←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 20 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 20
BAGIAN 20 BIARLAH MENGALIR... Aku langsung menutup pintu dan menguncinya. Aku berbalik dan melihat Lia sudah merebahkan diri menghadap dinding, tubuhnya terselimuti rapat. Bajingan... hiuuufftttt... kalau ini bukan ngaceng yang tertunda namanya, tapi ngaceng yang nggak ada penyalurannya. Assuuu... Aku mendekati Lia dan berbaring di sampingnya. "Cuukkk... baru dapat bibir sudah ada yang ganggu. Assuuu..." gumamku, lalu kuputar badan memunggungi Lia. "Bibir siapa, Pur...?" suara Lia terdengar di sampingku. "Ka... kamu belum tidur ya...?" Aku langsung berbalik. Lia pun menoleh menatapku. Kami berpandangan. Saling menatap tanpa berkedip. "Aku kira kamu tadi pertama terpaksa dan mau menolak... ternyata... mengharapkan juga...?" kata Lia sambil tersenyum nakal. "Banyak omong kamu ya'..." Aku langsung menarik wajahnya dan mencium bibirnya. Perlahan Lia naik ke tubuhku sambil tetap berciuman. Dia kini mengangkang di atas tubuhku. Ciuman kami sama-sama bernafsu, seperti dua kekasih yang lama terpisah dan dikuasai birahi. ("Ntar dulu ya, aku potong di sini...") ("Kenapa, Go? Mau kuselesaikan kamu di kamar mandi kah...?") *("Nggak, Bang. Aku cuman mau bicara sama kisanak87. Woi kisanak! Jangan kau buat aku croot cuma sekali aja ya kali ini. Aku nggak mau harga diriku dihina dan diinjak-injak lagi...")* ("Emang kamu mau apa? Kok berani ngancam kisanak...") *("Aku nggak mau bangun. Biar aja pakai mulut dan tanganmu aja, Bang...")* ("Assu kamu, Go... hahahahaha...") *Kisanak87: "Taik kamu, Go. Assuu... lanjut Go, lanjut... jangan ngambek ya..."* ("Hahahahaha... aku menang, Bang! Hahahahaha...") Hu...hu...hu...hu... Lia melepas ciumannya dan mengatur napasnya yang memburu. Ditatapnya mataku dengan lembut. "Tanganmu jangan ikut gerak. Diam aja, jangan menyentuh semua bagian tubuhku. Paham...?" ucap Lia menatapku. Ditariknya aku sampai duduk, sehingga posisi kami kini saling berhadapan. Lalu dibukanya kancing kemejaku satu per satu. Dilepasnya kemejaku, dan selanjutnya diloloskan kaosku ke atas. "Haaa... kamu punya tato ya, Pur...?" ucap Lia terkejut. "Kalau nggak mau lihat, nggak pa-pa. Aku pakai kaosku, terus kita tidur aja..." ucapku. Lia diam saja. Tangannya langsung menyentuh dadaku yang bidang. Dia mengusap lembut seluruh dadaku yang bertato. Lalu dia mendekatkan wajahnya dan mengecupku pelan. "Tatomu memang menakutkan... tapi aku yakin hatimu nggak seperti tatomu..." Dia mendorongku pelan sampai aku terbaring. Dia duduk bersimpuh di antara kedua kakiku di samping tubuhku. Diremasnya dadaku perlahan, diciumnya bibirku lalu turun ke leherku sambil terus menciumi. Setelah itu dia mengecup putingku dan menjilatnya bergantian. Ahh... geli dan nikmat sensasi yang diberikan Lia. Dia melakukan itu semua sambil menatap wajahku yang menikmati sentuhannya. Tangan kanannya turun mengusap lembut perutku dan terus merabanya. Diturunkannya tangan itu melewati celana dalamku dan menyentuh kepala jago, menggenggamnya. Perlahan dan pasti dia mengocok pelan di situ. Cuukkk... nikmat sekali. Aku sampai mengejang menahan nikmat ini. Apalagi dia melakukannya sambil menjilat putingku dan menatap mataku. "Udah ya'... aku nggak kuat... ah... ah... ah..." napasku memburu. Kuraih wajahnya, kucium bibirnya penuh nafsu. Setelah melepaskan ciuman itu, Lia turun. Dibukanya perlahan ikat pinggangku dan kancing celanaku sambil tetap menatapku dengan tatapan menggoda. Dipelorotkannya celana panjang dan celana dalamku, lalu dilemparkan ke samping. Jago langsung berdiri dengan sombong dan tegak. Kini aku telanjang bulat, sementara dia masih berpakaian lengkap. Diraihnya jago, digenggamnya batang jago yang besar dan berurat. Terlihat jari-jarinya yang kecil tak sanggup menggenggam badan jago hanya dengan satu tangan. Akhirnya dia menggenggam dengan dua tangan sambil terus menatapku. Diturunkannya kepalanya, dijilatnya perlahan kepala jago. Ahhh... nikmat sekali. Aku melayang tinggi seperti di awan. Dia menjilati kepala jago, setelah itu dibukanya bibir kepala jago dan dijilatinya bagian dalamnya. Gila... gila... nikmatnya! Jago sampai bergetar menerima rangsangan lidah Lia. Dimasukkannya kepala jago. Dia mengulum di situ sambil kadang-kadang menjilat dan melepaskannya, lalu dimasukkan lagi dan dijilat lagi. Aku mengejang. Aku harus kuat, nggak boleh keluar duluan... tapi nikmat ini nggak bisa dibendung. Si jago mulai berkedut, tanda akan memuntahkan isinya. Lia tahu jago akan muntah. Dia menghentikan aksinya, digenggamnya jago dengan erat dan ditutupnya mulut jago dengan jempolnya. "Kenapa ya'... aku mau keluar... plisss... aku nggak kuat..." ucapku. "Belum saatnya..." kata Lia sambil terus menatapku. Cuukkk... aku disiksa sama jago. Bajingan! Setelah jago agak tenang, Lia memasukkan lagi kepala jago ke dalam mulutnya. Kali ini lebih dalam. Kulihat mulutnya penuh oleh batang jago padahal baru masuk setengah. Digenggamnya batang jago lalu dilepaskan mulutnya. Lia mengambil napas sebentar. "Besar juga ya..." kata Lia sambil mengedipkan satu mata. Lalu dia jongkok dan meraih batang jago. *("Dengar tuh semua! Ini wanita ketiga yang ngomongin kebesaranku!" ucap jago dengan sombongnya.)* *("Kenapa baru sekarang kamu menyapa mereka, Go? Kemarin-kemarin diam aja waktu Mbak Amel sama Gaby ngomong gitu...")* *("Betina ini istimewa, Bang. Lihat yang baca pasti pada ngiler semua tuh...")* ("Assuuuu! Kamu pamer ceritanya ini, Go...") *("Bisa dibilang begitu, Bang. Hahahaha... iri ko' pasti... ya to'? Hahahaha...")* ("Assu kamu, Go... hahahaha...") Setelah itu dimasukkannya lagi kepala jago, kali ini lebih dalam sampai menyentuh batang jago yang paling bawah. Kurasa kepala jago menyentuh tenggorokan Lia. Cuukkk... nikmat sekali di dalam sana... sempit dan basah. Aku menggeleng ke kanan dan ke kiri menahan nikmatnya. Kurasa Lia mau muntah akibat terlalu dalam menelan jago. Ditariknya kepalanya. Kulihat matanya berair, lalu diusapnya air matanya. Lia mundur sedikit. Ditekuknya lututku ke atas. Dia turun ke bawah, dijilatnya upin dan ipin, lalu mengemutnya bergantian. Cuukkk... nikmatnya! Dijilatnya kedua buah zakarku. Setelah itu dia turun, menjilat ke bawahnya sampai ke lubang pantatku. Dijilatnya sampai dalam. Gila... gila... aku nggak kuat! Mau keluar rasanya... tapi lagi-lagi digenggamnya batang jago dan ditutupnya mulut jago. Assuuu... aku dan jago disiksa lagi... Setelah puas menjilati bagian bawah, Lia mengenggam batang jago, lalu mengulum kepala sampai batang tengahnya, sedangkan tangannya mengocok bagian bawah batang jago. Kepalanya naik turun perlahan. Aku sudah nggak kuat lagi. Aku mengejang sambil meremas sprei kasur, pinggulku terangkat. CROOTT... CROOTT... CROOTT... CROOTT... "Ahhhhh... ahhh... ahhh... ahhhh..." aku mengerang sambil mengeluarkan semua isi perut jago. Aku nggak tahu berapa kali muncratnya, karena sangat banyak. Terlalu nikmat sensasi yang diberikan Lia. Ini blowjob terbaik yang pernah kurasakan. Lia menampung semua isi perut jago di mulutnya... dan menelannya. Tidak ada yang tumpah walau setetes. Dan lebih gilanya, dia melakukan semua itu sambil menatap mataku. Gila! Aku sampai mengejang beberapa kali. Dan di malam yang dingin ini, keringatku mengalir deras. Setelah tak ada lagi yang keluar dari mulut jago, dilepaskannya kulumannya. Lia duduk sambil menatapku, bibirnya terlihat basah. Lalu Lia menindihku dan menciumku dengan nafsu. Aku yang masih diselimuti sisa nikmat orgasmeku gelagapan menerima ciuman Lia. Dia menciumku sangat dalam menggunakan lidahnya. Setelah itu dilepaskannya ciuman dan dia menatapku. "Gimana, enak nggak kulumanku...?" kata Lia sambil menatapku menggoda. "Nggak bisa kuungkapin nikmatnya ya'..." kataku sambil menarik napas yang masih memburu. "Enak mana sama kuluman Kak Amel..." ucapnya sambil menatapku. Kali ini bukan tatapan menggoda. DUUUAAARRRR! Seperti suara petir yang menyambar pohon cabe sampai luluh lantak. Aku kaget Lia mengatakan barusan. "Haaaa... ka... kamu tau dari mana kalau aku sudah main sama..." ucapku terbata-bata. Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Lia menyiumku lagi dengan nafsu. Aku yang masih syok dengan ucapan barusan pasrah saja tanpa membalas ciumannya. Dilepaskannya lagi ciuman itu. "Malam itu aku tidur di kamarku... dan dengar semua jeritanmu dan Kak Amel. Aku sebenarnya mau marah dan menggedor kamar Kak Amel... tapi siapa aku? Aku bukan siapa-siapa kamu. Jadi nggak mungkin aku melakukan itu semua." "Aku nggak bisa tidur malam itu. Aku tahu apa yang kamu lakukan terhadap Kak Amel. Aku pun tahu kamu keluar subuh-subuh. Aku mau menegur, tapi kudengar kamu ngobrol dengan Mbak Mery... jadi kuurungkan niatku keluar kamar..." ucapnya datar sambil menatapku. Cuukkk... seketika itu semua nafsuku hilang. Aku bingung, malu, grogi, dan pasrah — seperti maling ayam yang ketangkap basah sama pemiliknya. Lidahku kaku dan badanku lemas. Aku cuma memejamkan mata sebentar. "Jadi sudah ini mainnya... kamu sudah puas dan mau tidur..." kata Lia dengan agak berat. Cuukkk... aku jadi serba salah, nggak tahu mau berbuat apa. Badanku rasanya masih kaku. "Ya udah deh... kita tidur aja kalau gitu..." ucap Lia yang agak kecewa sambil merebahkan diri di sampingku. Dan dia tidur memunggungiku. *("Assu kamu, Bang! Kenapa diam aja...!" kata jago yang lemas.)* ("Terus aku gimana, Go? Aku masih bingung harus ngapain...") *("Tarik badannya, Bang! Buat dia terlentang! Tatap matanya! Cium bibirnya! Rayu-rayu sedikitlah sambil meremas-remas nenennya. Aku yakin dia menginginkan apa yang kita lakukan sama sisemok waktu di kosnya..." kata jago.)* *("Kamu ngomong kayak mampu aja ngelanjutin. Kamu loh, udah KO kena mulutnya...")* *("Biadab kamu, Bang! Kamu kira aku nggak sanggup? Kamu meremehkan aku kah? Ternyata sama aja kamu sama pembaca di forum ini yang sering menghinaku. Jago ini, Bang! Jago... bukan burung pipit. Besar, kuat, dan tahan lama!" ucap jago.)* *("Ayolah, Bang, kalau beberapa ronde aja aku bisa! Kita balas kenikmatan yang dia berikan tadi kepadaku, Bang! Belum pernah kurasakan kenikmatan senikmat tadi, Bang. Pantang bagi kita tidak membalasnya..." lanjut jago.)* *("Mulutnya aja nikmat banget... apalagi betinanya, Bang. Pasti luar biasa... Ayolah, Bang, plisss...!")* Aku raih pundak Lia, kukangkangkan dia, kutindih. Lalu kutatap matanya. CUUPPP... CUUPPP... CUUPPP... Aku menciumnya dengan nafsu yang mulai memuncak berkat semangat dari jago. Kumainkan lidahku di dalam mulutnya. "Enak aja kamu mau tidur. Aku belum puas ya'... kamu sudah bikin jagoku marah. Dia mau balas dendam..." ucapku sambil menatap matanya. Kulupakan sejenak kata-katanya tadi. Lia diam saja. Kulihat tatapannya biasa saja — tidak marah, tidak menolak. Lalu kujilat mulutnya ke samping sampai ke daun telinganya. Kumasukkan jilatanku ke dalam telinganya. Lia mulai merinding dan memegang kepalaku, agak mendorong supaya mengakhiri jilatanku. Aku nggak mau berhenti. Kurentangkan kedua tangannya, sambil terus menjilat telinganya turun ke leher. Dia menggelinjang ke kanan dan ke kiri. Kujilati terus leher bagian kanan, terus turun ke bawah dagu, lanjut ke leher bagian kiri. Kujilat naik sampai ke telinganya, kujilat dalam telinganya. Dia meronta ke kanan dan ke kiri. Kutekan dengan pipiku, dan kujilat lagi sampai ke pipinya dan mencium bibirnya. Kulepaskan ciuman itu dan kulihat napas Lia sudah memburu. Dan aku masih jongkok di selangkangannya bertumpu pada kedua lututku. Kumasukkan kedua tangan ke balik kaosnya, masuk ke dalam branya dan meremas dengan lembut buah dadanya. Lia menggelinjang kegelian. Aku terus melakukannya sambil menatap matanya yang menikmati remasanku. Kumainkan kedua ujung putingnya sambil meremas buah dadanya. Sambil meremas dadanya, kudekatkan wajahku ke wajah Lia. Diraihnya wajahku, dan ketika Lia memajukan bibirnya, kumundurkan kepalaku. Aku cuma tersenyum, sedangkan Lia langsung menggelembungkan pipinya. Kulepas remasanku di dadanya. "Aku lepas ya..." ucapku meminta persetujuan sambil memegang ujung kaosnya. Lia diam tak menjawab. Kuanggap Lia setuju dengan diamnya. Kutarik ke atas dan meloloskannya dari kedua tangannya. "Siapa kasih ijin, kok langsung main buka aja..." kata Lia menatapku sambil menutupi kedua buah dadanya yang masih tertutup bra. Aku langsung mencium bibirnya dan memasukkan lidahku ke dalamnya. Lidahku bermain di dalam rongga mulutnya, atas dan bawah. Lia membalasnya sambil mengisap lidahku. Aku merangkulnya dan mencari pengait bra di belakangnya. Kubuka... dan kutarik perlahan membuka branya. Kulepas ciumanku dan menatap buah dadanya yang indah. Cuukkk... sekali lagi aku melihatnya lebih dekat setelah tadi sempat terpotong kedatangan Mas Dannis. Putih bersih dan putingnya berwarna kemerahan. Ketika Lia mau menutupnya dengan kedua tangan, aku langsung menggenggam tangannya dan kurentangkan ke samping kepalanya. Ketiaknya terpampang jelas, putih dan bersih. Kucium ketiaknya, dan kujilat bergantian kanan dan kiri. Kulihat wajah Lia memerah. Rupanya di situ letak kelemahannya. Kujilat lagi ketiaknya, dia mengerang sambil menoleh ke kanan dan ke kiri menahan nikmat. Setelah puas dengan ketiaknya, kulepaskan cengkeramanku di tangan Lia. Aku langsung menangkap kedua buah dadanya. Kuremas perlahan, lalu kukecup putingnya yang kemerahan, kujilat dan kuhisap. Lia menegang. Diegangi kepala belakangku sambil menjambak rambutku. Buah dadanya sudah mengeras dan putingnya menegang. Aku hisap lagi. Aku hisap puting kirinya, sedangkan tangan kiriku meremas dan memilin puting kanannya. Tangan kananku merambat pelan ke bawah, menyusuri perutnya yang langsing. Kuraba perlahan di pusarnya. Perutnya naik turun menandakan dia sudah tak kuat lagi. Tangan kananku selanjutnya turun menyusuri bagian bawah perutnya, melewati celah celana dalamnya. Basah sekali! Kucari belahan memeknya, dan ketika tanganku mau masuk ke dalam belahan memeknya... "Jangan dimasukin tanganmu... aku nggak suka kalau tanganmu masuk ke dalam. Pakai jagomu aja kalau mau masukin..." kata Lia sambil menatapku sayu. Tanganku lalu kutarik ke atas. Aku menuruti saja kemauan Lia. Aku hanya bermain di bibir memeknya, kunaikkan dan kuturunkan. Lia menggelinjang sambil menjambak rambutku. Ditariknya kepalaku dan diciumnya bibirku. Kedua tanganku nggak mau diam. Sambil berciuman, kulepas kancing celananya dan kuturunkan celana panjang dan celana dalamnya bersamaan. Lia mengangkat sedikit pinggulnya supaya aku mudah menurunkan celananya. Setelah agak turun, kunaikkan kakinya, lalu kuhentak ke bawah celananya sampai ke mata kakinya. Kuangkat kepalaku, kupandangi lagi Lia. "Jahat kamu, Pur... buka celanaku juga tanpa permisi..." ucap Lia sambil menarik napas. Aku diam dan menunduk ke bawah. Kutarik celananya yang masih menyangkut di bawah mata kakinya, kuletakkan di samping celanaku. Kuangkat kaki Lia sampai tertekuk, kubuka selangkangannya. Bersih tanpa rambut, terlihat masih rapat. Aku agak ragu mau memegangnya lagi. Kutatap wajah Lia, dan Lia pun mengangguk. Setelah mendapat persetujuan, kubuka belahan memeknya. Pink kemerah-merahan warnanya. Kujilat perlahan dari bawah memeknya sampai ke atas. Lia menjambak rambutku lagi. Kumainkan lidahku sampai ke dalam memeknya, lalu kujilat ke atas sampai menemukan klitorisnya. Kumainkan lidah di situ. Lia semakin mengelinjang. Tangan kiriku naik ke atas meraih buah dadanya dan meremasnya berlahan — kencang dan keras buah dadanya — sedangkan tangan kananku meraba perutnya dan mengelusnya. Lagi-lagi Lia mengejang. Kuturunkan tangan kiriku dan kumainkan di perutnya, kadang naik meremas buah dadanya bergantian, sedangkan tangan kananku turun ke belahan memeknya, lalu bermain dengan klitorisnya. Aku tidak berani menusuknya lagi dengan jariku. Basah sekali memek Lia. Tiba-tiba memeknya berkedut, tanda ada sesuatu akan keluar. Aku mengocoknya tambah cepat. Kulepas jilatanku. Lia mengerang sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, dan... Sreeet... sreett... sreettt... ah... ah... ah... ah... ah... Lia squirt! Keluar banyak sekali dan deras. Badannya melengkung ke atas. Sreeet... sreett... sreettt... ah... ah... ah... ah... ah... Banyak sekali yang keluar, sampai membasahi lantai kosku. Untungnya aku main di lantai, hanya kepalanya yang di kasur. Lia terus mengejang, mengeluarkan sisa-sisa squirtnya. Kulihat wajahnya merah sekali, butiran-butiran keringat membasahi seluruh tubuhnya. Akhirnya Lia menurunkan pinggulnya. Dia menatap ke atas langit-langit kosku, menikmati sekali permainanku. Napasnya naik turun mengatur irama. Setelah itu dia menatapku sayu. Aku langsung menindihnya dan mengecup pelan bibirnya. "Gila... begini toh rasanya permainan lidah dan tanganmu... ini belum jagomu yang main. Nikmat sekali, Pur... makanya Kak Amel kok sampai mengerang gitu waktu malam itu..." kata Lia sambil menatapku. Kukecup bibirnya. "Plisss ya, jangan bahas Mbak Amel ya... jangan bikin suasana kita berdua jadi nggak enak..." ucapku ke Lia. Lia cuma tersenyum. Aku lalu merebahkan diri di sampingnya. Kubiarkan Lia istirahat sejenak. Aku memiringkan tubuhku ke arah Lia dan merangkulnya dari samping. Tanganku kuletakkan di atas payu daranya yang mulai agak lembut, tak sekeras tadi. Kuremas perlahan sambil menatap matanya. "Sudah jam 04.30, Pur... kita main lagi ya. Takut ntar penghunimu pada bangun lagi kalau kita kelamaan mainnya..." kata Lia sambil meremas lembut jago. Dan jago mulai bangkit dan mengeras. Dikocoknya pelan dan teratur. Aku balas dengan remasan dan mengecup putingnya, lalu berpindah ke bibirnya. Aku menindih tubuh Lia yang terlentang. Aku memegang jago lalu menggesek bibir memek Lia sampai jago keras sekeras-kerasnya. "Beneran kamu mau aku masuk ya..." ucapku sambil menatap mata Lia. "Iya, aku mau..." ucapnya mengangguk. Aku berhenti sejenak untuk memastikan apakah Lia sudah pernah melakukan ini atau belum. "Kamu sudah pernah ya'? Kalau kamu belum pernah, mending kita berhenti ya. Aku nggak mau ngambil milikmu yang paling berharga..." kataku. "Sudah, Pur... aku sudah pernah. Jadi pelan-pelan ya... aku mau menikmati ini walau aku tahu ini pasti sakit. Karena aku sudah lama sekali nggak main..." kata Lia. Aku lega mendengar jawaban Lia. Aku nggak mau mengambil perawan seorang wanita untuk kedua kalinya — cukup dengan pacarku yang dulu. Aku arahkan jago ke bagian tengah memek Lia yang sudah basah sekali. Kutekan berlahan sampai kepala jago mulai masuk. Lia lalu mengernyitkan dahinya, sepertinya menahan sakit. "Ya'... sakit ya..." ucapku menatap matanya yang mulai agak berair. "Aaahhhh... besar sekali punyamu, Pur... pelan-pelan aja ya..." kata Lia. Kukecup lembut bibirnya, Lia membalasnya, lalu kakinya melingkar di belakangku, mendorong supaya masuk lebih dalam lagi. Tapi aku menahannya. "Ahhhhh... sempit sekali ya'... udahan aja ya. Aku takut kamu nanti malah sakit, ya'..." ucapku sambil menatap mata Lia yang makin berair, dan aku menahan jago supaya tidak masuk lebih dalam lagi. "Lanjutin, Purrr... memekku mungkin perlu adaptasi aja dengan jagomu yang besar ini... hehehe..." ucap Lia sambil tersenyum. "Iya, udah aku tekan lebih dalam lagi ya. Kalau sakit, tolong ngomong biar kita akhiri aja..." ucapku. Lia pun mengangguk. Aku lalu mengecup perlahan bibirnya sambil meremas buah dadanya. Kulanjutkan dengan mengangkat tangannya, kujilat ketiaknya supaya dia terangsang. Wajah Lia memerah, napasnya naik turun. Aku berpindah ke putingnya, lalu kujilat dan kuremas buah dadanya. Lia meremas rambutku. Lalu kudorong perlahan — kudorong jago masuk ke dalam. Sempit sekali di dalam sini! Aku merasa jago menabrak sesuatu. Ini sepertinya selaput perawan. Cuukkk... apa dia masih perawan...? "Kamu masih perawan ya'?" ucapku kaget. Kulihat air mata Lia mengalir menahan sakit. Aku lalu mencabut jago dari memek Lia. "Kenapa dicabut, Pur...?" kata Lia memandangku heran. Aku langsung duduk bersimpuh di depannya. "Kenapa kamu tadi bohong ya'... kamu bilang sudah pernah main...?" ucapku. "Aku cuma mau kasih ke orang yang tepat, Pur... dan kamu lah yang menurutku tepat untuk mendapatkan ini..." kata Lia sambil meneteskan air mata. "Cuukkk... aku memang bajingan ya'... tapi aku nggak mau merusak dan mengambil sesuatu yang sangat berharga milikmu..." ucapku pelan tapi dengan penekanan yang keras. Aku lalu mengambil rokok di meja, membakar dan menghisapnya. Aku menyandarkan punggung ke dinding. Lia pun bangun dari tidurnya lalu memandangku. "Maaf, Pur... bukan maksudku membohongimu tadi. Sekali lagi kukatakan, ini kulakukan karena kamu pantas mendapatkannya..." kata Lia sambil menunduk dan menangis. "Pantas...? Kamu menilai aku dari mana sampai bisa bilang aku pantas mendapatkan perawanmu...?" kataku pelan. "Apa karena tadi pagi aku berkelahi karena kamu...?" "Atau karena aku sering perhatian sama kamu...?" "Nonsen semua itu, ya'..." kataku, kubuat selembut mungkin sambil menatap matanya. "Kamu sahabatku, ya'... jadi jangan pernah ada perhitungan denganku. Aku ikhlas dengan semua itu, dan itu juga kulakukan karena aku pernah berjanji menjaga kamu..." kataku lalu menghisap rokokku dalam-dalam. "Tapi aku juga ikhlas, San... bukan karena apa yang barusan kamu bilang. Ada hal yang nggak bisa aku omongin... tapi yang jelas, apa yang mau aku lakukan sama kamu telah kupikir matang-matang..." lagi-lagi dia memanggilku San, dan kali ini dia menunduk. "Kamu ikhlas nggak ikhlas itu bukan urusanku..." "Maaf ya' kalau tadi aku lancang sampai berbuat jauh begini sama kamu. Harusnya ini bisa dicegah dari tadi..." kataku sambil melihatnya berurai air mata. "Kenapa kamu nggak mau melakukannya sama aku, San...?" "Kan sudah kukasih tahu tadi. Aku nggak mau merusak dan mengambil perawanmu. Titik..." kataku. "Tapi kenapa kamu mau melakukannya dengan Kak Amel...?" "Jangan pernah melibatkan orang lain untuk pembenaranmu, ya'..." "Oke... sekarang beri aku satu alasan supaya aku nggak bertanya lagi. Kenapa kamu nggak mau melakukannya sama aku...?" "Yang berhak mengambil perawanmu adalah orang yang kelak sudah menjadi suamimu. Bukan pacar, teman, tunangan, atau calon suami... tapi yang sudah menjadi suamimu yang sah..." ucapku tegas sambil menatap matanya. Tiba-tiba... BUHHGGG! Lia menabrakku dan memelukku sambil menangis. Dan masih dalam kondisi telanjang bulat, dia merangkulku. Tapi untuk saat ini aku nggak pengen lagi mencumbunya. Dia menangis sesenggukan di dadaku. Aku membalas pelukannya dan membelai rambut belakangnya. Kami sama-sama diam dan tidak saling bersuara. Hanya tangisannya saja yang terdengar di dadaku. Aku membiarkan dia menangis meluapkan emosinya. Cukup lama kami di posisi seperti ini. "Maaf ya, Pur..." setelah menangis beberapa saat, akhirnya dia membuka suara. "Aku juga minta maaf ya'... aku sudah berani menelanjangi kamu dan berbuat sejauh ini. Sekarang kita pakai pakaian, yo... terus kita tidur..." kataku. "Bisa nggak kalau kita tidur begini aja... aku janji nggak akan melakukan apa-apa sama kamu... plisss..." kata Lia. "Kamunya sih nggak melakukan apa-apa, ya'... tapi aku...? Ntar kalau aku khilaf gimana...?" ucapku bercanda. "Aku percaya sama kamu, Pur. Kalau mau, ya ambil aja..." kata Lia. Dan kali ini dia sudah bisa tersenyum. "Cuukkk... kamu ya, ya'..." kataku. "Hehehe... ayo tidur, Pur..." Dia merebahkan diri di kasur dan menarik tanganku supaya tidur di sampingnya. Tapi aku langsung berdiri. "Mau ke mana..." Lia menahan tanganku. "Ntar aku bersihin lantai dulu. Nggak enak basah-basah gitu, ntar bau pesing lagi kalau terlambat dibersihin..." Dan aku mengambil air di botol, menuangkannya ke lantai sedikit, memberinya sabun lalu mengepelnya. Setelah itu kukembalikan parfum ke kamarku. Aku memandang Lia yang tiduran menatapku, lalu kudatangi dia. Kuambil selimut dan merebahkan diri di sampingnya. Lia merangkulku. Kami tiduran dengan kondisi telanjang bulat, dan kututupi dengan selimut. *("Assuuu... terus nasibku gimana ini, Bang...?" ucap Ajo kebingungan. Seperti sekumpulan monyet berebut pisang... tapi cuma dia aja yang nggak dapat. Hahaha...)* ("Tidurlah, Go. Mau apa lagi...?") *("Taik kamu, Bang! Aku lagi semangat-semangatnya malah kamu tolak betina itu. Assuu...")* ("Loh, kamu kan tadi sudah sempat keluar sekali, Go...") *("Bajingan kamu, Bang! Senang kamu ya kalau aku dibully sama orang yang baca cerita ini...")* *("Kita mengalah untuk menang, Go. Pasti yang baca juga senang karena kita nggak merusak anak orang...")* *("Nggak merusak matamu, Bang! Kamu sudah menelanjangi dia, bilang nggak merusak...")* *("Jadi maumu gimana? Kita selesaikan di kamar mandi kah...?")* *("Bangsat! Itu aja yang kamu keluarkan kalau sudah nggak ada kata-kata lagi...")* ("Kamu berisik sekali lagi... kita ke kamar mandi...") *("Assuu... assuu... sudahlah, Bang. Capek berdebat sama kamu. Mending aku tidur...")* ("Ya begitu lebih baik, Go...") ("Assuuu...") "Makasih ya, Pur... makasih banget. Kamu sudah menjaga kehormatanku..." ucapnya sambil kepalanya ditempelkan di dadaku. Dadanya yang kenyal menempel di dadaku. Kurangkul kepala Lia dan kubelai rambutnya. "Terus terang, baru kali ini aku dekat dengan seorang laki-laki yang memperlakukan aku dengan lembut ketika berdua seperti ini. Aku merasa seperti wanita yang disayangi..." ucap Lia sambil memelukku erat. Dia memandangku dan mengecup pelan bibirku. "Biasanya kalau berduaan sama dia... bawaannya pengen nidurin aku aja. Aku sih melayani sebatas ciuman dan dia meremas dari luar buah dadaku. Dia pernah maksa mengajak aku masuk ke kosnya... tapi kutolak. Dan dia juga pernah maksa aku masuk ke kamarnya. Kamarnya aja kutolak, apalagi masuk kamarku..." ucapnya. "Kalau bukan karena almarhum ayahku yang terjebak hutang oleh ayah Kak Bowo... nggak mungkin aku mau jadi pacarnya..." lanjutnya. "Tapi aku sudah lega putus dengan Kak Bowo. Aku tidak pernah menikmati pacaran dengannya. Aku tidak pernah merasakan dijadikan wanita seutuhnya..." ucapnya sambil meneteskan air mata. "Dia sering marah-marah sama aku... apalagi kalau aku tolak waktu dia ngajak tidur. Wehh... mengamuk dia! Dan cemburunya sangat besar. Setiap aku kenal sama laki-laki lain, dia pasti marah. Sebenarnya sama kamu dia cemburu juga... tapi ya begitulah. Puncaknya waktu aku kasih kamu bunga di malam akrab ospek kampus. Dia marah tapi nggak berani datangi kamu. Akhirnya tadi siang kami bertemu di kosanku dan aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami... walaupun dia nggak terima keputusanku. Aku sudah muak dengan sikap cemburunya yang besar dan sering memaksaku..." ucap Lia yang emosi. Aku mendengarkannya sambil terus membelai rambutnya. "Maaf ya, Pur... kalau tadi aku sudah merayumu untuk tidur denganku. Yang penting kamu jangan berubah... dan aku nggak akan minta lebih. Dekat aja aku sudah senang kok sama kamu. Aku nyaman kalau dekat sama kamu. Aku merasa ada yang melindungi aku. Jadi setelah ini bersikap wajar aja... anggap aja aku seperti biasa. Sahabat yang cerewet dan menjengkelkan... hehehe... dan jangan meninggalkan aku..." ucap Lia sambil tersenyum dipaksakan. "Aku janji akan menjaga kamu, ya'. Bukan karena kejadian malam ini... kemarin-kemarin kan aku sudah bilang sebelumnya, kalau aku janji menjagain kamu..." kataku menenangkannya. "Aku sayang kamu, Pur. Untuk saat ini sayangku hanya sebagai sahabat, tidak lebih... tapi nggak tahu kedepannya... kita hanya bisa jalani aja..." ucapnya sambil mengecup dadaku. Sayangnya sebagai sahabat atau lebih sih sebenarnya Lia ini... tapi kenapa dia nggak mau jujur? Cuukkk... ngarep betul sih aku ini. Harusnya kan aku yang ngomong duluan. Mana mungkin cewek mau mengucapkan duluan. Assuu... tapi biarlah, kujalani aja dulu... "Aku juga sayang kamu, ya'..." ucapku. Cuukkk... kenapa aku gampang sekali menyayangi seorang wanita ya...? Apa ini keluar dari hati yang terdalam... atau karena aku habis tidur bareng...? Aku nggak tahu... Yang jelas, kami saling menyayangi tanpa ada ikatan. 'Hanya sebuah persahabatan' — itu sih kata-kata Lia tadi. Tapi bagiku...? Nggak tahu lah. Mumet aku mikirnya, mending aku jalani aja... Aku merangkulnya dan mengecup rambutnya dan membelainya. Kudengar Lia sudah tidak bersuara, hanya suara dengkuran halus keluar dari bibirnya. Dia lelah sekali kelihatannya. Kulihat sudah jam 05.45. Aku memejamkan mata... untuk beristirahat bersama wanita cantik di sampingku ini... #cuukk aku jalani aja... mengalir seperti air...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 19
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal