←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 27 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 27
BAGIAN 27 GA SEINDAH YANG DIBAYANGKAN Hasil UTS dan UAS semester pertamaku lumayan baik. IPK-ku di semester pertama 2,76. Ya lumayanlah, buat aku yang nggak terlalu pintar di hampir semua mata kuliah yang kuangambil. Semester pertama kemarin aku termasuk rajin kuliah. Maklum, mahasiswa baru. Oh ya, minggu kemarin aku menepati janjiku untuk berkunjung ke desa Jati Luhur. Memang telat, karena janji itu kuucapkan beberapa bulan yang lalu tapi baru sempat minggu kemarin. Sebenarnya kunjunganku itu bukan cuma karena janji kepada keluarga — aku juga sedang butuh menenangkan pikiranku yang lagi porak-poranda. Jadi kuputuskan ke desa dan menginap beberapa hari di sana. Mbahku sangat senang dengan kedatanganku. Aku sebenarnya sempat ditahan lama di sana, tapi karena alasan kuliah yang lagi padat, aku hanya bertahan beberapa hari. Lalu aku berjanji, kalau liburan nanti aku akan main lagi ke Jati Luhur. Begitu aku kembali ke kos, tatapan tajam dan penuh emosi dari Mbak Mery sudah menyambutku. "Dari mana kamu anak baru?" tiba-tiba Mbak Mery sudah berdiri di depan pintu kosku. "Dari desa, Mbak," jawabku santai. Dia langsung masuk ke kamarku dan menutup setengah pintu. Cuukk, nekat banget sih dia. Nggak takut ketahuan sama Mas Rendi? Assuuu... "Kenapa nggak pamit? Kenapa HP-mu dimatikan? Kamu marah sama aku soal di kos-kosan Gaby waktu itu?" tanya Mbak Mery sambil melotot, berdiri tepat di hadapanku. "Duduklah, Mbak. Biar tenang pikiranmu," kataku sambil menghisap rokokku dalam-dalam. "Gimana bisa tenang kalau sikapmu gini? Bukannya cari solusi, malah lari dari masalah," ucapnya. Dia langsung duduk di depanku, mengambil rokokku, membakarnya, lalu menghisapnya. "Yang lari dari masalah siapa, Mbak? Aku cuma menenangkan diri di desa. Aku juga kangen sama keluargaku di sana," jawabku santai lagi. "Tapi kamu bisa pamit kan? Nggak nyelonong gitu aja," ucapnya. Assuu... kenapa sih wanita satu ini? Kenapa dia begini banget sama aku? Apa dia memang sudah menganggapku adik sendiri, sampai kuatirnya sedalam itu? "Maaf, Mbak. Aku buru-buru kemarin, makanya nggak sempat pamit." Dan lagi-lagi aku yang harus minta maaf. Bener atau nggak, kalau sudah berurusan dengan makhluk yang satu ini, ujung-ujungnya aku yang harus minta maaf. "Terus kenapa HP-mu dimatikan?" "Aku lupa bawa casan, Mbak," ucapku berbohong. Padahal memang sengaja kumatikan, biar nggak ada yang ganggu. "Kamu itu bukan pembohong yang baik." Dia langsung mematikan rokoknya yang baru dihisap beberapa kali, berdiri, lalu keluar dari kamarku. Assuuuu... bisa gitu ya? Emang dia bisa baca pikiranku? Ah, nggak tahu lah. Terserah aja. Dan hari ini aku mulai persiapan untuk UAS semester dua. Aku bersama teman-teman juga bersiap menjadi panitia ospek penerimaan mahasiswa baru. Nggak terasa, hampir satu tahun sudah aku berada di kota ini. Aku mengikuti beberapa kegiatan mahasiswa, salah satunya pengurus himpunan mahasiswa teknik sipil. Di semester dua ini aku mulai agak keteteran. Kegiatan banyak, tugas dan praktikum sampai ada yang tertinggal. Mungkin semester depan aku akan kejar tugas dan praktikum yang tertinggal. Oh iya, sekarang bicara soal penampilanku. Rambutku sekarang lumayan panjang, kira-kira sebahu. Ada anting-anting di telinga kanan-kiri. Kalau celana, sering pakai yang sobek-sobek di lutut. Khas anak kuliahan di zaman itu. Bulan kemarin aku sempat pulang beberapa hari ke pulau seberang. Reaksi ayahku melihat penampilan baru anak pertamanya yang paling ganteng ini? Cuman geleng-geleng aja. Kalau ibu, awalnya santai aja waktu pertama lihat. Beliau nggak marah. Tapi begitu masuk rumah... amarah luar biasa keluar dan dilampiaskan ke ayahku yang nggak tau apa-apa. Dan aku mendapat omelan bertubi-tubi. "Ibu sebenarnya nggak izinkan mas pakai tato. Tapi mas masih aja mau tato di desa sana. Okelah, Ibu kasih toleransi karena yang di dada itu tato identitas keluarga ayahmu, dan ayahmu juga bertato seperti itu. Untuk tato di belakang, Ibu juga kasih toleransi karena mas tato waktu sudah masuk desa. Tapi bukan berarti mas boleh seenaknya ngerusak tubuh mas dengan pakai anting-anting segala! Mau jadi apa kamu, Mas? Mau nerusin jadi preman seperti keluarga ayahmu? Ayahmu aja pergi dari desa dan nggak mau nerusin, kok malah mas yang jadi begini..." ucap ibuku panjang lebar. Aku hanya diam mendengarkan. Aku memang paling nggak bisa membantah atau melawan kalau ibu sudah marah atau mengomel. Jadi kuputuskan untuk mendengarkan saja. Setelah ibu selesai mengomel, aku langsung berdiri dan berjalan ke arahnya. Aku menatap wajah beliau, lalu memeluknya. "Sandi kangen sama Ibu, loh," kataku sambil memeluk beliau. Lalu kucecup kening beliau perlahan. Kurenggangkan pelukanku dan menatap wajahnya lagi. "Kebiasaan... kalau mas sudah gini, apa Ibu masih bisa marah lagi," kata ibu setengah merajuk, lalu tersenyum padaku. "Bu... Sandi janji sama Ibu. Sandi nggak akan meneruskan bisnis Mbah di desa sana. Setelah kuliah selesai, Sandi akan pulang ke sini dan melanjutkan usaha ayah. Mau ke mana lagi Sandi kalau bukan ke sini. Ibu percaya Sandi, kan?" kataku pelan sambil mengelus punggung beliau, lalu mengecup keningnya sekali lagi. Begitulah ibuku. Kalau sudah kupiluk dan kutatap wajahnya, semua emosinya langsung reda. --- Kembali lagi ke kampus. Hari ini aku berangkat kuliah bareng Yuda dan Aldo. Surya ngabarin kami bertiga lewat SMS, posisinya sudah di kampus. Kalau Lia, belum ada kabar. Mungkin juga sudah di kampus. Sudah dua minggu ini Lia marah denganku. Karena aku selalu menanyakan kelanjutan hubungan kami. Terus terang, aku nggak bisa lama-lama menjalani hubungan aneh dengan Lia. Kalau memang pacaran, ya ayo pacaran. Tapi kalau sahabat, ya sudah sahabat aja — nggak usah pakai cium-ciuman, peluk-pelukan, lalu tidur bareng. Aku bukan tipe orang yang memanfaatkan persahabatan demi bisa menikmati tubuh sahabatnya sendiri — walau nggak sampai pecah perawan, loh ya. Dan itu salah satu faktor kenapa aku terus menanyakan kelanjutan hubungan kami. "Cok, dari mana aja? Kok baru datang?" kata Surya yang duduk selonjor sambil bersender ke dinding di teras perpustakaan. "Dari kos Barbara, kosnya Lia. Kenalan sama cewek cantik di sana," kata Yuda berbohong. Padahal kami bertiga nggak sengaja bertemu di gerbang kampus, jadi masuknya barengan. "Assuu... aku nggak diajak. Biadab kalian semua. Takut ya, kalau kalah saing sama kegantenganku," kata Surya. "Iya sudah, kamu itu manusia paling ganteng di permukaan bumi. Di atmosfer sana loh gantengmu. Tapi kalau sudah masuk kena gaya gravitasi bumi, gantengmu langsung punah," kata Aldo. "Biadab kamu, Do. Ehh... duduk dulu sini, dosennya belum datang," kata Surya kepada kami. "Berdiri sama tinggi, duduk sama gukguk," kata Yuda cuek. "Guk... guk... guk... Assssuuuu, kamu kira aku kirek apa, Yud!" kata Surya sambil menggonggong. Memang agak oon temanku yang satu ini. "Hahahaha..." kami bertiga tertawa melihat ekspresi Surya. "Kamu dari mana, Pur? Nggak kelihatan beberapa hari. Mabuk terus sampai ketiduran, ya?" tiba-tiba Lia datang dan langsung menembakku dengan pertanyaan yang bikin aku pengen ngecup bibirnya. Cuukkk... walaupun marah, dia masih perhatian sama aku. "Aku dari desa, Ya'," kataku. "Kenapa HP-mu dimatikan?" "Lupa bawa casan. Jadi HP-ku mati." "Kamu itu nggak bisa bohong, Pur," jawab Lia cuek, lalu memalingkan wajah ke arah lain. Assuu... lagi-lagi ada yang bisa baca pikiranku. Apa di atas kepalaku ini ada teksnya ya? Kok Lia dan Mbak Mery bisa tahu isi kepalaku? Teman-temanku mungkin tahu ada sedikit masalah antara aku dan Lia. Mereka cuman terdiam. "Ntar, Ya'. Aku mau tanya. Katanya mereka dari kosmu?" kata Surya, mencoba mendinginkan suasana. "Mana ada, Sur. Aku loh, dari tadi di sini," kata Lia datar. "Assuu... dibohongi aku," kata Surya. "Ntar aku titip absen ya, Do'. Aku mau rapat buat persiapan ospek," ucapku pada Aldo, dan Aldo mengangguk. "Loh, emang ada rapat? Kita semua berlima kan panitia juga. Kok kamu aja yang rapat hari ini?" sahut Yuda. "Iya, rapat kecil untuk panitia inti. Jadi cuman ketua himpunan sama ketua angkatan aja yang hadir. Besok baru rapat akbar semua panitia," kataku menjelaskan. "Pur, ingat kuliahmu, loh ya. Semester ini kamu aktif kegiatan sampai jarang kuliah. Tugas dan praktikummu juga ada yang tertinggal," kata Lia. Dia menasehati aku. Walaupun masih kelihatan marah, dia masih memperhatikanku. "Iya, Ya'. Makasih ya udah diingatin," ucapku. Setelah bercanda sejenak, teman-teman pun masuk gedung kuliah, sedangkan aku menuju himpunan untuk rapat bersama panitia inti ospek. Aku berjalan ke arah himpunan sambil menghisap rokok. Ingatanku kembali ke Lia. Sejak kejadian pertama kali kami tidur bareng, hubungan kami makin erat. Lia sering ke kosku, sering enak-enak di kamarku dan juga di kamarnya. Apalagi sejak dari Puncak Mahameru, kami semakin lengket — tapi dengan status TTM. Teman tapi mencium, teman tapi mencumbu, teman tapi meremas, teman tapi meniduri, teman tapi menikmati. Pokoknya, teman tapi mesum. Asssuuu... sampailah pada dua minggu yang lalu, ketika aku bertanya tentang kelanjutan hubungan kami. Flashback dua minggu yang lalu... Aku duduk bersama Lia di sebuah café. Café ini terletak di perbukitan yang tinggi, sekelilingnya banyak pohon, dan pusat kota terlihat dari sini. Sebelumnya kami habis nongkrong dengan teman-teman di kantin kampus, tapi sekarang sudah pada bubar. Sebelum mengantar Lia pulang, aku mengajaknya ke café ini naik Tigriku, karena ada yang mau kubicarakan dengan dia. "Ngomong apa sih, Pur? Kenapa nggak di kosanku aja?" kata Lia. "Nggak enak. Aku suntuk di dalam ruangan, Ya'. Aku pengen nongkrong di café yang bisa lihat pemandangan kayak gini," jawabku. Kulihat Lia bisa membaca gelagatku. Aku jadi agak grogi. Soalnya aku sudah beberapa kali menanyakan hal ini, dan jawabannya selalu sama: 'kita sahabatan aja.' "Kamu mau bahas masalah itu lagi, kan, Pur?" kata Lia. "Aku nggak akan pernah bosan bahas ini, Ya'," ucapku santai. "Terus terang, Ya'. Bersahabat sama kamu ternyata nggak menyenangkan seperti yang kupikirkan. Ada rasa yang harus ditahan, dan itu menyakitkan," kataku. "Terus maumu gimana, Pur?" tanya Lia sambil menatapku tajam. "Kamu pasti paham kan mauku, Ya'? Semua tergantung keputusanmu," ucapku sambil membalas tatapannya. Dia diam, sempat menoleh ke tempat lain, lalu menatapku lagi. "Jadi gimana keputusannya? Apa aku bisa ngucapin selamat pagi?" ucapku santai sambil meminum teh hangat pesananku. "Selamat pagi? Maksudnya?" tanya Lia. "Selamat pagi, Ya'. Terima kasih kamu sudah mau menjadi bagian dari hatiku yang telah lama kosong," ucapku sambil tersenyum menatapnya. Apa aku akan dicium lagi kayak biasa ya? Hehehe... "Hem... gombalmu, Pur," ucap Lia. Asuuu', cuman gitu aja? Mana ciumannya? Manaaa... aku lagi butuh ini. Aku lagi kangen sama kamu... "Terus..." tanyaku. "Nggak bisa. Maaf ya, Pur. Aku sudah bilang dari awal, kita bersahabat aja," kata Lia sambil menatap ke arah lain lagi. Cuukkk... jawaban yang singkat, padat, jelas, dan nggateli. Yang kurasakan saat ini, sekali lagi, bener-bener semacam dibunuh tapi tidak mati. "Aku terlalu bahagia kalau dekat sama kamu, Ya'. Sampai aku lupa kalau kita itu bukan siapa-siapa, kecuali sahabat." "Jadi kamu menyesal bersahabat denganku?" tanyanya. "Nggak juga. Seharusnya aku cukup kagum aja sama kamu, tanpa meletakkan perasaan padamu," ucapku. "Masa harus aku ulangi lagi perkataanku, Pur?" "Hem... ternyata ada enaknya juga kalau aku sering berkelahi. Aku jadi sering tersungkur, dan itu membuatku bersyukur. Daripada aku bahagia, akhirnya patah juga," ucapku sambil membakar rokokku dan menghisapnya dalam-dalam. "Sudahlah, Pur. Kita ini cuman sahabat. Titik." Lagi-lagi kata itu diulang, setiap aku mengutarakan isi hatiku. "Sahabat tapi enak," ucapku sambil tersenyum sinis. "Maksudmu apa, San?" ucapnya, menatapku tajam. Dia memanggilku dengan nama San, bukan Pur lagi. "Ya, kamu sudah tahu lah. Nggak perlu aku jelaskan," ucapku. Aku sudah terlalu lelah dengan jawaban Lia, dan mungkin ini sudah puncak kesabaranku. Aku sudah melakukan berbagai cara untuk menyampaikan isi hatiku, tapi hasilnya sama aja. Dan sikap egoisku menyuruhku berkata begitu. Terserah sudah mau gimana hasilnya nanti. "Kesannya aku seperti cewek murahan ya... yang seneng tidur sama sahabatnya sendiri," kata Lia dengan emosi, matanya berkaca-kaca. Lia lalu berdiri dan berjalan meninggalkan aku yang masih duduk di café. Dia kelihatan marah, dan langsung pulang naik taksi. Cuukkk... Kok gini endingnya? Assuuu... kenapa juga aku ngomong gitu barusan? Kenapa aku ngikutin sikap egoisku? Bajingan! Aku langsung berlari ke parkiran dan menggas Tigri dengan kencangnya. Aku mau kejar taksi yang ditumpangi Lia, yang sudah menghilang dari pandangan. Jalanan yang menurun nggak menyurutkan niatku untuk mengurangi tarikan gas. Kalau sudah gila gini, biar 46 juga kulawan. Gendeng nggak, cuukkk? Assuuu... Taksi yang ditumpangi Lia sudah tampak di depanku. Kutambah kecepatan Tigri dan kunyalip taksi itu. Setelah 200 meter di depannya, kurem mendadak dan kulintangkan motorku di tengah jalan. Kuturun, keluarkan rokokku, membakarnya, lalu menghisapnya — biar kelihatan dramatis kayak di sinetron yang judulnya Boyke, anaknya Ki Langit. Taksi Lia yang melaju kaget dan mengerem mendadak, berhenti tepat satu meter di depanku. Hiiufftt, untung sopirnya ahli. Kalau nggak, sudah lewat aku. Sopir taksi keluar dan memakiku. "Jaancookk! Kamu kalau mau mati jangan di depanku! Assuu... minggir, koen! Bajingan!" katanya memakiku. Ya wajar sih dia emosi, pasti kaget karena kurem mendadak dan menghalangi jalannya. Tapi aku tetap tenang dan berjalan ke arah sopir itu. "Maaf, Pak. Aku nggak akan mindahin motorku kalau perempuan di taksi Bapak nggak turun," kataku dengan tenang. "Bajingan! Emang siapa yang di dalam itu, kok sampai kamu nekat gini?" "Dia kekasih hatiku, Pak," kataku tetap tenang. "Cookkk! Seleramu sama thrull, ta?" "Ya nggaklah, Pak. Yang seumuran sama aku lah. Tapi kalau yang tua tiga atau lima tahun di atasku, masih oke lah," kataku dengan cueknya. "Assuu'i... di dalam itu ibu-ibu umurnya kira-kira 75, loh, Mas," kata si sopir. "Jancooookk!" Aku langsung melirik ke dalam taksi. Ternyata bener — itu ibu-ibu umurnya kira-kira 75. Bajingaaan! Aku salah taksi! Assuuu... assuuu... --- Kembali lagi ke kampus. "Pur... ngelamun aja kamu. Mau ke mana?" tiba-tiba Mbak Amel memanggilku. Dia sedang duduk sendiri di bangku taman kampus. "Ehh, ada mbak cantik... hehehe. Aku mau ke himpunan, mau rapat persiapan buat ospek," kataku sambil berjalan mendekati Mbak Amel dan duduk di depannya. "Rapatnya ditunda, ntar sore. Ketua pelaksana lagi menghadap rektor. Alan tadi yang kasih tahu aku," kata Mbak Amel. Oh iya, untuk tahun ini Mbak Amel nggak jadi panitia. Padahal tahun ini jatah terakhirnya jadi panitia, tapi dia nggak mau. Soalnya Mbak Amel lagi persiapan skripsi. Sedangkan kakanda Alan yang satu angkatan dengannya, nggak tahu kapan skripsinya — mata kuliahnya aja masih banyak yang belum lulus, gimana mau skripsi. "Oooo... ke mana saudara perguruan-ku itu, Mbak?" ucapku sambil menghisap rokok putihanku. "Dia lagi ke himpunan sebentar. Katanya ngambil sesuatu," kata Mbak Amel. "Oh ya... nggak baik jalan sambil melamun itu, Pur," kata Mbak Amel. Dan aku cuman tersenyum mendengarnya. "Kamu lagi marahan sama Lia, ya?" kata Mbak Amel. "Nggak, Mbak," jawabku singkat. "Nggak usah bohong. Aku tuh tahu dari gelagat kalian berdua. Kalian pacaran, ya, kemarin-kemarin. Lagian waktu malam itu, kok bisa sampai Lia nangis gini?" kata Mbak Amel. "Enggak, Mbak. Kita cuman sahabatan aja," jawabku santai. "Sahabat tapi enak... hehehehehe..." Mbak Amel tertawa sambil melihatku. "Enak apanya, Mbak?" "Eleh... kayak aku nggak tahu aja kalau Lia sering tidur di kosmu. Dan kamu juga sering 'main' di kamar Lia." "Hemmmm..." kali ini aku nggak menanggapi pernyataan Mbak Amel. "Gara-gara Bowo, ya?" kata Mbak Amel. "Maksudnya, Mbak?" tanyaku penasaran. Episode 27 (Bagian 2/2) "iya, sudah beberapa minggu ini Bowo sering main ke kosku dan sering jalan sama Lia… kelihatannya mereka balikan…" kata Mbak Amel. Cuukkk… gara-gara ini toh Lia menjauh dariku terus menolakku. "Biar aja, Mba… lagipula kan kami berdua cuma sahabat, ga lebih," kataku sambil menahan emosi. "Kamu cemburu, Pur…" Mbak Amel menatapku tajam. Cuukkk… bener kata Mbak Amel, aku cemburu. Di saat aku sedang kecewa, rasa ini datang seenaknya saja—tanpa peduli bahwa aku bukan siapa-siapa Lia. "Ngga, Mba… tapi ga tau kenapa, aku merasa kecewa…" "Sama aja itu, Pur. Mending kamu selesaikan baik-baik dengan Lia. Dia itu adekku yang kusayangi… dan kamu juga sudah kuanggap adekku sendiri. Aku ga mau ada apa-apa sama kalian berdua. Kalau awalnya kalian baik-baik, selesaikan juga dengan baik-baik…" kata Mbak Amel. "Pur… Lia berhak bahagia dengan pilihannya. Dan kamu pun berhak mencari kebahagiaanmu sendiri. Berpikir positif aja… mungkin saat ini kalian belum disatukan dengan takdir-Nya…" "Aku yakin kamu bisa menyelesaikannya, kok. Buktinya kan kita pernah di posisi yang sama beberapa bulan yang lalu…" kata Mbak Amel. "Ga tau aku, Mba… masalah Mba dan Lia ini beda jauh. Dengan Lia, aku sudah terlalu terjerumus ke dalam… sampai untuk naik lagi pun aku sulit…" kataku sambil menghisap rokokku dalam-dalam. "Sulit bukan berarti ga bisa, kan?" kata Mbak Amel. Kalimat itu menusuk sampai ke tulang. "Ga tau lah… bingung aku, Mba…" "Kamu itu laki-laki yang kuat, Pur. Dari matamu aku tau, banyak hal yang membuat kamu sekuat ini. Masa lalumu yang gelap pasti mengajarkanmu tentang kerasnya hidup… persahabatan, persaudaraan, cinta, pengorbanan, dan pengkhianatan—semuanya pasti sudah jadi makanan sehari-harimu." "Usia mungkin aku lebih tua darimu… tapi pengalaman hidupku ga seberwarna hidupmu…" "Ayo, Pur… gunakan otak dan hatimu. Berdamailah dengan mereka. Kalau kamu sudah bisa menyatukan keduanya, pasti kamu bisa menyelesaikan semua ini dengan baik. Jangan ototmu aja yang dipakai…" "Yakinlah, Pur… Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya melebihi kemampuannya…" katanya sambil menatapku, sedangkan aku diam membisu, ga tau harus berkata apa. "Ya udah kalau gitu, aku pamit ya… mau ketemu dosen. Mau konsultasi judul skripsi…" kata Mbak Amel. "Iya, Mba… sukses ya skripsinya… semoga lancar…" "Makasih, Pur… semoga kamu juga bisa cepat menyelesaikan masalah ini…" Mbak Amel berdiri, lalu… CUUUPPP… Mbak Amel mengecup pelan bibirku, lalu pergi meninggalkan aku yang bengong menerima kecupan itu. Assuuu… kenapa dia cuma ngecup bibirku sih? Kenapa ga sekalian dilumat… terus kita cari wc kampus, quick sex sebentar untuk melepaskan birahi yang sudah lama ga kita lakukan… Bajingan… mikir apa sih kamu, San? Ngelantur minta dilumat sama ngesek-sek segala. Pikirin masalahmu! Jangan jadi penghalang kebahagiaan orang… Cuukkk… aku makin bingung harus bagaimana soal Lia. Kalau memang Lia mau balikan sama Bowo, ya kenapa dia ga jujur sama aku? Aku lebih bisa menerima kejujuran, sekalipun pahit. Kenapa dia tutupi semua itu dariku? Terlepas dari semua itu… kenapa sampai sekarang aku juga belum dapat pengganti Wulan (nama mantanku waktu masih sekolah)? Bukan karena aku buru-buru atau cari tempat pelarian… tapi aku sudah lelah dengan sendirian. Aku ingin membagi semua kisah hidupku, menjalani hidup bersama pasanganku… Atau jangan-jangan Tuhan menghukumku karena kelakuanku selama ini? "Tuhan itu selalu mendengar doamu dan menggenggamnya. Dia akan melepas doa-doamu satu per satu dengan cara-Nya, di waktu yang tepat, tanpa kamu tau dan tanpa kamu duga… dan itu pasti yang terbaik untukmu. Jadi berhenti berpikiran jelek terhadap Penciptamu…" "Bagaimana aku ga berpikiran jelek? Aku sudah dua kali gagal mendapatkan kekasih di kota ini… padahal aku sudah tidur dengan keduanya…" ucapku. "Mungkin caramu yang salah… atau jangan-jangan Tuhan melihat kamu belum siap menerima semua doa yang akan Dia kabulkan…" "Embohlah… ndasku mumet…" "WOIII… San… ngelamun ae rek…" kata Aldo. "Loh… ga kuliah koen, cuukkk?" "Ngga… malas aku. Tadi aku sudah titip absen sama Surya. Kamu juga sudah diabsenin. Ga jadi rapatnya?" ucap Aldo sambil mengisap rokoknya. "Ngga… ditunda sore…" "Ada apa denganmu, ksatria? Kenapa beberapa hari ini seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" kata Aldo sambil menatapku. "Entahlah, kisanak… aku bingung. Aku dan keempat saudaraku telah kalah di medan perjudian. Aku telah kalah segalanya… harta, tahta, dan wanita telah dipertaruhkan di sana, dan aku telah kehilangan semuanya. Aku malu sama dunia… tapi lebih malu pada Drupadi, istriku. Aku menyesal, kenapa aku ga mencegah Kakanda Yudistira menerima tantangan Duryudana yang meminta Drupadi dipertaruhkan?" "Selama manusia punya nafsu yang ga bisa ditahan, semua itu bukan hal yang mustahil… tapi yang perlu kau ingat, ksatria… segala sesuatu yang dimulai dengan tidak baik, akan berakhir tidak baik. Kita lihat aja nasib Duryudana di masa yang akan datang…" kata Aldo dengan tenang. "Baiklah, kisanak… kalau begitu, aku akan mengembara ke puncak Semeru. Siapa tau, di sana aku mendapatkan ilmu kesaktian dari para dewa, supaya aku bisa menaklukkan wanita-wanita di kerajaan ini. Aku ingin menambah istri untuk menemani Drupadi…" "Hei, ksatria… kamu ga pakai ilmu dewa saja sudah bisa menaklukkan beberapa wanita cantik di kerajaan ini. Bagaimana kalau ditambah ilmu dari para dewa? Dapat apa kami kaum sudra ini…" kata Aldo. "Jancook…" "Hahahahaha…" kamipun mengakhiri percakapan ngelantur ini dengan tawa. "San…" "Hem… kenapa?" "Jangan berpikiran macam-macam tentang Lia…" "Maksudnya…" Aku menatap Aldo. "Sudahlah… aku tau semua tentang apa yang terjadi antara kamu dan Lia. Dan aku juga tau penyebab Lia melakukan ini semua…" "Hem… apa yang kamu tau do?" "Sebenarnya aku ga boleh cerita… tapi aku ga mau semua ini berlarut-larut. Ga enak kalau kita lagi kumpul-kumpul tapi ada pembatas di antara kalian. Suasananya canggung, ga seperti biasanya… candaan pun kelihatan garing…" kata Aldo. "Intinya, kamu mau cerita atau ga?" ucapku. "Aku akan cerita… kuharap kamu bijak mendengarnya." "Hem…" ucapku singkat. "Jadi waktu itu, beberapa hari setelah kita ke Mahameru… waktu lewat dekat perpustakaan, aku ga sengaja dengar Lia menangis sambil terima telpon dari ibunya di pulau seberang. Inti pembicaranya: bisnis ibunya sedang bangkrut dan butuh suntikan dana. Lia kaget—pas dia tutup telponnya, ternyata aku ada di belakangnya…" "Kami berdua akhirnya mengobrol. Dia cerita semua masalah yang dihadapi ibunya. Ibunya sudah ga bisa berbuat apa-apa lagi untuk perusahaannya. Jangankan untuk perusahaan… untuk biaya kuliah Lia dan adeknya yang masih sekolah saja, ibunya kelimpungan. Akhirnya ada ayahnya Bowo yang membantu menyelamatkan perusahaan ibunya…" "Di sinilah awal masalah yang dihadapi Lia. Dia dilema. Di satu sisi, sudah mulai tumbuh benih-benih cinta sama kamu… di sisi lain, ibunya menyarankan dia berpikir lagi supaya balikan sama Bowo. Awalnya Lia ga mau ikutin saran ibunya. Dia ingin jadian sama kamu. Dia bertekad, seandainya kamu meminta kejelasan hubungan kalian, dia akan menerima dan menghadapi segala risikonya…" "Ibunya sebenarnya ga memaksa Lia menyanggupi… cuma Lia disuruh berpikir lagi. Pikiran Lia benar-benar kacau saat itu. Yang dia pikirkan, ibunya seorang single parent menghadapi masalah bertubi-tubi seorang diri… sedangkan dia anak pertama, ga bisa berbuat apa-apa. Di saat dia kacau begitu, Bowo datang lagi dalam hidupnya. Dengan segala perubahan sikap dan perhatiannya, Bowo meyakinkan Lia bahwa dia ga akan mengulangi keburukannya selama ini… dan Lia akhirnya menerima Bowo lagi—walaupun semua itu bertentangan dengan isi hatinya. Tapi demi kebaikan keluarganya, dia belajar menerima Bowo lagi dan melupakan cinta yang ada di hatinya…" ucap Aldo, diakhiri dengan menghisap rokoknya dalam-dalam. Cuukkk… ternyata selama ini aku egois. Aku selalu memaksa Lia dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kelanjutan hubungan kami. Dan bodohnya aku—yang katanya sahabat dekatnya—ga tau masalah yang dia hadapi… malah menambah beban pikirannya. Aku malah sempat meragukan seorang Lia, padahal dia sudah memberikan semuanya pada diriku, kecuali perawannya… padahal sebenernya mau dikasih juga, tapi aku aja yang ga mau. Aku diam, cuma bisa menghisap rokokku dalam-dalam. Ga bisa ngomong apa-apa setelah tau semuanya dari Aldo. Aku cuma bisa mengutuk diriku sendiri. "Cinta ga harus memiliki, San. Jika cinta kalian tak bisa bersatu, cukup doakan… semoga masing-masing mendapatkan yang terbaik. Karena Dia ga mungkin menjatuhkan kita pada pilihan yang salah…" kata Aldo sambil menunjuk ke atas. "Kalau memang itu yang terbaik buat dia… apa mau dikata do… aku cuma bisa pasrah dan menerima…" ucapku. "Kamu masih belum terima, kelihatannya, ya San…" "Jujur… iya… karena aku sayang…" ucapku. "Aku pernah dengar kalimat dari presidenku… 'Sekuat apapun kamu menjaga, yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apapun kamu menolak, yang datang akan tetap datang. Semesta memang kadang sering bercanda…'" ucap Aldo sambil membuang asap rokoknya ke atas. "Cuukkk… presiden kita sama aja… jancok…" ucapku sambil tersenyum kecut. Bener apa yang dikatakan Aldo… kita ga bisa memaksa garis yang telah ditentukan-Nya. Cukup menjalani dan berusaha… hasil akhirnya kita serahkan pada-Nya. Aku langsung berdiri. "Kamu mau ke mana?" ucap Aldo. "Ada yang harus aku selesaikan do… ini untuk kebaikanku dan kebaikan Lia…" ucapku. Aku langsung berjalan ke arah kos dan mengambil Tigiku. Aku mau menemui seseorang… Aku berhenti di sebuah café—tempat nongkrong anak-anak motor sport kota ini berkumpul. Kulihat beberapa motor sport diparkir di sana. Aku turun dan parkirkan Tigiku. Sekarang aku mau mendatangi Bowo… bukan untuk berkelahi seperti beberapa tahun yang lalu di kotaku… tapi untuk membicarakan masalah Lia. Aku masuk ke café itu. Di meja belakang, kulihat Bowo lagi ngobrol bersama teman-temannya. "Wo… ada waktu sebentar?" ucapku pada Bowo yang terkejut dengan kedatanganku. Teman-temannya semua menatapku tajam. "Oh iya, San… kita ngobrol di luar ya…" Bowo langsung berdiri dan mengajakku duduk di meja luar. "Pesan apa kamu, San?" "Es teh…" "Mas, es teh satu sama cappucino satu…" kata Bowo kepada pelayan di sampingku. "Apa yang mau diomongin, San?" ucap Bowo sambil membakar rokoknya, menutupi sedikit groginya berhadapan denganku. "Lia… ini tentang Lia…" ucapku sambil membakar rokokku. "Hukk… hukk…" dia kaget sampai tersedak asap rokoknya sendiri. "Santai aja, Wo… jadi gini… aku sudah dengar kalau kamu balikan sama Lia. Aku cuma mau menegaskan sama kamu: aku sama Lia selama ini hanya sahabat, tidak lebih. Dan setelah ini, aku janji akan menjaga batasan-batasku sebagai seorang sahabat. Jadi jangan berpikiran aneh-aneh tentang aku dan Lia…" ucapku lalu meminum es teh pesananku yang baru datang. "Iya, San… aku selama ini terlalu berlebihan sama Lia. Aku sadar itu… dan aku janji akan merubah sikapku. Aku akan lebih percaya padanya, serta menjaganya sepenuh hati…" ucap Bowo. "Oke… aku senang dengar langsung dari kamu. Jadi mungkin itu aja… aku balik dulu ya…" ucapku lalu berdiri. "Loh, buru-buru amat…" "Iya, masih ada keperluan…" ucapku. "Oh iya, Wo… tolong jaga Lia. Sayangi dia sepenuh hatimu. Dia anak baik… kamu pasti lebih mengenalnya daripada aku. Jadi… jangan pernah sakitin dia. Kalau sekali aja kamu sakitin dia… kupastikan kamu selesai hari itu juga…" ucapku, lalu pergi meninggalkan Bowo yang berdiri mematung melihat kepergianku. Satu masalah selesai, tinggal satu lagi. Aku mengarahkan Tigiku ke kos Barbara… mudah-mudahan Lia sudah pulang dari kuliah… Aku sudah sampai di kos Barbara. Suasana kos siang ini kelihatan sepi. Aku mengambil hp dan meng-SMS Lia, kabari bahwa aku ada di depan kosannya. Ga lama, pintu kos terbuka. Lia keluar lalu membuka pagarnya. "Hai, Pur… tumben main ke kosan…" ucap Lia datar. "Ga pa-pa… ada yang mau aku omongin, Ya'… ada waktu ga?" "Penting? Kalau iya, ayo naik ke atas…" kata Lia. "Ga usah, di sini aja…" "Kalau gitu kita di teras aja…" Aku turun dari Tigi dan mengikuti Lia duduk di teras. "Apa yang mau kamu omongin, Pur?" ucap Lia. "Aku sambil rokok-an ya?" ucapku. Lia hanya diam… dan kuanggap dia setuju. Aku mengambil sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam, dan membuang asapnya ke atas. Lia duduk di sampingku… dan aku menoleh padanya. "Beri aku satu alasan… supaya aku meninggalkan cintaku di sini, Ya'… aku ga mau keluar dari kos ini dengan masih membawa perasaan cinta yang menggantung…" ucapku padanya, membuatnya kaget. Wajahnya terlihat menyembunyikan sesuatu… tapi dia bingung harus bagaimana. "Hiiuuufffttt… aku balikan sama Kak Bowo… ternyata aku salah menilai dia selama ini… dan ternyata aku aja yang terlalu berpikiran macam-macam tentang dia. Aku sekarang senang dan bahagia dengan keputusanku… kuharap setelah ini, kamu juga menemukan kebahagiaan yang kamu cari… dan jangan mikirin aku lagi ya, Pur…" ucap Lia sambil menatap ke depan, tanpa melihatku sama sekali. Aku sempat melihat butiran air yang siap jatuh di matanya… Kenapa Lia masih bohong, ya… aku tau Lia kecewa dengan semua ini… dan aku tau dia ga bahagia. Dia ngomong seperti ini biar aku tenang… dia terlalu banyak memendam rasa sakit… Tapi ya sudahlah… "Okelah… kalau gitu… aku senang kalau kamu bahagia… dan aku tenang meninggalkan cintaku di sini…" dan akupun berdiri. Dia berbohong untuk menenangkanku… dan akupun akhirnya berbohong… untuk membuatnya percaya bahwa aku sudah tenang… "Aku pamit ya… aku lega, Ya'… akhirnya bisa berakhir dengan baik seperti ini…" ucapku lalu berjalan ke arah Tigi. "Pur… kamu ga pengen meluk aku untuk terakhir kali?" ucap Lia… Aku berbalik… kulihat matanya sudah berkaca-kaca, siap menumpahkan air matanya… "Ngga, Ya'… kita masih ketemu, kok… ini bukan pamitku sebagai seorang sahabat…" ucapku lalu naik Tigi dan meninggalkan Lia yang mulai menangis di depan teras kos-kosannya… Maafkan aku, Ya'… bukannya aku ga mau meluk kamu… aku takut, kalau sampai aku meluk kamu, aku akan berubah pikiran… dan akan memperjuangkan cintaku tanpa mempedulikan risiko apapun… Aku menjalankan Tigiku ke arah kampus… sore ini ada rapat persiapan ospek… Eh… tadi sepintas aku kok lihat Mbak Mery berdiri di belakang jendela, tertutup korden yang berbayang… apa aku ga salah lihat, ya… Cuukkk… masa kamu lihat aku lagi, sakit hati, Mba… Aku ga terlalu konsen dengan rapat kali ini… yang kupikirkan cuma Lia aja. Kulihat di luar, gerimis mulai turun… hemm… tumben… kan ini bukan musim hujan… Semua pohon dan atap gedung basah… pikirankupun ikut basah… Satu karena rintik hujan… yang satu, karena perasaan yang menghujam… Dan biadabnya… hujannya sudah reda… tapi perasaannya terus menderas… Rapat telah usai dan akupun balik ke kos… walaupun hujannya sebentar, tapi cukup membasahi segalanya… termasuk pikiranku… "Hari baik seperti ini jangan dibuat untuk bersedih… hei anak muda… bangkitkan hatimu…" kudengar suara seseorang berbicara padaku… suara yang sudah ga asing lagi di telingaku… "Tumben kamu datang ga menghina aku…" ucapku… "Bersenang-senanglah secukupnya… bersedihlah sekedarnya… jangan berat sebelah, nanti kamu hilang arah…" ucapnya lagi… "Berarti aku boleh cari lagi persinggahan hati?" tanyaku… "Jangan buru-buru kalau masih ingat masa lalu…" "Cuukkk… perutku jadi sakit dengar kamu ngomong gitu…" ucapku padanya… "Ya udah, cari kamar mandi sana…" "Iya…" "Jangan lupa bayar ya…" "Taik… kamu balas aku ya?" "Jangan lupa yang bersih siramnya…" "Assuuu…" "Ceboknya yang bersih ya…" "Bangsat… kamu ngomong sekali lagi, kukencingi mukamu…" "HAHAHAHAHAHA…" Perlahan namun pasti, tawa itu hilang… dan ga ada lagi suaranya yang terdengar… cuukkk cinta ga seindah yang dibayangkan
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 26
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal