←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 26 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 26
BAGIAN 26 MAKHLUK YANG PALING SUSAH DIMENGERTI --- Emery Naila Unna Kos-kosan Alexis Saat aku melangkah menuju tigi, aku terkejut. Ada seseorang berdiri bersandar di samping tigiku sambil menghisap rokok. Aku mendekatinya... Cuss... dia ternyata yang berdiri di depanku. Mba Mery memandangku dengan tatapan yang selalu sama—tatapan misterius yang nggak pernah berhasil kubaca. Aku langsung menunduk. Puntung-puntung rokok mild berserakan di sekeliling kakinya. Berarti dia di sini dari tadi dong... bajingan. Dia lalu mendekat. Tatapannya berubah sayu, dan kulihat matanya agak berkaca-kaca. "Sudah dibuang semua lendirnya..?" tanyanya sambil menatapku tajam. Cuss... kenapa pertanyaannya nyondok banget... Asssuuu... "Eh, Mbak di sini..? Kok nggak naik, Mbak..?" tanyaku, mengalihkan. "Kebiasaan. Kalau ditanya itu jawab. Bukan mengalihkan. Apalagi tanya balik," jawabnya datar. Cuss... Ini kalau dalam permainan catur, posisiku sebagai raja yang tinggal sendirian di singgasan paling belakang, dan dia sang queen lawan yang berdiri persis di depanku. Aku di kotak hitam, dia di kotak putih. Skak mat. Sekarang giliran aku yang harus melangkah. Mau kumakan dia, nanti aku dimakan benteng. Mau lari satu kotak ke kanan atau kiri, dia yang makan. Mau mundur ke belakang, papan sudah habis. Akhirnya raja ini cuma bisa berdiri mematung sambil menggaruk selangkangan, berharap sang queen nggak membunuhnya—tapi jongkok lalu mengoral jagonya yang sudah menciut dari tadi. Asssuuu... "Aku mau pulang, Mbak," kataku, kubuat secuek mungkin. Aku bingung harus jawab apa kalau sudah begini. Aku berjalan melewati dia. "Aku ke sini itu karena kamu. Bukan Gaby," kata Mba Mery. Iya, Mba Mery yang selalu memergoki aku tiap kali aku habis tidur sama wanita lain. Aku berhenti di depan tigi dan berbalik menatapnya. "Hhhiiiuuufffftttt..." kutarik nafas lalu kuhembus perlahan. "Mbak mau pulang sama aku, atau di sini aja?" ucapku sambil menatapnya yang balas menatapku dengan wajah datar. Mba Mery diam, nggak menjawab. Cuss... terserah kamu lah. Aku langsung mendorong tigi keluar dari kos Alexis. Mba Mery diam mematung di tempatnya. Setelah di luar, aku menaiki tigi dan menyetarternya. BRUMMM.. BRUMMM.. BRUMMM.. Aku melirik Mba Mery. Dia masih diam dan menatapku. Asssuuu... mulai lagi dramanya. Terus aku harus gimana sekarang? Oke... kamu mau mengulangi ya... siapa yang bertahan dengan keadaan ini. Kulihat rokokku masih banyak. Baru sebatang yang kuhisap. Berarti masih sembilan belas batang. Cukuplah untuk aku berdiam diri di atas tigi. Kumati mesin tigi dan kutancapkan samping. TIK.. TOK.. TIK.. TOK.. Sepuluh menit. Tiga batang rokok. TIK.. TOK.. TIK.. TOK.. Dua puluh menit. Enam batang rokok. TIK.. TOK.. TIK.. TOK.. Tiga puluh menit. Sembilan batang rokok. TIK.. TOK.. TIK.. TOK.. Empat puluh lima menit. Tiga belas batang rokok. Asssuuu... bisa jebol paru-paruku kalau begini. Kulirik Mba Mery di belakangku. Dia masih santai aja berdiri. Bajingaaann... memang bener kalau main tahan-tahanan begini, kalah kita sama wanita. Aku turun dari tigi. Kulihat ke sekeliling, nggak ada mobilnya. Cuss... naik apa dia ke sini? Masa naik angkot? Atau kutinggal aja ya...? Bajingan... betapa nggak bertanggung jawabnya aku kalau sampai dia kutinggal di sini. Apalagi dia ke sini karena aku. Asssuuu... Akhirnya aku melangkah mendekatinya. "Mbak mau di sini aja, atau ikut aku pulang?" Dia tetap diam dan menatapku. Kali ini tatapannya kembali misterius. Tapi bibirnya menahan sesuatu... kelihatannya dia mau ketawa. Bajingan. "Oke. Kalau tadi aku kasih dua pilihan, sekarang nggak ada pilihan lagi. Ayo ikut aku pulang sekarang," kataku, kali ini agak keras dan menatapnya tajam. Lalu kupagut tangannya dan kutarik pelan. Tapi dia tetap diam. Nggak mau melangkahkan kakinya. Cuss... terus aku harus gimana? Apa aku harus lepas pakaian, telanjang, terus nari striptis di sini supaya dia mau pulang bareng sama aku? Asssuuu... "Mbak ini kenapa sih..?" tanyaku. "Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu begini terus, Sandi? Apa karena cintamu habis digantung sama Lia?" katanya santai. Cuss... dia tau dari mana tentang masalahku? Sepertinya dia tau semua tentang aku. Asssuuu... misterius sekali wanita satu ini. Dia selalu datang pas aku habis tidur dengan wanita, dan pas aku habis patah hati. "Mbak... aku kan sudah pernah bilang. Aku nikmatin aja perjalanan hidupku ini. Biar mengalir, entah ke mana muaranya," ucapku. "Termasuk membuang lendirmu ke mana-mana..?" Tanya Mba Mery langsung menusuk tembus sampai ke punggung dadaku. "Aku nggak seburuk yang Mbak kira. Aku nggak sembarangan tidur sama wanita," ucapku membela diri. "Kalau bajingan lendir, ya bajingan lendir aja. Nggak usah membela diri," kali ini dia ngomong dengan sinis. "Hiiiuuufffttt... terus aku harus gimana sekarang supaya Mbak mau pulang sama aku?" "Jawab pertanyaanku. Sampai kapan kamu mau begini?" katanya tegas sambil menatapku tajam. Aku diam, nggak menjawab. "Sampai ada wanita yang bisa jinakin nafsumu itu kah..?" Cuss... lagi-lagi kata-katanya nyucuk banget. Dan aku tetap diam. "Kamu itu lemah, San. Kamu itu nggak sekuat yang kamu kira. Kamu bisa nundukkan preman mana pun yang kamu mau... tapi kamu nggak bisa nundukkan hatimu sendiri." "Kamu bisa sombong di luar sana dengan gaya dan kekuatanmu... tapi nggak bisa sombong di hadapanku." "Hatimu itu rapuh. Kalau begini terus, nggak akan ada wanita yang tenang mendampingi kamu sampai kapan pun." Cuss... kenapa Mba Mery sampai begini sih? Kata-katanya menusuk-nusuk semua organ di dalam tubuhku. Sakit. Bener-bener sakit. Tapi nggak berdarah. Dan aku merasa dibunuh... tapi tidak mati. Aku berjalan mendekatinya dan menatap matanya. Lalu kupeluk dia erat-erat. Persetan dengan batasan-batasan. Nggak peduli siapa pun yang lihat. Yang jelas, wanita satu ini membuatku jatuh ke palung bumi yang paling dalam. Nggak ada yang bisa menyelamatkanku... kecuali dia. Dia yang kupeluk saat ini. "Kamu terlalu banyak bicara, Mer. Kamu sudah bikin aku bener-bener jatuh. Kamu bener-bener telah membunuhku hari ini. Jancookkk..." ucapku agak keras. Dia membalas pelukanku dengan erat. Dan aku menangis di pelukannya. (Cuss... bajingan cap opo koe iku... nangisan cuuukkk...) Aku nggak tau apa yang membuatku menangis, dan aku nggak tau kenapa aku berani memeluknya. "Kenapa kamu melakukan ini semua, Mer? Kenapa..?" Aku merenggangkan pelukan dan menatap mata misterius itu. "Kenapa kamu selalu ada pas aku dibelai wanita lain? Dan kenapa juga kamu hadir pas aku sakit? Kenapa?" "Kamu nunggu aku dari tadi kan? Itu di dalam tadi, sisa rokok yang kamu hisap kan?" "Kamu nggak kasian sama paru-parumu?" "Kamu mau apa dari aku, Mer? Kenapa kamu melakukan semua ini demi aku yang bajingan lendir ini?" "Jawab, Emery Naila Unna. Jawab..." ucapku agak keras. Dia diam, tetap memandangku dengan tatapan yang sama. "Ayo kita pulang," ucapnya singkat, lalu melepaskan pelukanku dan berjalan mendekati tigi. Asssuuu... enak banget dia ngomongnya. Dia sudah mencabik-cabik hatiku, terus dengan gampangnya dia bilang, ayo kita pulang. Bajingaaannn... "Astaga, Mery... Mery... kenapa kamu ikut-ikutan wanita yang dekat sama aku di kota ini, yang semua omongannya menggantung? Kamu semua janjian mau bunuh aku pelan-pelan kah? Terus sekarang aku harus bagaimana? Apa aku harus berubah? Berubah yang bagaimana? Jawablah, Mer... plissss..." kataku memohon. "Kamu nggak akan berubah, Sandi. Kamu akan seperti ini terus selama perjalanan menggapai cita dan cintamu. Percuma aku ngomong. Apa pun itu hasilnya akan sama aja. Jadi sekarang, mending kamu ikuti aja nafsumu. Puaskan semua keinginanmu itu. Sampai pada waktunya kamu akan mengerti sendiri." Jancuukkk... assuuu... dia ini ngomong apa sih? Mumet kepalaku cuss... "Ayo kita pulang," katanya lagi. Ingin aku berkata kasar sekasar-kasarnya sekarang. Tapi aku sudah lelah. Kemarin habis naik ke puncak Mahameru, hari ini naik ke puncak Gaby, dan sekarang dia memaksaku berpikir setelah mencabik-cabik hatiku. Terus habis itu langsung ngajak pulang tanpa penyelesaian masalah. Hiiuuufffttt... nggak oleh mesoo... nggak oleh mesoo... santai, San... santai... "Jadi sudah ini... kamu sudah bikin aku terperosok, terus kamu biarkan aja aku di dalamnya? Kamu nggak bantu aku keluar?" ucapku dengan sedikit pengharapan, supaya dia kasih solusi dari omongannya barusan. "Sandi Purnama Irawan. Ayo kita pulang. S E K A R A N G..." katanya sambil menatapku tajam. Asssuu... assuuu... akhirnya aku berjalan ke tigi, naik, dan menyetarternya. BRUMMM.. BRUMMM.. BRUMMM.. Cuss... lagi-lagi nggak ada solusi. Yang ada cuma penghakiman tanpa putusan. Dan lagi-lagi aku kalah telak sama makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Kenapa aku selalu nurut aja dan nggak bisa bantah kalau dia ngomong? Bajingan og... Kali ini, tanpa kuminta, Mba Mery naik ke atas tigi dan merapatkan duduknya kepadaku. Lalu memelukku dari belakang dengan erat. Cuss... kenapa dia lakuin ini lagi? Kenapa perasaanku langsung begini ya? Bukan karena nenennya yang kenyal menggesek punggungku, atau memeknya yang hangat menempel di punggungku. Bukan perasaan nafsu loh ya. Bukan. Tapi emosiku lagi-lagi mulai mereda setelah dipeluknya. Seperti waktu itu ketika dia memelukku. Dan aku hanya bisa menikmati pelukan hangat ini. Aku merasa ini pelukan ternyaman dalam hidupku di antara para wanitaku. Nggak ada suara di antara kami berdua. Kami cuma saling diam dengan pikiran masing-masing. Aku menjalankan tigi dengan kecepatan sedang. Mba Mery makin memelukku erat, wajahnya dibenamkan di pundakku. Aku merasakan ada getaran di punggungku. Apa dia lagi menangis ya? Kenapa sih kamu, Mbak? Kenapa? Lagi-lagi aku cuma terdiam tanpa berani bertanya. Pikiranku melayang ke mana-mana, dan aku jadi teringat beberapa waktu lalu—waktu aku habis ngantar Mba Mery ke kampusnya, dan pulangnya kami singgah di mall dekat alun-alun. Sebelum pulang, kami sempat singgah di sebuah cafe untuk sekadar duduk dan menikmati minuman pesanan kami. Waktu itu, di sebuah cafe... Aku duduk di teras cafe dan Mba Mery duduk di depanku. Dia menatapku terus. Aku cuma sesekali membalas tatapannya. Bukan takut atau malu. Aku nggak mau aja kalau tatapan yang saling beradu ini menghasilkan permainan api yang sangat besar—bisa membakar diriku dan dirinya juga. "Jadi kamu ditolak Amel nih ceritanya..?" Tanya Mba Mery membuka percakapan sambil meminum orange jus pesanannya. "Hem... siapa yang cerita," ucapku singkat. Gila nih cewek ya. Dia hadir pas aku membelai wanita, dan sekarang dia hadir pas aku sakit karena Mba Amel. Aku juga nggak cerita apa-apa dari tadi. Jadi kok dia bisa bertanya begitu? "Nggak ada yang cerita sama aku. Dan kamu juga nggak usah cerita kalau masih sakit karena itu," kata Mba Mery. Assuu... nggak usah cerita... tapi pertanyaanmu itu malah bikin aku tambah sakit dan jatuh sampai terperosok. "Hemm..." itu aja yang keluar dari bibirku. Lalu kuhisap rokokku dalam-dalam. "Hatimu itu terlalu baik dan terlalu polos, anak baru. Jadi kamu gampang menyerahkannya pada semua wanita yang dekat denganmu. Aku tau kamu itu ikhlas dan nggak mau memaksa supaya hatimu diterima oleh wanita yang mendekatimu. Tapi itu justru jadi kelemahanmu." "Setelah tau orang yang kamu sayangi justru jadian sama orang lain, kamu akan pendam kecewamu itu sendiri. Kamu nggak pernah perjuangkan cintamu dan kamu cuma bisa pasrah. Sebagai pelampiasannya, kamu tidur dengan wanita lain, kamu mabuk-mabukan, dan gampang tersulut emosi walaupun alasannya kesetiakawanan." "Kamu akui atau tidak... memang itulah kenyataannya," kata Mba Mery sambil membakar dan menghisap rokok mildnya. "Tau apa kamu tentang hatiku, Mbak..?" tanyaku sinis. "Aku memang nggak tau tentang hatimu. Tapi aku mengerti arti tatapanmu. Tatapan di mana kamu kecewa, tatapan kamu marah, tatapan ketika jatuh cinta, tatapan memendam amarah, dan tatapan butuh perhatian. Mungkin orang melihatnya sama aja. Tapi aku nggak." "Terus apa yang kamu mau dari aku? Bajingan lendir, bajingan yang hatinya lemah, bajingan yang hatinya baik dan polos, tukang mabuk, tukang berkelahi, dan suka niduri wanita..?" "Nggak ada. Nggak ada yang bisa diharapkan dari orang yang nggak bisa mengontrol hati dan pikirannya." "Terus kenapa Mbak selalu ada pas aku 'tersesat' dan pas aku terpuruk..?" "Supaya kamu sadar... kamu itu nggak sendirian," ucap Mba Mery lalu berdiri. "Pulang yuk," katanya. "Udah gitu aja..?" ucapku bingung. Enak kali kau. Setelah membuka lukaku, sekarang ngajak pulang. "Udah sore. Aku mau lanjutin revisi tugas akhirku." "Tau gitu tadi kita nggak usah ngobrol masalah ini, Mbak. Kalau akhirnya cuma malah menambah goresan di hatiku," kataku lalu berdiri. Assuu... aku bener-bener kecewa banget kali ini sama Mba Mery. Dia cuma mengorek lukaku aja, setelah itu ditinggalnya. Aku melangkah meninggalkannya. Tiba-tiba dipegangnya tangan kananku, ditariknya, dan dia langsung memelukku erat. Cuss... kenapa wanita satu ini? Dia memelukku erat banget. Dia nggak sadar apa kalau dia sudah punya kekasih yang sangat sayang sama dia? Perlahan aku merasakan sesuatu yang membuat hatiku yang panas dan emosi tadi mulai mereda dan mendingin. Dan tiba-tiba tanganku malah membalas pelukannya. Kupeluk dia erat-erat. Mba Mery memelukku sambil menyandarkan kepalanya di dadaku. Tangannya mengelus pelan punggungku. Aku bener-bener menikmati momen ini. Aku merasakan ketenangan yang luar biasa. CUUPPP... Tiba-tiba bibirku dengan berani mengecup keningnya. Cuss... kenapa aku lakuin ini? Lancang sekali aku. Assuuu... Dia menatapku dengan sedikit tersenyum. "Pulang yuk," katanya dengan tatapan sendu. "Nggak bisa lebih lama kah aku meluk begini..?" "Cukup. Ntar aku nggak tahan malah ngajak kamu tidur loh," katanya sambil tersenyum menggoda. "Cuss... emang bisa begitu..?" kataku sambil membelai rambutnya. "Emang kenapa? Kamu takut? Kalau aku sih cuek aja ngajak kamu tidur... tapi nggak tau kamu mau nggak aku ajak..?" katanya sambil melepaskan pelukannya. Aku cuma terdiam mendengar ucapannya barusan. Gila memang cewek satu ini. Dia terus berjalan ke arah parkiran motor, dan aku cuma bengong melihat dia pergi. "Kamu nggak mau pulang, anak baru..?" tiba-tiba dia berbalik dan mengejutkanku. "Oh iya, Mbak..." Aku kaget dan langsung menyusulnya, lalu pulang naik motor Rx-King milik Mas Rendi. Dia memelukku erat seperti waktu mengantarnya pagi tadi. Aku merasa tenang sekali di pelukannya. Terkadang pelukan memang lebih menenangkan dibandingkan kata-kata. (Wuiiihhh sadis cuuukkk...) Kembali lagi di atas motor tigiku. Dan sekarang momen itu terulang lagi. Dia memelukku erat. Tapi bedanya, waktu itu dia diam tak bersuara. Kali ini dia memelukku sambil menangis. Cuss... aku harus bagaimana? Mana sebentar lagi mau masuk gang ke kosanku lagi. Dan ketika sudah masuk ke dalam gang kos, aku berhenti sebentar. "Mbak... Mbak kenapa..?" tanyaku. "Sudah sampai ya..?" Asssuuu... lain yang ditanya, lain yang dijawab. Coba kalau aku yang gitu, pasti diomelin. Cuss... memang kamu itu wanita paling benar di bumi ini. Kulihat ke belakang dan menatap wajahnya. Sudah nggak ada air mata. Yang ada tinggal sembabnya aja. (Yo podo ae cuss...) Ntar kalau sampai penghuni kos tau dia datang bareng aku terus lihat matanya sembab... wah, bisa hancur aku. Apalagi dilihat sama Mas Pandu. Mungkin bisa ditendang balik atau ditinjunya aku untuk kedua kalinya. Asssuu... assuuu... Mba Mery langsung turun dan berjalan ke arah kosanku. "Mbak... Mbak... tunggu..." ucapku. Waduh, dia cuek lagi. Aku menyetarter tigi dan mengejarnya. Terlambat sudah. Ketika aku sudah dekat, Mba Mery sudah memegang gagang pintu kos-kosan dan membukanya. Cuss... aku langsung turun dan menuntun tigi ke dalam kos. Episode 26 (2/2) Di ruang tengah, semua penghuni kos sudah berkumpul. Mereka sedang pesta minuman, sibuk menonton pertandingan penentuan terakhir Liga Italia musim ini. Begitu aku dan Mba Mery masuk ke area kos-kosan, seratus pasang mata langsung menoleh ke arah kami. Mba Mery langsung melesat masuk ke kamar Mas Rendi dalam keadaan diam — tidak menyapa satu pun penghuni kos, termasuk Mas Rendi sendiri, seperti yang biasa dia lakukan kalau datang. Dan yang paling gila, dia membanting pintu kamar dengan agak keras. Braaakkk. Asssuuu. Mati aku. Hiuuuffftt... Sekarang semua mata tertuju padaku, dengan tatapan yang bisa membelah dada. Aku menarik napas dalam-dalam, memarkirkan Tigiku di depan kamarku, lalu berjalan pelan ke arah para teman-temanku yang masih memandangku tajam. Cuma Mas Rendi saja yang santai. Loh? Kok dia yang santai malahan? "Ketemu di mana kamu sama Mery, San?" tanya Mas Rendi dengan santai. "Di kos Alexis, Mas," jawabku. Tatapan tajam teman-temanku berubah menjadi tarikan napas panjang yang serempak. "Kenapa dia marah gitu, San? Kamu apain?" tanya Mas Pandu sambil menatapku. Cuukk. Aku terdiam, nggak bisa jawab. Aku harus jawab apa ini? Assuuu... "Dia emang uring-uringan dari tadi, Mas. Lagi stress sama ujian akhir skripsinya," kata Mas Rendi santai ke Mas Pandu. "Oh... kirain Sandi yang bikin Mery nangis. Kalau emang Sandi yang bikin nangis, kutinju dia sekarang sampai masuk rumah sakit. Pantang bagi keluarga kami bikin wanita menangis," kata Mas Pandu sambil mengisap rokoknya. Cuuukkkk. Jadi malu aku sama Mas Pandu. Memang aku, Mas, yang bikin Mba Mery nangis. Dia kepergok aku berdua sama Geby, langsung sedih gitu, terus di perjalanan nangis. Emang aku salah apa sama dia? Aku kan bukan pacarnya... "Enggaklah, Mas... Aku malah kasian sama Sandi. Kelihatannya dia jadi sasaran Mery. Lihat tuh, sampai pucat gitu mukanya. Hahahaha..." kata Mas Rendi sambil tertawa. Aku nggak tahu dia ketawa karena senang atau untuk menutupi sesuatu. Kok jadi aneh gini ya? "Betul gitu kah, San?" kata Mas Pandu. Wajahnya agak santai sekarang. Tapi aku diam, nggak menjawab. "Dia pucat itu bukan karena jadi sasaran Mery, Mas. Paling dia tadi habis ngecret di kos Alexis, terus ketahuan Mery. Emang kayak nggak kenal keponakanmu yang nggateli ini, Mas. Assuuu og..." kata Mas Bendu sambil geleng-geleng. "Bajingan emang anak satu ini! Hahahaha..." kata Mas Pandu sambil tertawa. "Woi! Kenapa koq berdiri di situ? Duduk di sini! Sekarang giliranmu minum ini!" kata Bung Toni. "Oh iya, Bung." Aku berjalan gontai ke arah mereka dan duduk di samping kakandaku Alan, yang langsung merangkulku dari samping. "Aku minum ya, Bung. Ayo, semua!" Aku angkat gelas tinggi-tinggi, lalu menghabiskan isinya sekali teguk. Setelah minum, kuserahkan gelas ke Bung Toni. Aku keluarkan rokok dan membakarnya. "Ntar ya, aku masuk sebentar. Mau nengokin ibu negara dulu," kata Mas Rendi sambil berdiri dan masuk ke kamarnya. Cuukk. Mudah-mudahan Mba Mery nggak jujur cerita kenapa dia nangis barusan... "Tim loe main nih, San! Juara Juve kalau menang ini. Poinnya selisih satu aja sama Lazio," kata Mas Wawan, mengagetkanku. "Berat, Wan. Mental yang bicara sekarang. Biar Juve lawannya tim kecil, tapi main di kandang musuh, dan dia diharuskan menang. Beban banget itu," kata Mas Adam. "Lazio ini peluangnya lebih besar. Dia kan main di kandang. Pasti banyak menangnya Lazio. Kalau Juve, pasti keok di kandang lawan. Lihat aja ntar. Juve memang di puncak mulai pertengahan musim, tapi lihat hasil akhirnya. Prediksiku, tim kebanggaanku Lazio yang juara! Hahahaha..." kata Mas Arief lalu menghisap rokoknya. Cuukk... ternyata dia Laziale. "Iya, aku dukung Mas Arief. Mudah-mudahan Juve kalah, biar Sandi menangis semalaman! Hahahaha..." kata Mas Akbar si Internisti. "Setujuuu!" teriak Mas Rudi si Milanisti. "Terserah siapa aja yang juara. Yang penting aku tetap: You'll Never Walk Alone!" kata Mas Wawan sambil merentangkan tangannya ke atas. "Setuju! Yang penting Valentino Rossi mengguncang dunia! Hahahahaha..." kata Kakanda Alan di sebelahku. "Hubungannya apa MotoGP sama sepak bola itu, Lan? Asssuuu..." kata Mas Adam geleng-geleng. "Diam aja kamu, San. Nggak seru ah. Kita taruhan aja gimana?" kata Mas Arief sambil mengambil gelas dari Bung Toni, karena memang sekarang giliran dia minum. "Percuma aja diajak ngomong, Mas. Sandi nggak akan nyambung sama omongan kita, kecuali dia belum minum ini dulu. Nih, ibu negara kasih ini buat kamu," kata Mas Rendi sambil menyerahkan teh kotak yang sedotannya sudah tertancap di dalamnya. Kenapa Mas Rendi santai aja ya, melihat Mba Mery sembab gitu? Apa Mba Mery nggak cerita apa-apa ya sama Mas Rendi? Tapi walaupun nggak cerita, masa Mas Rendi biasa aja melihat wanitanya habis jalan sama orang lain terus matanya sembab? Dia nggak ada sedikit pun gelagat mau marah sama aku. Dia malah bawa teh kotak buat aku yang katanya dari Mba Mery. Cuukk... Mba Mery... Biarpun dia kecewa sama aku, dia masih perhatian sama aku. Buktinya dia kasih aku teh kotak, dan seperti biasa, kalau teh kotak dari dia, pasti sudah dipasangkan sedotannya. Kamu memang misterius, Mba. Kamu tahu kalau dari tadi aku belum minum teh kotak. Dan kamu tahu kalau aku lagi butuh teh ini untuk menenangkan otakku yang lagi acakadut. Baik banget sih kamu, Mba... Untung kamu pacar Mas Rendi. Kalau nggak... mungkin sudah... Asssudahlah. Nggak usah dibahas. Aku minum teh pemberian Mba Mery sampai tetes terakhir. Hiiuuuffftthh... Leganya. Teh kotak ini langsung me-refresh seluruh otakku. Setelah habis, aku tarik napas dalam-dalam dari rokokku, lalu mengeluarkan asapnya perlahan. Nikmatnya. Perpaduan nikotin, tembakau, dan teh telah menyegarkan seluruh isi kepalaku. "Ayo kita taruhan, Mas! Siapa yang kalah beli satu karton TM Piye?" kataku penuh semangat. "Cookkk... Bisa langsung semangat gitu kamu, San?" kata Mas Pandu. "Bajingan keponakanmu ini, Mas Pandu. Otaknya sudah dirusak teh. Dia kecanduan, kelihatannya," kata Mas Adam. "Hahahahaha!" Semua penghuni tertawa mendengarnya. "Oke. Tapi kalau aku yang menang, bolehkan TM-nya dinikmati barengan sama anak-anak?" ucap Mas Arief sambil mengajakku bersalaman. "Cuuukk... Pede banget sampean, Mas," kataku sambil menjabat tangannya. "Seru ini! Siapapun yang menang, torang pesta malam ini! Hahahaha..." sahut Bung Toni. "Kalah kamu, San, malam ini! Hahahahaha..." kata Mas Akbar. "Mas Akbar diam aja ya. Inter tuh sudah dikalahin sama Juve musim ini. Ingat ya, dan tolong digarisbawahi: kandang sama tandang! Hahahahaha..." kataku, yang langsung bikin Mas Akbar ngedumel. "Asssuuu... Mudah-mudahan nggak juara kau, anak muda," kata Mas Akbar. "GOOOOOLLLL!" teriak satu penghuni kos saat Juve tertinggal 0-1. "Janccooook!" Aku memaki setelah melihat gol bersarang di gawang Edwin van der Sar. Ternyata cuma aku sendiri di sini yang dukung Juve. Yang lain sih bukan pendukung Lazio — cuma Mas Arief aja sendiri. Mereka ikut teriak karena mereka akan berpesta dari dompet seorang yang teraniaya sepertiku. Asssuuu... "Jiaaaahhh... Masak yang nyetak kok bek? Hahahahaha!" kata Mas Akbar dengan senangnya. "Hahahaha... Udah habis itu Del Piero. Yang terbaik sekarang itu Bierhoff–Shevchenko! Hahahaha..." kata Mas Rudi sambil tertawa. "Sabar dong, masih ada tiga puluh menit ini..." kataku. Dan ketika tiga puluh menit berlalu, kedudukan masih sama. Juve kalah 0-1. Artinya Juve nggak juara, dan aku makin teraniaya di hari ini. Asssuuu banget, kan. PRIITTT... PRIITTT... PRIIIIIIITTTT! Pertandingan selesai. Seluruh penghuni kosku berteriak girang nggak karuan. Mas Arief berlari mengelilingi kami, sedangkan yang lain berloncat-loncatan. Aku? Aku ya terduduk lemas, meratapi nasibku hari ini. Bajingan... Akhirnya aku keluar, diantar Alan, untuk membeli TM. Tapi sebelum ke warung Cak Gundul, kami singgah dulu ke kos-kosan Barbara. Kami berdua mau menengok wanita kami di sana. Walaupun sudah hampir tengah malam, masih banyak aja yang ngapel. Termasuk kami. Kok kami? Harusnya kan Alan aja. Kalau aku itu cuma datang berkunjung. Asssuuu... Setelah sampai di kos Barbara, kami menunggu sebentar di bawah. Di sini banyak sekali yang pacaran. Mereka berpencar dan asyik dengan 'kegiatan' masing-masing. Nggak lama, Mba Amel dan Lia nongol dari pintu kosnya. "Loh, kenapa ini, Purnama, Say? Kok butek betul wajahnya?" tanya Mba Amel ke Alan. "Biasa... Lagi hancur hatinya," kata Alan dengan cueknya. "Hancur sama siapa, Mas?" tanya Lia dengan pandangan yang nggak enak ke Alan. "Sama Juventus! Hahahaha... Timnya kalah dan nggak juara. Ditambah lagi dia kalah taruhan TM satu karton. Hups—" Alan langsung menutup mulutnya. Dia keceplosan soal taruhan. (Kapokmu kapan, Le! Makanya jaga omongan, tuman...) "Jadi kamu mau pesta nih, Lan?" kata Mba Amel. Wajahnya berubah jadi mengerikan, dan dia sudah nggak manggil 'Say' lagi, tapi manggil namanya aja. Hahahaha... Mampus kau, Kakanda. "Nggak gitu, Say... Jangan marah..." kata Alan langsung mendekati Mba Amel. "Kamu habis minum ya berdua? Kamu nggak capek kah tiap hari minum? Ha..?" Wuiihh... Kali ini mata Mba Amel memerah. Dia kayak mau berubah jadi Mangekyo Sharingan yang siap membantai musuhnya. Asssuuu... "Say... Kok gitu sih..." kata Alan. "Kita ngomong di sana!" kata Mba Amel, langsung menarik Alan yang cuma tertunduk dan nurut seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Hahahahaha... Lemah betul kamu, Kanda. Kalau aku jadi pacar Mba Amel, nggak pake banyak kata. Langsung kusosor bibirnya. Pasti langsung reda amarahnya. Hahaha... ("Yakin kamu nggak kayak Alan?" kata makhluk itu, datang lagi.) ("Asssuuu... Maksudmu apa?") ("Kamu itu lebih lemah dari Alan. Jadi nggak usah angkuh gitu.") ("Maksudnya apa ini?") ("Alan, biar gitu, masih mampu dan berjuang dengan keras untuk mendapatkan cintanya. Lah kamu? Cuman bisa komentarin orang aja. Hahahahaha!") ("Bajingan kamu. Cinta itu nggak perlu dipaksa. Kalau dia mau, ya udah jadian. Kalau nggak mau, ya nggak usah dipaksa.") ("Yang suruh maksa kamu itu siapa? Berjuang, cuukk, BERJUANG! Bukan memaksa! Kebanyakan minum TM kamu ini, makanya otakmu meleleh, nggak bisa dibuat mikir.") ("Katanya mencintai sewajarnya aja dan membenci seperlunya. Plin-plan betul kamu itu.") ("Itulah kenapa aku suruh kamu mikir pake otak, bukan mikir pake biji. Biar kamu bisa memilah kata-kataku. Lama-lama lelehan cairan otakmu itu keluar dari hidungmu, loh.") ("Bajingan! Ini umbel — ingus, cuukk! Bukan otak! Asssuuu!") ("Hahahaha... Kamu itu orang terguatel yang pernah aku datangi. Yo wes lah, aku mau ngapel kekasihku dulu.") ("Sudah gitu aja...") ("Yaiyalah! Emang aku Mery yang langsung meluk kamu? Aku juga bukan Lia yang langsung ngecup bibirmu. Najis banget! Cuihh!") ("Bajingan kau!") ("Hahahahaha!") "Pur... Pur... Kenapa melamun?" kata Lia, mengagetkanku. "Eh... Nggak kok, Ya'," kataku, berbohong. "Kamu lagi mikir apa sih, Pur? Kok kayaknya bebanmu berat banget..." "Aku mikir kamu ya... Kok nggak sadar sih kamu? Aku itu suka sama kamu. Kok kamu masih belum mau terima aku?" ucapku, tapi dalam hati aja sih. Asssuu... "Pur... Purnama... Kok melamun lagi sih?" tanya Lia. "Nggak kok, Ya'," kataku lagi. "Kamu itu nggak bisa bohong, San. Kamu nggak pintar ngelakuinnya." "Juve kalah, Ya'. Jadi aku kalah taruhan." "Elleeehhh... Itu mah cuman bagian kecil dari bebanmu," ucapnya sambil menatapku. "Kamu nggak tau sih, kalau kita sudah cinta, pasti sedih kalau yang kita cintai itu terpuruk. Termasuk Juve ini." "Beneran cuma karena Juve kalah dan nggak juara?" kata Lia sambil menatapku penuh selidik. Aku pun menunduk. Lalu... "Hiiufffttt... Ya'... Boleh nggak aku meluk kamu malam ini?" kataku sambil membalas tatapannya. Sebelum mendapat persetujuannya, aku langsung memeluknya. Aku merangkulnya erat. Dan dia membalas pelukanku. Kami sama-sama diam, beberapa saat. "Kamu kenapa, Pur?" tanya Lia yang masih memelukku erat. Aku diam aja, nggak menjawab pertanyaannya. "Nggak mau cerita ya sama aku?" katanya lagi. Dan aku diam aja. "Ya udah, kalau nggak mau ngomong..." "Apa yang bisa aku bantu supaya meringankan bebanmu?" Aku lalu merenggangkan pelukanku, dan menatap wajahnya. "Kita jadian, yu..." kataku, berbisik ke Lia. Lia lalu memegang kedua pipiku. CUUPPP. Dia mengecupku di bibir. Cuukk... Kok perasaanku nggak enak ya kalau dia ngecup gini... "Kamu nggak bosan ya, Pur, nanya itu?" tanya Lia sambil menatap mataku. "Aku nggak akan bosan, Ya'. Kalau memang dengan cara ini kamu bisa nerima aku. Kalau perlu, aku akan berjuang lebih keras lagi untuk membuktikannya. Dan itu bukan sekadar omongan..." CUUPPP. Dia mengecupku lagi. "Kita sahabatan aja ya..." katanya, langsung memelukku lagi dengan erat. Cuukk... Lagi-lagi itu jawabannya. Dia memelukku seolah nggak pengen dilepas. Perlahan, aku merasakan dadanya bergetar. Loh? Kok Lia nangis? Aku renggangkan pelukanku dan mau mengangkat wajahnya, tapi dia nggak mau — dia tetap membenamkan wajahnya di dadaku. Aku lalu membalas pelukannya dan membelai rambutnya. Asssuu... Dia wanita kedua yang menangis di pelukanku hari ini. Bajingan macam apa aku ini? Kok dari tadi bikin wanita menangis terus... "Ehemm... Sudah belum pelukannya?" Tiba-tiba Mba Amel dan Kakanda Alan berdiri di dekat kami. "Enake rek! Aku dapat omelan, kamu dapat pelukan. Asssuuu kau, Andinda! Hehehe..." kata Alan sambil tersenyum. "Aduuuhh... Aduhh... Sakit, Ay..." kata Alan yang dicubit Mba Amel. Lia lalu melepaskan pelukannya dan berlari masuk ke kosnya sambil menangis. "De... Kenapa kamu..." panggil Mba Amel. Seluruh teman-teman Lia yang lagi mojok melihat Lia, lalu menoleh padaku. Aku cuma menunduk. "Kenapa kau, Adinda? Ada apa?" tanya Alan. Nggak kujawab pertanyaan Alan barusan. Aku cuma mengeluarkan rokok dan membakarnya, menghisap dalam-dalam, lalu mengeluarkan asapnya perlahan. "Kamu sudah selesai, Lan? Kalau sudah, kita ke Cak Gundul. Nggak enak ditunggu teman-teman," kataku, lalu berjalan dan naik ke Tigi. "San... Kenapa kamu sama De Lia?" Mba Amel bertanya kepadaku. "Nggak pa-pa, Mba. Aku balik dulu ya. Lan, kalau kamu belum selesai, aku jalan dulu. Ntar aku jemput lagi," kataku. "Kita barengan aja. Aku pulang dulu ya, Say," kata Alan. "Iya... Ingat janjimu, Say. Jangan banyak-banyak minumnya..." "Iya, Say..." "San, kamu nggak pa-pa kan?" "Nggak pa-pa, Mba. Udah ya..." "San, hati-hati ya. Kamu juga jangan banyak minum..." "Hemm..." jawabku singkat, lalu langsung menggeber Tigi dengan keras, sampai membuat kaget penghuni kos Barbara yang lagi mojok. Aku cuek aja ngelakuin itu. Kalau ada yang marah, langsung kutarik kepalanya, kutempelkan ke knalpot Tigi, langsung kugeber keras-keras. Biar aja sakit. Biar dia ngerasain juga sakitnya aku malam ini. Asssuuu... Lalu pergi meninggalkan kos-kosan Barbara. Selama perjalanan ke Cak Gundul, Alan diam dan nggak bertanya macam-macam. Pikiranku makin kacau. Aku membawa Tigi dengan kecepatan sisa dua puluh kilometer per jam di speedometer... Setelah sampai di Cak Gundul, aku langsung membeli TM satu karton, dan kutambahkan vodka gepang dua karton. Biar aja aku beli sebanyak ini. Biar ndelosor semua penghuni kosku di lantai ruang tengah. Kalau sudah ndelosor, kan nggak ada yang bully aku. Biar aku juga bisa tidur tenang nanti... Setelah sampai di kosan, aku mengklakson teman-teman supaya membuka pintu kos-kosan. "Asssuuu... Banyak sekali kau beli, San! Sampai Alan ke-tutupan kartonnya gitu," kata Mas Danis. Aku masuk ke kos dengan tetap menyalakan mesin Tigi. Begitu sampai di ruang tengah, aku menggeber gasnya dengan keras. BRUMMM! BRUMMM! BRUMMM! "Janccook!" "Bajingan!" "Kuuuonntoolll!" "Ngamuk arekke, cook!" "Lagi kumat dia ini..." "Asssuuu! Asssuuu!" Satu per satu anak-anak kos memakiku setelah melihat banyaknya minuman yang dibawa Alan di belakangku. "Bajingan! Lihat keponakanmu, Mas! Kumat gilanya! Itu ngapain dia beli sebanyak itu? Dia mau bikin kita ndelosor di sini! Asssuuu!" kata Mas Arief. "Kamu nggak pa-pa kah, San? Wah, rusak koen. Bisa diamuk ayahmu aku kalau tau uangnya dihabiskan buat beli minuman sebanyak ini," kata Mas Pandu sambil geleng-geleng. "Mas, tolong bantu dulu Alan. Kasian keberatan dia," ucapku. Kulihat Mba Mery ada di ruang tengah. Dia duduk dengan Mas Rendi. Tapi begitu aku datang membawa minuman sebanyak ini, dia langsung masuk lagi ke kamar Mas Rendi sambil membanting pintunya. Braaakkk! Asssuuu... Asssuuu... Mas Rendi dan yang lain cuma menggelengkan kepala aja. Terserah kamu wes, Mba. Luapkan aja kekesalanmu sama aku. Mau kamu banting pintu, banting Mas Rendi, banting Bung Toni, atau banting Mas Pandu — aku nggak ngurus. Yang penting, aku mau minum malam ini sampai ndelosor... cuukkk... kalian memang makhluk yang paling susah dimengerti...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 25
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal