EPISODE 19
BAGIAN 19
SESUATU YANG TERTUNDA
Adalia Adriana Agatha
Hari ini aku ke kampus seperti biasa, setelah kemarin bolos. Sekarang aku duduk bersama teman-teman di kantin.
"Gimana kabar teman-teman? Ada kejadian apa setelah pulang dari lapangan lusa?" tanyaku.
"Aman, ga ada balasan dari mereka buat teman-teman," kata Yuda.
"Baguslah kalau gitu. Sur, gimana temanmu yang mengundang pertandingan kemarin?" tanyaku pada Surya.
"Malu dia sama aku San. Sampai ga berani nemuin aku, menghindar terus anaknya," jawab Surya.
"Malu atau jijik lihat kamu, Sur? Hahaha," Yuda mulai mem-bully Surya.
"Uuuaaasssuuu... dikira aku e' kucing opo kok sampai dia jijik..."
"Hahaha, oh bukan e' kucing to? Terus e' apa?"
"E' meong cuukkk... asssuuu kamu Yud."
"Hahaha, cuukkk, pagi-pagi bahas e'. Belum sarapan aku cuukkk," ucap Aldo.
"Ya sarapan aja sama e' kucing aja kamu, Do," ujar Surya santai.
"Lah, masa Aldo sarapan kamu, Sur? Sadis dong dia! Hahaha," ucapku.
"Cuukkk... bajingan... asssuuu koe, San. Podo ae tibakno ambe Yuda..." — cuukkk, bajingan anjing kamu San, sekalinya sama saja kamu sama Yuda.
"Hahahaha..."
"San, ko tau Arnold yang ko kasih pingsan kemarin? Dorang punya kakak di sini," kata Fredi.
"Alex kan. Dia salah satu bajingan di kampus ini. Aku sudah tahu, Fred," jawabku.
"Ko tau dari mana?"
"Dari teman-teman di kos."
"Ko harus hati-hati, bro. Siapa tau dorang incar ko."
"Terus kenapa, Fred? Santai aja. Kalau dia macam-macam, kita bantai aja," sahut Surya.
"Ga gitu juga, bro. Dia itu kuat juga. Aku tau dia soalnya dia satu daerah denganku di timur sana," kata Fredi.
"Nah, itu anaknya yang namanya Alex. Buat apa dorang di sini? Dorang kan bukan anak sipil," sambung Fredi lagi.
Kulihat Alex duduk di dekat toilet bersama teman-temannya. Badannya lumayan besar dan perutnya buncit, sama seperti Arnold.
"Sudah ga pa-pa, Fred. Yang penting kita ga usah cari gara-gara dengan dia. Kita enjoy aja," kataku ke Fredi.
"Siappp..." teman-temanku menyahut kompak.
"Aku ke toilet dulu, pur," kata Lia.
"Iya ya'. Oleh-oleh ya, ya'," Yuda menjawab.
"Mau kubungkusin kah kamu, Yud?" kata Lia.
"Asssuuu... becanda ya'! Hahaha..."
Teman-teman tertawa mendengar jawaban Lia, lalu dia berjalan ke arah toilet. Kami lanjut mengobrol. Ga lama, kulihat Lia sudah balik dari arah toilet, berjalan ke arah kantin. Di belakangnya, Alex berjalan bersama teman-temannya. Dan tiba-tiba...
PAAKKK!
Alex menampar pantat Lia sambil tertawa.
"Hei! Kurang ajar kamu ya! Ga sopan!" teriak Lia.
"Hahaha, siapa suruh jalan di depan kami," kata Alex, disambut tawa teman-temannya.
Aku yang melihatnya langsung mendatangi mereka, diikuti teman-teman yang lain. Aku mau menyerang Alex tapi ditahan Lia.
"Woi! Bos! Sopan ko sama perempuan! Bikin malu orang timur saja!" Fredi berteriak sambil menunjuk Alex.
"Kenapa? Ayo kita berkelahi di depan kampus! Kutunggu di parkiran!" Alex berjalan ke depan bersama teman-temannya.
Aku yang sudah emosi mengikutinya ke parkiran depan kampus. Lia sempat menahanku tapi kutepis tangannya. Teman-teman mengikutiku dari belakang. Tiba di parkiran, Alex sudah berdiri dan bersiap bersama teman-temannya.
Kulihat di seberang sana empat sekawan dari pondok merah: Mas Rendi, Mas Wawan, Mas Bendu, dan Bung Toni. Mereka lagi minum dengan orang-orang parkiran. Mereka rupanya melihat gelagat adanya tawuran, dan kelihatannya mereka ga tahu kalau aku yang mau berkelahi.
"Kalau kalian berkelahi, satu lawan satu! Jangan ada yang main keroyokan!" teriak Bung Toni.
Alex maju ke depan. Aku pun maju. Mas Rendi dan yang lain kaget melihatku. Mereka menghentikan minumnya dan memperhatikan kami berdua yang bersiap-siap untuk berduel.
Kami berhadapan, dan—
BUGGHH... BUGGHH... BUGGHH...
Alex menyerangku lebih dulu. Aku oleng setelah wajahku terkena pukulannya. Tangannya yang kekar dan jari-jarinya yang besar memukulku bertubi-tubi. Aku mundur sambil melindungi kepalaku. Dia menyerangku dengan kedua tangan dan sekali-kali menggunakan lututnya. Dia berhenti memukulku, dan—
BUUMMM!
Dia menendangku memakai punggung kaki, tepat di rahangku. Aku roboh. Lia berteriak histeris, sedangkan teman-teman Alex bertepuk tangan dan bersorak.
Kepalaku pusing. Kulit bibirku pecah mengeluarkan darah. Aku bangun dan jongkok sambil bertumpu pada lengan kananku. Aku menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri supaya pusingnya agak hilang, lalu mencoba berdiri. Dan sebelum aku tegak berdiri—
BUGGHH!
Tendangan Alex tepat di dadaku membuatku roboh ke belakang. Kepala belakangku terbentur aspal dan dadaku sesak. Kepalaku pusing, aku sulit bernapas. Aku berguling ke kanan dan ke kiri.
Gila... aku belum ada kesempatan sekalipun menyerang, tapi dia sudah membuatku roboh dua kali. Tendangan dan pukulannya kuat banget. Aku terlentang, mencoba menarik napas.
Alex mendatangiku dan menarikku sampai aku berdiri.
"Bangsat! Berani-beraninya ko cari masalah sama aku! Ko yang kasih tumbang adekku, kan?" ucapnya.
BUGGHH... BUGGHH... BUGGHH...
Dia memukul wajahku sambil menjambak kepala belakangku. Aku merasa pelipisku berdarah sampai menutupi mataku. Pandanganku kabur. Samar-samar kulihat Mas Rendi, Mas Wawan, Mas Bendu, dan Bung Toni menatapku, seolah berkata: lawan... jangan bikin malu anak kos Pondok Merah.
Alex terus memukul wajahku, lalu berhenti sebentar tanpa melepas jambakannya.
"BANCI MACAM KAU INI MAU LAWAN AKU?!"
Cuukkk... dia bilang aku banci. Bangsat. Kutarik napas pelan-pelan. kukumpulkan tenagaku. Kuusap mataku yang tertutup darah dengan tangan kiri. Alex melihatku, mau memukulku lagi — kutangkap kepalan tangannya dengan tangan kiri.
"Jangan pernah bilang aku banci..." kutatap matanya, dan—
BUGGHH!
Kuarahkan uppercut-ku ke rahangnya. Dia mundur ke belakang sampai terlepas pegangannya di kepalaku. Dia oleng. Sebelum dia sadar, aku loncat dan menendang memakai tumitku, tepat di dadanya.
BUUMMM!
Dia terdorong rebah ke belakang, mata melotot menahan sakit. Sebelum tubuhnya menyentuh aspal, aku loncat lagi dan memukulnya. Tinjuku tepat di hidungnya membuat dia tambah rebah dan tumbang. Dia terlentang, napas sesak, hidung dan mulut berdarah. Dia berguling sambil memegang dadanya.
Lalu dia terlentang dan menarik napas setelah mulai agak tenang, mencoba berdiri. Dan—
BUUMMM!
Tendanganku pas di rahangnya, membuatnya roboh ke samping dan kepalanya membentur aspal sangat keras. Darah langsung keluar dari kepalanya. Alex kejang-kejang dan pingsan.
Teman-temannya panik, langsung menggotong dan membawanya pergi. Aku yang agak sempoyongan ditahan teman-teman, lalu didudukkan bersandar di dinding.
Lia panik melihat wajahku yang berdarah. Dia membersihkannya dengan saputangannya.
"Kenapa sih, pur? Kenapa kamu berantem segala sama dia? Lihat ini mukamu... darah semua..." Dia membersihkan wajahku sambil mengomel, dan kulihat matanya berkaca-kaca.
"Piye San? Ga po-po ta awakmu?" — gimana kamu San? Ga pa-pa kan? — ucap Aldo.
Yuda, Fredi, Surya, dan yang lain diam saja sambil menatapku khawatir.
"Cuukkk... santai aja. Ga pa-pa ini. Kita ini anak Teknik, biasa kalau berkelahi. Sudah, pulang semua. Aku mau balik ke kos," ucapku, lalu berdiri.
"Beneran kamu ga pa-pa, San? Gila memang kamu San... bisa berdiri lagi," ucap Yuda heran.
"Iya, ga pa-pa. Sudah pulang sana. Aku mau ke kos," ujarku sambil berjalan melewati teman-temanku yang heran ketika aku berjalan normal, ga sempoyongan.
Mereka bubar. Tinggal Lia dan Aldo yang mengikuti dari belakang.
"Kenapa sih kalian berdua?" tanyaku.
"Aldo, kamu di sini dulu temani Sandi. Aku mau beli obat merah sama kapas," ucap Lia. Aldo mengangguk.
"Aku tuh ga pa-pa ya'... luka kecil aja ini. Sudah pulang aja," ucapku.
"Diam kamu, pur! Ga usah banyak protes. Tunggu di sini aja." Lia pergi meninggalkan kami.
"Do, ayo kita nyebrang. Datangin mas-mu," ajakku sambil menunjuk meja Mas Bendu.
"Ga usah, aku di sini aja nunggu Lia. Males aku ketemu masku," ucap Aldo.
"Cuukkk... tak seret lo koen..." — cuukkk, tak seret loh kamu.
"Iyo, iyo... cook, ngono ae mblayer..." — iya, iya, cook, gitu aja marah — dengan terpaksa Aldo mengikutiku ke arah Mas Rendi dan kawan-kawan.
"Wooo... prokk, prokk, prokk..." Bung Toni berdiri, standing ovation buatku, diikuti Mas Bendu dan Mas Wawan. Sedangkan Mas Rendi duduk aja sambil tersenyum.
"Apasih Bung Toni... biasa aja kali ah," ucapku, lalu duduk di bangku depan mereka.
Tukang parkir dan beberapa orang yang kelihatannya bajingan kampus bengong melihatku langsung duduk di depan mereka dan sok akrab dengan anak-anak Pondok Merah.
"Ko memang hebat, San. Ga salah ko masuk di kos kita. Hahaha," ucap Bung Toni.
Kali ini mereka tambah terkejut waktu Bung Toni bilang aku anak kos Pondok Merah.
"Ini ko, minum dulu. Ko haus kelihatannya." Bung Toni menyerahkan segelas minuman yang dicampur bir.
"Iya Bung, aku minum dulu ya semua." Kuangkat gelas.
Minuman itu langsung masuk ke tenggorokanku. Agak perih sih waktu kena bibir sampingku, mungkin karena berkelahi tadi. Tapi ga apa-apa. Rasanya ga terlalu panas, mungkin karena campuran bir. Nikmat sekali.
"Eh Aldo, duduk ngapain berdiri?" ucapku pada Aldo di sebelahku.
"Iya, Do. Ngapain ko berdiri kayak ga kenal kita aja. Duduk!" kata Bung Toni sambil menuang minuman.
"Oh iya, Bung. Permisi ya, Mas Wawan, Mas Rendi," ucap Aldo sopan.
"Cok! Mas'e ga disopo, ga sopan..." — cok, kakaknya ga disapa, ga sopan — ucap Mas Bendu sambil merokok. Aldo cuma melirik Mas Bendu aja.
"Iya, duduk aja, Do. Biasa aja sama kita," kata Mas Rendi.
"Akhirnya bisa duduk bareng kita, Do. Bisa minum bareng juga! Hahaha," ucap Mas Wawan. Aldo cuma tersenyum sambil menunduk.
"Eh, ngomong-ngomong, pukulanmu hebat juga loh, Do, waktu ospek kemarin. Sekali aja kamu uppercut, anak Mesin itu langsung roboh. Ga percuma kamu aku latih! Hahaha..." Mas Wawan tertawa. Aldo cuma senyum dan tunduk malu.
"Sopo seng ngajari? Telek ta... asssuuu! Hahaha..." — siapa yang ngajari? Taik ta... anjing... — kata Mas Bendu ga terima omongan Mas Wawan. Disambut tawa yang lain.
"Bendu, adekmu aku kasih minuman ya. Ko jangan marah," kata Bung Toni sambil menyerahkan gelas ke Aldo.
"Cok! Koen kabeh ngajari adekku rusak, cok!" — cok, kamu semua ngajarin adekku rusak — ucap Mas Bendu santai.
"Loh, awakmu sak kelas karo Dodo ta, San?" — loh, kamu sekelas dengan Dodo kah, San? — tanya Mas Bendu.
"Iya, Mas. Dia sekelas sama aku. Aldo yang ngajarin aku rusak, Mas. Di kelas. Hehehe," ucapku.
"Assuuu! Koen ga dirusak wes rusak, cok!" — anjing, kamu ga dirusak sudah rusak, cok! — kata Mas Bendu.
"San, itu bersihin dulu pelipismu. Ada darah mengalir tuh," kata Mas Rendi.
"Oh iya, Mas." Kupegang pelipisku. Memang ada darah yang keluar lagi, walaupun tadi sempat dibersihkan Lia.
"Sandi, sini!" kata Lia yang sudah ada di belakangku. Dia duduk di atas sepeda motornya.
"Beh... pujangga bajingan memang kamu, San. Sana, datangi wanitamu," kata Mas Rendi sambil tersenyum.
"Suit, suit... wuuueee..." teriak Mas Wawan dan Mas Bendu barengan.
Aku berdiri, mendatangi Lia.
"Kenapa sih, ya'? Ga usah repot-repot segala, kenapa sih..." ucapku pada Lia yang mengeluarkan obat merah dan kapas.
"Ga usah banyak ngomong. Duduk sini, di motorku." Kata Lia berdiri, dan aku disuruh duduk di motornya.
"Kamu habis berkelahi langsung mabuk. Mau jadi apa kamu..." kata Lia sambil membuka obat merah dan kapasnya. Aku diam aja, ga jawab cewek cantik ini.
Lia membersihkan lukaku di bibir dan pelipis menggunakan alkohol. Setelah itu dia mengoleskan obat merah. Wajah kami begitu dekat sampai aku bisa mencium aroma parfumnya. Cantik sekali wajah sahabatku satu ini. Terlihat wajahnya yang begitu kuatir. Aku sempat meringis sebentar waktu Lia menekan kapas sambil mengoleskan obat merahnya.
"Baru dikasih obat gini aja sudah meringis. Ga ingat kah kalau berantem kayak orang kesetanan..." kata Lia mengomel, tapi ga melihat mataku. Aku diam sambil melihat matanya, hidungnya, pipinya, dan bibirnya yang tipis. Sempurna sekali kecantikanmu, Ya'.
"Tekan yang kuat, Non. Kapasnya. Manja sekali itu Sandi. Hahaha..." Tiba-tiba suara Bung Toni keluar dan mengejekku, disambut tawa teman-temanku.
"Tuh kan, ya'... diolokin kita," ucapku pada Lia.
"Jadi kamu malu kalau diginiin..." kata Lia sambil melotot ke arahku, lalu menggelembungkan pipinya.
"Aw... aw... aw... pelan-pelan ya'..." Tiba-tiba Lia menekan kapasnya kuat-kuat ke lukaku.
"Hahaha... manja loe! Hahaha..." kali ini Mas Wawan yang mengejekku.
"Ini kenapa de? Kenapa mukanya Purnama?" Tiba-tiba Mbak Amel muncul dengan Alan.
"Duel sama siapa kamu, San? Hahaha?" kata Alan tertawa melihat lukaku yang dibersihkan Lia.
"Woi, Alan! Ketawa aja kamu di situ, duduk sini!" kata Bung Toni.
"Iya, Bung. Siap," kata Alan.
"Yang, aku gabung sama teman-temanku ya," kata Alan ke Mbak Amel.
"Mabuk terus ya..." kata Mbak Amel berbisik, takut terdengar Bung Toni.
Alan tersenyum dan bergabung, lalu minum bareng.
"De, ditanya ko ga dijawab..." kata Mbak Amel ke Lia.
Lia memasang kapas lalu melilitnya dengan handiplast.
"Dia duel sama Alex di sini tadi, Kak. Sok jagoan betul anak ini. Iiihhh..." kata Lia sambil menekan handiplast dengan keras.
"Pelan-pelan, ya'..." ucapku ke Lia.
"Kenapa? Sakit?" kata Lia melotot. Asssuuu... kejam banget wanita ini.
"Ha? Duel sama Alex? Gimana ceritanya?" ucap Mbak Amel.
"Nanti aja kuceritain di kos," kata Lia yang sudah selesai memperban kepalaku.
"Makasih ya, ya'..." ucapku.
"Sekarang kamu pulang dulu sana," ucapku.
"Kenapa sih kamu ngusir aku? Aku mau di sini dulu," kata Lia.
"Sudahlah, ayo kuantar kamu ke kosan," kataku ke Lia, lalu menyalakan motorku.
"Mas, aku tinggal sebentar ya. Antar tuan putri dulu ke kosan. Do, tunggu di sini sebentar ya," pamitku. Aku harus antar Lia pulang ke kosan. Kalau ga diantar, ga bisa minum aku.
"Tunggu, sama-sama kita, San. Aku antar Amel juga," kata Alan.
Kami pun beriringan menggunakan motor, mengantarkan dua orang tuan putri ke kosan. Tiba di kosan Lia dan Mbak Amel turun. Aku juga turun, lalu naik ke motor Alan.
"Pamit ya," ucapku ke Lia dan Mbak Amel.
"Yang, aku balik ya," ucap Alan ke Mbak Amel.
"Begitu ya, minum aja yang diutamain. Kirain mau masuk dulu tadi," kata Mbak Amel cemberut.
"Pur, awas kalau kamu minum banyak. Lukamu itu belum kering," ucap Lia.
"Ga ada hubungannya, ya', luka sama minum. Ayo, Lan. Ga enak ditunggu sama teman-teman," ucapku ke Alan.
"Kamu tu ya, pur. Malah ngajak Alan ke sana buru-buru. Biar aja Alan di sini dulu," kata Mbak Amel.
"Iya sudah, aku balik sendiri. Biar Bung Toni nanti yang jemput Alan ke sini. Turun, Lan. Kupake motormu ke sana..." ucapku.
"Ehh... ga ja— jadi. Sana sudah, Lan..." kata Mbak Amel takut waktu kusebut nama Bung Toni.
"Kami pamit dulu ya..."
Kami kembali ke depan kampus dan lanjut minum.
"Cak Ji, ini namanya Sandi. Dia anak baru di kosku," kata Mas Rendi mengenalkanku pada tukang parkir dan teman-temannya.
"Waaahhh... pantes dia kok sok akrab sama kalian tadi. Kirain siapa tadi, kok langsung nyelonong duduk di sini," kata Cak Ji. Kulihat beberapa teman Cak Ji tersenyum kepadaku, dan kulihat juga beberapa bajingan kampus yang ikut minum dengan kami tersenyum kepadaku.
"Hebat loh, Sampean, tadi bisa mukul roboh Alex. Dia itu terkenal kulit badak, soalnya tahan pukul. Berkali-kali berkelahi di sini selalu menang. Dia sekali aja pernah kulihat roboh, waktu dihajar sama Bung Toni. Dan sekarang, ini dia roboh yang kedua kali sama Sampean," kata Cak Ji.
Aku tersenyum aja mendengar penjelasan Cak Ji. Ga terasa sudah jam dua kami minum. Kami minum mulai jam sepuluh. Kulihat Aldo sudah menyandarkan kepalanya di tembok, tapi masih kuat melanjutkan minumannya. Sementara aku dan yang lain masih duduk santai, tapi efek mabuknya luar biasa walaupun kelihatan santai.
"Purnama, Aldo! Sudah jam dua ini. Kita ada kuliah loh!" Tiba-tiba Lia sudah ada di belakang kami. Aku cuma tersenyum, Lia memanggilku. Aldo hanya mengangkat jempolnya ke Lia.
"Woi, loe diajak kuliah sama tuan putri. Pergi sana loe!" kata Mas Wawan sambil tersenyum.
"Ngga, Mas. Aku di sini aja. Kepalaku masih pusing akibat pukulan tadi," ucapku.
"Pusing karena pukulan atau karena minuman?!" kata Lia sambil pergi ke dalam kampus dengan sewot. Cak Ji mengambil motor Lia untuk diparkirkan.
"Wiihh... sadis juga tuan putri kalau marah. Hehehe," kata Bung Toni.
"Naksir kamu itu, San," kata Mas Rendi. Aku cuma tersenyum.
"Itukan pacar Bowo, anak Mesin, ya? Kalau ga salah," kata Bung Toni.
"Iya, Bung. Hehehe," kataku.
"Memang pacar orang lebih menggoda ya, bro..." kata Bung Toni sambil menyerahkan minuman kepadaku. Kuambil dan kuminum.
"Gila loe, San. Loe punya apa sih sampe bisa gampang banget mikat perempuan? Hahaha," kata Mas Wawan.
"Dia kan pujangga bajingan! Hahaha..." kata Mas Rendi sambil tertawa, diikuti teman-teman yang lain.
Ga terasa sudah jam lima sore. Kami minum sambil bercanda. Kulihat beberapa orang sudah tergeletak karena mabuk. Tinggal anak kos Pondok Merah ditambah Aldo yang masih kuat duduk dan melanjutkan minuman. Alan pulang duluan ke kos. Cak Ji dan anak buahnya sudah bersandar di dinding, tidur sambil bersandar. Beberapa bajingan kampus yang ikut minum sudah tidur di trotoar tempat kami berkumpul.
"Belum juga selesai minumnya..." kata Lia yang sudah selesai dari kuliah.
Aku berdiri dan mendekati Lia.
"Sudah selesai ya', kuliahnya..." ucapku sambil menatap mata Lia. Dia membuang mukanya, mengambil motornya, lalu pergi. Aku cuma menggeleng kepala dan duduk kembali bersama yang lain.
"San, lembut sedikitlah sama perempuan. Aku tau kamu punya daya tarik tersendiri bagi perempuan, tapi kamu kurang lembut sama mereka," ucap Mas Rendi.
"Aku sudah lembut kok, Mas," jawabku.
"Lembut gimana? Loe ngomong sambil melotot gitu!" kata Mas Wawan.
"Iyo, San. Mengalah sedikit saja. Dorang tra suka ko terlalu mabuk. Turuti saja nona itu," kata Bung Toni.
"Arek'e seneng awakmu, loh, San," — anaknya suka sama kamu, loh, San — kata Mas Bendu.
"Iyo, tapi Sandi cuek ae, Mas," kata Aldo.
"Kalau dia datang lagi, pergi rayu dia," kata Mas Rendi.
"Mau dirayu gimana, Mas? Dia sudah punya cowok. Biar aja lah, maunya dia gimana. Ayo minum lagi. Kok malah kita jadi melankolis gini? Hehehe..." ucapku.
"Pancet ae..." — tetep aja gitu — kata Mas Bendu sambil geleng-geleng. Yang lain kulihat sama saja geleng-geleng.
Kami melanjutkan minum lagi.
"Mas, aku pulang dulu ya. Kepalaku pusing," ucap Aldo.
"Kuat ta muleh dewe?" — kuatkah pulang sendiri? — tanya Mas Bendu.
"Kuat, Mas. San, aku pulang," kata Aldo yang berdiri.
"Iya, hati-hati," ucapku.
"Hati-hati, Do," ucap Mas Wawan, Mas Rendi, dan Bung Toni.
Aldo pergi meninggalkan kami. Kulihat sudah jam delapan malam.
"Kita pindah ke kos aja minumnya. Lagian sisa kita aja yang bertahan," kata Mas Rendi.
"Ayo. Wan, kasih bangun orang-orang ini, suruh pulang mereka semua," kata Bung Toni.
Mas Wawan membangunkan mereka yang tertidur, dan—
"Mau sampai kapan kamu minum di sini..." Tiba-tiba Lia sudah ada di belakangku. Kelihatannya dia jalan kaki dari kosnya.
"Ini kita sudah mau balik. Mau lanjut di kosan," ucapku santai.
Lia langsung menggandeng tanganku dan menariknya.
"Ayo ke kosanmu. Aku mau antar kamu ke sana," ucap Lia.
"Apa'an si, ya'..." ucapku, tanpa menolak pegangannya.
"Kamu mau kuantar ke kosanmu atau ke tempatku?" ucap Lia.
"Ke kosanku ajalah..." ucapku. Ntar kalau ke kosannya ga enak lagi, kondisi lagi mabuk gini, apa kata penghuni Barbara nanti.
Aku melihat Mas Rendi dan yang lain seolah minta izin membawa Lia ke kosan. Mereka mengangguk dan menyuruhku duluan dengan Lia. Dan Lia menarik tanganku.
"Kamu tau kosanku, ya'?" ucapku.
"Diam! Ga usah banyak omong," kata Lia sambil terus menarik tanganku. Kepalaku yang pusing dan badanku yang lemas ikut aja ketika ditarik Lia.
Aku seperti anak kecil yang ditarik dan disuruh pulang oleh ibunya. Aku sempat melihat ke belakang — mereka menahan tawa melihat ekspresiku ketika ditarik Lia. Tiba di kosanku, Lia berdiri di depan pintu dan membukanya pelan. Di ruang tengah, teman-teman pada ngumpul dan melihatku.
"Woooo... Sandi pesta sendiri ya sama Mas Rendi. Kita ga diajak," kata Mas Reimond.
"Itu Alan sampe tidur di kamarnya," kata Mas Akbar.
"Eh, ada cewenya Sandi sekarang. Cuit, cuit..." ledek Mas Rudi.
"Hahaha..." teman kosku tertawa semua.
Aku diam saja sambil tersenyum dengan teman-teman. Lia tersenyum agak dipaksakan kepada teman-temanku. Dia tetap menggenggam tanganku.
"Kamarmu yang mana, San?" tanya Lia.
"Itu yang di pojok, dekat kamar mandi," ucapku.
"Permisi ya, Mas..." ucap Lia ke teman-temanku sambil menarik tanganku menuju kamar.
"Aku ke kamar dulu ya, Mas..." ucapku pada teman-teman.
"Busyet, langsung main ke kamar aja! Hahaha..." kata Mas Rudi. Aku hanya tersenyum saja.
Aku membuka pintu kamar. Lia melepaskan pegangan tangannya. Aku masuk tanpa melepas sepatu, langsung berbaring di kasur karena kepalaku pusing sekali. Lia menutup pintu kamarku. Dia duduk dekatku, dan aku merasakan dia melepas sepatu dan kaos kakiku. Kepalaku yang sudah berat dan mataku yang mengantuk cuek saja dengan apa yang dilakukan Lia. Dan aku tertidur.
Aku terbangun dengar suara musik dari komputerku. Rupanya Lia duduk di depan komputerku bermain solitaire sambil mendengarkan musik.
"Loh, ya'? Jam berapa ini?" tanyaku. Lia diam saja sambil tetap bermain game. Aku bangun. Kepalaku pusing sekali, dan kulihat jam... pukul 03.00.
"Kamu ga pulang, ya'?" tanyaku lagi. Dia tetap diam saja.
Aku merangkak dan mendekati Lia, melihatnya dari samping. Ternyata... dia menangis.
"Kamu kenapa, Lia?" ucapku sambil menatapnya.
"Kenapa kamu begini, Sandi?" ucap Lia. Dia memanggilku Sandi, bukan lagi Purnama.
"Maksudnya, ya'?" tanyaku.
"Kenapa kamu mabuk sampai begini..." ucap Lia, tetap ga melihatku.
"Katamu kamu mau berteman dengan aku walaupun aku mabuk," jawabku santai.
"Tapi kondisimu, San... kamu siang berkelahi seperti orang yang kesetanan, dan itu karena aku. Terus kamu minum dari pagi sampai malam..." kata Lia yang mulai melihatku. Matanya agak bengkak. Dia rupanya sudah lama menangis.
Aku mengambil rokok Lia. Dia menahan tanganku.
"Aku mau ngomong sama kamu tanpa asap rokok," kata Lia.
"Terus maunya kamu gimana, Lia? Aku ya begini ini. Tukang mabuk, tukang berkelahi, dan suka bikin ribut," kataku santai. Kali ini aku mengambil teh kotak di meja komputer.
"Hemmm..." Lia cuma menarik napas dan menghadap komputer, melanjutkan bermain gamenya.
*Ada apa sih ya' sama kamu? Kok kelihatan khawatir banget sama aku? Apa kamu memang suka sama aku, seperti yang diomongin Mbak Mery kemarin ya? Kok kelihatannya kamu khawatir banget sama aku semenjak kejadian tadi pagi?*
Aku jadi bingung kalau begini. Sudah kepala pusing, terus harus berhadapan dengan seorang wanita yang sedang menangis karena aku, dan aku harus dipaksa berpikir bagaimana mengerti dan menenangkannya.
Terus sekarang aku harus bagaimana mengerti dan menenangkannya, sedangkan dia aja ga bicara? Apa aku harus membaca pikirannya? Cuukkk banget deh. Paranormal aja belum tentu bisa baca pikiran wanita yang lagi ngambek dan diam, apa lagi aku. Apa aku harus lari ke hutan terus ke pantai? Emang ga ada kerjaan apa, malam-malam menjelang subuh gini lari-larian. Atau kupecahkan saja gelasnya? Gelasnya pecah, terus mau mabuk pake gelas apa? Cuukkk... bisa dimaki sama orang satu kos aku.
"Butuh bantuanku kah, bang?" ucap Jago yang lagi nyantai.
"Cuukkk... diam aja kamu. Jangan bikin tambah ruwet."
"Kasih aja sesodok-dua sodok. Pasti selesai masalah, bang," Jago mencoba merayuku.
"Cuukkk... emang bilyard main sodok-sodok aja? Main bilyard aja ada prosesnya. Ga tiba-tiba datang, langsung ambil stik, terus sodok. Bisa dihajar sama securitynya kita."
"Terlalu banyak cakap kau, bang. Aku tidur aja lagi," ucap Jago.
"Cuukkk... yang minta pendapatmu siapa? Tidur aja sana!"
Aku dekati Lia. Kupegang tangannya dan kuraih dagunya supaya dia melihatku.
"Adalia Adriana Agatha, aku tuh harus gimana? Aku ga bisa kalau disuruh membaca pikiranmu. Aku tuh bukan abnormal. Kalau seandainya kamu pacarku, pasti langsung kucium bibirmu sebagai permohonan maafku," ucapku sekenanya aja.
"Abnormal? Paranormal kah maksudmu? Dodol..." ucapnya sambil mendorong keningku. Dan Lia pun akhirnya tersenyum...
Kupegang wajah Lia dan kuusap air matanya dengan jempolku.
"Aku tuh paling ga bisa lihat perempuan menangis. Apalagi nangisnya karena aku. Kamu boleh ngelakuin apa aja dan boleh minta apa aja sama aku. Tapi kumohon, jangan diam, apalagi menangis..." ucapku sambil menatap matanya.
Lia mengubah posisi duduknya, dari menghadap komputer menjadi menghadapku.
"Janji kamu ga berkelahi kayak tadi pagi..." kata Lia menatapku.
"Kalau itu, aku ga janji," jawabku.
"Katanya boleh minta apa aja..." ucapnya sambil melipat tangannya di dada dan menggelembungkan pipinya. Cuukkk... cantik... cantik sekali kau... asssuuu...
"Kalau ada yang berani kurang ajar sama kamu, kuselesaikan saat itu juga. Walaupun resikonya kamu membenci aku seumur hidup..." ucapku kepadanya sambil menatap matanya.
Lia langsung menubruk badanku, sehingga aku terjatuh ke kasur di belakangku. Lia sekarang berada di atasku. Aku meluruskan kakiku.
CUUUPPPP...
Lia mengecup pelan bibirku, lalu menatap mataku.
"Kamu terlalu banyak omong, pur..." ucapnya.
"Bang! Ini betina kah yang tindihin kepalaku? Aromanya seger, bang!" ucap Jago.
"Diam kamu, Go. Ini ga seperti yang kamu pikirkan..."
"Asssuuu... ga seperti apa yang kupikirkan?? Betina ini nidih ke palaku loh, bang! Terus cium bibirmu lagi! Terlalu banyak retorika kamu, bang!" ucap Jago.
"Berisik kamu, Go! Dia ini temanku. Ga usah pikir yang aneh-aneh lah..."
"Teman tapi enak, loh, bang..."
"Cuukkk..."
"Ya', kita ga boleh begini. Kamu sudah ada yang punya, ya'. Ada Bowo. Ingat ya'..." ucapku ke Lia.
"Aku dah putus sama Bowo tadi siang. Jadi kamu ga usah berisik..." kata Lia.
CUUUPPP... HEEEMM... CUUUPPP...
Lia menciumku lagi. Dan kali ini lebih dalam. Dia mengulum bibir bawahku dan menghisapnya. Agak perih sih kena lukaku, tapi asyik aja. Dan Lia sepertinya ga jijik sama luka di dekat bibirku. Karena Lia terus mengulum bibirku, akhirnya aku membalas, mengulum bibir atasnya. Aku mengulum sambil memainkan lidahku di situ. Kami berciuman cukup lama sampai air liur kami tertukar.
Kami saling melumat dan saling meraba. Lia memasukkan tangannya ke dalam kemejaku dan mengelus dadaku dari dalam. Aku pun ga tinggal diam. Aku meremas pelan buah dadanya dari luar. Lia mendesah dengan suara halusnya. Lalu tanganku menyelip di balik kaosnya, kuelus perlahan perutnya.
Pelan-pelan elusanku naik ke atas, menyentuh bra-nya, lalu menyelinap ke dalamnya. Cuukkk... ini pertama kalinya aku menyentuh kulit buah dadanya langsung. Besar dan kenyal. Aku remas perlahan sambil sekali-kali memelintir putingnya pelan. Lia melepaskan ciumannya dan menatapku sayu.
"Tanganmu nakal, pur..." katanya, lalu mencium lagi bibirku, kali ini dengan ganas. Rupanya dia sudah birahi. Terbukti dengan putingnya yang mulai mengeras di ujung jempol dan jari tengahku yang sedang memelintir pelan.
Lidahnya mulai masuk ke dalam mulutku dan bermain di dalam sana. Aku menyambutnya dengan mengisap lidahnya. Aku mengemut dan mengisap lidahnya...
Kaosnya kuangkat separuh badan dan bra-nya kuangkat ke atas sampai kedua buah dadanya keluar. Aku melepas ciuman, lalu melihat buah dada Lia. Cuukkk... putih, besar, dan kenyal. Warna putingnya kemerahan dan mengacung keras. Aku lalu menjilat dan mengulumnya. Lia mendesah sambil merangkul kepalaku, menekan-nekan kepalaku ke toketnya. Erangannya mulai keluar pelan-pelan, getar halus yang bikin kontolku ngaceng sampai sakit di dalam celana.
TOKK... TOKK...
Kami berdua kaget dan menghentikan kegiatan kami.
"San... kamu belum tidurkah..." suara Mas Dannis di depan kamarku.
"Kenapa, Mas..." Aku dan Lia langsung duduk dan membetulkan pakaian masing-masing.
"Ada rokokmu kah? Aku baru pulang dari kampus. Lembur tadi ngerjain tugas."
"Ada, Mas. Ntar ya..." Aku langsung berdiri dan mengambil rokokku.
Kubuka pintunya setengah aja sambil menyerahkan rokokku.
"Bawa aja semua, Mas," kataku.
"Kamu kenapa, San? Mukamu kok bonyok?" kata Mas Dannis.
"Biasa, Mas. Tadi ada keributan kecil di kampus."
"Oh, jadi kamu yang berkelahi di kampus lawan Alex ya?"
"Iya, Mas. Hehehe. Mas, maaf ya, kepalaku pusing. Tadi habis minum sama Mas Rendi seharian," kataku.
"Oke deh, besok aja kita cerita lagi. Makasih ya, rokoknya," kata Mas Dannis.
"Siap, Mas."
Aku langsung menutup pintu dan menguncinya. Dan kulihat Lia sudah...
...berbaring di kasurku, menyibak kaosnya kembali ke atas, menatapku dengan mata sayu penuh birahi yang tertahan.
cuukkk... inikah yang namanya ngaceng yang tertunda...