EPISODE 24
BAGIAN 24
MAHAMERU 2
Adalia Adriana Agatha
Aku menoleh sekilas ke arah kanan. Pemandangan itu membuat bulu kudukku berdiri — jurang yang terjal, gelap, menelan semua yang jatuh ke dalamnya.
Ketika Lia hendak duduk, kaki kanannya salah mengambil pijakan dan terpeleset ke arah jurang di sisi kanan.
"PURNAMAAAAAA…!" teriak Lia, tubuhnya limbung ke belakang.
"LIAAAAAAA…!" teriak kami bersamaan.
"AAAAAAA……" Tubuh Lia bergelayutan di tepi jurang. Dengan refleks yang bahkan tak kupikirkan, aku meraih tangan kirinya yang melambai liar saat ia limbung. Kedua lututku terhentak keras ke bebatuan saat menahan beratnya. Aku menahan sekuat tenaga — lalu Surya memeluk pinggangku dari belakang, mencegah tubuhku tersedot ke dalam jurang. Yuda langsung mencengkeram kerah jaket tebal Surya, dan Aldo yang melihat itu menarik tubuh Yuda ke belakang. Satu rantai tubuh yang saling bertaut, di ujungnya hidup seorang gadis.
Posisi Lia sekarang menjuntai di bawah lereng. Tangan kirinya dalam cengkeramanku, sedangkan tangan kanannya dan seluruh tubuhnya menggantung di kekosongan.
Aku mencoba menarik tangan kirinya.
"SAKIT PUR… SAKITTTT…!" jerit Lia. Cuukk… rasanya harus aku tarik dengan dua tangan. Kalau hanya satu, dia pasti kesakitan.
"YA'! ANGKAT TANGAN KANANMU YA'… ANGKATTT… PEGANG TANGAN KIRIKU INI!" kataku sambil menjulurkan tangan kiriku. Lia mencoba mengangkat tangan kanannya, tapi tenaganya sudah habis.
"GA BISA SAN… AKU GA KUAT… TOLONG AKU SAN…!" Lia berteriak dan meronta, matanya berkaca-kaca penuh ketakutan.
"Ya' tenang ya… tenang. Jangan panik. Jangan banyak gerak dulu. Aku pasti bisa narik kamu — percaya sama aku, ya'. Sekarang angkat tangan kananmu ke atas, pelan-pelan…" Aku mencoba menenangkannya, padahal di dalam dada ini panikku meluap-luap tak keruan.
"Ga bisa, San… ga bisa… aku ga kuat angkat tangan kananku… hikss… hikss…" Lia terlihat lemas, tangisnya mulai pecah.
"KAMU PASTI BISA LIA! ANGKAT PELAN TANGANMU! AYO, YA'!" Surya berteriak sambil menahan pinggangku sekuat tenaga.
"ANGKAT YA'! ANGKAT TANGAN KANANMU! PLIS YA'! KAMU PASTI BISA!" teriak Yuda yang masih mencengkeram kerah jaket Surya.
"JANGAN CENGENG KAMU YA'! ANGKAT TANGANMU!" Aldo membentak dengan mata menyala.
Dengan sisa tenaga yang dikumpulkan dari entah mana, Lia mengangkat tangan kanannya — meraih tangan kiriku — dan aku mencoba menggapainya.
"Sedikit lagi ya'… terus… angkat terus…" kataku.
"AYO YA'! ANGKAT TANGANMU!" Aldo membentak lagi.
Dengan bersusah payah, akhirnya jemari Lia berhasil menyentuh jemariku. Aku langsung mencengkeramnya, memastikan kedua tangan Lia sekarang terkunci erat dalam genggamanku.
"Ya', jangan banyak gerak ya. Sekarang aku tarik pelan-pelan."
"Rek, tarik pelan-pelan ya," kataku kepada teman-teman di belakangku.
"Iya, San. Hitung ya, biar kita sama-sama geraknya," kata Aldo.
"Oke."
"SATU!" aku berteriak sambil menarik Lia ke atas, dan teman-temanku saling menarik dalam satu tarikan bersama.
"DUA!" Tubuh Lia mulai naik.
"TIGAAA!" Aku menarik sekuat tenaga — dan tepat pada saat itu kaki Lia menemukan pijakan di dinding jurang. Ia menghentakkan tubuhnya ke atas sementara aku menariknya, dan di belakangku mereka menarikku dengan seluruh sisa tenaga.
Lia terangkat — dan tubuhnya menabrak tubuhku yang terdorong mundur. Kami sama-sama jatuh terjungkal ke belakang, dan teman-temanku ikut terseret mundur. Sekarang Lia sedang menindih tubuhku. Mata kami saling bertatapan, dekat sekali, terengah-engah. Lalu Lia menunduk, menempelkan keningnya ke dadaku, dan menangis sejadi-jadinya. Aku memeluknya erat-erat.
"Maaf ya'… maaf… aku tadi biarin kamu duduk di pinggir jurang… maaf ya… maaf banget…" kataku sambil mengelus rambutnya dengan tangan yang masih gemetar. Teman-temanku duduk melingkari kami tanpa bersuara.
"Aku yang ceroboh, Pur… aku ga dengarin kata-katamu tadi… hikss… hikss…" Lia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke mataku.
"Sudahlah. Gimana? Kamu ga pa-pa ya'?"
"Aku ga pa-pa, Pur… cuman kaget aja…"
"Iya, sudah kalau ga pa-pa. Yang penting kamu sekarang aman," ucapku sambil mengecup keningnya.
"Jangan lepasin aku lagi, Pur… aku takut… hiks… hiks…" bisik Lia.
"Iya, ya'… iya. Aku janji ga akan melepas pegangan lagi. Sekarang tenang ya… jangan nangis lagi…" Aku membersihkan air matanya dengan kedua jempolku.
Kami saling menatap. Diam-diam. Lalu tiba-tiba—
CUUUPPPP…
Ia mengecup bibirku, pelan dan bergetar.
"Terima kasih ya…" katanya sambil terisak. Aku hanya mengangguk pelan, mengelus rambutnya.
"Wes rek… ga tangi ta… hehe…?" (sudah, bro… ga bangun kah… hehe…?) Aldo duduk tersenyum di samping kami.
Aku dan Lia sama-sama tersentak.
"Kene seng deg-deg kan ket mau kok… de'e malah penak ambung-ambungan, cuukk…" (kita yang deg-degan dari tadi, dia malah enak-enakan ciuman, cuukk…) Surya ngedumel sambil membetulkan posisi duduk.
"Dianggapnya kita kecoa kali ya di sebelahnya ini," kata Yuda datar.
"Maaf… maaf…" Lia buru-buru duduk di depanku, wajah memerah.
"Sepurane rek… (maaf, bro…) terbawa emosi barusan," kataku yang juga buru-buru duduk bersila.
PROOKK… PROOKK… PROOKK…
Kelompok-kelompok pendaki yang menyaksikan kejadian barusan bertepuk tangan.
"Cuukk… tepuk tangan aja bisanya. Coba bantuin tadi…" gumam Surya sambil melambaikan tangan ke arah mereka, anggun seperti finalis miss world.
"Santai, Sur. Paling mereka ga kuat turun bantuin kita. Yang penting Lia sudah selamat," kata Yuda yang ikut-ikutan melambaikan tangan seperti Surya.
"Kamu berdua itu lagi ikut pemilihan putra terngaceng kah? Kok pake melambai ke arah kelompok lain?" cibir Aldo.
"Assuuu…" kata Surya dan Yuda kompak.
"Woi! Mulutnya! Di gunung ini jaga bicaranya!" tegasku.
"Upsss…" Mereka berdua buru-buru menutup mulut.
Sekarang kami duduk berlima melingkar di pinggir tebing. Dari bawah, banyak kelompok naik melewati kami sambil tersenyum dan mengacungkan jempol.
"Terima kasih ya… terima kasih teman-teman…" kata Lia sambil menatap kami bergantian.
"Apasih, ya'. Jangan gitu lah. Kita ini sudah seperti saudara, jadi jangan ngomong gitu," kata Yuda.
"Iya, ya'. Santai aja. Yang penting kamu selamat," kata Surya.
"Ya', maaf ya aku bentak kamu barusan," ucap Aldo.
"Aku yang harusnya minta maaf, Do. Maaf ya…" Lia menjawab dengan mata berkaca-kaca lagi.
"Sudah ya', sudah. Jangan diperpanjang. Jadi ini gimana teman-teman…? Kita turun aja…?" tanya Aldo.
Surya dan Yuda menunduk, tidak menjawab.
"Nggak. Aku ga mau turun," kata Lia — membuat kami semua kaget.
"Tapi kelihatannya kamu sudah ga kuat, ya'," kata Aldo.
"Aku ga apa-apa. Aku minta maaf sama kalian semua… karena kecerobohanku barusan. Tapi aku mohon… jangan turun," kata Lia.
"Apa sih, ya'? Kenapa minta maaf lagi? Kan sudah dibilang kita satu keluarga di sini. Ga ada itu permintaan maaf," kataku.
"Iya… tapi gara-gara aku kalian semua jadi repot barusan…"
"Repot apasih. Bener kata Sandi, kamu itu keluarga kami. Jadi jangan ngomong gitu lagi ya," kata Aldo agak meninggikan suara.
"Iya… nggak… nggak… tapi aku mohon kita lanjut ya. Aku masih kuat naik kok…" Lia memelas.
"Jadi gimana…?" tanyaku pada teman-teman.
"Iya sudah, kalau gitu kita coba sampai Cemoro Tunggal. Kalau di sana sudah ga mampu, baru kita turun," kata Aldo. Yuda dan Surya hanya diam.
"Tergantung kesepakatan aja. Kalau semua mau, kita jalan," ucapku.
Kutatap mereka satu per satu, dan mereka hanya menangguk.
"Oke, kita naik. Tapi kita coba seperti yang diomongin Aldo — jangan memaksakan diri ya," kataku.
"Ntar dulu. Sebelum kita jalan, aku mau nanya sesuatu sama Lia," kata Surya.
"Apa, Sur? Tanya aja," kata Lia.
"Heemm… anu, ya'…"
"Anumu kenapa? Mengkerut kah? Hihihihi…" Lia tertawa — tawa pertamanya setelah kejadian mengerikan tadi.
"Cuukkk… kalau itu ya pasti, ya'. Siapa yang ga mengkerut lihat kejadian barusan. Tapi bukan itu yang kutanyakan," kata Surya.
"Jiahh… terus apa?" tanya Lia lagi.
"Anu, ya'… kenapa Sandi aja yang dikecup? Aku sama yang lain ga dikecup juga kah… hehehe…" Surya menggaruk-garuk kepalanya.
"Mau dikecup juga?" Lia menyeringai.
"MAUUU…" kata mereka bertiga kompak.
"Tadi kan yang pegang aku Purnama, jadi dia yang kukecup. Nah, Purnama yang pegang Surya — jadi Purnama yang kecup Surya. Surya kecup Yuda. Nahhh… Yuda dikecup Aldo. Enakkan kecup-kecupannya? Hehehehe…" Lia tertawa lepas.
"ASSSUUUUU…" mereka bertiga kompak memaki.
"Lambene rek… lambene…" (mulutmu, bro…) tegasku.
"Uppsssss…" Mereka bertiga langsung menutup mulut masing-masing.
"Ga adil ini… ga adil. Padahal kita tadi deg-degan juga. Bukan cuman Sandi aja yang deg-degan," kata Surya sambil menggeleng.
"Kamu kalau ga bisa diam, kukecup loh, Sur…" aku memajukan bibirku ke arahnya.
"Wegaaaahhh… (malessss…)" Surya memundurkan wajahnya sejauh mungkin.
"Ini loh, masih ada rasa bibir Lia…" kataku sambil menjilat bibirku dengan mesra.
"Ga oleh meso! Ga oleh meso! Bajingan!" Surya mengelus dadanya.
"Hahahahahaha…"
"Kita naik yo. Ntar terlambat kita sampai atas," kata Aldo.
"Yooo…" jawab kami berbarengan.
"Ntar dulu. Semoga ini kejadian terakhir ya. Jadi setelah ini kita harus lebih fokus — jangan sampai hilang konsentrasi. Saling mengingatkan dan saling jaga. Oke?" kataku.
"SIAP!" Mereka berdiri bersama-sama.
Dan ketika aku mau berdiri—
KRETEKKK…
"Aduuhhhh…" Aku mengerang kesakitan. Tempurung lututku menyala — mungkin karena hentakan ke bawah yang mengenai batu waktu menahan Lia tadi.
"Kenapa, San?" tanya Aldo.
"Kamu ga pa-pa, Pur?" tanya Lia.
"Engga… mungkin keram aja," jawabku berbohong sambil mengelus lututku.
"Kuat ga kamu jalan?" tanya Surya.
"Kalau ga kuat, kita turun aja, Pur," kata Yuda.
"Nggak apa-apa. Kita lanjut aja." Aku ga mau mengecewakan Lia yang memohon untuk lanjut. Aku memaksakan diri berdiri.
"Beneran ga pa-pa?" tanya Aldo lagi.
"Ga pa-pa. Paling ntar dibuat jalan, hilang sendiri keramnya," kataku. "Ayo sudah, jalan…" Aku melangkah agak tertatih.
Lia langsung menggenggam tanganku. Diikuti teman-teman yang lain.
"Kamu beneran ga pa-pa, Pur?" tanya Lia lagi.
"Ga pa-pa. Cerewet betul loh ini…" kataku sambil menggenggam erat tangannya. Kali ini, walaupun lututku sakit, aku ga akan melepas pegangan ini. Aku ga mau terjadi apa-apa dengan Lia lagi.
Kami berjalan beriringan. Sering istirahat. Untungnya persediaan air kami cukup banyak, jadi ga perlu khawatir kehabisan. Ketika mulai berjalan lagi, kami saling tarik-menarik untuk membantu satu sama lain — lebih waspada, lebih fokus. Kami tidak terlalu banyak bicara. Hanya berjalan, beristirahat, minum — lalu berjalan lagi. Perjalanan ini berat sekali. Tapi di sini kami membuktikan bahwa persahabatan kami masih bisa bertahan, tanpa ada perdebatan yang mengganggu selama perjalanan. Tampak wajah-wajah tegang dan kelelahan dari para sahabatku.
"Tetap fokus ya teman-teman. Sebentar lagi kita sampai di Cemara Tunggal. Kita istirahat aja di sana," kata Aldo.
Lagi-lagi ga ada suara yang menjawab — hanya acungan jempol.
"Masih kuat, ya'…" aku berbisik kepada Lia yang sudah bermandikan keringat.
"Lanjut aja. Masih sanggup aku," kata Lia sambil mengatur napasnya.
Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya kami sampai di Cemara Tunggal. Banyak pendaki beristirahat di sini sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Mahameru. Kami pun beristirahat sambil meluruskan kaki.
Daerah Cemara Tunggal adalah batas vegetasi. Setelah ini, tidak ada lagi tumbuhan di atas sana. Selepas titik ini kami akan melewati medan berpasir yang cukup menyulitkan pendakian — pasirnya labil, dan bebatuannya mudah merosot ke bawah. Begitu penjelasan waktu di pos pendaftaran.
Setelah beristirahat cukup lama, satu per satu pendaki mulai naik untuk melanjutkan perjalanan. Tapi tak sedikit juga yang berbalik arah turun ke bawah — karena sudah mencapai titik maksimal ketahanan tubuh mereka.
Aku dan Aldo saling melirik. Kalau mengikuti yang kurasakan, sepertinya hanya kami berdua yang masih sanggup melanjutkan — walaupun dengan kondisi lututku yang begini. Tapi sekali lagi, kami ga mau memaksakan kehendak. Aku mengedipkan mata ke Aldo, menyuruhnya bicara dengan teman-teman.
"Gimana? Masih sanggup?" kata Aldo.
Semua terdiam. Tidak ada yang menjawab. Semua dilanda lelah yang luar biasa. Terbesit di wajah teman-temanku keinginan untuk menyerah — tapi mereka malu mengatakannya.
"Sudahlah… jangan malu. Kalau memang ga kuat, cukup sampai di sini aja. Dan ini pencapaian yang sangat luar biasa bagiku — dan tentunya bagi kalian," ucapku. Sedikit kecewa sih mengatakan ini. Sebenarnya aku masih ingin mendaki ke puncak. Tapi melihat Lia, Surya, dan Yuda yang sudah kelelahan, aku ga mungkin memaksa mereka. Memang itu sudah kesepakatan yang kusampaikan sebelum mendaki.
"Gila… gilaaa… ini perjalanan yang saaaangat melelahkan dan sangat menegangkan. Bohong kalau dibilang aku sangat kuat. Di hatiku ini ada perasaan menyerah — perasaan yang menyuruhku turun ke bawah. Perasaan ini sudah kurasakan setelah kaki mati, dan di tepi jurang yang mungkin merenggut nyawaku. Tapi justru karena kejadian terperosok tadi… aku melihat semangat, saling mendukung, dan saling tolong-menolong dari kalian yang sangat luar biasa. Dengan semangat kebersamaan ini aku justru kuat, dan aku pasti bisa bertahan. Aku bertekad mencapai puncak. Kutepiskan semua perintah hatiku. Tidak ada penyesalan sedikit pun aku berdiri di sini. Yang ada rasa bersyukur dan bangga bisa bersama kalian. Aku bangga bisa berdiri di sini… dengan sahabat-sahabat terbaik yang dikirimkan Sang Pencipta padaku." Ucapan Lia mengalir begitu mendalam.
Kami semua terdiam mendengarnya. Memang aku merasa dia agak terdiam setelah kejadian di jurang tadi. Tapi sekarang dia berbicara — pelan, dan sangat menyentuh bagi kami semua.
Lia tiba-tiba berdiri.
"Aku mau lanjut. Aku mau berdiri di puncak saat matahari terbit, dan menikmati keindahan di atas sana. Gimana kalian…? Kalau menyerah ya ga pa-pa, kita balik," kata Lia.
Akupun berdiri. Tangan kiriku kuarahkan ke tengah.
"Aku, Sandi… siap melanjutkan perjalanan ini."
"Adalia Adriana Agatha… SIAP!" Lia menyambut tanganku.
"Aldo… SIAP!" kata Aldo sambil berdiri dengan gagah.
"Yuda… SIAP!" kata Yuda sambil tersenyum.
"Surya… SIAP!" kata Surya sambil membusungkan dada.
"SIAPA KITAAA…?!"
"POWER RANGER… HAAAA!" Kami berteriak bersemangat, melakukan tos bersama membentuk lingkaran, diakhiri hentakan tangan kiri yang menyatu ke bawah disertai teriakan. Semangat kami benar-benar menggelora. Kami tidak peduli orang-orang di sekitar yang menatap kami.
Dan kami pun memulai lagi perjalanan dengan semangat di dada.
"Semangat yo semangat rek… tapi ingat, jangan buru-buru. Kemeng sekel iki rek… (capek kaki ini, bro…) hehehehe…" kata Surya sambil tersenyum, dan kami pun semua tersenyum.
Kami baru sadar — saking semangatnya, kami terburu-buru jalannya. Akhirnya kami berjalan santai lagi. Ini adalah rute paling berat: dalam kondisi kelelahan dan menahan kantuk, kami harus berjalan di medan berpasir yang sangat menyulitkan pendakian — pasirnya labil, bebatuannya mudah merosot ke bawah. Setiap dua langkah naik diiringi satu langkah turun. Energi kami benar-benar terkuras. Tidak terhitung berapa kali kami harus berhenti sejenak untuk duduk. Medan yang begitu melelahkan… bekal kami menipis, dan air semakin terkikis.
"Ayo rek… semangat! Dikit lagi kita sampai di puncak Mahameru! SEMANGAAATT…" teriak Aldo sambil melangkahkan kakinya yang gemetar. Kakinya telah menginjak tanah di titik tertinggi. Dan ia mengulurkan tangannya kepadaku.
Kulihat ke timur sana — langit mulai berubah warna, perlahan terang.
Tangan kananku menggenggam tangan Aldo yang menarikku ke atas… dan tangan kiriku mencengkeram erat tangan Lia.
Akhirnya kakiku menginjak tanah tertinggi pulau ini. Mahameru. Aku menarik tangan Lia, lalu menyambar tangan Yuda dan Surya, memaksa mereka berdiri berjajar di sampingku dan Aldo. Kami berangkat berlima, mendaki berlima, dan kini berdiri di sini berlima. Ada perasaan luar biasa menggelegar di dada. Kami diam sejenak, tak ada yang mampu bersuara. Hanya mata-mata berkaca-kaca yang berbicara—senang, bangga, dan haru melebur menjadi satu dalam air mata.
Inilah Mahameru. Anugerah terindah dari Sang Pencipta. Puncak tertinggi di pulau ini dengan sejuta pesona. Negeri para dewa. Istana di atas awan.
"INI MAHAMERU REK.. INI MAHAMERU!" teriak Aldo sambil terisak.
Kami berpelukan dan menangis bersama. Perjuangan yang begitu berat dan melelahkan akhirnya terbayar tuntas di puncak ini. Kami bersujud syukur—karena dengan izin-Nya lah kami bisa berdiri di tempat ini.
Aku berdiri, mengarahkan tangan kiriku ke depan. Teman-teman menyambutnya.
"SIAPA KITAAA..?"
"POWER RANGER.. HAAAA!" jawab kami dengan semangat menggelora.
"HAHAHAHAHAHA!" Kami tertawa bahagia.
Setelah itu kami berpelukan satu per satu sebagai ungkapan terima kasih karena sudah saling mendukung dan saling menjaga. Aldo, Surya, Yuda—aku peluk bergantian. Lia yang terakhir, dan dia menyambutku dengan pelukan sangat erat. Dia menangis bahagia dalam dekapan itu. Lalu kami saling menatap.
"Terima kasih ya, kamu sudah mengajakku ke sini," katanya dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba—
MUUAAHH.. CUUPP.. MUUAAHHH.
Lia melumat bibirku. Aku kaget dan membeku. Teman-teman pun terdiam, tak ada yang bersuara—hingga akhirnya mereka membuang muka, pura-pura sibuk menatap keindahan sekeliling. Aku mengeratkan pelukanku dan membalas lumatan itu. Bibir kami menyatu, disaksikan alam semesta. Napas dan embun saling bertukar di dalam mulut kami. Nikmatnya dan nikmatku bersatu di Mahameru.
Beberapa saat kemudian kami mengakhiri ciuman indah itu. Tak ada kata-kata. Hanya mata yang beradu.
Setelah meredakan gejolak bahagia itu, kami mengabadikan momen mengharukan ini dengan kamera. Lalu kami berjejer memandang ke arah timur. Langit berubah jingga—pertanda sang matahari akan menampakkan diri. Lia berdiri di sisi kiriku, memegang erat lenganku. Perlahan namun pasti, matahari menampakkan wujudnya. Sungguh indah tak terkira. Aku tak tahu lagi, bahagia ini karena melihat matahari terbit, atau karena ada Lia yang menggandeng lenganku erat di sisiku.
"Kita jadian yu..." bisikku pada Lia sambil menatapnya dari samping.
Lia menoleh.
CUUPP.
Lagi-lagi dia mengecup bibirku. Setelah itu kami saling menatap. Tidak ada jawaban. Dia hanya tersenyum manis, dan tangannya mendorong pelan pipiku. Asssuuu...
---
Di pinggir Ranu Kumbolo.
Tempat yang luar biasa. Hamparan air luas, bersih dan jernih, dikawal perbukitan menjulang ke angkasa, dilindungi langit biru nan menawan. Ranu Kumbolo—tak ada kata indah yang mampu melukiskan keindahannya.
Kini aku duduk sendiri di tepi danau. Para sahabatku masih tertidur, dilanda lelah setelah perjalanan menguras tenaga dan emosi di Mahameru kemarin. Karena kelelahan itu—dan karena ingin menikmati suasana puncak lebih lama—kami memutuskan menginap semalam lagi di Ranu Kumbolo. Ditemani rokok putihanku, aku memandang lurus ke depan, mengagumi karya Sang Penguasa Alam. Tempat yang tepat untuk mencurahkan hati yang gundah gulana karena cinta.
Sebentar lagi matahari akan menyinari. Kemarin aku ketiduran dan melewatkan sunrise. Hari ini aku sengaja menunggunya. Aku tak mau lagi kehilangan momen indah itu.
Tiba-tiba Lia duduk di sampingku. Dia membawa segelas teh panas dan menyerahkannya padaku.
"Nih Pur, minum mumpung masih panas. Supaya menghangatkan dirimu," katanya. Tangan kanannya meraih lengan kiriku, kepalanya bersandar di pundakku. Buah dadanya menempel erat di siku. Cuukk empuk. Bajingan. Hawa sedingin ini malah ditempeli beginian.
"Terima kasih ya, Ya'..." ucapku, lalu menyeruput teh itu perlahan.
"Bagi dong. Tapi kamu yang pegang gelasnya," pinta Lia dengan manjanya. Aku mengarahkan gelas ke bibir tipisnya. Lia menegakkan kepala, menyeruput pelan, lalu kembali bersandar di pundakku. Kami bergantian menikmati segelas teh panas itu.
Melihat sunrise di tempat seindah ini, ditemani segelas teh panas, seorang wanita yang kucintai, dan rokok putihan yang mengepul menyatu dengan kabut dingin. Apa tidak lengkap hidupmu, Cuukkk? Nikmat mana lagi yang mau diingkari dari Sang Pencipta...
Kami diam, menikmati momen itu. Tak lama, yang ditunggu-tunggu muncul dan menyinari tempat ini.
"Terima kasih ya, Pur..." kata Lia, tetap memandang ke depan, tetap bersandar di pundakku.
"Berapa kali sudah kamu ucapkan itu, Ya'?"
"Ribuan kali aku ucapkan pun belum tentu mampu membalas semuanya, Pur."
"Cuukkk.. ngomong apa kamu, Ya'..?"
CUUPP.
Lia mengecup pipi kiriku, lalu bersandar lagi di pundakku.
"Kamu cuma bisa buat aku melayang tinggi, Ya'.. dan kamu cuma melihat, tanpa kamu pegang. Kamu mau aku tersesat di perasaan ini kah..?" tanyaku sambil menghisap rokokku dalam-dalam.
Lagi-lagi Lia hanya tersenyum dan tidak menjawab. Asssuuu... maunya apa sih wanita di sisi belahku ini..?
("Bang..")
("APA..!!!!..")
("Behhh.. sangarnya bang. Nyantai aja dong jawabnya..")
("DIAM KAMU..!!!")
("Loh, kok tambah marah sih..?")
("TIDUR SANA..!!!")
("Apa sih bang, kok marah-marah? Aku tuh cuma kasih tau. Benerin dulu badanku, miring ini. Nyelip kepalaku, sakit tau. Asssuuu..")
("Oh.. maaf, Go, maaf. Aku ga sadar kamu bangun terus miring. Kirain kamu mau ngerayu aku minta yang enak-enak..")
("Taik kamu itu bang. Otakmu kotor betul. Bersihin dulu kepalamu sama air Ranu Kumbolo, siapa tau habis itu langsung jernih otakmu..")
("Hehehehe.. maaf, Go, maaf. Kok sekarang kamu yang marah..?")
("Asssu kamu, bang..")
"Ntar ya', Ya'..." Aku langsung duduk tegak, dan Lia pun menegakkan duduknya. Aku meraih porsnelingku dan menegakkan ke posisi netral.
"Sempat-sempatnya kamu mikir mesum, Pur.. Pur..." kata Lia sambil mendorong pelan kepalaku.
"Maaf, Ya'. Hawanya dingin sih.." jawabku.
"Alasan aja kamu itu. Mesum ya mesum aja, ga usah nyalahin hawa yang dingin." Lia meraih tangan kiriku dan menyandarkan kepalanya di pundakku lagi. Nenennya lagi-lagi menggesek siku. Asssuuu.. enak tau..
"Sudah tau aku lagi tegang maksimal gini, masih aja ditempelin tuh nenen.." ucapku ceplas-ceplos.
"Biarin. Biar kehabisan nafas itu yang di bawah. Biar ga tuman.." jawab Lia cuek.
("Asssuuu.. sadis betul dia, bang. Entup dulu sekali dia, bang..")
("Cuukkk.. bajingan kamu, Go.. HAHAHAHAHAHA..")
"Cuukkk.. sadis kamu, Ya'. Senang betul kamu nyiksa aku. Cukup kamu siksa perasaanku aja ya'. Fisikku jangan disiksa juga..." kataku.
Lagi-lagi dia diam dan ga mau menjawab. Kan asssuu banget kalau gitu..
"Ya'..." panggilku pelan sambil menatap ke depan.
"Jangan kamu ganggu momen bahagiaku ini, Pur. Aku lagi menikmati pemandangan indah Ranu Kumbolo yang disinari matahari, dengan pemilik bahu yang kuat yang kusandari ini. Dia selalu melindungiku dan menyayangiku sepenuh hatinya..." jawab Lia sambil merapatkan pegangannya di pundakku—nenennya ikut bergesek di siku.
Asssuuu.. ga jawabnya.. assuuu banget pastinya. Dia menyanjungku tinggi-tinggi, habis itu dibiarkan. Apa ga jatuh terhempas aku..? Juaanncukk tenan.. hiuuffftttt...
Matahari mulai menampakkan wujudnya secara utuh. Dia menyinari alam indah ini dengan kebahagiaannya—berbanding terbalik dengan perasaanku yang menggantung entah ke mana. Aku harus mengakhiri semuanya dengan jelas di tempat ini.
"Kita jadian yu..." bisikku pada Lia.
Lia menatapku, tersenyum manis, lalu—
CUUPP.
Lagi-lagi dia mengecup bibirku.
("Senang..") mahluk itu datang dan bersuara.
("Pastilah..")
("Terus..")
("Bingunglah..")
("Kenapa..")
("Jawabannya cuukkkk.. JAWABANNYA..")
("Jangan emosi dong. Katanya cinta..")
("Cinta sih cinta, tapi jangan digantung gini dong..")
("Cinta kan butuh perjuangan dan pengorbanan..")
("Iya, tapi ga pake ngecup terus juga kali. Kan aku jadi mengharap lebih tentang perasaanku..")
("Jadi nyesel kamu dikecup..")
("Ya ngga juga..")
("Senang..")
("Pastilah..")
("Terus..")
("Bingunglah..")
("Kenapa..")
("Jawabannya cuukkkk.. jawabannya.. Kalau mau ngecup ntar aja di kosan. Mau ngecup sampe ndower kulayanin. Asssuuu.. muter aja terus pertanyaanmu, bajingan..")
("HAHAHAHAHAHA.. Nikmatilah perasaanmu saat ini, anak muda. Mencintai sewajarnya aja dan membenci seperlunya. Jangan berlebihan. Ntar kamu bingung menentukan jalanmu..")
("Maksudnya gimana..?")
("Pikirlah pake otakmu, jangan pake bijimu..")
("JIAANNCOOOKK... ASSSUU.. ASSSUUU..")
("HAHAHAHAHAHA.. Pergi dulu ya..")
("Mau ke mana kamu? Kita belum selesai! Bajingan! WOIII..")
---
Lia memandangku, mendekatkan wajahnya, lalu memegang kedua pipiku.
"Kita sahabatan aja ya..." katanya pelan.
CUUPP.
Dia mengecup bibirku, lalu berdiri dan meninggalkan aku yang plonga-plongo seorang diri.
Apa perlu aku memaki lagi? Ga usahlah. Aku sudah capek. Energy terkuras habis, otakku kosong, badanku lemas seketika. Aku memandang lurus ke depan, menatap pantulan matahari di Ranu Kumbolo.
("Woi.. Matahari.. Kenapa sinar kebahagiaanmu ga kamu sinarkan ke tubuhku..")
("Bahagia itu relatif, anak muda. Tergantung yang menikmati aja. Merokok kalau dinikmati itu sudah kebahagiaan tersendiri loh. Kalau cuma asal sebel-sebel.. wong gendeng yo iso..")
("Asssuuu.. terus aku harus gimana..?")
("Mikirlah pakai otakmu, jangan pakai bijimu..")
("JIAMMPUUTT.. kamu juga ngece aku! Bajingan kau..")
("HAHAHAHAHAHA.. Enak yo ndelok wong jatuh cinta seng digantung iku. Gobloke iku loh kok iso nambah..")
("ASSSUUUU..")
("HAHAHAHAHAHA..")
Matahari bersinar terang, seolah menertawakan penderitaanku pagi ini.
"Woiii.. enak betul hidupmu, San. Pagi-pagi duduk di pinggir danau sambil ngeteh plus rokokan.." kata Yuda yang duduk di sisi kananku, lalu mengambil bungkus rokokku dan membakarnya satu batang.
Aku cuma tersenyum sambil mengisap rokokku dalam-dalam. Tak lama, Aldo dan Surya bergabung dengan kami.
"Gimana kondisi semua..?" tanyaku.
"Lumayan kemeng cuukkk.." jawab Surya.
"Tapi memuaskan.." kata Yuda sambil menghisap rokoknya.
"Gimana perjalanannya menurutmu, Do? Berat yang bagian mana.." tanyaku pada Aldo.
"Semua sama berat. Tapi yang paling berat dan menantang ya waktu turun. Zone Blank 75 momok paling menakutkan bagi para pendaki yang mau turun dari Mahameru.." kata Aldo.
("Zone Blank 75 adalah zona tengkorak atau zona kematian yang terdapat di pinggir jalur dari Arcopodo menuju puncak Mahameru. Zona ini adalah jurang yang sangat dalam. Dinamakan '75' karena kedalamannya mencapai 75 meter. Zone Blank 75 banyak menelan korban..") suara Zordon menggema dari atas gunung.
("Asssuuu.. kamu sudah tau to..? Kok ga cerita dari kemarin..?")
("Lah koen ga takon teelll..") jawab Zordon.
("Ya harusnya kan kamu ngingatin kita sebelum perjalanan kemarin, don..")
("Yo salahmu dewe cuukkk. Koen keminter seh, ga gelem takon disek, asal munggah ae..") ucap Zordon.
("Assuii.. kene ket, mau takone apik-apaik, lapo koen mblayer ae mbalese? Njaluk di uyui ta don..?")
("Lambemu lek ngomong cek penak'e. Njaluk ditungkak karo Alfa ta? Mulutmu kalau ngomong kok enak betul..")
("Nggak don.. guyon aku.. hehehehehe..")
("ASSSUUU..")
"Untung kita kemarin turunnya pelan-pelan, ga buru-buru. Soalnya pengaruh capek ini luar biasa loh. Kita ga bisa bedain mana jalan waktu naik sama waktu turun. Konsentrasi sudah menurun drastis.." ucap Yuda.
"Pengalaman ini luar biasa, San. Terima kasih ya. Idemu yang buat kita ke sini. Jadi ada cerita buat anak cucuku kelak.." kali ini Surya yang berbicara.
"Cuukkk.. ide tanpa realisasi itu percuma. Yang jelas aku sekarang cuma bisa bersyukur. Itu aja. Di perjalanan ini aku diajarkan arti kebersamaan dan persahabatan. Dengan segala rintangan yang ada, kita bisa melewatinya bersama sampai ke puncak. Pokoknya jalan bareng kalian itu luar biasa. Sepertinya setelah ini kita perlu merencanakan perjalanan ke lain tempat. Gimana..?" kataku.
"Siap cukkk! Tapi ngomong-ngomong, kemarin itu waktu di Cemoro Tunggal aku sudah ga kuat lagi loh. Di pikiranku cuma ada kata 'mau turun' aja. Aku sudah mau ngomong sama kalian, tapi keduluan tuan putri yang sadis itu bicara. Luar biasa memang dia. Aku langsung semangat meraih puncak.." ucap Yuda.
"Aku juga sama loh sama kamu, Yud. Udah mau nyerah aja. Tapi karena semangat dari tuan putri yang sadis itu dan kebersamaan dari kalian, kubuang kata-kata menyerah itu. Yang ada kata naik sampai ke puncak.." kata Surya dengan semangat.
"Iyo cuukkk.. memang luar biasa kata-katanya tuan putri itu.." Aldo ikut-ikutan mendukung Lia.
"Tapi ngomong-ngomong, enak ga bibir tuan putri yang sadis itu, San..?" kata Surya sambil berbisik.
"ASSSUUUU.. kamu pengen rasain kah, Sur? Ini loh, bekasnya masih ada di bibirku.." kataku sambil memajukan bibirku ke wajah Surya.
"Bajingan kau, San! Emang aku hom-hom apa, kok mau kamu sosor? ASSSUUU.." Surya memundurkan wajah.
"HAHAHAHAHAHA.. Alasan aja itu, San. Sebenarnya nafsu juga Surya sama kamu, San.." Yuda tertawa dan mengejek Surya.
"Ayo lah, Sur. Dikit aja ga apa-apa kok. Pucuknya aja wes.." kataku.
"ASSSUUU.. bajingan! Biadab kau anak muda! HAHAHAHAHA.." Surya tertawa.
"WOIII.. kamu berempat gosipin aku ya..?" tiba-tiba Lia menyahut dari depan tenda.
"Nggak lah! Siapa yang berani sama tuan putri yang sadis kayak kamu, Ya'.." kata Surya.
"Kamu bilang aku sadis? Mau kucampurin racun kah pop mie ini? Biar bijimu semua tekeluar waktu jalan.." kata Lia dengan sadisnya.
"Jangan, Ya'! AMPUUUNNN.." jawab kami serempak sambil memegang biji masing-masing.
"ASSSUUU.. punya Surya aja ya', Ya', yang kamu campurin. Kasian dia kebesaran biji. Masa cacing bawa telur puyuh. Kasian kan! HAHAHAHAHAHA.." kata Yuda.
"Biadab kamu, Yud! Ampun ya', kamu ga sadis kok. Kamu baik hati dan penyayang.." Surya memelas.
"Alasan aja, Ya'. Masa Surya tadi bilang Lia itu sudah cerewet, sadis lagi.." Aldo mengompori Lia.
"JIAMMPUTT.. kapan aku ngomong ngono cukkk? Seneng koen aku dike'i racun terus endok ku nggelundung nde jalan? ASSSUU.." kata Surya.
"HAHAHAHAHAHA.."
"Diam aja sudah kamu, Sur. Kamu kalau ngomong sama kentut ga ada bedanya. Sama-sama bau.." kata Lia pura-pura marah.
"CUUKKK.. kalau itu kamu bener-bener sadis. Masa mulutku disamain sama bokong? ASSSUUU.."
"HAHAHAHAHAHAHA.." dan akhirnya kami berlima tertawa bersama.
"Ayo sudah sarapan. Tapi pakai pop mie aja ya, berasnya habis. Ntar kita makan di Ranu Pane aja. Gimana..?"
"Siap, tuan putri.." jawab kami kompak. Setelah itu kami masuk ke tenda dan sarapan pop mie bersama.
Setelah sarapan, kami membereskan perlengkapan dan bersiap turun kembali ke kota.
Terima kasih, Mahameru. Terima kasih kepada Sang Pencipta. Terima kasih karena kami diizinkan menginjakkan kaki di tempat indah ini.
Cuukkk.. turun dari puncak gunung dengan cinta yang tergantung atau cinta yang terbalas..? Bajingan..