←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 17 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 17
BAGIAN 17 UJI BETON "San... minggu depan ada undangan laga persahabatan dari anak sipil kampus teknik kuru..." ujar Surya sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Dari mana kamu tau?" tanya Yuda menyeringai. "Disebelah kosku ada anak sipil kuru. Dia kemarin nawarin pertandingan persahabatan gitu sama aku," jelas Surya. "Oh gitu ya. Setelah kuliah kumpulin teman-teman disebelah gedung, nanti kita bahas di sana," ucapku. Oh ya, aku kemarin terpilih sebagai ketua kelas dan Lia jadi sekertarisku. Jumlah mahasiswa sipil angkatanku kurang lebih dua ratus lima puluh orang, dibagi menjadi lima kelas. Aku masuk di kelas sipil empat. Bahkan aku juga terpilih sebagai ketua angkatan. Cuukkk... dua tanggung jawab yang ga bisa ditolak, karena aku terpilih secara aklamasi tanpa pemungutan suara. Tangan teman-teman sudah lebih dulu terangkat semua sebelum aku sempat protes. Setelah kuliah selesai, aku dan teman-teman angkatanku berkumpul di taman sebelah gedung. Kulihat Bejo di sana. Bejo itu yang pernah mendatangiku waktu ospek terakhir dan berbicara padaku— "kami semua telah mendengar kejadian kemarin di markas keamanan. Kami semua sepakat berada di belakangmu, apapun yang terjadi setelah ini." Iya, yang berbicara waktu itu namanya Bejo. Dia anak asli kota ini. "Selamat siang teman-teman. Kebetulan ada kabar dari teman kita, Surya. Minggu depan kita diundang laga persahabatan sama maba sipil kampus teknik kuru. Jadi hari ini kita berkumpul untuk membahas tindak lanjut undangan itu," ucapku membuka rapat santai siang itu. "Lia, tolong dicatat rapat kita siang ini ya," pinta ku. "Siap, ketua," jawab Lia sambil menyambar buku tulisnya. "Aku punya usul, supaya ga bertele-tele, ntar sore kita seleksi untuk membentuk tim buat pertandingan minggu depan," ucap Bejo. "Oke, bagus juga usulmu, Jo," jawabku. "Untuk lapangan gimana?" Surya menanggapi. "Lapangan dekat kampungku aja," kata Aldo. "Baik teman-teman. Jam tiga kita kumpul depan kampus, terus kita ke lapangan dekat kampung Aldo. Jadi untuk sementara itu aja yang kita bahas. Kelanjutannya kita bahas di lapangan nanti sore. Sepakat?" ucapku. "Sepakat, pak menejer!" sahut teman-temanku serempak. Waduh... jadi menejer. Tambah lagi tanggung jawab ini. Tapi ga pa-pa lah. Yang penting teman-temanku mendukung. Mereka kompak dan pasti membantuku. Sore itu kami telah berkumpul di lapangan bola. Hampir semua teman-teman dari lima kelas datang, termasuk yang perempuan, berjumlah dua puluh lima orang. Rupanya banyak bakat terpendam di antara teman-temanku. Aku sampai bingung memilih dua puluh empat orang untuk dijadikan tim. Dibantu Aldo dan Bejo—yang merupakan anak asli kota ini dan pemain yang lumayan menonjol—kami sepakat membentuk kerangka tim. Yang ga terpilih masuk rencana cadangan. Setelah seleksi, kami berkumpul di pinggir lapangan. "Kita pake kostum apa, pak menejer?" kata Lia sambil melirik nakal. "Penyewaan ada ga ya buat kostum?" tanya ku kepada teman-teman. "Dari pada nyewa, mending kita buat kostum tim kita aja, San," kata Bejo. "Emang sempet ya kalau buat?" tanya ku ragu. "Gampang. Aku punya saudara di konveksi. Ntar aku minta dia nyempatin buat kaos tim kita," ucap Bejo yakin. "Oke. Jadi kita buat dua puluh empat kaos ya," ucapku. "Enak aja. Kita yang cewe mau juga. Dan pasti yang cowo yang ga main pun mau. Masa cuma pemain aja?" ujar Lia memasang wajah ngambek yang sebenarnya bikin pengen digigit. "Emang bisa dalam beberapa hari buat dua ratus lima puluh kaos?" tanya ku ke Bejo. "Nah, kalau itu ntar pulang dari sini aku tanyakan. Kalau bisa, desainnya cepat dibuat," ujar Bejo. "Aku sempat coret-coret nih..." kata Yuda yang dari tadi asyik menggambar di pinggir lapangan, karena dia memang ga ikut seleksi. "Wah, keren kamu, Yuda. Warnanya apa nih?" kata Surya mengintip. "Biru dan tulisannya kuning. Gimana?" lanjut Yuda. "SEPAKAT!!!!" teriak teman-teman serempak. "Yuda, desainkan jaket angkatan kita juga dong. Kalau bisa bolak-balik. Jadi yang depan seperti kemeja, yang belakang seperti jaket parasut. Ntar tanya kan sekalian tempat saudaramu, Jo. Gimana teman-teman? Ini sih cuma usul," ucap Lia. "Mantap ya'. Jadi kalau aku pulang kampung, kupakai jaketku biar dilihat orang aku tuh anak kampus teknik," ucap Surya bangga setengah mati. "SEPAKAT!!!!" lagi-lagi temanku berteriak serempak. "Oke jadi gini, Jo. Ntar bawa desain kaos tim kita ini ke tempat saudaramu. Usahakan bisa semua jadi kaosnya. Kalau ga sempat, dua puluh empat aja dulu buat pemain. Masalah jaket, setelah kaos jadi, langsung kita pesan. Gimana?" "Siap, pak menejer! Ga pake lama saya siap berangkat," ujar Bejo semangat. "Oke teman-teman. Latihan cukup sekian. Besok jam tiga kita latihan lagi di sini. Bagi pemain yang telah lolos, wajib hadir. Sedangkan cadangan dan seporter terserah. Kalau bisa sih hadir juga. Bagaimana?" ucapku. "Siap, pak menejer!" jawab teman-teman kompak. Dan temanku pada bubar. Tinggal kami berlima, anggota Power Ranger, yang masih duduk di pinggir lapangan. Senja mulai turun, langit berubah jingga keunguan. "Ketua, ini teh kotakmu," ucap Lia, menyodorkan teh sambil menunduk malu-malu. "Makasih, sekertarisku. Kamu udah cantik, baik lagi," gombalku sambil menatap matanya lebih dalam. "Gombalmu pur... pur..." jawab Lia, tapi pipinya memerah. "Behhh... cuma Sandi aja dibawakan teh," protes Yuda. "Ya kamu harus paham, Yud. Kalau ga minum teh, bisa-bisa darah kita dihisap sama manusia satu ini," kata Surya sambil menunjukku. "Cuukkk. Kalau aku penghisap darah, ya pilih-pilih lah. Buat apa aku hisap darah orang-orang kayak kamu gini. Bisa ikut gila aku kayak kamu-kamu. Mending hisap darah Lia aja aku... hehehe," jawabku sambil melirik Lia penuh arti. "Assu... milih seng enak, cok," kata Aldo menggeleng-geleng. "Hehehehe..." "Eh, Sur. Gimana semalam ketemuan sama wanitamu..." kata Yuda mencari topik lain. "Cuukkk... Surya sudah menemukan tambatan hati... Asu'i... aku kalah dong," kata Aldo pura-pura sedih. "Cieee... Surya cieee..." kata Lia. "Tuitt... tuitt... culya udah punya pacal..." kataku, kubuat seimut mungkin sampai mereka semua merinding. "Eh, anak mana? Kok diem-diem aje? Ciee..." ujar Lia lagi, mata waktu berbinar. Surya ga ada kesempatan untuk menjawab. Dia cuma menggaruk kepala, wajahnya berubah merah padam. "Biasa ya'. Kalau malam kan Surya sering begadang di warnet. Main mIRC itu loh. Jadi dia kenalan sama cewe, nama id-nya 'bunga bidadari' kalau ga salah. Iya kan, Sur?" kata Yuda membongkar rahasia. "Cookkk... bunga bidadari... Asu'i... ayu iku berarti..." (Cookk... bunga bidadari... anj*ng... cantik itu berarti...) kata Aldo. "Oooo... kamu main mIRC juga toh? Pake username apa kamu, Sur?" kata Lia ikut penasaran. "Pejantan tangguh ya'..." lagi-lagi Yuda yang jawab, sambil menahan senyum paling licik sedunia. "Asuuu... hahahahahahaha..." Aku dan Aldo kompak tertawa sampai kelurahan sebelah bisa dengar. "Jadi gimana, Sur? Ditanya kok diam aja. Sudah jadian ya? Kamu kan sering telpon juga. Katanya suaranya semerdu bidadari..." kata Yuda lagi sambil memelintir senyumnya. "Oi, Sur. Meneng ae... tak pancal lo raimu..." (Oi, Sur. Diam aja... kalau kuinjak lo mukamu...) kata Aldo yang mulai ga sabaran. "Assuu... la kon kiro aku becak opo dipancal..." (Anj*ng... kamu kira aku becak apa kamu injak...) "Terus gimana jawabannya? Aku ga sabar pengen ditraktir nih..." kata Lia. "Sudah lah, aku ga mau bahas, dan aku ga mungkin traktir kalian. Memang aku dah ketemu, dan intinya sekarang itu... aku ga mau menghina fisik mahluk ciptaan-Nya..." kata Surya memelas, matanya melamun ke arah gawang. "Hahahahahah..." kami semua tertawa bersama-sama. Kami semua mengerti maksud dari perkataan Surya. Memang seburuk apa 'bunga bidadari' itu, sampai Surya ga bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Memang mIRC ini aplikasi yang terkenal di jaman itu. Tampilannya sederhana. Tanpa foto profil, tanpa emoji, dan lain-lain—ga seperti facebook sekarang. Jadi kita ga tau bagaimana wujud lawan jenis yang kita ajak chatting. Entah dia satu jenis dengan kita atau lawan jenis beneran. Ya ibaratkan undian berhadiah. Kalau dapat doorprize, ya rezekimu. Tapi kalau dapat zonk, ya nikmatilah... hehehe... "Kamu juga gitu, Sur. Harusnya minta bantuan Zordon dulu sebelum ketemu sama bunga bidadarimu itu. Jadi kamu bisa lihat dari layar Zordon gimana wajah dia. Hahaha..." kataku. ("Aku iku ga ngurus masalah cintamu, cuukkk. Seng tak urus iku masalah keselamatan bumi. Asuu'i... lapo aku ngurus dapuranmu barang..." — aku itu bukan mengurus masalah cintamu, cuukkk. Yang kuurus itu masalah keselamatan bumi. Anj*ng... ngapain aku ngurus masalah pribadimu segala...) tiba-tiba Zordon menyahut dari atas langit... ("Santai, Don. Ga usah emosi," ucapku.) ("Ga ngono ndro... seng genah po'o lek ngomong, jancuk'i..." — bukan begitu, ndro... yang bener aja kalau ngomong, jancuk'i...) ucap Zordon jengkel. ("Cuukkk, aku dipanggil indro...") ("Lah, kamu panggil aku Dono. Asssuuuu...") ("Hahahahahaha...") ("Minta bantuan sama Alfa gimana menurutmu, Don?") ("Ayayayayaya... coli aja aku sulit. Gimana mau nolong masalah cinta? Ngece koen, cuukkk..." — ngolok kamu, cuukkk... ayayayayaya...) ucap Alfa sambil meringis. "Hahahaha..." kami semua tertawa bersama omelan Zordon dan Alfa. "Berat kalau sudah gini, Sur. Mending cari di dunia nyata aja. Yang jelas dan pasti. Di dunia maya ga bisa diharap. Hahahahaha..." ucap Yuda. "Ga usah kamu ajarin aku, cuukkk. Pengalaman sudah mengajarkanku. Assuuu..." kata Surya. "Hahahahaha..." kami tertawa lagi. KRRIING.. KRRIING.. KRRIING.. Hp ku berbunyi. "Halo... assalamualaikum, Bu..." ucapku. "Waalaikumsalam. Gimana kabar, Mas?" suara ibuku membuat dadaku hangat. "Baik, Bu. Ini lagi kumpul sama teman-teman habis latihan bola." "Baguslah kalau ikut kegiatan positif begitu. Yang penting kuliah lancar. Iya, sudah kalau gitu. Jaga kesehatan ya, Mas." "Iya, Bu. Oh iya, Bu... bisa kirim Tigi kesini kah, Bu?" (Tigi itu sepeda motor Tiger 2000 kesayanganku, dan ini salah satu motor terkeren di jamannya.) "Kenapa? Butuh banget kah, Mas?" "Iya, Bu. Di sini buat kegiatan kuliah. Malu kalau pinjam sama teman-teman terus." "Iya sudah. Ntar ibu bilang sama ayahmu dulu. Kalau boleh, besok ibu kirim." "Siap. Terimakasih, Bu. Muah... muah... muah..." "Kalau ada maunya aja pake cium segala. Iya sudah. Assalamualaikum." "Hehehehe... waalaikumsalam..." "Apa itu Tigi, San?" tanya Surya penasaran. "Ada deh. Ayo kita pulang, sudah mau magrib," ucapku mengalihkan. Setelah beberapa hari kami latihan, hari ini adalah hari pertandingan antara maba sipil kampus teknik kita dengan maba sipil kampus teknik kuru. Kami berkumpul di pinggir jalan dekat lapangan yang agak jauh dari kampus kami. "San... maba sipil kampus teknik kuru tujuh kelas, jumlahnya sekitar tiga ratus lima puluh orang. Salah satu pentolan bajingannya namanya Arnold. Dia berasal dari daerah timur. Hatihati dengan Arnold, dia itu biang onar. Dia pemain bola juga, posisinya gelandang tengah. Dia suka main kasar. Biasanya keributan selalu dimulai dari dia. Aku tau informasi ini dari beberapa teman STMku yang kuliah di sana. Salah satu teman STMku pentolan juga di sana, namanya Gondes. Jadi dia akan mencoba mengendalikan supaya ga ada keributan," ucap Aldo mengajakku berbicara berdua, sebelum kami bergabung dengan teman-teman. "Tapi kira-kira kalau Gondes ga bisa mengendalikan dan tetap ada keributan, gimana, San?" tanya Aldo dengan santainya, sambil memelintir lehernya. "Kita lihat aja di lapangan. Aku sudah pernah dengar dari teman kosku, Mas Rendi. Katanya anak kuru sering ngundang pertandingan persahabatan, tapi biasanya berakhir ga bersahabat. Biasanya mereka ngundang main di kampus mereka, tapi kali ini kita mainnya di tempat netral, dekat markas Raider. Walau main di manapun, kalau memang ada keributan, ya kita selesaikan mereka. Yang penting kita ga memulai cari gara-gara. Tapi kita perlu juga sih, uji beton teman-teman, Do," ucapku. "Uji beton? Apa itu?" tanya Surya menyeringai. "Nih..." kataku sambil mengepalkan tangan tepat ke wajah Aldo. "Assuuuu... gelut to... keren, cuukkk, istilahmu! Hahahaha..." (Anj*ng... berkelahi to... keren, cuukkk, istilahmu... hahahaha...) kata Aldo terbahak. "Oke deh. Pokoknya kita nunggu komando dari kamu aja," kata Aldo. "Ya mudah-mudahan ga terjadi apa-apa. Jadi ga perlu tes beton. Hehehe... ayo gabung ke teman-teman, yo," ucap Aldo, lalu berjalan ke arah teman-teman. Aku dan Aldo menuju teman-teman yang sedang berkumpul. Mereka telah membagikan kaos baru berwarna biru. "Nih kaosmu, menejer. Ga pake nomor ya," kata Lia yang sudah mengenakan kaos biru, sinar matanya berkilau menatapku. "Wah, keren juga ya. Ada tulisan jurusan dan angkatan kita, terus ada nama kampusnya lagi," ucapku memandangi kaos di tanganku. "Iya dong, siapa dulu yang merancang? Babang ganteng," kata Yuda sambil menepuk dadanya, sombong setengah mati. "Kali ini kubilang bagus, Yuda. Jarang-jarang aku muji kamu. Ntar kaos ini kupakai keliling kampung kalau liburan. Biar mereka melihat kalau aku anak kuliahan. Hahaha," kata Surya. Kami pun tersenyum dengan ucapan Surya. Memang bener sih katanya—kalau masih baru gini, bawaannya kami selalu ingin memakai atribut berbau kampus. Bukannya sombong, tapi ada kebanggaan tersendiri bila memakainya. Pada saat kami bercanda, tiba-tiba rombongan sepeda motor dan mobil yang jumlahnya banyak sekali lewat di depan kami. Mereka teriak-teriak sambil mengegas-egas knalpot kendaraan mereka dengan keras. "Apa lihat-lihat! Kukasih patah kakimu nanti!" teriak salah seorang di atas motor sambil melirik ke arah kami. Bejo berdiri dan mau membalas teriakan mereka, tapi kutahan. "Sudah, Jo. Sabar aja. Kita mainkan nanti di lapangan," ucapku menenangkan Bejo, walau tanganku sendiri sudah tergenggam. "Wah... seru iki nde lapangan. Sur... Jo... siap-siap... hehehe..." ucap Aldo sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Bejo dan Surya mengangguk mendengar ucapan Aldo. "Aldo, matikan rokokmu! Mau main kok rokok an. Awas ya kalau sampai kalian buat keributan!" kata Lia mengancam teman-teman dengan matanya yang menyala. "Sudah... sudah... ayo berangkat, ntar dikira kita takut lagi kalau telat datang," ucapku kepada teman-teman. Suasana di lapangan sudah ramai. Pemain mereka sudah pemanasan di tengah lapangan, dan seporter mereka menguasai tempat duduk di belakang gawang. Sedangkan kami yang baru datang mengambil tempat duduk di sebelah kanan lapangan. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari jumlah kami. "San... kelihatannya mereka datang sama seniornya deh. Hehehe..." kata Aldo. "Oh ya? Seru dong, hehehehe..." kataku dingin. "Itu ada kakak kelasku waktu STM di sana. Mantap, ini kelihatannya..." ucap Aldo dengan senyuman dinginnya yang khas. Aku dan teman-teman kemudian membuat lingkaran dan bersiap untuk bertanding. "Oke teman-teman. Kemungkinan tensi di lapangan agak tinggi. Mainnya santai aja ya," ucapku pada teman-teman. "Aldo, kamu kapten. Kontrol emosimu dan teman-teman," ucapku. "Siap, pak menejer. Ayo ke lapangan!" ucap Aldo. Kedua tim masuk ke dalam lapangan dan bersiap melakukan pertandingan. Tim kami yang pertama mendapatkan pembagian bola. Penyerang ada Agung dan Karjo. Di tengah Surya dan Beny. Sayap kanan Anwar, sayap kiri Juned. Bek: Aldo, Indra, Iwan, dan Dedi. Sedangkan kiper: Bejo. Gawang kami berada di depan seporter lawan. Mereka memprovokasi teman-teman dengan teriakan-teriakan, terutama pada Bejo yang paling dekat dengan mereka. PRIITTTTT... Pertandingan dimulai. Pada saat Agung membagi bola ke Karjo, tiba-tiba berlari dari tengah lapangan nomor delapan mengejar, dan— BUUUMMM... Karjo langsung tergeletak di lapangan sambil memegangi kaki kanannya. Tackle keras dari depan oleh nomor punggung delapan tadi. Teman-teman di lapangan langsung menghambur ke tengah, saling dorong dengan tim lawan. Aldo menahan teman-teman dan memprotes keputusan wasit yang cuma memberi peringatan dan ga memberi kartu. Tapi akhirnya keputusan wasit diterima dan pertandingan dilanjutkan. Sedangkan Karjo langsung diganti oleh Soleh. "WOoooooo....." teriak seporter mereka. "Manja itu! Sikat lagi kakinya!" teriakan seporter lawan yang mencoba memprovokasi kami. Gila... ini pertandingan bola atau silat? Belum satu menit sudah ada yang tumbang. Kulihat teman-teman sudah mulai emosi karena terus dikasari tim lawan. Saling oper dan mengejar bola dilakukan kedua tim. Sudah lima belas menit permainan berjalan, dan sudah lebih dari sepuluh kali pemain kami dikasari. Kulihat Surya menggiring bola ke arah gawang lawan. Dia melewati dua pemain, dan pada saat mau mengoper ke depan, di-tackle dari belakang—lagi-lagi nomor punggung delapan. Surya jatuh sambil memegangi kakinya. Agung maju dan mendorong orang yang men-tackle Surya. Orang itu pun jatuh. Pemain lawan ga terima, semua langsung mendorong dan mengejar Agung. Tiba-tiba— BUGGHH... Nomor punggung sepuluh menendang Agung hingga terjatuh. Teman-teman pun berlari membela Agung. Saling dorong dan pukul terjadi di lapangan. Di pinggir lapangan, seporter mereka mau masuk ke lapangan, ditahan oleh salah satu pentolan mereka—dan mungkin itu teman Aldo. Dan aku menahan teman-temanku yang ada di pinggir lapangan, yang sudah emosi, untuk tetap di tempat. Kami berdua mampu mengkondisikan seporter masing-masing. Kulihat di lapangan keadaan sudah berangsur tenang. Agung dan nomor sepuluh dapat kartu kuning. Sedangkan yang men-tackle Surya ga diberi kartu. Teman-teman kelihatan ga terima. Tapi setelah ditenangkan Aldo, akhirnya teman-teman bermain kembali. Dan kulihat Surya sudah berdiri lagi, walau agak sedikit pincang. Pertandingan dilanjutkan kembali. Aku berdiri di pinggir lapangan agak ke depan, ditemani Fredi. Dia mahasiswa dari timur. Dia dari tadi sudah emosi dan ingin masuk ke lapangan karena melihat teman-teman kami dibantai lawan. "Sandi, ko lihat yang nomor delapan. Namanya Arnold. Dia satu daerah sama aku. Dia terlalu main kasar. Kalau sampai ribut... jangan sentuh dia. Dia urusan saya. Cukim*i dorang, bikin jatuh Karjo dan Surya. Torang samua dibelakang, tunggu komando dari kamu saja, kapan bergerak," ucap Fredi yang sudah emosi, rahangnya mengeras. "Woiii... awas ya kalau kamu semua seporter ikut tawuran! Biar di lapangan diselesaikan sama wasitnya!" kata Lia berteriak dari belakang, tangannya menyilang di dada. "Sabar, bro..." ucapku sambil menepuk punggungnya, sambil menoleh ke Lia yang masih mengomel. Kulihat nomor punggung delapan menggiring bola. Postur tubuhnya besar, perut agak buncit, tubuh gelap, dan rambut keriting. Dia mengoper bola ke depan, disambut nomor sepuluh, menendang langsung ke gawang— TAAAPPPP... Bejo berhasil memblok tendangan. Cuma menghasilkan tendangan sudut bagi tim lawan. Dia terbang seperti Angelo Peruzzi. Sebagian besar pemain berkumpul di kotak penalti. Arnold yang mengambil tendangan penjuru. Pada saat bola ditendang mengarah pada nomor punggung sepuluh, dia meloncat dan akan menanduk bola. Dan— BUUMMM... Nomor sepuluh langsung roboh di lapangan. Gila... Bejo bukan meninju bola, tapi meninju kepala orang itu sampai roboh. Padahal Bejo lebih dekat dengan bola, tapi dia malah meninju nomor sepuluh. Mungkin dia mau balas dendam karena orang itu tadi menendang Agung. Tim lawan langsung mengeroyok Bejo. Kulihat baku hantam semua pemain terjadi di lapangan. Aldo pun yang dari tadi menahan emosi, sudah baku hantam dengan kapten mereka. Arnold berlari ke arah Bejo yang sudah dikeroyok teman-temannya. Bejo kewalahan menghadapi pukulan dan tendangan dari beberapa orang termasuk Arnold. Bejo terjatuh dan tersungkur. Dan pada saat teman-teman yang lain membantu Bejo, seporter lawan langsung berlarian ke tengah lapangan. Sebagian mengejar teman-teman kami, dan ada yang berlari ke arah Bejo. Aku yang di pinggir lapangan langsung berlari ke tengah, diikuti semua temanku. Aku berlari ke arah Bejo, dan yang lain berlari ke arah seporter lawan. BUGGHH... BUGGHH... BUGGHH... Aku menghajar dan menyeret seseorang. Lalu aku menghajar dua orang lagi. Kutarik Bejo yang sudah terinjak-injak oleh mereka. Kulihat beberapa temanku membantuku. Surya, Aldo, Yuda sudah sibuk berkelahi dengan lawan masing-masing. Mereka memukul membabi buta, siapa aja lawan di depannya. Jumlah mereka yang lebih banyak ga menyurutkan teman-teman untuk melawan. Bejo yang sudah berdiri dengan luka di kepala membalas pukulan dari orang-orang yang mengeroyoknya. Keadaan lapangan sangat kacau. Tawuran besar terjadi, melibatkan dua jurusan berbeda kampus yang jumlahnya ratusan orang. Kulihat banyak yang tumbang di kedua belah pihak. BUGGHH... BUGGHH... BUGGHH... Aku merasa di bibirku ada cairan yang rasanya asin. Bibirku berdarah. Aku dikeroyok lima orang. Aku tetap berdiri, menahan pukulan yang bertubi-tubi ke arah kepalaku. Aku mendapat peluang memukul satu orang di depanku. Aku peteng kepalanya, dan kupukul terus... sampai berdarah. Aku lepas, dan kutendang satu orang lagi tepat di rahangnya. Dia pun roboh. Sisa tiga orang. Dua orang ku-uppercut kanan dan kiri di pelipis dan mulut. Mereka mundur sambil memegangi kepalanya. Tinggal satu, mau menendang. Kutangkap kakinya dengan tangan kiri, dan— BUUMMM... Kupukul dadanya sampai roboh. Dia pun mengejang di lapangan. BUGGHH... Kulihat Fredi memukul kepala Arnold. Tapi Arnold tetap berdiri. Dan dia menendang Fredi hingga tersungkur. Arnold langsung memegang kerah Fredi. Dia memukul kepala Fredi berkali-kali sampai berdarah. Aku berlari ke arah Arnold sambil mengarahkan sebuah tendangan ke arah kepalanya. Arnold menunduk, sambil tangannya mengarahkan pukulan ke wajahku— BUHHHGGGG... Aku jatuh ke lapangan sambil menahan rasa sakit. Cuukkk... sakit sekali rahangku. Bibirku kembali mengeluarkan darah yang banyak. Ketika Arnold hendak menginjak kepalaku, aku menghindar ke samping, lalu kuinjak tulang kering Arnold sekeras mungkin— BUUHHGGGG... "AANNJIIIIINNNGGG..." Arnold berteriak kesakitan dan roboh sambil memegangi tulang keringnya. Aku langsung berdiri dan menginjak kepala Arnold— BUUHHGGGG... BUUHHGGGG... BUUHHGGGG... Tiga kali aku injak wajah Arnold sampai mengeluarkan darah yang banyak, dan dia sudah ga bersuara. Ketika aku mau menginjak Arnold lagi— DOR.. DOR.. DOR.. DOR.. DOR.. DOR.. Suara rentetan tembakan ke udara menghentikan tawuran kami. Aku ga mendengar bunyi sirene mobil polisi... tapi kok ada bunyi senjata? Kulihat sekeliling. Beberapa orang berbaju loreng memasuki lapangan sambil menenteng senapan serbu SS1. "Kalau ga ada yang bubar, kulobangi kepala kalian satu persatu!" kata seseorang yang berpakaian loreng dengan pangkat kopral kepala. Kami pun masing-masing menarik anggota kami ke pinggir lapangan. Kulihat Arnold dipapah oleh beberapa orang. Kedua kelompok telah memisahkan diri dari tengah lapangan. Kami kembali ke pinggir lapangan, dan mereka ke belakang gawang. Sedangkan di tengah lapangan, para tentara Raider dari markas sebelah masih berjaga, dengan senjata yang siap dibrondongkan. Anak-anak sipil dari kampus teknik kuru akhirnya pergi dulu membubarkan diri. Mereka pergi lewat jalan lain, ga lewat jalan pertama yang ada di depan kami. Sedangkan kami masih duduk di pinggir lapangan. Selang beberapa saat, para tentara itu mendatangi kami. "Kenapa kalian ga bubar?" tanya seseorang dengan tegas. "Sebentar, Pak. Kami istirahat sebentar. Setelah ini kami bubar. Kami ke sini niatnya bukan tawuran, Pak. Kami ke sini mau main bola," kataku sesopan mungkin, sambil berdiri, walau bibirku masih meneteskan darah. "Siap, mohon ijin, Ndan. Tadi saya lihat dari markas. Mereka ini dikasari terus sama pemain sana, Ndan. Makanya mereka melawan," kata salah satu orang berbaju loreng. "Oh begitu ya. Ya sudah. Kalau sudah selesai, silahkan bubar. Dan kalau main di sini lagi, jangan bikin onar," kata orang itu, lalu pergi bersama anak buahnya. "Gendeng kabeh... awak dewe jek tas mlebu kuliah, langsung tawuran ambe kampus liyo... hahaha..." (Gila semua... kita baru masuk kuliah, sudah berkelahi sama kampus lain... hahaha...) ucap Bejo sambil memegangi kepalanya yang diperban. "Kalah menang sudah biasa... yang penting kita melawan! Hahaha..." kata Surya menyeringai lebar. "Sudah... sudah... gimana kondisi yang lain? Ada yang dibawa ke rumah sakit kah?" ucapku mencari kabar. "Ga ada, San. Bisa ditangani semua di sini," kata Yuda. "Gimana yang lain, ya'?" aku bertanya pada Lia yang wajahnya ditekuk mulai dari tadi. "Apanya yang gimana, pur? Aku kan sudah bilang ga usah ikut tawuran. Malah kamu duluan lari ke tengah! Coba kamu ga lari, ga mungkin teman-teman lari juga ke sana!" ucap Lia, wajah merah padam menahan amarah. "Iya... habis itu kita yang ngangkut teman-teman di lapangan ke rumah sakit? Lihat kondisi, ya'. Seporter mereka masuk semua ke lapangan. Kalau teman-teman yang di pinggir ga ikut masuk, selesai sudah!" ucap Yuda membelaku. "Sudah... sudah... ga usah berdebat. Mending kita urus dulu teman-teman yang lain," ucapku menengahi. "Fredi... gimana kamu?" ucapku. "Ga pa-pa, bro. Cuman lecet dikit. Nanti kubalas Arnold itu. Hehehe..." jawabnya sambil memegangi kepalanya yang hampir semua dibalut perban. "Aldo, gimana pemain?" tanya ku ke Aldo. "Aman. Cuman Karjo aja yang agak parah kakinya. Ntar kubawa, di dekat rumahku ada tukang pijet yang bisa baikin kakinya," jawabnya. "Oke. Kalau gitu kita semua balik. Pulangnya kalau bisa berbarengan yang satu arah. Kalau ada yang memisahkan diri karena tujuan berbeda, cepat hubungi saya atau yang lain kalau ada apa-apa di jalan. Kita siaga aja. Siapa tau mereka berbuat sesuatu dengan kita di jalan," pintaku kepada teman-teman. Kami pun berjalan beriringan menggunakan mobil dan sepeda motor ke arah kampus. Dan di tengah jalan, beberapa orang memisahkan diri karena berbeda tujuan. cuukkk asyik uji betone. Salut aku dengan kekompakan teman-teman...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 16
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal