EPISODE 03
BAGIAN 3
CEWE ITU…
Perutku kroncongan, tapi kepala masih terasa berat seperti ditimpa panci. Badan lemas, pusing sisa alkohol semalem masih bertengger manis di pelipisku. Aku bahkan tertidur semalam masih pakai baju dari rumah — lengkap dengan sepatunya. Gila. Pagi pertama di kota ini, bangun dalam kondisi penuh drama begini.
Aku duduk bersandar ke dinding, melepas sepatu converse hitam-putihku. Ringan, lentur, nyaman di kaki — setia teman seperjalanan. Kubungkus rokok dari samping tas, kubakar, kuhisap. Hambar. Rasanya seperti semuanya pagi ini.
Kumatakan kamar itu. Dinding biru muda. Hmm… besok-besok mau kucat hitam-putih, warna Juve tercinta. Tapi boleh nggak ya ganti cat kamar semaunya penyewa? Kulanjut mengamati: lemari di pojok, kaca sepertiga badanku, kasur lantai yang kutiduri, meja pendek di sisiku. Oke, ini dia fasilitasku. Nanti siang atau sore aku belanja kebutuhan.
Kubuka tas besarku, kumuat semua isinya ke lemari — pakaian, perlengkapan mandi, dan tas kecil berisi map ijazah plus berkas pendaftaran kuliah yang sengaja kukumpulkan jadi satu.
Teh kotakku mana? Kucari di depan tas. Nih dia. Aku haus setan. Dua kotak kutenggak sekaligus. Segar! Rasanya seperti ada tenaga baru mengalir ke urat.
Mandi dulu ah. Dari sampai semalem sampai pagi ini belum nyentuh air. Aku jalan ke jendela dan membukanya. Huuu… hawa segar masuk, dingin menusuk tulang. Padahal matahari sudah terang. Dari jendela kelihatan hamparan sawah hijau persis di samping kos. Di kotaku nggak ada beginian. Di desa asalku ada sih, tapi bukan tepat di sebelah kamar gini. Lalu ada gunung menjulang membelah awan. Hemm… indah sekali. Kapan-kapan aku harus mendakinya. Di kota asalku cuma ada gunung kembar yang lalu-lalang di jalan raya.
Kuambil handuk dan perlengkapan mandi, keluar kamar. Sepi. Mungkin penghuni kos pada kuliah semua.
Aku masuk kamar mandi, kusentuh airnya — ihhh! Dingin banget! Seperti air baru dikeluarin dari freezer.
Setelah mandi, kupilih kaos lengan panjang. Bukan karena kedinginan, emang aku memang doyan. Aku mau cari sarapan. Kubuka dompet… satu lembar lima puluh ribu. Itu saja. Harus ke ATM dulu, sekalian ambil uang bayar kos. Oh iya, mas Rudi kemarin bilang kosnya 1,5 juta setahun plus tambahan 20 ribu per bulan kalau bawa komputer.
Tapi… cara ambil uang di ATM itu gimana ya? Seumur-umur belum pernah masuk ke ATM, apa lagi narik duit. Hehe. Kuambil amplop ATM dari bank — masih segel, cuy. Petugas kemarin sempat ceramah: jangan lupa catat PIN, cepat ganti PIN baru, dan jangan pernah kasih PIN ke siapa pun, walo petugasnya sekalipun.
Kubuka amplopnya. Ini PIN-nya yang mana ya? Yang 16 digit di kartu mungkin. Aku catat dan simpan balik. Dompet, rokok, amplop, buku — masuk tas kecil. Lengkap.
Strategi: ATM dulu, sarapan belakangan. Soalnya kalau sarapan dulu, takutnya duit nggak cukup buat bayar kos.
"Mas, ATM bank ABC di mana ya?" tanyaku ke seorang mahasiswa di depan gang.
"Oh, di dalam kampus ada tuh."
"Oke, makasih ya mas." Aku nyebrang masuk kampus. Busyet… luasnya bisa sepuluh kali STM-ku dulu.
"Ah, itu dia!" Aku langsung masuk ke ruangan ATM… dan berhenti. Bingung total. Menggaruk-garuk kepala.
"Cuukkk… bolongane nangdi iki?? Asu'i…" (lubang buat masukin kartunya di mana ini??)
Kenapa kemarin aku nggak minta diAJARIN sih, cuma diceramahi…
Setelah ngobok mesin atas-bawah, akhirnya ketemu — lubang di tengah dengan lampu hijau kelap-kelip. Mungkin ini dia. Kumasukkan kartu. Bener ternyata. Katrok memang aku ini. Layar menyuruh masukkan password. Kubuka amplop, lihat catatan, kutenbak 16 angka tadi.
TIT… TIT… TIT.
Hah? Salah? Kucoba lagi.
TIT… TIT… TIT.
Waduh! Aku cepat-cepat tekan cancel, kartu keluar. Masukkan lagi. Bunyi salah lagi. Cancel lagi. Begitu terus, kayak orang lagi main tombol rentenir.
TOK. TOK. TOK.
Astaga. Ada cewek ngetok pintu kaca ATM. Dari kacanya kelihatan mukanya sudah jengkel setengah mati nunggu. Aku buru-buru keluar.
"Maaf mbak, mohon maaf kelamaan nunggu. Saya bingung cara ambil duitnya gimana…" jawabku polos.
"Hahaha…" Cewek itu tiba-tiba tertawa.
"Beneran kamu nggak tau cara ambil uang?" Tanyanya dengan ekspresi kaget. Aku mengangguk.
"Astaga mas… mas… ayo masuk sini, kuajarin."
Aku masuk lagi. Dia berdiri di sisiku.
"Tuh, masukin kartunya…" perintahnya sambil menunjuk lubang kelap-kelip tadi. "Sudah? Sekarang masukin password-nya."
"Nggak bisa mbak. Tadi sudah beberapa kali kucoba, gagal terus," kataku bingung.
"Mana password-nya?"
Aku ragu menyerahkan catatanku ke cewek di depanku ini. Tapi ya sudahlah, cuma catatan doang. Toh pesan petugas itu jangan kasih AMPLOPnya, bukan jangan kasih catatannya.
"Ini mbak."
"Astaga, banyak betul nomornya? Ini yang di kartu ATM ya?"
"Iya mbak."
"Hahaha… ya iyalah nggak bisa! Itu bukan password-nya! Hahaha…" Dia tertawa terbahak-bahak.
Cuukkk…
"Kamu bawa amplop dari banknya nggak? Cepetan, ntar ketelan loh ATM-mu!" tanyanya, masih ketawa.
"Emang bisa telan kartu nih ATM?"
"Hahahahaha…" Malah makin nyaring.
Cuukk… orang nanya beneran malah diketawain. Aku bingung, amplop ini mau kuserahin apa nggak.
"Woi! Malah ngelamun. Bawa nggak?" tanyanya.
"Bawa."
"Mana?"
Aku garuk-garuk kepala.
"Mana? Nggak-nggak aku rampok uangmu," katanya mulai nggak sabar.
Aku serahkan amplopnya. Dia buka sendiri.
"Nih loh mas, PIN-nya. 123456." Dia nunjukin angka PIN yang terselip di amplop. "Cepet, masukin password-nya."
"Iya iya mbak. Galak betul."
"Bisa mbak! Hahaha…" Giliran aku yang ketawa. (Cuukkk, nggilani yo katrokku…)
"Sekarang tekan transaksi lainnya. Terus tekan penarikan tunai. Ketik jumlahnya yang mau diambil, terus tekan benar."
Kuketik 2000000, tekan benar. Nggak lama mesin berbunyi kayak orang lagi ngitung uang… dan keluarlah duit merah, dua puluh lembar!
"HOREEEEE! ACIK! ACIK! JOSS!" Aku angkat dua tangan ke udara.
"Hahaha… cepat ambil uangnya, entar masuk lagi loh!"
"Oh… iyakah? Kok enak? Habis keluar kok mau masuk lagi? Dikira duit korupsi mau ditarik negara," ucapku sambil buru-buru nyamber duitnya, melipat dua, dan menyuapkannya ke kantong.
"Makasih ya mbak. Akhirnya bisa juga."
"Jangan dikeluarin dulu kartunya! Ganti dulu password-nya." Dia mengajariku ganti PIN baru.
"Udah selesai ya mbak? Terima kasih banyak ya. Hehehe."
"Iya mas. Kamu itu ganteng loh, tapi oon. Hahaha…" ejeknya.
"Cuukkk… oon bilang. Untung kamu barusan bantu aku. Kalau nggak, sudah kucium bibirmu…" ucapku dalam hati saja.
"Oh iya mbak, aku permisi ya. Sekali lagi makasih, hehehe." Aku pamit sambil tunduk malu, garuk-garuk kepala.
"Oke mas. Nanti kalau sudah di kos, jangan lupa keramas pakai sampo yang banyak ya."
"Kenapa harus keramas, mbak? Aku kan nggak ngapain-ngapain tadi," tanyaku bingung.
"Siapa tau habis keramas pakai sampo yang banyak, oon-mu bisa hilang! Hahahaha…" Puas sekali ketawanya.
"Cuukkk… ayu-ayu kok ngeye'an…" (cantik-cantik kok seneng ngolok.) Kutinggalkan ATM sambil meringis.
Aku mampir ke warung buat bungkus makanan. Laparku sudah level dewa. Energiku habis kemarin di depan mesin ATM itu. Sebenarnya nggak terlalu capek sih… yang nguras energi itu malunya sama cewek tadi. Oh iya, aku lupa kenalan! Ah, biarlah. Buat apa kenalan, ntar tambah diolok lagi.
"Berapa totalnya, Bu? Nasi pecel satu bungkus, lauk ikan tongkol, plus es teh?"
"2500, Mas."
"Apa?! 2500?!" Murah banget! Taugituuu kalau gini, tadi sebelum ke ATM aku makan dulu. Aku menyodorkan lima puluh ribu. "Kalau tau murah gini, aku bisa telepon ayahku. Biar dibeliin semua nasi pecelnya, sekalian sama warungnya kalau perlu. Hahaha…"
"Sombong sekali kau, anak muda. Belum pernah minum kencing kuda kah?" bisik seseorang di sebelahku.
"Kalau kencing kuda belum pernah sih. Kalau kencing onta…" jawabku sambil berpikir.
"Sudah pernah?" Tanyanya penasaran.
"Belum lah cuukkk! Es teh masih enak kok daripada kencing onta. Hahaha…"
"Asssuuuu…"
Setelah dapet kembalian, langsung balik ke kos. Kebetulan mas Rudi ada di depan kamarnya.
"Mas Rudi, ini uang kosnya ya, 1,5 juta. Tolong dihitung dulu, mas."
"Oke, terima kasih. Semoga betah tinggal di Pondok Merah ini," jawabnya sambil tersenyum. Nggak kayak kemarin yang melotot kayak mau nerakam orang.
"Sama-sama, mas Rudi. Saya ke kamar dulu ya, mau ngisi lambung tengah dulu." Aku pamit.
Ah… leganya. Perut sudah terisi. Kunikmati es teh dan rokok. Tiba-tiba dari kamar sebelah kedengaran lagu bang Iwan Fals — "Di balik bening mata air, tidak pernah ada air mata…"
Kenalan ah sama penghuni sebelah.
"…bibirku bergerak, tetap nyanyikan cinta walau aku tau tak terdengar…" Tetanggaku nyanyi-nyanyi di depan komputer.
Tok tok tok.
"Permisi mas. Saya Sandi, calon mahasiswa baru. Kamar saya sebelah. Boleh kenalan nggak?"
"Eh, Sandi! Masuk!" Tangannya diarahkan kepadaku dan kugenggam erat. (Wehhh… lebay banget ya.)
"Alan," ucapnya. "Duduk san."
"Eh iya, mas Alan. Mau ngobrol boleh kan?"
"Alan aja. Nggak usah pakai mas. Santai ae, San."
"Eh ngomong-ngomong, hebat juga kamu bisa diizinin mas Rendi bule buat tinggal di kos ini. Padahal banyak mahasiswa lama yang ngincer kamar kamu tapi nggak direspon. Kamu calon maba malah bisa masuk di sini. Hebat! Pakai ilmu apa kamu?"
"Ilmu pengasihan, Lan." Aku nyengir.
"Asuuu! Hahaha!"
"Rokok, Lan?"
"Wah, tepak wes! Rokokku habis, San."
"Asalmu dari mana, San?"
"Aku dari pulau seberang, Lan."
"Ohhh…"
"Oh iya Lan, kok sepi banget sih kos ini? Udah jam 10." Aku coba alihkan pembicaraan.
"Ya biasa. Kos ini isinya kalong semua. Kalau pagi gini pada molor. Jam 12 baru pada bangun."
"Enak banget ya. Emang nggak pada kuliah?"
"TA aja — Titip Absen. Ntar kalau UTS atau UAS baru pada muncul. Kamu jangan ikut-ikutan ya, hehehe."
"Oh begitu ya… hemm. Eh, ngomong-ngomong kamu jurusan apa, Lan?"
"Aku Teknik Sipil, udah semester empat."
"Wah… aku mau masuk Teknik Sipil juga. Boleh tanya-tanya nih soal kampus? Gimana sih kehidupan kampus ini, Lan?"
"Santai aja, pasti kuceritakan. Tapi tolong kopi sama kembang tujuh rupa disiapin dulu, ntar baru kuceritakan sedikit tentang kampus kita. Biar kamu nggak kaget." Alan bercanda.
"Cuukkk… mahasiswa merangkap dukun kah kamu, Lan? Hahaha!"
"Bukan dukun, San. Tapi paranormal. Hehehe."
"Hahaha! Yo wes sak karebmu lah. Yang penting kamu cerita. Kopi sama kembangnya nyusul. Rokoknya kanan aja dulu — ini rokok yang aku beli di puncak Gunung Tidar. Sukmaku yang pergi ke sana, tapi ragaku ada di sini." Aku mainkan kedua alisku ke arah Alan.
"Asssuuu! Hahahahaha!"
"Jadi gini, anak muda. Kampus kita itu terkenal banget: masuk gampang, keluar susah. Jadi menurutku tes masuk itu cuma akal-akalan pihak kampus biar dapat uang tambahan. Hehe. Itu menurutku loh ya." Alan berhenti, ngambil rokok, membakarnya.
"Lanjut lagi. Jadi selama kamu kuat bayar bulanan, kamu bisa terus kuliah. Nggak ada itu sistem DO kayak di universitas negeri sana. Tapi biasanya kalau sudah 8 tahun ke atas nggak lulus, berarti orangnya terlalu banyak cuti. Kalau kuliah terus-terusan, paling lama 7-8 tahun bisa lulus S1."
"Tapi kalau kamu mau cepat lulus, ada dua alternatif. Pertama, kamu harus bener-bener pintar dan rajin, plus jilat-jilat sedikitlah… hehehe, nggak kok, becanda. Intinya pintar dan rajin, kalau mau lulus 4 tahun. Tapi kalau berat, alternatif kedua: kamu harus jadi bajingan yang bener-bener nakal, plus rajin sedikit. Paham kan?"
Aku cuma menyimak dan mengangguk.
"Aku sih belum ngalamin tahap itu. Itu juga diceritain mas Rendi ke aku, hehehe."
Alan menjelaskan panjang lebar tentang calon kampusku.
"Cuukk… berarti mencari selembar ijazah di kampus kita lebih berat daripada mencari kitab suci ke Barat?" tanyaku.
"Begitulah, Sun Go Kong. Kamu harus berusaha keras. Banyak halangan dan rintangan yang bakal kamu hadapi di sana." Alan menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Terima kasih atas penjelasanmu, Cu Pat Kay," kataku sambil ngeluarin asap ke atas.
"Assuuu! Celeng dong aku!" Alan menatapku.
"Hahahaha!" Kami ketawa bareng.
"Udahlah, cukup sekian aja ceritanya. Nanti kamu ngerasain sendiri," jawab Alan.
"Oh iya. Kamu mau masuk Sipil? Udah daftar belum? Besok terakhir loh, cok, daftarnya!" Dia menatapku serius. Kami sudah mulai akrab dan ceplas-ceplos ngomongnya.
"Belum daftar aku. Masih menunggu perhitungan hari yang tepat dari penasehatku, supaya lancar perjalananku…" jawabku santai.
"Jancok, kau anak muda! Pakai penasehat segala! Cepat ganti baju sana! Mumpung masih pagi, daftar aja sekarang. Takutnya ada persyaratan yang kurang, jadi besok hari terakhir kamu tinggal lengkapi persyaratannya. Cepat sana! Lambat kali kau anak muda!"
"Siap. Baiklah, kisanak. Kalau begitu… ijinkan aku undur diri dulu. Aku berangkat sekarang. Akan kuarungi luasnya kampus kita dengan semangat yang menggelora di dada…" Aku berdiri tegak, membungkukkan badan, menganggukkan kepala sambil tangan kanan memegang perut. Alan cuma melihatku sambil menangguk. Lalu aku jalan ke kamar, ganti baju, bawa tas berisi semua persyaratan yang udah kusiapkan. Nggak lupa, sangu teh kotak yang kubeli kemarin. Minuman ini nggak boleh ketinggalan — bisa gila aku nanti di sana.
Sebelum berangkat, aku mampir ke kamar Alan sebentar.
"Kelihatannya ucapanmu soal daftar yang cepat itu sangat tepat, dibanding aku harus nunggu bisikan dari penasehatku. Aku pergi dulu, kisanak."
"Iya, hati-hati lah anak muda. Jalan di kiri ya."
"Baiklah. Terima kasih."
"Asssuu! Hahahahaha!"
Tiba di depan gedung pendaftaran… tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depanku. Seorang cewek turun dari motor itu, langsung berjalan terburu-buru ke arah gedung pendaftaran.
Cuukkk… ngapain cewe itu di sini?