EPISODE 05
BAGIAN 5
KAMU ITU GA SOPAN
Sebelum balik ke kos, aku singgah dulu ke toko depan gang. Aku beli teh kotak dan rokok, lalu membakar rokokku sambil menyeruput teh kotak dengan pelan, menikmati jalanan sore dengan langkah yang lumayan setengah berat.
Capek juga hari ini. Sebenarnya aku masih mau belanja kebutuhan kos, tapi tubuhku minta rebahan duluan. Aku pun masuk ke kos-kosanku... tapi baru kutarik pintu, kulihat orang berkumpul lebih banyak dari kemarin. Mungkin sepuluh lebih. Dan di antara mereka, kuperhatikan seorang cewek cantik duduk di samping mas Rendi si bule. Pacarnya mas Rendi ya? Cantik juga...
Mereka membentuk lingkaran di sekitar meja. Di bawah meja sudah berjejer botol-botol kosong, diselingi beberapa botol yang belum dibuka. Kelihatannya mereka pesta lagi. Pintu terbuka membuat semua kepala menoleh ke arahku. Huft... masa aku harus minum kayak kemarin lagi? Tolong jangan hari ini ya... perutku masih nggak enak gara-gara kemarin.
"Halo Sandi dan teh kotaknya..." mas Wawan nyapaku duluan sambil melambaikan tangan. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Eh, ada Sandi. Duduk sini, San..." panggil mas Rendi.
"Oh iya mas, maaf saya taruh tas sebentar ya." Aku langsung menuju kamar, menyodorkan tas, lalu kembali bergabung dengan mereka.
"Permisi, mas..." Aku duduk di sebelah Alan dan menyelesaikan sisa teh kotakku. Alan menepuk pelan pundakku. Aduh... perasaanku jadi nggak enak. Tapi kupaksakan diri tetap santai, kupandangi satu per satu orang di ruangan itu. Yang kukenal cuma mas Rendi, mas Toni, mas Wawan, mas Bendu, mas Rudi, sama Alan. Sisanya? Nggak kenal sama sekali. Dan rata-rata penampilan mereka slengean — rambut gondrong, ada yang dibiarkan terurai, ada yang digimbal, ada yang diikat slayer model Axl, ada yang pakai bando... yang pakai bando itu cewek di samping mas Rendi, hehe.
"Santai aja, San. Kamu nggak disuruh minum sendiri kayak kemarin. Tapi minum bareng kita," kata mas Rendi sambil menyodorkan minuman setengah gelas kecil padaku. Semua ketawa dengar omongan mas Rendi barusan. Cuukk... aku dikerjain dong kemarin!
"Aku minum, mas..." Kuangkat gelasnya dan kuminum. Busyeet... rasanya tetap pahit, sama seperti kemarin. Kutaruh gelas, mengeluarkan rokok putihan dari kantong, membakarnya, dan menghisap pelan-pelan. Kunikmati rokok ini supaya mengimbangi rasa pahit yang masih nempel di mulut. Kutaruh bungkus rokokku di meja. "Rokok, mas..." Aku menawarkan rokokku ke semua orang di ruangan.
"Aku minta satu ya. Coba ngerasain rokok anak baru..." Aku melirik. Lah, yang ngambil malah cewek!
"Oh iya, mbak silahkan..." ucapku sopan.
"Gimana, sudah daftar, San?" tanya mas Rendi.
"Sudah, mas. Minggu depan aku test masuknya."
"Oh ya... kamu belum kenal sama semua penghuni kos ya. Kemarin sempat kenal sebagian, tapi nggak tahu jurusan sama semester berapa kan?" lanjut mas Rendi. "Ini Wawan, kamu sudah kenal kemarin, dia anak teknik elektro, sekarang semester 8. Kalau bung Toni ini jurusan teknik mesin, semester 8 juga. Jangan dipanggil mas, dia nggak suka. Panggil aja bung Toni." Bung Toni sekadar mengangkat alis ke arahku.
"Kalau ini Bendu, jurusan teknik industri, semester 8 juga. Bendu satu angkatan dan satu jurusan sama aku. Dia nggak kos di sini, tapi sudah dianggap keluar besar di kos ini. Dia asli anak kota ini. Kalau Rudi, anak kimia semester 4. Dia keponakan yang punya kos, jadi urusan kos-kosan tanggung jawab dia. Kalau itu Akbar, teknik lingkungan semester 6. Sebelahnya Raimond, planologi semester 6. Ini Danis, arsitektur semester 6. Sebelahnya Bobby, teknik pengairan semester 4."
Aku menganggukkan kepala satu per satu pada penghuni kos yang dikenalkan mas Rendi.
"Kalau ini yang sebelahku, namanya Emery Naila Unna, biasa dipanggil Mery. Dia ini ibu negara di sini. Anak hukum semester 6, anak kampus sebelah." Mas Rendi mengelus pelan rambut wanita itu sambil ngomong.
"Hai, anak baru..." mbak Mery nyapaku sambil tersenyum.
"Iya, Ibu..." anggukku.
"Emangnya aku yang punya kosan dipanggil Ibu? Emang aku setua itu kah?" mbak Mery melirikku, dan yang lain langsung menatapku tajam.
"Maaf, mbak, maaf... soalnya kata mas Rendi mbak itu ibu negara di sini..." jawabku polos sambil garuk-garuk kepala.
"Polos sekali kau, anak muda," kata Alan sambil tersenyum. Yang lain akhirnya ikut tersenyum.
"Hehehe... sudah, lanjut lagi ya. Nah, kalau yang sebelahmu itu Alan. Kemarin dia paling junior di sini, soalnya baru delapan bulan tinggal di kos. Sekarang sudah ada kamu gantinya yang paling junior. Dia anak sipil semester 4."
Sambil menjelaskan, mas Rendi terus menuang dan memutar gelas ke kami semua... kecuali mbak Mery. Dia nggak minum, tapi rokoknya nggak berhenti.
"Sebenarnya masih ada tiga lagi, San. Mereka di kamar atas semua. Mas Pandu — 'semester 20' — teknik sipil. Mas Arief, geodesi, 'semester 18'. Mas Adam, teknik mesin, 'semester 12'." Mas Rendi menekankan angka-angka itu dengan senyum tipis. "Kamu pasti kaget ya, soalnya yang kamu tahu, S1 itu kan cuma 8 semester. Mereka belum lulus sampai sekarang. Mas Pandu dan mas Arief sering cuti, mereka sering dapat proyek di luar kota. Kalau mas Adam ada bisnis di kota sebelah, jadi kuliah dianggap sambilan aja buat mereka."
Mas Rendi menghela napas, lalu melanjutkan, "Jadi yang tinggal di kos ini 13 orang, plus Bendu yang nggak tinggal di sini. Totalnya 14 orang keluarga besar 'Pondok Merah'."
"Nanti kamu jelasin dunia kampus sama Sandi, Lan. Biar dia nggak kaget," ucap mas Rendi ke Alan.
"Sudah, mas. Tadi pagi aku jelasin sedikit ke Sandi," sahut Alan.
"Baguslah. Oh iya... sudah habis minumannya ya? Nih, kamu yang terakhir." Mas Rendi menyodorkan gelas terakhir padaku.
Cuukk... padahal sudah sepuluh botol diputar dan kuikuti semua, kok mereka masih anteng aja duduknya? Padahal mereka minum lebih dulu, nggak tahu habis berapa botol... tapi tetap santai, nggak ada yang tumbang. Nah, aku? Pusinglah pastinya. Tapi nggak separah kemarin. Mungkin karena kemarin aku langsung ngabisin dua botol kali ya.
"Lan, kamu yang beli minuman di Cak Gundul. Tadi Rudi sama Bobby sudah kesana, jadi gantian. Nih..." Mas Rendi menaruh uang 50 ribu di meja. Yang lain mengikutinya, merogoh kantong masing-masing.
"Jangan, mas. Mohon maaf, kali ini pakai uang saya aja belinya. Anggap aja perkenalan dari saya," ucapku. Mereka semua tersenyum.
"Nah, gitu dong. Pengertian memang loe, San. Hehehe," ucap mas Wawan.
"Beneran kamu, San? Ada uangmu?" tanya mas Rendi.
"Ada, mas. Santai aja. Ayo Lan, temenin. Aku nggak tahu tempatnya beli..." ajakku ke Alan.
"Hati-hati loe berdua, jangan ngebut. Santai aja — 20 km/jam lah sisa speedometer-nya. Hahaha," canda mas Wawan.
"Anak baru, aku titip rokok Mild ya. Pahit rokokan putihan terus," ucap mbak Mery padaku.
"Siap, mbak."
Kami berdua pun meluncur ke arah warung Cak Gundul. Alan yang bawa motor — soalnya kan dia yang hafal jalannya. Sebelum ke warung, kami singgah ke ATM. Kali ini nggak terlalu susah aku mengambil uang, karena sudah paham. Setelah itu kami meluncur lagi.
"Lan... kenapa semua diam waktu mas Rendi ngomong?" tanyaku.
"Ya mana ada yang berani nyahut kalau mas Rendi ngomong. Mereka pasti nyimak aja, kecuali kalau ditanya. Nah, beda lagi kalau pas bercanda — mereka pasti sahut-sahutan," ucap Alan. Memang sih, kuperhatikan mas Rendi auranya beda. Orangnya tenang, tapi tegas.
"Memang di sini sukanya minum putihan gitu ya, Lan? Kok nggak pakai campuran apa gitu, biar manis?"
"Nggak tahu... kebiasaan di kos gitu. Tapi kalau minum di parkiran kampus, biasanya mereka campur bir."
"Oh ya? Emang boleh minum di wilayah kampus?"
"Hahaha... besok-besok kamu lihat sendiri lah," ucap Alan sambil tertawa.
"Nah, itu warungnya..." Kita sampai di warung pak Gito.
Kecil sih dari depan, tapi pas masuk... cuukk... berbagai macam minuman terpajang rapi di lemari kayu.
"Halo, Cak..." sapa Alan.
"Halo, Lan. Wehh... pesta terus rek. Mau Rudi karo Bobby wes rene, awakmu ngombe dewe ta?" (Halo Lan, pesta terus... tadi Rudi sama Bobby sudah kesini, kamu minum sendirikah?) ucap Cak Gundul.
"Engga, Cak. Aku ngombe nang kosan. Ikilah ono arek anyar, mangkane pesta nang kosan." (Enggak, Cak. Aku minum di kosan. Ini loh, ada anak baru, makanya pesta di kosan.) saut Alan.
"Sopo iku, Lan? Kok iso mlebu nang kosan Pondok Merah? Arek endi? Sopo seng nggawa?" (Siapa dia, Lan? Kok bisa masuk di kosan Pondok Merah? Anak mana? Siapa yang bawa?) tanya Cak Gundul kaget.
"Iku Sandi, Cak. Gak ngerti kok moro-moro iso diwolahi karo Mas Bule. Arek pulau seberang, teko dewe nang kosan." (Itu Sandi, Cak. Gak ngerti kok tiba-tiba diizinkan sama mas Bule. Anak pulau seberang, datang sendiri ke kosan.)
"San, sini. Kenalin, ini Cak Gundul. Jadi kalau besok-besok kamu kesini, kalau ngutang dikasih sama Cak Gundul. Kalau anak Pondok Merah tanggal tua pasti ngutang di sini. Hahahaha..." Alan mengenalkanku sambil bercanda.
"Iso ae koen, Lan." (Bisa aja kamu itu, Lan.)
"Sandi, Cak..." aku memperkenalkan diri.
"Gundul, mas..." jawab Cak Gundul sambil menjabat tanganku.
"Sakti kamu, mas, bisa tinggal di Pondok Merah. Hehehe..." ucap Cak Gundul.
"Ah, biasa aja, Cak."
"Jadi beli berapa kita, Lan?"
"Terserah kamu, San. Orang kamu yang mau beli..."
"Oh gitu. Cak... topi miring satu karton, vodka gepeng satu karton, rokok Marlboro dua slop, rokok Mild 16 satu slop, rokok LA 16 satu slop, kacang kulit yang besar empat bungkus, teh kotak dua... apa lagi, Lan?" Aku menoleh ke Alan yang tampak kaget melihat pesananku. Cak Gundul pun ketawa senang.
"Asuuu... serius ini kamu beli segitu, San? Wah, pesta besar kita malam ini. Dah lebih dari cukup itu. Hahahaha..." Alan tertawa terbahak-bahak.
"Wahhh... iso ndelosor koen ngombe sak mene, Lan. Hahahaha..." (Wah, bisa jatuh kamu minum sebanyak itu, Lan.) ucap Cak Gundul.
"Berapa totalnya, Cak?" tanyaku.
"Sabar ya, mas. Ambil kalkulator dulu." Cak Gundul menghitung-hitung dengan gerakan tangan yang sudah hafal. "Sembilan ratus dua puluh dua ribu. Kudiskon buat sampean sebagai salam perkenalan, sembilan ratus dua puluh ribu aja."
"Wah, makasih, Cak. Nih uangnya, Cak." Kuambil uang dari kantong dan kuserahkan ke Cak Gundul.
"Aku yang terima kasih, mas. Sering-sering aja ya, mas. Hahahaha..." jawab Cak Gundul senang.
"Kalau sering-sering ditarik dealer aku, Cak. Hahaha..." candaku.
"Hahaha... bisa aja kamu, mas."
"Iso ta nggawone, Lan?" (Bisakah bawanya, Lan?) tanya Cak Gundul sambil menaikkan pesanan kami ke atas motor.
"Gampang. Hahaha. Pamit, Cak!"
"Ya, hati-hati!"
Kami pulang tanpa banyak bicara, karena terhalang karton yang kupangku. Cuman terdengar suara Alan yang ketawa nggak jelas.
Sampai di depan kos, Alan menekan klakson supaya dibukakan pintu — soalnya aku nggak bisa turun dari motor.
"Manja banget gitu aja minta bukakan—" mas Rudi kaget sampai nggak melanjutkan ngomongnya, melihat bawaan kami.
"Bangke, banyak amat. Ini yang mau minum siapa sebanyak ini?!" ucap Rudi kaget sambil membuka lebar dua pintu kosan supaya motor bisa masuk.
"Ngehe! Banyak amat loe beli! Hahahaha... pesta! Pesta! Pesta!" teriak mas Wawan.
"Cukimai... ko beli sebanyak ini, San? Ko mo buat torang tidur di lantai kah?" tanya bung Toni dengan logat ketimuran yang khas. Baru kali ini kudengar bung Toni bicara.
"Sip je..." ucap mas Bendu sambil mencungkil jempol padaku.
"Eh, anak baru... kena sampet apa kamu beli sebanyak ini?" suara merdu mbak Mery bertanya padaku. Bang Rendi cuma geleng-geleng aja melihat kami datang.
"Pesta... pesta... pesta..." yang lain kompak berteriak sambil mengacungkan tangan ke atas.
"Mas... bisa minta tolong dibantu turunin dulu nggak? Tanyanya nanti aja. Berat loh ini?" ucapku.
"Hahaha... iya, iya..." Mas Bobby, mas Rudi, dan mas Danis membantuku menurunkan bawaan kami. Uhh... pegel juga pundakku menahan berat dua karton minuman ini.
"Bah... sempat-sempatnya beli teh kotak, anak baru ini. Ini dua buat kamu semua?" kata mbak Mery sambil mengangkat dua teh kotak.
"Kalau mbak mau satu-satukan kita... hehehe..." ucapku.
"Kamu baik banget deh..." kata mbak Mery, langsung membuka satu teh kotaknya.
"Lebay betul kamu, Ay. He..." kata mas Rendi.
"Ayo, ndang dimulai! Kesuen iki!" (Ayo cepat dimulai, kelamaan ini!) kata mas Bendu.
"Acik! Acik! Jos! Hahahahaha..." semua penghuni tertawa bersama.
Sebelum lanjut minuman, aku habiskan dulu teh kotakku.
Dan malam ini kami pesta sampai pagi. Aku sampai nggak sadar — tiba-tiba bangun, sudah ada di dalam kamar. Seingatku tadi malam pesta kami cukup meriah. Ada yang nyanyi, teriak-teriak. Ada yang joget-joget. Ada yang tidur di lantai dekat kursi. Ada yang muntah di kamar mandi. Kalau aku... nggak tahu muntah apa nggak. Yang jelas, aku sudah tidur di kamar.
"Jam berapa ya, ini?" gumamku.
Beh... jam dua belas siang. Hiufft... gila. Dua hari ini aku terbangun dengan kepala berat dan tidur dengan pakaian lengkap — termasuk sepatunya.
Kucopot sepatuku dan bersandar di dinding. Oh iya, aku belum sempat beli kebutuhan dan perlengkapan buat kamar kosku.
Kulihat HP-ku. Waduh, banyak panggilan tak terjawab dan beberapa SMS masuk, plus SMS pending. Maklum, HP jadul kan terbatas penyimpanan SMS-nya. Tunggu, hapus dulu SMS yang terbaca, baru SMS pending bisa masuk.
Kulihat panggilan dari nomor tak dikenal, dan beberapa SMS dari nomor yang sama.
SMS pertama — From 08xxxxxxxx — 18.01:
Pur..
SMS kedua — 18.35:
Purnama
SMS ketiga — 19.11:
Purnamaaaaa
SMS keempat — 19.40:
Purnama, ini aku Lia.
Kalau kamu sudah buka SMS dari aku,
telpon ke kosku. Nomornya ini 4xxxx7.
KU TUNGGU..!!!
SMS kelima — 20.55:
Kalau sampai kamu ga telp,
kuceritain ke orang-orang
kamu itu MESUM suka pegang DADA cewek
Cuukk... sadis bener ancaman cewek satu ini. Mau kubalas SMS-nya tapi pulsaku habis. Kepalaku langsung enteng, mataku langsung terang, gara-gara baca SMS dari Lia. Ahh, sudahlah... mandi dulu.
Habis mandi, buru-buru kupakai pakaian dan nggak lupa pakai sepatu. Bukan karena nggak punya sandal — tapi aku itu kalau keluar ke mana pun pasti pakai sepatu. Soalnya lebih praktis dan enak kalau bergerak.
Kututup pintu kamarku dan buru-buru keluar.
"Woi, San! Kate nangendi koen? Kok kesusu ae!" (Woi, San! Mau ke mana kamu? Kok buru-buru aja!) tegur mas Bendu dari arah pintu masuk. Kelihatannya dia baru datang.
"Mau ke wartel, mas. Telpon orang rumah, hehe..."
"Oh yo, hati-hati."
"Siap, mas!"
Di wartel depan gang...
"Halo..."
"Halo..." suara cewek di seberang.
"Pagi, mbak."
"Pagi? Nggak salah, mas? Ini loh, jam setengah satu siang."
"Oh iya, siang, mbak. Hehe..."
"Bisa bicara dengan Lia, mbak?"
"Lia siapa ya...?"
Cuukk... ini beneran kosnya Lia nggak ya? Apa aku salah tekan nomer?
"Adalia Adriana Agatha, yang dari pulau seberang..."
"Wiih... hapal betul nama lengkapnya kamu, mas."
"Ini mas siapa ya...?"
"Sandi, mbak..."
"Sandi apa, Purnama...?"
"Sama aja, mbak..."
"Loh, mbak kok tahu nama aku Sandi Purnama...?"
"Ya taulah... Sandi Purnama yang anu kan...?"
"Anu apa, mbak...?"
"Anu, mas... HAHAHAHAHA!"
Cewek yang aneh. Tiba-tiba ketawa nggak jelas, nyaring lagi.
"ANA! YAYANG PUR TELP! HAHAHAHA!" Cuukk... nyaring betul cewek ini teriak.
"Sebentar, Pur ya, Ananya masih di atas."
"Kok Ana sih, mbak? Aku kan cari Lia..."
"Cerewet juga kamu, Pur. Ntar tanya Ana aja."
"Heee, kak, sini telponnya..."
"Ntar... aku masih belum puas ngomong sama yayang Pur, hehehe."
"Aiih... sini na telponnya, kak..."
"Ntar na deh. Lima menit lagi ya. Atau nda, mending kamu keluar dulu cari makan, habis itu ke mall beli baju, terus ke salon... nah, habis itu kamu balik ke sini."
Cuukk... asli parah ngomongnya nih cewek.
"Cepat na, kak! Sini telponnya..."
"Haha... iya, iya... nih. Gitu aja mau nangis."
"Biarin weee..."
"Halo, Pur..."
"Halo, Lia..."
"Ternyata yayang Pur memang oon ya, de. Kalau mesumnya sih aku belum bisa buktikan — kan belum ketemu sama dia. Hahahaha!"
Cuukk... terlambat sudah. Cewek ini sudah cerita ke teman-temannya...
"Apa sih, kak! Pergi sana sudah... ganggu aja..."
"Hahaha... babay, ayang Pur! Hahaha..."
"Halo, Pur..."
"Sadis kamu ya'... tega betul kamu sama aku. Kamu sudah ceritain ke siapa aja ya...?"
"Sadis apanya, Pur...?"
"Itu kenapa temanmu bisa bilang oon sama mesum? Tega kamu ya'... tegaaa..."
"Ohhhh... itu... Kak Amel. Dia kakak sepupuku. Dia kakak tingkat kita di teknik sipil. Kakak tingkat... iya, kalau kita berdua diterima kuliah di kampus itu, hihi... Aku sering curhat-curhatan sama dia. Nyantai aja, aku cuma cerita sama dia aja kok. Aku jamin dia nggak akan cerita ke siapa-siapa..."
Kenapa dia ngomong "ohhhh..." aja bikin aku sange ya? Seolah-olah mengundang aku untuk nyium bibirnya. "Sini, Pur, ke kosanku... mau nggak kamu cium bibirku sambil remas-remas nenenku..." Cuukk... mikir apa sih aku? Kok ngelantur...
"Ya tetap aja sadis. Kenapa juga kamu cerita, ya'... padahal kan aku sudah telpon kamu sekarang."
"Untung kamu telp sekarang. Coba malam... pasti sudah kuceritain sama semua penghuni kosku, biar mereka bergosipan di kampus. Kan enak, kamu jadi terkenal. Belum jadi mahasiswa sudah terkenal..."
Cuukk... sadis... kejam... tega...
"Ampuunn, ya'... jangan cerita ke siapa-siapa lagi..."
"Oke, Pur. Kalau gitu, kutunggu kamu di kosku sekarang."
"Kenapa sih, ya'? Nelpon kan sama aja..."
"Sudah kesini aja. Kalau dalam lima belas menit kamu nggak datang, aku cerita ke penghuni kosku, loh. Kosku di belakang kampus, jalan aja dekat kok dari kampus. Nama kosnya Barbara. Cepat ya, kutunggu. Nggak pakai lama..."
KLETEK.
"Halo... halo... Halo, ya'..."
TUT. TUT. TUT.
Cuukk... ditutup telponnya... nggak sopan...