←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 25 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 25
BAGIAN 25 ADA APA DENGANMU..? Adalia Adriana Agatha Hari itu kami berempat berkumpul di kantin kampus — minus Lia yang belum terlihat batang hidungnya. Teh dan kopi menghangatkan genggaman kami, sambil menunggu jadwal kuliah dimulai. Badan masih terasa remuk-remuk bekas pendakian ke puncak Mahameru kemarin, tapi semangat untuk kuliah tetap menyala. "Cuukkk... badanku masih pegel semua rasanya..." keluh Yuda sambil merentangkan tangannya. "Iya yud, aku juga. Coba kalau di kotaku, pasti udah dipijitin ibuku," jawabku sambil merutuk pinggarku yang kayak dikeroyok. "Kalau aku capek, yang mijitin mas Dadang, tetanggaku di rumah sana," kata Yuda lagi. "Kalau aku mah, langsung ke panti pijet di kotaku," sahut Surya. "Panti pijat itu tempat kayak gimana sih, Sur?" tanyaku polos. "Ya buat pijet lah. Tapi kalau aku, yang kucari itu pijet yang ada plus-plusnya..." Surya mainkan kedua alisnya, naik-turun, penuh makna. "Plus apa? Plus diinjak-injak?" Yuda penasaran setengah mati. "Uaassssuu... kalian kelihatannya harus banyak belajar di pulau ini. Bukan cuma kuliah, tapi dunia perlendiran juga! Hahahahaha..." Surya tertawa lepas. "Cuukkk... jadi maksudnya apa itu panti pijat plus-plus?" tanyaku makin goblog. "Panti pijat plus-plus itu... panti yang menyediakan cewek-cewek cantik sesuai selera pelanggan. Muda atau tua, tinggal pilih. Terus biasanya pijetnya cuma ala kadarnya — asal megang, dikit-dikit ngerayu biar bisa lanjut ke yang enak-enak. Jarang banget nemu panti plus-plus yang pemijatnya beneran ahli di bidangnya," jelas Aldo dengan penuh wibawa kayak dosen. "Cuukkk, ada ya tempat begitu di pulau ini?" tanyaku. "Wah, kamu ini terlalu terkungkung di belantara sana ya, San. Sampai nggak tahu kalau pijet di sini aja bisa sampai ke enak-enak," ejek Surya. "Asssuuuu..." "Terus plusnya apa aja?" tanyaku lagi. "Banyak contohnya. Blowjob, handjob, titsjob, assjob, footjob... pokoknya tergantung permintaan lo," jawab Surya santai. "Asssuuu... job-joban semua. Artinya apa aja itu?" tanyaku sambil garuk-garuk kepala. "Bajingan lo, San. Lo nggak tau artinya semua tadi? Satu pun?" Yuda nggak percaya. "Ya kalau blowjob sama handjob itu umumlah... sering juga gue dapet kalau itu. Hehehe. Tapi sisanya apa tadi namanya?" tanyaku lagi tanpa rasa malu. "Cuukkk... percuma lo dijuluki Bajingan Lendir kalau artinya aja nggak ngerti," Surya nyeletuk, disambut cekikikan Aldo dan Yuda. "Asssuuu..." "Gini, San. Intinya, apa permintaan lo bakal dilakuin sama pemijatnya. Tapi harus deal harga dulu," jelas Aldo. "Cuuukk... enak dong," jawabku kagum. "Lo juga bisa mandi kucing, cuukkk..." kata Surya sambil memajukan bibirnya mengejek. "Bajingan. Ngapain gue mandiin kucing? Katanya pijet ada enak-enaknya, kok suruh mandiin kucing?" tanyaku beneran bingung. "Asssuuuu..." Aldo dan Surya jawab bareng, hampir tersedak. "Ternyata terlalu awam lo sama dunia perlendiran, San. Cumangocok aja yang lo tau," Surya makin ngejek. "Jiaammpuuttt... kusleding nanti cacing lo," ancamku. "Bajingan. Kasar banget omongan anak muda sekarang," Surya pura-pura tersinggung. "Hahahahahaha..." "Jadi mandi kucing itu... nanti lo disuruh tiduran, terus seluruh tubuh lo dijilat. Mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut," lagi-lagi Aldo yang jadi narasumber. Bajingan. Percakapan macam apa ini? Kenapa percakapan beginian bisa terjadi di kantin kampus teknik terkenal? Uassuuu... apa memang cuma urusan sekitaran selangkangan yang bisa menyatukan orang-orang, walau beda pandangan? Kenapa ini nggak diterapkan di negeri kita yang lagi panas-panasnya ini? Kan enak tuh, pas debat antar calon, salah satu calonnya bertanya, "Berapa tarifnya handjob di Panti Pijat Dahlia?" Itu gue jamin semua pendukung nggak akan ribut setelah debat. Mereka pasti langsung survey dan praktek di panti pijat kota masing-masing. Dan akhirnya bisnis panti pijat menjamur, menggerakkan perekonomian negara. Kan keren? Bisnis panti pijat akan menggeliati, mengalahkan harga minyak dunia yang naik-turun. Assuuuu... hahahahaha... "Cuukkk... nggak merinding kalau dijilat gitu? Iiiiii..." kataku sambil bergidik ngeri. "Ueenakkk iku, cuukkk..." Surya manggut-mangguk penuh keyakinan. "Di kota sini ada loh. Mau nyoba?" tawar Aldo. "Asssuuu... di mana, Do? Ayo sudah!" Yuda langsung semangat. "Lah, ini dia... informasi yang wajib dan harus disampaikan. Di mana itu, Do?" Surya ikut mendesak. "Ntar aja. Pulang kuliah kita ke sana bareng-bareng ya," kata Aldo sambil mengedipkan mata kirinya. "WOKEEYYY..." jawab kami bertiga serempak. "Aku ikut juga ya." Lia. Tiba-tiba sudah ada di belakang kami, berdiri tegak sambil menatap kami satu per satu. "Cuukkk... dari tadi kamu di sini, Ya?" aku buru-buru berbalik menghadapnya, pasang muka baikan. NYUUTTTTT... "Aduh... duhhh... duhh... Ya, sakit tau!" pentil kananku dicubit dengan keras sama Lia. Untung di kantin. Kalau di kamarku, sudah kubalas dia. "Kenapa kamu maki aku? Untung cuma kucubit. Nggak kulindas pakai motorku," katanya sambil melotot kepadaku. "Maaf, Ya, maaf... kan aku reflek barusan. Lagian kalau teman-teman yang maki kamu kok kamu biasa aja? Kenapa kalau aku dicubit?" aku mengelus pentil kananku yang masih perih. NYUUTTTTT... "Aduh... duhhh... duhh... kenapa lagi, Ya... sakiiiit..." Sekarang giliran pentil kiriku yang jadi korban. "Jangan pernah melibatkan orang lain untuk pembenaranmu, San." Lia menatapku tajam. Asssuuu... kata-kataku dibalikin dengan sempurna. Bajingan'i. Dan teman-temanku yang lain pura-pura gila dengan segala macam aktivitas buatan. Yuda bersiul sambil ngelap meja kantin. Aldo buru-buru mengambil koran di meja sebelah lalu membacanya dengan serius — cuukkk, korannya kebalik tapi Aldo cuek aja. Bajingan. Surya lebih parah lagi: dia langsung skot jump, push up, sit up, dan diakhiri kayang. Assuu... assuu... "Maaf ya, Tuan Putri..." kataku sambil memegang tangannya dengan lembut. Dia diam. Nggak menjawab, tapi nggak nolak pegangan tanganku juga. "Dari tadikah datangnya, Ya?" tanyaku pelan. "Bukan. Barusan aja. Kenapa?" "Nggak apa-apa, Ya... cuma tanya. Darimana kok baru datang?" untung aja baru datang. Coba dari tadi dia dengar pembicaraan kami... bisa keluar pukulan debu-debu intan dari ratu sadis ini. "Ohh... kenapa aku baru datang? Aku tadi nyari kucing. Kebetulan pengen mandiin kucingku," Lia melepas pegangannya dari tanganku lalu menatap kami satu-satu. "Mau dong jadi kucingnya," Surya pasang muka mesumannya. "Kalau aku yang mandiin, nggak kujilat. Tapi... hemmm..." Lia menghentakkan kaki kanannya ke lantai dengan keras, lalu menekan tumitnya. Setelah itu tumitnya diputar ke kanan dan ke kiri. "Asssuuu... bisa jadi emping bijiku kalau diinjak terus ditekan kayak gitu..." Surya pura-pura megang bijinya. "Hahahahahaha... asssuuuu... asssuuuu..." kami semua tertawa mendengar jawaban Surya yang bego itu. "Nggak, Ya. Kita main-main aja tadi ngomongnya," kataku membela diri. "Jadi habis ini nggak jadi ke panti pijat?" tanya Lia. Dia lalu duduk di dekatku, dan kuputar badanku menghadap meja lagi. Kulirik Aldo, Surya, dan Yuda. Kuberi kode supaya angguk aja. "Nggak lah. Kita kan cuma bercanda aja, Ya," kataku. "Ya udah, bagus deh. Eh, ngomong-ngomong, semester depan kan ada praktikum ukur tanah. Satu kelompok jumlahnya lima orang. Jadi aku sudah daftarkan nama kita semua jadi satu kelompok," ujar Lia santai. Cuukkk... cepat banget berubah moodnya wanita satu ini. "Siap, Tuan Putri," jawab kami bareng. "Sssstttt..." Surya melirik sambil ngode kami supaya lihat ke meja samping. Cuukkk... pembantunya ibu kantin lagi bersihin di samping meja kami sambil nungging. Bokongnya besar bangeeet... asssuuu... Waktu dia mutar dan menungging menghadap kami, kaosnya menurun — buah dada besarnya kelihatan kayak mau berontak keluar dari balik bra-nya. "Uuaassuuu... bemper depan sama belakangnya besar, cuuoookk..." Yuda geleng-geleng sambil melongo. "Djiaammpuutt... enakkk iku diremes, cuuoookk..." Aldo ikut berkomentar. "Bisa megap-megap lo kalau dijepit pakai bempernya itu," kataku santai. "Assuuu..." "Hahahahahaha..." "Eh, dia itu nggak punya suami loh. Dia janda," Surya berbisik. "Serius dia janda?" tanyaku. "Kenapa? Lo naksir, San?" Aldo melempar pertanyaan maut. "Nggak gitu, Do. Di tempatku, ki lurahnya senang kalau kenalan sama janda. Ntar gue kasih dia deh." "Asssuuu... ki lurah tempat lo doyannya STW, To?" Surya melongo. "Iya. Gue serius ini. Tapi diam-diam aja ya. Ntar gue bawa ngopi ke sini si Ki Lurah sama perangkat desa lainnya. Mereka seneng betul ngomongin janda. Apalagi yang umurnya tujuh lima... wuuuuuu... perkututnya langsung bersiul nyaring." "Hahahahaha... bajingan! Hahahaha..." teman-temanku pecah ketawa. "Terus kalau mereka denger kata 'janda' yang umurnya sedengan, langsung kembang kempis perkututnya," bisikku. "Hahahahahaha... assu lo, San!" ketawa teman-temanku makin kencang. "Apalagi kalau gue cerita bemper depannya besar begitu... wuuuu... langsung terbang itu perkututnya..." kataku sambil senyum-senyum. "Bajingan! Hahahahahahahaha..." lagi-lagi mereka tawa terbahak-bahak. Kecuali Lia, yang tanpa kami sadari melotot melihat kami satu per satu. "Perkutut siapa yang terbang?" Lia mulai menyelidiki sambil melotot. "Nggak, Ya. Itu loh, Ki Lurah di tempatku pelihara burung perkutut. Suaranya perkututnya aneh... apalagi kalau ada janda lewat," kataku sambil tetap waspada sama tatapan Lia. "Bunyinya gimana, San?" Surya justru lebih antusias daripada Lia yang cemberut. "Bunyinya gini, Sur... *peli ketukuk...kuk...kuk...kuk... peli ketukuk...kuk...kuk...kuk...*" kugesekkan jari manis dan jempolku, menghasilkan bunyi yang bisa bikin perkutut birahi dan bersuara. "Asssuuuu!" teriak Aldo dan Surya. "Hahahahahahaha..." mereka berdua pecah ketawa. Sementara itu, pembantu ibu kantin masih saja bersih-bersih dengan posisi nungging yang sama. "Mba... ini loh, ada empat orang bloon yang ngeliatin bemper depanmu dari tadi," Lia ngomong ke dia dengan cueknya. "Cuukkk..." kami semua langsung nengok Lia yang senyam-senyum puas lihat ekspresi kita berempat kena gab sama pembantu ibu kantin itu. "Eh, dasar mesum kamu semua, Mas. Laki-laki itu memang mata keranjang semua ya..." kata pembantu ibu kantin sambil menempelkan kaosnya ke dada, lalu pergi ke dapur. "Cuukkk... dibilang mata keranjang. Lah, wong dia yang pamerin sendiri tanpa kita minta. Namanya ada rezeki di depan, masa mau ditolak? Kita kan masih normal. Assuu..." Surya mendumel kesal. "Kamu juga gitu, Ya? Tega banget jadi orang..." kataku memelas. "Siapa suruh matamu jelalatan," Lia jawab dingin. "Namanya juga rezeki, Ya. Mubazir kalau nggak dinikmati. Kalau sudah bilang mubazir, jatuhnya kan dosa, Ya... hehehehehe..." Surya gak mau kalah. "Rezeki gigimu itu loh," Lia nyindir kesal. "Hehehehehe..." "Sudah, nggak usah mesum aja yang kalian pikirin. Pikirin itu UAS," Lia mengingatkan kami kalau UAS tinggal minggu depan. "Iya... iya, Ya..." kami menyahut serempak. "Mending habis ini kalian pulang aja. Istirahat di kos masing-masing. Jangan banyak ngeluyur. Siapkan energimu buat UAS." Kali ini nada Lia lembut seperti biasa, dan wajahnya berubah kalem... cantik. Memang aneh wanita satu ini. Moodnya nggak bisa ditebak. Cuukk... kalau gini jadi pengen cium bibirnya, aku. Assuu... "Woi... Pak Dulah sudah datang tuh," Surya menunjuk dosen kami yang baru masuk. Pak Dulah ini selain dosen, dia juga kepala jurusan kami. "Ayo, keruangan, yo..." teman-temanku berdiri dan jalan duluan. Lia mau ikut jalan — tanganku kutahan. "Kita jadian yu..." bisikku ke Lia. Lagi-lagi dia tersenyum dan menatapku. CUUPPP Seperti biasa, dia mengecup pelan bibirku. "Kita sahabatan aja ya..." katanya pelan. Lalu dia berjalan mendahuluiku. Asssuuu... lagi-lagi jawaban itu. Tapi kenapa dia selalu ngecup bibirku kalau menjawab? Aku kan berharap lebih... jadinya... Terus aku harus gimana lagi? Usaha sudah. Nyatain sudah. Hasilnya sama aja. Tambah pusing kepalaku. Badan pegel-pegel, kepala mumet, sijago lama nggak dikeluarin isinya... assuuu... lengkap sudah penderitaanku. TIT..TIT..TIT..TIT... bunyi SMS di hapeku. No. tak dikenal: "San, bisa jemput aku? Aku lagi di salon potong rambut. Gaby" Aku: "Siap! Habis kuliah kujembut... eh maaf, kujemput maksudnya. Hahahaha. Naik motor nggak pa-pa kan?" Gaby: "Mesum kamu itu, San. Iya, nggak pa-pa. Naik apa aja asal sama kamu, aku rela. Hihihihihi..." Aku: "Nggak gratis loh." Gaby: "Iya, ntar aku kasih minum. Minum susu mau? Tapi nyedot sendiri..." Aku: "Acik-acik... jos! Tapi badanku pegel semua habis naik gunung beberapa hari kemarin..." Gaby: "Gunung siapa habis didaki? Kok berhari-hari? Nggak lemeskah?" Aku: "Cruuuttt... gunung beneran, Gab!" Gaby: "Hahahaha... kirain gunung-gunungan... Hihihihi. Udah kesini aja. Ntar aku pijitin pakai lidah..." Aku: "Serius nih?" Gaby: "Iya... emang aku pernah main-main? Hihihihi..." Aku: "Siaaappp... kujemput di salon mana?" Gaby: "Salon Kalijodo. Dekat kampusku." Aku: "Wokeyyy... nanti selesai kuliah langsung meluncur. Muahhh... cium di uting buat DP." Gaby: "Hahaha... Sheeppp... lepp! Jilatan di kepala jago. Bilangin aku kangen sama dia." Aku: "Cuukkk... aku bolos kuliah aja sudah. Aku OTW sekarang!" Gaby: "Kalau bolos kuliah, nggak jadi dikasih uting, nggak jadi dijilat jagonya." Aku: "Siaaappp... tunggu dulu, Gab ya, jago... kita pesta hari ini!" Gaby: "Semangat kuliahnya ya. Muahhh... cium di bibir buat yang punya HP." Aku: "Udah dong, Gab... ntar aku bolos loh kuliahnya!" Gaby: "Hahahaha... iya udah. Sampai ketemu nanti, Sandi yang mesum." Aku: "Oke, Gaby yang montok. Babay..." Akhirnya... ada juga yang mau mijitin aku. Setelah balas-membalas SMS dengan Gaby, aku menyusul teman-teman ke gedung kuliah. Kami kuliah bareng. Selesai kuliah, langsung balik ke kos, ganti baju, lalu panaskan Tigi. Kondisi di kos sepi — baguslah, jadi aku nggak diinterogasi teman-teman. Hehehehe... BRUMMM...BRUMM...BRUMM... Aku tarik gas Tigi lalu membelah memek Gaby dan menjilatnya... assuu... ngapain sampai mikir belah memek Gaby... maksudku, membelah jalan yang agak rame ini. BRUMMM...BRUMM...BRUMM... Aku tarik gas Tigi pas berhenti di lampu merah. Suara knalpotnya begitu seksi sampai orang di sekitar menoleh memandangku. ("Terus digeber, Bang, Tiginya! Makin digeber, makin banyak betina yang tertarik, dan makin sering juga kita berpesta! Hahahahaha...") jago senang sekali. ("Assu lo, Go. Berarti betina tertarik karena Tigi dong, bukan karena aku...") ("Nggak gitu juga kali, Bang. Wajah lo udah mendukung banget. Kemarin-kemarin belum naik Tigi aja udah tiga betina ditidurin. Apalagi sekarang ada Tigi. Terus ditunjang lagi sama makhluk kayak aku ini... besar, kuat, berurat, dan tahan lama. Apa nggak klepek-klepek betina-betina itu, Bang?") ("Hahahaha... bajingan lo, Go...") ("Loh, kenyataannya memang begitu, Bang. Nggak bisa diingkari...") ("Ntar dulu. Katanya tadi betina tertarik karena suara knalpot Tigi. Berarti kan dia suka Tigi sama knalpotnya, bukan aku sama knalpotku... Hahahahaha...") ("Asssu lo, Bang! Lo samain aku sama knalpot... biadap lo, Bang!") ("Bumm...bumm...bumm...bumm...") ("Diam lo, Tigi! Nggak usah ikutan ketawa! Bajingan kalian berdua!") ("Hahahahahahaha...") Gaby Adrien Ananta Sampai di depan Salon Kalijodo, kulihat Gaby sudah menunggu di dalam. Geber Tigi tiga kali sebagai salam. BRUMMM...BRUMM...BRUMM... Dari kaca, Gaby melihatku di luar. Dia langsung keluar mendatangiku. "Wahhh... sudah naik Tiger aja lo, San. Aku naik ya," kata Gaby. "Langsung naik aja, Gab." Gaby naik ke Tigi-ku. Karena jok yang kubuat licin, Gaby merapatkan duduknya — memeknya nempel di bokongku, dan toket besarnya langsung menempel erat di punggungku. Assuuu... kenyal, cuukk! Tangan Gaby melingkar di atas pahaku, di bagian bawah... dekat jago. ("Bang... ini aroma betina yang di kos Alexis ya...") ("Kok tau lo, Go?") ("Kan sudah kencingin, sebagai tanda kalau itu daerah jajahan kita!") ("Bajingan lo, Go. Emang kita guguk...") ("Hahahahahahaha...") ("Jago ini, Bang! Jago!") ("Assu lo, Go...") ("Hahaha... jadi kita pesta ini, Bang?") ("Kelihatannya gitu, Go...") ("Asyiikkkkk... Upin Ipin bangun! Kita mau pesta! Mana semangat kalian?") ("Siap, Om!") ("Aciikk... aciikk...") ("Si...") ("Aciikk... aciikk...") ("Ja...") ("Aciikk... aciikk...") ("Go...") ("SI JAGO!") (Hahahahahaha... au... auuuuuu...) "Ke mana kita ini, Gab?" tanyaku. "Ke kosku aja ya. Males aku keluar. Masih panas ini..." kata Gaby. "Asiikkk... kebetulan haus aku, Gab. Pengen minum cucu..." kataku, kubuat seimut mungkin. "Dasar mesum lo, San... Hihihihihi..." Sesampainya di kos Gaby, kuparkir Tigi di dalam areal kosnya lalu kukunci. Aku mengikuti Gaby ke kamarnya. "Gab... haus aku..." kataku. "Istirahat dulu, San. Masa langsung minta nenen aja lo. Nggak sopan..." "Minta minum, Gab. Bukan minta nenen. Sebenarnya yang mesum ini aku apa lo, Gab?" "Hihihihihi... kirain. Itu ada teh kesukaanmu di kulkas..." "Asyyyiiikkk..." Kulangkah ke arah kulkas. Kulihat banyak stok teh kotak tersusun rapi di dalamnya. Kuambil satu, lalu kuhabiskan dalam beberapa tegukan. "Banyak amat teh kotaknya. Emang lo suka teh kotak juga, Gab?" “nggak begitu suka sih.. itu kan aku yang beliin buat kamu, kalau kamu main ke sini..” kata Gaby sambil tersenyum ke arah kaca. “Asyiikkk.. itu kata-kata terromantis yang pernah aku dengar loh, Gab..” kataku, sambil mendekati Gaby yang sedang berkaca. Dia lagi merapikan rambut barunya yang baru dipotong dan diwarnai blonde.. tambah cantik, dan kelihatan makin chubby menggoda.. Aku memeluknya dari belakang, kedua tanganku melingkar di perutnya yang ramping, lalu kugecup lehernya bagian kanan. Gaby mendesah pelan, memegang kedua tanganku, lalu mengelusnya lembut.. “Tambah cantik aja kamu, Gab..” ucapku sambil mengecup pipinya. “Masa sih..? Kamu ngerayu aja kan ini.. biar dapat jilatan di kepala, jago kan.. hihihihi..” “Serius aku, Gab..” Tanganku mengelus pelan perutnya. Tangan kiriku perlahan merambat naik, menyusuri lengannya, sampai menyentuh nenennya yang besar dan kenyal.. kuremas pelan. “Uhhhhh… nakal tanganmu, San..” Gaby mulai mendesah.. Tangan kananku yang tadinya di perutnya mulai menyusup masuk ke dalam kaosnya. Kugelus perut seksi itu.. lalu naik perlahan, menyelip ke balik bra-nya. Kuremas kedua nenennya bergantian, diselingi memelintir puttingnya yang kecil dan menggoda.. Gaby menarik kepalaku dari samping, lalu melumat bibirku.. Ahh.. emm.. ahh.. emmm.. desah kami bergantian. Lidah kami saling bertemu, saling membelai di dalam mulut kami. Air liur kami yang menyatu makin menambah nikmatnya ciuman ini. Kuangkat kaos Gaby ke atas, kubuang ke samping. Lalu kaubuka pengait bra-nya, kuloloskan dari kedua tangannya, dan kubuang entah ke mana.. Sekarang aku bisa melihat nenen Gaby terpampang jelas dari pantulan kaca di depan kami — kaca tinggi seukuran tubuh kami. Kuremas kedua nenennya dari belakang sambil memainkan puttingnya. Tangan Gaby tak tinggal diam. Tangannya meraih ke belakang, menyusup ke balik sempakku, meraih jago dan mengelusnya pelan.. Kuputar tubuh Gaby menghadapku. Kami yang sudah dikuasai birahi hebat itu kembali berciuman dengan ganas. Gaby meraih ujung kaosku dan melepasnya. Setelah itu kubeluk Gaby, menjilat leher dan daun telinganya, sesekali kujilat sampai ke dalam lubang telinganya. Nenen Gaby menggesek dadaku, membuat nafsuku menggila.. Aku meraih kancing celana levisnya, menurunkannya setengah, lalu kupelorotkan cd-nya. Kuelus lubang kenikmatan Gaby dengan perlahan.. “Uhhhhh.. ahhh.. ahh..” Badan Gaby bergetar menahan sensasi yang kuberikan, sampai memeknya basah sekali. Kuinjak celananya yang masih tertinggal di lutut sampai ke bawah, lalu Gaby mengangkat kakinya bergantian untuk meloloskan celananya. Sekarang Gaby telanjang bulat.. Aku terus meremas kedua nenennya bergantian dengan tangan kiri, sementara tangan kananku bermain di belahan memek Gaby. Kugesek dengan jari tengah, lalu kupasukkan jari tengahku ke dalam sana.. dan kuocok di dalamnya. Bibirku menurun, menghisap putting Gaby yang sudah mengeras, kululum dengan nikmat. Gaby menjambak rambutku.. “Ahhhh.. ahhh… gila enak banget, San..” kata Gaby sambil memundurkan bokongnya — tapi jari tengahku terus mengikuti gerakannya, mengocok di dalam tanpa melepas. Bibir dan lidahku makin mempermainkan putting Gaby.. “Aahhhh… ahhh…” Gaby mengerang. Memeknya berkedut bersamaan dengan cairan kental yang menyembur keluar dari dalam. Gaby mengejang, mengeluarkan air kenikmatannya. Badannya gemetar hebat. Kubiarakan dia tenang dulu, tanpa mencabut jari tengahku dari dalam memeknya yang basah dan licin.. Gaby lalu menarik kepalaku dan kembali melumat bibirku. Dia bernafsu sekali. Wajahnya memerah, napasnya naik turun seperti orang habis berlari.. Kembali kumainkan jari tengahku di dalam sana. Kukaduk-kaduk sampai Gaby kelojotan, dan kukaduk makin cepat lagi.. Dia memelukku. Kakinya gemetar, memeknya berkedut kencang lagi.. lalu tiba-tiba.. “Ahhhh.. ahhh.. ahhh.. ahhhhhhhh!” Gaby mendesah hebat, keringat mengalir deras dari seluruh tubuhnya.. lalu tiba-tiba.. Sreeet.. sreett.. sreettt.. Cairannya menyembur deras membasahi lantai. Dia squirt sambil memeluku erat-erat. Kutarik tanganku, kubiarkan dia mengejang. Kubeluk dia dan mengelus punggungnya perlahan.. “Ahh.. ahh.. ahh.. gila.. gila.. enak banget, San.. enak banget..” napasnya tak karuan.. Setelah Gaby menguasai dirinya, dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata sayu. Bekas-bekas kenikmatan masih tersirat di wajahnya.. “Saatnya aku balas dendam.. kamu sudah buat lendirku keluar sekali, dan kamu juga buat aku squirt..” katanya sambil menatapku menggoda. Tangannya melepaskan kancing celanaku, menurunkan resletingnya. Gaby menarik celanaku ke bawah sambil berjongkok, dan aku mengangkat kakiku bergantian. Celanaku kubuang entah di mana.. Dalam posisi jongkok itu dia menatap jago yang sudah berdiri tegak dengan angkuhnya, lalu menggenggamnya.. “Hai.. apa kabar.. kamu ngangenin deh..” katanya pada jago.. (“Go.. tumben kamu diam.. betina ini nyapa kamu loh…”) (“……”) (“Go..”) (“……”) (“Asssuuu ini..”) *(“Aku sengaja diam aja, bang.. mau lihat reaksi kisanak87..”)* (“Emang kenapa sama kisanak87..”) *(“Kalau kali ini aku cuma dibuat satu kali crott aja.. maka aku akan diam selamanya..”)* (“Serius kamu, Go..”) (“Taik kamu, Go.. lanjutlah.. lanjut.. assuuu.. hahahaha..”) (“Yeeeesss.. semoga ini bukan PHP, bang..”) CUUPPP.. Gaby mengecup kepala jago, lalu menjilatnya perlahan. Terlihat senyum jago mengambang penuh kesombongan. Lalu Gaby memasukkan kepala jago ke mulutnya, menghisap kuat sambil memainkan ujung lidahnya di bibir jago. Tangan kanannya mengocok pelan batang jago, sementara tangan kirinya bermain dan meremas lembut kedua biji jago.. “Aahhhhhh.. enak sekali hisapanmu, Gab..” rintihku sambil mengusap lembut rambut baru Gaby. Dia mengeluarkan kepala jago, menjilatnya lagi, lalu memasukkannya lagi, memajukan-mundurkan mulutnya.. “Cuukkkk.. enak banget..” Gaby menatapku, lalu memasukkan seluruh batang jago sampai mentok. Kulihat matanya memerah dan berkaca-kaca. Dia memaksakan menelan jago sampai ke akar — rasanya sampai ke tenggorokannya. Kuangkat wajahnya dan kucium bibirnya.. “Jangan memaksakan masuk semua.. aku nggak suka kalau kamu tersiksa.. kita main lembut aja..” kataku sambil membersihkan air mata yang menetes di pipinya. Dia memelukku, dan kubalas pelukannya. Tanganku turun, meremas kedua bongkahan pantatnya yang semok dengan lembut.. Aku memutar tubuh Gaby menghadap ke cermin. Rupanya Gaby mengerti maksudku. Dia menundukkan tubuhnya, melebarkan kedua pahanya, bertumpu pada kedua tangan yang menempel di kaca.. Kurangsang lagi belahan memek Gaby dengan jari tengahku sampai benar-benar basah. Setelah cukup licin, kuremas dan kubuka belahan bokongnya yang semok, lalu kugesekkan kepala jago ke belahan memeknya dari belakang.. “Ahhh… pelan-pelan, San.. punyamu besar banget..” kata Gaby sambil meringis.. Setelah memeknya agak terbuka, kupasukkan kepala jago perlahan. Gaby menjinjitkan kakinya.. “Aw… pelan-pelan, San.. bisa sobek memekku..” katanya setengah merajuk.. CUUPPP.. Kubelai pipinya dengan kecupan. Setelah itu kupasukkan kepala jago lebih pelan lagi.. “Ahhh.. sempit banget memekmu, Gab..” “Punya kamu aja yang kegedean itu, San.. aw.. ahhh.. huuu.. enak, San.. tekan lebih dalam lagi ya..” ucap Gaby sambil merem-melek.. Jago sudah tertanam setengah. Jepitan dan tarikan memek Gaby luar biasa enak — sempit sekali. Assuuu.. aku harus kuat nih.. Kutahan posisi ini sebentar. Tanganku langsung menggapai buah dadanya di depan, kuremas, kupelintir sedikit puttingnya.. “Aahhh.. ahhh… enak, San.. tekan lebih dalam, San.. ahh..” Gaby mulai meracau.. Aku suka banget posisi doggy sambil berdiri begini — aku bisa menjamah kedua nenen Gaby yang besar sambil menyodok sampai mentok. Kubuai pinggul Gaby, lalu kutekan jago lebih dalam lagi.. “Aahhhhh… ahhhh!” Gaby berteriak dengan liar. Semoga suaranya nggak kedengaran sampai kamar sebelah.. Kubiarakan jago di dalam sejenak, biar memek Gaby nggak kaget saat kugoyang. Napas Gaby makin tak beraturan, dan keringat kami berdua sudah membasahi tubuh kami.. Lalu kuremas nenen Gaby dengan tangan kiri, sementara tangan kananku mengelus perutnya yang seksi, lalu turun ke bawah. Kugesek di atas memek Gaby supaya makin basah, biar bisa kugoyang dengan leluasa.. “Ahhh.. gila.. enak banget, San.. sudah licin kelihatannya memekku.. goyang, pliss.. tapi pelan-pelan ya..” kata Gaby. Kutarik sedikit batang jago, lalu kutancapkan penuh lagi. Kutarik lagi, kumasukkan lagi — kuulangi beberapa kali. Setelah itu kutarik sampai tersisa kepala jago saja, lalu kutekan dalam lagi.. dan kugoyang dengan irama makin cepat.. Plok.. plok.. plok.. plok.. Bunyi selangkanganku yang menghantam bokong Gaby — suara yang membuatku makin semangat menggenjotnya.. Plok.. plok.. plok.. plok.. “Ahhh.. ahh.. ahh.. gila nikmat banget, San.. sampai mentok dinding rahimku rasanya.. ahhhhh!” Gaby meracau sambil menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri.. “Anjjjiiiiiiinngggg.. ahhh.. ahhh.. ahhh.. terus, San.. aku mau keluar, San.. ahhh!” teriak Gaby. Aku refleks menutup bibirnya dengan memasukkan jari tengahku yang bekas mengaduk memeknya. Dia langsung mengulum jariku dengan nafsu.. Aku makin menggila dan terus menggoyang, sampai merasa memek Gaby mulai berkedut.. “Terus, San, terus.. aku mau keluar..” kata Gaby.. Kupercepat goyanganku makin.. “Aahhhh.. ahhh..” Gaby menempelkan kepalanya ke kaca sambil menungging lebih dalam.. dan.. Sreeet.. sreett.. sreettt.. Sreeet.. sreett.. sreettt.. Kucabut jago. Air menyembur deras dari memek Gaby. Dia bergetar bersandar pada kaca. Assuuu.. memeknya kelihatan merah dan berkedut sambil mengeluarkan cairan yang begitu banyak. Seksi sekali posisi Gaby saat ini.. Kubiarkan dia menikmati squirtnya. Kakinya mengejang, tubuhnya bergetar. Kurapatkan tubuhku, memeluknya dari belakang. Gaby merapatkan punggungnya ke dadaku, dan kuremas buah dadanya pelan. Dadanya terlihat naik turun. Gaby menoleh dan menatapku sayu, lalu menciumku perlahan.. “Kamu buat aku keluar tiga kali, San.. dan kamu belum apa-apa.. lututku sampai gemetar.. gila, kuat banget kamu..” Dia mengecupku pelan.. “Sudah tenang..? Kalau sudah.. boleh aku ambil kenikmatanku..” kataku sambil meraba-raba memeknya dari depan. Gaby bersandar lagi ke kaca.. Kumasukkan jago ke dalam memek Gaby yang sempit — kali ini nggak susah, karena memek Gaby sudah licin banget. Mulai kugoyangkan pinggulku maju-mundur.. Gaby kembali meracau tak jelas, kepalanya menggeleng kanan-kiri.. “Ahhh.. ahhh.. ahh.. ahhh.. anjingg.. enak, San.. terus, San.. goyang, San..” kata Gaby.. Plok.. plok.. plok.. plok.. Plok.. plok.. plok.. plok.. Bunyi hentakanku makin nyaring. Kugenggam pundak Gaby dan terus menggoyangnya.. “Ahh.. ahh.. ahh.. enak banget memekmu, Gab.. ahh.. ahh..” Kuraih kedua nenen Gaby dan kucengkeram keduanya. Pinggulku kugenjot makin cepat.. “Ahh.. ahh.. ahh.. aku mau keluar lagi, San.. gila kamu, San.. aku mau keluar lagi.. ahhh!” “Sabar, Gab.. ntar lagi ya.. aku juga mau keluar.. ahh.. ahh.. ahhh..” Plok.. plok.. plok.. plok.. Plok.. plok.. plok.. plok.. Plok.. plok.. plok.. plok.. Plok.. plok.. plok.. plok.. Kuterus menggoyang.. dan.. Sreeet.. sreett.. sreettt.. Sreeet.. sreett.. sreettt.. Crottt.. crott.. crott… Crottt.. crott.. crott… “Ahhhhhh.. ahhhh..” Kami mendesah berbarengan sambil mengeluarkan cairan kami masing-masing. Tubuh kami sama-sama bergetar. Kubeluk tubuh Gaby dan membenamkan wajahku ke punggungnya.. Kami berdua mengatur napas. Tubuh kami basah kuyup oleh keringat.. “Punyamu kok masih berdiri, San.. padahal kan sudah kamu keluarin di dalam..” kata Gaby sambil terengah-engah.. Posisi kami masih berdiri, aku di belakang Gaby — dan jago masih tertancap di dalam memeknya.. “Nggak tau, Gab.. mungkin pengen lagi..” kataku sambil meremas pelan nenennya.. “Gila kamu ya.. aku sudah empat kali loh.. aku lemas, San.. atau aku hisap aja ya..” kata Gaby lalu memajukan pantatnya.. PLOOPPP.. Bunyi jago yang keluar dari memek Gaby. Dia masih berdiri gagah walau baru saja keluar. Sisa air kenikmatanku dan Gaby masih meleleh di kepala jago.. Gaby duduk bersimpuh di depanku, memegang batang jago yang lengket. Dia kelihatan nggak jijik melihat jago yang penuh lendir kenikmatan kami yang bercampur.. Gaby menjilat kepala jago, lalu memasukkannya ke mulutnya. Dia memajukan-mundurkan mulutnya.. assuuu.. enak banget mulut Gaby ini. Setelah basah, Gaby melepas kulumannya. Dia mengocok jago dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya membelai lembut kedua bijiku. Semua itu dia lakukan sambil menatap mataku dengan tatapan genitnya. Cuukkk.. seksi banget. Dia mengocok sambil sesekali mengecup kepala jago.. Lalu diangkatnya batang jago, dan dia melumat kedua bijiku bergantian. Cuukkk.. uueeaankk.. assuuu.. Dia menjilat seluruh bijiku, lalu melumat lagi — pelan-pelan, sambil tangannya terus mengocok jago.. Gaby terus menatapku, membuat sensasinya tambah nikmat. Setelah itu dia menjilat batang jago dari bawah sampai ke atas, berulang-ulang. Setelah puas, Gaby memasukkan lagi kepala jago ke mulutnya — diemutnya pelan, sementara batang jago dikocoknya. Cuuukkkk.. nikmat sekali.. basah, sempit dan hangat. Lalu dia menghisap kepala jago dalam-dalam — rasanya jago seperti dijepit nikmat. Dia mengocok jago dengan tempo yang sangat cepat tanpa melepas kulumannya.. “Ahhh.. ahhh.. ahh.. aahh.. enak, Gab.. enak banget..” “Aku mau keluar, Gab…” Gaby tambah mengisap kuat kepala jago dan mengencangkan kocokannya.. “Aku keluar, Gab.. ahhhh.. ahhhh..” Crottt.. crott.. crott… Kumuntahkan semua isi perut jago ke dalam mulut Gaby — dan Gaby menampung semuanya tanpa ada sedikitpun yang tumpah keluar.. Gaby melepaskan kulumannya dari kepala jago bersamaan dengan mulai mengecilnya tubuh jago.. Aku duduk di depan Gaby, mengulum bibirnya — dan dia membalasnya dengan cukup ganas.. “Kita ke kasur yo, San.. aku mau rebahan sebentar.. badanku lemes..” kata Gaby.. Aku berdiri dan mengangkat Gaby dengan kedua tanganku. Sambil mengangkatnya, kucium bibirnya, dan Gaby merangkul leherku sambil melumat lidahku.. Sesampainya di atas kasur, kuletakkan tubuh Gaby, lalu kurebahkan diriku di sampingnya. Dia terlentang, aku tidur menghadap ke arahnya. Kelihatan dia masih lemas.. “Katanya tadi mau mijitin.. kok malah tiduran sih..” kataku sambil meremas nenen Gaby.. “Kalau kamu tidur di sini malam ini, baru kupijatin..” “Ya nggak bisa gitu dong, Gab.. aku balik ke kosan nanti sore..” “Ya kalau gitu nggak bisa mijitin aku, San.. aku masih lemes.. kamu jahat banget, bikin aku keluar sampai empat kali.. sampai lemas rasanya tulang-tulangku.. aku mau tidur dulu ya..” “Yaaa.. padahal jago mau nambah lagi nih.. lihat tuh, jago mulai bangun lagi..” kataku sambil menjilat puttingnya.. “Pliss, San.. ahhh.. ahhh.. aku lemes banget.. jangan dihisap lagi nenenku.. ampuunn.. kamu menang kali ini..” “Jadi udahan ini..?” kataku sambil menatap matanya.. “Gila kamu ya.. kuat bener jago ini.. iiHHhh..” katanya sambil menggenggam batang jago dengan keras.. “Hehehehe.. kamu berani bangunin jago ya, Gab..” kataku sambil mengecupnya.. “Ampun, San.. aku nyerah.. besok-besok kubalas kamu, yo..” kata Gaby sambil mengelus kepala jago.. (“Hemmmm..”) *(“Behhh.. kok kayaknya sikapmu dingin banget, Go.. nggak kayak biasanya..”)* *(“Aku cuma mau ngomong, bang.. ucapanku itu sama seperti tindakanku..”)* (“Tinggi kali ucapanmu, Go..”) (“Fakta, bang.. lihat betina ini sampai lemes kali dia..”) (“Iya udah.. sekarang kamu bobo dulu ya..”) *(“Ntar dulu, bang.. aku masih pengen.. tapi dia sudah lemes ya, bang.. atau kita paksa aja dia, bang.. kita genjot satu kali lagi.. gimana..?”)* *(“Asssu kamu, Go.. jahat bener.. bisa-bisa nggak bangun seminggu dia.. hahahahaha..”)* (“Jago ini, bang.. jago.. besar, berurat dan tahan lama..”) (“Asssuu..”) “Ya udah istirahat ya, Gab.. aku mau mandi dulu, terus ntar aku balik ya..” “Temanin tidur ntar dong, San.. nanti kalau aku sudah tidur nggak pa-pa ditinggal..” “Iya.. iya..” Aku merebahkan diriku di samping Gaby.. Gaby memelukku dan bersandar di dadaku. Kubelai rambutnya lembut.. “Makasih ya udah dibolehin bertamu di sini..” kataku sambil meraba belahan memek Gaby — dan dia hanya pasrah aja.. “Hem.. ntar kalau kamu balik, kunci kamarku dari luar dan kuncinya kamu bawa aja.. aku ada serepnya..” “Oke..” “San.. makasih ya.. untuk hari ini.. maaf aku nggak bisa antar kamu keluar.. aku capek dan ngantuk banget..” Gaby memandangku lalu mengecup bibirku.. “Udah tidur aja..” kataku sambil tetap membelai rambutnya.. Kulihat jam di dinding kamar Gaby — 14.15. Ngantuk banget.. dan nggak terasa aku terlelap. Aku bangun jam 18.30. Cuukkk.. lama juga aku tidurnya. Kulihat Gaby tidur di sampingku dengan pulasnya. Aku mandi dan memakai pakaianku kembali.. Sebelum keluar kamar, kupasangkan selimut ke tubuh Gaby lalu mengecup keningnya perlahan — takut dia terbangun. Setelah itu aku keluar kamar dan menguncinya dari luar sesuai perintah Gaby.. Saat aku menuju tiga.. aku terkejut. Ada seseorang berdiri sambil bersandar di tiga sambil merokok. Aku mendekatinya.. cuukkk.. dia lagi — dia yang ada di depanku sekarang.. Dipandangnya aku dengan tatapan yang sama seperti biasa — tatapan mistery.. Aku langsung menunduk. Assuu.. banyak banget puntung rokok mild berserakan di sekitar dia.. berarti dia di sini sejak aku tidur siang tadi dong.. bajingan.. Dia lalu mendekatiku. Tatapannya berubah agak sayu, dan kulihat matanya agak berkaca-kaca.. “Sudah dibuang semua lendirnya..” tanyanya sambil menatapku.. Cuukkk.. kamu lagi.. kamu lagi.. kenapa denganmu?
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 24
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal