EPISODE 23
BAGIAN 23
MAHAMERU 1
---
Adalia Adriana Agatha
---
Hari ini di sebuah warung kopi...
Pulang kuliah, kami para anggota power ranger berkumpul di warung kopi langganan. Memang ini ritual khas mahasiswa di kota kami — makan, tidur, kuliah, ngopi. Kalau aku, ditambah sedikit mabuk. Hehehehe.
"Ngapain ya kita enaknya... bosan aku begini-gini aja. Sudah hampir satu semester loh kita di kota ini," kata Lia sambil menyeruput kopi susu pesanannya. Kopinya dia beli, susunya merasuk sendiri. Assuuu... kok ngelantur gini sih. Bajingan.
"Kalau kamu bosan, mending kamu lihat ke depan aja. Siapa tau kamu sadar kalau di depan itu ada masa depan kita. Iya, kita... kamu dan aku menjadi kita," kata Surya mulai menggombal Lia.
"Assuuu... Surya dan Lia itu jadinya hampa... tersiksa... dan menderita. Yang betul itu Yuda dan Lia menjadi cinta... selamanya... jadi keluarga anak tiga... bahagia selamanya," kata Yuda nggak mau kalah.
"Bajingan kamu dua ini! Cocoknya itu kalian berdua yang saling sayang dan hidup bersama sampai maut memisahkan. Hahahahahaha," kata Lia yang otaknya sudah tergeser sampai ikut memaki juga.
"Assuuu..." Yuda dan Surya menyahut bareng.
"Djiammput... lambene arek-arek iki kok tambah rusak yo... hehe.." (Djiammput... mulutnya anak-anak ini kok tambah rusak ya... hehe..) kata Aldo sambil menghisap rokoknya.
"Kamu juga cuukkk.." Lia, Yuda, dan Surya mengucap bareng.
"Sudah... sama-sama rusak, nggak boleh saling mendahului. Mending kita tanya Zordon aja enaknya ngapain kalau lagi bosan gini," kataku.
"Guuatelll ta... lapo koen eleng aku lek sumpek ngene... la koen kiro aku ga bosen pisan ta... bendino nde markas wong loro karo Alfa... ga iso nangdi-nangdi, ga iso ngopi, ga iso coli... mek ngomong ayayayayaya... bosen cuukkk.." (Guuatelll ta... ngapain kamu ingat aku kalau lagi bosan gini... la kamu kira aku nggak bosan tiap hari di markas berdua sama Alfa... nggak bisa ke mana-mana, nggak bisa ngopi, nggak bisa coli... cuma bisa ngomong ayayayayaya... bosen cuukkk..)
"Ayayayayaya... Zordon gateli... cuukkkk... ayayayayaya..." kata Alfa menyahut.
"Assu kau, Fa..."
"Hahahahahaha..."
"Percuma aja ngomong sama Zordon, dia juga lagi sumpek. Jadi gimana ya enaknya..?" kataku sambil menikmati es teh pesananku.
Huuuu... aliran air kenikmatan masuk lewat rongga mulutku, langsung meluncur deras ke tenggorokan dan disambut meriah di dalam tubuhku. Mereka bahu-membahu membawa setiap inti sari teh sampai ke pori-pori terkecil di dalam tubuhku, lalu mengalirkan sampai ke otakku. Kepalaku langsung adem seketika — seadem pemandangan gunung yang ada di depan warung tempat kami nongkrong.
"Cuukkk... kita naik gunung. Piye..? (gimana..?)" ucapku. Setelah kemasukan es teh, otakku langsung lancar untuk berpikir.
"Saaanddiee koe... ngopii orrraaa..?" (sandimu nggak oke ya..?) Tanya Surya dengan suara berat, kepala dimiringkan, mata melotot.
"Oourrraaaaaaa...." jawabku sambil menekan omongannya dan melotot ke arah Surya.
"Hahahahahahassuuuu..."
"Nggak jelas loh kalian berdua ini. Kayak orang Jepang aja," kata Lia.
"Yang nggak jelas itu Sandi ya... masa tiba-tiba ngomong kita naik gunung piye..? Gunung siapa..? Gunung yang jaga warung ini..?" kata Surya sambil melirik ibu pemilik warung yang sedang menaruh kopi di lesehan di depan kami dengan posisi menunduk — sehingga belahan buah dadanya yang besar kelihatan jelas dari tempat duduk kami.
"Uuaassuuu... besar cuuoookk.." kata Yuda yang melotot sambil melongo melihat susu pemilik warung yang seperti mau tumpah.
"Bajingan... iku susune iso gede koyok ngono diapakne ae iku yo.." (bajingan... itu susunya bisa besar gitu diapain aja itu ya..) kata Aldo yang ikut melongo.
"Bagaimana nggak besar, Do... tiap hari diperas buat campuran kopi susu yang kalian minum di sini," kataku cuek.
"Uasssuuu... susu murni to yang dipakai untuk campuran ini... bisa nggak kalau kopinya murni aja, terus susunya nyedot sendiri.." kata Surya.
"Bisa, Sur... bisa dibacok kamu sama suaminya," kata Yuda.
"Assuuu..."
"Hahahahahaha..." kami semua tertawa, kecuali Lia. Dia menatap kami dengan mata memerah dan kupingnya mengeluarkan asap. (Lebay to..)
"Kamu semua mau netek sama susu yang asli.." kata Lia dengan sinisnya.
"Mau... mau... mau... mau..." kami berempat menyahut dengan wajah super mesum.
"Ayo kekandang beruang! Kalian netek situ, langsung dari sumbernya... sampe ndower kalau perlu.." kata Lia sambil melotot.
"Assuuuu... sadis kamu ya'.." Kami berempat langsung terdiam dengar si ratu sadis ini berbicara.
("Ayayayayaya... masih mau kamu... ayayayayaya.." Alfa menyahut dari langit.)
("Bajingan... diammm kauuu.." kata kami berempat berbarengan.)
("Ayayayayaya... kompak sekali suuu... ayayayayaya.." kata Alfa.)
"Ampun ya'... kita nggak bahas susu lagi kok," kata Yuda.
"Jadi gimana tawaranku tadi... mau nggak naik kita ke gunung..?" tanyaku.
"Ini serius... nggak bercanda lagi..?" kata Lia sambil menatapku.
"Seriuslah," ucapku.
"Gunung apa, San.." Tanya Aldo.
"Mahameru... dataran tertinggi di pulau ini," kataku sambil menunjuk gunung yang ada di depan kami.
Teman-teman pun menoleh, lalu memandang keindahan dan kemegahan Mahameru. Dari tatapan mereka terlihat jelas ketakjuban dengan dataran tertinggi di pulau ini.
"Aku ikut... walaupun pernah sekali ke sana. Tempat itu membuat orang yang pernah ke sana pasti ingin balik lagi. Tapi saranku kita ke Ranu Kumbolo aja dulu... kalau kuat dan kondisi memungkinkan, baru kita naik lagi ke puncak Mahameru," kata Aldo sambil memandang Mahameru dan tersenyum senang.
"Aku nggak mau ketinggalan," kata Surya sambil meratakan jari-jarinya lalu meletakkannya di kedua alisnya seperti orang yang sedang hormat.
"Cuukkk... aku dari kecil nggak pernah naik ke gunung. Sekali-sekali mau naik... langsung ke puncak tertinggi di pulau ini. Ayoo.." kata Yuda sambil menghisap rokoknya.
"Salah satu tempat yang menantang untuk dijelajahi... dan aku sangat senang dengan tantangan," kata Lia sambil memandang lurus ke arah Mahameru.
"KAPAN..???" mereka berempat bertanya kepadaku serempak.
"Akhir minggu ini gimana..? Hari Jumat kan tanggal merah, jadi Kamis kita bolos kuliah. Gimana teman-teman..?"
"Siiappp.." jawab mereka serempak.
"Oke... kita catat perlengkapan apa aja yang dibawa ke sana," ucapku.
Teman-teman pun mengeluarkan buku dari tas masing-masing, lalu mencatat keperluan yang kami bawa.
"Untuk peralatan pribadi... sepatu trekking, sandal, kaos lengan panjang, kaos kaki, topi, jaket, tas ransel, jas hujan, sleeping bag, matras, senter... untuk peralatan kelompok, tenda dan alat masak... kira-kira ini dulu yang ada di kepala aku. Ada yang mau ditambahin..?" kataku.
"Kelihatannya cukup itu, San. Jangan terlalu banyak membawa bawaan... malah susah nanti kalau di jalan. Oh iya, aku ada tenda untuk empat orang... jadi aku bawa itu. Tapi itu kurang kalau buat kita... perlu satu tenda lagi," kata Aldo.
"Ada penyewaan nggak, Do, buat tenda..?" tanyaku.
"Ada... di dekat rumahku."
"Ya udah, Do, kita sewa aja... ntar aku yang bayar," kata Lia.
"Baik betul sih kamu ini ya'... udah baik... cantik lagi," kata Yuda mulai merayu.
"Udah deh... nggak usah mulai... kuketek nanti bijimu," kata Lia sambil melirik Yuda.
"Asssuuu... belum diketek aja langsung ngilu... ampun ya'... ampun.." kata Yuda.
"Hahahahahaha... masih mau kau anak muda," kata Surya tertawa.
"Hahahahahaha..." kami pun tertawa bersama.
"Oh iya, Do... kalau peralatan masak gimana..? Kita kan anak kos... jadi nggak mungkin bawa. Kalau sewa, ada juga nggak di tempat penyewaan tenda itu.." kataku.
"Ada... tapi nggak usah nyewa... ntar aku bawa dari rumah," kata Aldo.
"Baik betul sih kamu itu, Do... udah baik, ganteng lagi," kata Lia yang mulai merayu Aldo.
"Udah deh... nggak usah mulai... ntar kucium kamu ya'.." kata Aldo membalikkan kata-kata Lia ke Yuda barusan.
"Kalau kuwakilkan Surya aja gimana, Do..? Hehehehe.." kata Lia sambil tersenyum.
"Wuuueeekkk... bisa keracunan aku ya'... bajingan.." kata Aldo.
"Assu kamu, Do... dikira aku king cobra apa... kok kamu bisa sampai keracunan.." kata Surya meringis.
"Cuukkkk... cacing aja ngaku ular cobra kamu, Sur... hahahahaha.." kata Yuda sambil tertawa.
"Iiiihhhh... berarti kecil sangat dong... hahahahaha," kata Lia sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bajingan! Kamu semua beraninya main keroyokan... kalau berani satu-persatu.." kata Surya sambil menyeruput kopi susunya yang mulai dingin.
"Hahahahahaha... cacingnya bisa nyeruput kopi... hahahaha.." kata Yuda tertawa puas.
"Uaasssuu kau, kau anak muda.."
"Hahahahahaha..."
"Sudah ah... lanjut lagi... terus gimana-gimana kelanjutannya.." kata Lia mengajak kami fokus lagi.
"Kalau makanan dan minuman kita bawa sendiri-sendiri... nanti di sana baru kita gabung gimana..?" kata Yuda.
"Bisa juga," kataku.
"Oke... setelah ini ada dua hari kita untuk persiapan perjalanan kita yang menantang. Persiapkan barang kalian masing-masing dan barang kelompok kita. Kita kumpulkan di rumah Aldo... jadi kita bisa mengecek kekurangannya di sana bersama. Masalah berangkatnya, aku usul dari rumah Aldo aja sebagai titik kumpul. Gimana, Do, bersedia nggak..?" kataku sambil menatap Aldo.
"Pintu rumahku selalu terbuka untuk anggota power ranger," kata Aldo.
"Teman-teman setuju.."
"SIAPPPP.." kata mereka kompak.
"Go... go... power ranger.." teriak kami bersama.
"Hahahahahaha..."
"Udah... udah... lanjut lagi. Dua hari ini persiapkan juga fisik kita... banyak-banyak istirahat dan kalau bisa lari pagi atau jalan santai lah. Walaupun singkat persiapannya, paling nggak bisa merenggangkan otot supaya nggak kaku dibuat jalan," kataku.
"Kalau kami sih bisa... kalau kamu itu loh... mabuk terus sampai pagi... setiap hari lagi," kata Lia sambil menatapku tajam.
"Hehehehehe... iya ya'.." kataku sambil menggaruk kepala.
"Oh ya, saran dari Aldo tadi bagus juga... kita ke Ranu Kumbolo aja dulu. Kita lihat kondisi kita di sana nanti... karena kita semua baru pertama kali akan ke sana, kecuali Aldo tentunya. Jangan memaksakan untuk ke puncak Mahameru kalau nggak sanggup," kataku sambil meminum es teh.
"Jadi, siap kita berpetualang.." tanyaku kepada teman-teman sambil mengarahkan tangan kiriku ke tengah dan disambut teman-teman untuk melakukan tos.
"SIAPA KITA..." ucapku berteriak.
"POWER RANGER.. HAAAA.." teriak teman-teman bersama-sama, diakhiri dengan hentakan tangan kiri ke bawah. Orang-orang di sekeliling kami yang melihat itu cuma geleng-geleng kepala.
"HAHAHAHAHAHA..." kami pun tertawa bareng, dan setelah itu kami bubar untuk persiapan perjalanan yang menantang.
---
Hari petualangan ke Mahameru
Setelah dua hari kemarin persiapan dan telah mengumpulkan sebagian barang ke rumah Aldo, hari ini kami berkumpul di rumah Aldo untuk memulai petualangan mendaki puncak Mahameru.
Kami semua membawa tas yang lumayan besar. Isi tas Lia sebagian ditaruh di dalam tasku — kasian kalau dia yang bawa sendiri.
Setelah berdoa dan berpamitan dengan kedua orang tua Aldo, dan juga Mas Bendu yang kebetulan ada di rumah, kami berlima pun menuju terminal naik angkutan kota. Setelah itu kami mencari angkutan kota lagi menuju Pasar Tumpang. Dari pasar ini kami sempat belanja beberapa keperluan bahan makanan untuk kita di sana nanti.
Di pasar ini, tujuan kami selanjutnya adalah ke desa Ranu Pane. Banyak sekali angkutan menuju ke desa Ranu Pane dari sini — sewa jeep, sepeda motor, atau truk. Akhirnya kami sepakat untuk menyewa jeep.
"Dari mana ini, Mas.." kata sopir jeep menyapa kami di dalam mobilnya.
"Kami kuliah di kota sebelah, Om," kataku.
"Oooo... kalian nggak butuh pendamping kah selama perjalanan..? Kebetulan ada temanku yang menyediakan jasa untuk penunjuk arah," kata sopir itu.
"Kita lihat nanti aja, Om... soalnya aku sudah pernah naik sekali ke sana," kata Aldo.
"Siap," kata sopir itu.
Perjalanan kami ke desa Ranu Pane disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa. Mahameru yang gagah menjulang ke angkasa sangat terlihat indah dan menawan.
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di desa Ranu Pane. Di sinilah basecamp tempat berkumpulnya para pendaki dan tempat pendataan yang mau naik ke puncak Mahameru. Fasilitas di sini lumayan lengkap — warung, musala, dan tempat istirahat disediakan di desa Ranu Pane. Kami pun turun, dan sebelum melakukan pendaftaran, kami mencari warung untuk istirahat sekalian makan siang. Setelah makan, kami mengobrol santai sambil mengecek perlengkapan dan mengencangkan tas kami.
"Oh ya, teman-teman, aku ingatkan sekali lagi... perjalanan ini yang pertama bagi kita bersama-sama untuk menjelajahi puncak Mahameru. Tapi kita lihat nanti aja... kalau kuat, lanjut. Kalau nggak kuat, cukup sampai Ranu Kumbolo saja."
"Selama perjalanan, jangan ada yang memaksakan berjalan kalau memang sudah nggak kuat. Kita santai aja... kita nikmati perjalanan ini. Kalau salah satu capek, ya semua istirahat. Kalau nggak kuat, ya nggak usah lanjut. Kita cari pos terdekat lalu istirahat. Kalau memang mau kembali, ya kembali aja... jangan ada kata malu. Tujuan kita bukan puncak Mahameru. Tujuan kita adalah bersenang-senang dan supaya kita semua bisa lebih menyatu dan melepas semua kejenuhan rutinitas kampus...."
"Kalau kita bisa sampai puncak Mahameru, itu cuma bonus dari kebersamaan kita. Kita berangkat berlima... naik berlima... kalau ke puncak pun berlima, dan balik ke kampus pun kita harus berlima," kataku.
PROKK... PROKK... PROKK... PROKK...
Teman-temanku bertepuk tangan semua sambil menatapku kagum. Assuuu... lebay banget kata-katanya.
"Luar biasa sekali kau, Ranger Merah. Aku bangga padamu," kata Yuda yang sok diplomatis.
"Aku setuju denganmu," kata Surya.
"Aku manut tok pokoke," kata Aldo.
"Aku jangan dijadikan beban ya buat kalian... aku akan berusaha semampuku," kata Lia.
"Yang penting itu kebersamaan," kata Aldo.
"Siiiaaapppp.." kami menyahut bareng.
Setelah istirahat dan makan siang, aku menghabiskan teh hangat, lalu mengajak teman-teman untuk mendaftar ke pos pendaftaran. Sekarang kami telah berkumpul dengan beberapa kelompok pendaki lainnya untuk melakukan briefing dari petugas dan SAR.
"Piye, rek... wes siap kabeh..?" (gimana, teman-teman... sudah siap semua..?) kata Aldo.
"Siap.." kami menyahut berbarengan.
Setelah mengikuti briefing, kami bersiap untuk perjalanan. Tujuan pertama kami adalah Ranu Kumbolo. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar empat sampai enam jam... tapi sebelum sampai di sana, kami harus melewati beberapa pos untuk mencapai Ranu Kumbolo.
Kami sekarang mulai berjalan ke arah Pos Satu Landeng Dowo. Kelompok kami tidak berjalan sendiri — di depan kami tampak beberapa kelompok juga baru memulai perjalanan. Jalanan pertama yang kami lalui melewati rumah-rumah penduduk... setelah itu kami sampai pada gapura.
Selamat datang para pendaki gunung Semeru
Tulisan di gerbang yang menyambut kami. Kami sempatkan berfoto-foto di gerbang selamat datang. Teman-teman tampak senang dalam awal perjalanan ini. Kami masih menyelingi dengan bercanda. Setelah masuk gapura, kami disambut jalan yang agak mendaki.
"Semangat oi... semangat.." teriak-teriak Yuda.
"SIAPA KITA.." teriak Surya.
"POWER RANGER.." kami menyahut bersama. Beberapa kelompok di depan menoleh sambil tersenyum mendengar teriakan kami.
Medan dari Ranu Pane menuju Pos Satu tidak terlalu sulit... hanya beberapa tanjakan yang membuat napas agak berat. Aku sempat melirik Lia — tampak butiran keringat turun dari kening wanita cantik ini. Walaupun berpeluh keringat, itu tidak mengurangi wajah ayunya... dan senyumnya yang mengambang dari bibir tipisnya membuat hatiku tambah berdesir. Aku lihat teman-teman juga semangat dan tidak banyak yang mengeluh. Kami berjalan santai sambil menikmati indahnya alam yang berbukit dan perkebunan. Puncak Mahameru pun terlihat selama kami berjalan.
Setelah sampai di Pos Satu Landeng Dowo, kami beristirahat sebentar sambil meminum teh kotak dan menikmati sebatang rokok. Keringat bercucuran dari tubuh tidak mengurangi semangat kami. Lumayan juga perjalanan ini untuk pemula seperti kami — kami menempuhnya sekitar dua jam.
"Bagaimana, lanjut jalannya..?" kataku.
"Sek talah, rek... tak tarik napas sek... rokokku loh durung entek... ga sakno aku ta.." (sebentar dulu... aku tarik napas dulu... rokokku loh belum habis... nggak kasihan aku kah..?) kata Surya memelas.
"Nggak usah dimelas-melas gitu wajahmu, Sur... udah jelek, tambah jelek tau," kata Yuda.
"Assuuu... kau anak muda.." sahut Surya.
"Woi... lambene rek... dijogo iki nde alas... Tuman.." (woi... mulutnya... dijaga... ini di hutan, Tuman..) kata Aldo.
"Biarin, Do... ntar kalau ada yang lewat, biar disentil mulutnya," kataku.
"Woi... woi... aku bercanda aja... jangan bikin takut.." kata Surya.
"Hahahaha... jagalah bicaramu, kisanak.." kata Yuda.
"Iyo... iyo... rek.." kata Surya.
"Ayo sudah... mumpung masih sore," kata Aldo.
"Siap.."
Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos Dua Watu Rejeng. Kami mulai masuk kawasan hutan. Jalannya sama seperti tadi... ada tanjakan tapi nggak seberapa, kami masih sanggup untuk melewatinya. Beban tas di pundak mulai terasa. Kami berjalan kira-kira satu setengah jam, baru sampai di Pos Watu Rejeng. Di sini suhu mulai terasa dingin. Sambil beristirahat, kami semua mengambil jaket dari tas masing-masing.
"Bagaimana... masih kuat..?" tanyaku.
"Masih.." jawab teman-teman sambil tersenyum.
"SIAPA KITA.."
"POWER RANGER.."
Kami pun melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo... dan hari pun sudah mulai gelap.
"Hati-hati... waspada dan saling mengingatkan ya.." ucapku.
Jalanan mulai menyempit dan dipenuhi akar-akar pohon yang menjalar tak tentu arah. Kami mengeluarkan senter, sinar kekuningannya menjadi satu-satunya penunjuk jalan di kegelapan malam yang kian pekat. Hawa dingin gunung merambat masuk ke balik jaket, menemani langkah kami yang kian berat. Tidak banyak suara yang keluar dari teman-teman — mungkin mereka sedang menghemat tenaga, atau sekadar larut dalam pikiran masing-masing.
Setelah dua setengah jam berjalan, akhirnya kami tiba di Ranu Kumbolo. Hamparan danau yang sangat luas itu terbentang di depan kami, indah dan tenang, disambut deretan perbukitan yang siluetnya menjulang dalam gelap. Lampu-lampu tenda dan nyala api unggun para pendaki yang tiba lebih dulu berkelap-kelip di kejauhan, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
Setelah beristirahat sebentar dan menghabiskan sebatang rokok, kami mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku dan Aldo mendirikan tenda, Surya dan Yuda pergi mencari kayu bakar, sedangkan Lia memasak air untuk minuman hangat dan merebus mie untuk makan malam kami.
Begitu semuanya selesai, kami makan bersama. Dingin malam ini terasa menusuk sampai ke dalam tulang. Kami duduk melingkar di depan tenda, mengecup teh hangat sambil dikelilingi api unggun yang bergetar hangat. Di depan kami, bayangan bulan memantul di permukaan danau — bulan dan bintang terlihat begitu terang malam ini. Indah sekali malam di Ranu Kumbolo.
"Piye rek... sanggup ta munggah?" (Gimana teman-teman, sanggup kah naik ke atas?) tanya Aldo.
"Siap!" kami menyahut bersama.
"Oke, kalau gitu kita istirahat sekarang. Besok perjalanan akan lebih berat dan lebih menantang," kataku sambil memasukkan tangan ke ketiak supaya hangat.
"Iyo, aku tak turu disek," kata Surya, berdiri lalu pergi, diikuti Aldo dan Yuda.
"Ya', tidur gih. Biar besok kuat jalannya," kataku.
"Aku tidur sendiri ya, Pur," kata Lia.
"Ya iyalah. Masa mau jadi satu? Kayak ketan nanti kalau ngumpul," ucapku. Lia berdiri, dan sebelum melangkah ke tendanya—
CUUPPP!
Sebuah kecupan ringan mendarat di bibirku. Aku terdiam, terbengong menatapnya.
"Terima kasih untuk hari yang indah ini," ucapnya, lalu berjalan ke tendanya tanpa menoleh.
Aku menenggak tehku yang sudah dingin sekaligus, mengambil rokok lalu membakarnya. Suasana kini sunyi dan tenang. Hanya terdengar suara beberapa orang yang masih belum tidur di tenda sebelah, sementara tenda-tenda lain sudah gelap gulita. Aku memandang bulan di atas sana yang bersinar penuh, seolah tak peduli pada siapa pun.
"Woiii... bulan... kamu nggak capek ya selama ini sendiri? Aku yang dua tahun aja sepi dan hampa. Masa kamu nggak?" ucapku sambil menatap bulan.
"Kalau sudah jatuh cinta itu pasti gila ya?" suara seorang makhluk yang selalu mendatangiku seenaknya dan pergi sesukanya.
"Behhh... kamu itu siapa sih? Datang nggak diundang, pulang nggak diantar," ucapku.
"Assuuu... kamu kira aku jailangkung kah?"
"Kan emang gitu kenyataannya."
"Cuukkk... sudahlah, nggak usah dibahas. Jadi gimana? Sudah mulai jatuh cinta lagi?"
"Nggak tau... tapi aku selalu deg-degan kalau dekat sama dia."
"Ya berarti kamu jatuh cinta sama dia."
"Mungkin."
"Ngaca."
"Assuuu... maksudmu gimana?"
"Ya kamu itu ngaca dulu. Pantes nggak dapat dia."
"Bajingan! Kukira kamu datang mau kasih semangat, taunya malah menghinaku. Pergi aja kamu, daripada kukencing!"
"Hahahahaha... memang kalau orang jomblo itu sadis dan kasar ya. Bawaannya emosi melulu."
"Jancoookkk kau!"
"Hahahahaha... siapkan hatimu, anak muda. Perjalanan cintamu masih panjang dan berliku."
"Maksudnya?"
"Pikir aja sendiri, dan nikmati hidupmu."
"Maksudnya gimana sih?" tanyaku. Tidak ada jawaban lagi.
"Assuuu... bikin tambah pusing aja. Mending aku tidur aja."
Aku melangkah ke tenda. Ternyata di dalam sudah penuh oleh Surya, Aldo, dan Yuda yang terguling tak karuan. Kuambil sleeping bag-ku, lalu aku bergerak ke tenda Lia.
Kubuka tendanya perlahan. Lia sudah tertidur pulas. Kubaringkan diri di sampingnya. Letih yang menumpuk sepanjang perjalanan membuat kelopak mataku seakan ditimbun batu. Samar-samar, kurasakan ada tangan yang memelukku dari samping. Lia... Antara sadar dan tidak, antara kenyataan dan mimpi, membiarkan saja. Malam ini biarlah.
Aku memaksakan mataku ini terbuka. Kelihatannya sudah terang benderang di luar. Aku melirik jam: 06.30. Assuuu, masih pagi sekali ini. Di sisiku, Lia sudah tidak ada. Karena mataku masih sangat berat, kulanjutkan tidurku.
CUUPPP!
Sebuah kecupan ringan lagi-lagi mendarat di bibirku, membangunkanku dari tidur. Seorang wanita cantik duduk di depanku, kedua lututnya menumpu di tanah, menatapku dengan senyum manisnya.
Adalia Adriana Agatha... mau nggak kamu jadi pacarku... ucapku dalam hati. Cuukkk.
"Kamu dari tadi dibangunin susah betul, Pur. Kayak kebo aja tidurnya. Padahal di luar udaranya segar, dan sunrise di antara perbukitan itu luar biasa indah. Ayo cepat bangun!" kata Lia.
Aku hanya bisa memandang dan mendengar dia berbicara. Kamu memang cantik, Ya...
"Woii, malah melamun! Cepat bangun! Kalau enggak, kusiram teh panas nih!" ucapnya sambil melotot.
Cuukkk, cepat betul berubahnya ekspresi wajahnya. Dari lembut langsung jadi garang. Uasssuuu...
"Iya, Ya'. Iya!" Aku langsung merangkak keluar dari tenda.
Kulihat tiga sahabatku duduk santai menikmati teh hangat sambil mengisap rokok.
"Cuukkk... enak'e uripmu rek. Isuk-isuk wes jagongan, ngeteh ambe rokokan," (enaknya hidupmu, bro. Pagi-pagi sudah nongkrong, ngeteh sama rokokan,) ucapku pada mereka.
"Wuueannak to! Kene kok!" (Enak dong! Coba sini!) kata Surya sambil menepuk-nepuk dadanya.
Aku langsung duduk di antara mereka, dan begitu tanganku hendak meraih teh Surya, dia langsung mencegah.
"Ehhh... enak aja. Minta sama tuan putri sana," kata Surya.
"Wuanncoookkk... medite koen!" (Wuanncoookkk... pelit banget kamu!) kataku.
"Surya dilawan. Coba kalau dia lagi ee', kamu minta ee'nya. Pasti ee'nya langsung ditarik lagi terus dimasukkan ke dalam pantatnya itu. Hahahahahaha..." Yuda memulai pagi ini dengan mem-bully Surya.
"Cuuukkk... emang bisa gitu?" kata Surya.
"Bisa kalau kamu," jawab Yuda dan Aldo bersamaan.
"Hahahahaha... assuuu..." kataku sambil menggeleng-geleng.
"Pur... ini tehmu," kata Lia sambil menyodorkan segelas teh panas padaku.
"Asyyiiikkk! Terima kasih, tuan putri yang cantik dan baik hati," kataku sambil tersenyum padanya.
"Ellehhh... giliran dikasih teh aja, manis betul ngomongnya," sahut Lia.
"Kapan sih aku pernah ngomong kasar sama kamu, Ya'? Aku kan rajin, baik hati, rela menolong, dan suka menabung," kataku.
"Nabung sperma..." Surya menyeletuk.
"Aasssuuu..." kataku.
"Hahahahaha!"
Kucium aroma teh ini... sungguh aroma kenikmatan yang tidak ada duanya. Kuseruput perlahan teh buatan Lia sambil memandang wajah cantik dan senyum manisnya. Hmmmm... nikmatnya berlimpah sampai ke otakku. Rasa manis tehnya pas — semanis yang membuatnya, semanis senyum di wajahnya. Pas, tidak berlebihan.
"Nikmat banget, Ya'. Terima kasih ya," ucapku tulus dari hati yang terdalam.
"Iya... apa sih yang nggak buat kamu, Pur?" ucap Lia sambil tersenyum malu.
"Cintamu aja yang belum kamu kasih buat aku, Ya'..." kataku, menggombal wanita cantik ini.
"Assuuu..."
"Jancoookkk..."
"Bajingan..."
Satu per satu sahabatku memakiku sambil tersenyum. Lia pun terunduk malu.
"Kita dari kemarin-kemarin merangkai kata buat Lia nggak mempan. Giliran pujangga bajingan satu ini sekali aja berucap, langsung merah wajahnya Lia. Asssuuu..." kata Surya memakiku.
"Makanya punya wajah itu gantengan dikit, Sur. Biar seimbang antara kata-kata indah sama wajahmu," kata Yuda.
"Jancoookkk... emang aku jelek sekali ya?" kata Surya.
"Nggak jelek sekali sih... tapi berkali-kali. Hahaha..." kata Aldo ikut menindak.
"Bajingan kamu semua!" kata Surya sambil tersenyum pahit.
"Hahahahahaha..." kami tertawa bersama.
Aku senang dengan sahabat-sahabatku ini. Candaan mereka tidak pernah tersimpan di hati — semuanya tumpah begitu saja, didasari persahabatan dan persaudaraan yang kuat.
Aku menghisap rokokku dalam-dalam sambil memandang hamparan danau di depan kami, begitu indah dengan pantulan biru langit dan bayang-bayang perbukitan di seberangnya.
"Ini sarapannya," kata Lia, membawa dua piring nasi beserta mie campur telur. Menu sederhana yang paling nikmat disantap di pagi yang cerah begini. Surya, Aldo, dan Yuda langsung berdiri mengambil bagiannya masing-masing di depan tenda.
"Habis ini kita bongkar tenda ya. Jam sepuluh kita naik lagi ke Kalimati. Kita bergeser ke sana dan bangun tenda di sana," ucap Aldo.
"Ntar persiapannya sebelum berangkat jangan lupa: pakai kaos lengan panjang, bertopi, pakai masker kalau ada. Kalau nggak ada, pakai kaos aja untuk nutupin leher dan wajah kalian. Soalnya perjalanan selanjutnya panas banget dan berdebu."
"Siappp!"
"Eh, jangan lupa cari air untuk bekal perjalanan. Air dari bawah yang kita bawa sudah menipis," kata Lia.
"Oke, ntar aku yang cari ya. Aku tau tempatnya," kata Aldo.
"Iya. Aku mau bersihin sisa masakan sama piring kalian," kata Lia.
"Aku, Surya, sama Yuda beresin tenda," kataku.
Setelah selesai sarapan, kami sibuk dengan bagian kami masing-masing.
Tepat jam sepuluh, kami sudah siap dengan bawaan masing-masing. Sebelum berjalan, kami berdoa — semoga perjalanan kami aman dan lancar.
"Kenalin nih, tanjakan cinta yang begitu melegenda," kata Aldo sambil menunjuk sebuah tanjakan yang lumayan tinggi — hamparan tanjakan dikelilingi pohon pinus dan rumput liar.
Kami memandangnya dengan rasa kagum.
"Kalian tau mitos yang ada di tanjakan cinta ini? Konon katanya, barang siapa yang bisa mendakinya sambil memikirkan orang yang ingin dia jadikan pasangan hidupnya tanpa menoleh ke belakang... harapannya bisa menjadi kenyataan. Terserah kalian percaya atau tidak. Silahkan buktikan sendiri," kata Aldo sambil menghempaskan rokoknya.
"Beneran, Kamu Do? Ayo Sur, kita jalan!" kata Yuda sambil menarik tangan Surya.
"Jangan pegang-pegang! Ntar kamu mikirin aku lagi, terus kita bisa jadi pasangan dan hidup bersama. Kan assuu kalau gitu!" kata Surya sambil menepis tangan Yuda.
"Bajingan! Siapa yang mikirin kamu! Aku mau mikirin Cut Tari aja — artis yang sedang naik daun itu. Semoga aku bisa melihat dalamannya yang katanya seksi banget," kata Yuda sambil tersenyum mesum.
"Assuuu!" kata Surya.
"Kita tunggu di atas, yang ada pohon pinusnya itu ya, San. Aku mau konsentrasi jalannya," kata Yuda kepadaku sambil menunjuk pohon di atas bukit. Mereka berdua pun berjalan mendahului kami bertiga.
"Ayo jalan. Tapi santai aja, nggak usah buru-buru," kataku pada Lia dan Aldo.
Aku berjalan beriringan dengan Lia, sedangkan Aldo berjalan di belakang kami. Bertiga, kami berjalan tanpa suara. Diam, masing-masing larut dalam pikirannya. Aku terpikir omongan Aldo tadi tentang mitos tanjakan ini... Dan tiba-tiba terbayang wanita di sebelahku ini. Terlintas di kepalaku: bagaimana kalau dia menerima cintaku dan memelukku dengan mesra? Ah... mungkinkah itu jadi kenyataan? Aku nggak tau. Aku nikmati saja perjalanan cintaku ini. Kulirik dia — dia juga sedang memikirkan sesuatu, dan tersenyum manis.
"Woiii... pemandangan danaunya kelihatan tambah bagus dari sini!" teriak Surya yang sudah beristirahat di bawah pohon.
Kami pun berhenti sejenak di tengah tanjakan dan menoleh ke belakang untuk melihat apa yang dikatakan Surya. Memang indah sih danau itu dari sini...
"Bajingan kau, Sur!" kata Aldo sambil memaki.
"Loh, kenapa, Do?" kata Lia.
"Buyar semua yang aku khayalkan..." Aldo menggerutu sambil berjalan melewati kami berdua.
Aku menatap Lia, dan dia juga menatapku. Ada sedikit guratan kekecewaan yang kulihat di wajahnya. Aku pun tersadar. Cuukk... berarti khayalanku buyar juga! Assuu...
"Jalan lagi yo, Pur..." kata Lia sambil menunduk.
"Ayo, Ya'..." kataku sambil menarik tangannya dan menggenggam jemarinya. Tidak ada penolakan dari dia. Sebenarnya dag-dig-dug juga aku tadi waktu menggenggam tangannya — takut dia menolak, terus nonjok wajah gantengku ini.
"Mungkin cuma mitos, Ya'. Jadi nggak usah dipikirin," kataku membuka pembicaraan.
"Emang kenapa?" kata Lia sambil melihatku.
"Sudahlah... aku tau kamu pasti tadi berpikir sesuatu tentang masa depanmu, kan?" kataku mencoba menebak isi pikirannya.
"Sok tau..."
"Hehehehehe..."
Selanjutnya kami tetap berjalan dan bergandengan tangan, tanpa suara, sampai tiba di puncak tanjakan cinta. Kulihat mereka bertiga sedang berdebat tentang perjalanan barusan.
"Istirahat sebentar ya, Pur," kata Lia sambil melepaskan genggamannya dan duduk di sebelah Aldo.
"Buyar semua... buyar... gara-gara Surya, hilang semua khayalan," gerutu Aldo.
"Lah, siapa suruh kamu noleh ke belakang! Aku kan cuma reflek bilang pemandangan danaunya bagus kalau dari atas. Nggak nyuruh kamu noleh! Kalau aku seumpama tadi teriak, 'Woii, coba kencing dari situ! Enak loh, airnya bisa mengalir sampai jauh...' — opo kamu mau mau buka celana terus kencing di situ?" kata Surya, lalu menenggak air dari botolnya.
"Hahahaha... assuu... bajingan kamu, Sur!" kata Aldo sambil geleng-geleng. Ya begitulah kami — masalah selesai di tempat dengan candaan.
"Gimana, sudah siap jalan lagi?" ucapku.
"SIAPPP!" jawab mereka serempak.
"SIAPA KITA?!" teriakku dengan semangat.
"POWER RANGER!" mereka menyahut bersama. Beberapa kelompok di depan dan belakang kami menoleh sambil tersenyum mendengar teriakan kami. Assuu... nggilani yo... hahahahaha!
Kami pun berjalan lagi menyusuri lereng bukit yang ditumbuhi pohon pinus. Setelah itu kami disambut hamparan yang sangat luas, ditumbuhi ilalang yang menguning. Suasana cerah ini menambah cantiknya surga Semeru — hamparan kuning menyatu dengan deretan pohon pinus di seberang sana, dan tampak puncak Mahameru yang begitu gagah, dihiasi sedikit awan di tengahnya dan langit biru yang sangat cerah di atasnya. Kami telah sampai di Oro-Oro Ombo. Kami mengabadikan perjalanan kami ini dengan berfoto bersama — untung kami membawa tustel dan beberapa rol film cadangan.
Perjalanan kami lanjutkan dengan membelah hamparan kuning itu. Matahari serasa menempel di kepala. Untunglah jalannya mendatar — kalau sampai menanjak di cuaca seterik ini, mungkin kami sudah menyerah. Kami sempat berhenti sebentar sekadar untuk minum, lalu berjalan beriringan kembali menuju Cemoro Kandang. Beberapa kelompok lain tampak melakukan hal yang sama.
Kini kami melewati jalan setapak yang berdebu dan agak menanjak. Di sekeliling kami semak belukar menghampar luas dengan beberapa pohon yang mengering. Jalannya agak terjal, kami pun lebih berhati-hati dalam melangkah. Kami berhenti untuk istirahat sebentar. Wajah lelah tercetak di para sahabatku, dan keringat deras membasahi tubuh kami.
"Gimana, masih kuat?" tanyaku sambil mengatur napas.
"Masih..." jawab mereka, yang juga sedang mengatur napas.
"Ya', kamu nggak pa-pa?" tanyaku, melihat Lia yang sudah merah wajahnya akibat panas yang menyengat.
"Nggak pa-pa... masih kuat. Tapi istirahat dulu ya. Nggak pa-pa kan?" kata Lia sambil menyeka keringat dari wajahnya.
"Santai aja. Ingat, nggak usah buru-buru. Satu capek, semua istirahat. Satu nggak kuat, semua harus balik. Gimana?" tanyaku pada teman-teman. Tidak ada jawaban — mereka hanya mengangkat jempol, tanda setuju.
"Siapa kita?" tanyaku dengan suara yang juga kelelahan.
"Power Ranger..." jawab mereka lemas.
Assuuu... hahahahahaha!
Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, kami akhirnya sampai di Kalimati. Kami disambut hamparan luas yang dikelilingi rumput liar, dengan beberapa tenda yang sudah berdiri di sana-sini.
"Istirahat sebentar ya, baru kita bangun tenda."
Setelah beristirahat, kami pun mendirikan tenda dan bersantai sambil menunggu masakan Surya. Kali ini dia yang memasak, karena Lia kelihatan sangat lelah.
"Setelah ini kita beristirahat. Manfaatkan waktu sebaik mungkin, karena jam sembilan nanti malam kita berjalan lagi menuju puncak Mahameru," kata Aldo.
Tepat jam sembilan malam, kami bersiap lagi untuk perjalanan yang lebih menegangkan.
"Gimana, siap sudah?" tanyaku.
"Siap!" mereka menyahut.
"Jalur kali ini lebih berbahaya. Jalannya sempit, berbatu, dan berpasir, serta ada jurang di kanan kirinya. Tanjakannya sangat curam. Kita jalan beriringan dan harus sering istirahat untuk menghemat tenaga. Udara juga menipis, jadi kita harus sering atur napas. Jangan ada yang melamun — tetap fokus. Sekali lagi aku ingatkan, perkataan Sandi: kalau salah satu nggak kuat, cepat ngomong, jadi kita cepat balik. Jangan memaksakan diri. Ingat ya," kata Aldo sambil menekan suaranya.
"Oh iya, tinggalkan semua barang yang tidak perlu di sini. Taruh aja di dalam tenda. Bawa yang seperlunya aja."
"Siap!"
Setelah berdoa, kami berjalan beriringan, bersama kelompok-kelompok lain yang juga mendaki malam ini. Benar saja kata Aldo. Setelah perjalanan yang cukup panjang, kami disambut sebuah tanjakan yang sangat curam — kalau menurutku, ini bukan lagi mendaki, tapi merayap. Jalan berbatu dengan jurang di kanan-kiri. Inilah Lereng Arcopodo. Kami semua fokus dan saling mengawasi satu sama lain.
"Pur... tunggu aku..." Lia menggenggam tanganku dengan erat, lalu kami berjalan lagi.
"Masih kuat, Ya'?" tanyaku sambil terus melangkah. Lia hanya mengangguk. Sesekali dia hampir terpeleset, tapi selalu kutahan. Sampai pada satu titik, Lia melepaskan genggamanku.
"Ntar aku duduk sebentar ya," kata Lia.
"Hati-hati, Ya'. Di sebelahmu jurang," kataku.
Dan ketika dia hendak duduk, kaki kanannya salah mengambil pijakan... dan terpeleset ke arah jurang di sebelah kanan!
"PURNAMAAAAAA!" teriak Lia yang limbung ke belakang.
"LIAAAAAAA!" teriak kami bersamaan.
Cuukkk... nggak bisa ngomong apa-apa di lereng Mahameru ini...