EPISODE 22
BAGIAN 22
KELUARGA BESAR
Sudah tiga bulan aku hidup di kota ini... dan dalam tiga bulan itu pula aku jatuh betah kepada kota kecil di kaki pegunungan ini. Udara yang sejuk menusuk kulit, masyarakat yang ramah dan welcoming terhadap para mahasiswa perantauan — semuanya membuatku merasa seperti berada di rumah sendiri. Dan satu lagi yang membuatku kagum: klub sepak bolanya, yang membuat para suporternya menggila mendukung tim kesayangan mereka dengan totalitas luar biasa. Assuu... pokoknya aku cinta dengan kota ini beserta seluruh isinya.
Sudah tiga bulan pula aku menghuni kos ini. Makin hari aku merasakan persaudaraan yang begitu kuat di antara teman-teman Kos Pondok Merah. Aku mulai mengenal satu per satu penghuninya secara dekat.
Mas Pandu, dengan julukan Singa Kampus yang tersohor seantero kota. Mas Arief dengan wajah kalemnya — ternyata debt collector yang jasanya sering dipakai para bos besar kota ini. Mas Adam yang mengendalikan bisnis narkoba di kota ini. Dan mereka bertiga kini mulai fokus menyelesaikan skripsinya masing-masing.
Mas Rendi si bule yang mengendalikan bajingan-bajingan di kampus. Bung Toni menjadi beking keamanan di beberapa tempat hiburan malam bersama Mas Bendu — dan selain itu, Mas Bendulah yang menguasai bisnis parkir di kota ini. Lalu ada Mas Wawan dengan predikat bandar ganjanya kota.
Sedangkan Mas Akbar, Mas Raimond, Mas Danis, Mas Bobby, Mas Rudi, dan Alan — mereka adalah bajingan-bajingan kampus yang menguasai jurusannya masing-masing.
Mereka semua sadis dan tidak mau kompromi kalau di luar sana. Tapi berbanding terbalik di dalam kos. Di sini mereka seperti mahasiswa biasa — bercanda, tertawa, saling mengejek. Belum sekali pun selama aku tinggal di sini terjadi keributan sesama anak kos. Mereka seperti saudara kandung, bahkan lebih. Dan mereka memperlakukan semua penghuni kos dengan sama, tanpa dibeda-bedakan — termasuk aku. Kekompakan dan kebersamaan yang belum pernah kurasakan sepanjang hidupku.
Dan hari ini, setelah pulang kuliah, aku berjalan masuk ke dalam gang kos. Seperti biasa dengan sebatang rokok di jari dan teh kotak di tangan. Ketika tiba di kos, teman-teman sudah berkumpul di ruang tengah. Mereka semua memakai jaket seragam berwarna merah dengan tulisan di punggung: RED CASTLE. Celana jeans hitam dan sepatu. Sepertinya mereka mau keluar bareng. Sangar sekali aku melihat mereka dengan setelan itu.
Mereka duduk melingkari meja, menikmati pesta alkohol.
"Sandi, sini..." panggil Mas Pandu.
Aku berjalan ke arahnya. Mas Pandu mengeluarkan sebuah bungkusan dari bawah meja dan membukanya. Ternyata isinya sebuah jaket — sama seperti yang mereka pakai.
"Sini, dekat aku..." kata Mas Pandu sambil berdiri. "Lepas tasmu."
Aku melepas tasku. Mas Pandu lalu memakaikan jaket itu ke badanku. Aku merasa sangat bangga memakainya — seakan ada aura yang kuat menyelimutiku.
"Kamu telah melewati masa percobaan beberapa bulan ini untuk bisa menjadi bagian keluarga besar kos ini. Maaf, bukannya kami tidak percaya kamu selama ini. Ini kami lakukan karena memang sudah jadi tradisi di kos ini. Jadi... selamat datang di Kos Pondok Merah. Kamu resmi jadi anggota keluarga besar di sini." Mas Pandu menepuk pundakku.
Mataku berkaca-kaca. Entah kenapa — aku merasa seperti terlahir kembali dalam keluarga yang baru.
Mas Arief berdiri sambil bertepuk tangan, diikuti semua penghuni kos tanpa terkecuali. Oh... baru kusengerti tradisi di sini. Kalau mereka berdiri sambil bertepuk tangan, berarti mereka bangga dan senang terhadap orang tersebut.
"Ayo duduk semua," kata Mas Pandu. "Bung Toni, kasih minuman selamat datang buat keluarga baru kita."
"Siap, Mas Pandu."
Bung Toni menuangkan segelas penuh dan menyerahkannya padaku. Tumben penuh gelasnya — biasanya cuma separuh.
"Aku minum ya, Mas. Terima kasih aku sudah diterima secara resmi di kos ini. Mohon bimbingannya, Mas... biar gelas ini yang menjadi saksi bahwa aku senang dan bangga jadi bagian keluarga Kos Pondok Merah. Semoga suaraku ini terbawa angin sampai ke puncak Mahameru, sehingga kerajaan para dewa terguncang mendengarnya..." ucapku sambil mengangkat gelas dan menghabiskannya sekali teguk.
"Assuu... memang kata-kata pujangga bajingan satu ini! Hahahaha!" Mas Rendi tertawa lepas, disambut gelak teman-teman yang lain.
Aku menyerahkan kembali gelasku. Diambil Bung Toni dan diisinya penuh lagi.
"Ko minum lagi, pujangga bajingan?" kata Bung Toni sambil tersenyum.
Aku menoleh ke seluruh penghuni kos. Mereka cuma mengangguk dan tersenyum. Kukuhirap gelas itu lagi dan kuangkat.
"Terima kasih, Dewa Dionisos... Kau telah mengirimkan teman-teman yang baik kepadaku. Aku tidak salah memilih datang dan bertahan di kos ini. Dan hari ini aku resmi jadi bagian keluarga kos ini. Kapan Kau kirim banyak wanita cantik ke sini? Biar kita semua di dalam sini bisa pesta besar..." candaku. Aku meminum gelas kedua itu dan menyerahkannya lagi kepada Bung Toni.
"Assuu... sampai nama dewa segala dibawa-bawa. Hahaha!" kata Alan.
Bung Toni mengisi gelasku penuh lagi dan menyerahkannya. Cuukkk... aku dikerjain lagi nih? Aku menoleh ke teman-teman. Mereka cuma tersenyum.
"Bukan dikerjain loh, San. Ini memang tradisi di sini. Ayo, minum lagi," kata Mas Rendi sambil menatapku dengan senyum khasnya.
Aku mengangkat gelas tinggi-tinggi.
"Terima kasih, Guru Sinto Gendeng... Kau telah menganugerahkan teman-teman yang baik padaku. Walaupun agak koplak sih..." ucapku pelan di kalimat terakhir, lalu meminumnya.
"Assuu... cukimai... bajingan... munyuk... biadab... tele'!" semua penghuni kos memakiku.
"Kita dibilang koplak! Assuu... hahahaha!" kata Mas Raimond. Yang lain pun ikut tertawa.
Setelah itu minuman diputer seperti biasa ke teman-teman yang lain.
"Hari ini kita ada undangan acara, San. Salah satu preman penguasa kota ini sedang mengadakan hajatan — menikahkan anaknya. Di sana pasti berkumpul bajingan se-kota ini, bahkan mungkin pentolan se-provinsi dan sekitar pulau ini diundang. Makanya kita pakai jaket kebanggaan kita ini sebagai identitas," kata Mas Pandu.
"Siap, Mas Pandu."
"Naik apa kita ke sana, Mas? Mobil atau sepeda motor?" tanya Alan.
"Naik mobillaku sama mobilnya Mas Arief aja," kata Mas Adam.
"Iya, jadi kita bisa sambil minum... hehehe," sahut Mas Arief.
Setelah menghabiskan minuman, kami semua bersiap berangkat. Untung tadi aku sudah pakai celana jeans hitam, jadi tidak perlu ganti. Kutaruh tasku di kamar, lalu kembali ke ruang tengah.
Sore menjelang magrib kami berangkat, berjalan beriringan keluar dari dalam gang. Kedua tangan kami semua masuk ke kantong samping jaket. Kami berjalan ke arah kampus, tempat mobil Mas Adam dan Mas Arief diparkir. Suasana jalan depan gang ramai sekali — banyak mahasiswa berkumpul dan lalu-lalang di sana. Kami menjadi pusat perhatian. Semua mata memandang kami sambil menunduk. Tidak ada senyum dari kami semua, tidak ada satu pun yang bersuara. Mata merah, bau alkohol, dan langkah tegak menambah kesan menyeramkan dari rombongan kami. Tidak ada yang berani menyapa — termasuk security kampus yang berjaga di pos ketika kami lewat di depannya.
Kami berjumlah empat belas orang, dibagi dua kelompok, lalu masuk ke masing-masing mobil. Kami sempat singgah ke Cak Gundul membeli sangu minuman untuk perjalanan, lalu melanjutkan perjalanan sambil memutar minuman di dalam mobil.
Perjalanan kami lumayan jauh. Kami masuk ke jalan sebuah desa dan berhenti di sebuah gerbang yang lumayan besar. Setelah tiba di lokasi acara, mobil kami parkirkan. Banyak sekali preman yang menjaga tempat ini — dari gerbang depan sampai parkiran. Aku sempat melihat Cipeng, pentolan maling motor Tiger-ku dulu. Dia tersenyum kepada kami, dan kami cuma membalas dengan anggukan tanpa senyum. Kami disambut seseorang yang mewakili tuan rumah — badannya kekar, bertato di seluruh tubuh, dan matanya memerah tanda mabuk.
"Halo, penghuni Pondok Merah... Selamat datang di acara Cak Maji. Ayo masuk, masuk..." katanya sopan, menyalami dan memeluk kami satu per satu, lalu mengantarkan kami ke meja.
Suasana di sini ramai sekali. Kami disambut alunan musik dangdut yang menggema. Meja-meja panjang berisi aneka minuman. Di sini hadir pentolan bajingan dari seluruh pelosok pulau ini. Mereka membentuk kelompok masing-masing — ada yang sekadar mengobrol, main judi, dan minum. Terdengar tawa mereka bersahutan. Walaupun sebagian mabuk, tak sedikit pun terlihat keributan.
Kami duduk di meja kami — sudah terhidang minuman beralkohol dalam jumlah banyak beserta sandingannya. Setelah dipersilakan, Bung Toni mengambil gelas dan memutarnya kepada kami. Di sini kami tidak banyak bercanda — hanya mengobrol ringan sambil menikmati minuman, sandingan, dan rokok.
"Mas Pandu... dipanggil Cak Maji di depan. Biasa, mau ngobrol-ngobrol katanya," kata seseorang yang datang ke meja kami.
"Aku tinggal dulu ya. Jangan bikin ribut — ga enak sama tuan rumah," kata Mas Pandu sambil berdiri dan mengikuti orang yang memanggilnya.
"Itu Mas Pandu kumpul sama pentolan bajingan yang hadir di sini, San," bisik Alan padaku.
"Oooo..." jawabku sambil menghisap rokok putihanku.
Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa keras di belakang meja kami. Dia berbicara dengan keras pula. Cuukkk... suaranya tidak asing lagi di telingaku — tawanya keras dan sumbang. Aku menoleh ke belakang, menatap mereka satu per satu. Kulihat seseorang berdiri dengan luka jahit — codet — di wajahnya. Dia rupanya yang tertawa dan bicara keras tadi. Sepertinya aku tidak asing dengan wajah ini...
"Itu codet namanya. Tapi dia pasti mengamuk kalau dipanggil codet — orang yang berani memanggilnya codet bakal dihajar sampai patah-patah tulang. Dia maunya dipanggil Ilham, sesuai nama aslinya. Dia anak kabupaten sebelah, dan dia salah satu bajingan yang ditakuti di ibu kota provinsi.
Mbahnya itu preman besar di pulau ini yang disegani sampai pulau sebelah-sebelah, namanya Mbah Jati. Mbah Jati punya anak empat — tiga laki-laki, satu perempuan. Bapaknya si Codet adalah anak terakhir; dia menikah dengan anaknya Cak Maji — pemilik acara ini. Bapaknya Codet yang memegang terminal bus satu di ibu kota provinsi dan terminal bus tiga, namanya Lek Ji'i.
Terus anak perempuan — anak ketiga Mbah Jati — nikah sama pentolan preman kota sebelah, namanya Yu Darmi.
Terus anak kedua Mbah Jati, yang memegang terminal bus dua sampai pelabuhan ibu kota provinsi, namanya Cak Gito.
Nah, yang satu lagi — anak pertama Mbah Jati — lebih gila dan menakutkan. Dia tidak mau jadi bajingan seperti Mbah Jati dan saudara-saudaranya. Dia merantau entah ke mana. Padahal dia calon penerus Mbah Jati. Namanya aku tidak tahu, karena orangnya misterius sekali.
Hampir semua bisnis dunia hitam di pulau ini dipegang Mbah Jati dan keluarganya.
Dan semua cucu-cucu Mbah Jati itu bajingan semua — jadi preman di daerah masing-masing. Walaupun tanpa nama besar Mbah Jati, semua keturunannya punya jiwa preman yang berani dan ditakuti semua orang. Mungkin memang bakat alami kali ya..." kata Mas Arief panjang lebar.
"San, ga usah dilihat begitu. Dia orangnya gampang tersinggung. Bukan berarti kita takut — ingat pesan Mas Pandu," tegur Mas Adam.
Aku langsung berbalik menghadap teman-teman. Aku mengambil minuman yang diserahkan Bung Toni. Setelah kuminum, bakar rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Terdengar suara si Codet makin nyaring dan tawanya lebar. Cuukkk... sudah nyaring, jelek lagi suaranya — sampai alunan musik dangdut kalah nyaring dibanding tawanya. Teman-teman mulai melihat gelagatku yang sudah agak aneh.
"San... ingat, jangan bikin ribut ya," kata Mas Rendi menatapku tajam, diikuti semua teman-temanku. Aku santai aja — tapi tanganku menggaruk kepala. Mereka tahu: kalau aku menggaruk kepala sambil menatap tajam, berarti aku sudah emosi tingkat tinggi.
"CODET! BISA KECILIN SUARAMU!" teriakku tanpa menoleh ke belakang.
Semua teman-temanku kaget dan menatapku tajam.
"San... waduh..." Alan terlihat khawatir.
"Cuk..."
"Nggateli..."
"Bajingan..."
"Ngentot loe..."
"Bedebah ancene kok..."
"Wah, ribut sudah ini..."
"Assuu kamu, San..."
Satu per satu teman-teman kosku memakiku. Tapi aku tetap tenang dan santai sambil menghisap rokok.
"SIAPA BERANI MANGGIL AKU CODET?! BANGSATT!" Aku mendengar si Codet berteriak dan berjalan ke arah meja kami, diikuti beberapa orang.
"Mau kutambahin lagi codetmu?" ucapku santai, tetap tidak menoleh. Aku merasa dia sudah ada di belakangku. Teman-temanku menatapku. Aku tahu — walaupun mereka marah padaku, mereka tetap akan membantuku melawan bajingan-bajingan ini.
"Bajingan kamu..." si Codet memegang bahuku. Teman-temanku langsung berdiri dan bersiap.
"Kenapa kamu ga terima?" ucapku, langsung berbalik dan berdiri di depannya, menatapnya tajam. Kuhisap rokokku dalam-dalam dan kuhembuskan asapnya ke wajahnya.
"Mas Sa... Sandi..." ucapnya terbata-bata. Dia terlihat kaget, menatapku seolah tidak percaya siapa yang ada di depannya. Matanya memindai tubuhku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Setelah agak tenang, dia malah memelukku.
Teman-temanku kaget. Orang-orang di belakang si Codet pun kaget — melihat Codet yang biasa mengamuk kalau dipanggil seperti itu, kini malah tidak berani memukul dan malah memeluk.
"Sampean lapo nde kene, Mas? Sek yo mas, tak celokno ayah sek... Ono mbah kung ambe mbah putri loh nde kene!" — *kamu ngapain di sini, Mas? Sebentar ya, kupanggil ayahku dulu... ada mbah laki dan mbah perempuan loh di sini!*
Si Codet langsung berbalik dan berlari ke arah panggung utama. Teman-temannya bingung; mereka mengangguk dan tersenyum padaku.
"San... kamu kenal Ilham Codet?" kata Mas Arief kaget.
Aku berbalik dan duduk lagi. Teman-temanku berdiri mematung menatapku, seakan tidak percaya apa yang baru kulakukan.
"Loh, dia kan dari kabupaten sebelah... sedangkan kamu dari pulau seberang. Kok bisa kenal?" tanya Mas Adam heran.
"Iyo, Dam... malah Ilhamnya kayak takut gitu. Padahal kan dia salah satu preman yang ditakuti..." kata Mas Arief.
"Belum lagi reputasi keluarga Ilham yang ditakuti karena keturunan Mbah Jati..." lanjutnya.
"Ayolah duduk semua, Mas. Kita lanjutkan minumannya lagi. Ntar aku cerita," ucapku sambil merokok.
"Cepat cerita, pujangga bajingan!" kata Mas Rendi.
Cuukkk... sempat-sempatnya Mas Rendi memanggilku pujangga bajingan.
"Itu codetnya Ilham aku yang buat. Dia pernah menantangku dulu waktu SMP — biasa anak baru gede, jiwanya labil. Katanya sebagai cucu Mbah Jati, dia ingin membuktikan siapa yang terkuat di antara kami. Ya sudah, kuladeni. Kuhajar tanpa ampun. Kepalanya kuhantamkan ke batu di pinggir kali sampai dia pingsan. Ya, itu hasilnya — jadi codet..." ucapku santai.
Teman-teman terkejut dengan ceritaku. Mereka duduk dan diam mendengarkan.
"Jadi kamu salah satu cucu Mbah Jati, San? Dari anak yang keberapa Mbah Jati?" kata Mas Arief dengan ekspresi kaget.
"Iya, Mas, aku cucu Mbah Jati. Aku anak pertama dari ayahku yang bernama Irawan Jati. Dan ayahku anak pertama Mbah Jati. Jadi aku ini cucu pertamanya Mbah Jati. Lah, si Ilham Codet itu anak pertamanya adik terakhir ayahku, Lek Ji'i..." ucapku — membuat teman-temanku makin terkejut.
"Serius kamu... ayahmu anak pertama Mbah Jati yang misterius itu?" kata Mas Arief seakan tidak percaya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
"Pantes aja, San... kamu kok punya aura yang menakutkan kalau berkelahi. Ternyata sudah turunan ya," kata Mas Rendi yang masih kaget.
"MANA SANDI? MANA DIA, HAM!" Terdengar suara Lek Ji'i mencariku di belakangku.
"Itu loh, Yah, yang hadap ke sana pakai jaket merah," kata Ilham Codet.
Aku langsung berdiri, diikuti teman-temanku. Aku berbalik ke arah Lek Ji'i.
"Anak kurang ajar kamu, San! Di rumahmu sendiri malah duduk di meja tamu!" kata Lek Ji'i, langsung memelukku erat — dan aku membalasnya dengan pelukan erat pula. Lek Ji'i memeluk sambil mengelus rambut belakangku.
Para preman di sekitarku berdiri, kaget melihat adegan ini.
"Gimana kabar ayahmu? Ngapain kamu di kota ini?" kata Lek Ji'i merangkulku dari depan dan menatap wajahku. Wajahnya penuh haru, matanya berkaca-kaca. Aku pun terharu dan mataku ikut berkaca-kaca.
"Kabar ayah baik-baik saja, Lek. Biasa... sibuk dengan kerjaannya. Kalau aku kuliah di sini, Lek," ucapku, lalu meraih tangannya yang di pundakku dan menciumnya.
"Kurang ajar kamu! Ga kasih kabar kalau kuliah di sini. Kamu kan bisa tinggal di sini!" katanya.
"Nggak, Lek. Aku tinggal di depan kampus aja biar lebih dekat," kataku.
"Di mana?" tanyanya.
"Di Pondok Merah, Lek."
"Berarti sama Pandu ya?" kata Lek Ji'i.
"Iya, Lek, sama Mas Pandu. Loh, sampean kenal Mas Pandu?"
"Kurang ajar kamu memanggil mas! Pandu itu pamamu — dia sepupu ayahmu dan sepupuku juga. Kamu harusnya panggil dia lek. Dia anaknya Mbah Wito dari istri keduanya — Mbah Wito itu adiknya Mbah Jati, yang tinggal di desa sebelah, Desa Jati Bening. Kamu ga ingat kah?" kata Lek Ji'i — membuatku kaget, dan teman-temanku ikut kaget.
"Nggak, Lek... aku ga ingat sama sekali. Mas Pandu... eh, maksudku Lek Pandu ga pernah cerita selama ini..." ucapku kaget.
"Sudahlah, kita cerita di meja utama aja. Pandu ada di sana. Ayo ke sana yo — di sana ada juga Mbah Kung sama Mbah Putri, ada juga Yu Darmi sama Cak Gito," ucap Lek Ji'i.
"Ini yang pakai jaket merah, pindahkan ke kursi depan semua, Ham. Meja VIP," kata Lek Ji'i pada Ilham Codet, sambil menarikku ke meja utama. Ilham Codet termasuk seksi yang sibuk di acara ini. Ya pasti sibuklah — dia kan cucunya Cak Maji, salah satu preman terbesar di kota ini. Jadi dia termasuk tuan rumah juga.
Di meja utama kulihat Mbah Jati duduk dikelilingi pentolan-pentolan preman se-pulau ini. Beliau duduk dengan tegak. Walaupun sudah tua, beliau masih kelihatan gagah dan berwibawa. Semua orang kelihatan agak menunduk ketika berbicara dengan mbah kung-ku itu. Di sana juga ada Lek Gito dan suami Yu Darmi — dan ada juga Mas Pandu. Eh... aku memanggilnya lek atau mas ya? Ah, sudahlah, ntar aja itu dibahas.
"Pak... mohon maaf. Itu ada cucu pertamamu tersayang," ucap Lek Ji'i kepada Mbah Jati.
"Siapa? Sandi? Mana dia? Dia datang ke sini? Suruh sini, cepat!" kata Mbah Jati kaget.
Aku langsung mendatangi dan berlutut, meraih tangan mbah kung-ku ini. Kucium tangannya yang kecil tapi berjari besar, dengan bulatan-bulatan kulit yang mengeras di punggung tangannya. Lalu kucium lutut kanannya dan lutut kirinya. Mbah Jati meraih wajahku, mencium keningku, pipi kanan, dan pipi kiriku. Setelah itu Mbah Jati memelukku erat. Suasana menjadi haru, membuat semua orang terdiam.
"Kapan kamu datang, Le'?" ucap Mbah Jati menatapku.
"Saya baru datang, Mbah Kung..."
"Dari pulau seberang langsung ke acara ini?" tanyanya.
"Nggak, Mbah Kung. Saya kuliah di kota ini. Sudah tiga bulan saya di sini. Saya diajak ke acara ini sama Lek Pandu — kami satu kos di depan kampus," jawabku.
"Kamu tiga bulan ke sini ga singgah sama sekali ke Desa Jati Luhur, Le? Kamu ga kangen sama Mbah Kung sama Mbah Putri kah? Atau kamu dilarang ayah ibumu ke sana?" Tanya Mbah Jati sambil berkaca-kaca, mengelus rambutku — membuatku merasa bersalah, dan aku pun terisak.
Terus terang, aku memang diwanti-wanti ayahku supaya jangan terlalu sering berhubungan dengan keluarganya. Boleh berhubungan, tapi jangan terlalu dekat. Takut aku terjerumus dan malah jadi penerus Mbah Jati. Ayahku saja merantau supaya terhindar dari bisnis yang memakai otot ini — masa anaknya malah masuk ke dalamnya. Begitu pesan ayahku.
"Pandu... kamu kok ga cerita kalau kamu bawa ponakanmu ke sini?" kata Mbah Kung-ku, menatap Mas Pandu yang cuma mengangguk dan tersenyum.
"Mohon maaf, Mbah Kung. Ayah ibu ga pernah melarang... saya masih sibuk kuliah, Mbah Kung. Besok, setelah ujian tengah semester, saya ke desa..." ucapku sambil terisak.
"Iya sudah. Kamu ke dalam dulu... temuin Mbah Putrimu. Pasti dia kaget lihat kamu di sini," kata Mbah Kung.
"Iya, Mbah Kung. Saya pamit dulu ke dalam," ucapku. Saat aku berdiri, tanganku ditahan Mbah Kung.
"Kenalkan... ini cucuku yang pertama. Sandi Purnama Irawan — anak dari Irawan Jati, anak pertamaku di pulau seberang," Mbah Kung mengenalkanku pada semua orang di sini. Mereka terkejut mendengar nama ayahku yang selama ini menghilang dari pulau ini.
"Udah, ke dalam dulu sana kamu, Le," ucap Mbah Jati.
Sebelum masuk, aku menghampiri Lek Gito, adik ayahku. Beliau merangkulku dan menangis sesenggukan. Aku pun mencium tangannya. Lalu aku ke suami Yu Darmi — kucium tangannya dan kuperangkul dia juga. Setelah itu aku menuju ke dalam rumah utama, diantar Lek Ji'i.
Kulihat Mbah Putri duduk bersandar di dinding, memakai perpaduan kebaya dan kemben, kaki dilipat ke belakang khas perempuan desa. Beliau sedang mengobrol dengan beberapa perempuan sebayanya. Wajah mbah-ku terlihat menua, tapi aura kecantikannya tidak berubah — wajahnya cantik khas none Belanda yang putih karena keturunan dari buyutnya. Beliau tersenyum kepada orang-orang di sekitarnya.
Aku melepas sepatu lalu berjalan ke arahnya. Langsung kujongkok, kuraih tangannya dan kucium. Kutahan agak lama. Mbah Putri bingung — siapa yang tiba-tiba datang mencium tangannya lama sekali. Aku mengangkat kepalaku, dan kulihat wajah beliau. Langsung beliau kaget, lalu memelukku sambil menangis terisak-isak. Beliau mencium keningku, pipiku, dan hidungku — dan lagi-lagi semua orang terharu melihatnya.
"Kapan kamu datang, Le? Kok ga ngomong-ngomong kalau ke sini..." kata Mbah Putri sambil menangis dan membelai pipiku.
"Baru aja, Mbah Putri," ucapku.
"Sama siapa? Ayah ibumu?" tanyanya.
"Enggak, Mbah Putri... Saya datang sama teman-teman kos. Saya kuliah di kota ini — sudah tiga bulan saya tinggal di kota ini," ucapku sambil menunduk.
"Kamu tinggal di kota ini sudah lama dan ga pernah main ke desa? Jahat betul sih? Ga kangen sama Mbah Putrimu ini kah?" katanya sambil memukul keningku pelan dengan tangan bagian bawah yang terkepal.
Aku langsung tidur di pangkuan Mbah Putri sambil menghadap ke perutnya dan memeluk beliau. Ini kebiasaanku ketika di desa. Aku menangis sesenggukan. Mbah Putri membelai kepalaku sambil tersenyum.
"Maaf, Mbah Putri... Saya sibuk kuliah. Saya kangen sama Mbah Putri," kataku sambil mengambil tangan Mbah Putri, kucium, dan kutempelkan ke pipiku sambil menatap wajah ayunya. Beliau mengelus pelan pipiku.
"Kepeatedan... kalau sudah manja gini, Mbah ga jadi marah sama kamu. Tatapan matamu itu loh... bikin Mbah tambah sayang," kata Mbah Putri sambil menatapku dan mengelus pipiku.
"Siapa itu, Mak?" Terdengar suara Yu Darmi di belakangku.
"Gani kah? — Gani itu nama sepupuku, anaknya Lek Gito — kok manja betul gitu? Ga tau kah kalau di sini banyak tamu?" tanya Yu Darmi.
"Bukan... ini Sandi. Ponakan tersayangmu," kata Mbah Putri. Dan aku menoleh tanpa mengangkat kepalaku dari pangkuan Mbah Putri.
"Ya Allah... Sandi! Kapan kamu datang, Le? Yu Darmi kangen sama kamu..." ucap Yu Darmi, langsung jongkok dan mencium pipiku dan keningku berulang-ulang sambil menangis.
"Baru aja, Lek," ucapku sambil memegang wajah Yu Darmi — dan mencium pipinya juga.
"Kamu datang ga kasih kabar... dasar..." Tangannya mendorong pelan keningku.
"Sudah-sudah, duduk situ kamu, Mi..." kata mbah-ku kepada Yu Darmi.
"Lek... aku buatin teh ya... tapi sampean yang buatin, jangan yang lain. Aku kangen teh buatan Yu Darmi yang enak dan seger... hehehehe..." ucapku memelas. Teh buatan Yu Darmi ini enak sekali — manisnya pas, seperti wajah Yu Darmi. Sebenarnya sih buatan Mbah Putri lebih enak... tapi aku ga mau minta ke Mbah Putri. Masih pengen tidur di pangkuan Mbah Putri.
"Kebedaanmu itu mirip ayahmu..." ucap Yu Darmi sambil berdiri dan mengusap air matanya.
"Enaknya mas Sandi ini... datang-datang langsung tidur di pangku Mbah Putri. Coba aku... pasti dimarahin kalau tidur di pangku mbah di tempat ramai gini," kata Ilham Codet.
"Hahahaha... itu sih deritamu, Ham," ucapku sambil tersenyum. Memang aku cucu yang paling disayang Mbah Kung dan Mbah Putri — sampai kadang-kadang sepupuku yang lain iri, termasuk Ilham Codet ini. Makanya dia dulu mengajakku duel waktu SMP, ketika aku berkunjung ke Desa Jati Luhur bersama kedua orang tuaku dan adek-adekku.
Mbah Putri cuma tersenyum dan terus membelai kepalaku. Ga lama, Yu Darmi datang dengan segelas teh hangat dan menaruhnya di sampingku. Aku langsung duduk dan bersandar di dinding. Yu Darmi langsung ngelendot di pundakku. Aku mengambil tehnya dan kuminum perlahan.
"Uueeennnaaakkk, Lek..." ucapku sambil mencium kening Yu Darmi.
"Iyalah... siapa dulu yang buat..." kata Yu Darmi.
Aku menghabiskan tehnya, lalu pamit ke depan untuk bergabung dengan teman-teman.
"Mbah, saya ke depan dulu ya... ga enak sama teman-teman," ucapku ke Mbah Putri.
"Ga enak sama teman-teman, atau pengen mabuk lagi..." kata Yu Darmi.
Aku cuma tersenyum sambil menunduk.
"Kenapa sih buru-buru? Mbah ini masih kangen loh..." kata Mbah Putri.
Kali ini aku tersenyum dan mengangkat wajahku, menatap wajah beliau.
"Tatapanmu itu loh, San... iiihhh... iya, sana sudah. Tapi jangan terlalu banyak minum ya... nanti ke sini lagi loh ya..." kata Mbah Putri setengah merajuk.
"Iya, Mbah," ucapku. Aku mencium tangan Mbah Putri dan berdiri.
Yu Darmi pun langsung memelukku dan mencium keningku.
Aku berjalan ke depan, ke meja VIP dekat panggung utama tempat teman-teman kosku berkumpul dan minum. Kulihat Mas Pandu sudah ikut duduk dan minum di situ. Dia berdiri ketika aku datang. Dia mau memelukku — tapi aku berhenti tepat di depannya, menatap matanya dengan santai.
"Jadi sampean tahu kalau aku ini keponakanmu, lek?"
Mas Pandu langsung memelukku erat.
"Kayaknya tua banget aku, dipanggil lek sama kamu, San..." ucap Mas Pandu.
"Kan memang gitu panggilnya kalau menurut silsilah keluarga, Lek," kataku sambil membalas pelukannya.
"Kalau kumpul sama anak kos dan di kampus, jangan panggil aku lek — panggil aja mas. Tapi kalau lagi kumpul sama keluarga di desa, ya panggil lek. Paham?" kata Mas Pandu melepas pelukannya, lalu duduk.
"Ya, lihat nanti aja, Lek," ucapku santai, lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Tinjuku ini masih kuat loh... bisa buat kamu pingsan kedua kalinya," kata Mas Pandu sambil mengepalkan tangannya di depanku.
Cuukkk... serem sekali kepalan tangan Mas Pandu.
"Hahaha..." teman-temanku tertawa melihat gaya Mas Pandu.
"Awas, pamanmu galak loh, San," kata Mas Arief.
"Kurang ajar... memang aku assu apa kok galak!" ucap Mas Pandu sambil tersenyum.
"Mas, sampean belum jawab pertanyaanku loh... sampean sudah tahu sebelumnya kalau aku ini ponakanmu?" tanyaku.
"Iya, taulah. Aku kan sering telpon ayahmu... aku juga sering dapat kerjaan dari ayahmu. Cuman kalau aku ke sana, aku pasti nginap di hotel, ga ke rumahmu. Sengaja dirahasiakan sama ayahmu — aku ga tahu alasannya. Tanya aja ayahmu. Terus tentang kamu di sini, aku ga boleh cerita ke Mbah Jati dari ayahmu. Ini aja aku ngajak kamu ke sini setelah ijin dulu sama ayahmu..." bisik Mas Pandu. Eleh... mas apa lek sih ini? Bingung aku.
"Aku juga tahu dari ayahmu kalau kamu kuliah di sini. Sebenarnya aku mau cari kamu... tapi aku dapat informasi dari Rendi kalau ada anak baru bernama Sandi Purnama Irawan kos di Pondok Merah. Siapa lagi nama itu kalau bukan namamu? Makanya aku ga jadi berangkat ke kota ini untuk mencarimu kemarin..." Suaranya sekarang sudah agak nyaring seperti biasa.
"Masalah kita adu pukul di kampus itu... aku disuruh mengetes kamu sama ayahmu. Kurang ajar... aku ga nyangka pukulan dan tendanganmu keras banget. Aku sampai dirawat beberapa hari di rumah sakit — soalnya aku muntah darah, tulang iga-ku ada yang retak. Belum pernah ada yang memukulku sampai aku dikirim ke rumah sakit..." kata Mas Pandu sambil merokok.
"Serius, Mas? Kok sampean tetap berdiri tegak aja kemarin waktu aku menyerang?" tanyaku kaget.
"Kalau aku roboh di ruang keamanan... mau ditaruh di mana mukaku ini? Hahahha..." kata Mas Pandu.
"Ini rahonia keluarga ya namanya... hehehe..." tanya Mas Arief.
"Asssu kamu, Rief... wajarlah — kan Sandi baru tahu kalau aku pamannya," kata Mas Pandu.
"Sampean ternyata jahat juga, Mas... ga ngasih tahu dari kemarin-kemarin. Tega dan kejam," ucapku santai sambil mengisap rokok.
"Assu... bajingan... lebay betul kata-katamu, San," kata Mas Rendi.
"Hatiku kan memang melankolis, Mas... hahahaha..." ucapku tertawa.
Kami mengikuti acara sampai tengah malam. Setelah itu kami pamit pulang. Aku sempat ditahan oleh mbah dan pamanku — disuruh menginap di situ. Aku ga mau dan tetap ingin pulang dengan alasan besok ada ujian di kampus. Tapi aku berjanji akan main-main ke sini, dan aku juga berjanji akan ke Desa Jati Luhur setelah ujian tengah semester. Akhirnya mereka mengizinkanku pulang ke kos.
*#cuukkk... hari ini aku tidak menyangka bisa berkumpul dengan keluarga besar*