EPISODE 18
BAGIAN 18
BERMAIN API
Emery Naila Unna
Pagi ini aku terbangun dengan rasa perih di sekitar wajah. Badanku terasa remuk semua. Kemarin sore aku baru saja uji beton bersama teman-teman teknik sipil angkatanku melawan anak sipil kuru. Cuukkk, baru sebulan aku di kota ini, dan dalam dua minggu terakhir, tiga kali aku pulang ke kos dalam kondisi begini. Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini waktu masih di kota tempat tinggalku dulu. Tapi ini kota orang. Tujuanku ke sini cuma satu: kuliah, sesuai janjiku kepada kedua orang tuaku. Entah kenapa aku selalu terlibat masalah — dan yang bikin sebel, bukan masalahku. Apa ini memang jalanku? Proses dalam perjalanan menggapai cita dan cintaku? Entahlah. Aku cuma bisa menikmati proses ini.
Sekarang aku cuma mau mandi, terus cari teh kotak. Cadangan teh kotak di kamar sudah habis. Bisa tambah remuk badanku kalau pagi ini tidak minum teh. Aku ambil perlengkapan mandiku, tapi ketika hendak keluar kamar, di ruang tengah sudah ada mas rendi, mas bendu, mas wawan, bung toni, mas arief, mas adam, dan alan. Tumben mereka jam segini sudah bangun.
"San... sini dulu," panggil mas rendi.
"Iya, mas," kataku sambil mendatangi mereka, lalu duduk di antara mereka.
"Kenapa wajahmu biru-biru gitu?" tanya mas rendi sambil menatapku tajam.
"Nggak apa-apa, mas. Kemarin jatuh dari motor," ucapku berbohong.
"Kamu itu bukan pembohong yang baik, san." Kali ini mas arief yang bicara.
"Kita di sini keluarga besar, san. Kalau ada apa-apa, jangan ditutup-tutupi," kata mas adam.
Aku cuma terdiam, tidak membantah.
"Kira-kira menurutmu, lawanmu kemarin itu cuman maba sipil kampus teknik kuru saja, san?" Tiba-tiba mas rendi bertanya tentang tawuran kemarin. Tau dari mana ya? Apa aldo cerita ke mas bendu, terus mas bendu cerita ke mas rendi?
"Mungkin lawan kami cuman maba sipil, mas. Tapi teman-teman bisa atasi kok," jawabku datar. Aku nggak bisa konsen ngobrol pagi ini. Nggak ada teh, otakku nggak nyambung.
"Ini nggak semudah yang kamu pikirkan, san. Selesai tawuran bukan berarti selesai masalah. Pasti akan ada rentetan selanjutnya. Apalagi dalam dua minggu ini kita menghajar mereka. Yang pertama, kita hajar mereka di kandang mereka sendiri, black house, dengan kemenangan telak. Yang kedua, kalian maba sipil yang menghajar gabungan maba sipil dengan mahasiswa lama yang menyatu di seporter mereka. Pasti mereka nggak akan terima. Walaupun sebelumnya mereka sempat menghajar raimond dan teman-temannya di dalam kampus mereka," kata mas arief.
"Kamu pasti bingung bagaimana aku tau itu semua. Kamu tau sendiri kan, kamu tinggal di kos yang isinya bajingan kampus teknik kita. Semua informasi sekecil apa pun yang terjadi di kota ini pasti sampai ke sini secepat mungkin," kata mas arief lagi.
Waduh, jadi tambah merambat ke mana-mana nih ceritanya. Cuukkk, aku kira selesai tawuran selesai juga masalahnya. Ternyata masih ada lanjutan ceritanya. Assuuu, bener-bener nggak bisa berpikir aku sekarang. Aku butuh teh. Teh, di manakah dirimu sekarang?
"Sebentar, mas arief, maaf kupotong. Kelihatannya bete betul wajah sandi ini. Sini, rokoan dulu, san." Mas rendi menyerahkan rokok.
"Oh iya, mas. Terima kasih." Aku mengambilnya, membakarnya, lalu menghisapnya.
"Ay, ambilkan teh kotak di meja ya." Mas rendi memanggil mba mery. Tak lama, mba mery keluar dan memberikan teh kotak kepadaku. Lagi-lagi tehnya dibukakan dan sudah dimasukkan sedotan. Baik banget mba mery ini.
"Terima kasih, mba." Aku tersenyum kepadanya, lalu meminum teh kotak pemberiannya. Aku menyeruputnya perlahan, menikmati seteguk demi teguk ketika teh itu mengalir di tenggorokanku. Udara segar seakan masuk ke segala penjuru otakku, sampai ke pori-pori terkecilnya, lalu menyebar ke seluruh badan. Badanku segar kembali. Akhirnya, bisa tenang juga pikiranku kalau begini.
"Tuh kan, mas arief, lihat wajah anak ini kalau minum teh kotak. Kayak orang lagi nyimeng. Sudah dirusak teh otaknya anak ini," kata mas wawan. Mas arief dan mas adam cuma melongo melihat ekspresiku.
"Iya, iya, terus gimana, mas?" tanyaku penuh semangat.
"Janco'i... kok iso langsung seger ngono awakmu, san. Gendeng ancene. Otakmu iku wes ketergantungan teh, cuk. Kalah cimengmu, wan. Hahahaha." — *(Goblok... kok bisa langsung segar begitu kamu, san. Gila memang. Otakmu sudah ketergantungan teh, cuk. Kalah cimengmu, wan. Hahahaha.)* — kata mas bendu sambil tertawa. Yang lain cuma menggelengkan kepala.
"Hehehe... nggak tau, mas. Kelihatannya sampean harus sering minum teh deh, biar tau rasanya," kataku.
"Emoh, cuk. Engko iso gendeng koyo awakmu. Hehehe." — (Enggak, cuk. Nanti bisa gila kayak kamu. Hehehe.) — kata mas bendu.
"Sudah-sudah. Jadi intinya sekarang, kamu kalau ada apa-apa harus terbuka di sini. Terus kamu harus lebih hati-hati kalau di luar sana, karena kamu sudah dikenal sama anak-anak kuru. Nggak menutup kemungkinan kamu jadi target mereka kalau ketemu di jalan," kata mas rendi.
"Siap, mas," kataku.
"San, anak yang kamu pukul sampai berdarah dan pingsan, yang namanya raimond itu, kakaknya kuliah di sini. Alex namanya. Dia angkatan ku. Dia itu salah satu bajingan juga di kampus kita. Kamu harus hati-hati, siapa tau dia incar kamu," kata mas wawan.
"Kalau dia berani incar sandi, aku kasih picah lagi kepalanya," kata bung toni sambil merokok. Behh... ada yang bela aku ya. Asyik, asyik. Joss. Hahaha.
"Ntar-ntar, kok ada yang aneh ya selama kita ngobrol. Seperti ada yang kurang begitu," kata bung toni lalu berdiri, masuk kamarnya, dan kembali membawa tas. Dikeluarkannya isi tas itu: beberapa botol minuman.
"Nah, ini baru kita bisa ngobrol. Kalau sandi harus minum teh baru bisa nyambung, kalau saya harus minum ini." Bung toni membuka salah satu botol, menuangnya ke gelas, lalu menghabiskannya.
"Asssuuu... ngombe maneh. Isuk-isuk iki, cuk." — (Anjing... minum lagi. Pagi-pagi ini, cuk.) — kata mas bendu.
"Ini, mas, giliran sampean." Bung toni memberikan gelas berisi minuman kepada mas arief.
"Hahaha... bajingan ancen bung toni ini." Mas arief tertawa, lalu mengambil gelasnya dan meminumnya.
Bung toni memutar gelas searah jarum jam. Mau tidak mau, akhirnya aku kebagian dan cuma bisa menikmati minuman di pagi ini. Cuukkk, sarapanku TM murni. Asssuuu...
Setelah habis beberapa botol, mba mery keluar dari kamar mas rendi dengan pakaian yang rapi dan mendatangi kami.
"Beb, ntar jadi antar aku ke kampusku kan?" kata mba mery ke mas rendi.
"Kelihatannya nggak bisa, ay. Aku ada sedikit urusan di kampus ntar," kata mas rendi.
"Ya terus gimana? Aku malas ke kampus sendiri. Atau aku minta anak baru antar ya, beb," kata mba mery.
"Kamu ada kegiatan hari ini, san? Kalau nggak ada, bisa minta tolong antar mba mery ke kampus ya," kata mas rendi.
"Iya, mas. Aku mandi dulu ya," kataku, langsung berdiri. Sengaja aku mengiyakan, sebelum mereka tambah minuman lagi. Malah tambah repot ntar. Aku cukup dulu minum hari ini. Kepalaku pusing dan badanku lagi nggak fit.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku ke ruang tengah lagi. Mba mery sudah siap untuk ke kampusnya.
"Naik apa kita, mba?" kataku.
"Naik motor mas rendi aja ya," kata mba mery.
"Iya, naik motorku aja nggak pa-pa. Ambil kuncinya di tempat biasa, ay," kata mas rendi.
Aku memanaskan motor mas rendi di depan kos. Sepeda motor mas rendi suangar puuoll rek — Yamaha RX King dengan warna perpaduan hitam dan merah. Sebelum berangkat, aku pamitan dulu dengan mas rendi dan yang lain di ruang tengah.
"Mas, aku antar mba mery ya," ucapku pada semua.
"Ntar dulu, san. Ko sangu dulu ini. Siapa tau ko kedinginan di jalan," kata bung toni.
Cuukkk, ada aja alasannya orang kalau sudah minum ini. Alasan kedinginan lah, segala dibawa.
"Siap, bung. Kuangkat dulu ya." Setelah minum, aku berangkat mengantar mba mery.
Dan sekarang kami berdua di atas motor, dalam perjalanan ke kampus mba mery. Cukkk... mba mery duduknya rapat banget di atas motor. Belahan memeknya sampai nempel erat di bokongku, cuma terhalang celana kami masing-masing. Sedangkan nenennya seperti memijat punggungku. Rasanya seperti punggungku lagi diterapi. Diterapi enak. Assuuu... gurih pokoknya. Dagunya nempel di pundakku lagi. Cuukkk, pasti kalian iri. Hahahaha.
Karena canggung dengan suasana ini, aku memacu kecepatan RX King dengan kencang membelah jalan. Suara bising motor mas rendi membuat kami jadi pusat perhatian di jalan... dan mba mery pun tambah mengeratkan pegangannya di perutku.
Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di kampus mba mery. Dia kuliah di jurusan hukum kampus negeri di kota ini. Hari ini dia mau konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing. Ketika masuk ke dalam, lagi-lagi kami jadi pusat perhatian karena RX King milik mas rendi ini suara knalpotnya bikin bising jalanan kampus.
"Kita ke kantin dulu ya, anak baru," kata mba mery ketika kami sampai di dalam area kampus.
"Aku langsung balik aja, mba," kataku.
"Jangan. Temani dulu aku di sini. Dosen pembimbingku baru sms, satu jam lagi baru datang," kata mba mery menahanku supaya menemaninya.
"Emang nggak ada temannya mba di dalam?" kataku.
"Aku maunya kamu yang temenin aku. Ayolah, anak baru. Ntar kubelikan teh hangat di kantin," katanya merayu.
"Wah, kalau itu nggak boleh ditolak. Ayo ke kantin," kataku.
Akhirnya motor kami melaju ke arah kantin. Setelah sampai, kuparkirkan sepeda motor dekat kantin.
"Kamu nggak sarapan, anak baru?" kata mba mery.
"Boleh, mba. Aku lapar juga."
Kami sarapan nasi pecel, dan setelah sarapan, kami mengobrol santai.
"Kamu nggak bosan hampir tiap hari minum, anak baru?" tanya mba mery sambil meminum es jeruk pesanannya.
"Nggak, mba. Aku menikmati aja," kataku.
"Terus beberapa hari ini kamu balik ke kos dalam kondisi bonyok, juga dinikmati aja?" kata mba mery, pelan tapi mengena.
"Mungkin juga, mba," kataku singkat.
"Terus kamu tidur dengan berganti perempuan?" Tanya mba mery yang membuatku terkejut.
"Ya kunikmati jugalah," kataku datar, lalu menghabiskan teh hangat gelas jumbo ini supaya menutupi kegugupanku.
"Mau sampai kapan? Kamu belum satu semester di kota ini sudah ngerasain bermain perempuan, minuman, dan tawuran. Hebat kamu, anak baru," kata mba mery agak sinis.
Kenapa ya, mba mery ini kok sampai perhatian begitu sama aku? Kalau cinta, nggak mungkin sih. Dia kan sudah punya pacar ganteng kayak bule — ya walaupun masih sedikit lebih ganteng aku. Hehehe. Atau mungkin dia anggap aku adik, jadi perhatiannya luar biasa. Dan satu lagi yang bikin aku heran sampai sekarang: kenapa dia selalu muncul saat aku habis enak-enakan dengan perempuan? Dan tatapannya penuh misteri sampai detik ini.
"Nggak tau sampai kapan, mba. Aku jalani aja. Aku itu tipe orang yang suka menikmati segala sesuatu yang aku jalani. Mau urusan perempuan, minuman, atau tawuran — kubuat enjoy aja," kataku sambil menghisap rokokku.
"Ternyata sama aja kamu sama mas rendi. Cuman bedanya, dia nggak main perempuan kayak kamu. Bajingan lendir. Hihihihi," kata mba mery sambil tersenyum kecil.
"Cukkk, bajingan lendir lagi. Sudahlah, mba, jangan julukin aku gitu. Kesannya kayak aku mainin perempuan aja," ucapku membela diri.
"Lah, memang kenyataannya gitu kok. Weeee..." kata mba mery sambil memeletkan lidah. Assuuu... cantik sekali mba ini. Manisnya pas. Perpaduan antara wajah cantik, kulit putih, senyum manis, dan aura yang keluar dari wajahnya yang bikin adem siapa pun yang melihatnya.
"Aku nggak pernah mempermainkan perempuan, mba. Dan aku nggak pernah memaksa mereka. Kalau mau, ya ayo. Nggak mau, ya sudah," ucapku santai.
"Ya berarti memang kamu bajingan lendir, to. Cukup dengan tatapanmu aja mungkin kamu sudah bisa menaklukkan wanita sampai naik ke kasur," kata mba mery sambil menatapku.
"Nggak juga sih, mba. Percuma aja dapatkan tubuh wanita kalau nggak dapatkan hatinya," ucapku yang mulai terpancing omongannya.
"Siapa sih wanita di dunia ini yang cuman menyerahkan tubuhnya cuma-cuma sama seorang laki-laki? Kamu aja yang nggak peka," katanya sambil menatapku.
"Mba tau sendiri, siapa aja yang sudah aku tiduri. Kan mba lihat dengan mata kepala mba sendiri. Mereka nggak ada yang memakai hati. Mereka cuman ingin bersenang-senang denganku."
"Maksudmu amel dan gaby? Mereka berdua nggak cuman ingin bersenang-senang sama kamu, tapi mereka takluk karena tatapanmu, dan mereka sayang sama kamu. Aku jamin itu," kata mba mery.
"Nggak mungkin, mba. Amel sayang sama aku? Dia sudah menerima alan sebagai pacarnya. Dan untuk gaby, aku nggak tau. Mungkin mba yang lebih paham sebagai sahabatnya."
"Kita bicara amel dulu." Kata mba mery serius.
"Dia suka dan sayang sama kamu. Kenapa dia terima alan? Karena faktor ade sepupunya, lia, yang mungkin juga suka sama kamu," kata mba mery, membuatku sedikit terkejut.
"Elleeeh... kenapa lia ikut diikutin? Lia kan sudah punya pacar."
"Amel yang cerita semuanya ke aku setelah kamu tidur sama dia. Dia nggak ingin ngecewain adeknya. Makanya dia terima alan."
Cuukkk, kenapa jadi bahas masalah sampai ke mana-mana sih mba mery ini? Pintar sekali dia memancingku. Tapi apa bener mba amel suka sama aku, sesuai yang dia omongkan barusan? Nggak mungkinlah. Kalau bener pun, mau diapakan? Dia sudah jadian dengan kakanda alan. Nggak mungkin aku mau mengacaukan hubungan mereka.
"Untuk gaby, dia juga suka sama kamu. Tapi karena ada aku, dia melupakan semuanya. Yang penting sudah dekat sama kamu aja, dia sudah senang, katanya."
"Apasih, kenapa juga ngelantur bahas masalah beginian," ucapku sambil menghisap dalam-dalam rokokku.
"Ini nih salah satu sikapmu yang bikin wanita penasaran. Sikap dingin yang malah bikin wanita pengen dekat," kata mba mery.
"Termasuk mba?" ucapku bercanda.
"Mungkin." Jawabnya singkat.
Assuuu... kenapa tambah ngelantur gini sih jawabannya? Ngobrolnya jadi ke mana-mana. Aku kan cuma bercanda barusan. Dia lupa kalau dia pacaran sama mas rendi? Aneh memang wanita cantik satu ini. Selain tatapan yang misterius, omongannya juga ngawur.
"Kok jadi ngelantur ngomongnya, mba? Ingat mas rendi, mba." Kataku sambil menatap matanya.
"Hehe." Dia cuma tersenyum kecil, membalas tatapanku dengan tatapan misterius seperti biasa.
Cuukkk... bener-bener wanita yang aneh.
"Eh, dosen pembimbingku sudah ada. Ini dia sms. Aku ditunggu di ruangannya. Kamu tunggu di sini sebentar ya, anak baru. Aku konsultasi skripsi dulu sebentar. Jangan pulang dulu. Awas kalau kamu ninggalin." Katanya langsung berdiri dan pergi meninggalkanku.
Assuu... tambah pusing aku dengar cerita mba mery barusan. Kalau semua yang dibicarakan tentang mba amel itu bener, berarti mba amel selama ini menolak bukan karena nggak suka sama aku — tapi karena mengorbankan perasaannya demi lia. Dan fakta terbarunya: lia suka sama aku. Cuukkk, cerita opo iki, assuuu. Pantes aja waktu penutupan ospek, mba amel kok mendesak aku untuk jujur tentang perasaanku padanya. Assuu... sudahlah, malas aku berpikir. Kembali ke awal: kujalani aja dan kunikmati. Mungkin ini bagian dari perjalanan menggapai cita dan cintaku.
Gaby Adrien Ananta
"Eh, ada sandi di sini." Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang tidak asing lagi di telinga.
"Gaby... lagi ngapain?" tanyaku.
"Ya harusnya aku yang tanya dong. Ngapain kamu di kampusku? Kamu kan bukan anak kampus sini." Gaby langsung duduk di hadapanku.
"Aku antar mba mery. Dia lagi konsultasi tugas akhir sama dosennya."
"Oh... ngantar mery. Kirain nyariin aku karena kangen. Hihihihi." Kata gaby sambil tersenyum manis.
("Bang... betina ini anak kos alexis kemarin itu ya," kata jago dari balik sempak.)
("Iya. Emang kenapa, go?")
("Rayu-rayu dikit, bang. Siapa tau bisa ngelanjutin ngaceng yang tertunda kemarin, bang.")
("Asssuuu, yang tertunda gimana? Kamu kan udah ngerasain betinanya kemarin.")
("Tapi kan cuman sekali, bang. Malu aku sama pembaca cerita ini, bang. Kirain aku nggak bisa lanjut lagi.")
("Kemarin kan memang waktunya yang nggak memungkinkan, go. Mereka pasti pahamlah.")
("Elleeeh... mereka itu taunya coli, bang. Nggak mau tau alasan kita.")
("Hahaha... assuu kamu, go. Awas dibully kamu nanti.")
("Biarin, bang. Di cerita ini kita yang berkuasa. Hahahaha.")
("Assuuu.")
("Hahaha.")
"Bisa aja kamu, gab. Kamu nggak konsultasi tugas akhir kayak mba mery?" ucapku menutupi grogiku di depannya.
"Sudah. Barusan selesai," ucap gaby.
"Oh iya... kapan main ke kosanku lagi?" tanya gaby.
("Sambar, bang. Sambar. Dikasih kode tuh.")
("Diam kamu, go. Nafsu banget sih.")
("Apa perlu kukasih semangat kamu, bang?")
("Kasih semangat apa?")
("Upin ipin... kasih semangat abang kita.")
("Siap, om.")
("Aciikk... aciikk...")
("Si...")
("Aciikk... aciikk...")
("Ja...")
("Aciikk... aciikk...")
("Go...")
("SI JAGO!")
("Hahaha... assuu kamu, go. Itu semangat buat kamu, bukan buat aku.")
("Ohhh, maaf, kesalahan teknis tadi, bang. Diulangi ya.")
("Nggak usah. Kuselesaikan kamu kalau kamu ribut sekali lagi.")
("Nggak asyik kamu, bang. Assuu.")
"Lain kali aja, gab. Aku lagi banyak tugas di kampus."
"Ya udah. Eh, kamu ada no hp kan? Minta dong."
"Ada. 08xxxxxxx."
"Oke. Ntar kita telpon-telponan ya. Nggak pa-pakan?"
"Santai aja, gab."
"Ehh... ada gaby di sini. Kamu pasti ngerayu anak baru ini ya." Kata mba mery yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami.
"Emang kenapa? Kamu cemburu, mer? Hihihihihi." Ucap gaby sambil tersenyum.
"Enggalah... nggak dikit maksudnya."
"Berarti banyak dong cemburunya. Hihihihi." Kata gaby.
"Udah, ah. Ayo, anak baru, kita balik. Aku dah selesai konsultasinya."
"Ayo." Ucapku singkat. Aku yang dari tadi bingung apa yang dibicarakan mereka berdua. Lebih baik cepat balik aja daripada tambah gila di sini.
"Buru-buru amat sih, mer. Aku kan masih kangen sama sandi," kata mba gaby.
"Lain kali aja kangen-kangenannya. Ayo, anak baru." Mba mery tiba-tiba menarik tanganku dan menggandengnya erat.
"Cieee... gandengan. Awas ketauan rendi, loh, mer," kata gaby.
"Emang kenapa? Ntar aku ngomong sendiri sama mas rendi. Weeee..." kata mba mery.
"Ayo sudah, anak baru. Da-da, gaby." Mba mery melambaikan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih menggenggam erat tanganku.
"Aku pulang dulu, gab." Pamitku.
"Hati-hati di jalan. Pegangin itu, ntar jagonya ngelirik ke kanan kiri, loh," kata gaby.
("Assuuu... ngapain sebut namaku tuh betina. Kangen berat sama aku ya.")
("Nggak usah ge er kamu, go. Tidur aja sana.")
"Kita langsung balik kan, mba?" tanyaku ketika sudah di atas motor.
"Nggak. Kita jalan-jalan dulu ke mall dekat alun-alun." Katanya sambil memelukku erat seperti waktu berangkat tadi.
"Janganlah, mba. Nggak enak sama mas rendi aku."
"Santai aja. Apa perlu aku telpon sekarang, ngomong sama mas rendi?" kata mba mery.
"Cukkk... cari penyakit itu namanya, mba."
"Sudah percaya sama aku. Walaupun dia tau kita berduaan, dia akan cemburu sama kamu. Aku berani jamin itu. Ayo sudah, kita ke mall."
"Ya sudah, terserah aja." Ucapku. Terus terang aja, aku kok nggak bisa nolak ajakan wanita satu ini ya.
Aku mengarahkan sepeda motor menuju mall yang ada di dekat alun-alun.
Setelah sampai di alun-alun, kami hanya sekadar berkeliling dan membeli camilan. Dan selama perjalanan, dia selalu menggandeng tanganku — padahal aku sudah mencoba melepaskan, tapi dia tetap memaksa untuk memegang tanganku. Assuu... jadi enak aku kalau ginikan. Hahahaha. Setelah berkeliling, kami sempat singgah di foto box dan dia memaksaku untuk foto berdua. Aku menolak ajakannya, tapi dia tetap memaksa. Mau tidak mau, akhirnya kami berfoto berdua, dan dia yang menyimpan hasil foto kami. Kalau ketahuan mas rendi, gimana ya....
Cuukkk kok kesannya dia memaksaku bermain api ya.