapi kamu sudah nggak pa-pakan?" tanya Mba Amel.
"Nyantai aja, mba." Aku menutupi kesedihanku, mengingat kejadian yang dulu pernah mengubah hidupku.
#Cuukkk... sedikit rahasia yang penuh emosi...