EPISODE 04
EPISODE 4 — PACAR "TEMAN LAMA"
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depanku. Seorang cewek turun, langkahnya buru-buru menuju gedung pendaftaran. Yang boncengnya nggak peduli — sebatas melepas dia, lalu motornya dibalap pergi begitu saja.
Cuukkk… ngapain cewek itu di sini?
Kujalan pelan di belakangnya. Wah, lumayan ramai juga yang daftar hari ini. Mungkin karena besok hari terakhir pendaftaran, jadi semua orang menyerbu. Kulihat cewek itu berhenti di meja petugas dan meminta formulir. Begitu formulirnya di tangan, dia buru-buru berbalik—
Buukkk!
Dia menabrakku. Tangan yang reflek mau menahan pundaknya justru mendarat mulus di buah dadanya.
"Emppukkk… cuukkk…" gumamku, dan sebelum dia sadar sepenuhnya, tanganku sudah kutarik cepat-cepat.
"AWW… KAMU SENGAJA YA NABRAK AKU!" teriaknya. Orang-orang di sekitar menoleh menatap kami berdua.
"Maaf mbak… maaf, aku nggak sengaja. Kirain mbak tadi geser ke samping, eh nggak taunya malah mundur balik," jawabku.
Kulihat wajahnya agak gugup. Dia menatapku, mencoba mengingat sesuatu.
"Ehhh… kamu yang oon di ATM tadi ya!" tiba-tiba dia ingat, lalu tersenyum padaku.
Cuukkk! Lagi-lagi oon. Ah, jadi males. Kugeser dia ke samping dan langsung berjalan ke meja pendaftaran untuk mengambil formulir.
Tapi tiba-tiba tanganku ditariknya, digiring ke pojok tempat mejanya.
"Ngapain sih tarik-tarik?" tanyaku sewot.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Ngeringin rambut. Aku habis keramas pakai sampo yang banyak banget tadi di kosan. Puasss," jawabku cuek.
"Hihiihihi… kalau gitu geser sana, jangan dekat-dekat. Ntar oonmu jatuh ke aku… hihi…" dia ejek sambil menutup mulutnya dengan map pendaftaran.
*Sempak juga nih cewek. Dia yang narik, sekarang malah ngusir. Kuremas lagi nih nenenmu,* ucapku dalam hati.
Aku mau berbalik mencari tempat lain untuk mengisi formulir.
"Sudah di sini aja… sama-sama kita isi formulirnya. Kamu mau daftar juga kan?" Lagi-lagi tanganku ditariknya, sambil tersenyum.
"Kalau ngomong oon sekali lagi, aku tinggal," ucapku kesal.
"Kamu tuh sudah oon ngambekan lagi… hihihi."
Cuukkk! Lagi!
"Ah, sudahlah, aku pergi aja." Begitu aku mau berbalik, tanganku ditarik lagi.
"Iya… iya… nggak lagi aku ngomong gitu," katanya sambil mengangkat tangan kiri, mengacungkan dua jari, senyumnya manis kena boong.
"Ayo cepat diisi formulirnya, terus dikumpulkan biar cepat dapat nomor pendaftaran," katanya sambil meletakkan formulirnya di meja.
"Geseran dikit," ucapku, sambil menurunkan tas dan mengambil berkas ijazah serta persyaratan lain dari dalam tas.
"Oh iya, namaku Adalia Adriana Agatha, biasa dipanggil Lia," ucapnya sambil mengangkat tangan.
"Sandi Purnama Irawan, biasa dipanggil Del Piero," jawabku untuk mencairkan suasana, sambil menjabat tangannya.
"Huuee… tampangmu nggak ada tampang pemain bola," ejeknya.
"Kamu nggak lihat cambangku mirip abang Del Piero kah?"
"Hahaha… itu cambang kah? Aku kira gantungan baju… hahaha!"
"Bukan gantungan baju. Ini tali jemuran. Puas."
"Hahaha… sudah-sudah, sakit perutku. Kamu ambil jurusan pur?"
"Kok pur sih?"
"Ya kan, Sandi Purnama Irawan," jawabnya sambil mengisi formulir dan melirikku.
"Iya kan masih ada kata sandi nya… atau Isan kah, Didi kah, Irawan kah, Wawan kah… atau Del Piero juga bisa."
"Engga. Aku maunya manggil kamu Purnama," katanya sambil menatapku lurus.
"Terserah kamu aja sudah. Yang penting hatimu senang."
"Kamu dari pulau seberang ya pur?"
"Kok tau kamu ya'?"
"Ya iyalah. Dari logat bahasamu aja ketahuan."
"Kamu juga dari sana ya ya'…" Astaga. Baru sadar aku — makanya dari tadi ngomongnya nyambung, logat kami sama persis.
"Iya. Eh, aku ambil jurusan Teknik Sipil. Kamu jurusan apa? Dari tadi ditanya nggak dijawab pur…"
"Astaga… sudah satu daerah, ternyata jurusan yang diambil juga sama. Hem… aku ambil Teknik Sipil juga."
"Mimpi apa aku bisa ketemu tukang olok kayak kamu ya'…"
"Hiihihihi… asyik, akhirnya aku dapat teman sejurusan," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Bahagia betul kelihatannya kamu. Eh, ngomong-ngomong, siapa yang antar kamu tadi?"
"Kamu lihat ya tadi… itu pacarku. Semester empat, jurusan Mesin. Dia kakak kelasku waktu SMA," ucapnya.
"Oh," jawabku datar.
"Sudah nggak usah bahas dia. Kukira tadi dia mau ngantar aku sampai selesai… taunya cuma sampe depan gedung, terus dia pergi. Mau ngopi sama teman-temannya katanya. Nggak jengkel apa aku, dia lebih mentingin ngopi daripada nemenin cewenya daftar di kampus?" *Busyet… katanya nggak usah dibahas, tapi ngomongnya panjang kali lebar.*
"Aku sudah selesai pur. Kamu?"
"Udah, tinggal tanda tangan aja."
"Selesai! Ayo ambil nomor pendaftaran." Aku memasukkan perlengkapanku ke tas. Eh, ada teh kotak. Kuambil, kuminum. Kunikmati sensasinya seteguk demi seteguk sampai Lia bingung melihat ekspresiku.
"Kamu mau ya'? Nih, tinggal sedikit," kusodorkan teh kotakku. Sebenarnya nggak iklas, soalnya masih mau kunikmati sisanya.
"Nggak usah pur… kelihatannya kamu haus. Jangan dihabisin sampai kotaknya ya," ejeknya.
"Biasanya kumakan sekalian kotaknya ini ya'," candaku.
"Stress kamu itu pur… hihihi."
Nggak tahu kenapa, aku ngerasa sudah kenal lama dan akrab sama cewek satu ini. Padahal baru ketemu tadi pagi gara-gara ATM. Malu sendiri kalau membayangkan kekonyolan aku tadi pagi.
Setelah mendaftar dan melengkapi semua persyaratan termasuk administrasi, kami keluar gedung. Kulihat jarum jam sudah menunjuk pukul satu siang.
"Purnama, aku lapar. Makan yo."
"Kamu nggak dijemput pacarmu?"
"Kamu itu ditanya malah nanya juga."
"Ya wajarlah aku nanya… ntar dikira ada apa-apa lagi aku makan sama pacar orang."
"Sudah nggak pa-pa. Ntar kutelpon dia kalau sudah selesai makan. Ayo makan ke kantin. Aku lapar na…"
"Aku nggak tau kantinnya di mana, Lia. Kita makan nasi pecel aja yo… enak, murah lagi," ajakku.
"Di mana?"
"Tuh, di depan kampus. Yang warna hijau tuh warungnya," kataku sambil menunjuk warung pecel tempat aku beli makanan tadi pagi.
Setelah makan, kami masih duduk di warung, menikmati rokok dan es teh.
Akhirnya bisa juga aku nikmati rokok putihan ini.
"Katanya tadi mau makan nasi pecel, kok malah makan nasi campur?" ucapnya.
"Tadi pagi sudah bungkus nasi pecel."
"Oh," jawabnya.
"Tadi pagi waktu nabrak itu, kamu pegang apa pur?" tanyanya sambil menatapku yang duduk di seberang meja.
"Uhuk… uhuk…" Aku kaget sampai kesedak asap rokok. Astaga, masih ingat aja dia kejadian di ruang pendaftaran tadi.
"Aku… pegang kaosmu," jawabku, kubuat sesantai mungkin.
"Pegang kaos kok di dada? Milih yang enak kamu…"
"Ya ampun Lia… Lia… aku tuh nggak sengaja kepegang dadamu. Kan kamu mau nabrak aku, makanya aku mau nahan pundakmu… malah kepegang dadamu." Kubela diri sebisanya.
"Nahan kok diremas? Cari kesempatan ya kamu?" dia menatapku dengan satu alis terangkat.
*Cuukkk… enak ya diremas tadi nenenmu. Mau lagi. Ayo ke kosku yo… kosku deket sini, aku janji kuremas pelan-pelan kok. Ayo sudah…* ucapku dalam hati.
"Nggak sengaja, Lia, beneran. Aku tuh cuma pengen nahan pundakmu. Nah, kalau sampai kepegang dadamu, ya rezekiku dong… namanya juga nggak sengaja, hehehe."
"Rezeki gigimu. Dasar mesum," jawabnya datar. Tapi kulihat wajahnya nggak ada tanda-tanda marah.
KRING… KRING… KRING…
Lia mengangkat hp-nya.
"Halo, apa kak…"
"………"
"Sudah selesai kok."
"………"
"Ini lagi makan."
"………"
"Sama temanku. Cowo. Baru kenalan tadi. Dia juga satu kota sama kita."
"………"
"Kamu kenapa sih kak? Sudah, ntar dibahas di kos aja."
"………"
"Iya, ini juga tadi aku mau telpon… mau minta jemput. Malah keduluan kakak yang telpon."
"………"
"Kamu kenapa sih kak? Jadi mau jemput nggak? Kalau nggak, aku jalan kaki aja ke kos nih."
"………"
"Jadi jemput nggak?"
"………"
"Iya… kutunggu. Aku di warung pecel Bu Tuty, depan kampus."
Dia menutup telepon sambil cemberut.
"Kenapa, Lia?" tanyaku.
"Nggak… nggak apa-apa."
"Eh, kamu kok tau ini warung pecel Bu Tuty?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan biar dia nggak jutek.
"Kamu nggak baca tulisan besar di depan warung tadi kah?" Jawabannya makin jutek.
"Cowomu cemburu?" tanyaku lagi.
"Kamu pulang aja deh pur. Lima belas menit lagi dia mau ke sini," jawabnya gelisah. "Eh tapi ntar… kamu ada hp ya? Minta nomormu dong pur."
"Ada… ntar, aku nggak hapal nomornya."
"Cepet… lama betul."
"Beh… kamu mau bajak — kalau istilah sini mungkin palak — atau minta nomor telepon sih? Sabar dulu kenapa," kataku sambil membuka menu kontak.
"Lama betul…" Dia menggelembungkan pipinya, tangannya dilipat di depan dada. Cantiknya kalau begini.
"Ihhhh… 08xxxxxxx."
"Iya sudah. Pulang duluan sana," dia memaksaku pulang ke kos. Kok takut betul sih Lia ini? Emang pacarnya mengerikan?
"Nggak, aku di sini aja sampai dia datang. Aku mau kenalan sama dia," jawabku santai.
"Kamu belum tau dia siapa. Ayolah pur… pulang sana. Cepat!" Dia mulai berdiri, tetap maksa.
"Duduk ya'… aku di sini aja sampai pacarmu datang. Aku mau kenalan sama pacarmu."
"Kepala batu betul kamu ini." Akhirnya dia duduk lagi.
"Eh… emang pacarmu ngeri kah? Ngeri mana sama kamu, Lia? Hahaha…" candaku biar dia nggak terlalu tegang.
"Kurang ajar! Kamu kira aku kuyang apa, kok dibilang ngeri?" balesnya jutek.
BRUMM… BRUMM… BRUMM… CIIITTT… CIIITTT…
Tiba-tiba di depan warung sebuah motor sport berhenti mendadak. Nggak lama, kedengaran lagi suara motornya yang digeber pergi.
BRUMM… BRUMM… BRUMM…
"Itu pacarku sudah datang. Aku pulang dulu pur… makasih ya. Eh, mending kamu duduk di sini aja, jangan keluar dulu," katanya sambil berdiri.
"Iya sudah… kamu pulang aja. Ntar aku yang bayar makannya. Itu cowokmu kayaknya kerasukan setan aspal… hehehe," ledekku.
"Kamu itu… ihhhh! Iya sudah, besok-besok aku yang traktir ya," katanya, lalu buru-buru keluar.
Kulihat si cowok mematikan mesin motornya dan melepas helm full face-nya.
Cuukkk… kayaknya aku kenal tuh manusia. Itu Bowo, ketua klub motor sport di kotaku. Kelihatannya dia mau masuk, mau datangi aku… tapi ditahan Lia.
Setelah membayar makanan, aku keluar warung. Kulihat Lia sudah ketakutan, menahan tangan Bowo.
"Kamu mau ketemu aku, wo?" kataku sambil menatap matanya. Kubakar rokok putihanku, kuhisap pelan. Berjalan mendekati Bowo. Asap rokokku kuhembuskan tepat di depan wajahnya.
"San… Sandi…" ucapnya kaget dan agak gugup melihatku di depannya.
"Iya. Aku teman barunya Lia, dan aku nggak ada niat buat ganggu dia — tapi tadi sih sempat kuremas dikit nenen pacarmu, hihi…" ucapku dalam hati. "Kebetulan dia satu jurusan, daftarnya tadi sama aku."
Kulirik Lia yang mulai melepaskan pegangannya di tangan Bowo. Aku menghisap rokok lagi, lalu menatap lagi mata Bowo yang kelihatannya mulai grogi di depanku.
"Kamu kenal Purnama, kak?" tanya Lia.
"Kok Purnama?" Bowo menatap pacarnya.
"Iya kan namanya Sandi Purnama Irawan. Salah ya kalau aku panggil Purnama?"
Ini kok orang dua malah berdebat di depanku…
"Dia *'teman lama'*ku, Lia," jawabku — sengaja aku tekan-tekan kata teman itu.
"Jadi nggak masalah kan, wo, kalau aku berteman sama Lia?"
"Iya… nggak pa-pa," jawab Bowo pelan. Kutau sih dia nggak ikhlas jawabnya. Tapi ngapain kaurus? Emang dia siapa? Baru pacar aja mau ngelarang orang berteman. Kutinju neh.
"Iya sudah, aku pulang dulu ya pur. Ayo kak." Kulihat Lia sudah tenang, bisa tersenyum lagi, lalu menarik tangan Bowo menuju motornya.
"Iya, hati-hati ya Lia. Kamu juga, wo… pelan-pelan aja bawa motornya. Aspal itu masih keras loh… lebih keras dari helmnya," ucapku yang membuat Bowo tersenyum kecut. Dan kulirik Lia yang berusaha menahan tawanya.
Mereka pun pulang. Bowo menarik gasnya pelan, motornya berjalan lambat — jauh berbeda dari waktu datang tadi yang laju dan ngerem mendadak di depan warung.
Aku pun balik ke kos, sambil mengingat kejadian waktu itu di kotaku.
*#Cuukkk… untung kamu pacarnya Lia, wo. Kalau nggak, sudah kupatahin lagi hidungmu.*