EPISODE 21
BAGIAN 21
WELCOME TIGI
TOKK..TOKK..TOKK..
"Anak baru bangun.. ada paketanmu di luar.."
TOKK..TOKK..TOKK..
"Bangun woi.. tumben pintumu dikunci.."
TOKK..TOKK..TOKK..
Aku terhempas dari alam mimpiku oleh ketukan yang keras itu. Di sampingku, Lia tidak lagi pulas di dadaku — dia sudah bergeser ke atas bantal, menghadapku dengan dengkuran halus yang justru terdengar cantik. Wajahnya tampak lelah, lelah yang manis, bekas perjuangan semalam. Dia bahkan tidak sedikit pun terganggu oleh ketukan itu.
TOKK..TOKK..TOKK..
"Iya.. bentar.." jawabku. Cusss.. benar sekali, itu suara mbak Mery.
Aku bangkit berdiri, merapikan selimut supaya menutupi tubuh telanjang Lia yang pulas itu, lalu mencari celana pendek. Berjalanlah aku ke pintu tanpa mengenakan kaos, membukanya sedikit saja — cuma kepala yang kupajang. Takut mbaknya masuk dan melihat Lia tidur polos di kasurku. Bisa panjang urusan kalau sampai terlihat.
"Eh.. mbak Mery.." Cusss.. benar lagi mbak Mery. Seperti memang ditakdirkan untuk memergoki aku yang habis berbulan madu ala kemiskinan.
"Kok lama banget sih buka pintunya.." ujar mbak Mery dengan tatapan misteriusnya yang khas.
"Nggak apa-apa mbak.. aku ngantuk, kepala juga pusing. Habis minum kemarin sama Mas Rendi di depan kampus.." jawabku beralasan.
"Oooo.. kenapa cuma kepalamu aja yang muncul.." tanya mbak Mery, kali ini matanya menyelidik, melirik-lirik ke dalam kamar yang hanya terbuka secukupnya.
"Gak pa-pa mbak.. aku lagi tenjang.."
"Oooo.. kuhkirain habis enak-enakan di dalam.. sampai kelamaan buka pintunya hihihi.." mbak Mery menyeringai.
"Apaan sih mbak ah.. mau lihat aku telanjang..?" candaku.
"Mana lihat.." tantang mbak Mery malah.
Cussss.. semangat betul mbak yang satu ini.
"Hiihiihii.." dia tertawa puas.
"Itu ada tukang pos di depan nungguin kamu. Ada paketan katanya.." ujarnya.
"Oke makasih ya mbak.."
Aku langsung menutup pintu, masuk mencari kaos, takut mbak Mery menyelinap masuk. Begitu keluar lagi, kulihat dia melangkah ke dapur, lalu berteriak ke arahku.
"Anak baru.. kasih tahu Lia dari semalam dicariin Amel, kok gak kasih kabar kalau nginap di luar? Ditelepon juga HP-nya gak aktif.." teriak mbak Mery.
"Kok aku yang kasih tahu mbak..?" jawabku sambil menoleh ke arah dapur.
"Ya iyalah kamu yang kasih tahu. Mau siapa lagi..?"
"Iya udah.. ntar coba aku teleponin Lia-nya mbak.."
"Kenapa ditelepon? Emang gak bisa dibisikin aja ya? Kasihan.. kelihatannya Lia kecapekan.. hahahaha.." Cusss!! Dari mana dia tahu Lia tidur di kamarku? Padahal tadi pintunya cuma kubuka secuil! Aku langsung menyambarnya ke dapur, takut omongannya makin nyaring dan ngelantur. Bisa habis kubully sama seluruh penghuni kos.
"Ssstttt.. berisik mbak loh ini.." ucapku sambil menempelkan telunjuk ke mulut.
"Hahahaha.. dasar bajingan lendir.. hahaha.." teriak mbak Mery tanpa rasa malu sedikit pun.
"Siapa yang bajingan lendir.." teriak Mas Rendi dari dalam kamarnya.
Cussss!! Benar aja ngelanturnya. Kedengeran lagi sama Mas Rendi. Asssuuu...
Kulirik mbak Mery dengan tatapan memohon, supaya dia menutup mulutnya yang tidak bisa diatur itu.
"Sandi beb.. dia lagi bawa Lia tidur di kamarnya.. hahahaha.." teriak mbak Mery dengan cueknya, entah hormat entah apa.
Cussss!! Jujur banget sih kamu, mbak! Untung kamu pacarnya Mas Rendi. Kalau bukan, sudah kuperkosa kamu di dapur.
"Ayo bang.. sekali-kali kita main kasar. Enak kelihatannya bang.. apalagi semalam gak jadi dapat betina aku bang.." ucap Jago dari balik kolor.
"Cussss.. diam kamu.." kepalanya kutampar.
"Asssuuu.. kasar banget sih kamu bang.."
"Ngomong sekali lagi, kuselesaikan kamu di kamar mandi. Tangan gatal ini nih.."
"No comment bang.." Jago langsung mengecil diam-diam balik ke dalam kolor.
"Asssu memang Sandi itu.. sudah jadi pujangga bajingan, jadi bajingan lendir pula.. hahahaha.." Mas Rendi tertawa dari kamarnya, dan mbak Mery menyambut dengan tawa dari arah dapur.
Dua orang ini emang cocok banget kalau ngolok. Aku balikkan badan, males dengerin mereka. Lebih baik aku pura-pura gila.
Aku melangkah keluar pintu kos. Petugas kantor pos sudah menungguku di sana.
"Mas Sandi Purnama Irawan ya.." sapanya.
"Iya pak. Ada paketan apa ya pak..?"
"Itu sepeda motor Tiger dari pulau seberang. Tapi masih di depan mas, di atas truk. Truknya gak bisa masuk gang.. hehehe.."
"Sepeda motor.. Asyiikkk!! Ayo mas ke depan!"
Hatiku langsung melayang. Omongan mbak Mery tadi kuparkir jauh di otak. Sekarang yang penting cuma satu: Tigi-ku sudah datang! Motorku diturunkan dari truk, kucek satu per satu kelengkapannya, kupastikan tak ada lecet atau kerusakan selama pengiriman. Aman. Mulus.
"Ketemu lagi kita, Tigi.. hahahaha.." kuelus tangkai motorku itu seperti peliharaan.
"Mas, bensin sama olinya dikuras loh waktu pengiriman. Jadi jangan lupa diisi. Ini kuncinya, dan ini STNK-nya.." kata petugas itu.
"Siap.. terima kasih mas.." Aku merogoh kantong celana pendek. Masih ada selembar lima puluh ribu. Kutawarkan kepadanya.
"Ini mas, uang rokok.."
"Alah mas.. mas.. repot segala. Suwon yo.." Dia menyambut uangku sambil cengar-cengir, lalu berjalan kembali ke truknya.
Kudorong Tigi-ku masuk ke gang kos. Begitu pintu kosku terbuka — ternyata Alan, Mas Rendi, Bang Toni, Mas Adam, dan Mas Arief sudah berkumpul.
"Weeeeyyy!! Motor baru Sandi!! Sandi punya motor baru!!" teriak Mas Rendi.
"Wuuuuu.. sangar Tiger cooookk!!" sahut Alan.
"Ayo di-test, San.." kata Mas Adam.
"Aku duluan ya. Kan aku yang paling tua.." kata Mas Arief.
"Sabar mas. Aku belikan bensin sama oli dulu ya, soalnya dikosongkan waktu pengiriman. Lan, antar aku yo.." ucapku.
"Siap! Tapi belikan aku nasi pecel ya. Hitung-hitung selamatan motor baru.." ucap Alan.
"Akuu!!" teriak mbak Mery. Tapi suaranya kok dari kamarku?? Mati aku. Cusss.. cusss..
"Aku.. aku.. aku.. aku.." Semua penghuni kos berteriak meminta jatah nasi pecel dari kamar masing-masing.
"Kita juga loh ya, jangan lupa.." kata Mas Arief.
"Pake es teh, enak kelihatannya.." kata Mas Adam.
"Tambah rokok, jos iku Mas Adam.." sambung Mas Rendi.
"SEPAKAT!!" teriak Mas Adam.
Semua penghuni kos keluar berkumpul di ruang tengah dengan semangat juang 45.
"Wokey.. sabar. Aku cek kas negara dulu mas ya. Ke ATM dulu.." kataku.
"Emang bisa ngambil duit ke ATM.." teriak Lia dari dalam kamarku. Cussss! Nyahut aja anak ini!
"Asssuuuu.. suara siapa dari kamarmu San..?" kata Alan.
"Iyo'e, tadi perasaan cuma Mery aja di sana.." kata Mas Arief.
"Cukimai, ko San! Ko ajak tidur tuan putri di kamarmu kah semalam.." kata Bang Toni.
Aku cuma menunduk sambil garuk-garuk kepala.
"Asssuuu.."
"Jancoookk.."
"Cukimai.."
"Ngentot loe.."
"Pantat ayam.."
"Sempak bolong.."
Segala macam makian melayang deras ke arahku.
"Hahahaha.. kamu semua kalah start sama Sandi. Dia sudah ajak cewek bermalam di sini.. hahahaha.." kata Mas Adam.
"Iyo mas.. jancok Sandi ini.." kata Alan.
"Hahahahaha.." Semua tertawa lepas pagi-pagi buta begini.
Tiba-tiba terdengar pintu kos terbuka, ada yang masuk. Aku menoleh. Cussss.. Ini dia yang mukul aku waktu ospek sampai aku pingsan. Mas Pandu. Aku diam menatapnya. Tawa teman-teman langsung padam. Sunyi.
"Halo anak muda. Gimana kabar?" tanya Mas Pandu padaku.
"Baik mas.." jawabku datar. Dia melangkah ke arahku dan menjulurkan tangan.
"Pandu. Kamarku di atas itu.."
"Sandi, mas. Aku anak baru, mas.." tangannya kugenggam.
Tanganitu ditariknya, lalu kupeluknya erat. Kubalas pelukannya. Kami berpelukan lama sekali. Mas Pandu menepuk punggungku, lalu mengelus kepala belakangku. Kok aku merasa ada yang aneh ya.. bukannya aku hom-hom loh ya.. tapi seperti ada ikatan batin antara aku dan Mas Pandu. Sesuatu yang tak terjelaskan.
"Selamat datang di kos Pondok Merah.." ucapnya sambil melepas pelukan dan menatapku. Kulihat matanya agak berkaca-kaca. Ada apa dengan Mas Pandu? Kok sepertinya dia menyembunyikan sesuatu?
"Iya mas, terima kasih. Mohon bimbingannya mas.." kataku. Dirangkulnya aku, lalu diajak duduk bergabung dengan yang lain.
"Tumben, ini pagi-pagi sudah pada bangun.." kata Mas Pandu pada mereka.
"Mau acara selamatan mas. Itu, Sandi punya motor baru.." kata Mas Arief.
"Yo wes San, ndang diacarakno." (Ya udah San, segera diacarakan) kata Mas Pandu.
"Siap mas. Ayo Lan temani aku, aku ganti celana dulu ya.." kataku.
"Siap, meluncur!" Alan langsung melahap ke kamarnya.
Aku masuk ke kamar. Kulihat mbak Mery dan Lia mengobrol berdua. Mereka menoleh kepadaku sambil tersenyum. Cussss.. apalagi yang digosipkan dua wanita ini. Kulihat Lia memakai kaosku yang putih — agak kedodoran sih, tapi Lia tetap cantik pagi ini — dan celana pendekku. Rambutnya basah, seperti habis keramas.
"Loh Ya', kamu udah mandi.." ucapku.
"Sudahlah pur. Nungguin kamu sempat gatal-gatalan badanku hihihi.." jawab Lia.
"Emang kamu anak baru. Keluar kamar gak mandi dulu. Jorok! Mana habis enak-enakan lagi semalam.. hihihi.." cercos mbak Mery.
"Kak Mery ah.." Lia mencubit pelan lengan mbak Mery.
"Kenapa kamu de.. aku loh ngomong sama Sandi. Weee.. kok malah kamu yang jawab??" protes mbak Mery.
"Iyalah aku yang jawab. Kan tidurnya bareng aku semalam.. hap.." Lia langsung menutup mulutnya. Keceplosan.
"Hahahahaha.. katanya barusan datang, kok sekarang ngomong nginap? Deh Lia gitu ya.. hihihihi.." ledek mbak Mery.
"Sudah..sudah..sudah.. gak usah dibahas.." Lia menyerah, wajahnya memerah.
"Ciiieeeeyyyyyeee.. malu dia.. hahahaa.." kata mbak Mery.
"Apasih kalian dua ini. Berisik tau.." protesku.
"San cepet!! Lama banget, malah pacaran di dalam. Aku lapar ini.." teriak Alan dari luar.
"Iya ini, aku ambil dompet dulu.." Aku melapisi celana pendekku dengan celana panjang, lalu mengambil dompet.
"Aku jalan dulu ya Ya'. Mau beli bensin sama oli buat motorku, sekalian beli nasi pecel buat semuanya.." kataku.
"Loh.. kamu punya motor.." kata mereka berdua hampir bersamaan.
"Iya, baru datang itu. Lah emang kalian gak dengar ribut di luar? Giliran nasi pecel aja dengar. Itu motorku, baru dipaketin dari sana.." ucapku sambil memakai sepatu.
"Asyiikkk.. jalan-jalan ya ntar.." kata mbak Mery.
"Enak aja! Aku duluan dong, mbak yang nyobain.." sahut Lia.
"Ribut kalian berdua ini. Aku jalan dulu ya Ya'. Mbak, titip Lia sebentar.." kataku.
"Pake mobilku aja Lan. Kuparkir di halaman kampus ya, tempat biasa.." kata Mas Adam.
"Siap mas. Kami jalan dulu ya.."
Aku keluar ke ATM, memesan nasi dan es teh, lalu mampir ke bengkel dan toko membeli rokok untuk teman-teman. Pulangnya ke kos dengan tangan penuh bawaan. Di ruang tengah, teman-teman sedang kumpul makan pisang goreng, dan Lia dengan mbak Mery sibuk di dapur.
"Makanan datang.." teriak Alan.
"Kita pesta pagi ini.." kata Mas Wawan.
Kami semua berkumpul, tertawa bareng. Penghuni kos lengkap, tak ada yang kurang, termasuk Mas Bendu yang baru datang. Meja ditata, nasi pecel, es teh, dan rokok dibagi rata. Kami makan sambil mengobrol ringan. Lia duduk di sebelahku, mbak Mery di samping Mas Rendi. Suasana penuh kekeluargaan — saling bertanya perkembangan kuliah, persiapan TA Mas Pandu, Mas Arief, dan Mas Adam. Aku merasa bahagia bisa bergabung, merasakan hangatnya kebersamaan ini. Sekali lagi — jauh beda dengan omongan orang tentang garangnya kos ini.
Setelah makan, Lia dan mbak Mery membereskan meja, kubantu bersama Alan. Bang Toni dan Mas Rudi langsung memeriksa motorku. Yang lain asyik merokok dan bercanda.
BRUMMMM.. BRUUMMMM.. BRUUMMMM..
Bang Toni menyalakan motorku dan menarik gas dengan kencang.
"Asyikkk.. suara Tiger ini memang seksi ya.." kata Bang Toni.
"Tigi, Bang. Aku julukin motorku Tigi.. hehehe.." ucapku.
"Mantap Tigi-mu, San. Alus tapi sangar suaranya.." kata Mas Rudi.
Oh iya, aku lupa telepon ngabarin ibu kalau Tigi sudah sampai.
"Halo bu.."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam. Tumben pagi-pagi telpon, mas. Kenapa?"
"Nggak bu, mau ngasih tahu Tiginya sudah sampai."
"Oh ya udah. Dipake yang bener ya, jangan dipake buat macam-macam.."
"Siap bu.."
"Oh iya San, ini ayahmu mau ngomong.."
"Oh iya. Mana ayah, bu? Kangen aku.."
"Assalamualaikum mas.."
"Waalaikumsalam yah. Gimana kabar?" Kulihat Mas Pandu menatapku sambil tersenyum.
"Baik mas. Kamu gak pernah telpon ayah. Telpon ibumu aja.."
"Maaf ya, hehehe.."
"Gimana kuliah? Lancar aja?"
"Alhamdulillah lancar yah.."
"Ini lagi apa?"
"Lagi kumpul sama teman-teman yah. Barusan Sandi belikan makan buat teman-teman, buat selamatan Tigi.. hehehe.."
"Bagus itu. Jaga kesehatan ya mas.."
"Iya yah, ayah juga.." Kenapa tiba-tiba aku sedih ya..
"Om.. di sini ada pacarnya Sandi.." teriak mbak Mery.
"Apaan sih mbak.." protesku.
"Hahahaha.. hancur kamu San!" sahut teman-teman.
"Apa sih Kak Mery ini.." kata Lia, malu setengah mati.
"Weh, anak ayah sudah pacaran aja di sana, padahal baru sebulan ya di sana.. hahaha. Mana ayah mau ngomong sama dia.."
"Nggak ada yah.." kataku.
"Mana mas? Cepat kasihkan ya. Kalau gak, ayah gak kirim uang bulanan loh bulan depan.."
"Cuman teman yah.."
"Mana.. cepet.."
"Iya..iya.. yah. Lia.. ini ayahku mau ngomong.."
"Ciiiieeeeyyyyeee.. Lia ngomong sama camerr.. hahahahaha.." ledek mbak Mery.
Kulihat teman-temanku tertawa semua, termasuk Mas Pandu yang dari tadi sibuk menatapku.
"Halo om.."
"............"
"Waalaikumsalam om. Nama saya Lia, om.."
"............"
"Eh iya om.. eh.. iya yah.."
Cussss!! Sudah panggil ayah aja dia!
"Suit..suit.. suittttt.. AYAH!! Hahahahaha.." gedor mbak Mery.
"............"
"Iya yah, terima kasih. Waalaikumsalam.."
"............"
Begitu HP-nya mau kuambil, Lia menahannya.
"Waalaikumsalam tante.."
"............"
"Ehh.. maaf.. iya bu.."
Cussss!! Manggil ibu juga dia!!
"............"
"Iya bu, saya Lia. Saya satu jurusan, satu kelas sama Sandi, bu.."
"............"
"Iya bu.."
"............"
"Iya bu.."
"............"
"Iya bu, ntar saya sampaikan.."
"............"
"Iya bu, terima kasih. Waalaikumsalam.."
Lia menyerahkan HP-ku.
"Halo bu? Halo.. halo.."
"Yahhh.. ditutup Ya'.."
"Ya ditutuplah.. hehehe.." kata Lia.
"Kok langsung ditutup? Ayah sama ibu ngomong apa sih Ya'..?" tanyaku penasaran.
"Rahasia.." ucap Lia berbisik padaku.
"Kalau cuma ngomong rahasia, ngapain dibisikin ke aku Ya'? Oooooooo.."
"Hahahahaha.." semua temanku tertawa.
"Enak ya Ya', habis ngomong sama camerr.." goda Mas Pandu.
"Apaan sih Mas Pandu ini. Malu tau.." Lia tunduk, telinganya merah.
"Hahahahaha.." lagi-lagi semua tertawa bareng.
"Hahaha.. enak ya kos ini. Sudah ada ibu negaranya, Mery. Terus ada tuan putrinya, Lia. Yang lain mana? Masa kalah sama Sandi yang anak baru.." kata Mas Pandu.
"Ngehe loe San! Gara-gara loe disindir semua kita.." protes Mas Wawan.
"Derita mu, Mas Wawan.. hahahaha.." balas mbak Mery.
Setelah makan dan bersih-bersih, kami balik ke kamar masing-masing untuk istirahat. Mas Pandu juga naik ke kamarnya, kelihatannya dia capek.
Aku masuk ke kamar, diikuti Lia.
Sampai di kamar, Lia langsung menutup pintu dan menguncinya. Dia menubrukku dan langsung mengecup bibirku.
CUUPPPP.. CUUPPP.. CUUUPPP.. MUUAAHHH..
Kami saling bercium dalam posisi berdiri, saling menukar isapan lidah. Lia merangkulku erat sekali, tubuhnya menempel padaku, gemetar sedikit karena haus. Lalu dia melepas ciumannya dan menatapku dengan mata sayu yang menusuk.
"Gak pa-pakan kalau kita begini? Aku gak minta lebih kok pur.." kata Lia.
"Kucing kok dikasih ikan asin, ya pasti disambar lah.. hehehe.." ucapku bercanda.
"Dasar kamu pur. Kukira kamu gak mau lagi.." kata Lia.
"Hehehe.. ayo tidur yo.." ajakku.
"Tapi peluk ya.." katanya.
"Iya.. ayo.." Dan kami pun tidur berdua tanpa membuka pakaian seperti semalam.
Kami terbangun jam dua.
"Mandi dulu ya Ya'. Habis itu kuantar ke kos ya.." kataku.
"Yaaaa.. aku kan mau tidur sini lagi.." merajuk Lia.
"Jangan ya', gak enak sama mbak Amel. Semalam kamu gak ngabarin, lho. Pulang aja dulu. Ntar malam minggu baru tidur sini lagi ya.." rayuku sambil mencium bibirnya pelan.
"Iya deh.." Lia bangun, lalu masuk ke kamar mandi.
Aku mengambil teh kotak di meja dan meminumnya. Setelah itu kuraih rokok, kubakar, kuhisap perlahan menikmati asap yang masuk menembus tenggorokan. Aku duduk di depan komputer, main solitaire sambil mendengarkan musik. Tak lama, Lia keluar mandi dengan pakaiannya yang kemarin. Dia merangkulku dari belakang kursi. Harum sekali aroma tubuh Lia ini. Dia mencium pipiku dari samping.
"Mandi dulu pur. Bau kecut kamu.."
"Biar kecut, kamu juga nyosor.." ucapku santai.
"Hehehehe.. baumu ngangenin sih.. hihihi.." goda Lia.
Aku berdiri dan masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, kulihat kamar sudah dirapikan Lia. Aku ganti pakaian, lalu mengantar Lia ke kosnya naik Tigi. Lia orang pertama yang aku gonceng dengan Tigiku.
BRUMMMM.. BRUUMMMM.. BRUUMMMM..
"Masukin dulu motormu pur.." kata Lia yang sudah turun dari motorku.
"Gak usah, di sini aja. Tinggal kunci stang.." ucapku, lalu turun mengikuti Lia masuk ke dalam kosnya. Sepi juga ya kosnya.. mungkin karena masih jam setengah empat, jadi gak ada yang ngapel.
Aku masuk, ngobrol dengan Lia sebentar di kamarnya, lalu pamit pulang. Lia menarik tanganku dan mencium bibirku. Kubalas ciumannya. Dipeluknya aku erat, seperti gak ikhlas aku pulang.
"Udah ya Ya', aku pulang dulu.." kukecup sekali bibirnya.
"Iya.. hati-hati ya.." kata Lia. Aku keluar kamar dan Lia mengantarku sampai depan.
"Loh..... mana Tigi-ku ya'???"
Aku kaget dan syok melihat depan pagar kos Lia kosong melompong. Tigi tidak ada.
"Loh tadi kan di sini pur.. aduhhh.. kamu kan sudah kubilang suruh masukin.." Lia panik.
Cusss!! Belum satu hari motorku pakai, sekarang Tigi hilang entah ke mana! Aku mencari di sekitar kos Lia, berlari ke sana kemari.
"Cari apa mas.." tanya seseorang dari kos sebelah.
"Sepeda motor Tiger, mas. Warna hitam. Barusan aku parkir di sini.." ucapku panik.
"Loh, itu motor sampean ta? Barusan ada yang bawa ke arah sana.." kata orang itu sambil menunjuk arah depan kampus.
Cussss!! Berarti positif. Tigi dicuri orang!! Asssuuu!! Badanku langsung lemas seketika. Lututku bergetar seperti habis mengeluarkan sperma seminggu beruntun. Seperti tidak ada tenaga tersisa. Motor yang kusayangi, hilang entah ke mana.
"Ayo pur, kita cari ke depan. Aku keluarin motor dulu ya.." kata Lia yang masih panik.
"Gak usah ya'. Kamu masuk aja. Aku ke kos aja, biar aku cari sama teman-teman.." ucapku.
"Jangan gitu pur. Aku gak enak. Gara-gara antar aku, kamu kehilangan motor kesayanganmu. Maaf ya.. aku bantu cari ya, boleh kan.." Lia memelas, matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan ya'. Santai aja. Biar aku cari sama teman-teman kosku.." Aku mendekati Lia, kukecup keningnya biar dia tenang dan gak merasa bersalah.
"Kabari ya pur.." kata Lia.
"Iya.. santai aja kamu ya'.." ucapku, lalu berjalan ke arah kos.
Sambil berjalan, kuambil bungkus rokokku dari kantong. Cusss!! Habis pula rokokku. Bungkusnya kubuang ke bak sampah. Aku berjalan sambil memikirkan gimana cara ngomongnya sama ibu dan ayah. Masa belum ada sehari, Tiginya sudah hilang. Asssuuu..
Sebelum masuk gang, aku membeli teh kotak dan rokok. Kubakar rokokku, kuhisap perlahan, lalu kuminum teh kotak sambil melangkah masuk gang.
Sampai di kos, teman-teman berkumpul di ruang tengah.
"Halo Sandi dan teh kotaknya.. hehehe.." sapa Mas Wawan. Aku diam tak menjawab, wajahku kubuat sesantai mungkin, walaupun pikiranku kalut dan panik.
"Loh, mana Tigimu? Kok gak ada suaranya.." kata Alan.
"Hilang di kos Barbara, Lan.." jawabku, sedetangkup mungkin.
"Asssu!! Cukimai!! Bangsat!! Anj*ng!! Babi!! Jaran!! Geblek!!" Teman-temanku berdiri sambil memakiku sambil menatapku.
"Kok bisa hilang, San.." kata Mas Rendi.
"Gak tau mas. Namanya juga musibah.." kataku, kubuat seolah pasrah.
"Ko santai sekali, hilang Tigimu.." Bang Toni menatapku tajam.
"Santai gimana, Bang. Bingung aku ini. Gak tau harus gimana.." jawabku.
"Ini mungkin kelompoknya Cipeng yang ngambil.." kata Mas Rendi sambil melirik ke arah Mas Pandu.
"Ayo San, ikut aku.." Mas Pandu berdiri.
"Ke mana, mas.." tanyaku.
"Udah, ikut aja. Lan, pinjam motormu sebentar.." kata Mas Pandu santai.
"Siap mas. Kami ikut semua ya mas.." kata Alan.
"Gak usah. Kalian di sini aja semua. Ayo San.."
Mas Pandu memboncengku, membawaku entah ke daerah mana. Yang jelas agak jauh dari kos. Kami melintasi jalan raya, terus ke jalan kecil.. hutan.. terus jalan kampung. Kami masuk ke gang kecil dan berhenti di sebuah rumah — lebih tepatnya seperti markas. Halamannya sangat luas, ada tumpukan barang besar beralas terpal di situ. Di depan markas, banyak orang berkumpul yang sedang mabuk. Kami turun dari motor.
"Halo Singa Kampus!! Hahahaha! Apa kabar? Tumben mau main ke gubukmu. Ayo duduk sini, kita pesta bareng.." kata seorang yang duduk sambil memegang botol. Kemungkinan besar dialah ketuanya di sini.
"Peng, aku gak mau banyak omong. Ini adekku, namanya Sandi. Motor adekku baru hilang satu jam lalu, di belakang kampus, di kos Barbara. Sepeda motor Tiger warna hitam, platnya dari pulau seberang. Sekarang cari motor itu dan bawa motornya di depanku. Kukasih waktu sama kamu sampai rokokku habis. Kalau sampai rokokku habis dan motor itu belum ada, kuselesaikan kamu semua di sini.." kata Mas Pandu sambil membakar rokoknya.
"Santai, Cak. Jangan emosi. Ntar biar dicarikan sama anak-anak.." kata orang itu yang bernama Cipeng. Dia berdiri.
"Ada yang ngambil motor Tiger yang diomongin sama Cak Pandu kah? Coba cek dulu.." kata Cipeng kepada anak buahnya.
Beberapa anak buahnya membuka terpal besar itu. Begitu terbuka — cussss!! Banyak sekali motor yang diparkir di baliknya. Berbagai macam merek dari berbagai daerah ada di situ. Mungkin motor para mahasiswa yang dicuri — semua diparkir di sini. Aku melihat dari jauh, menatap satu per satu sepeda motor di sana, dan...
"Mas, itu Tigi.." ucapku pada Mas Pandu. Senang sekali hatiku melihat motor kesayanganku ketemu.
"Bawa motor itu ke Cak Pandu.." perintah Cipeng.
Seseorang menuntun Tigi ke arah kami. Mas Pandu masih asyik menghisap rokoknya.
"Itu, Cak, motornya. Maaf ya, anggotaku gak tau kalau itu motor adekmu.." kata orang itu.
"Siapa yang ngambil motornya? Maju ke depan, duel sama aku.." kata Mas Pandu.
Cussss!! Mas Pandu pake acara ngajak duel lagi. Huufftt.. tapi gak pa-pa, aku juga lagi jengkel. Enak banget orang yang nyuri, bikin aku sesak napas kepikiran Tigi. Kalau nanti ada yang bantu keroyok Mas Pandu, kuselesaikan orang itu sendiri.
Beberapa saat menunggu, tak ada yang berani maju.
"Kalau gak ada yang mau duel sama aku, duel sama adekku aja. Kalau tetap gak ada yang maju, kubakar tempat ini.." kata Mas Pandu.
Asyiikkk!! Ini yang kutunggu. Aku mau lihat siapa yang berani maju — berarti dialah yang ngambil Tigi. Cussss, gatel ini kakiku. Mau mancal orang!
Tiba-tiba majulah seorang yang mungkin seumuran denganku. Badannya lumayan besar. Aku sudah siap berduel. Dia berjalan ke arahku, tanpa banyak bicara, melonjak ke arahku sambil mengarahkan pukulan ke kepalaku.
BUUMMMMM....
Belum sempat pukulannya mendarat, telapak kakuku sudah bergerak lebih dulu — menghantam dadanya dengan keras. Orang itu terpental ke belakang dan langsung roboh, terkena tendanganku yang kulepaskan sekeras mungkin tepat di dadanya. Dia kejang-kejang sambil memegangi dadanya. Darah langsung memenuhi mulutnya. Orang-orang di sekitar cuma diam. Tak ada yang berani bergerak.
"Cukup dua kali ini aku ke sini. Kalau sampai tiga kali, kupatahkan lehermu satu-satu.." kata Mas Pandu sambil membuang puntung rokoknya.
"Ayo San, kita pulang.." kata Mas Pandu.
Aku menaiki Tigi. Pas kupasang kuncinya — ternyata dol. Cussss!! Bajingan!! Lubang kunci Tigi diperkosa dengan paksa sampai dol!! Kurang ajar mereka, berani-beraninya menyiksa Tigi! Aku turun dan mendatangi orang yang kutendang tadi. Dia sudah berdiri sambil memegangi mulutnya yang berdarah.
BUUHHHGGGG!!
Dia roboh untuk kedua kalinya. Tendanganku mendarat tepat di rahangnya, dan langsung tumbang. Kepalanya membentur tanah dengan keras.
"Kalau ada yang berani lagi ngambil dan nyiksa Tigiku, kupatahkan tulang-tulangnya.." ucapku sambil memandangi satu per satu orang yang ada di situ. Cussss.. aku sombong, berani nantang mereka semua — karena ada Mas Pandu di belakangku. Hehehehe..
"Ayo pulang, mas.." kataku ke Mas Pandu.
"Sadis kamu, San.." kata Mas Pandu sambil tersenyum tipis.
Aku mencoba menyeting Tigi. Mesinnya langsung menyala. Ooo.. jadi Tiginya langsung bisa dinyalakan tanpa kunci. Gila memang orang yang ngambil Tigi ini.
Kami berdua pulang beriringan, sempat mampir ke bengkel Honda yang masih buka untuk mengganti kuncinya, lalu langsung balik ke kosan.
Suasana kos langsung meriah lagi ketika kugeber Tigi di depan kos. Teman-teman tertawa dan minta jatah syukuran yang kedua. Apalagi kalau bukan jatah alkohol. Malam itu kami minum lagi sampai pagi. Dan sebelum mabuk, aku sempat mengabari Lia kalau Tigi sudah ketemu.
cussss.. baru sehari Tigi datang, dia sudah berpetualang ke markas pencuri..