EPISODE 06
BAGIAN 6 — JAGO YANG BERISIK
Aku keluar dari wartel dan membayar di dalam toko, sekalian membeli dua teh kotak. Mataku sempat tertambat pada tumpukan koran di etalase. Kubalikkan sebentar, kucari rubrik olahraga.
Cuukk... Juventus gagal juara musim ini pula. Malah terjerumus ke papan tengah klasemen. Bajingan. Kukembalikan koran ke tempatnya dengan perasaan sesal — nyesel tau-tau bacanya.
Kuhabiskan teh kotak itu sampai tetes terakhir. Segar. Juve... juve... gara-gara abang Alex cidera, nasibmu jelek banget begitu. Kubakar sebatang rokok, kuhisap sambil melangkah ke kosnya Lia.
Daerah belakang kampus ini kelihatatan kebanyakan kos-kosan cewek. Dari tadi buah dada seliweran keluar-masuk beberapa bangunan kos, lalu-lalu saja.
Di ujung jalan, kulihat bangunan merah muda dengan plang bertuliskan "KOS BARBARA".
Wooo... ini dia kos-kosannya.
Sebelum masuk, kubakar habis sebatang rokokku.
Diteras, ada pasangan yang lagi pacaran.
"Bang... kok aku mencium aroma betina di sini..." sayup-sayup terdengar suara jago yang lagi tidur di balik resletingku.
"Tau aja kamu. Tidur sana," ucapku sambil mengelus pelan si jago dari luar celana.
*(Oh iya, kenalin. Ini jago. Mahluk yang berlindung di balik resletingku dan senyap di balik sempak. Dia garang, penuh percaya diri, suka tebar pesona, dan emosian. Begitu ada cewek, dia langsung merespon. Katanya aroma betina itu beda dari aroma yang lain — padahal belum lihat, tapi sudah tau dari baunya. Pernah sekali aku dekat-in waria cuma buat ngetes dia. Langsung ngambek dia. Katanya, "Ini bukan aroma betina, bang. Ini aroma endok bosok. Sama-sama berlubang, tapi lubang yang ini ada pasak kuburannya. Bajingan kamu, bang. Asssuuu..." Tiga hari dia ngambek, nggak mau bangun. Buset, apa nggak tersiksa aku. Jago punya anak buah kembar berkepala plontos, posisinya di bawah dia, namanya Upin-Ipin. Si kembar yang cuma manut sama dia. Jadi kalau nanti ada bagian mesum-mesum yang nyahut, berarti itu jago yang bersisik.)*
"Permisi, mas, mba... maaf mengganggu."
"Cari siapa, mas?" tanya si cewek. Wih, cantik juga nih temannya Lia. Sayang, sudah ada penjaganya di sebelah.
"Cari Lia, mba."
"Lia siapa? Soalnya ada dua Lia di sini."
"Purnama." Dan si Lia nongol dari pintu.
"Temanmu, De?"
"Iya, mba," jawab Lia sambil tersenyum. Dia berjalan ke arahku.
"Kenapa kamu nelponnya siang? Padahal dari semalam aku telpon sama sms..."
"Hiiufffttt... kamu nggak nyuruh aku duduk dulu kah, Ya'? Capek tau aku jalan ke sini. Jauh loh. Aku harus mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang... tempat yang baru, belum pernah terjamah, suasana yang ramai di tengah kota... selalu waspadalah kalau berjalan... siap menolong orang di mana saja... (jangan sambil nyanyi bacanya, om)" candaku yang membuat Lia sedikit tersenyum.
"HAHAHAHAHA..." si cewek tertawa bersama pacarnya. "Temanmu asyik juga, De."
"Asyik sih, mba, tapi sayang agak..."
"Ehem." Aku melotot ke Lia.
"Agak apa, De?"
"Agak kurang-kurang, mba. Hahaha..." Lia tertawa puas.
Si cewek ikut tertawa.
Cuukk... dibilang kurang-kurang aku. Awas kamu, Ya'.
"Ya', nama kosmu bagus ya?" ucapku, mengalihkan pembicaraan.
"Ya baguslah. Kosan siapa dulu, ya kan, mba?" jawab Lia sambil menoleh ke temannya.
"Iya dong, bagus. Cewenya juga cantik-cantik tau," jawab temannya dengan bangga.
"Iya bagus namanya. Kayak nama tempat panti pijat yang enak-enak di ibukota propinsi," ucapku cuek.
"Bang, kita mau pijat, kah...?" tiba-tiba jago mulai bangun dari tidurnya.
"Diam kamu, jago. Tidur aja," perintahku.
"KURANG AJAR!" teriak Lia dan temannya berbarengan.
"HAHAHAHA..." giliran aku dan pacar si cewek yang tertawa.
"Dasar mesum. Di pikiranmu cuma begituan saja, kah, isinya?" Lia melotot ke arahku.
"Mau dong dipijat. Capek nih habis jalan. Hehehe..." ejekku.
"Kalau kamu ngolok sekali lagi, kupanggil semua penghuni kos ini supaya mijitin kamu rame-rame di jalan. Bukan pake tangan — tapi pake kaki," jawab Lia kesal.
"Aku ikut mijitin juga, De' Ya'. Mumpung aku pake high heels nih," sahut temannya.
"Waduhh... ampuunn... ampuunn, Ya'... ampun, mba... hehehe," ucapku memelas.
Kuhisap rokokku dan kubuang asapnya ke samping. Kalau kubuang ke depan, bisa-bisa kena cakaran si cat woman ini. Apa nggak ngeri. Iii...
"Matikan rokokmu, Pur. Kita masuk ke dalam."
"Tanggung, Ya'..."
"M A T I K A N," ucapnya pelan sambil melotot. Lalu pipinya menggelembung dan tangannya melipat di dada.
Cuukk... cantik juga Lia ini. Kalau nggak ingat dia temanku, sudah kulumat bibirnya. Kubuang sisa rokok yang tinggal separuh keluar pagar — dengan tidak ikhlas.
"Emang cowok boleh masuk ya, Ya'?"
"Berisik kamu, Pur. Ayo masuk cepat."
"Permisi ya, mba... mas..." ucapku pada pasangan tadi.
Kulihat si cowok heran, terus berbisik ke pacarnya.
"Emang boleh masuk ya, Yang?"
"Diam aja, ntar aku cerita," kata ceweknya.
Aku sih cuek aja dengernya. Orang Lia yang ngajak, kok.
"Oh iya, mas... pegangin Lia itu. Ntar dia tersesat di antara gunung dan lembah loh. Hihihi..." ucap si cewek.
"Ihhh, mba, ini loh..." rengek Lia.
*Kalau tersesat di gunung sama lembah, mba'nya aku, mau dong... Biar aku daki gunungnya, kujilat-jilat ujungnya... Kalau urusan lembah, biar jago yang ambil alih...* batinmu, purnama.
"Serius, bang."
"Ayo... kita tuntaskan betina ini, bang. Kasih tulang aja penjaganya, beres sudah," ucap jago senang.
"Senang betul kamu kalau urusan beginian, Go."
"Ya senanglah. Itu kan tugasku, bang. Masa satu tahun lebih ini cuma buat kencing aja aku, bang," protes jago.
Iya juga sih. Sudah lebih setahun aku nggak manjain jago. Terakhir kali, tiga bulan sebelum ujian akhir nasional. Aku manjain jago sama mantan pacarku. Iya, mantan. Soalnya malam habis enak-enakan, besoknya kita putus. Putus dengan terpaksa, karena ada... sudahlah, nanti aja dibahas itu.
"Aku cuma bercanda kok, Go. Hehehe."
"Taik kamu itu, bang..." ucap jago kesal.
"Ayo, Pur." Kuikuti Lia dari belakang. Semok juga bempernya Lia ini.
"Bang..." panggil jago.
"Tidur aja ya..." elusku pelan.
"Nggak asyik kamu, bang."
"Kamarku di atas. Ayo cepat naik," ajak Lia. Tiba-tiba dia berbalik ke arahku. Aku kaget. Waduh, Lia lihat nggak ya aku elus jago tadi...
"Kamu kenapa, Pur?" tanya Lia heran.
"Nggak... kosmu bagus ya..." ucapku sambil membuang pandangan ke sekeliling ruangan.
"Kamu mau ngolok lagi?" ucap Lia sambil melotot.
"Nggaklah. Ayo naik. Kita pijat di atas, kan..." ucapku sambil menahan tawa.
"Aadduuuhhh sakit, Ya'! Ampuunn... ampuuunn... hehehehe..." tiba-tiba Lia mencubit perutku.
"Mau kupanggil semua penghuni kos, kah?" ucap Lia.
"Nggak, Ya'... ampun... ayo naik yo..." ajakku. Wah, bisa gawat kalau sampai dia panggil teman-temannya satu kos. Bisa jadi perkedel aku.
Lia pun berbalik, berjalan menuju tangga.
"Ini kamarku. Ntar kamu tunggu di luar sebentar. Kak Amel, keluar dulu ya, ada Purnama mau masuk ke kamar."
"Eh, iya, kah, mana yayang Purnamanya..."
Aku pun memunculkan kepalaku dari balik pintu.
Cuukk... Mba Amel pake daster, duduk di atas kasur sambil selonjoran. Bagian bawah dasternya ketarik ke atas sampai setengah paha. Mulusnya, cuukk... putih... Di bagian dadanya juga kelihatan gunung kembar yang lumayan besar. *(Emang ada gunung yang besar adanya selain gunung yang tinggi? Ah, sudahlah, pokoknya cuukk abis deh.)*
"Ha... halo, Mba Amel..." sapaku. Cuukk... ngapain aku pake acara grogi segala sih...
"Bang... bang Sandi... kok sepertinya di sini aroma betina makin keciuman, bang... Iya nih, baunya kayak gimana gitu... Nggak salah lagi — ini bau betina, bang! Ya kan, bang? Bang... oii... bang... dicuekin lagi kita... Kamu jangan main belakang lagi loh, bang. Cukup kemarin aja ya, kamu remes nenen cewek tanpa melibatkan aku. Bang, oii... awas loh ya, bang. Bang... bang... oi... di sini gerah bangeet loh... buka dikit kek..." Cuukk... gaswat nih. Si jago mulai bangun. Dia bisa mencium aroma betina di sini. Cuukk...
"Berisik banget kamu, jago. Bisa diam nggak..." perintahku.
"Hai, yayang Purnama..." Mba Amel berdiri. Cuukk... momen dia waktu berdiri, dasternya keangkat sampai sempaknya kelihatan — warna putih. Cuukk... Dia menatapku sambil memainkan ujung rambutnya yang diarahkan ke tepi bibirnya. Tatapannya itu kok sepertinya kayak mau ngajak enak-enak gitu loh...
"Itu kan suara betina, bang... Lepaskan jago, bang... lepaskan... Ihhh... itu kelihatan, bang... Untung terbuka sedikit resletingmu, bang... Wah, ada dua betina, bang! Asyiikkk, kita pesta hari ini... Kita 3some, bang! Hahaha... Aku sanggup, pokoknya. Jangankan 3some — 4some sama cewek di bawah tadi juga mampu aku, bang! Hahaha... pesta besar..."
"Bang... cewek yang pake daster kok kayaknya mancing gitu, dia, bang... Loh... loh... kurang ajar... Berani betul dia, bang... Nantang dia, bang... Cepat lepasin jago, bang... Biar jago ajarin sopan santun dia... Cepat buka, bang... Gerah sekali di bawah ini, bang... Sempit... Bisa-bisa mati kehabisan napas aku, bang..." Cuukk... cepat-cepat kututup resleting dengan kedua tangan.
"Eh... ii... iya, mba... gimana kabarnya...?" Cuukk... ngapain juga sih aku tanya kabar. Aku kan belum kenal sama Mba Amel. Ngobrol pertama lewat telpon, itupun tujuannya aku nelpon Lia, bukan Mba Amel. Terus ketemu juga baru sekarang. Sok kenal banget sih. Cuukk...
"Nggak usah banyak ngomong kamu, bang... biar jago yang turun tangan... tapi lepasin dulu jago, bang. Kalau urusan gini aku tau, kamu pasti penakut. Ini urusan jago, bang... biar jago yang ajarin sopan santun tuh betina... dia nggak tau berhadapan dengan siapa... Jago nih... jago yang di dalam, bukan burung pipit... besar dan berurat..."
"Kok gelap... asuuu... kenapa ditutup, bang... singkirin tanganmu, bang... nggak kelihatan nihh... bang... jahat bener sih..." Bener-bener gaswat nih. Jago nggak terima.
"De... ternyata yayang Purnama memang mesum ya, De... Hiihihihi..." Mba Amel melirik ke arah jagoku yang berdiri tegak di dalam celana, penuh menggoda. Bibirnya dibuka, ujung lidahnya dikeluarkan sedikit di antara gigi atas dan gigi bawah — seolah-olah dia lagi menjilat bibir si jago. Cuukk... Karena reflek, tanganku pun kusingkirkan dari resleting.
"TIIIIDDDAAAAAKKKKKK... DIA MENGHINAMU, BANG... CUKUP... CUKUUPP SUDAH... KESABARANKU SUDAH HABIS, BANG... LEPASKAN AKU... MAU KUTONJOK BETINA ITU... MAU KULUDAHIN DIA... BIAR DIA SOPAN SEDIKIT SAMA KITA... LEPASKAN AKU... LEEPASSSSKAAANN..." Gaswaaattt... jago emosi. Cuukk...
"Kalau kamu nggak lepasin aku, bang... kulaporkan kamu ke HAP..." ucap jago, napasnya naik-turun penuh emosi.
Cuukk... si jago marah besar nih. Dia berdiri dengan gagahnya. Aku bisa merasakan aura menakutkan dari jago. Keras banget berdirinya... Dia bener-bener mau berontak nih...
"HAP itu apa, Go?" tanyaku, sengaja kualihkan pembicaraan biar dia tenang.
"Hak Asasi Perkontolan..." jawabnya sambil bernapas kencang seperti orang habis lari.
Cuukk... "Sabar, Go... sabar..." ucapku sambil mengelus-elus kepala jago.
"Purnama... matamu itu loh... mesum betul kamu ini..." ucap Lia sambil melihat mataku. Tiba-tiba dia menurunkan padangannya... melihat tanganku yang lagi mengelus jago...
"AAAAAAAA... PURNAMAAAA... KENAPA KAMU PEGANG ITUMU..." Lia berteriak sambil menutup matanya.
Aku kaget. Langsung kulepas elusan dari kepala jago.
"HAHAHAHA..." Mba Amel tertawa keras lihat tingkahku.
"Kak Amel... kak Amel juga gitu... ganjen betul jadi cewek... cepat keluar, Kak..." Lia mulai jengkel sama kakaknya.
Cuukk... aku jadi salah tingkah sendiri. Bajingan.
Loh... loh... kenapa tiba-tiba nangis si jago...
"Jago... jago... dengar ga... Jago... jago... bersihkan air matamu... bikin malu aja..." ucapku ke jago.
"GA URUS, BANG... NGOMONG AJA SAMA PINTU SANA.... KAMU JAHAT, BANG.... KAMU KEJAM... KEJAAAM... HIKKSS... HIKKSS..."
"Udahlah, jago... udah... jangan nangis lagi... jadi basahkan ujungnya..."
"BODO AMAT."
Perlahan aku merasakan ada sedikit air yang keluar dari kepala jago... Cuukk...
"Maaf ya'... maaf...?" Aku menoleh ke Lia.
"BODO AMAT," jawab Lia sambil buang muka. Lah, kompak betul jawabnya sama jago.
"Nggak usah nyebut namaku, bang. Dasar pengecut."
"Iya... iya, de... gitu aja marah... Dah, aku keluar dulu ya, de..." Mba Amel mencolek dagu Lia. Lia cuma mendengus kesal.
Dia pun keluar kamar, melewati aku yang masih mematung di depan pintu. Aroma tubuhnya memang menggoda sekali. Kulihat dia dari belakang... kutatap terus setiap dia melangkah. Mantap memang bokongnya. Ketika sampai di depan sebuah kamar, dia berhenti dan berbalik.
"Babay, yayang Purnama... kamarku di sini ya... Muahhh..." dia cium jauh, memajukan sedikit bibir seksiannya. Cuukk...
"Betina kurang ajar... tunggu pembalasanku ya... aku pasti akan kembali dalam satu purnama. Bukan untuknya, bukan untuk siapa-siapa... tapi untukku, karena aku ingin kamu... itu saja..."
"Cuukk... puitis betul kamu, Go..."
"Diam kamu, bang... pengecut..."
"Hihihi..." aku senang kalau jago merengut. Jadi kelihatan imut.
"Hahaha..."
"Assuuu..." jago mendengus pelan.
"KAK AMEELLL..." teriak Lia dari dalam kamar. Rupanya dia dengar ucapan kakaknya.
"HAHAHAHAHAHA..." Mba Amel langsung masuk kamarnya sambil ketawa lebar.
Aku pun kaget dengar Lia berteriak. Langsung menoleh ke Lia.
"Apa liat-liat? Kamu mau nyusul kak Amel ke kamarnya? Pergi sana, sudah..." Lagi-lagi Lia menggelembungkan pipinya dan melipat tangan di dada.
"Nggaklah... aku kan ke sini mau nemuin kamu..."
"Dasar laki-laki lemah kamu, bang..." Perlahan kurasakan jago mulai lemas.
"Terus, ngapain masih di depan pintu?"
"Kamu nggak nyuruh masuk... masa aku nyelonong aja. Kalau di dalam ada roti kering bereceran, gimana? Atau ada kacamata kuda di kasur? Atau ada segitiga pengaman di meja...?" aku mencoba mencairkan suasana biar nggak tegang.
"Purnama... emang aku sejorok kamu. Cepat masuk kamar." Kulihat Lia mulai tersenyum, walaupun sedikit aja sih senyumnya. Paling nggak, tatapannya sudah segarang tadi.
Aku pun masuk ke kamar Lia. Kamarnya luas dan rapi banget. Ada kasur plus ranjangnya, AC, meja rias, lemari dua pintu, meja dan kursi, TV, komputer. Lengkap betul kamar ini. Aku duduk di kursi. Haus banget aku.
"Ya', ada minuman?"
"Ada tuh, di laci meja. Sengaja tadi pagi kubelikan teh kotak."
"Asyiikk... tau aja kamu kalau aku suka teh kotak..." kuambil satu teh kotak dan kuminum.
Lia duduk di depanku. Dia duduk di atas kasur.
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, Pur."
"Apa itu, Ya'?"
"Kenapa kamu nelponnya siang? Padahal dari semalam aku telpon sama sms."
"Aku ketiduran, Ya'..."
"Tidur dari jam 6 sore sampai jam 12 siang?"
"Kamu jangan bohong ya sama aku?" ucap Lia.
"Bohong sekali lagi, aku cerita sama orang-orang nih mesummu."
"Kamu gitu ya, Ya'. Dikit-dikit cerita ke orang. Nggak asyik kamu, Ya'."
"Biarin. Siapa suruh bohong."
"Kamu kos di mana, Pur?"
"Kos di Pondok Merah. Kenapa, Ya'?" jawabku santai.
"Heemm... berarti semalam kamu mabuk...?" kata Lia sambil menatapku tajam.
Cuukk... kok dia tau kalau aku semalam mabuk? Waduh, kalau aku bohong bisa-bisa disebarin ke orang-orang mesumku. Tapi apa urusannya dia sih? Mau mabuk, mau tidur, mau nungging — urusankulah...
"Kok kamu tau, Ya'?"
"Sudah kuduga... heemm... ya tau lah. Kamu kemarin sore kan lewat depan kosku. Aku panggil tapi kamu nggak dengar. Kamu sama Mas Alan, kan? Bawa minuman dua kardus. Mas Alan itu temannya Kak Amel — merekakan satu angkatan, satu jurusan lagi." Kulihat Lia sudah nyantai ngomongnya. Dah nggak marah lagi.
*(Dia ngomong "heemm..." aja kayak orang lagi mendesah. Bikin sange aja. Pliss ya, Ya', jangan diulangi kata "hemm"-nya... ntar aku nekat nyium kamu, loh... terus kuremas-remas nenenmu, Ya'... persetan sama Bowo. Kalau ada dia di sini, kutinju dia...)* Cuukk... kok ngelantur sih pikiranku... Waduh... temanmu dia, San... temanmu... konsen dikitlah...
"Jadi gini, Pur..." Kak Amelia Putri nama lengkapnya. Dia ngobrol sama aku kemarin sore, pas kamu habis lewat sama Mas Alan.
#Amel: "Loh, itu temanmu, De, yang bawa kardus? Kalau yang bawa motor namanya Alan. Alan itu satu angkatan sama aku, satu jurusan lagi. Wah, mau pesta lagi tuh anak..."
#Lia: "Pesta apa, Kak?"
#Amel: "Biasalah... mabuk..."
#Lia: "Eleh... nggak mungkin Purnama mabuk, Kak. Dia kan lugu banget anaknya... udah lugu, oon lagi. Paling juga pindahan kos. Mereka bawa kardus gitu, kok..."
#Amel: "Ya udah, kalau nggak percaya... itu kardus minuman. Aku dah hapal kelakuan Alan gimana. Dia itu preman kampus. Satu kosnya preman semua. Mana ada yang berani masuk ke dalam kosannya, kecuali diundang sama penghuni kos itu. Kalau diundang, terus berani datang, berarti orang itu hebat. Soalnya orang yang diundang di kos itu berarti ada masalah sama salah satu penghuni kos. Dan bagusnya, kos itu nggak main keroyokan — tapi duel satu lawan satu. Dan sudah dipastikan, yang diundang biasanya pulangnya pingsan. Dan aku jamin, pasti langsung dibawa ke rumah sakit.
Kosnya bener-bener tertutup bagi orang luar. Cuma orang tertentu yang bisa masuk. Salah satunya ya pasti pacarnya penghuni kos. Harus kuat mental yang jadi pacar anak kosan itu. Di kosan itu juga ada bandar besar narkoba. Yang beli narkoba biasanya bandar-bandar kecil yang jual ke mahasiswa atau masyarakat umum — itu pun mereka nggak berani masuk. Biasanya sampai pintu depan, terus ambil barang, langsung pulang. Kalau sekelas pemakai aja, nggak ada yang berani langsung beli ke situ.
Oh iya, satu lagi yang bisa masuk: cewek... hihi... tapi cewek itu aja harus ada temannya yang jadi salah satu penghuni kos, baru bisa masuk. Aku pernah sekali masuk ke situ, diajak Alan. Serem tau, De. Orang-orangnya nggak ada yang senyum. Matanya merah semua. Hiii... Cukup sekali itu aja aku masuk. Coba tanya sama Pur — dia kos di mana? Kalau bilang di 'PONDOK MERAH'... berarti dia berandalan juga. Soalnya preman-preman kampus banyak yang mau kos di situ, tapi nggak bisa."
Cuukk... beneran kos-kosanku garang begitu, kah? Berarti aku bagian dari berandalan kampus dong. Di kotaku, aku kumpulnya memang sama orang-orang kayak gini. Di desa asalku juga gitu — tapi bedanya, di kota sama di desaku nggak ada yang main narkoba. Jadi aku harus gimana ya? Aku harus sedih apa senang? Atau aku harus pindah? Nggak ahh... Aku yakin, aku betah kos di situ.
"Pur... Pur... Purnama... kok malah melamun sih? Dasar oon. Kamu dengar nggak, aku cerita panjang lebar barusan?"
"Kamu ngomong 'oon' sekali lagi, aku pulang nih, Ya'..."
"Iya... iya... maaf... hihihi... kamu dengar nggak, aku cerita tadi..." Lia sudah bisa ketawa sekarang. Seneng banget rasanya aku. Jadi nggak terlalu kaku ngobrolnya.
"Iya dengar."
"Terus gimana?" tanya Lia.
"Gimana apanya?"
"Ihhh... ya kamu-nya gimana setelah dengar cerita tentang kosanmu itu..."
"Ya nyantai ajalah. Terus aku harus gimana? Harus teriak-teriak sambil mendesah, terus lepas baju, terus nari striptis di depanmu... gitu kah?"
"Iiihhh... dasar kamu memang mesum, Pur... jengkel aku..." ucap Lia. Lagi-lagi pipinya dibuat menggelembung kayak bapao aja. Pengen kucubit pake bibirku rasanya...
"Kok kamu nyantai aja, nggak kaget gitu? Emang sebelum masuk ke situ kamu dah tau kosan itu kayak apa?"
"Nggak..." jawabku singkat sambil meminum teh kotakku.
"Terus gimana ceritanya kamu bisa masuk ke sana, terus dikasih ijin kos di situ?"
"Jawab yang jujur, Pur. Kalau nggak....."
"Iya... iya... cerewet betul kamu itu. Sudah cerewet, sadis lagi."
Ya, akhirnya kuceritakan semua sama Lia — tentang awal mula aku masuk kos sampai kejadian tadi pagi. Entah kenapa aku kok nyaman ngobrol sama cewek satu ini. Bukan karena takut disebarin mesumku... tapi... *(nenennya ituloh... besar dan lembut... walaupun terhalang kaos dan bra-nya, tetep aja terasa lembutnya... Aku juga baru sadar, suara Lia itu bikin ngaceng kalau berdua begini. Seperti ada nada-nada desah yang gimana gitu...)* Cuukk... sadar... sadar... dia itu temanmu...
Menurutku Lia anaknya enak dan nyambung kalau diajak ngobrol. Ceplas-ceplos ngomongnya, nggak jaim. Nyaman lah, pokoknya. Untung sudah punya pacar.
"Oh gitu toh ceritanya... Aku sih nggak masalah mau kamu kos di mana kek, kamu mau mabuk kek, mau nari striptis di depanku kek, mau oon kek, mau mesum kek... yang penting nggak macam-macam sama aku. Soalnya orang kayak kamu itu enak diajak berteman. Nggak neko-neko. Dan aku nyaman kalau dekat sama kamu. Aku yakin, kamu pasti bisa jagain aku, kok. Semenjak ketemu kamu pertama kali, aku yakin kamu bakalan jadi temanku."
"Cuukk... kamu belum kenal aku dekat, Ya'... jadi kamu jangan terlalu percaya sama aku. Bukti-nya, aku dari tadi bayangin nyipok bibirmu sama remas-remas nenenmu... Aku tuh nggak sebaik yang kamu kira..." ucapku dalam hati.
*(#Sidul: "Heee, San... Lia itu sudah percaya sama kamu. Kasihan Lia. Kelihatannya ada suatu beban berat yang dipikulnya... dia pintar menyembunyikan masalah di balik senyumnya. Jadilah temannya... jagain dia ya, San...)* Tumben nih pikiranku bener...
*(#Sibro: "Betul juga kata Sidul... jadikan Lia teman, San... Siapa tau besok-besok kamu dapat nenennya lagi, atau dapat bibirnya yang seksi... sssttt... siapa tau malah dapat kue apemnya yang montok... Masa kalah sama Bowo, San? San... hahaha...)* Cuukk, kok mesumnya datang lagi sih... Ingat, San... dia temanmu... konsen...
("Dul, usir dulu Sibro itu... ganggu aja dari tadi...")
*(#Sibro: "Jahat kamu, Bos... kamu nggak kasian sama jago, Bos...")*
(#Jago: "Jangan disebut namaku ya... aku mau tidur.")
"Kan ada Bowo ya' yang jagain kamu..."
"Nggak bisa diharap kalau dia itu..."
"Lah... dia kan pacarmu, Ya'..."
"Sudah nggak usah bahas dia. Lain kali aja kuceritain tentang hubunganku sama dia."
"Ngomong-ngomong, kamu kenal Kak Bowo di mana, Pur?"
"Kalau kulihat, dia agak takut sama kamu? Belum pernah, loh, aku lihat ekspresinya dia seperti kemarin. Biasanya kalau ada cowok yang dekat sama aku, langsung dikasih shock therapi sama dia. Entah dimaki, atau malah dihajar sama dia..."
"Jujur ya, Pur... cerita ke aku, kenapa kamu bisa kenal sama dia, dan kenapa dia agak takut sama kamu. Aku janji nggak akan cerita ke Kak Bowo..."
"Iya... aku cerita. Tapi cerita di luar, yoo... Aku lapar, Ya'. Belum makan seharian. Lagian mulutku pait — nggak rokok-an dari tadi. Cari café atau warung di mana gitu... sekalian cuci mata..."
"Ayooo... aku juga bosan di kosan mulu..."
"Ngomong-ngomong, Bowo mana, Ya'? Kamu nggak diapelin...?"
"Dia lagi ke kota sebelah. Biasa... touring sama teman-teman motor sportnya. Dua hari dia di sana. Besok baru balik."
"Ayo sudah, Pur... enaknya naik apa nih, Pur? Mobil apa sepeda motor?"
"Sepeda motor aja ya, Ya'."
Lia pun mengambil jaket di lemarinya dan menyerahkan kunci motornya ke aku.
Cuukk... mimpi apa aku semalam... Aku lagi bonceng Lia. Duduknya ituloh... rapat banget... nenennya seakan-akan membelai punggungku... tangannya di atas pahaku, agak ke dalam... Dikit lagi nyentuh si jago. Aku ngerasa jago mulai ngintip-ngintip di balik celana...
"Bang... betina ini diselesaikan, kah...?"
"Jangan ganggu suasana yang lagi nyaman ini, Go... Nggak semua wanita yang memeluk aku gini harus diselesaikan di atas kasur. Mending kamu tidur aja lagi..."
"Baper amat, bang... Iya... iya, aku tidur..."
Jago kalau marah biasanya nggak lama. Kalau sudah tidur, biasanya lupa sudah masalah yang tadi-tadi.
Setidaknya rasa nenen Lia menghilangkan sedikit jengkelku, karena Juve yang nggak juara...
"Bang... enak ya dipijat nenen..."
Cuukk... berisik betul sih kamu ini... tidur sana, sudah...